[Chaptered] You Look Yummy (Part 8)

S-LCOUP

“You Look Yummy” by Mingi Kumiko

Main Cast : [NCT] Jaehyun, [DIA] Chaeyeon, [17] DK, [Gfriend] Yuju

Genre : School Life, Friendship, Romance

Rating : PG-17

“Memangnya boleh… kalau aku cemburu?”

Previous Chapters :

| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |

Sedih rasanya mendengar Jaehyun dengan raut penuh sesal mengatakan bahwa untuk sementara ini, Chaeyeon harus bersikap seperti biasanya (ia bicara kemarin malam saat menelepon gadis itu). Biasa dalam arti tak seberapa memiliki interaksi di dalam maupun luar kelas. Baiklah, Gadis Jung itu paham kalau Jaehyun memohon seperti itu semata-mata untuk kebaikannya juga. Meskipun dalam hati terasa berat, kalau dia memang suka padaku, harusnya, kan, dia enggak perlu menyembunyikan kedekatan kita.

Tapi Chaeyeon sadar kalau dirinya tidak boleh berharap lebih. Ia menganggap ucapan manis Jaehyun via telepon dan tutur lembutnya saat mereka sedang bersama sudah kelewat cukup. Oops, dan jangan lupakan ciuman – yang katanya – sebagai tanda kerinduan mendalam di koridor tempo hari. Atau ciuman di bawah payung saat mereka jalan-jalan di akhir pekan. Ah, Chaeyeon selalu tersipu kalau mengingat kejadian itu.

Sejak penampilan memukau keempat gadis dari kelas 3 – 2 di panggung classmeet minggu lalu, Chaeyeon pun jadi sering menghabiskan waktu senggangnya di kelas bersama Eunha, Yoobin, dan Jiho. Gadis itu senang karena sekarang tak lagi merasa sendirian saat jam istirahat. Untung saja Yuju merupakan teman yang pengertian, ia terlihat begitu senang saat Chaeyeon menceritakannya. Meskipun awalnya merasa kecewa karena sahabatnya itu tak akan lagi bisa sering-sering menemaninya ke kantin atau perpustakaan.

“Myungjin dan Harim benar-benar enggak mengungkit tentang penampilan kita, nih?” Chaeyeon mengarahkan pertanyaan pada gadis yang sedang sibuk mengupas kulit jeruk yang ia bawa dari rumah.

“Entahlah, jangan diambil pusing.” pungkasnya singkat.

“Sudah, Chae… tenang saja. Kita punya Wonder Jiho!” celetuk Eunha.

“Tapi sepertinya Jiho sudah jarang kumpul bersama mereka.” sahut Yoobin dengan wajah polosnya.

“Aku malas, mereka enggak berguna.” tandas Jiho dan sontak menengadahkan kepala untuk mengganti arah fokus; yang awalnya terus menunduk, sekarang jadi menatap ketiga kawan yang tengah melingkupi bangkunya itu.

Tertangkap oleh netranya ekspresi melongo Eunha, Chaeyeon, dan Yoobin setelah mendengar penuturannya. “Aish, maksudku… mereka cuma membawa pengaruh buruk. Aku enggak butuh teman seperti itu. Bukannya bermaksud bilang kalau aku memanfaatkan kalian.” jelasnya berusaha menjabarkan serinci mungkin agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Iya, iya, kami paham. Hm, tapi aku penasaran… meskipun sudah jarang bersama Harim dan Myungjin, apa kau akan tetap mengganggu gadis yang dekat dengan Jung Jae Hyun?” celetuk Chaeyeon tiba-tiba.

“Hm, bagaimana, ya? Sebenarnya susah sekali untuk menghindari pesona manusia satu itu.” keluh Jiho.

“Dia itu Cokiber.” oceh Eunha yang memunculkan ekspresi heran di wajah Chaeyeon.

“Itu kepanjangan dari Cowok Kita Bersama, hahaha…” sahut Yoobin. “Kok, begitu?” tanya Chaeyeon masih belum paham dengan maksudnya.

“Hampir semua gadis yang ada di kelas pernah suka padanya. Habis, selain tampan, dia juga punya kepribadian yang hangat.” jelas Eunha.

“Kau juga pernah suka sama dia?” tukas Chaeyeon pada gadis berpipi bulat itu. Dengan malu-malu Eunha mengangguk. “Tapi sudah dulu sekali.”

“Aku bahkan menyerah sebelum bisa mengakui perasaanku.” timpal Yoobin. “Omo, kau juga pernah suka padanya, Yoobin?” Chaeyeon melongo, sedangkan gadis berambut bob itu cuma menyengir kikuk.

“Dari pengakuan gadis-gadis yang pernah menembaknya, sih… dia selalu bilang, ‘Maaf, ada gadis lain yang sedang aku tunggu’. Entah cuma alasan atau memang benar-benar seperti itu. Tapi sumpah kalau memang benar begitu, aku penasaran gadis seperti apa dia.” oceh Jiho yang membuat napas Chaeyeon sejenak tercekat.

Jangan terlalu percaya diri dulu, Jung Chae Yeon… belum tentu itu dirimu.

.

.

Meskipun sudah mendapat teman baik  yang – semoga saja – tak akan membiarkannya sendirian di kelas, namun Chaeyeon tetap tak lupa bahwa Yuju adalah teman pertama yang ia miliki di sekolah ini. Sekarang jadwal tim basket latihan, dan seperti biasa Yuju harus menyiapkan kebutuhan mereka tiga puluh menit sebelum latihan dimulai. Chaeyeon pun dengan senang hati membantu gadis jangkung itu.

Hanya aktivitas ringan yang mereka lakukan, jadi tak seberapa memakan waktu dan menguras tenaga. Seketika Chaeyeon teringat tentang kunjungan Seokmin ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Sepertinya sekarang bisa menjadi waktu yang tepat untuk Chaeyeon mengomunikasikan hal ini kepada Yuju.

“Tumben Seokmin enggak datang?” celetuknya membuka pembicaraan. Chaeyeon tak seberapa kaget saat mendapati Yuju yang hanya membalas pertanyaannya dengan bahu yang terangkat, pertanda tak ingin acuh.

“Kalian, kan, teman sejak kecil. Masa cuma karena masalah sepele sampai tidak saling sapa berhari-hari?” imbuhnya meskipun Yuju tak terlihat mengindahkan apa yang ia ucapkan.

Gadis Choi itu menghela napas berat, rautnya teramat suntuk untuk menanggapi topik yang enggan ia bahas. “Sudahlah, biarkan saja. Cewek itu memang seharusnya tidak ambil pusing kalau cowoknya marah.”

Eung…, memangnya kalian pacaran? Kok, kau menyebut dia dengan cowokmu?” Chaeyeon mengernyit heran mendengar penuturan Yuju. Lucu juga mendapati kawannya itu mendadak terbelit dengan kata-kata yang telah ia ucapkan sendiri.

Aish, apapun itu! Pokoknya aku enggak mau minta maaf duluan. Terserah mau marah sampai kapan saja, enggak peduli!” hardik gadis jangkung itu dengan ketus.

“Ih, gadis cantik enggak boleh jadi pendendam.”

“Tapi aku bukan gadis cantik!” Yuju mengelak dengan tegas.

Benar kata Seokmin, sahabatnya itu selalu membantah saat ada yang bilang dia cantik.

“Kau cantik, Yu! Sungguh.” ujar Chaeyeon mantap.

“Bohong.” sanggahnya.

“Mengapa kau selalu mengelak kalau ada yang memujimu?”

“Sebab aku memang enggak pantas disebut begitu.”

“Kalau begitu jelaskan alasannya. Ayolah, jangan menyimpan apapun sendirian. Kau punya aku untuk berbagi.”

Yunoh kecil benar-benar ingin mengutuk seluruh isi galaksi setelah mengetahui kabar bahwa Chaeyeon sekeluarga telah berangkat ke Changwon dan tak akan kembali. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu, dan langsung terpuruklah ia saat tahu Chaeyeon meninggalkannya tanpa pamit.

“Chaeyeon juga pasti tidak bermaksud pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal, Yun…” ujar Seokmin berusaha menenangkan Yunoh yang memeluk lututnya sambil terus menunduk di samping kasur.

“Kenapa Chaeyeon tega sekali padaku? Kalau enggak ada dia, bersama siapa aku pergi ke taman bunga?!” pekik Yunoh dengan suara paraunya karena habis menangis.

“Aku bisa menemanimu ke sana, Yun,” sahut Yuju yang juga berada di kamar Yunoh untuk menghiburnya.

“Aku enggak mau pergi ke sana dengan gadis jelek sepertimu!” hardik Yunoh sambil tetap terisak. Bibir Yuju sontak terkatup, sedangkan Seokmin sibuk mencengkeram lengan Yunoh agar ia bisa mengendalikan emosinya.

 

“Ya ampun, Yu… please, jadi cuma karena itu?” kata Chaeyeon. Terlebih dahulu ia kesampingkan perasaan berbunganya saat tahu Jaehyun begitu terpuruk atas kepergiaannya. Chaeyeon tak bermaksud jahat, ia hanya sekadar senang saat tahu ada seseorang yang teramat merasa kehilangan saat dia tak berada di sisinya. Ia pun merasa jadi sosok yang berarti.

“Ini masalah serius untukku, Chae!” Yuju bersikukuh.

“Tapi dulu Yunoh masih kecil. Wajar, kan, kalau enggak menyaring perkataannya?”

“Sudah terlanjur percaya kalau aku memang jelek.”

“Dasar keras kepala!” cibir Chaeyeon.

Ponsel yang Chaeyeon kantungi tiba-tiba bergetar. Segera ia meraih benda berbentuk bujur sangkar itu untuk memeriksanya. Manik obsidiannya berbinar saat melihat nama pengirimnya.

 

From : Uri Yunoh

“Bisa ke lapangan belakang? Aku menunggumu di sana.”

“Yuju cantik, aku keluar sebentar, ya?” tandas Chaeyeon seraya mengantungi ponselnya ke dalam saku. Yang dipamiti pun mengernyit heran, namun belum sempat ia bertanya Chaeyeon hendak ke mana, gadis itu sudah keburu melenggang pergi melewati ambang pintu.

Sampailah ia di taman belakang sekolah. Sesuai ekspektasi, Jaehyun ada di sana dan tengah menyedekapkan tangan di depan dada. Pasti ia sudah lama menunggu.

“Yunoh, aku datang!” seru Chaeyeon, kemudian berlari menghampiri pria bersurai kelam itu dengan wajah berseri.

Kedatangan itu disambut dengan senyuman merekah. Saat refleksi itu semakin mendekat, buru-buru ia meraih pinggang Chaeyeon untuk direngkuh. Yang diperlakukan secara tiba-tiba itu pun langsung terbelalak.

“Aku rindu padamu.” bisiknya lembut tepat di telinga si gadis. Sepersekon kemudian tubuh Chaeyeon pun melemas seiring dengan dekapan Jaehyun yang semakin erat.

Perlahan pelukan yang belum sempat Chaeyeon balas itu pun terlepas. Dan sekarang manik keduanya saling bersirobok dengan jarak yang sangat dekat. Apakah Jaehyun akan mengecup bibirnya lagi? Oh, Chaeyeon mohon tidak. Karena kalau sampai itu dilakukan oleh Jaehyun, bisa dipastikan insomnia akan kembali menyapanya seperti malam-malam kemarin.

“Aku juga rindu,” Chaeyeon refleks berucap demikian. Habis mau bagaimana lagi, dia bukan tipikal orang yang mudah menyembunyikan perasaan. “Dan ada banyak hal yang ingin aku bicarakan.” imbuhnya sebelum Jaehyun sempat mengulas senyum tersipu karena mendapati Chaeyeon yang juga rindu padanya.

“Bagaimana kalau kita ke kafe dekat halte?” ajak Jaehyun.

“Tapi, kan, sebentar lagi kau harus latihan…”

“Kan, bisa izin ke Yuju… lagi pula dia juga tahu kalau selama berhari-hari ini aku selalu berlatih keras.” Jaehyun beralibi. Tak ada reaksi lain yang Chaeyeon tunjukkan selain mengangguk dengan polos. Garis lengkung pun merekah dari kedua sudut bibir si pria. Ia meraih kelima ruas jari gadisnya untuk ia genggam.

Tautan itu terlepas saat mereka menyusuri koridor. Meskipun sekolah sudah sepi, tetap saja akan jadi masalah kalau sampai kedapatan berpegangan tangan. Mereka berjalan dengan diselimuti rasa canggung. Oh sungguh, Jaehyun ingin segera sampai ke gerbang agar bisa kembali memegang tangan mungil itu.

Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Kim Ye Ri yang datang dari arah berlawanan. Chaeyeon menebak kalau gadis manis itu baru saja berganti baju – yang awalnya seragam sekolah menjadi kostum pemandu sorak – dan hendak menuju gedung olah raga untuk latihan.

Gadis Jung itu mendapati mata milik Jaehyun dan Yeri yang saling bersirobok untuk beberapa saat. Mereka berdua bergeming, namun tak satu pun dari keduanya yang melanjutkan langkah agar sampai ke tempat tujuan masing-masing.

“Katakan pada Yuju kalau aku enggak latihan, ya, Saengie…” penggal Jaehyun kalem. Sontak dua gadis di sekitarnya pun dibuat terkejut.

Segera Yeri tepis raut melongo yang beberapa milisekon lalu sempat ia tunjukkan. Gadis Kim itu tak bereaksi banyak, hanya sekadar menunduk dan mengiyakan. Ia tetap berada di tempatnya berpijak. Hingga akhirnya Jaehyun sedikit membungkuk dan memberi isyarat pada gadis di sampingnya – yang tak lain adalah Chaeyeon – untuk lanjut melangkah.

Tanpa tedeng aling-aling ia ikut mengangkat tungkainya membuntuti Jaehyun.

“Permisi…” ucap Chaeyeon pada juniornya yang masih betah tertegun itu.

Selama perjalanan menuju kafe, Chaeyeon sama sekali tak membahas tentang kejadian barusan.

“Apa kau marah?” celetuk Jaehyun memecah bungkam.

“Kau pasti sangat akrab dengannya.”

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Terlihat jelas dari caramu memanggilnya, Yun.”

Jaehyun menelan dalam-dalam salivanya, Chaeyeon yang cemberut jauh lebih baik daripada kali ini – bermimik sarkatis.

“Ah, sudahlah… toh, itu hakmu.” tandasnya tiba-tiba dan makin membuat pria jangkung itu kelimpungan. Tiap langkah pun ia gunakan untuk merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya ia memanggil Yeri ‘Saengie’ tepat di hadapan Chaeyeon. Tapi ada bagusnya juga. Dengan bersikap seperti itu, Jaehyun jadi tahu kalau gadis itu bisa merasa cemburu.

Sampailah mereka di kafe tujuan. Chaeyeon menjawab bahwa ia memesan espresso latte saat Jaehyun menanyainya tentang minuman apa yang ingin ia pesan.

Please… dia itu lebih muda dua tahun dari kita. Wajar, kan, kalau aku memanggilnya begitu?” Jaehyun kembali menangkup pergelangan Chaeyeon dengan kesepuluh ruas jarinya. Berharap setelah ini gadis yang tengah menatapnya sebal itu bisa tersenyum teduh seperti biasa.

“Kau berlebihan, Yun. Aku enggak marah, kok.” tandasnya ketus namun tak sama sekali berusaha menepis sentuhan dari pria di hadapannya.

“Ya sudah kalau enggak marah. Syukurlah,” balas Jaehyun. Pemuda itu pun sekonyong-konyong melepas tangan yang ia genggam.

Manik kelam Chaeyeon refleks melotot. Kenapa lelaki itu mendadak bersikap santai dan tak lagi merajuk padanya?

“Jung Yun Oh menyebalkan!” Chaeyeon mengerucutkan bibir karena sebal. Tingkah lucu yang sedari tadi Jaehyun nantikan pun akhirnya ia tunjukkan. Pemuda jangkung itu beranjak dari sofa yang ia duduki. Ia daratkan bokongnya di sofa yang sama dengan Chaeyeon.

Gadis Jung itu makin dibuat heran saat tiba-tiba Jaehyun menangkup pipi tirusnya dengan kedua tangan. “Terus aku harus bagaimana, dong?” si pria meremas apa yang ia tangkup dengan perasaan gemas.

“Memangnya boleh… kalau aku cemburu?” tanya Chaeyeon lirih. Sorotan teduh yang ia pancarkan menggurat seulas senyum takzim di kedua sudut bibir Jaehyun.

“Kenapa tanya seperti itu?”

“Karena aku… bukan siapa-siapa…”

Ucapan polos yang menyiratkan perasaan rendah diri itu langsung ditampik dengan gelengan oleh Jaehyun. Ia dekatkan wajahnya dengan milik Chaeyeon. Secara gemas Jaehyun menggelengkan kepala hingga hidung mereka saling bersentuhan. Jaehyun memejamkan mata dan menikmatinya, lain hal dengan Chaeyeon yang masih betah membuka kedua matanya lebar-lebar.

“Kau adalah hal yang paling berharga untukku, Chae. Kau satu-satunya gadis yang selalu aku tunggu.” kata Jaehyun setelah ia puas memainkan hidung Chaeyeon dengan hidungnya sendiri. Tanpa mengindahkan semburat merah yang perlahan merona di pipi si gadis, Jaehyun pun menimpali ujarannya sendiri dengan sebuah kecupan lembut yang didaratkan pada kening Chaeyeon.

“Kau berhak cemburu, karena aku adalah milikmu.” tandasnya. Raut sendu milik Chaeyeon pun dengan cepat berganti menjadi air muka berbinar. Tanpa ragu ia lingkarkan kedua tangannya di area pinggang Jaehyun dan membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu.

Tiba-tiba ia ingat tentang tujuan awalnya datang ke mari bersama Jaehyun. Hampir saja ia lupa karena terbuai akan suasana romantis yang mereka ciptakan. Perlahan ia lepas rengkuhan itu, mulai menatap manik kelam Jaehyun, dan bersiap memenggalkan frasa.

“Kau harus minta maaf sama Yuju…”

Pemuda itu refleks memicingkan mata, heran mengapa tiba-tiba gadis yang ia sukai itu bicara demikian. Akhirnya Chaeyeon pun menjelaskan pada Jaehyun tentang obrolannya dengan Yuju di gedung olah raga tadi.

“Gara-gara itu dia jadi selalu merendahkan diri.” celoteh gadis cantik itu lagi. Ekspresi melongo tak kunjung sirna dari wajah oval Jaehyun. Masih belum percaya bahwa fakta konyol semacam itu akan terjadi padanya.

“Aku sama sekali enggak bermaksud mencelanya dulu. Kenapa dia memikirkannya dalam-dalam, sih?” sanggah Jaehyun.

“Apapun itu, Yun…”

“Oke, aku akan minta maaf dan coba mengembalikan rasa percaya dirinya.”

“Selamat berjuang,” Chaeyeon menepuk-nepuk pipi bulat Jaehyun dengan lembut seraya memamerkan bulan sabit dari pelupuknya.

.

.

Yuju dibuat cemas oleh ketidaknampakan presensi Seokmin. Ditambah dengan Chaeyeon yang tak kunjung kembali sejak berpamitan hendak pergi sebentar. Namun segera ia tepis rasa kalutnya itu, apa lagi untuk poin kegusaran yang pertama. Apa urusannya dia mencari Seokmin? Ingat, Yuju masih malas menemui si pemilik suara melengking itu.

Seketika ia dikagetkan dengan dorongan keras di punggungnya. Buru-buru gadis itu membalikkan badan untuk menyumpahserapi orang yang barusan memperlakukannya demikian. Ia pun urung mengomel protes tatkala mendapati sesosok pemuda bangir tengah berdiri tepat di hadapannya.

Pupil mokanya melebar saat tiba-tiba pria itu menyodorkan sebuah apel merah dengan kedua tangan.

“Maaf karena telah bersikap kekanakan. Aku ingin kita baikan.”

“Seokmin-a…” gumam Yuju karena masih terkejut dengan tindakan yang Seokmin lakukan. Bukannya tadi lelaki itu mendorongnya dengan kasar? Namun kenapa sekarang jadi berlagak mellow begitu?

“Dimaafkan atau tidak?” tanya Seokmin karena Yuju betah membungkam.

Sejatinya Yuju juga tak ingin bermusuhan dengan sahabatnya itu lama-lama. Kalau tidak ada Seokmin, dia pun merasakan rindu. Bibirnya gatal, ingin menyapa Seokmin dan mengajaknya bicara sejak kemarin. Namun niatan itu tertahan. Hingga akhirnya Yuju mendapat permintaan maaf dari Seokmin terlebih dahulu, terangkatlah sudah beban berat yang sejak beberapa hari lalu memberatkan punggungnya.

Diraihnya buah apel itu dari telapak tangan Seokmin, “Aku ambil apel darimu. Sepertinya manis kalau dilihat dari warna kulitnya.”

Seringai kecil tergurat di wajah Seokmin yang terlihat baru saja mencuci muka. Masa bodoh dengan bagaimana cara Yuju menerima apel pemberiannya. Yang penting ia lega karena mulai sekarang ia sudah baikan dengan gadis itu.

To Be Continued

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman : 60)

Meninggalkan jejak dan memberikan kritik saran setelah membaca juga merupakan sebuah kebaikan. Jangan lupa review ya teman-teman… terima kasih ^^

Advertisements

16 thoughts on “[Chaptered] You Look Yummy (Part 8)

    • Stop your imagination before you get die because jaehyun is such a savage flatterer wkwkwk
      Makasih ya udah baca dan komen ~ tunggu besok kalo ga ada halangan(?) Aku post chapter 9 ^^

      Like

  1. Aih, ini chap OKE banget! Tambah cinta deh sama Jahe 😀 Chap selanjutnya cepet-cepet di post dong, biar ngga penasaran tingkat dewa :v *maksa
    Ohiya, FF ini tiap lewat berapa hari di post min ? Biar ngga ketinggalan, mohon dijawab ya min 😉

    Like

    • Serius nih oke? XD aku malah makin sayang sama chaeyeon pas nulis ini masa wkwkwk
      Aslinya part 1 – 6 tuh aku post tiap selasa & jumat. Tapi sejak tugas padet jdi cuma seminggu sekali posting. Kalo ga hari selasa ya rabu, hehehe… tunggu ya, besok chapter 9 aku post kalo ga ada halangan (?)
      Makasih ya udah baca & komen ^^

      Like

  2. Akhirnya tau alasan yuju kok gitu😂,, ternyata… Jaehyun mungkin dulu ngomongngnya pas dia emosi, jadi main cetus aja. Tapi yg namanya cewek, walau gimana hatinya ttepl embut😥
    Btw, cewek satu satu kelas pernah suka sama jaehyun😂😂 wkwkwk gk kaget sih. Kalo gw pun juga pasti naksir juga! Walaupun itu diam2😅

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s