[NCTFFI Freelance] The Octubys (Chapter 1)

dont

@Burgerborn, Sapphire

2016, august

The Octubys

Romance, angst, hurt, family|PG17 (for criminal scene)| Twoshoot

Dong Si Cheng & Im Nayeon

as the fuckin greatest main.

.

.

Im Nayeon terpana.

Pria itu masih menunduk ke arah kompor panas beruap, sekalipun goresan di jari telunjuknya akibat silet beberapa menit yang lalu belum mengering di balik perban. matanya fokus, dan jari-jari tanganya masih sibuk mengirisi wortel dengan cekatan, sesekali merapatkan jaket putih-kuningnya karena udara malam yang menusuk.

Dari dulu memang begitu, seakan Tuhan tidak pernah memberikan rasa sakit dan lelah yang berlebihan kepadanya.

“Hei, jangan sok serius, seleraku bukan yang terlalu asin!” Nayeon terkekeh, mengecohkan konsentrasi pria itu pada garam yang dituangnya. “Maksudmu kuberikan sedikit lada?”  Nayeon mengangguk, “Sebisa kau saja, tuan koki.” Dong Si Cheng mengangguk, mengikuti permintaan Nayeon yang kini tengah menyulut sebatang pipa tembakau.

“Jam berapa kau sampai?” Nayeon melempar sebatang ke pada sosok yang akrab disapa Winwin itu. “Aku bukan perokok,” Winwin mengembalikan benda itu dengan sopan, tersenyum kecil menanggapi putaran bola mata Nayeon. “Jam 9 pagi tadi,” Nayeon mengangguk, menyandarkan diri dinding, mendangak menatap kerlipan glitter di atas sana, menghisap pipanya dalam-dalam, lalu menghembuskannya sehingga dapat mengepul dengan pola bagus di udara.

“Benda yang tidak pantas di hisap wanita,” Nayeon melirik Winwin, yang baru saja mengkritik dengan santai tanpa memindahkan aktensi matanya dari kompor. “Aku hanya menyulutnya disaat stress, tidak sering, sangat jarang bahkan.” Nayeon melempar rokoknya, menginjaknya hingga sisa apinya habis. Winwin mengangguk sekilas, terkekeh menanggapi pembelaan Nayeon.”Sudah jadi,” piring beserta isinya itu kini terhidang manis di depan Nayeon yang langsung di suapkan ke mulut tanpa peduli suhu yang masih tinggi.

“Panashh!”

Gadis itu berbalik, menyembunyikan wajah konyolnya yang berusaha memadamkan rasa terbakar di lidahnya, sesekali mengumpati tawaan Winwin di belakangnya. “Dari dulu memang  sudah tidak hati-hati!” Nayeon berbalik, merengut kesal dan menekuk muka habis-habisan. Tiada niatan untuk membalas ejekan Winwin barusan.

Sekalipun dia- maksudnya- wanita yang telah melahirkan Nayeon ke dunia ini tidak meminjamkan rahimnya untuk sosok abstrak dihadapannya ini juga, mungkin dia tidak akan pernah berada dalam satu garis batin yang sama dengan seorang yang tak pernah merasakan bagaimana berada di alam mimpi itu.

Hening.

Nayeon tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran anak itu, yang datang dengan menghancurkan kehidupan sempurna Nayeon dua tahun setelah ia pertama kali dilahirkan kedunia.

Terlahir di dunia dengan fisik sempurna, pipi merah, wajah tampan, dan tawa menggemaskan.

Hanya saja terus terjaga.

Tak ada lelah, Tak ada rasa kantuk. Tak ada kantung hitam yang terlihat setelah 17 tahun hidup sebagai manusia yang tak pernah terlelap.

Dia- dia tidak akan merasa lelah sampai waktunya tiba.

kelenjar mata, otak dan rangsang lelah tidak bekerja. tanpa mengganggu organ lain, tanpa membuat mata merah, bengkak, tanpa membuat jantung berhenti berdetak, tanpa membuat rasa lemas, tanpa menarik ajal lebih dekat.

Hanya manusia yang dari luar terlihat normal, sangat sehat, seperti remaja biasa tanpa kelainan fisik.  namun tidak bisa terlelap.

Karena jika terlelap dia tidak akan pernah terbangun lagi.

Dong Si Cheng.

.

“Tidurlah.” Nayeon tersentak, terlepas dari adegan dramatis mengikat kepalanya kini. Winwin membereskan piring dan gelas kotor, menumpuknya di sudut tempat cucian. Nayeon masih membatu di tempat. suatu kelenjar di otaknya memaksanya untuk bertanya. “Win,” sosok itu menoleh, melemparkan tatapan penuh tanya pada Nayeon. Nayeon menggeleng, mengurungkan niatnya. ia sudah menanyakan itu berkali-kali.

Namun ternyata rasa penasaran memaksanya.

“Apa kau tidak lelah?” Winwin melirik, tersenyum kecut. “Ini sudah yang seratus kali kau menanyai nya  sejak terakhir kali..” Nayeon masih bersikukuh memaksa Winwin untuk menjawab. “Tidak. tidak pernah.”Winwin akhirnya meloloskan jawaban itu dari bibirnya. “Namun jika soal urusan hati iya,” “Ha..” Nayeon terkekeh. Jawaban macam apa itu. Jelas sekali kalau Winwin bukan tipe orang yang mudah kasmaran.

“Hei,” nayeon mengaduk-aduk mi pangsitnya. Menatap lurus Winwin yang masih sibuk dengan kegiatannya. “Besok mungkin aku tidak bisa di rumah sampai malam.” Gerakan tangan Winwin berhenti. Melirik Nayeon sekilas, lalu kembali mencuci piring dengan gosokkan sedikit kasar. “Aku- aku ada urusan dengan temanku- kalau aku bawa ke rumah mereka-” “Tentu. kau malu jika ketahuan adikmu sebenarnya punya kelainan, kan?” Winwin meletakkan piring, mencuci tanganya lalu berbalik ke dalam rumah.

Nayeon menghembuskan napasnya kasar, mengambil sesuap mi dan memasukkan nya ke mulut dengan tidak enak hati.

.

Seebenarnya tak sulit untuk menjelaskan bagaimana ini bermulai. 

Itu adalah musim dingin dimana murid-murid SMA Chaewon tengah melangkah memasuki gerbang sebekum bel berdering. Ada Aku, Kim Aeri, Soyeon, DongHae, dan dua makhluk teristimewa, Wu Yifan dan Dong Lu Han.

aku tidak pernah menyangkaa bahwa hari itu adalah dimana Tuhan menentukan nasibku.

“Hei, setelah ini beli tteokbokki, kan?”

“Iya! di depan sana!”

“Yoong, ikut nggak?”

“Shirreo! aku menyusul.”

“Oke.”

  1. aku lapar.

“TUNGGU! AKU IKUT!”

Aku tidak memperhatikan jalan.

“IM YOON AH!”

lalu Luhan menyelamatkanku.

.

“Buku harianmu masih kau simpan, Yoong?” kekeh wanita berblazer ungu itu seraya meletakkan buku itu kembali pada tempatnya. “Ingatanku sudah tertanam disana, Soyeon-a,” wanita bermantel hijau itu membalas seraya menyeruput kopi latte-nya.

“Kita sudah lama tidak bertemu.” Jung Soyeon menatap lurus wajah wanita dihadapanya. “Kau masih cantik.” Wanita itu terkekeh mendengar pujian Soyeon.

“Jadi, ceritakan selama bertahun-tahun aku ketinggalan apa.”

“Aku dan Luhan menikah-“

“Ya, ya, aku tahu.”

“Aku tidak yakin..”

Diary. 1

Ini milik Im Yoon A. tidak ada yang boleh menyentuhnya!

.

“Yang ini lucu ya, Nay?” Nayeon melirik gantungan kunci berbentuk kodok hijau yang kini tersemat di case ponsel Namjoo. “Hm. iya.” Nayeon menopang dagunya, menyeruput macha latte yang dia beli. sedari tadi- dibandingkan memilih baju, tas, atau aksesori yang dibeli oleh teman-temannya, melamun dan menanggapi temannya adalah pekerjaannya sejak tadi.

“Kenapa, Nay?”

“Huh?” Nayeon melirik Sowon. “Aku- bagaimana jika kita ke rumahku saja?” Tanpa di komando, maka sudah pasti ke tiga gadis lainnya mengangguk setuju.”Sekarang, Nay?” tanya Jihyo antusias. Nayeon mengangguk, menghembuskan napasnya kasar.

“Tumben biasanya-“

“Ada adikku dirumah.”

.

“Win,” fokus mata Winwin berpindah dari layar televisi ke belakang, mendapati Nayeon dan sejumlah gadis lainnya. keningya berkerut, tak percaya atas tindakan Nayeon yang diluar batas prinsipnya.

“Wah.. adikmu ganteng banget Nay!”

“SMA mana?”

“Hei, nama kamu lucu lho,” Winwin berdehem, kembali berbalik ke arah televisi setelah Nayeon mewakilinya menjawab semua pertanyaan temannya. “Ke kamar saja, yuk!”. setelah mendaratkan bokong ke ranjang Nayeon, tiga gadis cunguk itu mulai menyerbunya dengan pertanyaan yang super duper menyebalkan.

“Aku kira kamu anak tunggal,” Jihyo menopang dagunya, memandangi Nayeon yang sibuk dengan novelnya. “Huh? Winwin tinggal di China sejak dia kelas 4.” “Ohh..” yah, secara jelas bahwa Nayeon bukan tipe orang yang suka membicarakan lebih dalam soal keluarganya. apalagi tentang Winwin. Makhluk yang dua tahun lebih muda darinya itu terlalu rumit untuk dibahas.

“Ayahmu dimana, Nay?” Nayeon berhenti membaca, menatap Namjoo tajam sehingga membuat gadis itu diliputi rasa bersalah. “Maaf Nay jika-” “Tidak. Ayahku di China. aku hanya tinggal menunggu sampai ibu menceraikannya.” Nayeon tersenyum, menepis rasa tidak enak di hati Namjoo.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Nayeon di tanyai begitu.

.

“Susunya sudah basi,” Wanita paruh baya itu bergumam, membuang tempat susu kadaluwarsa itu ke tempat sampah. di raihnya mantel dan tas diatas meja sebelum mengunci dan meninggalkan apartemen.

Kedua tungkainya menyusuri trotoar, sebelum berbelok ke sebuah toko dan mengambil susu disana. “Berapa?” wanita yang tengah berdiri dibalik meja kasir itu memencet-mencet tombol kasir sebelum menyebutkan harga. “2 won.” setelah menyerahkan uang, wanita itu kembali melangkah keluar toko, menyusuri trotoar hingga kakinya berhenti di depan sebuah halte.

“Pakai saja jaketku jika kedinginan.”

“Luhan..”

“Kau tahu? mungkin cintamu tidak terbalas olehnya. Tapi aku adalah pelindungmu, Yoona.”

Lengkungan tercipta manis di kurva tipis wanita itu sebelum lanjut melangkah. Dan kala itulah keajaiban Fortuna kembali di taburkan.

Dug!

“Oh! maafkan aku, nyonya…” Sosok itu membungkuk dan memungut susu setelah memasukkannya kembali ke dalam kantong belanjaan. “Tidak apa-apa, aku-” ucapan wanita itu terhenti. kepalanya mendongak pada wajah sosok dihadapannya. sangat dikenalnya.

“Y-yoona..”

“Y-yifan…”

.

“Haiss!!! eomma benar-benar tidak ada niatan menjemputku, apa!” Nayeon memasukkan ponsel ke sakunya kesal. Diliriknya manusia tenang di sampingnya yang bersikap seolah tak ada apa-apa. “YA! ALIEN!” Winwin melirik Nayeon sebal. “apa?”

“Kau pulang saja dulu! aku akan cari eomma.” Winwin mengangguk, mengecup kilat pipi Nayeon. “Terimakasih.” kening gadis Im itu berkerut. “Untuk?” “Yang kemarin.” Nayeon mengangguk, menatap punggung Winwin yang semakin menjauh.

“Haissh! eomma!”

.

Dia selalu memandang ke arah satu wanita. meskipun aku terus menatapnya.

aku tahu tindakanku bodoh.

“Berhenti mencintainya, Im Yoona! coba sekali-kali lihat aku..!”

“Luhan..”

musim dingin terindah yang pernah ada.

Nayeon masih berlari meenembus tumpukan salju putih yang mulai menutupi jalanan. “Eomma, eodiyeo? aishh.. sebentar lagi akan turun salju…” gadis itu merapatkan jas almamater yang melekat ditubuhnya. seketika kakinya berhenti berlari di depan sebuah restoran China terbuka karena matanya menangkap sesosok wanita yang di carinya bersama dengan..

“Hahaha.. Yifan- ssi,”

“Ya! Eomma!” Nayeon mendekati ibunya yang masih berbincang dengan pria tak di kenal itu. “Siapa kau?” tanyanya sinis kepada pria itu. “Nayeon-a, ini Yifan ahjussi, sahabat eomma,” senyum Yoona seraya membelai kepala Nayeon. “A..Annyeong Ahjussi.” nayeon bergegas membungkuk dan kembali menegakkan tubuhnya. “Eomma, aku dan Winwin sudah mengunggu dari tadi!” aktensi Nayeon berpindah ke ibunya, merengek layaknya anak kecil minta mainan.

“Mian, Nayeon-a, engg, Kris, aku mau mengantarkan Nayeon dulu, sampai berjumpa besok,” Yoona bergegas bangkit dan merangkul putrinya.

.

“Sialan,” desis Nayeon begitu mendaratkan kaki nya tepat di depan teras rumah. sepasang sepatu wanita berjajar manis di samping sepatu Winwin. Milik siapa ini?  “Anak sial.”

.

will continued.

2016, August

Sapphires properthy

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] The Octubys (Chapter 1)

  1. Wahhh aku ga nyangka bakal ada pair unyu ini untuk dijadikan cast ff,
    Tpi mulai ngerti alasan knp author-nim pakai nayeon sbg kakak tiri winwin, pasti krn emaknya yoona yg punya marga Im. Gyaaaa itu kenapa jg para mantan kumpul >< mana luhan pke jdi bapaknya winwin di sini.
    Ceritanya unik, kasian winwin klo hrs dpt perlakuan diskriminasi cuma krn penyakit anehnya, bahkan dia ga kaya manusia, tpi robot LOL
    tpi klo boleh saran, sblm kirim mending cek dulu kak, soalnya banyak typo dan antara flashback sama present(?)nya kecampur2, bikin bingung. Sayang kan klo diksi sekeren itu hrs ternodai oleh typo2.
    Aku juga mau koreksi boleh ya?
    'Aktensi' hrsnya atensi
    'Mendangak' hrsnya 'mendongak'
    'Mengembuskan' hrs 'mengembuskan'
    Sama ada keterangan tempat yg digabung sama preposisi (which is hrsnya itu dipisah).
    Oke kak maaf bawel, next chapter hrs segera diupdate pokoknya!!!!

    Like

    • aku tercengang dipanggil ‘kak’ ‘-‘

      duh, jika dikau tahu saya lahir di tahun berapa, tercengang deh.

      iyaaa…. itu banyak banget typo bikos waktu nulis ngebut dan nggak merhatiin tanda baca, jadinya salah-salah, udh gitu waktu mau dikirum juga belum dirapiin -_-” di chap 2 nya akan aku benerin lagi kok alur nya. makasih saran en kritiknya ya.. :)))

      Liked by 1 person

      • Eh iya maafin deh, aku panggil ‘dek’ kalo gitu. Author di sini mah semua2 dipanggil ‘kak’ ga peduli umur dia berapa wkwkwk
        Yosh kalo dr alur ini ff kaya ditulis sama anak kuliahan, tpi klo diliat dr segi typo sih… fix ini mirip bgt sama ffku jaman awal masuk SMP. Tapi ffku alurnya ga sebagus kamu sih, percayalah :’

        Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s