[Chaptered] You Look Yummy (Part 5)

coveryujudkjaeyeon2

“You Look Yummy” by Mingi Kumiko

Main Cast : [NCT] Jaehyun, [DIA] Chaeyeon, [17] DK, [Gfriend] Yuju

Other Cast : [RV] Yeri, [NCT] Taeyong

Genre : School Life, Friendship, Romance

Rating : PG-17

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

Bagai seorang penghipnotis, Jaehyun telah membuat Chaeyeon melemah dalam kungkungannya. Gadis cantik itu tak bisa berkutik seiring larutnya mereka dalam tatapan intens penuh makna tersirat. Chaeyeon benci mendapati saraf-sarafnya yang seakan tak lagi berfungsi dengan baik – dan malah menikmati momen ini bersama Jaehyun.

.

.

Tak ada yang berubah dengan angin di kawasan Jamwon-dong. Embusannya tetap terasa hangat dan nyaman. Dengan beriringan Seokmin dan Yuju melintasi jalanan beraspal itu dengan tungkai yang seirama. Hingga tiba-tiba sepasang bola mata hitam pekat si gadis melihat seorang anak kecil yang sedang sendirian dan wajahnya murung.

“Seok, kita hampiri adik itu, yuk!” Yuju menyenggol lengan Seokmin agar ia mengikuti langkahnya. Tanpa protes si pria pun berjalan di belakang sahabatnya itu.

Annyeong haseyo…” Yuju berjongkok saat menyapa anak itu agar tingginya setara. “Kok, wajahmu sedih begitu?” timpal Seokmin tanpa perlu mengulur waktu seperti apa yang Yuju lakukan.

“Aku tersesat, kak…” jawab anak itu disusul dengan buliran air mata membanjiri pipi. Mulutnya pun terbuka lebar saat menangis.

“Aduh, bagaimana ini? Rumahmu di mana? Ayo aku antar pulang…” Yuju coba mengelus lengan anak itu agar berhenti menangis.

“Sepertinya mustahil, deh, anak usia segitu menghafal alamatnya.” Seokmin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Yuju sibuk membenamkan anak itu ke dalam pelukannya.

“Kau bantu aku berpikir, kek!” desak Yuju.

“Eum, bagaimana kalau kita bawa dia ke pos satpam tiap komplek saja?” Seokmin memberi saran dan langsung ditanggapi dengan anggukan setuju oleh Yuju.

Diangkatlah anak kecil itu ke gendongan Seokmin. Bocah tersebut pun tertawa dan mengekspos gigi depannya yang lucu menyerupai kelinci.

“Namamu siapa?” Yuju memegang kelima ruas jari mungilnya.

“Hong Mi Nam,” jawabnya memperdengarkan suara cempreng yang menggemaskan. “Ya, kau memang tampan seperti namamu.” celetuk si penggendongnya sambil terkekeh kecil.

Ugh, kau lucu sekali!” Yuju mencubiti pipi bulat Minam dengan mata berbinar.

“Yang menggendong enggak kalah lucu, lo!” sahut Seokmin, dan kenarsisannya pun mengundang cubitan dari Yuju pada pinggangnya.

Eomma! Aku sedang menggendongnya, jangan melakukan hal yang bisa membahayakan keselamatan anak kita!” pekik Seokmin yang beruntungnya tak hilang keseimbangan sampai melepaskan rengkuhannya pada Minam.

Mata bulat Yuju terbelalak hebat mendengar ujaran Seokmin. Tahu, sih, sahabatnya itu bercanda. Tapi kalau Seokmin yang bilang, kedengarannya jadi menjijikkan sekali.

Eomma pantatku?!” celetuk Yuju ketus. Seokmin pun hanya menyengir kuda, memamerkan bulan sabit di sepasang pelupuknya.

Mereka pun sampai di Cluster Apel, segera mereka mendatangi pos paling depan. Kebetulan tengah ada security yang berjaga sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa batang rokok.

“Ah, sepertinya aku tahu. Hanya ada satu Keluarga Hong di sini. Dan rupa anak ini sangat mirip dengan istri Tuan Hong.” tandas petugas keamanan saat ditanyai apakah beliau mengetahui identitas Minam atau tidak.

“Wah, sungguh, paman? Kalau begitu… bisa beri tahu kami di mana rumahnya? Kami akan mengantarnya.” Seokmin memasang air muka berbinarnya. Petugas keamanan itu pun memberikan petunjuk pada Yuju dan Seokmin tentang jalan menuju rumah Tuan Hong. Setelah paham, keduanya pun berpamitan pada pria dengan kisaran umur empat puluh tahunan itu.

Mereka sampai pada sebuah rumah berwarna putih dengan pagar besi yang mengkilap. “Rumahnya bagus,” gumam Yuju.

“Minam-a, apakah ini benar rumahmu?” tanya Seokmin dan Minam pun mengangguk riang. Setelah dapat dipastikan bahwa itu adalah rumah yang benar, Yuju pun membuka pagarnya yang kebetulan tidak digembok.

Ditekannya bel rumah itu agar orang yang ada di dalam mengetahui kedatangan mereka. Tanpa perlu menunggu lama pintu pun terbuka. Didapati sesosok wanita berpakaian rapi membukakan pintu. Saat mendapati Minam yang ada di gendongan Seokmin, wajah cemasnya pun seketika berubah terkejut.

“Sayang! Kau ke mana saja? Ibu sudah mencarimu ke seluruh komplek tadi tidak ketemu. Baru saja ibu akan berangkat menjemput ayahmu untuk bersama-sama mencarimu.” Nyonya Hong berseru khawatir. Seokmin pun menurunkan Minam yang ada di gendongannya agar ia dapat memeluk ibunya.

Setelah selesai memeluk Minam dan melepaskan semua kekhawatiran yang ia rasakan sedari tadi, wanita bersurai gelombang itu pun mempersilakan kedua remaja itu untuk memasuki rumahnya dan duduk sebentar.

“Tidak usah, bi… kami bisa langsung pulang.” tolak Seokmin secara halus.

“Ayolah, kalian masuk saja. Kita ngobrol-ngobrol sebentar,” Nyonya Hong meraih tangan Yuju dan langsung membawanya masuk. Seokmin pun akhirnya tak punya pilihan selain ikut masuk dan menemani Yuju.

Nyonya Hong menyuruh mereka duduk di ruang tamu. Beberapa camilan ia suguhkan agar Yuju dan Seokmin tidak kebosanan menunggunya menyiapkan menu utama di meja makan.

“Untung tadi kau melihat Minam… kalau sampai orang jahat yang menemukan dia, kasihan Bibi Hong.” celetuk Seokmin seraya menjumput kentang goreng keju yang tertata di atas piring lonjong. Yuju pun mengibaskan surai panjangnya dengan jumawa sampai ujung rambutnya mengenai pipi Seokmin.

“Rambutmu kering banget, sakit tahu!” ledek Seokmin seraya berpura-pura mengelus pipinya seperti baru saja tertusuk lidi.

“Peduli amat! Yang penting enggak botak,” Yuju berseru tak acuh.

Minam yang sedari tadi tak kelihatan batang hidungnya pun tiba-tiba nongol sambil berlarian di ruang tamu. Ia membawa sebuah benda di tangannya.

“Ini untuk kakak…” Minam menyodorkan sebuah boneka Piglet berukuran kecil pada Yuju. Dengan pupil berbinar Yuju mengambil boneka itu dari tangan Minam.

“Wah, terima kasih…” ucapnya riang.

“Kakak sudah baik, cantik lagi,” celoteh Minam. “Hahaha, bohong! Kakak enggak cantik, tahu…” sanggah Yuju sambil mencubit hidung anak itu dengan gemas.

Ω Ω Ω

Chaeyeon lupa bahwa hari ini akan diadakan pentas seni dan classmeeting untuk merayakan ulang tahun sekolah. Semua kelas pun dikunci dan para siswa disuruh berkumpul di lapangan untuk memeriahkan jalannya acara. Manik obsidiannya terus memindai seluruh penjuru lapangan untuk mencari sosok Jaehyun.

Kemarin malam, untuk pertama kalinya sejak pindah ke SMA Seungri, Chaeyeon mengirimi Jaehyun sebuah pesan singkat. Inti dari pesan itu adalah pertanyaan tentang maksud dari ucapannya kemarin – dan tentunya ia tak lupa menyelipkan embel-embel selamat malamterlebih dahulu. Tapi sayang, hingga terakhir kali ia memeriksa kembali pesan itu – tepatnya tadi pagi di tengah perjalanannya menuju sekolah menggunakan bis – belum ada notifikasi balasan dari Jaehyun.

Kebetulan sekali ia berpapasan dengan Yuju di sebelah timur lapangan. Dan pada saat itu Yuju pun juga tengah sendirian, jadi ia bisa menghampiri teman baiknya itu tanpa perlu merasa canggung.

“Gagal paham, deh, sama acara semacam ini. Tahu begitu, kan, lebih baik dibuat pelajaran saja. Ujian masuk universitas sudah semakin dekat, tahu!” gerutu Yuju saat ia mulai bosan dengan penampilan klub musik di atas panggung.

“Tapi banyak yang kagum sama permainan akustik Giseok, tuh!” Chaeyeon menimpali.

“Aku lebih tertarik dengan pria yang main piano daripada gitar,” ungkap Yuju yang hanya dibalas dengan seulas senyum oleh Chaeyeon.

Chaeyeon dan Yuju larut dalam bungkam setelah penampilan klub musik berakhir. MC pun naik ke atas panggung untuk menyampaikan beberapa sambutan dan embel-embel yang bersifat formalitas.

“Perpustakaannya buka enggak, sih?” celetuk Yuju.

“Kurang tahu, ya? Mau ke sana?” Gadis Jung itu mengendikkan bahu.

“Aku baru ingat kalau Hyesung Ssaem memberi tugas untuk menyusun laporan ilmiah.”

“Kalau begitu kenapa enggak cari bahan di internet saja? Kan, lebih praktis.” Chaeyeon coba memberi saran.

“Itulah masalahnya. Beliau itu aneh sekali, masa tidak boleh menggunakan referensi yang bersumber dari internet.” Yuju menggerutu kesal mengingat tugas yang diberikan guru berperawakan jangkung dengan model rambut gondrong itu terkesan aneh. Sekarang, kan, sudah zaman canggih. Masa memanfaatkan teknologi saja tidak boleh?

“Oh, mungkin pikir beliau, tidak semua artikel di internet itu autentik. Kalau sumbernya dari buku, kan, sudah pasti terpercaya.” jelas Chaeyeon.

“Ya, kita anggap saja hipotesismu itu benar. Mau menemaiku ke perpustakaan, enggak? Atau masih mau menonton pertunjukan?” tawar Yuju.

“Baiklah, ayo ke sana… Aku juga belum pernah mengunjungi perpustakaan sejak sekolah di sini.” tandas Chaeyeon. Mereka berdua pun kemudian meninggalkan lapangan dan segera menuju ruangan yang berada di sebelah tangga menuju aula tersebut.

Nampaknya pergi ke perpustakaan saat semua murid sedang berkumpul di lapangan adalah pilihan yang tepat. Tempat yang sering diasumsikan sebagai gudang ilmu itu sangat lengang dan hanya ada perpustakawan yang berjaga di sana.

“Aku kecewa sekali dengan sekolahmu,” celetuk si perpustakawan saat Yuju sedang membungkukkan badan untuk mengisi daftar pengunjung. Gadis itu pun lantas mendongak dan memiringkan kepala, “Pardon?”

“Kalau tahu bakalan ada event, harusnya aku enggak perlu repot-repot jaga perpustakaan.” gerutu pria tirus itu kesal.

“Sudah, jangan menyesal. Aku datang ke sini bersama temanku supaya oppa tampan satu ini enggak kesepian.” oceh Yuju seraya mengedip-ngedipkan mata dengan genit ke arahnya. Chaeyeon yang melihat kawannya bertingkah centil itu pun langsung terlongo.

“Hahaha, siapa yang mengajarimu menggombal seperti itu?” tanya pria itu tanpa sejemang pun mengendurkan bibirnya yang terbuka lebar dan memamerkan deretan gigi putihnya.

“Sudah, ya, oppa… aku mau mengerjakan makalahku dulu.” Yuju menundukkan kepalanya pada lelaki tersebut. Karena tak tahu harus berbuat apa, Chaeyeon pun mengikuti apa yang sahabatnya itu lakukan.

“Kok sepertinya kau akrab sekali, sih, dengan orang itu? Memanggilnya dengan sebutan oppa, pula.” heran Chaeyeon seraya meletakkan tas di kursi yang tersedia. “Dan… kurasa dia terlalu tampan untuk menjadi perpustakawan. Harusnya dia ikut audisi untuk jadi anggota boygroup.” imbuh Chaeyeon tanpa sempat Yuju menimpali ujaran yang sebelumnya.

“Taeyong oppa itu alumni yang lulus 2 tahun lalu. Dia kerja di sini untuk cari tambahan uang buat masuk perguruan tinggi. Keren, ya?” jelas Yuju.

“Oh, cowok mandiri. Kalau perpustakawannya setampan itu, sih, pasti gadis-gadis akan rajin ke perpustakaan. Omong-omong, kau belum jawab pertanyaanku. Kok, kau memanggilnya oppa?” ternyata Chaeyeon masih menyimpan rasa penasaran.

Geunyang… dulu aku dan dia sama-sama anggota klub ice skating. Karena dia sudah lulus dari sekolah ini, otomatis bukan senior lagi, dong? Jadi kupanggil oppa, deh!” Yuju berujar dengan santai. Dengan begitu Chaeyeon menyimpulkan bahwa pria itu memang berkepribadian hangat dan ramah.

Keduanya pun melangkah ke arah berlawanan, berhubung buku yang ingin mereka baca berbeda. Kebetulan di rak paling depan terdapat koleksi majalah sekolah dari edisi pertama hingga yang paling baru. Otot mata Chaeyeon terpikat pada edisi yang memajang wajah Jung Jae Hyun sebagai sampulnya. Karena kuriositasnya sudah di ambang batas, ia pun segera mengambil majalah itu.

“Kenal lebih dekat dengan si kapten basket karismatik,” Chaeyeon memenggalkan headlinedengan lirih. Gadis itu pun akhirnya membawa buku itu ke meja untuk segera dibaca.

Baru saja ia menempelkan bokongnya di kursi kayu, derap langkah Yuju semakin dekat dan membuatnya terinterupsi. “Bagaimana, sudah ketemu bukunya?” tanya Chaeyeon.

“Terlalu banyak referensi membuatku jadi bingung memilih bahan pembahasan.” rutuk Yuju seraya menarik kasar kursi untuk ia duduki. Gadis Choi itu pun menyedekapkan kedua tangannya di atas meja seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Chaeyeon, merasa penasaran dengan apa yang akan dibaca sahabatnya itu.

“Aku butuh lebih banyak pengetahuan tentang sekolah ini,” celetuk Chaeyeon sambil membalik halaman demi halaman.

Akhirnya ia sampai pada pertengahan majalah yang memuat profil dan hasil wawancara bersama Jaehyun. “Artikel ini booming sekali dan masih mengandung misteri, lo!” celetuk Yuju yang membuat Chaeyeon sontak memutar kepala ke arahnya.

“Kok bisa?” Gadis Jung itu bersenggut heran.

“Nih, dia bilang anggota tubuh yang paling berharga untuknya adalah tangan.” Yuju menunjuk kalimat yang ia maksud. “Terus, dia secara terang-terangan mengaku tidak suka kalau ada gadis yang sembarangan memegang tangannya.” imbuhnya lagi yang hanya disusul oleh anggukan-seakan-ia-telah-paham oleh Chaeyeon.

“Tapi wajar, sih, kalau Yunoh merasa risih dipegang-pegang. Semuanya pasti juga begitu.” Gadis Jung itu berucap asal agar keheningan tak terus-terusan menyelimuti mereka.

“Kau enggak membacanya dengan saksama, ya, Chae?” tukas Yuju.

“Memangnya kenapa? Sebenarnya ada yang aneh, sih… Tapi bukan Yunoh, melainkan pertanyaan dari wartawannya.” heran Chaeyeon.

“Yang mana, sih?” Yuju pun melongokkan kepalanya untuk mengetahui apa yang dimaksud temannya itu. Jari telunjuk Chaeyeon terarah pada tulisan yang tepat berada di kanan bawah judul. “Suka-suka dia, dong, mau mencantumkan apa saja di bio SNS-nya.”

Agaknya Chaeyeon kurang peka dengan keisengan para gadis yang tak pernah ingin ketinggalan fakta tentang Jaehyun barang seremeh apapun itu. Mereka gencar mencari tahu apa arti ‘23422132093326362’ yang terpampang sejak awal Jaehyun membuat SNS. Kalau pendapat Chaeyeon, sih, Jaehyun cuma iseng menuliskannya, daripada membiarkan kolom bio kosong melompong dan tidak simetris.

“Mohon perhatian, siswa bernama Jung Chae Yeon dari kelas 3 – 2, diharapkan segera menuju lapangan sekarang juga karena lomba akan segera dimulai, terima kasih.” sebuah suara menguar dari load speaker perpustakaan. Si empunya nama lantas berjengit, pupilnya membulat hebat.

“Lo, kau ikut lomba apa?” Yuju menoleh ke arah Chaeyeon dengan raut heran. Sahabatnya itu pun refleks menggeleng dengan bibir mengerucut.

“Ya sudah, ayo buru-buru ke sana!” Gadis Choi itu menarik tangan Chaeyeon untuk segera menuju lapangan.

Oppa, kami titip tas, ya? Nanti buku di meja biar kami yang bereskan,” pamitnya pada penjaga perpustakaan, sedangkan Chaeyeon hanya menatap pria itu sekilas sambil membungkukkan badan sebentar pada Taeyong.

Mereka pun akhirnya sampai. Masih dengan raut bingung dan tak tahu alasan mengapa tiba-tiba nama Chaeyeon dipanggil oleh panitia melalui load speaker ruangan. Kapan aku daftar? Memangnya bakat apa yang aku punya sampai tiba-tiba ikut lomba?

“Chaeyeon-a!” terdengar suara seseorang menyapa rungu si empunya nama. Dengan cepat kepalanya pun berputar untuk menoleh ke arah pemilik suara. Ternyata yang barusan bicara adalah Eunha, dan ada Yoobin juga ada di sebelahnya. Mereka berdua pun menghampiri Chaeyeon dan Yuju.

“Gawat! Myungjin dan Harim secara sepihak menuliskan namamu di daftar peserta Ajang Kreasi. Padahal anak-anak sudah mencegahnya sebelum mendapat persetujuanmu dulu. Tapi diam-diam mereka mendatangi panitia dan mendaftarkanmu untuk ikut.” jelas Yoobin disusul anggukan dengan raut cemas oleh Eunha.

Myungjin dan Harim adalah murid yang tempo hari mem-bully Chaeyeon bersama Jiho dan Sena. Tanpa bertanya alasan mengapa mereka melakukan itu, Chaeyeon pun sudah langsung paham. Pasti mereka ingin mempermalukannya di depan umum. Terang saja, gadis itu belum sama sekali melakukan persiapan. Jadi, bagaimana mungkin ia bisa tiba-tiba tampil di atas panggung? Sendirian pula!

“Soalnya tadi panitia bilang kalau kami enggak mengirimkan perwakilan, nanti kelas bisa kena denda.” ujar Eunha.

“Tapi kenapa kalian hanya membiarkan mereka menuliskan nama Chaeyeon? Seharusnya ada beberapa anak lain yang tampil!” Yuju tidak terima karena sahabatnya itu diperlakukan seenak jidat oleh preman kelas mereka.

“Anak-anak enggak ada yang mau terlibat. Katanya mereka malu.” Eunha berujar lirih sambil menunduk, ia merasa tak enak hati pada Chaeyeon karena tidak bisa membantu apa-apa.

Tiba-tiba Jiho datang di sela ketegangan yang tengah terjadi antara Yuju dan teman sekelas Chaeyeon.

“Maafkan aku karena tidak bisa mencegah mereka. Begini saja, karena ini tidak adil, kau tidak usah tampil. Teman-teman pasti mau patungan untuk membayar denda, kok! Terus, kalau kau sampai diapa-apakan oleh Myungjin dan Harim, biar aku yang hadapi mereka.” ujarnya mantap. Yuju pun langsung menarik otot matanya dan menyoroti Jiho dengan tajam.

“Aku pegang, ya, kata-katamu. Awas kalau kau sampai membiarkan Chaeyeon disiksa oleh mereka lagi!” hardiknya penuh penekanan di tiap katanya. Jiho pun mengangguk yakin, meminta Yuju untuk percaya padanya.

Chaeyeon yang sedari tadi menunduk dan berkutat dengan kebimbangan di dalam benaknya pun perlahan menengadah. “Enggak apa-apa, deh… Aku perform saja. Meskipun tidak terlalu baik dalam hal menyanyi aku akan tetap melakukannya. Kan, kasihan kalau teman-teman harus mengeluarkan uang lagi untuk biaya denda.”

Mata lebar keempat gadis yang mendengar penuturan Chaeyeon seketika langsung terbelalak. “Tapi tidak banyak waktu yang tersisa untuk melakukan persiapan, Chae…” cemas Yuju.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Yu…, sesekali bertindak gila di masa SMA bukan hal yang buruk, kok, hehehe.” Chaeyeon coba menenangkan Yuju yang masih merasa khawatir.

“Benar! Bagaimana kalau kita berempat juga maju? Kita menyanyi di atas panggung. Anggap saja sedang karaoke!” seru Eunha riang. Iya pun menarik tangan Yoobin dan Jiho agar setuju dengan usulannya.

“Kalau itu, sih, namanya enggak tahu malu!” Jiho mencibir.

“Ayolah, Jiho… ini ide yang bagus, percayalah!” bujuk Yoobin yang langsung setuju dengan ide Eunha.

“Syukurlah…” Yuju merasa lega. Ditatapnya wajah Chaeyeon yang tengah mengembangkan senyum merekah. Tangan gadis jangkung itu pun terkepal di samping pipinya untuk memberi semangat pada Chaeyeon.

Setelah bersusah payah membujuk Jiho dengan berbagai jenis aegyo, akhirnya gadis bersurai ikal itu pun mengangguk pasrah. Segera keempat gadis dari kelas 3 – 2 itu berbaris di samping panggung untuk menunggu penampilan dari kelas 3 – 1 selesai.

“Sekarang, marilah kita sambut penampilan dari kelas 3 – 2!!!” seru pembawa acara dan langsung disambut degan riuhan tepuk tangan penonton. Keempat gadis itu mengambilmicrophone mereka dan musik yang telah dikoordinasikan dengan soundman pun diputar. Beruntung internet dapat dengan mudah diakses, jadi mereka tak perlu kesulitan mencari instrumental yang cocok untuk mengiringi penampilan mereka.

Geotgarakjil jalhaeyaman babeul meoknayo

Jal mothaedo satulreodo bab jal meogeoyo

Geurana juui saram naega bab meogeul ttae

Hanmadissik hajyo, neo bab sange bulma itnya

Meskipun perasaan malu dengan amat tebal menyelimuti benak Chaeyeon – dan mungkin ketiga temannya itu juga merasakan hal yang sama – namun gadis berkulit putih itu tetap ikut larut dengan atmosfir heboh yang ketiga temannya tunjukkan. Ia melonjak-lonjak dan membuat gestur agar penonton ikut menyanyi bersama mereka.

Yeopjib ajeossiwa babeul meogeotji

Geuajeossi nae jeotkirakjil bogo mwora geurae

Hajiman nan ige joha pinhae babman jal meokji

Naneun nayeyo sanggwa marayo

Terdengar suara berat khas anak laki-laki yang menyanyikan bagian rapp menggema melaluispeaker super besar. Para gadis pun terbelalak hebat mendapati sosok Jung Jae Hyun yang sudah ada di atas panggung bersama dengan mereka. Seketika penonton dari kalangan penggemarnya pun berteriak histeris.

Sangat mengejutkan saat tahu lelaki yang biasa menunjukkan sikap dingin itu tiba-tiba mau ikut gila di atas panggung bersama Chaeyeon, Jiho, Yoobin, dan Eunha.

Jeongbaji ipgoseo hwasae gado

Kkalkkumhagiman hamyeon gwaenchaneun tende

Yeoreum kypboki banbajiramyeon

Kkalkkeumhago sawonhae gwaenchaneul tende

Suara lembut para gadis itu pun akhirnya berpadu dengan suara lantang milik Jaehyun hingga membuat harmonisasinya lebih berwarna. Secara mengejutkan, beberapa anak laki-laki dari kelas mereka akhirnya turut serta ke panggung dan menggebrak suasana.

Saramdereul nun euisikhaji marayo

Jeulgimyeonseo saragal suisseoyo

Nae gaeseonge saneun i sesangieyo

Jasimeul mandeureo bwayo

Mingyu tanpa malu melakukan freestyle dance di hadapan para penonton, disusul dengan aksi gila Hocheol menggoyang-goyangkan bokongnya seperti anggota girlgroup yang sedangcomeback musim ini. Sedangkan anak laki-laki di belakang yang tak punya cukup keberanian untuk terlihat sinting pun menyanyikan lagu sambil loncat-loncat dan bertepuk tangan.

Chumeul chumgo sipeul ttaeneun chumeul jwoyo

Harabeoji halmeonido chumeul jwoyo

Keukkat nai museun sanggwaieyo

Dagati chumeul jwobwayo ireohke

Kerusuhan yang diciptakan kelas 3 – 2 pun akhirnya selesai. Semua yang berdiri di panggung membungkukkan badan bersama-sama sebelum berhamburan turun.

Kyaaa, tadi kita keren dan kompak sekali!” seru Eunha bersemangat. “Kau benar-benar lucu, Hocheolie!” puji Yoobin pada si tukang ngebor itu.

“Teman-teman, terima kasih, ya karena sudah mau tampil beramai-ramai…” ucap Jiho.

“Aslinya kami enggan, tapi melihat Jaehyun tiba-tiba maju, kami jadi ingin ikutan, deh.” balas Junhoe.

Di saat temannya sedang asyik bergaduh membahas penampilan mereka barusan, Chaeyeon pun tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menyenggol lengan Eunha pelan dan membuat gadis bangir itu menoleh. “Aku pergi dulu,” pamit Chaeyeon, Eunha pun mengangguk singkat.

Tadi ia sempat melihat Jaehyun berjalan ke arah yang berlawanan dengan teman-temannya setelah selesai tampil. Dasar anak itu, kenapa suka sekali, sih, menyepi dari keramaian?Chaeyeon menggerutu dalam batinnya. Ia melangkahkan kaki lebar-lebar untuk mencari keberadaan Jaehyun. Kali ini ia tak akan menunda niatnya untuk menanyakan apa maksud dari perkataan sahabat masa kecilnya itu kemarin siang.

Di sisi lain…

Jaehyun menepuk-nepuk almamater warna coklat yang membalut tubuhnya dengan kasar. Ia kesal sekali karena beberapa gadis sempat coba menyentuhnya setelah aksi nge-rapp dadakan yang ia lakukan di atas panggung barusan. Untung saja dirinya bisa segera lolos dari kerumunan para maniak itu. Katakan saja Jung Jae Hyun itu jahat karena sudah menganggap gadis-gadis itu seperti kuman. Tapi namanya juga risih, mau bagaimana lagi?

Oppa-ya!” Gadis mungil itu memanggil Jaehyun dengan nada manja seperti biasa. Pria yang kini tangannya telah digelayuti itu pun terperanjat kaget karena dia datang secara tiba-tiba tanpa Jaehyun rasakan gerak-geriknya terlebih dahulu. Padahal dia sudah merasa berpijak di tempat paling aman dari jangkauan siapapun.

Jinjja, kau keren sekali tadi. Kyaaa, membuatku semakin kagum padamu!” pekiknya tertahan dengan air muka berseri.

Secara tak terduga Jaehyun menumpukan kelima ruas jarinya ke pundak kurus Yeri, membuat gadis brunette itu terpaksa mengendurkan rengkuhannya. Bola mata hitam pekatnya menatap gadis itu dengan raut suram. Senyum cerah yang biasa ia pamerkan pada Yeri bagai terlipat. Gadis itu seakan mendapat sengatan listrik setelah ditatap seperti itu.

“Kumohon berhenti mulai sekarang. Memangnya kau tidak lelah terus-terusan diganggu oleh penggemarku?” tukas Jaehyun tanpa segaris pun ekspresi yang tersirat di rautnya. Dengan kepala mendongak, ia pun berujar, “Aku tidak peduli! Aku ingin jadi penggemar nomor 1 oppa, aku akan membuat oppa terkesan padaku.” tandasnya menggebu-gebu.

“Tapi aku tidak pernah memintanya,”

Sejurus kemudian linangan kristal bening pun tak sanggup dibendung agar tak mengucur deras membanjiri pipi Yeri. Gadis itu tak percaya Jaehyun yang selalu ia sanjung akan bicara sekejam itu padanya.

“Apa oppa tak pernah melihat usahaku selama ini?” rintihnya, namun sekeras apapun upaya Yeri membuat suaranya terkesan begitu tersiksa, Jaehyun tetap tak sejemang pun membuat pergerakan untuk menatapnya.

“Maaf, ada orang lain yang sedang aku tunggu.” tegas Jaehyun. Ditatapnya sosok yang tengah bersedih itu dengan raut sendu. Ia merasa amat bersalah saat tangisan Yeri semakin menjadi. Namun bila tidak ditegasi, ia tak tahu harus sampai kapan menyembunyikan kerisihannya terus dibuntuti oleh gadis itu.

“Tapi kenapa kau malah membiarkan aku terus menempel padamu, huh?!”

“Karena kupikir kau akan mundur dengan sendirinya.”

Yeri tak lagi sanggup mendengar penuturan Jaehyun apabila pertanyaan yang ia ajukan selesai terlontar. Dengan Air Terjun Niagara yang masih betah melinang di pipi, Yeri pun berbalik dan memutuskan enyah dari pandangan Jaehyun. Pria yang mengantungi kedua tangan ke dalam saku itu bergeming. Ia sadar bahwa perkataannya sudah keterlaluan. Dan sejujurnya permintaan agar Yeri tak lagi mendekatinya itu sama sekali tidak ia rencanakan sebelumnya. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Setidaknya ia sudah bisa bernapas lega karena Yeri tidak akan lagi mendapat perlakuan usil dari para maniaknya.

Napas gadis yang sedari tadi sembunyi di balik tembok itu tercekat hebat. Harusnya ia menuruti hati kecilnya untuk tutup telinga dan tidak lancang menguping. Namun karena kuriositasnya sudah tak terbendung, jadi ia membuka lebar-lebar telinganya agar konversasi antara pria yang ingin sekali ia temui dengan penggemarnya itu dapat dengan jelas ia dengar.

Legakah dirinya setelah mengetahui bahwa di antara keduanya tak memiliki keterikatan khusus? Tapi sejujurnya, Chaeyeon tak tahu harus merasa senang atau biasa saja. Karena sejak kedatangannya ke sekolah ini, sahabat masa kecilnya itu tak pernah memberikan sambutan yang baik. Hal itu membuat Chaeyeon telah terbiasa memendam sakit hati karena dicampakkan oleh Jaehyun.

Namun bukan berarti gadis itu hendak serta-merta berlagak tak peduli pada Jaehyun. Baginya Pemuda Jung itu tetap sahabatnya, meskipun saat ini serasa ada sekat kokoh yang jadi penghalang mereka untuk saling berinteraksi. Dan menurut Chaeyeon, pria itulah yang terlebih dahulu menciptakan atmosfir canggung antara mereka berdua hingga tak sedekat dulu lagi. Chaeyeon tak bisa apa-apa selain mengikuti arus.

Kalau ia memutuskan pergi, maka iktikat meminta penjelasan akan gagal untuk kedua kalinya. Chaeyeon tidak ingin itu terjadi. Rasa penasaran sudah gencar menghantuinya sejak malam kemarin. Tapi kalau situasinya begini, mana bisa Chaeyeon menghadap Jaehyun sekarang? Tidak lucu, kan, kalau tiba-tiba dia nongol dari tempat persembunyiannya dan tertangkap basah kalau sudah menguping?

Every day I just can’t control

Every night the loneliness my love

Ponsel yang Chaeyeon kantungi di saku almamater mendadak berbunyi dengan amat nyaring. Seketika kepanikan merundungnya, kenapa harus ada telepon saat aku sedang sembunyi, sih?Geramnya seraya menggigiti bagian bawah bibir – kebiasaannya saat merasa gugup.

Chaeyeon pun berinisiatif melangkahkan tungkainya untuk beranjak dari tempat persembunyian. Namun belum sampat ia mampu mengangkat kaki, sebuah cengkeraman erat di lengan menghalaunya pergi. Dengan raut panik Chaeyeon memutar kepalanya untuk melihat siapa si pencegah itu. Dan matanya pun langsung melotot kala mendapati sosok Jaehyun sudah ada di hadapannya.

“Yun, a, aku… enggak nguping pembicaraanmu, dengan Yeri, kok…” bibir Chaeyeon bergetar saat ia memenggalkan kalimat. Bagaimana tidak bergetar, lelaki di hadapannya itu sudah menyodorinya sorotan tajam hingga membuatnya ketakutan. Dan bodohnya dia malah menyebut nama Yeri. Yang ada malah semakin terbukti kalau Chaeyeon barusan menguping.

“Ponselmu bunyi terus, tuh… Kenapa enggak diangkat dan malah berusaha lari?” Jaehyun akhirnya buka suara. “Eh, eum… biarkan saja,” Chaeyeon perlahan menelungkupkan wajahnya. Tak sanggup lama-lama menatap pupil bulat milik Jaehyun. Dan tak lama setelah itu ponsel Chaeyeon pun berhenti berbunyi.

“Aku mau tanya soal yang kemarin…” sambil tetap menunduk, Chaeyeon pun berceletuk ragu. Tak ia indahkan pikiran Jaehyun tentang dirinya yang sudah lancang mendengarkan pembicaraan seriusnya dengan Yeri – kalau memang benar pemuda itu berpikir demikian. Masih dengan tangan yang mencengkeram lengan gadis di hadapannya itu dengan sangat erat, dan sekarang tangannya yang satu lagi malah menggeladik ke area pundak Chaeyeon.

“Tentang apa?” Jaehyun menyeringai, ia dorong pundak gadis itu hingga punggungnya menyentuh dinding. Merasa ada yang tidak beres, Chaeyeon pun langsung mendongakkan kepalanya, menyoroti Jaehyun guna meminta klarifikasi.

Jantungnya berdegup kencang sekali tatkala sepasang maniknya harus kembali bersirobok dengan milik pria itu. Untuk pertama kalinya Chaeyeon benar-benar dihadapkan oleh sisi lain seorang Jaehyun. Ternyata bocah polos yang memiliki kulit yang tak kalah bening dengan miliknya itu telah tumbuh menjadi pribadi yang sangat sulit ditebak.

“Kenapa aku harus menjawabnya?” celetuknya lagi, dan kini wajah yang sudah lumayan dekat satu sama lain itu pun jadi semakin terkikis jaraknya karena Jaehyun terus memajukan wajahnya. Chaeyeon mengutuk penyelenggara classmeet dan pentas seni yang membuat jalanan koridor menjadi lengang. Gara-gara situasi ini, Jaehyun jadi punya kesempatan bertindak macam-macam padanya.

Bagai seorang penghipnotis, Jaehyun telah membuat Chaeyeon melemah dalam kungkungannya. Gadis cantik itu tak bisa berkutik seiring larutnya mereka dalam tatapan intens penuh makna tersirat. Chaeyeon benci mendapati saraf-sarafnya yang seakan tak lagi berfungsi dengan baik – dan malah menikmati momen ini bersama Jaehyun.

“Bisa kau jelaskan apa arti diriku dalam hidupmu?” embusan suara Jaehyun terdengar amat lirih menyapa telinga Chaeyeon. Seperti pemuda itu ingin membuat konversasi mereka yang akan berlangsung sebentar lagi penuh dengan kesan manis dan intim.

Gadis Jung itu tak bersuara, bibirnya terkatup dan bergeming. Apa arti Jaehyun dalam hidupnya? Seumur-umur pikiran semacam itu tak pernah terbesit dalam serebralnya. “Tidak tahu,” tandasnya singkat. Jaehyun kembali menyeringai mendengar ucapan Chaeyeon.

“Cih, sudah kuduga kalau aku memang tak ada artinya untukmu.” Jaehyun memukul dinding yang gadis itu gunakan untuk bersandar sambil mengerang frustasi. Ia salurkan seluruh rasa kesalnya yang telah mendidih.

Rahang si gadis pun mengeras, otot matanya perlahan ia tarik ke bawah.

“Kenapa kau harus repot-repot memikirkan hal semacam itu?” tanyanya dengan wajah tertunduk. Beberapa jenak kemudian, ia rasakan sesuatu yang hangat meraba pipi ranumnya. Wajah itu pun kembali dibuat menengadah dan saling berhadapan dengan pria di hadapannya.

Chaeyeon tak menghindar saat wajah Jaehyun semakin mendekat dan pria itu mulai memejamkan mata. Seketika sebuah sentuhan lembut mendarat di bibir mungilnya. Dapat ia rasakan bibir Jaehyun yang membuat sela bibirnya jadi terdorong. Gadis itu tak membalas, namun tak juga mengendurkan wajahnya agar Jaehyun berhenti.

Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya terlepas setelah Jaehyun menyadari pasokan udara yang semakin berkurang di dalam alveolusnya.

“Aku selalu menunggumu kembali, dan aku senang karena kita bisa bertemu lagi.” 

To Be Continued

Sumpah ini panjang sekali, aslinya mau aku bikin 2 part tapi enggak tahu harus misahnya di bagian mana. Terima kasih untuk yang sudah mau membaca sampai sini. Jangan lupa tinggalkan review ya ^^ Sampai jumpa di chapter selanjutnya ~

 

Advertisements

19 thoughts on “[Chaptered] You Look Yummy (Part 5)

  1. “Chaeyeon lupa bahwa hari ini akan diadakan pentas seni dan classmeeting untuk merayakan ulang tahun sekolah. Semua kelas pun dikunci dan para siswa disuruh berkumpul di lapangan untuk memeriahkan jalannya acara” kupikir sekolahku doang yang begini wkwkwk..

    Hasemeleh hasemelehhhhhh lelllllllllll ending nya lelll!! Mas jae ngucap mas, sekolah itu mas koridor pula kan gak lucu kalau ketangkap basah terus dikawini :”)

    Liked by 1 person

  2. GEMASH SAMA DK YUJU DAN ‘ANAKNYA’ MASA? Udah kawinin aja mereka berdua lah (?) Wkwkwk.

    Mana ada pustakawan (?) Taeyong lagi. Haduh Mas yang satu ini ternyata cocok ya jadi peran kalem :))

    Kyaaaa~ akhirnya… Jung Couple… Bikin dag dig dug.

    Like

  3. Tuh kaaaannn…. Jadi mereka sama2 punya rasa??
    Jaehyun pake acara kisseu segala lagi😳😳
    Yeaaaahh!! Jadi orang dimaksud jaehyun tunggu itu chaeyeon? Waw😍
    Tapi masih perlu kejelasan ini aku😬
    Btw, gk panjang kok. Malah berharap sepanjang ini tiap part nya

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s