[Vignette] Melarasi Tanya

IMG_6322[1]

Angelina Triaf ©2016 Present

Melarasi Tanya

Jung Jaehyun (NCT) with OCs | Surreal | G | Vignette

0o0

Sejumput atensi atas kertas kosong yang masih dibiarkan teronggok sendiri itu berlangsung cukup lama. Mungkin Yui sangat sibuk hingga tak bisa pulang malam ini. Tak apa-apa sebenarnya, ia sudah melewati satu minggu melelahkan untuk mengurusku. Setidaknya aku harus membiarkan gadis cantik itu menikmati hidupnya barang sebentar.

“Jung?”

Kepalaku menoleh ke kiri, mendapati seorang lain dalam kamar ini. Yui memang pernah berpesan padaku bahwa ia akan membawakanku partner baru setelah hampir tiga bulan aku hanya menjalani segalanya seorang diri. Ditambah lagi bahwa orang itu adalah perempuan, entah apakah aku harus bersyukur pada Yui atau justru mengumpat di belakangnya.

Binar matanya tampak lebih cerah saat balas melihatku. Dengan senyum menawan itu, kakinya tepat berhenti di hadapanku yang masih terduduk dengan jarak beberapa langkah saja. “Syukurlah, kukira aku salah masuk kamar atau sejenisnya.”

Dari yang kutahu tentangnya ialah, bahwa gadis ini orang yang pemalu. Suatu malam Yui pernah bercerita padaku bahwa orang di hadapanku ini bahkan selalu menunduk saat sedang berbicara dengan orang lain.

Tapi kok ia bisa sebegitu santainya padaku saat ini, ya? Seolah kami ini kawan lama.

“Aku diminta datang lebih awal, kata Yui ada hal yang harus kita diskusikan agar nanti segalanya berjalan lancar.”

Ia mengambil satu kursi lain di kamar ini dan duduk di sana. Tangannya mulai membuka tas punggung kecil yang sering digunakan para gadis―aku tak tahu benda itu disebut apa. Satu buku catatan kecil ia keluarkan dari sana, tak lupa dengan pensilnya.

“Eh?”

Kulihat matanya membulat terkejut seketika, sembari tangannya terus membolak-balik kertas di buku itu. Aku yang pada dasarnya tak tahu apa-apa hanya bisa mengerutkan kening karena bingung. “Kau kenapa?”

“Ini, Jung…” Ucapannya terhenti sejenak, lalu ia menatapku dengan nanar dan kembali berkata, “Aku salah membawa buku, dan aku tak ingat semua pertanyaan yang telah Yui berikan padaku untuk didiskusikan denganmu.”

Wah, Yui benar-benar hebat bisa memasangkan diriku dengan gadis ajaib ini.

Satu embusan napas lolos dari kedua lubang hidungku―yang kata Ibu aku memiliki hidung yang mirip dengan Ayah. Aku terdiam cukup lama, melihat wajah paniknya dirasa cukup menyenangkan. Apakah semua perempuan akan selucu ini saat panik? Ah, tapi Yui tidak seimut dia saat panik, lagipula―hei, kenapa bicaraku jadi melantur begini?

“Ya sudah, coba kita lihat di laptop Yui, mungkin saja dia masih meninggalkan file-nya di sini.”

Aku mulai menyalakan laptop yang memang sedari tadi ada di atas meja. Kulirik sedikit ke arahnya, syukurlah ia tidak sampai tahap menangis dan kini sedang duduk diam memerhatikan laptop yang sudah mulai menyala.

“Yui sangat mencintaiku, bahkan password laptopnya saja namaku.” Kurasa ini ide yang bagus untuk memecah kekakuan di antara kami. Ya namanya juga orang baru kenal, aku bukanlah tipe orang yang mudah bergaul juga.

“Sebegitu cintanya?”

“Iya, sebegitunya.”

Jemariku sedang sibuk mencari data itu saat kudengar samar suara tawanya. Seperti madu yang manis, tanpa sadar aku tersenyum dibuatnya.

Mataku masih berkutat menilik judul file word itu satu per satu. Tapi seberapapun seriusnya aku, bahkan aku menaik-turunkan kursor berkali-kali, tetap saja tak ada judul yang kuinginkan muncul di layar. Apa jangan-jangan… Wah, Yui sepertinya membawa pergi file itu. Sial!

“Tidak ada, ya?” Nada suaranya adalah cerminan putus asa, kentara sekali terdengar olehku. Sedikit banyak aku jadi merasa kasihan padanya.

Masalahnya, aku baru pertama kali bertemu dengannya. Kemarin lusa Yui melarangku ikut dengannya untuk diskusi bersama mereka dengan alasan bahwa ia dan gadis ini ingin membahas tentang obrolan rahasia para wanita.

Lihatlah, sekarang tak ada yang bisa kami lakukan karena buku catatannya tertinggal.

Well, sepertinya Yui telah memindahkan datanya dan membawanya pergi.”

Dan jadilah sebuah drama seperti yang sering kulihat di televisi. Kami jadi bingung sendiri, rasa canggung menelusup perlahan di antara kami. Wah, aku tak pernah merasa secanggung ini bila berdekatan dengan perempuan. Ah, aku lupa jika perempuan yang dekat denganku selama ini hanya Yui.

“Tapi sepertinya aku sedikit mengingat beberapa. Bukannya apa, hanya saja kalimat itu cukup mudah diingat olehku.”

Ia meletakkan dagunya di atas meja, bertumpu di sana dengan kedua tangan. Mungkin kini kepalanya tengah mengingat-ingat kiranya apa kalimat yang mudah diingat itu. Aku menunggunya dalam diam, ya karena bingung juga harus mengatakan apa.

“Ah, Jung! Sepertinya aku ingat.”

“Apa?”

Fokusku kini tercurah padanya, melihat wajahnya yang kembali dipenuhi binar-binar gaib itu lagi-lagi mampu membuatku refleks tersenyum.

“Cerita bagaimana yang kau inginkan untuk bab selanjutnya?”

Sungguhan, apakah Yui benar-benar menanyakan hal itu padanya? “Sejujurnya bagiku itu bukanlah sebuah pertanyaan.”

“Kenapa?”

Binar dalam matanya kini berganti menjadi tatapan kebingungan, membuatku langsung menjawab pertanyaannya, “Karena aku dan Yui pernah mendiskusikan perihal itu, cerita untuk beberapa bab ke depan.”

Aku dan Yui memang pernah mendiskusikan hal itu, bahkan sudah sampai tahap membuat kerangka adegannya. Dan jika boleh jujur… memang aku yang meminta agar karakter wanitanya dibuat seperti gadis yang kini ada di hadapanku.

“Oh… jadi ternyata hanya aku yang belum tahu tentang semua ini…”

Harus kuakui lagi, bahwa wajahnya yang tampak sedikit kecewa itu justru membuatku semakin ingin melebarkan senyum di bibir. Kenapa bisa ia terlihat selucu itu? “Sudahlah, kalau kau lupa lebih baik kita tunggu saja sampai Yui pulang dan menyelesaikan semuanya di sini.”

“Ya, kurasa kau ada benarnya juga.”

Ia mulai merapikan buku catatan kosong itu dan menaruhnya kembali ke dalam tasnya. Aku pun juga kembali mematikan laptop, menunggu layarnya berubah hitam lantas menutupnya. Hening sekali di sini, bahkan aku sampai bisa mendengar suara klakson mobil dari luar jendela balkon yang sedikit terbuka.

“Hei, apa kau mau kuberi tahu satu rahasia kecil?” tanyaku padanya, yang sebenarnya hanya untuk memecah keheningan saja.

“Apa?”

Kulihat wajahnya menyiratkan sedikit rasa penasaran. Demi Tuhan, sebenarnya aku jadi merasa geli sendiri dengan hal yang akan kusampaikan ini. “Di bab pertemuan kita nanti, akan ada sedikit hal lucu.”

Entah kenapa pipinya jadi bersemu setelah aku mengatakan hal itu. Oh, jangan-jangan…

“Wah, jangan-jangan kau sudah tahu bahwa saat bertemu nanti kita akan…”

“Hentikan!”

Teriakannya yang melengking itu mau tak mau membuatku tertawa juga akhirnya, benar-benar tertawa seperti orang gila sembari memegangi perutku yang sudah mulai pegal karena terlalu geli.

“Lalu apakah kau tahu di bab berapa ciuman kedua kita akan terjadi―”

“JUNG!”

Tahu-tahu tasnya sudah melayang ke arahku, dan ia terus memukuliku dengan bantal yang ia ambil dari tempat tidur sembari merajuk. Wajahnya masih memerah, dan jujur itu terlihat sangat menggemaskan. “Iya, iya, ampun!”

Gadis itu kembali tenang di tempat duduknya, namun dengan mata yang masih menatapku penuh dendam karena telah membuatnya tersipu berlebihan. Juga diriku yang sudah mulai bisa menetralkan tawa, mencoba mengatur napas sembari beranjak duduk di pinggir tempat tidur Yui.

“Sepertinya perkenalan ini adalah ide yang bagus. Biasanya aku jarang memuji keputusan Yui, sih.”

“Ya, kau bukanlah tipe orang yang akan menyukai ide orang lain sebelum kau merasakan dampaknya sendiri.”

Tak tahu kenapa, tapi aku justru mengiyakan omongannya barusan. “Oh iya, kau telah mengetahui dan memanggil namaku sejak tadi. Tapi sepertinya aku belum tahu namamu.”

Benar juga, ia selalu memanggilku dengan nama depan, tapi aku sama sekali belum mengetahui namanya. Maka aku menunggu jawabannya dalam diam. Tak seperti dugaanku sebelumnya bahwa ia akan langsung mengatakannya, ia justru tertawa. Sepertinya ia kini tengah menertawakanku.

“Hei, apanya yang lucu?”

“Dasar kau ini,” katanya sambil berusaha menghentikan tawanya. “Kau lupa ya kalau Yui belum memberiku nama?”

Demi apa pun, aku kini merasa jadi orang konyol yang bisa-bisanya menggodanya dengan spoiler bab berikutnya tapi justru melupakan fakta bahwa Yui memang belum memberinya nama.

Katanya sih kejutan untukku, Yui akan memberikan gadis ini nama di bab pertemuan kami―hal yang dengan bodohnya baru kuingat sekarang.

Susah memang menjadi karakter yang terlalu dicintai sepertiku, ada saja ulah Yui yang membuatku serasa jadi orang paling konyol sedunia.

FIN

  • It’s surreal time!
  • 5Laras dalam KBBI memiliki arti gugur/luruh. Melarasi tanya = menggugurkan pertanyaan (menghilangkan/menjawab pertanyaan).
Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] Melarasi Tanya

  1. Kaknjel mabok W ya ampe bikin nih ff wkwkwk
    Asli, aku senyum2 sendiri pas Jaehyun iseng bocorin spoiler XD tapi kalo dipikir, agak ga asik ya hidupnya Jaehyun gampang ketebak, gimana ga gitu la wong dia diskusi dulu sama pengarang skenarionya mesti gimana XD
    Ga tau mau komen apa lagi pokoknya nih ff such a masterpiece lah kak, jdi inget klo blm nonton eps 7 :3

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s