[Ficlet-Mix] When Jaemin Meets Disney Princess

poster-jaemin-2

When Jaemin Meets Disney Princess

A fiction by Angela Ranee; Angelina Triaf; BaekMinJi93; Castorpollux; Mingi Kumiko

[NCT] Na Jaemin

Genre: AU, Fantasy, Fairy Tale, Fluff, Comedy, Family, Hurt | Duration: 5 Ficlets | Rating: General

For our birthday prince Na Jaemin

~~~~~

[1]

Biarkan aku bertanya. Menurutmu, apa hidup yang kaujalani telah sesuai dengan harapan? Maksudku, semua yang kauinginkan, apa telah terwujud? Ah, biar kubuat jadi lebih sederhana. Apa kau sudah mendapat semua yang kaubutuhkan? Kalau kalian menanyaiku demikian, maka akan kujawab; belum.

Aku sempat berpikir bahwa aku adalah gadis yang beruntung. Aku bisa menjelajah samudra, berkelana dari hulu ke hilir, bahkan aku pernah menyantap zooplankton terlezat seantero lautan.

Lalu, apa masalahnya? Hei, ini sungguh masalah besar karena aku adalah Mermaid yang selalu penasaran dengan hal baru. Sering kujumpai kelasi yang berlalu-lalang mengitari bahtera di tengah laut selebu. Mereka terlihat begitu bebas saat memiliki sesuatu yang sering mereka gunakan untuk berjalan. Dengan kata apa mereka menyebutnya? Oh, kaki.

Hari ini aku kembali menemui kapal yang singgah di tengah laut. Tiba-tiba seorang matros menenggelamkan sesuatu dari pesiar yang ia naiki.

Itu benda dari daratan! Segera kulongokkan kepala untuk kembali masuk ke dasar laut. Pokoknya aku harus mendapatkannya! Meskipun tak ada relasinya dengan keinginanku memiliki kaki, namun aku tetap meletakkan atensi berlebih pada benda apa saja yang berhubungan dengan manusia.

Aku menelisik ke seluruh penjuru laut terdalam. Bahkan ibu kepiting yang tengah terlelap aku bangunkan tanpa sungkan hanya untuk bertanya apakah dia tahu keberadaan benda itu. Aku terus mencarinya, hingga netraku menangkap sosok mencurigakan di dekat terumbu karang.

Demi Neptunus, kau akan melongo – seperti aku saat ini – kalau sudah melihat pergerakan anehnya. Ia berputar-putar dan tubuhnya sempat terhuyung arus air. Dan, hei, dia punya kaki! Apakah dia manusia tenggelam?

Terhitung sudah lima belas tahun aku bertengger hingga hampir muak di dalam lautan, namun baru kali ini kulihat orang yang reaksinya seaneh itu saat kesulitan bernapas.

Tanpa tedeng aling-aling aku segera menolongnya. Biasanya para Mermaid akan memberikan jasa antar gratis menuju tepi teluk agar manusia yang tenggelam bisa segera mendapatkan udara.

Belum sempat aku meraih lengannya untuk kutopang, pria itu kembali memamerkan tarian aneh. Wajahnya pun berubah konyol; bola matanya melirik ke atas dan tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya.

Akhirnya kubiarkan pria itu bersandar di bebatuan koral. Lekas aku mengerahkan kecepatan berenangku yang paling dahsyat menuju Cavern untuk memetik beberapa helai gagang ungu – tumbuhan yang berkhasiat membuat manusia bernapas di dalam air.

Beruntunglah pemuda itu mendapatkan aku sebagai yang pertama kali melihatnya berdansa di bawah laut. Tak sembarang orang boleh masuk ke Cavern. Berhubung aku adalah anak dari kepala penjaga goa itu, jadi aku mengetahui mantra untuk membuka gerbangnya.

Sekembali dari Cavern, buru-buru aku jajalkan gagang ungu ke mulut lebarnya. Sekujur tubuhnya pun bergetar setelah gagang ungu itu masuk ke kerongkongannya. Ia memposisikan tubuhnya dengan sigap lantas berujar, “Katakan yang Tuan inginkan, maka hamba akan kabulkan.”

Sontak kususul ujaran itu dengan dahi mengernyit dan mata memicing. “Apa yang kaubicarakan?” tanyaku.

“Ah, biarkan aku bercerita sebentar. Tadi, saat aku sedang tertidur, tiba-tiba tempat tinggalku kebanjiran. Karena panik, jadi aku langsung keluar. Dan ternyata aku ada di dasar lautan.”

“Tempat tinggal? Aku yakin yang jatuh tadi cuma benda yang bisa diraup genggaman tangan. Bukan benda sebesar rumah!”

Otot matanya ditarik ke samping dan menunjuk sebuah benda yang tergeletak di atas pasir. Aku tidak tahu itu namanya apa, yang jelas bentuknya lebar, berwarna keemasan, serta memiliki bagian kecil berbentuk silinder sebagai tempat masuknya air.

“Kau tinggal di sana? Yang benar saja!” hardikku menimpali leluconnya.

“Serius, aku ini jin yang tinggal di teko itu!” pekiknya.

“Oh, jadi benda itu namanya teko?” balasku kikuk.

Kalau dilihat dari penampilannya, sih, memang terlihat berbeda dari beberapa manusia yang sempat tenggelam. Celana gombor warna mentereng dan hiasan kepalanya yang bulat itu, loh, yang membuatku jadi mempercayai ucapannya.

“Jadi, siapa namamu, Nona?” tanyanya.

“Namaku Hina, dan seperti yang kaulihat… aku seorang Mermaid. Kalau kau?”

“Aku Jaemin, jin yang akan mengabulkan semua permintaanmu.”

“Kau sungguh bisa mengabulkannya? Apapun itu?”

“Tentu, Nona. Katakan saja apa yang kauinginkan.”

Aku tidak mau kegirangan dulu. Bisa saja, kan, dia cuma membual? Meskipun tadi aku sempat berpikir untuk mempercayainya.

“Apa kau bisa membuatku memiliki kaki? Aku ingin melompat, menari, berjalan-jalan, dan banyak hal lain yang bisa aku lakukan dengan kaki.” ujarku penuh semangat.

Jaemin bersenggut dagu, kepalanya manggut-manggut seakan memahami apa yang kuucapkan. “Baiklah, permintaanmu akan segera kukabulkan. Sekarang, tutuplah matamu, Hina-ssi.”

“Sungguh?!” mataku terbelalak. Namun tak berlangsung lama karena aku segera memejamkan mata seperti apa yang ia perintahkan.

“Satu… dua… tiga…”

TRING!!!

Hawa dingin menyapa tengkukku. Aku mengerjap karena belum berani membuka mata sepenuhnya. Namun keraguanku terkalahkan oleh rasa penasaran yang makin membuncah.

Manik kelamku menangkap sebuah ruangan yang asing. Saat ini di hadapanku telah ada tiga orang yang tengah memasang raut tegang – mendekati sarkatis.

“Jadi, bakat apa yang bisa kautunjukkan, Nona?” tanya seseorang yang ada di tengah.

“Ba… kat? Maksudnya?” aku memiringkan kepalaku, tidak mengerti dia bicara apa.

“Segera tunjukkan pada kami, mau menyanyi atau menari, terserah. Kalau kau tetap bergeming di situ, lebih baik coba saja audisi tahun depan.” tandasnya. Audisi itu apa? Duh, kenapa banyak bahasa manusia yang asing di telingaku, sih?

Tapi katanya aku cuma perlu menyanyi dan menari. Tentulah menyanyi adalah perkara mudah untukku. Kalian pasti tahu kalau Mermaid adalah makhluk yang terkenal dengan senandung indahnya. Namun kalau menari… please, aku punya kaki saja baru beberapa menit yang lalu.

Dasar Jaemin! Maksudku meminta kaki, kan, ingin menyusuri jalanan luas dan menikmati angin daratan. Bukan mendapat situasi membingungkan semacam ini. Dia berpengalaman jadi jin enggak, sih?

Pandangan tajam mereka membuatku kelimpungan. Meskipun tak yakin, aku mulai menggerakkan anggota tubuh baruku itu. Berputar, bergerak ke depan, belakang, dan samping sambil menyanyikan lagu lautan kesukaanku.

Setelah selesai bernyanyi dan menghentikan gerak tubuh, tepukan tangan langsung dilayangkan oleh tiga orang itu.

“Kau bernyanyi dengan baik meskipun tarianmu sangat lincah. Selamat, kau berhak mendapat kesempatan berlatih di naungan SM Entertainment.”

Meskipun tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya itu tidak terdengar seperti hal buruk. Omong-omong, di mana si Jaemin? Tidak mungkin, kan, dia seenak jidat membiarkan aku sendirian hidup di tempat asing ini?

~~~~~

[2]

Mungkin sudah asupan sehari-sehari di dunianya, jadi dirinya merasa biasa sendiri. Mungkin baginya dia hanya pemain pendukung dalam kehidupan, atau malahan hanya figuran. Pun tidak pernah melakukan setidaknya bersosialisasi. Mungkin ‘kah  dirinya yang terlalu introvert? Tidak juga, atau mungkin dia pemalu, merasa berbeda, tapi sudah banyak yang sama sepertinya, malah umur dibawahnya sudah merasakannya. Dengan hal yang sama juga tanpa ingin menjadi seperti ini. Untuk lebih mudah nya kita simpulkan bahwa ia adalah sosok yang pendiam.

Na Jaemin. Berbeda dengan saudara nya Joanne—yang terkesan lebih aktif ketimbang—dirinya. Kakaknya sangat senang berada di dunia ini, katanya ‘hidup di dunia kita sekarang tak ada beban Jae, yang ada hanya kesenangan’ menarik bagi kakaknya, tapi tak menarik baginya.

“Setidaknya kamu punya teman Jae, jangan terlau pasif,”

Sama sekali tidak digubris, yang ada dia pura-pura tidak dengar. Ada benarnya memang tapi apa senangnya jika kau berteman orang-orang malah berteriak kepadamu? Jaemin pun tak ingin seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdirnya. “Bermainlah dengan mereka,setidaknya kau juga merasa terhibur.”

Jaemin menghembus nafas pelan, hanya diam di tempat, yang dipikarannya hanya satu “Dunia kita dan mereka berbeda kak, yang ada mereka takut dengan kita.” Mengikik pelan sebelum memulai koversasi dengan adik kesayangannya. “Sebelum jadi seperti ini, kita juga jadi seperti mereka ‘kan?

~~~~~

[3]

Na Jaemin berusia enam belas tahun dan telah bertemu dengan begitu banyak perempuan cantik dalam hidupnya (termasuk ibu Jaemin sendiri, tentu saja).

Sebut saja Belle, gadis asal Perancis yang tidak hanya cantik namun juga pintar. Ia telah menyabet berbagai medali emas olimpiade sains hingga tingkat internasional, menyandang jabatan sebagai ketua student council, dan memenangkan banyak perlombaan debat. Bahkan dengar-dengar Belle telah mendapat jatah kursi di Universitas Harvard, kendati dirinya baru akan lulus SMA dua tahun yang akan datang.

Kemudian ada Pocahontas, anak rantau dari Suku Indian yang tidak kalah cantik dengan Belle. Pocahontas adalah ketua klub Pecinta Alam yang rutin melakukan kegiatan hiking setiap tiga bulan sekali dan suka menghabiskan jam istirahatnya di kebun botani sekolah. Kabarnya, tahun depan Pocahontas akan mencoba menaklukan puncak Gunung Everest.

Ada pula Ariel, gadis berambut merah nyalang yang tinggal di pesisir pantai namun anehnya memiliki kulit seputih susu. Ariel cenderung jarang berbicara, tetapi ketika menyanyi suaranya merdu sekali. Ariel adalah kandidat kuat yang digadang-gadang sebagai calon ketua klub Paduan Suara yang baru, menggantikan Elsa yang sebentar lagi akan lengser dari jabatannya.

Masih banyak lagi gadis cantik di sekolah Jaemin, sebut saja Snow White, Tiana, Cinderella, atau Rapunzel. Tetapi ada satu gadis yang menarik perhatian Jaemin sejak awal bocah laki-laki itu melihatnya.

Adalah Aurora, yang Jaemin temui (atau temukan?) pagi ini ketika membantu sang pustakawan sekolah lantaran sedang tidak ada kelas. Jam pelajaran pertama sudah dimulai sejak dua puluh menit lalu ketika pintu perpustakaan terbuka, menampilkan sesosok gadis pirang dengan dress selutut warna baby pink dan wajah mengantuk.

“Terlambat lagi, Aurora?” tanya Nyonya Barrow-sang pustakawan-dari balik meja administrasinya.

Ekspresi lelah di wajah Aurora seketika terganti oleh ekspresi tersipu sekaligus jenaka. Gadis itu terkikik pelan sebelum menyahut,”Begitulah, Ma’am. Kau sendiri tahu bahwa aku bukanlah penggemar kelas pagi di hari Senin.”

Nyonya Barrow hanya bisa geleng-geleng kepala. Perpustakaan sekolah telah menjadi tempat favorit Aurora untuk melanjutkan tidurnya ketika ia terlambat datang ke sekolah, satu yang baru Jaemin tahu hari ini.

“Ma’am, siapa cowok manis yang tengah menata buku di rak psikologi ini?”

Jaemin tersentak, kemudian menoleh dan menatap Aurora yang berdiri tak jauh darinya sembari melemparinya dengan tatapan menilai.

“Na Jaemin, Dear. Apa kalian tidak saling kenal?” Nyonya Barrow bertanya balik. “Ia sama-sama murid tahun ketiga sepertimu.”

Oh,” Aurora manggut-manggut mendengarnya. Fokusnya kembali pada Jaemin yang masih terpaku menatapnya dengan ekspresi bingung. Gadis itu mengulas senyum ramah sembari mengulurkan tangan kanannya. “Aurora.”

“Jaemin,” jawab Jaemin, meraih tangan kanan Aurora dan menjabatnya. Damn, tangan Aurora selembut kain sutera! Belum lagi wangi parfumnya yang tercium dalam radius kurang dari dua meter. Jaemin hampir melayang ke langit ketujuh dibuatnya.

Well, aku tidak bohong ketika aku bilang kau manis,” Aurora mengendikkan bahu. “Selain itu, kau terlihat seperti anak baik.”

Jaemin terkekeh canggung. “Begitu, ya?” tanyanya, langsung dibalas anggukan mantap dari Aurora.

“Karena kau terlihat seperti anak baik, aku percaya bahwa kau tak akan melaporkanku kepada guru karena bersembunyi di sini sembari melewatkan jam pertama,” ujar Aurora, mengambil beberapa langkah mendekat dan mencondongkan wajah sebelum kembali bersuara dengan volume rendah. “Kau bisa diajak bekerja sama, ‘kan?”

Jaemin menahan napas saking terkejutnya. Tanpa berpikir panjang, kepalanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Aurora. Gadis pirang itu tersenyum senang, kemudian menepuk tangannya satu kali di hadapan wajah Jaemin. “Bagus! Kau memang baik, Jaemin!” pujinya. “Mungkin kita bisa makan siang bersama nanti, bagaimana menurutmu?”

Well, makan siang bersama gadis secantik Aurora? Jaemin bisa apa untuk menolak tawaran tersebut?

~~~~~

[4]

Jaemin merajut kedua tungkai kakinya ringan. Pahatan senyum di wajah seolah menggambarkan suasana hati yang berbunga bagaikan indahnya hamparan taman bunga di kala musim semi mulai menyapa.

“Silahkan masuk, Pangeran.”

Pangeran dari keluarga Na itu tak segan membungkukan badannya sekilas hanya sekadar untuk memberi penghormatan kepada pengawal istana. Baru saja satu langkah tercipta kala memasuki gedung serbaguna, kedua fokus Jaemin langsung disuguhi pemandangan akan ratusan Pangeran  dari segala penjuru dunia yang berkumpul. Tanpa diberi penjelasan sekali pun, Jaemin tahu maksud dan tujuan para Pangeran tersebut datang kemari. Melamar Iona Young, Putri Mahkota dari Kerajaan Neverland.

Tak mengerti harus berbuat apa lagi, Jaemin pun memilih untuk mengamati raut wajah jajaran para pangeran di sana. Baginya itu terasa menyenangkan dibanding berdiam diri memangku tangan menunggu giliran namanya terpanggil. Apalagi saat melihat wajah-wajah penuh percaya diri itu seketika berubah menjadi sebuah raut wajah merengut akibat ukuran mahkota—yang menjadi syarat untuk acara lamaran ini kekecilan atau bahkan kebesaran di kepala mereka.

“Menyebalkan.”

Sontak Jaemin terkekeh kecil kala suara berat namun penuh kesan lembek itu melintas di kedua rungunya. Meski sederhana dan tanpa bermaksud mengejek, Jaemin pikir ini sedikit menghibur rasa bosan yang tengah melandanya.

Seiring berjalannya waktu, semua itu turut menjadi sebuah hal yang begitu monoton. Dengan dalih mencari hiburan, Jaemin pun memilih untuk berkeliling istana sebagai usaha untuk menghilangkan rasa bosannya. Namun akibat dari kekagumannya akan keindahan interior istana dilengkapi pula dengan tidak fokusnya ia memperhatikan jalan, akibatnya Jaemin merasa tubuhnya menghantam tubuh lain. Seperti yang kita duga, kini dirinya jatuh terduduk pada dinginnya lantai istana.

Argh…

Rintihan lembut itu seketika ditangkap oleh sang gendang telinga. Seakan diperintah sebelumnya, netra Jaemin seketika tertuju pada tubuh seorang gadis dengan keadaan yang hampir serupa dengannya. Merasa bersalah, pemuda itu segera berdiri dan mengulurkan tangannya guna membantu korbannya bangkit.

“Maaf,” ujar Jaemin tulus.

Gadis itu menerima uluran tangan Jaemin. Dengan senyum yang terlukis di wajahnya, gadis itu menyahut. “Tidak masalah.”

Entah kenapa, Jaemin merasa ada sesuatu yang menarik dari gadis di hadapannya di mata pemuda itu dan jika boleh memanjatkan satu doa, Jaemin harap agar waktu dapat berhenti berdetak sehingga ia dapat menikmati kedua obsidian jernih milik gadis itu lebih lama lagi.

***

“Selanjutnya untuk Pangeran Na Jaemin, tempat dan waktu kami persilahkan.”

Seketika jantungnya berdetak tak karuan. Perasaan senang, cemas, khawatir, dan gelisah kini terasa campur aduk dan tak ada bedanya dengan satu adonan kue ulang tahunnya. Seperti biasa Jaemin menyempatkan diri untuk memberi hormat kepada Raja, Ratu dan—…

“Hai, Jaem!”

gadis itu.

“Semoga beruntung,” lanjut gadis itu yang tak lain dan tak bukan ialah gadis yang ditabraknya tadi.

Jadi dia…

***

Acara lamaran sudah berakhir sejak satu jam yang lalu. Tapi Jaemin masih merasa enggan untuk angkat kaki dari istana ini, seperti ada hal yang menahannya untuk tetap berdiam diri di taman istana.

“Sendiri?”

Sebuah suara lembut bertandang di telinganya. Merasa diajak bicara, pemuda itu menoleh ke arah sumber. Untuk kesekian kalinya di hari ini, senyum Jaemin terpatri indah di wajahnya.

“Mau menemaniku?”

Gadis itu mengangkat bahunya kecil, “Jika kau tidak keberatan.”

Jaemin kembali melempar pandangannya ke arah indahnya langit gelap dengan taburan bintang yang menghiasinya.

“Aku tidak menyangka jika kaulah Putri Iona,” ujar Jaemin langsung pada intinya. Gadis yang baru saja disebut namanya itu tidak membalas, hanya tersenyum mendengarnya. “Dan sekali lagi maaf karena telah—”

“Lupakan,” potong Iona cepat.

Pemuda itu sontak membagi atensi pada gadis di sampingnya. “Maksudnya?”

“Ya lupakan saja.”

“Tapi—”

Iona membalas tatapannya, “Apa lagi, hm?”

Mengalah mungkin adalah satu-satunya pilihan lelaki sejati, tetapi tidak bisa dikatakan satu pilihan yang tepat juga. Buktinya, akibat dari pilihan mengalah keheningan pun mulai terasa di antara keduanya dan Jaemin benci suasana canggung.

Berniat memecahkan suasana hening, pemuda itu pun berdeham kecil dan berhasil, setidaknya Iona mau membagi minat ke arahnya.

“Jika aku boleh berkata jujur,” seketika ucapan Jaemin menggantung dan ia tak yakin mau melanjutkannya.

“Berkata jujur apa?” tanya Iona menuntut namun tetap dengan kesan anggun di dalam.

Engg… ah sudahlah. Lupakan saja.”

Tapi siapa sangka jika gadis itu malah terkikik geli dan Jaemin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali.

“Kau ingin mendengar satu rahasia dariku?”

Antusias? Tentu saja.

 

“Apa itu?”

Alih-alih menjawab langsung, gadis bermarga Young itu menunjukkan sebuah benda mirip seperti remote control.

“Kau tahu apa maksudku?” tanya Iona dengan senyum miring.

Sedangkan Jaemin masih menatap benda mungil itu dengan pikiran yang sibuk mencerna.

“Ja-jadi…”

Belum apa-apa Iona menganggukan kepalanya seolah sudah mengerti apa yang akan dikatakan oleh pemuda di hadapannya ini.

Remote control inilah yang membuat mahkota itu tidak muat di kepala para pangeran selain kau. Jadi—” Iona sengaja menggantungkan ucapannya kembali untuk sekedar melihat reaksi Jaemin sekarang. “—kumohon jangan mengecewakanku, oke?

Tanpa diduga sebelumnya, bukannya menjawab atau membuat janji manis pada Iona, Jaemin mengecup pipi gadis itu sekilas yang tentu saja membuat gadis itu terpaku di tempat.

“Kau boleh membunuhku kapan saja dan di mana saja jika hal itu terjadi, Tuan Putri.”

~~~~~

[5]

Jaemin sangat ingat bahwa dulu ketika masih tinggal di Swiss, ia memiliki seorang tetangga yang cukup unik. Setiap kali ia berangkat ke sekolah di pagi hari, pasti gadis kecil itu akan terlihat duduk diam di atas rumput depan kolam ikan yang keluarganya miliki.

Awalnya Jaemin tak terlalu tertarik dengan polah gadis kecil itu. Sampai suatu hari ketika libur sekolah, Jaemin baru saja keluar dari pintu rumahnya untuk membuang sampah. Tak sengaja ia melihat gadis itu menari berputar-putar seperti putri dalam negeri dongeng.

Tanpa sadar ia tersenyum, mungkin karena dirasanya gadis itu terlihat sangat lucu. Lalu Jaemin pun menghampiri gadis kecil itu.

“Hei, sedang apa?”

Baru Jaemin sadari bahwa bocah di hadapannya ini memiliki mata biru yang begitu jernih.

“Wah, pangerannya sudah datang…”

Sontak Jaemin tertawa, mendengar apa yang diucapkan bocah itu terlebih lagi ekspresi wajah kagumnya yang menggemaskan. “Oh bukan, aku bukan pangeran.”

Tapi justru Jaemin malah ditarik untuk mendekat ke arah kolam, yang ternyata di dalamnya terdapat banyak ikan berwarna-warni. “Kemarin katak milikku hilang di sini,” ucap gadis kecil itu.

Oh, sepertinya Jaemin mulai mengetahui apa yang terjadi di sini.

“Kata Mama, katakku itu telah berubah jadi pangeran seperti katak milik Putri Tiana, dan nanti ia akan kembali.”

Sekali lagi, Jaemin hanya bisa tertawa menanggapi kepolosan yang konyol itu. Ia mengusap kepala si gadis kecil, tersenyum lalu berkata, “Ya sudah, aku akan jadi pangeranmu untuk hari ini, bagaimana?”

“Benarkah?”

Jaemin mengangguk, mengulurkan tangannya sebagai perkenalan pertama mereka. “Namaku Jaemin.”

“Halo Pangeran Jaemin, namaku Laneya.”

FIN

Advertisements

15 thoughts on “[Ficlet-Mix] When Jaemin Meets Disney Princess

  1. YES HAPPY BIRTHDAY FOR MY PRECIOUS BABY SUNSHINE NA JAEMIN, HOPE YOU LIVE A GOOD LIFE!!!
    Btw aku nggak tahu siapa yang nulis cerita kedua, but let me correct some little things there. First, “mudah nya” seharusnya digabung menjadi “mudahnya”. Second, sedikit typo di “terlalu” menjadi “terlau”. Kemudian pada kalimat “Bermainlah dengan mereka,setidaknya kau juga merasa terhibur.” itu kurang spasi setelah koma. Selain itu kata baku dari “nafas” adalah “napas”. Terakhir, “konversasi” ada typo jadi “koversasi”.
    Mungkin aku terkesan bawel dan sok menggurui, tapi perkara redaksional ini bukan hal sepele, sih. Takutnya nanti kalau sudah sampai ke taraf menulis yang lebih tinggi (mis. nulis skripsi/karya tulis, artikel di media cetak, atau mungkin menulis buku) bermasalah hanya karena soal kesalahan redaksional. Toh, bisa sama-sama belajar juga karena kadang aku juga suka typo atau ada EYD error 🙂 Semoga bagi penulis cerita kedua nggak merasa tersinggung ya dengan koreksi dariku.
    Overall, everything seems nice here and I feel insecure karena tulisanku busuk sendiri di atas, hahaha… Let’s keep up the good work, NCTFFI!

    Liked by 1 person

    • ampun dah rani syereeemm klo komen. Cakep cakep XD
      Kungakak baca ffmu (rapunzel itu kan?) DEMI APA PARA INCESSNYA JADI NAGH GAWL KEKINIAN HAHAHAHA. Tolong ya rapunzel itu putri tidur, bukan tukang ngebo XD

      Like

      • Aku dapet Aurora kaklyyy, yang nomor tiga ituu wkwkwk… Gapapalah 2016 gituloh udah zamannya awdisney //eh
        Btw fic no 2 punya kak lely kah? Kalo iya aku minta maaf pabila koreksiku sedikit menyinggung ><

        Like

      • FF aku yg nomor 1, yg ngabsurd tdk tertolong XD bodo amat lah tapi yg penting bikin -_-
        Jangan panggil kakly!!!!! Entar rada kak airly hidup dan dia merasa terpanggil wkwkwkwk
        Review ff buatan aku juga dong ron barangkali ada perbendaharaan kata yg salah >///<

        Like

      • BENTAR AKU MAU NGETAWAIN “RON” DULU HAHAHAHAHAH //ngakak sampe tahun depan
        Tbh cerita no. 1 itu termasuk personal favoritku! Waktu baca aku mikir itu semacam crossover antara cerita The Little Mermaid sama cerita Aladdin, soalnya mermaid x genie gitu, hahaha… Aku suka karakter Hina di sini, apalagi sama keluguannya tentang dunia manusia dan segala macam istilah manusia. Waktu Jaemin terdampar tuh pertamanya aku kira dia bakal jadi Prince Eric-nya Ariel (atau Hina di sini), tapi ternyata dia itu jin, which makes this story becomes more interesting! Endingnya juga lucu, emang dasar Jaemin iseng bener ya duyung nggak tau apa-apa ditelantarin di audisi SM xD
        Cuma mau koreksi “kaubutuhkan” dan “kaubicarakan”, Kak Lely. Setahuku seharusnya dipisah karena “kau” itu kan kata ganti orang. Itu aja, nice story, Kak Lely! Keep writing!

        Liked by 1 person

      • Tauk tuh ya ini kenapa jadi kompilasi karakter disney, baru nemu ya putri duyung ketemu jin teko? Tapi tenang, jaemin ga biru dan beranting 37 karat kok di sini wkwkwkwkwk
        Sejatinya masih terjadi pergolakan dalam batin ini tentang penggunaan “kau bicarakan” atau “kaubicarakan” bikos pernah baca di novelnya tere liye atau siapa tuh lupa “kaubilang” digabung. Jdi cara nulisnya sama kaya “kubilang”
        Tpi motif sesungguhnya sih aku hendak menyingkat2 biar cukup kalimate > 1000. Krn serius aku nulis ff project ini awalnya 1400 kata jd aku pangkas biar muat wkwkwkwk
        MAKASIH RAAAAANN BAKAL AKU KOREK2 LAGI REVIEW-ANMU HWEEEEE ~~~

        Like

    • punyaku mba yang nomer 2 bikinnya ngebut tanpa koreksi wkwk XD makasih mba koreksinya akan diperbaiki thankseu mbak ran ❤ happy birthday maz jaem, dd rasa oppa ❤ luv

      Like

      • Hello, Allya!
        Wah ternyata itu punyamu ya? Maaf ya kalau misalkan koreksi dariku menyinggung Allya, aku juga masih perlu banyak belajar, kok! Kalau tulisanku ada kesalahan redaksional juga feel free buat dikoreksi, loh!
        Overall ceritanya lucu kok, pendek tapi enak dibaca. Btw Allya dapet Queen Elsa bukan? Btw lagi, aku selalu suka nama yang diawali dengan “J”! Entah kenapa nama dengan awalan “J” itu terdengar seksi, hahaha… Joanne sounds like the name of a great woman for me, soalnya ngingetin aku sama Jeanne d’Arc (kalau nggak tahu dan kepo silahkan googling sendiri daripada aku malah nyerocos tentang doi di sini XD).
        Last but not least, terus menulis ya, Allya! Ayo belajar bareng-bareng jadi penulis yang semakin kece 😀

        Liked by 1 person

      • doh mba ran terharu dd XD nggak menyinggung kok malah membangun 🙂 aku sampe ikut grup kepenulisan supaya bisa nulis dengan baik, padahal namanya muncul pas lagi bikin itu wkwk, mari kita belajar sama-sama mba ran semangat ❤

        Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s