[NCTFFI Freelance] Neverland (Vignette)

Neverland

Neverland

By: Jo Andante

Cast: Ten x OC

Genre: love, friendship

Length: Vignette [1000+ words]

Note: kunjungi andantecho.wordpress.com kalau ada kesempatan. Terima kasih.

-=-

“Andante,” panggilnya padaku.

“Ya?”

“Apa kau tahu cerita Peter Pan?”

Pria itu berkata-kata sambil menghembuskan napasnya ke langit, menciptakan asap putih mengepul karena udara dingin yang mengelilingi kami. Sementara aku ikut menatap ke langit, menyaksikan bagaimana warna kuning di langit mulai pudar dan biru tua perlahan menjadi hitam gelap. Bintang mulai memenuhi langit, memberikan aksen putih di antara gulita malam dan awan yang menutupi rembulan.

“Tahu. Aku rasa semua orang di usia kita tahu cerita itu.”

Aku menukas dengan lugas, seperti kebiasaan lamaku yang tak pernah hilang sejak aku belajar menukas seperti itu. Bagi orang lain, nadaku mungkin agak tak menyenangkan karena terkesan tak kenal basa-basi atau keramahan dalam bicara. Tapi pria ini mengenalku sejak kami masuk SMP, total dua puluh tahun kami habiskan bersama. Jadi ia sudah tahu betul kebiasaanku itu.

“Kadang aku pikir, menyenangkan menjadi Peter Pan. Tidak bertambah tua, tak punya tanggung jawab untuk menjadi dewasa, dan hidup di Neverland. Neverland adalah tempat mimpi kita dibuat, dan di dalamnya ada ribuan atau ratusan harapan yang menunggu untuk terwujud. Tidak ada yang lebih indah dari itu semua.”

“Penjabaranmu itu seperti orang yang menyesali sesuatu.”

“Nah, kan,” ia tertawa kecil. “Kau selalu berbicara seolah kau menembus kepalaku dengan matamu yang tajam itu.”

“Apa aku baru saja membaca pikiranmu?” balasku kecil. “Bukankah kau memang menyesal karena tak dilahirkan di Neverland?”

Ten, pria itu, tertawa lagi dan lagi seolah dengan itulah ia menyelesaikan semua masalahnya. Aku tak keberatan mendengar ia tertawa, apalagi melihat wajahnya yang lucu bila tertawa. Yang membuat aku keberatan adalah ia tak tahu bahwa tawanya itu terlalu indah.

“Kau seperti membaca pikiranku,” kata Ten sembari tersenyum.

“Tapi, Ten,” potongku kemudian. “Apa yang harus kau sesali?”

“Aku menyesal karena aku bukan Peter Pan yang baik,” katanya sambil mengalihkan mata dari langit gelap. “Dan aku meninggalkan Neverland yang tadinya dibuat untukku.”

Wajah Ten tersorot lampu teras yang otomatis mulai menyala saat hari sudah gelap. Aku menyelipkan tanganku ke dalam saku celana, benci karena dingin mulai merasuk tubuhku. Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, bukan udara dingin yang menusuk diriku. Topik pembicaraan ini adalah alasannya.

“Kau mulai berbicara aneh,” aku berkata sambil berdiri, hendak meninggalkan teras.

“Kau harus dengar ceritanya,” ia buru-buru berkata dengan nada yang membuatku penasaran.

Ten memang begitu, tahu cara untuk membuat orang lain penasaran. Aku contohnya, batal meninggalkan teras dan duduk manis lagi di sampingnya, tak peduli kalau dalam lima menit aku akan mati beku karena dingin di teras itu. Mungkin itu alasan aku selalu menyukai Ten. Ia menarik, dan selalu membuat segalanya menarik.

“Apa yang ingin kau ceritakan?”

“Jadi begini,” kata Ten dengan serius. “Aku menemukan catatan lamaku di rak bukuku dan mulai membacanya sejak dua hari lalu.”

“Kau masih hobi menulis buku harian?” ejekku.

“Itu catatan harian,” tekannya sambil menyipit dan memberikan alasan yang dipakainya sejak kami SMP. “Dan aku menemukannya tanpa sengaja.”

“Lalu? Kau membakarnya?”

Ia melipat tangannya di dada, dan aku tahu bahwa ia mulai kesal atas celetuk-celetuk tak berarti yang kulontarkan tanpa makna. Tapi aku memang begitu. Agak sinis dan terlalu sok jujur, membuat Ten kadang berdesis menahan diri karena tingkahku.

“Kau mau dengar, tidak?” ia tak sabaran.

“Oke, oke. Aku mau dengar.”

“Aku membacanya lagi,” akunya akhirnya. “Berdebu, usang, kotor, dan tidak indah. Tapi aku berpikir untuk membacanya lagi. Aku menemukan keseharianku dalam sebuah Neverland. Neverland yang kutinggalkan tanpa menoleh. Atau setidak-tidaknya, aku berharap untuk tak pernah menoleh lagi.”

Ini rumit, dan aku tahu topik pembicaraan ini lebih dari sekadar curahan main-main darinya. Ini bahasan sensitif, sukar, dan sulit ditebak arahnya.

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Ten tahu kalau aku bohong. Terbukti, ia melemparkan senyum misteriusnya dan menatapku seolah aku ini orang paling suka bercanda di dunia ini. Ia sedikit mengejekku dengan senyuman itu, tahu bahwa aku berbohong padanya.

“Andante,” ia menyebut namaku lagi, membuatku merinding.

“Ya?”

“Aku Peter Pan yang bodoh,” ia tertawa sedih sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kalau begitu aku Wendy yang bodoh,” imbuhku, berusaha menghiburnya.

“Tidak, tidak,” ia menggeleng. “Bukan begitu. Kau bukan Wendy. Kau jauh lebih cantik dari Wendy, Andante. Dan Peter Pan yang bodoh itu menyukaimu, bukannya Wendy.”

Aku tertawa hambar, merasa siap melarikan diri kapan saja kalau topik pembicaraan ini terus diangkat seperti ini.

“Kupikir itu semua sudah berlalu, Ten,” kataku mencoba bijaksana. “Aku sudah berlalu, kau sudah berlalu, dan kita sudah berlalu. Itu semua hanya masa lalu, bagian dari kenangan dan memori yang selamanya ada di hati kita.”

Ia kini menatapku dengan tatapan paling menyedihkan di muka bumi ini. Seperti kehilangan semua tenaga dalam dirinya, Ten menghela napasnya pelan. Ia mengalihkan pandangan matanya ke langit, menahan diri agar tidak menangis di sana. Mungkin ia tak ingin menangis di depanku, atau mungkin ia lelah menangis. Atau mungkin, ia benci menangis.

“Bagaimana bisa kau bergerak secepat itu? Aku bahkan tak berjalan satu langkah pun dari pintu gerbang Neverland. Tapi kau, kau sudah sangat jauh, Andante.”

Kututup mataku selama beberapa detik, membayangkan analogi pintu gerbang Neverland yang Ten katakan tadi. Kuhitung-hitung lagi, dia benar. Aku sudah melangkah terlalu jauh.

“Bahkan kalau aku menoleh ke belakang, pintu gerbang Neverland itu tak terlihat lagi, Ten,” kataku. “Pada akhirnya, Ten, kita harus melangkah meski apapun terjadi. Kita tidak bisa diam di tempat. Kita harus bergerak maju.”

“Aku mau, tapi tidak bisa. Sulit,” pikir Ten sambil tersenyum.

“Sulit karena kau tak bisa menerima itu semua,” aku berkata tegas. “Kau semestinya mulai menerima kenyataan sejak kita sama-sama memutuskan untuk meninggalkan Neverland itu, kan?”

“Seharusnya aku tak meninggalkan Neverland kita, Andante.”

Sebuah penyesalan yang pernah aku sesali juga, tapi tak aku katakan pada Ten. Bagaimanapun juga, kami membangun Neverland itu bersama-sama. Ia Peter Pan dan aku Wendy. Tentu banyak penyesalan dalam diri kami ketika kami memutuskan untuk pergi dari Neverland itu.

“Apa kau pernah menyesali perpisahan kita?”

Ten akhirnya menghentikan permainan analoginya dan memakai kalimat yang lebih harafiah. Aku sedikit terkejut karena Ten memutuskan berhenti berpura-pura dan berbicara layaknya orang dewasa pada umumnya.

“Pernah,” jujur kujawab. “Tapi, di atas semua itu, aku tak pernah menyesali apapun tentang kita. Kau adalah Peter Pan terbaikku meski aku bukan Wendy yang luar biasa untukmu. Setidaknya kita membangun Neverland kita dengan baik dan meninggalkannya dengan baik-baik juga. Mungkin kita bisa sesekali mengunjunginya kalau ada waktu.”

Aku mengakhiri kalimat itu dengan tawa kecil. Ten pun ikut tertawa mendengar kata-kataku. Ia sepertinya setuju denganku.

“Kau benar,” kata Ten. “Di saat-saat kita berdua seperti ini, aku tidak terlalu menyesali Neverland yang kutinggalkan. Neverland yang lama itu sudah berakhir, dan kita sekarang membangun yang baru lagi. Benar, kan?”

“Tentu saja benar. Itu sangat benar. Jadi, tak ada yang perlu disesali, kan?”

Ten mengangguk kecil, lalu tersenyum dengan sangat manis. Aku sedikit teringat tentang dia dulunya dan Neverland kecil kami yang disebut hubungan kekasih. Tapi, saat hubungan itu berakhir, ada hubungan lain yang tercipta di antara kami berdua. Neverland baru kami adalah persahabatan kami.

Dan Neverland baru ini adalah sebuah rumah yang indah bagi kami berdua.

Peter Pan dan Wendy.

Ten dan aku.

-End-

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Neverland (Vignette)

  1. Yaampun Chitten bisa dibuat semanis ini T_T itu semua berkat ‘ramuan’ kata-kata mu yang rapi dan indah. Entah kenapa saya ikut terhanyut ke dalam cerita dan mau membuat dunia neverland sendiri bersama sang Peter Pan : )

    Thumbs up for ya!

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s