[Ficlet] Someday in the Morning, Someday at the Rooftop

IMG_6555[1]

Angelina Triaf ©2016 Present

Someday in the Morning, Someday at the Rooftop

Lee Taeyong (NCT) & Ji Haseul (OC) | Fluff, Comfort | G | Ficlet

“Ketika pembicaraan dari hati ke hati jauh lebih menarik dari apa yang pernah kau bayangkan sebelumnya.”

0o0

Ketika semilir angin yang menggoda tak mampu membuat atensinya akan orang itu lenyap, Haseul sudah tahu bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya. Hanya berbekal sepasang hazel yang terus menatap, juga bibir merah ranumnya yang tanpa sadar membentuk sebuah lengkungan senyum.

Kedua kakinya yang menggantung dimainkannya dalam sebuah tempo yang konstan, di kepalanya terbayang sebuah lantunan lagu favorit dari salah satu penyanyi kesukaannya. Seperti sebuah kenyataan, ataukah memang semua orang akan menjadi seperti Haseul jika berhadapan dengan orang itu?

“Kak.”

Butuh konsentrasi penuh bagi orang di sampingnya untuk menyambut panggilan itu, karena memang sedari tadi ia pun bingung mengapa Haseul hanya terdiam saja tanpa mengatakan apa pun.

“Kukira kucing tetangga telah mengambil lidahmu.” Ia tersenyum, beberapa detik yang lebih dari cukup untuk membuat Haseul merasa menghilang dari kenyataan.

Tapi ia cukup baik dalam mengontrol dirinya sendiri. “Kak Taeyong terlalu sering menonton film animasi.”

“Memang.”

Kini bukan hanya sebuah tawa, karena mereka membuat atmosfer yang sebelumnya dipenuhi kecanggungan menjadi sangat santai secara alamiah. Entah bagaimana, Haseul seharusnya bersikap biasa saja sedari tadi, bukannya menjadi seperti anak gadis yang baru saja mengalami cinta pada pandangan pertama.

Atau memang begitu adanya?

“Biasanya gadis lain akan mengajakku kencan di kafe atau taman. Kenapa kau senang sekali mengajakku duduk diam di atap rumahku?”

“Hei, siapa yang sedang mengajakmu kencan?”

“Tentu saja dirimu, Ji Haseul.”

Tampang menyebalkan Taeyong, disusul dengan senyuman yang tak kalah menyebalkannya sukses membuat tubuh Haseul merespons dengan semburat merah di kedua pipinya. Sangat manis, benar-benar seperti anak gadis yang baru merasakan indahnya cinta pertama di masa muda.

Tak ada alasan khusus, sebenarnya. Haseul hanya sudah terlanjur nyaman menjalani hidup seperti ini; memiliki tetangga yang nyatanya adalah teman baik sang kakak. Menjadi akrab layaknya saudara. Atap rumah Taeyong ini memiliki magisnya tersendiri, membuat Haseul selalu merasa nyaman bahkan hanya dengan duduk diam menatap langit biru di pagi hari.

“Kak Taeyong.”

Kali ini Taeyong benar-benar menghadapkan tubuhnya pada Haseul, mencubit pipinya karena gemas. “Iya, Haseul, ada apa?”

“Ih, sakit!”

“Salahmu sendiri.”

Beberapa menit penuh umpatan dari Haseul juga tawa kemenangan milik Taeyong kembali hilang tak berbekas. Hanya ada sinar mentari yang masih setia menemani. Dilihat dari perspektif ini Taeyong akan menjadi seorang super model tampan yang pastinya berpotensi membuat setiap gadis di sekitarnya akan langsung memuja nama Tuhan.

Tidak berlebihan, memang begitulah adanya.

“Kak.”

Baru saja Taeyong akan kembali menyerang Haseul dengan tindak kekerasan lainnya―Haseul menganggap jika mencubit pipi adalah salah satu bentuk tindak kekerasan―ekspresi wajahnya berubah ketika melihat Haseul yang memancarkan sedikit aura yang berbeda. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang ingin berkata tentang sebuah kejujuran.

Maka Taeyong akhirnya hanya terdiam, menaruh fokus penuh pada gadis yang kini berada di hadapannya.

“Kenapa kau menganggap aku sebagai adikmu?”

Satu lagi pertanyaan standar yang sudah sering Taeyong dengar terucap dari mulut Haseul. “Karena kau memang adikku. Bang Hansol bisa membunuhku kalau aku tidak menjagamu barang sedetik saja.”

“Seperti itukah?”

“Iya.”

“Lalu bagaimana dengan kekasihmu?”

Kini Haseul menaruh dagunya di kedua tangan yang menopang pada kedua lutut, menunggu jawaban Taeyong.

Yang sebenarnya juga ia anggap sebagai sebuah pertanyaan standar. “Kekasihku baik-baik saja.”

“Tidak cemburu?”

“Akan kucubit pipinya kalau dia cemburu padamu.”

Selalu mendapatkan jawaban yang sama terkadang membuat Haseul lelah sendiri. Tapi entah mengapa ia selalu bisa tersenyum lega setelahnya. Karena ia rasa Taeyong ada benarnya juga, lebih baik menjalani segalanya yang seperti sekarang.

“Lagipula Cheonsa bilang jika sepertinya Jaehyun menyukaimu.”

“Ya Tuhan, siapapun asal jangan Kak Jaehyun…”

“Mungkin kita bisa double date nantinya? Atau triple with Bang Hansol dan Jooeun?”

“Kak Taeyong!”

Ketika pembicaraan dari hati ke hati jauh lebih menarik dari apa yang pernah kau bayangkan sebelumnya, itu berarti bahwa zona dalam dirimu telah terbuka sepenuhnya, tak lagi mementingkan sebuah ruang nyaman yang akan membuatmu tak dapat meninggalkannya.

Seperti Haseul, ternyata ia telah beranjak dewasa jauh lebih cepat dari yang pernah Taeyong bayangkan sebelumnya.

FIN

  • Kyaaaaaaaaa Haseul /peluk Haseul/ /peluk Kaay/
Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s