[Chaptered] I Like U Too Much (1st Chapter)

ir-req-i-like-2-e1468935727182

Title: I Like U Too Much | Author: L.Kyo♪ [IG: ireneagatha_ ] | Artwoker: IRISH@PosterChannel | Cast: Kim Yerim (Red Velvet), Jung Jaehyun (NCT), Choi Arin (Oh My Girl) | Genre: Drama, Romance, Fluff | Rating: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

 

—oOo—

 

H A P P Y  R E A D I N G

 

 

Bahkan rasa indah lumatan bibir lelaki itu tak sehangat dulu. Padahal mereka tak menjalin hubungan apapun. Yerim menatap datar bayangan tubuhnya dihadapannya. Ia bahkan ingin membunuh dirinya sendiri karena mencintai lelaki brengsek itu. Sang pecinta wanita yang berulang kali berhasil memporak porandakan perasaannya.

 

Bodohnya ia tetap saja terlena. Bahkan lumatan dalam yang ia nikmati beberapa hari yang lalu tak hilang sensasinya. Mereka sering bertemu tapi lucunya lelaki itu tak ada niatan untuk menyapanya. Ia akan datang dengan wajah penuh frustasi dan gila. Menarik lengan tangannya dan menciumnya brutal.

 

Apakah aku kekasihmu? Tapi kau sering menciumku?’

 

Kalimat itu terus saja menjadi deretan pertanyaan yang selalu antri dipusat sarafnya. Bahkan angin sore saat ini tak membuat Yerim berniat pulang. Ia masih terfokus pada suara pantulan bola basket disana, memandangi dengan diam seseorang yang seakan kerasukan berlari ditengah lapangan. Membiarkan keringat seksinya basah mengenai seragamnya.

 

Suara pantulan itu semakin dekat dan Yerim terkesiap karena bola itu berhenti disepatu kanannya. “Hei, bisa kau lemparkan bola itu?” Suara berat itu membuat Yerim tercekat luar biasa. Ia merutuk dirinya sendiri karena seharusnya ia tidak duduk dilapangan sial ini. “Kau dengar atau tidak?” Teriakan lelaki itu terdengar seperti bentakan dengan amarah yang memuncak.

 

‘Bahkan kau tidak memanggil namaku!’

 

Yerim mendongakkan kepalanya. Matanya memerah dan semburat rasa kebencian tampak diwajahnya. Ia mengambil bola basketnya dan melemparkannya sekuat tenaga dengan asal. Bahkan hanya beberapa senti saja bola itu bisa saja mengenai dahi lelaki itu. “Namaku bukan hei! Aku punya nama!!”

 

Dan suara sesenggukan pun akhirnya meluncur dari bibir mungilnya. Tapi tetap saja Jaehyun tak bergeming, raut wajah itu kaku tak ekspresi. Lelaki itu mengambil bolanya lalu berbalik, mengabaikan Yerim yang meminta penjelasan. “Brengsek kau!” Umpatan keras dari Yerim membuat Jaehyun terhenti sebentar.

 

Namun apa daya kelemahan seorang wanita? Ia terlalu memfosir dirinya dengan airmatanya, bahkan ia malah semakin tak sanggup jika saja Jaehyun kembali memandangnya. Dan pada akhirnya ia memilih untuk pergi. Dan dipijakan sana, Jaehyun menatap langit kosong. Bahkan ia meremat bolanya geram dan pada akhirnya terjatuh.

 

“Jaehyun-ah! Ada apa?” Teriak Ten diujung sana. Malah Jaehyun mencoba tak peduli lalu ia kembali membawa bolanya. Ia tahu Ten memandangnya ragu. “Hei, bukankah itu pacarmu baru saja? Kalian bertengkar?” Tatapan murka melayang dari Jaehyun. “Apa aku salah? Bukankah kau pernah mengatakan padaku bahwa kau menyukainya?”

 

Jaehyun yang mencoba sibuk dengan memainkan bolanya kini menjadi tak minat. Lelaki itu mendesah lalu mengambil ranselnya. “Ya! Mau kemana kau?“ Bahkan teriakan Ten tak didengar lagi. “Kau dengar atau tidak?” Dan kemurkaan Ten menjadi-jadi. Ia mungkin sudah menjadi sahabat Jaehyun bertahun-tahun, tapi setahun belakangan ini Jaehyun seakan menjadi lelaki pendiam.

 

Ahh tunggu! Ten mencoba memutar otaknya. Bukan pendiam, lebih tepatnya menjadi lelaki dingin dengan berbagai hal misteris didalamnya. Bahkan seminggu yang lalu ia melihat Jaehyun duduk lemas dengan bau alkohol yang pengat. Dan lebih membuat Ten geleng kepala, ia terus mendengar Jaehyun menyebut sayang dan berbagai kalimat rayuan dibalik ponselnya.

 

Yerim? Ten rasa itu tidak mungkin. Bahkan Jaehyun selama ini menjadikan Yerim pelampiasan ciumannya. Lelaki itu mencintai Yerim tapi ia dengan bodohnya menyakiti gadis itu. “Aku ada keperluan dengan Arin!” Berselang kemudian Jaehyun menjawab lalu berlalu, menaiki motor sport nya yang tak jauh dari lapangan. Suara derum motor milik Jaehyun membuat Ten tak habis pikir. Arin? Buat apa ia menemui Arin untuk membuang waktunya. “Untuk apa menemui Arin jika harus melakukan hal bodoh!”

 

***

 

Suara air yang dituangkan dalam cangkir memecahkan keheningan diruangan yang super mewah dan begitu lebar jika dilihat dari ukuran kamar seperti orang kebanyakan. Arin mengambil cangkir itu dan menikmati aroma teh dengan kepulan asap hangat mengenai hidungnya. “Baunya sangat enak Bibi. Kau memang luar biasa!”

 

“Ahh, itu tidak benar Nona. Memang teh rekomendasi Nona saja yang memang bagus. Segalanya pun akan terasa enak”. Bibi Yoo melebarkan senyumnya. Bahkan Bibi Yoo sudah mengabdi pada keluarga Kim selama 10 tahun lamanya. Dan yang benar saja, Arin sudah sangat dekat dengannya.

 

“Kalau begitu, terimakasih atas tehnya. Bibi bisa kembali”. Senyuman ramah Arin membuat Bibi Yoo tersenyum senang. Setelah membungkuk dan menutup pintu, senyum Arin memudar. Digantikan dengan ekspresi dingin dan kesal. Ia menatap lelaki didepannya yang sama sekali tak ada minat untuk memulai obrolan.

 

“Aku tidak mengerti dengan ekspresimu sekarang Hyun”. Arin meletakkan cangkirnya dan menatap Jaehyun yang hanya terfokus pada ponselnya. “Apa kau sedang berbicara dengan ponselmu? Kau tidak dengar aku sedang bertanya padamu?” Hentak Arin.

 

Dan pada akhirnya Jaehyun mendongakkan kepalanya. “Lalu apa yang kita bicarakan?” Kemudian Jaehyun menatap jam tangannya. “Hampir waktunya jam makan malam.” Dan siapa yang tak kesal dengan sikap Jaehyun. Arin menghela nafasnya. Mencoba bersabar dengan semua tingkah laku Jaehyun yang begitu dingin.

 

“Kau bisa memesan makanan apapun disini. Kau bukan orang asing Hyun. Kau adalah tunanganku. Kau bebas melakukan apapun disini!” Arin protes. Apa gunanya mereka bertunangan jika Jaehyun masih saja menganggap Arin adalah angin lalu. Arin pun tak menginginkankan pertunangan. Ia masih berumur 18 tahun dan ingin menikmati dunia remaja yang menyenangkan. Dan lagi, Arin hanya mendapatkan tanggapan bisu. “Bagaimana dengan latihan untuk turnamenmu? Apakah semuanya baik-baik saja?”

 

Arin meremat cincin perak dijari manis kanannya. Dan lihat, bahkan pertanyaan sederhana saja ia tak dianggap.  Jika ia tak mencoba memberontak dan menolak semua permintaan Ayahnya, mungkin ia tak akan menerima rasa sakit yang terus menerus ia dapatkan dari Jaehyun. Sekeras usaha Arin mendapatkan hati Jaehyun, ia tak bisa menggapainya. “Apa kau sudah selesai dengan pertanyaan panjangmu?”

 

Jaehyun memakai jas sekolahnya dan meneguk teh itu hingga habis. Mata elang Jaehyun menatap Arin seolah menunggu jawaban. “Aku tidak mengerti Hyun. Jika kau tidak menyukaiku, katakan! Kau selalu diam seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan aku terlihat over protektive sekarang. Katakan jika kau menyukai Yerim, mungkin aku bisa mengatakan alasan ini pada Ayahku!” Arin tak bisa memendamnya.

 

“Sudah kukatakan aku tidak suka kau membahas ini padaku. Aku pulang. Terimakasih atas tehnya”. Hanya jawaban singkat yang selalu ia dapatkan. “Tunggu!” Langkah Jaehyun terhenti. Arin menghela nafasnya, memandang punggung Jaehyun sesal.

 

“Lalu katakan alasanmu kenapa kau menerima pertunangan ini? Jika kau  keberatan, kau bisa mengatakannya pada Ayahku. Bahkan kau tidak memandangiku? Jangan membuatku menjadi kejam karena ingin memilikimu. Tapi aku punya harga diri dan pengertian untuk memakluminya. Jika alasanmu hanya soal waktu untuk menerimaku, aku tidak akan pernah bertanya pertanyaan ini berulang-ulang Hyun”.  Sungguh Arin ingin menangis.

 

Jaehyun berdehem lalu berbalik menatap Arin yang membutuhkan sebuah jawaban yang tepat. “Kau sudah tahu apa alasanku menerima pertunangan ini? Jangan terlalu dipikirkan, ini sudah biasa dikalangan keluarga kaya bukan? Tentu saja untuk memperkuat bisnis kedua orangtua kita. Dan kau masih bertanya? Jangan pura-pura bodoh”. Senyum yang terlihat mengejek, membuat Arin ingin melemparkan cangkir didepan wajah pria itu.

 

“Kau yakin itu alasanmu? Bukankah ini untuk membuat Yerim cemburu? Ternyata dibalik semua tingkah angkuhmu, ternyata kau sangat kekanakan sekali”. Dan pertanyaan Arin membuat mata Jaehyun memerah. “Apa? Sepertinya kau sangat tahu semua seluk belukku? Kenapa kau selalu membawa nama Yerim? Aku tidak mengenalnya!” Jaehyun memperbaiki ransel dibahunya dan berbalik.

 

“Kau pergi? Bahkan kau mendengar nama Yerim dari mulutku, kau selalu menghindar! Apa semua pernyataanku benar? Sepertinya begitu. Aku mengerti, Kim Yerim adalah cinta pertamamu bukan?” BRAK! Jantung Arin seketika tak berdetak sepersekian second. Jaehyun membuka pintu dengan kasar menimbulkan suara yang begitu keras. Helaan nafas Jaehyun terasa ia tahan untuk tak menimbulkan semua emosinya. “Kau sudah cukup mengomelnya? Kau benar-benar sangat berisik!” Jaehyun mengambil helm tak jauh darinya lalu berlalu.

 

Meninggalkan Arin yang sudah mengeluarkan beberapa tetes dari manik matanya. Sungguh, ia sudah melakukan hal baik dan berkesan untuk Jaehyun. Tapi selalu saja berakhir dengan pertengkaran? Karena pernikahan politik? Apa Jaehyun tidak percaya dengan cinta? Tidak paham dengan perasaanya yang semakin hari semakin sakit karena bertepuk sebelah tangan?

 

Suara deru motor menderu lalu beberapa detik kemudian suara itu menjauh. Arin berlari kecil menuju pintu, memandangi motor yang ditumpangi Jaehyun hilang dibelokan. Arin meremat cincin peraknya, ia tak menyesal. Akan ada saatnya Jaehyun membuka hatinya. “Tak apa Arin-ya. Dia hanya butuh waktu. Benar, hanya butuh waktu”.

 

***

 

Mata Yerim berat, matanya memerah. Badan terasa lemas dan kertas putih didepannya masih bersih. Mengartikan bahwa belum satu nomor pun ia mengerjakan pekerjaan rumahnya. Jika ia mengingat Jaehyun, rasanya ia malas melakukan apapun. Yerim mengigit bibir bawahnya, bukan karena ia merindukan pagutan bibir Jaehyun.

 

Setiap ia mengingatnya, dadanya begitu terasa sakit. Yerim menegakkan tubuhnya, menatap pintu apartemennya dengan penuh harap. Bukan, Yerim tidak sedang menunggu seseorang bukan? “Hentikan Yerim. Tidak ada alasan untuk mengharapkan dia datang”. Yerim mengambil masker didepan meja belajarnya lalu menutupnya.

 

Bahkan pikiran liar mulai melayang. Bukan karena ia haus akan ciuman Jaehyun sehingga ia menutup bibirnya dengan masker. Ia tak bisa berharap. Melakukan hal itu tanpa ada ikatan dan Yerim berulang-ulang kali mengikuti permainan Jaehyun. Ia merasa seperti wanita murahan yang hanya menjadi pelampiasan kekesalan Jaehyun padanya. Dan pada intinya Yerim harus tahu bahwa ia hanya menjadi pelampiasan bukan title kekasih Jaehyun.

 

Faktanya lelaki itu sudah bertunangan. Dan kejam memang, Yerim rasa ia seperti penganggu hubungan mereka. Tapi apa salah jika ia mencintai seseorang yang sudah bertunangan. Mereka belum menikah dan tentu saja akan ada celah title wanita pelampiasan yang ia beri menjadi kekasih Jaehyun. Yerim menutup bukunya dan beranjak.

 

“Murahan. Brengsek kau!” Tapi tetap saja tatapan dingin Jaehyun membuatnya harus mengelus dada. “Dia milik Arin. Tapi melihat wajahnya membuatku ingin menamparnya. Jika Arin tahu jika Jaehyun adalah lelaki playboy atau apalah sebutan itu, tentu saja pasti …” Argumen Yerim terhenti. Yerim menyentuh bibirnya dibalik maskernya. “Apa aku gila karena merindukannya? Kau bodoh. Kau tahu jika Jaehyun adalah lelaki ter brengsek yang kau kenal. Tetap saja kenapa kau selalu berdegup kencang saat menemuinya”.

 

Langkah Yerim melebar menuju pantry. Ia menuangkan segelas teh dari teko dan meminum sekali teguk. Ia berpikir keras untuk menghindari Jaehyun. Apapun itu.

 

Drrt~ Drrt~

 

Yerim terkesiap merasakan ponselnya bergetar. “Tck, aku yakin ini Saeron. Anak itu memang tak tahu waktu!” Yerim mengambil ponselnya dan mengangkatnya. “Kenapa? Kau tidak tahu sudah jam berapa ini?” Yerim terdiam, hanya suara berat disambungan sana. “Halo?” Tak ada jawaban.

 

Yerim menjauhkan ponselnya lalu menatap layarnya. Astaga, mata Yerim ingin keluar saat itu juga. Ia membersihkan mulutnya dari bekas ia meneguk teh lalu menutup mulutnya dengan masker. Dan nama Jaehyun dilayarnya terpampang jelas. Ia mendekatkan ponsel ketelinganya lagi dengan ragu.

 

“Kenapa kau meneleponku? Berhentilah mengangguku!” Suara Yerim serak namun yang ia dengar adalah suara nafas.

 

Tok! Tok! Tok!

 

Yerim kaget bukan main. Suara ketukan pintu itu terdengar kasar. Tapi ia yakin, itu pasti bukan Jaehyun. Mana berani dia akan pergi ke Apartemennya malam-malam seperti ini. Se playboy Jung Jaehyun, lelaki itu tak akan berpikir menyambangi rumahnya tengah malam, kan?

 

Jika lelaki itu mendatanginya pada jam sekarang  ini, ia bersumpah akan menampar Jaehyun. Yerim mematikan ponselnya sepihak lalu meletakkannya diatas kulkas. “Saeron-ah, apa itu kau? Kau melarikan diri dari rumah lagi?” Tak ada jawaban.

 

Yerim menelan salivanya berat. “Tidak Yerim-ah, dikomplek ini tak ada orang jahat. Mungkin itu Saeron aku yakin. Anak itu! Selalu saja kabur jika hanya dimarahi sedikit. Tunggu sebentar!!” Yerim berlari kecil dan menempelkan telinganya dipintu. Sungguh, tak ada suarapun.

 

Ia hanya menggegam ganggang pintu yang teraba dingin. “Saeron-ah, apa itu kau?” Dan Yerim ingin rasanya mengumpat, sama sekali tak ada jawaban. “Apa kau orang iseng?” Dan pada akhirnya emosi Yerim memuncak. Ia sudah bertanya tapi tetap saja tak ada respon.

 

“Saeron-ah, jika kau mengerjaiku malam-malam seperti ini. Jangan harap aku mengijinkanmu tidur ditempatku. Aku bersumpah kau akan mati kedinginan didepan Apartemenku. Tiap kali kau memohon aku tak akan peduli!” Tetap tak ada jawaban. Yerim membuka pintunya kasar.

 

“Saeron-ah!! Y … y ..ya!!” BUK! Yerim memasang kuda-kuda kuat karena ia baru tertimpa suatu yang berat. Bukan tertimpa melainkan seseorang jatuh dihadapannya dengan lemas. Dan sekarang dengan tanpa ijin, seseorang itu sudah bersandar dibahu Yerim.

 

“Siapa kau!!?” Yerim mundur, membiarkan lelaki itu terjatuh lemas dipintu Apartemennya. Ia hanya melihat lelaki itu menunduk dan rintihan lirih keluar dari mulutnya. Dan tentu saja penciuman Yerim kuat. Berulang kali gadis itu mengendus dan tak lain dan tidak bukan, ia baru saja mendapat masalah dari seorang pemabuk.

 

“Ka …kau mabuk? Apa kau berniat melakukan pencabulan dengan mengetuk Apartemen seorang gadis yang tinggal sendiri? Idemu sangat busuk sekali. Pergi atau kau kulaporkan pada polisi?” Dan lelaki itu hanya terdiam memegang perutnya yang mungkin pikir Yerim.

 

Hei, tapi siapa yang tak tahu dengan niat pemabuk? Mungkin itu hanya drama. “Kau tetap tak mau pergi?” Yerim berlari masuk kekamar dan mencari benda perlindungan diri. Dan raket yang tak jauh dari pintu menjadi benda yang tepay yang bisa saja ia buat untuk memukul kepala pemabuk itu hingga memasuki jaring raketnya.

 

“Kalau kau tidak mau pergi, kepalamu akan masuk didalam raket ini! Pergi atau tidak?” Namun lelaki itu berdiri lemas dan kemudian ia muntah. “Huek!” Dan disinilah Yerim menurunkan raketnya bersamaan dengan lelaki itu bersandar lemah disisi pintu Apartemennya.

 

“Jae … jaehyun-ah? Itu kau?

 

***

 

“Apa kau tahu? Kau sangat bodoh Jaehyun-ah!” Yerim masih bertekuk lutut memandangi tiap lekuk wajah Jaehyun yang tertidur lelap di Kamarnya. Ia tak bosan walau sudah 2 jam ia tak berhenti memandangi wajah Jaehyun. “Dasar playboy kurang ajar”. Yerim menunduk, menahan airmatanya yang mau jatuh.

 

“Jika Arin tahu, apa yang ia rasakan setelah melihatmu menyedihkan seperti ini? Bahkan dengan bodohnya kau mendatangi rumahku. Kau kunyuk brengsek yang berani memuntahi Apartemenku. Aku benar-benar membencimu!” Yerim kesal. Tapi semua omelannya akan menjadi sia-sia.

 

Yang ia dengar hanyalah dengusan lembut dari bibir Jaehyun. Dan Yerim sadar, ekspresi dingin dari keseharian Jaehyun dan tidur terlelap bagaikan bayi yang tak terdosa. “Lihatlah! Jika melihatmu seperti ini, kau menjadi orang yang berbeda. Tiap kali aku mengingat semua hal kurang ajar darimu, aku akan mengumpati diriku sendiri jika aku memujimu!”

 

Yerim beranjak, mengambil segelas teh hangat yang sama sekali tak disentuh Jaehyun, lalu membuangnya diwastafel. “Kau benar-benar merepotkan. jika aku tak baik, aku akan menendangmu sedari tadi. Aku akan memintamu berterimakasih padaku. Jika kau masih tak memanggil dengan namaku, aku akan bersumpah jika turnamen basketmu akan gagal!”

 

Yerim mengambil selimut didalam lemari dengan kasar. Berharap matahari segera bangun dan bersiap menuangakan seember air jika Jaehyun tak jua bangun. Jika Yerim berani melakukannya. Yerim menaikkan selimut sampai dada dan tentu saja manik matanya tak berhenti memandangi sang pujaan hati.

 

Jikalau, Jaehyun tak bertunangan, mungkin Yerim tidak akan membenci Jaehyun sebesar ini. Melihat wajahnya begitu muak karena ia tak akan bisa memilikinya. Tapi ciuman pertamanya sudah direnggut oleh Jaehyun dan itu semakin membuat Yerim membenci setengah mati. “Aku akan memaafkanmu jika kau mulai menyapaku besok Hyun”.

 

Yerim merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya hingga mencapai puncak kepala dengan selimut. Berharap matahari muncul dan sebuah kata manis dari mulut Jaehyun akan ia dapatkan. Dan semua hal buruk dipikirannya akan ia hapus selamanya. Jika itu terjadi.

 

***

 

“Yerim-ah!” Saeron berlari kecil setelah memasuki gerbang. Namun sasarannya itu tetap berjalan tak peduli, bahkan lebih mempercepat langkahnya. “Apa kau sejahat itu mengabaikan teman baikmu ini?” Dan berhasil, langkah Yerim dan yang Saeron dapatkan tatapan penuh amarah.

 

“Aku tak ada waktu untuk bercanda hari ini”. Yerim sewot kemudian melanjutkan perjalannya. Saeron menahan lengan Yerim dan menatapnya penuh selidik. “Any problem?” Saeron bertanya hati-hati. Jika Yerim tak mood, pasti ada sesuatu yang membuat Yerim berpikir.

 

Gadis itu menghela nafas sesal. “Aku hanya kesal. Itu saja!” Yerim berjalan semakin cepat dan sesuatu yang panas terasa dibola matanya. Jika ia ingat pada pagi ini, ia seakan menyesal telah melakukan hal baik. Seharusnya ia mengabaikannya.

 

Jung Jaehyun, lelaki itu bahkan pergi begitu saja pagi-pagi buta. Ketika Yerim terbangun, yang ada hanyalah kamarnya yang sudah tertata rapi. Gadis itu terdiam, menatap kamarnya yang teraba dingin. Dipastikan jika Jaehyun sudah pergi beberapa jam lalu. Dan setetes airmata jatuh dari pelupuknya. Beginikah sakit cinta bertepuk sebelah tangan?

 

“Hei?” Tepukan dari Saeron membuyarkan lamunannya. “Ayo kita kekelas!” Yerim menggandeng tangan Saeron tanpa menunggu persetujuan. Ia ingin cepat kekelas dan melupakan semua hal menyesakkan dipagi hari ini dengan pelajaran yang sejujurnya sedikit membuat muak.

 

“Yerim-ah!” Seseorang memanggil namanya saat melewati kelas terakhir dilantai dasar. Tapi siapa yang tak kenal dengan suara lembut itu. Saeron yang berada disisinya ternganga sesaat lalu memberikan kode pada Yerim untuk segera berbalik. “Yerim-ah! Dia!” Saeron menggoyangkan lengan Yerim dan ia tahu maksud Saeron.

 

Dan siapa yang pintar mengubah ekspresi acuhnya? Yerim membalikkan tubuhnya dengan wajah tak lupa ia datarkan. “Lama tidak bertemu”. Yerim tahu dibalik senyum manisnya ada maksud terselubung. “Tapi aku sering melihatmu Choi Arin. Mungkin kau sibuk sampai kau tidak pernah melihatku!”

 

Arin terdiam sesaat lalu terkekeh. Tak lain dan tak bukan hanyalah pemanis saja dan Arin anggap itu tidak lucu. “Mungkin. Aku sangat sibuk sampai tunanganku bermain dengan wanita lain”. Arin menggaruk tengkuk lehernya yang Yerim yakini tidak gatal. Dan Yerim tahu jika gadis dihadapannya saat ini menyindirnya.

 

“Aku turut bersedih. Kuharap kau bisa menjaga tunanganmu, bisa saja ia melakukan hal senonoh. Menginap disaat mabuk dan tidak mengucapkan terimakasih, mungkin?” Dan sekali lagi Yerim melakukan skakmat membuat Arin mengerutkan dahinya. “A … apa katamu?”

 

Yerim menggelengkan kepalanya. “Tidak. Itu hanya pikiran liarku. Bisa saja seorang Jaehyun yang berhati dingin sebaliknya ada sifat liar yang mungkin tidak kau ketahui.Mungkin …” Pernyataan panjang lebar seakan terbungkam sejenak. Mata Yerim membulat seolah ia sedang tertangkap basah.

 

Lelaki itu menatapnya dalam diam seakan menusuk hingga ujung matanya. “Ya! Apa kau selesai bicara?” Suara berat Jaehyun membuat Yerim menundukkan kepalanya. Yerim menelan salivanya dan benar saja, kerongkongannya terasa berat seakan ingin menangis. “Ayo Saeron. Kita sudah terlambat!” Yerim menarik Saeron  kasar, menjauh dari hadapan Jaehyun.

 

Manik Jaehyun bahkan tak berhenti menatap punggung Yerim yang semakin menjauh hingga suara jentikan dari depan wajahnya membuyarkan lamunanya. Dan yang ia dapatkan adalah sebuah senyuman dari Arin. “Jaehyun-ah. Kau membelaku? Walau hanya perlakuan kecil begini aku merasa …” Jaehyun mengangkat tangannya untuk meminta Arin diam.

 

“Pikiranmu liar sekali Nona Choi. Aku tak ada tenaga untuk memikirkan itu”, Jaehyun memperbaiki ranselnya lalu pergi. Meninggalkan Arin yang menatapnya kesal. Dan tanpa sadar Arin meremat tangannya. “Mungkin aku akan baik-baik saja dengan semua tingkah acuhmu. Aku yakin kau tidak akan pergi dariku. Bahkan kau tidak berniat membatalkan pertunangan kita. Jaehyun-ah, aku akan membuktikan pada waktu bahwa suatu hari nanti kau pasti akan menyukaiku. Dan kau bisa melupakan dia, melupakan Kim Yerim”.

TO BE CONTINUE

 

Please comment, jangan siders. Jaehyun siap nepokin pantat kamu kalo g komen :3

Advertisements

21 thoughts on “[Chaptered] I Like U Too Much (1st Chapter)

  1. Arinkuhh yg unyu cimit mengapa kau jdi agresif di sini hiksss
    Chapter 1nya bagus kaaak tpi masih ada typo dan penulisan bentuk preposisi yg kurang tepat. Keterangan waktu kan hrsnya dipisah ya dr ‘di’ & ‘ke’
    Trs ada kalimat ‘dgn semua tingkah acuhmu’
    FYI kak, di KBBI acuh artinya peduli. Jadi yg bener ‘… tingkah tak acuhmu.’ Sering emang beberapa author kesandung dlm penggunaan acuh, hirau, indahkan hehehe
    Sori kak aku jdi bawel kaya Arin, tapi namanya ilmu ya kak, ga varokah kalo ga dibagi. Aslinya aku mau sider aja biar pantat aku ditabok woojae wkwkwk tpi barangkali klo ga sider pipi aku yg ditabok ……………………… pakai bibir /KABOR

    Like

    • Biar, karena aku sayang Arin.
      Nah, ud 3x emang ada yg bilang di ama ke dipisah :3 tapi emang ane g mau rempong pencet spasi ama dedel alias bomat jdilah terus2an begetoh :3

      Like

  2. Ffnya seruuu ,, jaehyunnya nyebelin disini bikin gemess..
    Sebenernya jaehyun suka ga sih sama hyerim?? Kasian tau
    Tapi arin juga kasian,, nyebelin banget si jaehyun emang

    Ditunggu selanjutnya ya
    Hwaiting ^^

    Like

  3. Keren ff nya jaehyun yg dingin Lbh bagus lagi yeri yg jd agresif arin lbh cocok jadi yg baik”,. Ahh jaehyun penasaran banget sama dirimu harus punya pendirian dong jgn nyakitin hati cewe” pilih salah satu arin apa yeri !!

    Btw ff nya bagus thor tp bahasanya perlu di perbaiki lagi cari suku kata yg baik dan benar menurut KBBI

    next chap nya ching 😊

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s