[Oneshot] Cold Hands

Cold Hands

Cold Hands

.

presented by D.O.ssy

Cast Mark Lee (NCT), Karin Park (OC) | Genre Romance, Alternate Universe, Fantasy, Mistery | Length Oneshot | Rating PG-15

Poster by ladyoong @ Poster Channel

.

Tangannya selalu dingin. Namun tatapannya tak pernah dingin.

.

Halo. Namaku Karin Park, aku berdarah Korea, tapi lahir dan dibesarkan di Jepang. Selepas Papaku meninggal sebelas tahun yang lalu, Mama membawaku pindah. Ke Cina, Perancis, Russia dan Amerika. Aku tidak pernah tinggal di satu negara lebih dari tiga tahun, dan itu membuatku jengah. Bayangkan saja, tiap kali pindah aku harus mengulangi segalanya dari awal. Mempelajari bahasa, kebudayaan dan gaya hidup orang-orang sekitar. Melelahkan. Dan otakku tidak secerdas itu untuk dapat beradaptasi dengan cepat.

Aku tak pernah paham mengapa Mama memiliki kebiasaan berpindah-pindah rumah seperti ini. Aku tidak sanggup jika mesti terus mengikutinya kemanapun. Jadi kuharap Amerika menjadi tempat persinggahan terakhirku, karena … di sinilah pertama kalinya aku memiliki teman. Ehm, sebenarnya lebih dari teman. Kau tahu … emmm, bagaimana menyebutnya ya? Kekasih? Ya, kurang lebih begitu.

Aku menginjak tahun keduaku di Burlington, Vermont, tatkala ia datang ke sekolahku enam bulan yang lalu. Namanya Mark Lee. Ia pindahan dari Korea. Aku tak tahu apa yang melatarbelakanginya untuk menetap di negara adidaya, sebab setahuku ia tinggal sendirian. Tanpa orang tua, tanpa sanak saudara. Kalau memang benar ia kemari adalah untuk mengejar mimpinya menjadi pemain basket, semestinya ia memilih untuk mendaftar ke sekolah khusus atlet, bukan sekolah umum begini. Entahlah … ia tak pernah mau menceritakannya.

Bagaimana kami jadian? Aku sendiri tak percaya. Jangankan mendapatkan pacar, mempunyai teman atau sahabat saja aku tak yakin bisa. Tapi … Mark Lee. Ah, macam mana aku menjelaskannya. Ia terang-terangan sekali memperhatikanku semenjak kali pertama mata kami bertemu. Love at the first sight? Ayolah, ini tahun 2016. Masa iya dia terserang sindrom sejuta umat itu?

Mark sangat misterius, pendiam, anti-sosial. Akan tetapi … ia selalu berada di sampingku dimanapun, kapanpun. Meski amat dingin dan tertutup, namun terkadang ia bisa jadi sangat blak-blakan. Sebulan semenjak kepindahannya, ia memintaku menjadi kekasihnya ketika kami sedang menikmati hidangan pasta di kafe pinggiran kota pada suatu malam musim gugur yang sejuk. Situasi saat itu seharusnya sangat romantis. Namun, justru sebaliknya, terbilang amat kaku, sebab Mark memang orang yang seperti itu. Awalnya aku ragu. Kami baru saling mengenal satu sama lain belum lama. Bisa saja ia adalah penipu, bisa saja ia adalah playboy yang senang mendekati gadis yang lugu. Tapi, untuk pertama kalinya, kusaksikan Mark tersenyum sembari menggenggam tanganku di atas meja waktu kukatakan, “ya.”

Tangannya dingin. Namun tatapannya tak pernah dingin, kendati tidak dapat kubaca arti sorotan dwi-maniknya. Aku tak peduli, aku menyukai Mark. Dan kurasa, ia pun begitu.

Kini, kami telah berpacaran selama kurang lebih lima bulan. Mark menjadi siswa populer se-antero sekolah. Ia sungguh atraktif. Selain wajahnya yang tampan, ia juga cerdas. Nilai-nilai semua pelajarannya sempurna, ia jago olahraga, pandai bermusik, bahkan ahli di kelas memasak. Mark mampu melakukan apapun dengan mudah. Murid-murid perempuan sering memanggilnya ‘Mr. Perfect’.

Sekarang Mark memiliki puluhan penggemar. Namun untungnya, ia tak pernah menunjukkan ketertarikan pada gadis lain―tak sekalipun melirik—selain padaku seorang. Ia selalu membuatku tersenyum bahkan tertawa terpingkal-pingkal oleh perkataan inosennya. Kami biasa berbicara menggunakan bahasa Korea dan aku amat menikmatinya. Aku bahagia bersamanya. Sangat.

Sore ini, bangku penonton di lapangan basket penuh sesak oleh gadis-gadis yang meneriakkan namanya. Aku salah satunya. Dan lihatlah kelakuan pacarku tersayang itu, ia sengaja memanas-manasi lusinan pengagumnya dengan berjalan mendekatiku selepas babak ketiga. Aku melemparkannya handuk, tapi ia memaksaku mengelapkan keringatnya.

“Aku terlalu lelah bahkan untuk mengangkat handuk itu, Rin. Jadi bisakah kau membantuku sedikit?” Ia merajuk dengan gaya sok cool-nya.

“Hei, Lee Minhyung. Berhenti bersikap kekanak-kanakkan. Aku tidak ingin mencari masalah dengan para penggemarmu. Bisa-bisa mereka semua membunuhku.”

“Sudah kubilang, jangan panggil nama Koreaku, Park Rinrin!” Ia meneguk air mineral yang kusodorkan. “Tenang saja, aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu.”

Aku terkekeh. Ia selalu berucap tanpa ekspresi. Tapi aku sering dibuat senyum-senyum sendiri. “Tentu. Aku ‘kan kekasih yang paling kau cintai,” ujarku bangga, lantas mengusapkan handuk di wajahnya perlahan, menghapus buliran keringat yang memenuhi pelipis. Bila sudah begini, Mark benar-benar terlihat seksi.

“Jangan terlalu percaya diri.” Ia menjitak kepalaku. “Karena yang boleh membunuh seorang Park Rinrin, hanya aku.”

Aku sedikit tersentak, sedangkan ia tertawa. Iya, tertawa! Tertawa untuk pertama kalinya!

Katakan ini berlebihan, tapi aku sungguhan tertegun beberapa sekon menatap tawa cerianya. Demi bumi dan bulan, ia sangat tampan, membuatku ingin menghentikan waktu berpuluh-puluh menit cuma untuk memandangi paras rupawannya. Seandainya saja suara teriakan cempreng gadis-gadis di belakangku tidak memaksa untuk menarik kembali atensiku, mungkin aku telah pingsan di tempat.

Aku cemberut. “It’s not funny at all, Mark!”

Justru ia terbahak semakin keras. Seolah sengaja mengabaikan sorakkan para supporter, laki-laki itu mendekat, mendaratkan kecupan singkat di pipiku lalu berlari kembali ke tengah lapangan.

Oh, untuk kali ini aku betul-betul dibawa melayang ke langit ke-tujuh. Bahkan beberapa botol minuman yang dilemparkan penggemar Mark dari arah bangku penonton yang sukses mengenai kepalaku, tak mampu membuatku turun kembali ke bumi.

“Lee Minhyung, what are you doing? I’m gonna kill you for sure!

.

***

.

Tidak serupa wajahnya yang imut, Mark orangnya kolot, pemikirannya seperti orang tua. Ia sangat menyukai sejarah. Aku jadi heran, sesungguhnya ia hidup di zaman apa, lantaran terkadang ketika kami sedang berkencan ia kerap kali mengungkit-ungkit sejarah Korea Selatan beserta peribahasa kuno yang aku tak paham apa artinya. Mark selalu berlagak seolah-olah ia sendiri yang mengalami kejadian di zaman penjajahan Jepang. Malah aku sempat berpikir bahwa ia adalah reinkarnasi dari tentara Korea yang gugur di abad 19-an.

Di tambah lagi, sifatnya amat tertutup dan selalu enggan menceritakan latar belakang keluarganya, atau ke mana ayah dan ibunya, atau kenapa ia pindah ke Amerika, atau kenapa ia tidak memilih sekolah atlet, terkadang membuatku bingung dan penasaran.

PLUKKK

Aku sontak mengalihkan pandangan dari layar bioskop mendapati bahuku yang tiba-tiba menjadi berat. Oh, Mark tertidur di pundakku. Padahal adegan yang tengah diputar sedang romantis-romantisnya. Tck, pupus sudah harapanku mendapat cium—errr, apa yang kupikirkan? Aku sudah cukup senang waktu dia mengalah untuk mengikuti keinginanku menonton film komedi romantis ketimbang film action kesukaannya malam ini―walaupun genre ini sama sekali bukan style-nya. Mark tidak memiliki selera humor yang baik, omong-omong. Jadi jangan salahkan bila ia merasa bosan dan malah terlelap.

Akhirnya aku menonton sendirian sedangkan Mark pergi dibawa mimpi. Apa boleh buat.

“Mark … bangun. Filmnya sudah selesai.” Kuguncangkan pelan tangannya ketika lampu di studio dinyalakan pertanda film telah usai.

Ia tak merespon, sedikit pun.

“Mark Lee …”

Ia masih tertidur pulas sementara penonton lain mulai meninggalkan tempat.

“Hei, Mark.” Kuguncangkan lebih keras namun tetap tak ada tanda-tanda pergerakkan dari pemuda di sampingku ini. Di studio cuma tersisa kami berdua. Petugas bioskop menatapku dari bawah sana dan aku hanya tersenyum malu menanggapi. Kami mesti segera angkat kaki dari sini sebelum petugas berbadan serupa gorila itu betul-betul mengusir kami berdua.

“Lee Minhyung, wake up! We gotta go!” Ugh, aku baru tahu ternyata Mark sulit sekali dibangunkan. Kali ini kutepuk-tepuk pipinya. Dan …

GREPP

Aku menahan napasku. Luar biasa tercengang. Lelaki itu bangun, kemudian dengan cepat menghempaskanku ke sandaran kursi. Tangannya mencengkram leherku, mencekikku. Mataku membelalak lebar kala bertumbukkan dengan iris kembar miliknya. Ada aura gelap nan mengerikan di sana. Ada amarah, benci, dan dendam tak berujung yang bercampur menjadi satu, terpancar pada sepasang manik hitam kelamnya. Ia menyeringai puas saat dadaku mulai terasa sesak.

“M-Mark … I-ini aku … Karin …” Sekuat tenaga kupaksakan mengeluarkan suara. Namun ia sama sekali tak dengar, malah makin mengeratkan tangannya. Tuhan … apa aku akan mati sekarang? Di tangan kekasihku sendiri tanpa mengerti mengapa ia melakukan ini?

“Maaf, Tuan, Nona, sesi selanjutnya akan segera dimulai. Penonton akan segera masuk, jadi kalau mau mengobrol sebaiknya di luar studio saja.”

Bariton si petugas bioskop mengudara, mengagetkan kami berdua. Mark sempat menatapku terkejut seakan baru tersadar atas perbuatannya, kemudian menarik tangannya dari leherku.

“K-Karin …” Di sela suaranya yang panik, matanya melunak. Ia menangkup kedua pipiku. “Ya ampun, apa yang kuperbuat? Kau tak apa? Wajahmu pucat sekali.”

Aku membisu, masih terlalu shock. Ia menarikku ke luar gedung dan mendudukkanku di sebuah bangku panjang di suatu taman. “Tunggu sebentar,” pamitnya lantas pergi meninggalkanku.

Terhitung lima menit kemudian Mark kembali dengan membawa dua cup cappuchinno panas yang ia berikan satu untukku. “Minumlah … Hosh … Kuharap ini … Hosh … Bisa membuatmu tenang … Hosh hosh,” tawarnya sambil ngos-ngosan. Ia habis berlari, aku tahu itu.

“Rin, maafkan aku.”

“Tak apa.”

“I just had a nigtmare.”

Yeah I know.”

You mad at me?”

No. But …”

But, what?

Aku mengembuskan napas kasar. “Bisakah aku mengetahui tentang dirimu?”

Sontak ia menoleh padaku. Nampaknya agak kaget dengan pertanyaan yang kuajukan.

“Apa dulu kau memiliki pengalaman yang buruk? Apa tindakanmu barusan ada hubungannnya dengan masa lalumu? Kumohon, ceritakan tentang dirimu atau keluargamu. Apapun itu. Sebagai pacarmu, aku hanya ingin tahu.”

Mendengar itu, wajah Mark yang semula cemas, kini berubah mengeras. Ia memalingkan muka, menerawang lalu lalang orang lantas menarik oksigen dalam-dalam. Membiarkan hening berlangsung dua menit atau tiga.

“Ah, maaf. Kalau tak mau menceritakannya, tak apa—“

“Kedua orang tua dan kakakku meninggal … dibunuh.”

Aku mematung, tercekat.

“Si pembunuh menyiksa satu per satu keluargaku persis di depan mataku.”

Aku termenung, merasakan detak jantungku yang semakin naik temponya. Aura menyesakkan itu kembali hadir menghampiri. “Emm, cukup Mark. Tak usah kau lanjut—”

“Dalam ketakutan, aku dapat melihat mereka mati perlahan—”

“Mark, enough.”

“Sejak saat itu aku sering mimpi buruk, bertemu dengan pembunuhnya dan—“

“Berhenti!” Aku memeluk Mark erat-erat. “Aku berjanji tak akan bertanya lagi, Mark. Jadi hentikan semuanya.”

Lagi, sunyi datang menyelimuti. Tubuhku bergetar hebat. Aku takut. Takut sekali. Entah kenapa. Tetapi—

“Dasar Park Rinrin manja!”

—celetukkan Mark berhasil membuat hatiku mendadak tenang kembali.

“Sudah manja, cengeng pula.” Ia melepaskan tautan tubuh kami, menangkup pipiku, lantas menghapus jejak air mata di sana. “Kisah hidupku … mengerikan bukan? Tapi aku tidak pernah menangis. Makanya, kau juga jangan menangis.”

Aku mengangguk. “Maafkan aku, Mark. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu. Aku benar-benar—”

Belum rampung kuselesaikan kalimatku, Mark membungkam mulutku dengan tangannya. “Stop apologizing, or I will kiss you!” ancamnya.

Alisku bertaut, sedikit kaget. Terkadang Mark memang serupa robot berjalan, kaku, dingin, sering berbicara tanpa ekspresi, misterius. Terkadang pula ia melakukan hal tak terduga.

“Ah, i-itu … Anu.” Mark mendadak salah tingkah. Ia melepaskan tangannya rikuh, menyadari ucapannya.

“Bagaimana kalau aku terus meminta maaf? Kau akan―”

“Sebaiknya kita pulang.” Ia buru-buru menarik tanganku. Memasukkan ke dalam saku jaketnya. Menggenggamnya. Menuntunku merajut langkah menuju halte bus terdekat. Dan aku tak kuasa menahan senyumku melihat perubahan sikapnya.

Ada sekian banyak hal yang tak kuketahui mengenai kekasihku. Tapi kupikir ada baiknya aku menutup mata dan telinga akan latar belakang pemuda di sisiku ini. Ya, aku hanya ingin melihat Mark Lee yang sekarang. Laki-laki yang tangannya selalu dingin, namun sikapnya hangat dan menenangkan. Aku suka caranya menghiburku, caranya membela dan melindungiku, caranya memecah suasana beku. Aku suka segala tentangnya.

“Kau selalu menolak dipanggil Lee Minhyung, tapi kau sendiri terus-terusan memanggilku Park Rinrin. Tidak adil!”

“Terserah mulutku, dong.”

“Dasar Minhyung jelek!”

“Aku jelek, tapi kau mencintaiku. Bukankah begitu?”

Nah, ‘kan … “T-tidak! Siapa bilang?”

“Mengaku sajalah.”

Kadang-kadang ia bertingkah kekanakan, cuma untuk membuatku tertawa.

.

***

.

Aku tak mengerti mengapa Mama memberikan reaksi terkejut berlebihan kala kubawa Mark mampir ke rumahku untuk pertama kali, padahal kemarin aku telah memberi tahu Mama bahwa pacarku akan datang berkunjung. Mereka beradu pandang untuk waktu yang cukup lama di depan pintu, seakan pernah saling bertemu sebelumnya, hingga akhirnya suaraku yang mempersilakan Mark masuk ke dalam memutus kontak mata keduanya.

Ketika makan malam pun, rupanya ketegangan tak berangsur memudar. Kurasa Mark berpenampilan baik malam itu dan bersikap sangat ramah, terbukti dari lengkungan simetris yang tak lepas dari bibirnya. Namun anehnya, Mama tak kunjung memberikan respon yang setimpal. Terlebih tatkala kekasihku itu memperkenalkan diri, kentara sekali Mama terlihat tidak tenang. Ada apa sebenarnya di sini? Bahkan aku beberapa kali menangkap Mama yang gelisah memperhatikan Mark saat menyantap hidangan yang tersedia.

Tak banyak yang kami bertiga bicarakan, lantaran situasi betul-betul tidak nyaman. Akhirnya, Mark berpamitan pulang pukul sembilan.

Aku mengantarkannya sampai pintu pagar. “Sampai jumpa besok, Mark. Hati-hati di jalan.”

“Ya. Sampai jumpa. Tidur yang nyenyak. Jangan lupa cuci kaki dan sikat gigi.” Ia mengecup pipiku sekilas sebelum beranjak. Aku melambaikan tanganku mengantar kepergiannya, hingga punggungnya menghilang di persimpangan.

Kau lihat? Mark Lee, si murid yang pendiam, misterius, anti-sosial, dan berekspresi beku ternyata bisa bersikap manis seperti barusan. Siapa yang tidak menyukainya? Apa cuma Mama yang berpikir sebaliknya? Apa Mama membenci Mark? Apa hubungan kami akan ditentang? Aku mempunyai firasat buruk.

Aku memejamkan mata sejenak, berusaha meneguhkan diri, lalu masuk ke rumah. Benar saja. Baru selangkah aku menapakki ruang tamu, Mama menarikku ke kamar dengan tergesa. “Cepat benahi barang-barangmu, kita akan pindah!”

“Apa?” Aku heran sekaligus tak percaya.

Mama membuka lemariku, membongkar isinya terburu-buru. “Tak usah banyak tanya, cepat bereskan! Kita tidak punya banyak waktu. Agaknya malam ini juga kita harus pergi. Mama akan atur penerbangan.”

“Ma, ada apa? Kenapa mendadak begini? Aku tidak ingin pindah!”

“Tadi Mama ditelepon bos di kantor, ada pekerjaan penting di London. Kita mesti segera berangkat.” Ia menjawabku sekenanya sembari sibuk memasukkan seluruh pakaianku ke dalam koper.

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Aku tahu itu bukan alasannya. “Jangan berbohong padaku, Ma!”

Mama tak mengacuhkanku.

“Ini pasti ada hubungannya dengan Mark, ‘kan? Mama tidak menyukainya dan ingin menjauhkanku darinya, benar ‘kan? Jawab aku!”

Bagai tertohok akan pertanyaanku, Mama menghentikan kegiatannya. Ia berbalik, mengeluarkan sorot mata yang tak mampu kubaca. “Tolong dengarkan Mama, Nak. Sekarang kita pindah. Mama janji ini untuk terakhir kalinya, ya?” Altonya yang bergetar menggegar kering di gendang telingaku.

“Bukankah Mama pernah berjanji hal yang serupa sebelum kita pindah ke Amerika? Tidak untuk kali ini, Ma. Aku tidak ingin pergi …”

“Mengertilah, Rin. Mama melakukan ini semua demi kebaikanmu. Anak satu-satunya Mama.” Nada bicara Mama meninggi karena panik.

“Kebaikanku? Jika Mama memang benar-benar memikirkan perasaanku, semestinya Mama menuruti keinginanku untuk tetap tinggal, Ma. Tapi Mama selalu berbuat hal-hal tak beralasan seperti ini. Aku lelah. Aku muak. Aku tidak ingin mengalah dan mengikuti Mama lagi. Kalau Mama mau pergi, pergilah. Aku akan tetap di sini. Aku akan tetap bersama Mark—”

PLAKKK

Aku memejamkan mataku, merasakan pipiku yang memanas dan ngilu. Bulir bening yang sedari tadi kubendung merembes keluar dari pelupuk mata. Aku tak percaya. Sepenting apa urusan Mama di London? Sebenci apa Mama pada Mark? Setidak-bermakna apa perasaanku untuk Mama abaikan? Seperti apa kebaikanku yang Mama maksudkan hingga melukaiku sedemikian rupa?

Aku tak paham. Tak pernah paham. Terlebih ketika Mama mengatakan—

“Mama tidak mau kehilangan dirimu sama seperti kehilangan Papamu dulu … di tangan anak laki-laki itu.”

.

***

.

Konyol. Sungguh konyol. Lebih dari konyol. Yang benar saja, Papaku meninggal sebelas tahun yang lalu di Jepang, kala umurku menginjak enam tahun. Bagaimana mungkin seseorang mampu membunuh orang dewasa di usia ke-enam? Adakah sesuatu yang lebih mustahil dari itu? Aku tak mengerti jalan pikiran Mama yang telah dengan kejamnya menuduh Mark sebagai orang yang menghabisi nyawa Papa.

Tuhan, apa salahku? Apa dosa Papaku?

Aku menjejakkan kaki telanjangku di pasir dingin pantai sebelah Utara Burlington. Arloji menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Mama pasti kerepotan mencariku. Biarlah. Aku hanya butuh sedikit waktu ‘tuk menenangkan diri. Aku mengedar pandang, menatap kaki langit di ujung sana. Menyadari betapa luas bumi beserta isinya, di mana aku pernah berpijak di salah satu belahannya. Andai benua Amerika dan Eropa cuma sebatas lima jengkal saja, aku tidak perlu repot-repot melarikan diri dan membuat Mama cemas. Akan tetapi … debaran jantungku bahkan lebih deras dari deburan ombak untuk tidak dihiraukan keberadaannya.

“Halo. Ini siapa? Kenapa malam-malam begini menelepon? Ada perlu apa? Kenapa tidak besok—“

Ckleekkk … Tuuuttt … Tuuuttt …

Aku tertawa setelah memutuskan sambungan telepon. Suara serak Mark yang baru bangun tidur terdengar sangat lucu. Aku jadi ingin melihat wajahnya sekarang. Aku merindukannya. Ya, aku merindukannya, hingga air mataku tak mau berhenti mengalir.

Aku menyandarkan belakang kepalaku pada bilik telepon umum seiring memejamkan kelopak mata. Membiarkan jarum jam terus berotasi dalam sepi.

“Karin?”

Sudut bibirku terangkat sedikit. Itu suara Mark. Ia pasti datang ke mimpiku.

“Karin! Sedang apa kau di situ?”

Seandainya … Seandainya saja vokal lembut ini dapat kudengarkan di tiap bunga tidurku. Aku bahagia. Sangat bahagia.

“Karin!”

Sebuah tangan tiba-tiba menarikku ke luar dari dalam bilik yang sempit, memaksaku untuk mengumpulkan kembali kesadaranku yang telah hilang setengah. Orang itu … langsung memelukku teramat erat. Dan aku tidak perlu menoleh lagi untuk tahu siapa pemuda itu.

“M-Mark, kenapa kau di sini?” tanyaku pelan. Suaraku serak.

“Sudah kuduga, yang meneleponku tadi adalah kau!” Ia mendekapku makin erat. “Apa yang kau lakukan di sini, bodoh? Ini hampir tengah malam! Kalau ada orang yang mencelakaimu bagaimana, hah?”

Dibanding menjawab, aku lebih memilih membenamkan wajahku di dadanya, lantas terisak di sana. Untunglah Mark langsung paham kondisiku tanpa perlu dijelaskan. Ia menepuk-nepuk punggungku, berusaha memberikan kehangatan.

“Sshhh … sudah, sudah. Jangan menangis. Kau jelek sekali. Dasar cengeng,” lirihnya, tanpa melepaskan pelukan selembut beludru.

Ia memertahankan posisinya. Sengaja tak berucap apapun, agar aku dapat menenangkan diri terlebih dahulu. Dalam hening, aku menghirup rakus aroma halus tubuhnya. Menikmati alunan detak jantungnya yang tenang laksana sonata cinta yang mengalun damai di indera pendengarku. Semuanya, amat nyaman, menentramkan.

Apabila ditanya, aku punya sejuta alasan untuk terus berada di sampingnya.

“Lee Minhyung …”

“Jangan memanggilku begi―”

I love you.”

Mark sedikit tertegun akan pernyataan tiba-tibaku. Kemudian terkekeh pelan. “I know …”

That’s not what I wanna hear.”

Ia menghela napas pasrah. “Me too.”

“Ucapkan dengan jelas.”

“Aku sudah mengatakannya.”

“Tck.” Aku nyaris menekuk bibirku ke bawah jika saja Mark tidak menahanku dengan sebuah tindakan mengejutkan yang tak pernah kubayangkan.

Ia menciumku, di bibir.

“Cukup jelas sekarang?”

Detik pertama aku diam membatu, membisu, tersentak kaku. Di detik berikutnya emosiku menderu, membucah, memburu. Hanya ciuman singkat tak sampai sepuluh sekon, namun cukup membuatku lupa bila bumi memiliki gravitasi.

Mark menangkup kedua pipiku. Tangannya dingin, tapi suaranya sehangat mentari. “Kau sudah agak baikan? Mau kuantar pulang?”

Aku menggeleng, mengingat kejadian beberapa jam ke belakang, menjadikan hatiku kembali dirundung pilu. “Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Mark?” tanyaku ragu-ragu.

“Katakan.”

“Kau … tidak ada hubungan apapun dengan Papaku, ‘kan?”

Ia terdiam. Cukup lama.

“Mark …”

“Park Chanyeol?”

Aku tercengang. Seketika menjadi takut. “B-benar. Itu nama Papaku. D-dari mana kau tahu?”

“Tentu, ayahmu musisi hebat. Siapa yang tidak mengenalnya. Aku menyukai semua karyanya.”

“Hanya itu yang kau tahu mengenai Papaku?”

“Kudengar beliau meninggal dalam kecelakaan sebelas tahun yang lalu.”

“Berita itu bohong. Papaku meninggal karena … dibunuh.”

“Benarkah?”

“Hm. Aku pun baru mengetahuinya.” Aku bernapas sedikit lega. Mark tidak tahu apa-apa. Tuduhan Mama betul-betul tak beralasan.

“Jadi ini yang membuatmu sedih dan lari ke pantai tengah malam?”

“Ya, itu salah satunya.”

“Lalu alasan yang lain?”

Aku menunduk. “Mama … mengira kaulah pembunuhnya,” lirihku.

“Yang benar saja.”

“Konyol sekali, bukan? Dan sekarang Mama memaksaku pindah ke Eropa. Aku tidak bersedia …”

Mark tak menjawab lagi. Beberapa menit kami diam seribu bahasa. Mungkin sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing hingga tak sadar waktu menunjukkan nyaris pukul satu.

“Kalau tidak mau pulang ke rumah, menginaplah di apartemenku.” Vokal Mark akhirnya memecah sunyi.

Aku mengangkat wajah menatap kedua bola matanya yang hitam. Selama ini kekasihku itu selalu menolak jika aku ingin mampir ke tempat tinggalnya, maka darinya kini aku langsung mengangguk mengiyakan.

.

Mark memarkir motornya di basement dengan santai, sementara aku gelisah bukan main. Hei, jangan kira aku berpikiran macam-macam! Aku cuma … entah mengapa merasa tidak enak. Intuisiku seolah mengatakan hal buruk akan terjadi.

Sambil berjalan menuju lantai tiga, lelaki itu menggenggam tanganku. “Kau mau dengar sebuah cerita?”

Aku mengangguk saja.

“Ini tentang seseorang yang terobsesi akan harta, hingga menyingkirkan orang-orang yang dianggapnya penghalang. Terjadi di ujung masa Dinasti Joseon tahun 1870. Kala Sang Pangeran Agung Yi Ha-eung yang bijak tengah menjalankan program restorasi Gyeongbok secara besar-besaran. Beliau merevisi Undang-Undang kerajaan, menghapus peraturan lama dan memberantas para pelaku korupsi negara.”

Oh, sejarah lagi.

“Adalah Park Jin Mok salah satu penasihat istana yang gila akan harta dan kekuasaan, merencanakan sesuatu dengan ketiga orang putranya, Park Chun Hyang, Park Jung Hyang, dan Park Shi Hyang, untuk menghabisi ketua dewan pengawasan keuangan yang menjebloskannya ke penjara akibat terbukti melakukan korupsi dan merugikan negara. Orang itu bernama Lee Ryu Jong.”

Aku tidak sungguh-sungguh menyimak isi cerita. Atensiku sepenuhnya tertuju pada feeling-ku yang kian buruk seiring langkah demi langkah terlewati.

“Maka di suatu malam yang mencekam, pembantaian sadis seluruh keluarga Lee Ryu Jong terjadi. Ia dan anggota keluarganya diikat seperti hewan. Dipukul. Ditendang. Dicambuk. Dibakar. Disayat dengan sembilu. Dihantam dengan gada. Dikuliti hidup-hidup.”

“Mark, bisa ganti topik lain?” Sebelah tanganku memegangi perutku yang agak mual.

Ia tidak mengindahkan permintaanku, dan masih asyik berprosa. “Jin Mok beserta ketiga putranya berpikir bahwa semuanya telah mati. Namun sayangnya, satu orang putra bungsu Ryu Jong rupanya masih hidup.”

Ah, mengapa waktu terasa amat lamban saat ini? Aku ingin cepat-cepat sampai. Dan juga … apa hanya perasaanku saja atau tangan Mark memang jauh lebih dingin dari biasanya?

“Kau tahu ilmu hitam pada zaman dahulu? Si bungsu menggadaikan nyawanya demi membalaskan dendam pada Park Jin Mok dan anak-anaknya. Mereka terbunuh di malam berikutnya dengan cara yang ribuan kali lebih mengenaskan―”

“Mark …” Aku berusaha menginterupsi. Agaknya percuma lelaki itu mengoceh panjang lebar sementara sedari tadi aku cemas oleh hal yang tak pasti.

“Tapi ternyata Park Chun Hyang yang merupakan anak tertua, berhasil kabur dan menghilang selama puluhan tahun.” Nah, ini yang pernah kubilang tempo hari. Kalau sudah bercerita tentang sejarah, Mark sulit ditimpali. “Sejak saat itu, putra bungsu Lee Ryu Jong bersumpah akan mencari dan menghabisi seluruh keturunan Park Jin Mok hingga tak bersisa lagi.”

Tepat ketika kami tiba di depan pintu apartemen nomor 312, ia barulah berhenti. Akhirnya …

“Ah, kita sudah sampai.”

Seiring dengan daun pintu yang terbuka, jantungku yang berdetak cepat tak karuan kuabaikan. Kami berdua masuk dan pintu pun dikunci. Aura dingin dan hawa aneh mendadak menerjang segala permukaan kulitku.

KLIKKK

Wajahku berubah pucat pasi seiring lampu yang Mark nyalakan. “Maaf lampunya agak redup, aku tidak suka tempat yang terlalu terang.”

Aku tercekat. Tak kuasa mengeluarkan satu patah kata pun. Tak mampu bertindak apapun. Bahkan senyuman Mark yang biasanya kerap kali melelehkan hatiku, justru membuatku semakin tegang dan merinding. Seluruh anggota gerakku bergetar amat sangat hebat.

Katakan aku tengah bermimpi sekarang. Katakan! Tolong bangunkan aku, kumohon! Aku ingin bertemu Mark-ku yang hangat, Mark-ku yang selalu menenangkan, Mark-ku yang kaku tapi menyenangkan, Mark-ku yang sangat kucintai. Bukan Mark yang ada di depanku kini, yang tersenyum menyeringai dan menatapku dalam-dalam.

“Oh, ceritaku yang barusan masih ada kelanjutannya. Kau tahu, si putra bungsu Lee Ryu Jong yang membawa dendam itu? Ia masih hidup hingga detik ini dan berdiri tepat di hadapan keturunan ke-delapan Park Jin Mok, yang bernama … Park Rinrin.”

Dan katakan pula bahwa ini bukan suaranya.

Mark menarikku mendekat ke sudut ruangan di mana terdapat belasan penggalan kepala manusia yang dijadikan hiasan dinding. Ia menunjuk deretan paling kiri. “Lihat, ini Park Jin Mok, dan tiga putranya. Park Jung Hyang, Park Shi Hyang dan Park Chun Hyang. Lalu―” Arah pandangnya beralih ke kanan. “Ah, aku malah sudah menyiapkan tempat untukmu di baris terakhir, di samping kepala ayahmu, Park Chanyeol sang musisi muda yang tampan.”

Tuhan … Sadarkan aku dari mimpi buruk ini, kumohon. Air mataku mengalir tak terbendung mewakili sakit luar biasa di pangkal tenggorokanku.

“Kau tahu, aku sangat tersanjung sewaktu Mamamu bahkan masih mengingatku. Kulihat ia kaget sekali.” Ia terbahak keras, bukan hanya membuat gendang telingaku pedih, namun hatiku pun tercabik-cabik binasa.

“L-Lee Minhyung …” Sekuat tenaga kugerakkan pita suara, mengeluarkan getaran analog di udara, kendati sama sekali tak seberapa dibanding tawanya yang membahana.

Tapi ia mendengarku. Ia berhenti tertawa seraya membentak kasar. “Sudah kubilang, berhenti memanggilku Minhyung!”

Aku tak peduli. “Lee Minhyung kekasihku―” Di antara oksigen yang kini sukar kuhirup serta bulir bening yang tak henti berjatuhan, aku mengambil keputusan. “―sebelum kau menuntaskan dendammu, biarkan aku mengucapkan pesan terakhirku.”

“Walau selama ini kau berbohong dan hanya berpura-pura, aku tidak pernah menyesal akan waktu lima bulan kita. Pun jikalau aku harus mati sekarang, aku tidak apa-apa. Setidaknya di saat-saat terakhirku, aku berbahagia lantaran dihabiskan bersama orang yang kucinta.”

Aku menangis, mengais belas kasihan Tuhan. “Kini aku tahu misteri keluargaku yang tak pernah terjawab oleh Mama. Atas nama moyangku yang kejam, aku memohon maaf untuk itu. Pasti sangat sulit bagimu menjalani 146 tahun di dunia dengan dendam tak berkesudahan. Namun kuharap dengan diriku menjadi keturunan terakhir keluarga Park, itu cukup untuk dapat menghapus semua memori buruk hidupmu sampai tak tersisa.”

Aku mengangkat kepala perlahan, menatap wajahnya yang kelam di tengah-tengah cahaya temaram. “Lakukan apa yang mesti putra bungsu Lee lakukan. Aku tak apa, karena aku mencintainya.”

Mark terdiam satu menit atau dua, sebelum tangannya yang dingin bagai es meraih pipiku yang pucat dan basah oleh air mata. Pandangan kami bertumbukkan untuk waktu yang cukup panjang, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku tak tahu mengapa kurasakan tubuhnya turut bergetar, pun tak mengerti apa arti tatapan sendunya.

Dalam ketakutan, aku menyerah pada kedua kelopak mataku yang kian berat, memblokir sinar yang masuk ke retina, ketika sayup-sayup kutangkap isakkan pilu pemuda di hadapanku. “Maafkan aku, Park Rinrin.”

 

Namanya Mark Lee, atau kadang kupanggil Lee Minhyung, dia adalah laki-laki yang tangannya dingin. Selalu dingin. Namun tatapannya tak pernah dingin. Ada api yang kekal di sana.

.

***

.

Aku mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan seberkas cahaya yang memaksa mataku tuk terbuka. Sejemang, aku mengira diriku telah berada di syurga, namun rasa sakit di sekujur tubuhku menghapus pemikiran itu. Aku masih hidup di dunia. Lantas apa yang terjadi semalam itu cuma mimpi buruk belaka? Kurasa tidak.

Aku menolehkan kepala, mendapati keadaanku yang terbaring di ranjang dengan berselimutkan beludru tipis nan hangat. Ini kamar Mark, terbukti dari aroma khasnya yang menguar dari tiap sudut ruangan. Dan betapa terkejutnya aku kala menemukan bercak darah di mana-mana. Tapi … itu bukan darahku sebab sama sekali tak ada goresan luka di tubuhku. Ini artinya ….

“Mark!”

Aku menyibak selimut tergesa. Bermaksud mencari Mark namun terhenti di sekon pertama mataku menangkap selembar kertas di atas nakas.

.

Seratus empat puluh enam tahun yang lalu, tatkala aku berhasil melarikan diri dari maut, aku bersumpah atas nama kedua orang tuaku, kakakku, serta jiwa yang kugadaikan, akan membinasakan seluruh keturunan Park Jin Mok dengan cara yang paling kejam. Dan itu kulakukan sampai pada keturunan ke-delapan, yaitu dirimu, Park Rinrin. Aku berencana membuatmu mencintaiku, kemudian menghabisimu pelan-pelan. Sialnya, cara yang menurutku paling brilian ini tak berjalan sebagaimana mestinya ketika akulah yang justru terlanjur jatuh cinta. Benar, dendam yang kusimpan lama itu kandas tanpa sisa oleh perasaan hangat yang kau bawa. Maka dari itu aku tak dapat membunuhmu. Maka dari itu aku membiarkanmu hidup. Maka dari itu aku meninggalkanmu.

Mulai dari sekarang, tinggallah dengan tenang di sini. Tak perlu pindah kemanapun lagi. Katakan pada Mamamu tak perlu khawatir, sebab aku telah pergi. Urusanku sudah tuntas terlaksana dan waktuku telah habis di dunia.

Meski demikian, aku tetap berharap Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu sekali lagi dalam keadaan yang berbeda, untuk hidup bahagia dilingkupi cinta. Bukan dendam yang membara.

Selamat tinggal, Park Rinrin. Aku mencintaimu, dan aku tak berbohong.

-Lee Minhyung-

.

END

.

Udah lama gak nulis. ihikk. Mohon di-review.

 

 

Advertisements

21 thoughts on “[Oneshot] Cold Hands

    • percaya atau enggak, aku juga awal2 bikin fanfic ini mau dibikin mark ngebunuh ceweknya. tp gak jadi dan malah diubah jadi percintaan ala remaja hehe.
      mark mah gak akan bunuh diri lah. kan di perjanjiannya itu ada jatuh temponya. makanya dia bisa hidup sampe 146 tahun itu krn dia gadaikan jiwanya, nah kalo dia udah tuntas balas dendam, dia bakal mati. begitu chinguk.
      makasih ya udah baca dan review 🙂

      Like

  1. Aduh, tanggung jawab nih, kak. mataku berkeringat.

    Udah ada feeling bahwa ada yang ngga beres ngeliat asal-usul Mark yang ngga jelas. Dan yakin juga Mark berasal dari masa lalu waktu baca ini “Mark selalu berlagak seolah-olah ia sendiri yang mengalami kejadian di zaman penjajahan Jepang.” Dan pas Mark cerita sejarah keluarga Lee sama Park… akhirnya aku tau kalo Mark ini benar benar pembunuh.

    Dan karena aku benci sad ending, aku bener-bener berharap Markrin hidup bahagia, tapi apalah daya kakak malah memilih memusnahkan Mark. Yaudah ngga papa, setidaknya Karin masih bisa bernafas.

    Liked by 1 person

    • owalah, udah lari berapa kilometer dear sampe matanya berkeringat gitu? XD /sodorin tisu wc/
      hihihi, iyaah emang dari awal aku udah kasih tanda2 kalo mark itu emang rada2 aneh, karena dia emang nyimpen sesuatu. pembuhun bertangan dingin muehehehehe.
      ihikkk. abiss kan mark umurnya udah ratusan tahun, udah saatnya menghadap yang kuasa XD
      makasih banyak udah baca dan review ff ku. jangan kapok yah hehe 😀

      Like

  2. Ceritanya keren…
    Dikira Mark bakal bunuh pacar nya tapi ternyata cinta telah meredakan bara dendam di hati Mark.
    Aku gk bisa bayangin kelapa Chanyeol yang di gantung.

    Untuk semuanya keren….

    Liked by 1 person

  3. Kak…

    DEMI APA INI FF KEREN BANGET.

    DAKU GABISA NYANTE GEGARA SAKING EMOSIONALNYA.

    This FF brought me to officially your fans /kkeut/ Katakan kak, darimananya si Mark yg imut itu bisa jadi pembunuh sadis kek gitu?? /nangis sampek bengek/ Mana dianya so sweet juga sama si Rinrin >< Pheulis deh, ini fic bener2 membuatku baper sepanjang masa kek dendamnya Mark. Gaada yg bisa lebih cheesy/sad lagi dari endingnya yg luar byasah menampol 🎉 Kirain si Rinrin bakal menyusul bapaknya ke alam baka /ditabok/

    Salam kenal l, anyway 😄😄

    Liked by 1 person

    • WAAAAKKK SANTHAY SHAY. SANTHAY XD

      aaakkhh, jangan ngefans diriku. ngefans mah sama mark aja, meskipun dia jadi pembunuh bertangan dingin juga XD
      tadinya beneran bakal bikin rinrin mati, tapi kasian mamanya rinrin udah sering pindah2 rumah terus akhirnya anaknya mati juga. gak jadi deh kubikin angstnya. jadi kubikin cerita yg lebih remaja aja hehe. meskipun marknya kudu pergi 😥

      salam kenal juga. 😀
      makasih ya udah mampir dan kasih review. /peyuuukk/ ❤

      Like

  4. Thour 😭 Maaaark thouuur ㅠㅠ
    Awalnya kupikir akan beralhir tragis -_ ternyata sad ㅠㅠ
    Maaaark 😭😢😢😢😢😢😢😢
    Btw,thour…..boleh copas ? Remake ? Tapi nama athour ttap di cantumin tentunya ….
    Daebakkkk thour,fighting always ^^

    Like

    • hihihi. tadinya jg emang mau aku bikin tragis. tapi gak jadi. kubikin yang lebih remaja2an aja hehe 🙂
      wahhh kalo remake jangan dong.
      reshare aja yaaa. nama author dan link ke blog aku juga kalo bisa hehe. maaf
      makasih udah baca dan komen di ff ku 😀

      Like

  5. wahhh,,, keleen. kenapa bukan ceweknya aja yang dibunuh? Biar mark sama aku muahahahaaa /kemudian di racunin sianida/
    bagus bagus!! kek sweet gitu kesannya, walaupun Mark yang mati😭

    Like

  6. Mark bunuh diri?? OMONA!!!
    ini bener2 daebak, patesan, ternyata sejarah yang diceritain Mark kok sama kek cerita hidupnya, ternyata oh ternyata emang beneran itu
    fighting 😀

    Like

  7. Oh my God.. Aku merinding loh.
    aku sih udah dpat firasat bruk pas rinrin sma mark d bioskop. Dan firasat bruk itu brlanjut pas d pantai. Dan kupikir, mark bkal ngebunuh si cwek di pantai. Trnyata lbih dri yg kubayangkan.
    bgus bnget. Keep writing yah

    Like

  8. Keren ffnya. deg degan bacanya. tp kalo buat aku pribadi, sadnya kurang diiikkkiiiit lagi biar bener bener ngena. oh iya, ada saran juga dari aku, menurut aku, kata “cuma” di beberapa kalimat lebih enak dibaca kalo diganti jadi “hanya”

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s