[Ratification Collabs] Heart of Steel

anigifb

Heart of Steel

Written by Angela Ranee feat Berly © 2016

| Starring : [NCT’s] Johnny Seo, [OC’s] Leta Arden, [OC’s] Mackenzi Lee | Genre : AU! Sci-fi, Dystopia, Angst, Friendship, Romance, Complicated, Fluff, Drama.| Duration : (5300+words) Oneshot | Rating : PG |

Backsound recommended : Ariana Grande – Touch It & Hard-fi – Move On Now. (Sangat direkomendasikan untuk memutar lagu tersebut seraya membaca).

We just own the plot! Happy reading ^^!

.

“Kenzi, tidakkah kau menyadarinya? Setelah kupikir-pikir lagi, Johnny memiliki perasaan yang sama seperti hati manusia! Apa kau tidak janggal dengan semua hal itu, sementara harusnya ia adalah robot khusus perang yang mempunyai hati dari seekor simpanse?!”

***

Satu.

Secangkir kopi hitam yang masih mengepul asapnya diletakkan oleh Mackenzi di atas meja kerja Leta yang terlihat berantakan. Gadis yang usianya baru menginjak seperempat abad bulan lalu itu menghela napas sebelum berucap, “You need a rest.”

Me?” tanya Leta tanpa mengalihkan atensinya dari kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

“Menurutmu ada siapa lagi selain kau di sini?” Mackenzi bersedekap. “This is unhealthy. Kapan terakhir kali kau keluar dari laboratorium?”

Umm, kemarin? Kemarin aku harus menemui Presdir Connel.”

“Maksudku, keluar dan menghirup udara segar.”

“Entahlah, lupakan saja, Dear. Kurang beberapa persen lagi dan proyek ini rampung, kemudian kita bisa mengambil liburan selama berbulan-bulan.”

Mackenzi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan wanita yang lebih tua tiga tahun darinya tersebut. Prof. Dr. Leta Arden adalah salah satu ilmuwan muda yang keahlian dan kepandaiannya sudah diakui oleh negara. Kini, ia tengah bekerja untuk proyek pembuatan robot android dengan bentuk fisik serupa manusia. Robot tersebut nantinya akan digunakan untuk membantu armada militer dalam Perang Dunia III yang pecah di antara negara-negara besar dunia.

Butuh waktu hampir setahun bagi Leta untuk menyelesaikan proyek ini, dari penelitian, perancangan, hingga proses pembuatan robot itu sendiri. Bila proyek ini berhasil, dipastikan robot ciptaan Leta akan diproduksi secara massal. Leta akan mendapatkan hak paten pula bayaran yang tidak sedikit nantinya. Bahkan kalaupun proyek ini gagal, bayaran yang Leta dapatkan tetap terbilang menggiurkan.

Okay, get ready for something fantastic!” Leta menepuk tangannya satu kali sebelum beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati robot buatannya. Robot laki-laki tersebut benar-benar tampak seperti manusia! Rambutnya tidak kaku, pun kulitnya tak tampak seperti terbuat dari silikon. Proporsi wajah dan tubuhnya sendiri didesain oleh Mackenzi, dan Leta harus mengakui kalau robotnya terlihat tampan.

Please, jangan biarkan aku gagal,” gumam Leta sembari menepuk kapsul besar yang terbuat dari kaca di mana di dalamnya terdapat robot tersebut. Di sekitarnya terdapat banyak kabel yang terpasang di bagian-bagian tertentu tubuhnya.

Leta mulai mengutak-atik flying monitor besar di sebelahnya, sementara Mackenzi memanjat doa dalam hati. “Please … ” bisik Leta sekali lagi sebelum menekan ikon ‘activate’ berwarna merah. Butuh beberapa detik selama proses pengaktifan robot, namun rasanya seperti bertahun-tahun bagi Leta dan Mackenzi.

Bunyi ‘kling’ yang cukup nyaring membuat keduanya tersentak sebelum ruangan laboratorium kembali sunyi. Leta dan Mackenzi pun saling bertukar pandang, hingga Mackenzi mendesiskan satu umpatan. “Sial, bagaimana kalau ini—”

Activating the robot, done.” Terdengar suara pria asing yang berasal dari robot itu sendiri. Leta menekan sebuah tombol untuk membuka kapsul tersebut, menahan napas ketika robot tersebut membuka mata dan mengerjapkannya beberapa kali.

“H-Halo?” tanya Leta sembari melambaikan tangan di hadapan paras robot ciptaannya dan asistennya. “Kau bisa lihat aku? Bisa dengar? Oh, kau bisa bicara, tidak?”

“Leta, dia, ‘kan, baru saja bangun,” tegur Mackenzi. “Dia pasti masih butuh sedikit proses untuk berpikir dan beradaptasi.”

Bukannya menjawab, robot tersebut malah mendudukkan diri di atas meja tempat ia terbaring sebelumnya, membuat sehelai kain hijau toska yang sebelumnya menutupi seluruh badannya melorot hingga ke pinggang. Mackenzi mengumpat untuk kedua kalinya. “Damn, kita harus belikan dia pakaian!”

“Apa? Dia, ‘kan, cuma robot!” balas Leta sembari tersenyum usil kepada Mackenzi yang sibuk membenahi kain tersebut. “Ck, kau harus segera cari pacar sebelum kau jatuh cinta pada robot.”

“Siapa yang jatuh cinta sama robot?!” protes Mackenzi. “Aku masih wa—”

“Kalian siapa?”

Keduanya mengalihkan atensi mereka pada sang robot yang sempat terabaikan. Ia menelengkan kepala dengan gestur yang terlihat agak kaku. “Apakah kalian merupakan sebuah ancaman?”

“Hei, kau kurang ajar juga, ya?” dengus Mackenzi. “Aku menghabiskan hampir setahun untuk mengurusimu, tahu! Bagaimana bisa kau menganggap kami merupakan sebuah ancaman?”

“Kau gila, ya?” cibir Leta. “Robot mana bisa dimarahi seperti itu? Lagipula dia ini memang diciptakan untuk perang, makanya tingkat kewaspadaannya tinggi.”

Leta menatap robotnya dan mengulas senyum. “Kami bukanlah sebuah ancaman, justru kami merupakan penciptamu,” ucapnya. “Hai, aku Prof. Dr. Leta Arden. Ini asistenku, Dr. Mackenzi Lee. Maaf, ya … sepertinya terlalu banyak keluar-masuk laboratorium membuatnya jadi jenuh dan agak stress.”

Mackenzi hanya memutar bola mata, sementara Leta kembali melanjutkan celotehannya. “Bisa kau sebutkan kembali siapa namaku dan nama asistenku?”

“Le-ta-Ar-den. Mac-ken-zi-Lee.”

Oh, dan bisakah kau menirukan ucapanku tadi?”

“Hai, aku Prof. Dr. Leta Arden. Dan ini asistenku, Dr. Mackenzi Lee. Maaf, ya … sepertinya—”

“Oke, oke, cukup. Sekarang gerakan tanganmu seperti ini,” Leta mengangkat tangan kanannya perlahan ke depan dan diikuti oleh robot itu. “Hmm, masih sedikit kaku, ya? Nanti juga kau bakal jadi lebih luwes. Sekarang, mari kita berikan nama untukmu. Kenzi, give me a good name for this guy.”

It’s not a guy, Leta. It’s a robot,” koreksi Mackenzi. “Apa, ya … Johnny?”

“Tidak ada nama yang lebih mainstream lagi dari itu?” ledek Leta.

“Jo-hn-ny,” ulang sang robot. “Aku suka nama Johnny.”

Mackenzi terkekeh pelan. “See? Dia bahkan menyukai nama barunya, Nona Arden.”

Leta memutar bola mata sembari menghela napas pasrah sejemang. “Fine. Mulai sekarang namamu Johnny, oke?” Leta pun kembali tersenyum kepada robotnya.

Johnny kemudian ikut mencoba melebarkan sudut senyumannya dengan kaku,  terlalu lebar, hingga membuat gigi putihnya yang rapi tampak sangat jelas—bak tirai broadway yang tengah terbuka untuk memperlihatkan sesisi panggung—pembelajaran baru yang didapat Johnny lewat penglihatannya atas senyuman cantik Leta juga Mackenzi di hadapannya. Dan perilaku Johnny barusan sukses membuat Leta dan Mackenzi jadi tertawa lucu.

Look, even he can smile with us right now, incredible, ” kata Leta, yang direspon oleh anggukkan kepala juga kekehan Kenzi. Johnny pun ikut mengeluarkan suara kekehannya, suara yang terdengar sangat renyah dan lucu itu kini membaur bersama tawa kedua gadis tersebut.

Laugh with us too, Leta!” tambah Mackenzi, lantas justru semakin membuat kedua gadis itu terbahak karena kelucuan tingkah robot baru mereka.

.

.

.

“Kalian mau ke mana?” tanya Johnny, pupilnya mengikuti setiap pergerakan yang dilakukan oleh Leta dan Mackenzi. Ditambah penampilan Johnny juga sudah rapi dibalut oleh pakaian baru anak muda laki-laki zaman sekarang. Kaos putih polos dan jeans biru yang dikenakannya membuat robot itu jadi terlihat bergaya bak seorang model.

“Pulang,” jawab Mackenzi singkat.

“Pulang ke mana?”

“Rumah.”

“Rumah?” tanya Johnny lagi. “Jadi ini bukan rumah?”

Umm, bukan?” Mackenzi meringis. “Ini adalah tempat kerja kami.”

Oh,” Johnny terdiam sebentar. “Apa aku akan ikut dengan kalian?”

“Sepertinya … tidak,” jawab Mackenzi seraya mengerutkan kening.

“Tapi aku tidak mau sendirian di sini,” kata Johnny.

Mackenzi melirik Leta yang balas menatapnya bingung. “Johnny, besok pagi kami akan kembali lagi ke sini,” ucap Leta.

“Aku mau ikut kalian,” Johnny menggeleng pelan. Nada bicaranya memang terdengar selalu datar, namun Leta bisa melihat jelas kesedihan di sepasang manik cokelatnya. “Sendirian itu tidak enak,” lanjutnya.

Leta kembali melempar tatapan bingung kepada Mackenzi seraya berucap tanpa suara, “Kok dia bisa tahu itu, sih? Dia, kan, robot?!”

Uh, oke. Mackenzi akan membawamu pulang, bagaimana?”

Why me?!” protes Mackenzi pada Leta. “Prof. Dr. Arden, aku tidak bermaksud menghindar tetapi adik sepupuku sedang ada di rumah menginap malam ini, dia bandel sekali dan aku tidak akan bertanggung jawab kalau besoknya Johnny kembali ke sini dalam keadaan rusak. Lagipula besok juga aku sibuk karena ada pertemuan dengan Dr. James.”

“Jadi aku yang harus membawanya pulang malam ini?”

“Menurutmu siapa lagi? You’re the main creator, I’m just your assistant.”

Leta mendengus, “Okay, okay! Begini saja,” Leta sedikit mendekatkan dirinya kepada Mackenzi, agar Johnny tak terlalu dapat menjangkau suaranya, “karena aku juga sibuk mengurus ini-itu; satu malam di rumahku, satu malam di rumahmu. Adil, bukan? Untuk malam ini, Johnny akan ikut denganku. Lalu besok malam, Johnny ikut denganmu, bergilir begitu seterusnya. Hanya sekitar semingguan, kok, kita bergilir mengurusnya seperti ini. Sampai aku membuat kesepakatan mutlak dengan Presdir Connel untuk menentukan hari-H—hari pertemuan kita dengannya mempresentasikan Johnny secara langsung. Kau tahu sendiri, ‘kan, kalau Mr. Connel baru saja sampai di Tiongkok sore tadi, dan aku tidak mau mengganggu waktu istirahatnya setelah terbang jauh ke daratan Asia? Jadi kurasa tentang kehadiran Johnny, kau harus merahasiakannya dulu darinya selama seminggu ke depan, sampai ia kembali lagi ke USA dengan selamat, agar terlihat seperti … ‘a little surprise’ untuknya, mungkin, bagaimana?”

Mackenzi terlihat berpikir, menimang-nimang sejemang bahwa ada benarnya juga ucapan panjang kali lebar milik Leta. Lantas pada akhirnya gadis berparas campuran Asia itu pun mengangguk menyetujui penawaran gadis bersurai pirang dan berwajah manekin—Leta—yang bisa dibilang, well, cukup adil juga baginya.

Okay, deal!” Leta tersenyum senang, kemudian kembali menoleh ke arah Johnny yang masih terduduk anteng di meja tempatnya biasa terbaring. “Johnny, let’s go, we’re going home now!”

***
Hari kedua, setelah aktifnya Johnny sebagai robot.

“Leta.”

Leta tersentak mendengar suara bariton Johnny. Bertahun-tahun tinggal seorang diri membuatnya belum terbiasa dengan kehadiran orang lain di apartemennya. Oh, bukan orang lain, melainkan sebuah robot.

“Kau sedang apa?” tanya Johnny setelah mendudukkan diri di samping Leta. Jujur saja, melihat cara duduk Johnny yang terlalu tegak membuat Leta geli.

“Menonton film,” jawab Leta singkat. “Uh, kau tahu, John? Sebenarnya kau tidak perlu duduk seperti itu.”

“Maksudnya?” tanya Johnny lagi.

“Kau bisa bersandar pada sofa sepertiku,” Leta menunjuk dirinya sendiri, kemudian tersenyum ketika Johnny mulai melemaskan tubuhnya dan meniru posisi duduk Leta. “Ya, seperti itu, Johnny.”

“Rasanya nyaman,” ucap Johnny, kemudian mengalihkan atensinya pada layar kaca yang tengah menayangkan film bertitel “The Longest Ride”. “Leta, boleh aku ikut menonton bersamamu?”

“Boleh,” jawab Leta sembari terkekeh pelan.

“Mengapa kau tertawa?” tanya Johnny bingung.

Because you’re cute?” Leta menaikkan sebelah alis. “Lupakan. Ayo tonton filmnya.”

Sekadar informasi, film yang mereka tonton bukanlah tipikal film yang membuatmu sakit perut karena terlalu banyak tertawa atau film sains-fiksi yang membuatmu harus banyak berpikir menggunakan logika. Air mata Leta meleleh di pertengahan film, tetapi bahunya berjengit kaget ketika didengarnya suara isakan yang jelas bukan miliknya.

“Filmnya mengharukan,” komentar Johnny sembari terisak. Atensinya masih tersita oleh film yang belum rampung, wajahnya tanpa ekspresi, dan ia tidak berhenti terisak meski sepasang maniknya tidak mengeluarkan air mata.

“Darimana kau tahu?” tanya Leta sembari menghapus air matanya. Johnny, kan, robot, bagaimana bisa ia tahu kalau film itu mengharukan?

“Entahlah,” Johnny mengangkat bahu dengan polos. “Tapi filmnya mengharukan.”

Leta mengulum senyum dalam diam, tidak tahu apakah ia harus bangga atau heran dengan robot ciptaannya. Johnny terlalu ‘manusiawi’ untuk disebut sebagai robot. Johnny memang tidak memiliki perasaan seperti manusia, sehingga semua yang ia lakukan selalu berdasarkan oleh insting semata. Tetapi yang tidak Leta mengerti, bagaimana bisa insting Johnny sebegitu manusiawinya terhadap apa yang orang lain rasakan dan terhadap hal-hal lain di sekitarnya.

Meski di sisi lain Leta berpikir, insting Johnny yang terlalu peka bisa jadi cukup berbahaya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

***
Hari ketiga, setelah aktifnya Johnny sebagai robot.

Sebenarnya alasan Mackenzi yang ‘di rumahnya sedang ada keponakan bandel’ kemarin itu, hanya kicauan mengada-adanya saja kepada Leta. Mackenzi tidak terlalu suka bila di rumahnya ada orang lain, sekalipun itu orangtuanya, atau kakak-adiknya yang kadang bertandang untuk mampir sebentar. Ia jauh lebih suka ruang lingkup rumah yang tenang. Sampai di mana semua kata ‘tenang’ harus lenyap, ketika mendengar celoteh dari mulut Leta yang mengharuskannya untuk membawa dan merawat seonggok robot tak bernyawa itu kemari. Kenzi harus rela mengorbankan detik ketenangannya, demi menjaga Johnny untuk tinggal di sini selama beberapa waktu—karena Leta sibuk besok pagi. Setidaknya Kenzi harus tahan mengurus Johnny hingga keputusan ‘hari-H’ untuk mempresentasikan Johnny kepada Mr. Connel dicetuskan oleh Leta.

Oh, tolong cabut kembali pemikiran Mackenzi yang tentang ‘Johnny adalah seonggok robot tak bernyawa’, nyatanya setelah Johnny melongok polos ke sana-kemari—menyusuri seluruh penjuru ruang apartemen Kenzi—demi menyesuaikan diri di lingkungan baru lewat indra penglihatnya, Johnny kini malah bersandar santai di sofa Kenzi, sembari membaca sebuah majalah lama berisi desain eksterior-interior rumah, ditambah, jangan lupakan kaki robot itu yang menyilang rapi bak seorang presdir baru. Mackenzi mengangkat alis kirinya ke atas karena merasa heran dengan kelakuan Johnny yang sudah tampak seperti manusia sungguhan.

Well, meski mulut Johnny tidak berisik dan tidak menganggu Kenzi detik ini, namun Kenzi yakin sekali kalau tingkah laku Johnny yang sekarang lebih mirip seperti; tingkah laku seorang Leta Arden yang sedang berada di apartemen pribadinya sendiri, setidaknya itulah yang Kenzi ketahui tentang kebiasaan Leta setelah mengenalnya kurang-lebih setahun sebagai partner kerja.

Johnny pasti sudah belajar banyak hal baru dari kebiasaan Leta selama semalam ia tinggal di sana. Sungguh … mengagumkan? Batin Kenzi sedikit merasakan kecanggungan.

“Johnny, jika kau merasa susah bergerak, segera katakan padaku. Aku akan memberimu asupan oli baru ke dalam tubuhmu supaya kau bisa bergerak leluasa lagi, ok?”

Okay.” Johnny tersenyum ceria lalu mengacungkan jempol kanannya kepada Kenzi sebagai jawaban.

Gadis itu agak melebarkan kedua matanya tak percaya, Johnny benar-benar berkelakuan persis seperti Leta! Di detik berikutnya, Mackenzi memutuskan untuk memaklumi serta hanya menganggap presensi Johnny sebagai kembaran baru dari seorang Leta Arden.

“Aku besok pagi akan berbelanja ke mini market, kau mau ikut, atau menunggu di sini saja sampai aku pulang?” Mackenzi duduk di sofa sebelah Johnny, melirik Johnny seraya memakan buah apel yang telah digenggamnya.

“Aku ingin ikut Kenzi, tidak ingin sendirian.” Melihat senyuman pun kepala Johnny yang mengangguk, membuat Mackenzi kembali tersenyum mengerti.

“Baiklah, kau tidak mau kalau sendirian, benar? … Aku tahu itu.”

Robot yang sering tersenyum lebar dan tidak suka sendirian mana terlihat cocok untuk keperluan berperang? pikir Kenzi agaknya merasakan setitik kejanggalan yang merangsang otak. Apakah itu artinya robot perang buatan Leta benar-benar gagal? Gagal karena ulahku? Batin Kenzi seraya menatap mata kecokelatan milik Johnny.

“Memangnya, kau tahu apa itu ‘belanja’?”

“Be-lan-ja … apa itu?”

Mackenzi terkekeh karena ternyata Johnny belum tahu apa itu arti kata ‘belanja’, haruskah gadis itu mengajari Johnny tentang definisi kata ‘berbelanja’ untuk robot? “Belanja atau berbelanja, berarti membeli stok barang. Contohnya seperti … membeli oli untuk kau minum, dan membeli energi untuk kebutuhan tenagamu sehari-hari, John.”

Mulut Johnny membuka membentuk kata ‘ah’ pertanda mengerti. Meski penjelasan istilah dari Kenzi terdengar aneh untuk telinga manusia biasa, tapi bagi robot seperti Johnny, penjelasannya sudah lebih dari kata ‘cukup jelas’.

***
Hari keempat, setelah aktifnya Johnny sebagai robot.

Contoh insting peka Johnny terhadap sekitarnya, yaitu; pada suatu sore ada seekor kecoa di dinding kamar Leta dan sontak membuat gadis itu memekik kaget. Ia memekik untuk kedua kalinya ketika sepasang mata Johnny berubah warna menjadi merah nyalang dan ketika ia melayangkan kepalan tangan kanannya untuk meninju tembok.

Leta hanya bisa melongo melihat dinding kamarnya yang berlubang, pun tangan kanan Johnny yang hancur. Johnny menoleh kembali ke arah Leta, maniknya tidak lagi berwarna merah.

“A-Apa yang kau lakukan barusan?!” tanya Leta sedikit takut pun masih terkejut.

“Kau merasa terancam oleh benda itu,” jawab Johnny dengan nada polos seraya menunjuk seekor kecoa yang sudah tidak bernyawa lagi. “Sesuatu yang membuat orang lain merasa terancam atau berada dalam bahaya harus dimusnahkan,” ujar Johnny lagi.

Kalimat tersebut membuat Leta kembali teringat akan sesuatu. Johnny ia ciptakan untuk keperluan perang. Instingnya selalu membuatnya berpikir bahwa apapun yang terlihat mengancam dan membahayakan harus dihancurkan sesegera mungkin. Selain itu, karena Johnny diciptakan untuk perang, Leta membuatnya menjadi robot dengan kekuatan cukup besar untuk menghancurkan sesuatu.

“Kita harus memperbaiki tanganmu.” Leta mengulurkan jemarinya untuk menyentuh kabel-kabel yang terlihat bagai jalinan otot di tangan kanan Johnny. Johnny berjengit, seolah-olah dirinya merasakan sakit ketika Leta menyentuh kabel di tangan kanannya.

Leta menghela napas lelah. “Kita ke laboratorium sekarang, John. Aku akan telepon Kenzi.”

.

.

.

He’s dangerous,” komentar Mackenzi seusai memperbaiki tangan kanan Johnny yang remuk. Gadis itu menatap Johnny yang terbaring di atas sebuah meja operasi dalam kondisi nonaktif sembari bersedekap.

Well, kita memang menciptakan Johnny untuk dijadikan robot perang, tapi kita tidak menyangka kalau ternyata kekuatannya bakal sebesar itu, dan struktur tubuh yang dimilikinya tidak sesuai dengan apa yang negara inginkan. Aku sudah salah mengira, harusnya kali ini kita berhasil, tapi anehnya … masih tak sesuai perhitungan. Artinya, ada sebuah kegagalan dalam Johnny,” jelas Leta.

“Kegagalan? Maksudmu?” tanya Kenzi dengan raut agak cemas.

“Kenzi, tidakkah kau menyadarinya? Setelah kupikir-pikir lagi, Johnny memiliki perasaan yang sama seperti hati manusia! Apa kau tidak janggal dengan semua hal itu, sementara harusnya ia adalah robot yang hanya dikhususkan untuk perang dan mempunyai hati dari seekor simpanse?!”

“Yeah, well, aku menyadarinya. Bukankah hati seekor simpanse memang tak jauh berbeda dengan hati milik manusia, uh?” Mackenzi kini memasang ekspresi wajah polosnya.

“Ya, kau benar. Tapi sepertinya ada yang salah di sini, seharusnya ia tidak bersikap seperti manusia, melainkan bertingkah seperti simpanse? Kekuatannya tidak hanya bisa membahayakan orang lain, tetapi juga dirinya sendiri,” gumam Leta khawatir. “Kenzi, bisakah kita membatalkan kontrak dengan Presdir Connel?”

“Apa?” Mackenzi mendengus geli. “Tolong katakan padaku bahwa yang barusan kau ucapkan itu adalah sebuah lelucon.”

Leta hanya membalas dengan gelengan kepala. “Kita harus membatalkan kontrak dengan Presdir Connel, sehingga kita tak perlu menyerahkan Johnny padanya.”

“Kau benar-benar gila, Nona Arden,” Mackenzi tersenyum miring. “We’ve spent a goddamn year to create him! Dan setelah proyek ini berhasil, kau mau mundur begitu saja? Pikirkan akan semua yang telah kau korbankan demi Johnny! Waktu, tenaga, biaya … Well, soal biaya memang ditanggung oleh Presdir Connel, jadi aku tidak berpikir kalau ia bakal setuju soal pembatalan kontrak. Lagipula, kau sendiri yang menyuruhku untuk mencarikan sebongkah hati simpanse untuk dipasangkan di robot pertama kita, setelah katamu berbagai percobaan dari hati binatang lain sama sekali tidak membuahkan hasil, bukan?”

“Aku tahu itu, Kenzi. Kupikir dengan begitu, penalaran robot buatan kita akan jauh lebih bisa merasakan insting ancaman yang datang dengan cepat. Tapi tampaknya aku sudah salah perhitungan, ia malah bersikap layaknya manusia. Please, kita harus batalkan perjanjian itu, atau membuat robot baru dan mengalihkan robot ini sebagai ‘kegagalan’. Johnny tidak tahu apa yang ia lakukan,” ujar Leta sembari menyugar rambutnya dengan kasar. “He does everything only based on his instinct—from his heart! But deep down, he’s just an innocent kid who knows nothing about this goddamn cruel world! Kita bisa membatalkan kontrak dan menjadikan Johnny sebagai—“

“Pacar?” potong Mackenzi.

“—teman,” koreksi Leta. “Dia bisa jadi teman yang baik.”

Mackenzi tertawa sarkastik. “Leta Arden, Leta Arden, kupikir kau adalah manusia paling waras di negara yang serba kacau ini,” komentarnya sinis. “Kalau ada seseorang yang terbawa perasaan karena seonggok robot bodoh, itu adalah dirimu, Nona Arden! Lagipula, jika kita membuat robot baru lagi untuk percobaan, kali ini kau ingin menggunakan hati apa untuk membuat seperangkat robot yang baru? Oh, apa dari hati kecoa yang sudah mati tadi oleh tangan Johnny, hingga aku harus mengotopsi tubuh kecoa itu dulu untuk dijadikan bahan robot baru kita dalam waktu yang singkat? Yang benar saja. Perang kapan saja bisa terjadi mendadak, Leta, pikirkan negara ini!”

“Persetan dengan negara ini! He’s not just an ordinary robot, for God’s sake! Dia punya hati simpanse yang kau berikan. Ya, hati itu bekerja padanya lebih dari seekor simpanse—seperti manusia, dan aku tidak tega bila harus membuatnya kebingungan dalam dunia yang kacau ini. Kau tidak mengerti, Mackenzi! Kau tidak mengerti tentang hatinya!”

He is an ordinary robot!” balas Mackenzi. “He’s a goddamn machine! Just a machine! Dan kita bisa dapat uang karenanya! Kalau kau tidak tega, harusnya kau tidak usah membuat penemuan, tidak usah menjadi ilmuwan sekalian!” ketus Kenzi. “Meski memang ia mempunyai hati seperti manusia, aku yakin seiring berjalannya waktu dia bisa menjadi robot perang bila dilatih.”

“Hanya uang yang kau pikirkan? Di mana nalurimu sebagai manusia?”

“Menurutmu? Kalau Connel sialan itu tidak menjanjikan upah yang sebegitu besar, aku takkan sudi menghabiskan setahun berharga ini berkutat dalam laboratorium membosankan bersama ilmuwan gila sepertimu!”

Leta terdiam sejenak. Apakah Leta telah salah dalam bersikap kepada robot buatannya sendiri? Memang benar kata Kenzi, sangat benar, bahwa seharusnya ia tidak boleh punya sikap ‘tidak tega’ atau ‘menaruh rasa’ untuk ‘seonggok robot’, tapi … Johnny berbeda, dan Leta tahu perbedaan itu. Johnny memiliki hati manusia, bukan hati dari seekor simpanse.

Menyadari bahwa dirinya lebih tua dari Mackenzi, Leta rasa ia harus mengalah, dan memantapkan keputusannya yang sudah bulat; Johnny tidak bisa dijadikan sebagai robot perang, meski ada kemungkinan lain bila membiarkan Johnny dilatih dan mengenakan pakaian perang baja di tubuhnya, tapi tetap saja itu tidak bekerja untuk hati di dalamnya; hati Johnny bagaikan hati seorang bayi yang terlalu lembut juga rapuh. Leta Arden tidak ingin menyakiti hati Johnny hingga sejauh itu. “Oke, kalau memang menurutmu seperti itu,” ucapnya. “You can leave, Dr. Lee.”

Kenzi menggeleng-gelengkan kepala sembari terkekeh. Gadis itu melepas jas laboratnya dan melemparkannya ke atas meja kerja Leta kemudian mengambil tasnya sembari berucap. “Well, well, good luck, Prof. Dr. Arden.”

***
Hari ketujuh, setelah aktifnya Johnny sebagai robot.

“Jadi maksudmu, proyek yang telah kau kerjakan selama setahun terakhir ini gagal?”

“Saya sangat menyesal, Presdir. Tetapi saya harus mengakui bahwa saya telah benar-benar gagal kali ini. Sistem yang saya buat tidak bekerja sesuai ekspektasi dalam robotnya, kendati saya sudah berusaha untuk menemukan dan memperbaiki kesalahannya.”

Sebastian Connel melepas kacamata bacanya dan bersandar pada punggung kursi sembari menatap Leta datar. “Jujur saja, hal ini sangat disayangkan,” ucapnya. “Prof. Dr. Arden, saya selalu bangga kepada Anda. Bagi saya, Anda adalah aset paling berharga milik negara di tengah semua kekacauan yang terjadi ini. Saya tidak bisa berbohong bahwa kegagalan yang Anda alami turut mengecewakan saya.”

“Maafkan saya, Presdir,” Leta menunduk penuh sesal.

“Saya bisa memahaminya. Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan, bukan?” pria paruh baya itu tersenyum tipis. “Kira-kira apa yang akan Anda lakukan setelah ini?”

“Saya akan mundur dari pekerjaan saya dan merekomendasikan Dr. Mackenzi Lee selaku asisten saya untuk menggantikan posisi saya.”

“Dr. Mackenzi Lee,” ulang Sebastian. “Rekomendasi bagus. Akhir-akhir ini saya juga berpikir untuk menggantikan Anda dengan Dr. Lee, terlebih setelah mengetahui bahwa Dr. Lee memiliki tingkat kejujuran lebih tinggi daripada Anda.”

Leta menatap Sebastian penuh tanya. Ujung bibir pria itu berjengit, mengulas senyum miring yang membuat Leta seketika disergap perasaan tidak nyaman. “M-Maaf?”

“Leta Arden, jangan Anda kira saya tidak tahu,” ucapnya. “Anda bekerja untuk negara dan berada di bawah pimpinan saya. Jangan Anda kira saya akan melepaskan Anda begitu saja setelah saya memberikan tugas yang begitu besar kepada Anda.”

Wanita itu masih menatap Sebastian bingung, hingga sang presdir berucap, “Saya tahu Anda telah menipu saya. Proyek Anda berhasil, tetapi Anda keberatan untuk menyerahkan hasil pekerjaan Anda dan hendak membatalkan kontrak, benar begitu?”

Belum sempat Leta menanggapi, pintu ruangan Sebastian terbuka lebar sementara beberapa orang pengawal pribadi Sebastian berbondong-bondong masuk dalam barisan, tapi bukan itu yang mengagetkan Leta. Melainkan, ada Johnny dan Mackenzi di antara mereka.

“T-Tunggu dulu. Apa yang terjadi?” tanya Leta.

“Bukankah seharusnya saya yang bertanya kepada Anda? Apa yang terjadi, Nona Arden?” Sebastian bertanya balik.

Jantung Leta serasa mencelos hingga ke dasar perutnya. Mackenzi dan Johnny sama-sama menatapnya datar, namun Leta bisa melihat sekelebat rasa bersalah di sepasang manik Mackenzi.

“Leta,” panggil Johnny sembari berjalan keluar dari barisan pengawal Sebastian dan mendekati Leta yang masih terpaku bak patung. “Mackenzi bilang mau membawaku jalan-jalan tadi pagi, tetapi ia malah membawaku ke laboratorium asing. Kemudian aku bertemu dengan orang-orang berbaju hitam ini di sana. Katanya, aku akan dilatih untuk berperang.”

“John,” dada Leta terasa sesak, seperti ada batu dengan berat ratusan ton yang menghimpit di sana. “Aku—”

“Mereka bilang mereka mau membawaku pergi darimu,” lanjut Johnny. “Aku tidak tahu ke mana, tapi kurasa aku tidak akan pergi ke tempat yang bagus.”

Leta tidak tahu sejak kapan air mata menganaksungai di kedua pipinya. Kedua tangannya yang bergetar bergerak untuk mengusap bahu tegap Johnny. “Maafkan aku,” ucapnya lirih. “Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang.”

“Kenapa?” tanya Johnny. “Kau selalu bisa melakukan banyak hal, Leta. Kau pintar, kau pasti bisa melakukan sesuatu, ‘kan?”

“Tidak, tidak, bukan begitu,” Leta memaksakan seulas senyum getir. “Aku pintar, tapi aku melakukan hal bodoh dan salah. Dan sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Johnny masih menatap Leta penuh tanya, sebelum tangannya bergerak untuk mengusap air mata Leta. “Kenapa kau menangis?” tanya Johnny lagi. “Kita tidak sedang menonton film sedih, seharusnya kau tidak menangis.”

No, I’m okay,” sahut Leta. “Pergilah bersama mereka, Johnny.”

“Tidak mau,” Johnny menggeleng. “Mereka tidak sepertimu, Leta.”

“Ada Mackenzi bersamamu.”

“Aku-tidak-suka-Mackenzi.”

“John, please … ”

Sebastian menghela napas, sebelum menepuk tangannya satu kali dan memberi instruksi, “Bawa robot itu dan Dr. Lee keluar.”

Leta hanya bisa terdiam dalam pilu kala dua pengawal Sebastian menarik Johnny menjauh. “Leta, ayo ikut bersamaku,” kata Johnny, yang mana hanya membuat Leta semakin tersedu-sedu.

I can’t,” Leta menggeleng pelan. “Just go and promise me one day you will come back ‘alive’.”

.

.

***

***

Dua.

.

“Persetan dengan negara ini! He’s not just an ordinary robot, for God’s sake! Dia punya hati simpanse yang kau berikan. Ya, hati itu bekerja padanya lebih dari seekor simpanse—seperti manusia, dan aku tidak tega bila harus membuatnya kebingungan dalam dunia yang kacau ini. Kau tidak mengerti, Mackenzi! Kau tidak mengerti tentang hatinya!”

.

Tentu saja aku tahu betul tentang hatinya. Ya, tentang ‘hati’ Johnny. Bahkan lebih daripada perasaan milik Leta yang sangat mengkhawatirkan Johnny kala itu. Jauh sebelum Leta kenal hati Johnny, aku sudah lebih dulu mengenalnya. Mulai dari; kedua tangan ini yang membedah tubuhnya, lantas aku bisa dengan jelas menyentuh dan merasakan struktur lembut organ hatinya. Kemudian, tentang sikap Johnny yang lembut dan penuh cinta kasih padaku ketika Johnny masih hidup sebagai manusia di dunia. Juga perihal ketegasannya dalam bertindak ketika ia berada dalam bahaya untuk melindungi diri, ataupun melindungiku sebagai orang yang dikasihinya. Aku tahu semua. Leta salah besar bila mengatakan bahwa aku tidak mengerti apapun tentang ‘hati’ Johnny. Tentang seorang ‘Johnny Seo’.

Semuanya berawal dari kebimbangan dan ketakutanku pada kenyataan bahwa, kala itu Johnny Seo mutlak dinyatakan meninggal dunia, karena penyakit yang dideritanya telah menggerogoti hampir seluruh organ-organ di dalam tubuhnya, yang tersisa hanyalah organ hatinya. Aku tentu tidak ingin kehilangannya, juga cintanya, maka dari itu … kubelah dadanya sebelum semua terlambat—bersama bulir air mata yang mengalir deras, lalu kuambil hatinya untuk kuawetkan dalam tabung laboratorium pribadiku. Aku hanya ingin melihat hatinya tetap utuh dan hidup menemaniku di dunia. Hanya itu. Dengan begitu, hatiku akan tenang.

Sampai di suatu hari, sepuluh tahun kemudian aku menerima proyek baru dalam membantu seorang ilmuwan muda ternama di negeri ini, untuk membuat sebuah robot android demi keperluan perang. Dialah Prof. Dr. Leta Arden, si wanita dengan wajah cantik bermata biru yang memesona. Bukan main otaknya berjalan dalam menjalankan tugas ini, ia pun memercayakan banyak hal kepadaku sebagai asisten yang sangat dipercayanya. Decak kagum sampai kukeluarkan dari dalam mulut saat mata ini menyadari keuletannya dalam memperhitungkan segala kondisi untuk penemuan besar ini. Aku hanya disuruh untuk mencarikannya bahan yang dibutuhkan dan mendesain struktur tubuh robot buatannya agar tampak seperti manusia sungguhan, itu perintah Leta.

Selain itu, Leta juga memintaku untuk mencari hati simpanse yang nantinya akan diambil selnya untuk keperluan perancangan robot ini. Simpanse adalah makhluk hidup nonmanusia dengan tingkat kesamaan DNA tertinggi hampir mirip seperti manusia, yaitu sekitar 98%. Sel-sel dari hati simpanse ini nantinya akan ditransplantasikan untuk menyempurnakan robot rancangan Leta.

Namun … kebimbangan kembali menyeruak menyelimuti otak dan perasaanku ketika tabung hati simpanse yang sudah kudapat, kuletakkan bersebelahan dengan tabung hati milik Johnny di dalam laboratorium pribadiku kala itu. Terbesit untuk sedikit nakal mengutak-atik perhitungan milik otak Leta dalam laboratorium inti, dengan berani—atau mungkin bisa dibilang lancang—aku mentransplantasikan sel dari hati Johnny Seo (bukannya hati simpanse) ke dalam tubuh robot tersebut, tentu saja tanpa sepengetahuan Leta.

Mungkinkah dengan begini, Johnny Seo akan kembali hidup untuk menatap Mackenzi Lee lagi di dunia ini? Aku hanya berpikir pendek. Berharap sosoknya kembali hidup bersamaan dengan bentuk tubuh yang kubuat serupa dengan sosok Johnny Seo. Namun … yang kuterima hanyalah kekosongan, seonggok robot bodoh yang berhasil aktif, berhati seperti bayi manusia baru lahir yang tak ingat apa-apa, pula tanpa sengaja kuberikan usul nama ‘Johnny’ kepada Leta. Aku menyesal mencetuskan nama ‘Johnny’ pada robot itu, omong-omong. Tapi … bagaimanapun juga ketika aku melihatnya, aku selalu merasa bahwa hati Johnny Seo yang lembut telah hidup kembali, walau ia tak ingat segala memorinya di masa lampau, terutama memori tentang kekasihnya; Mackenzi Lee yang selalu mencintai dengan sepenuh jiwa dan raga.

.

“Aku besok pagi akan berbelanja ke mini market, kau mau ikut, atau menunggu di sini saja sampai aku pulang?”

“Aku ingin ikut Kenzi, tidak ingin sendirian.”

“Baiklah, kau tidak mau kalau sendirian, benar? … Aku tahu itu.”

.

Sebersit siluet kembali menguar samar di telingaku.

Johnny tidak suka ditinggal sendirian olehku di apartemen. Pernyataan itu mengingatkanku kepada masa lalu di mana Johnny Seo yang akan merajuk bila aku sengaja tak memberikannya kabar sehari saja …

Apa yang kupikirkan sebenarnya selama ini? Tidak seharusnya hati Johnny kupermainkan seperti ini, demi kepuasan batinku melihat Johnny hidup kembali di dunia melalu robot penemuan Leta. Kau sangat egois pun bodoh, Mackenzi Lee! Tidak bisakah kau membiarkan Johnny Seo tenang sedetik saja?! Dan kali ini kau juga sudah benar-benar membuat seorang Leta Arden menjadi kacau!

.

“Kenzi, tidakkah kau menyadarinya? Setelah kupikir-pikir lagi, Johnny memiliki perasaan yang sama seperti hati manusia! Apa kau tidak janggal dengan semua hal itu, sementara harusnya ia adalah robot khusus perang yang mempunyai hati dari seekor simpanse?!”

“Yeah, well, aku menyadarinya. Bukankah hati seekor simpanse memang tak jauh berbeda dengan milik manusia, uh?”

“Ya, kau benar. Tapi …, seharusnya ia tidak terlalu bersikap seperti manusia, melainkan bertingkah seperti simpanse? …, Kenzi, bisakah kita membatalkan kontrak dengan Presdir Connel?”

“Apa? Tolong katakan padaku bahwa yang barusan kau ucapkan itu adalah sebuah lelucon.”

.

Maafkan aku, Leta. Aku hanya menghancurkan semua rencana besarmu terhadap negara dan pekerjaanmu. Salahku yang akhirnya malah membuatmu jatuh hati kepada Johnny. Seharusnya tidak seperti ini, aku sedikit tidak terima, maka dari itu aku tetap kukuh ingin segera menyerahkannya kepada Mr. Connel, agar robot itu bisa secepatnya dilatih berperang tanpa harus tambah menimbulkan rasa sayang yang berlebih dalam dirimu, Leta. Bukan karena uang, camkan itu.

.

“Pergilah bersama mereka, Johnny.”

“Tidak mau, mereka tidak sepertimu, Leta.”

“Ada Mackenzi bersamamu.”

“Aku-tidak-suka-Mackenzi.”

 “John, please … ”

“Bawa robot itu dan Dr. Lee keluar.”

“Leta, ayo ikut bersamaku, … ”

.

“Apakah aku terlihat seperti orang jahat kini di matamu, Johnny?”

Kling!’ Seraya memasangkan pakaian baja pada tubuh tinggi tegapnya, aku memerhatikan paras Johnny yang begitu datar. Ya, pada hari inilah Johnny harus berperang lebih cepat dari dugaanku, karena negara diserang mendadak oleh berbagai sekutu musuh. Tak ada senyuman yang mengembang pada mulut kaku Johnny lagi semenjak dirinya terpisah dengan Leta tiga bulan silam. Meski aku mengurusinya dengan telaten, aku tidak pernah melihat kurva senyumannya mengembang kembali, tidak barang sedetikpun. Hidupku hampa, hidup Johnny pun begitu tanpa Leta. Kuyakin Leta pun merasakan hal yang sama.

“Seharusnya, bila kau merasa aku jahat padamu, kau bisa dengan mudah untuk memusnahkanku dan kembali pada Leta.” Mataku berkaca memandang parasnya, hingga bola mata Johnny kini bergulir ke arahku.

Johnny pun mengambil dua lembar kertas di sebuah meja setelah baju perangnya terpasang rapi, lalu tangannya mulai menuliskan beberapa rangkai angka di dalam setiap masing-masing lembar mengenakan pena milikku. Hanya ada angka yang sama yang ditulisnya dalam kedua lembar kertas, yaitu; ‘01 1001 100’, bersama tulisan keterangan tujuan yang berbeda (satu kertas ditulis ‘To : Mackenzi Lee’ dan yang satu lagi ditulis ‘To : Leta Arden’, dengan isi surat yang sama).

Kemudian Johnny berlalu dari meja tersebut, tanpa mengucap satu patah kata pun, berdiri tegap di posisi yang seharusnya sebelum lepas landas, membelakangiku, ia menatap jendela luas milik laboratorium yang kini terbuka lebar untuknya berperang; demi melindungi negara dari sekutu musuh. Aku terisak, air mataku keluar dengan sendirinya saat kumensiasati punggung tegap itu kini telah menatap dunia yang sedang kacau balau. Dialah Johnny, bukan Johnny Seo-ku yang dulu, melainkan Johnny yang masih … menyayangiku dan Leta—sahabatku. Dan sialnya, aku ikut terjebak dalam menaruh kasih bersama Leta padanya.

Mungkin dengan berperang untuk melindungi negara, Johnny dapat berpikir lebih rasional bahwa Leta dan aku juga akan terlindungi dari berbagai ancaman kejahatan di luar sana. Itulah kurang-lebih pelajaran yang ia dapatkan selama pelatihan perang.

Just go and promise me and Leta, day by day you always will come back ‘alive’, Johnny.

.

.

FIN


08ebbaeb719cc7655c54b08e96becd8d

Authors’s Note :

Rani — “Hi, Angela Ranee‘s speaking! Ada dua poin yang sempat bikin aku grogi sama collaboration project ini. First, this is my very first time doing such collaboration with another fellow writer. Jujur, aku tipikal orang yang individualis dan keras kepala, jadi aku takut malah bikin repot partner-ku nantinya. Luckily I got Kak Berly as my partner and she’s such a precious cinnamon bun! Thanks for being a great partner yang secara nggak langsung juga udah ngajarin aku teamwork, hahaha …. Second, this is also my first time writing sci-fi thingy! Aku masih dalam proses belajar keluar dari comfort zone dalam dunia tulis menulis, jadi aku sangat terbuka akan masukan. That’s all! Thank you and let’s work hard to be better!”

Berly — “Hai everybody! Finally, rampung juga kolab ini! Jujur sih, sejauh ini kolab ff yang bukan semacam mix seperti ini baru pertama kali ber alami /plak. Love love for Rani yang sudah mau diajak kerjasama bikin storyline berbelit sama Berly! Love love juga buat Johnny Seo yang SO EPIC SEKALI di cerita ini, DEMI APA BER DAN RANI BAPER BERKEPANJANGAN GARA-GARA FF INI HAHAHAHA /Iya nggak Ran? Kita baper berkepanjangan, kan, abis rampungin kolab ini? :’) *ditabok/. Readers yang budiman, siapapun itu, terima kasih sudah baca cerita ini dari awal hingga titik tinta penghabisan! Apresiasi kalian sangat berharga untuk semangat kami, like dan komentar kalian bagaikan oksigen para penulis pinggiran ini /plak/. Jadi, apa kesan-pesan kalian ketika sudah selesai membaca cerita kami ini? Silakan tulis di kolom komentar yaaa, dengan senang hati kami akan menerima masukan-masukan yang bisa membuat kami jadi lebih baik lagi kedepannya ^^. Salam hangat dari Berly!”

Advertisements

24 thoughts on “[Ratification Collabs] Heart of Steel

  1. Hai salam kenal^^
    Bukan cuma kalian yang baper, tapi aku juga😭 sumpah demi apa itu robot bisa bikin dua cewek jadi baper. Tapi aku suka sama cerita kalian. Storyline-nya keren! Agak-agak scientific tapi ada romance-nya juga.
    Nice ff chingu^^

    Liked by 1 person

    • Hai, salam kenal juga!
      Wah ternyata fanfic kita bisa bikin baper pembaca, suatu kebanggaan tersendiri loh, wkwkwk… Soalnya Johnny emang terlalu manusiawi untuk dibilang robot, makanya jadi pada baper, deh. Kalo aku sendiri menilai ini lebih berat ke friendship-nya, hahaha…
      Last, thanks for reading and leaving comment 😀

      Like

  2. AJU NAISSSS!!!!!!!!
    Kalau baca ini, aku jadi inget winter woods which is webtoon favorit Kaknjel. Harusnya ada satu lagi backsoundnya, yaitu VIXX – Error wkwkwk. Kenzi tetep ya… dia gagal move on bgt di sini. Terus itu LETA ARDEN??? KAMU BUKANNYA UDAH MATI DIBUNUH DOYOUNG?!

    Sebenarnya aku blm pernah tau metode robot yg menggunakan hati sbg motherboard, tapi boleh kak entar aku coba pakai hati kura2 sbg project untuk tugas akhir, siapa tau jadi /dihajar/. Johnny di sini lebih bisa disebut bahan eksperimen. Krn kebanyakan robot hanya perlu komponen elektro, sensor, dan program. Tapi wes kak ini bacotanku jgn dianggep, useless bgt XD

    Terus ada kalimat “Dialah Prof. Dr. Leta Arden, si wanita simpanses kepala dengan wajah cantik bermata biru yang memesona.”
    Simpanses tuh apa sih kak?

    By the way, rasanya rani dan kakber di sini udah kompak bgt. Gaya bahasanya pun sama sekali enggak timpal. Salut pokoknya ~ semangat !!!

    Liked by 1 person

    • IH AKU JUGA SUKA BACA WINTER WOODS LOHH //nggak ada yang nanya ran Eh iya baru inget kenapa backsound-nya nggak ditambahin VIXX yang Error, ya? Wkwkwk… Ya namanya juga fiksi mah bebas abis mati bisa idup lagi Mbak Leta-nya xD
      Tbh aku juga nggak tahu apakah metode perakitan robot pakai organ beneran itu ada atau nggak, tapi karena di sini konsepnya sci-fi & dystopia, which could be happened many years later in the future, kita juga nggak tahu mau kaya gimana teknologi di masa depan. Mungkin aja suatu hari ada metode kaya gitu //rani kebanyakan imajinasi
      Oh, sepertinya ada typo, ya? Yang dimaksud itu “simpanse” (sejenis kera), Kak Lely. Anyway, thanks for reading and dropping comment! Keep writing as well, Kak Lely!

      Like

  3. Keren, fufufu >< Johnny walau udah jadi robot masih berjiwa pujangga dia -,- Aye, ini FF mengingatkanku akan Error-nya VIXX, dalem banget tuh lagunya, sama kek FF ini 😭 Dua cewek rebutan satu robot #eaa. Senangnya dalam hati /hik.

    Liked by 1 person

    • Halo!
      Actually, dari awal Johnny ini emang robot, sih. Johnny yang asli itu sebenernya mendiang pacarnya Kenzi. Iya, aku juga baru nyadar kalo ini mirip kaya lagunya VIXX yang Error itu…
      Anyway, terima kasih ya udah baca dan komen ^^

      Like

  4. Halooo flawless unniees~
    Aku gatau mau ngasih comment apa, aku terlalu terbawa suasana waktu baca ini ㅠㅠ
    Jarang ada yang bisa bawain ff sci-fiㅡromance seapik ini sih.. Hueee pokoknya ditunggu ff dan kolab selanjutnyaaa^^

    Liked by 1 person

  5. Keren banget ceritanya ❤❤ bikin baper dan seketika aku jadi keinget MV nya BoA yang “Key of Heart” ㅠㅠ
    Sampe bingung mau komentar apa saking kerennya ^^ Salut deh sama authornya

    Liked by 1 person

  6. FIRSTLY, WINTER IS DAT YOU?

    TOLONG KAK YANG ADA DI KEPALAKU BUKAN JONI TAPI WINTER INI OTOKE U.U DD TERLALU SAYANG SAMA WINTER

    kalian para dayangnya Johnny Seo akur sekali ya diriku terharu. ini syedih, air mataku menitik, untung ga sampe mewek yawlah kan repot kalo harus manggil ty buat meluk dd 😦

    proporsi tulisannya rata, jadi kalo yang ga kenal mungkin ga bakal bisa bedain mana tulisannya berlian mana tulisannya rani. jalan ceritanya ucul, alurnya runtut maju terus ditarik mundur pas monolog kenzi tanpa bikin itu jadi alur mundur (ngerti ga?) soalnya kalo alur maju-mundur yang ga ditulis secara halus biasanya bikin aneh yang baca, tapi ini penarikan mundurnya rapi kok jadi selamat yha :3

    ini mungkin da power of cinta kalian pada om kali ya makanya plotnya begini, miris miris meringis manis gimanaaa gitu. iya bener juga sih kata lely MBA LETA BUKANNYA KAMU DAH MATI GEGARA DOYOUNG?

    dan bikos njel sayang ama kalian walaupun gondok setengah idup di gc BTW EH AWAS AJA YA KALO ABIS NIH KOMEN KALIAN MASIH PROMOSI LAGI NANTI DEKLARASI DENDAMKU PADA KALIAN TAK AKAN TERELAK LOH. ini beberapa masukan untuk kalian (cmiiw juga ya wkwk)

    simpanses itu artinya apa? diriku ga tau, jadi mungkin bisa diberi keterangan di akhir cerita.
    penulisan android dicetak miring.
    pernah dibahas di gc supaya kita menghindari penggunaan kata ‘di mana’ dan sebaiknya diganti menjadi konjungsi yang lain.
    kata ‘kan’ jika berarti kependekan dari ‘bukan’ yang menjadi kalimat kepastian dalam pertanyaan tidak dicetak miring dan diberi aprostof sebelumnya => ‘kan.
    karena ‘dan’ adalah konjungsi sederajat maka tidak boleh ditulis setelah titik (tidak boleh mengawali kalimat).
    itu ada kata ‘sesisi’ maksudnya tipo atau emang bener sesisi ya? kalo bukan tipo artinya apa?
    respons pakai s.
    ada kalimat ‘… tatap bingung …’ mungkin bisa diganti ‘tatapan bingung’ karena tatap itu kata kerja, lebih baik dibendakan.
    ‘bertanggungjawab’ seharusnya ‘bertanggung jawab’ kecuali imbuhannya ada di depan dan belakang (ex: mempertanggungjawabkan).
    darimana seharusnya ditulis terpisah.
    ada tadi ‘kesana-kemari’ setahuku harusnya ke sana-kemari.
    ‘indera’ yang benar ‘indra’.
    penulisan ‘apapun’ seharusnya apa pun.
    ini heart yang dimaksud tuh apakah kiasan ‘hati’ atau harfiah ‘jantung’? bikos tadi ada tulisan kenzi membelah dada joni, makanya kuasumsikan jantung tapi selama cerita berjalan penyebutannya selalu hati. tolong klarifikasi yha.

    tambahan: TADI DD UDAH MENGUMPAT LOH KOK KENZI DESAIN ROBOT PERANG PAKE MUKA ALA BOYBEN, TERNYATA MANTAN YHA JADINYA KUTARIK LAGI UMPATANKU

    dah ah capek ngetiknya.

    ONCE AGAIN WELCOME TO NCTFFI FAMS RANI, SEBAGAI ISTRI MUDA OM SEMOGA KAMU SELALU AKUR SAMA TANTE BERLIAN YHA KYAAAAAAAAAAA /peluk joni/

    Liked by 1 person

    • Haloo kanjel! Sebelumnya terima kasih sudah meninggalkan komen dan berbagi berbagai macam masukan dan kritiknya! Yoksi ber senang sekali!

      Btw soal Winter, sejatinya ber nggak pernah ngikutin cerita Winter Wood webtun, jadi gak tau spesifikasi alur winter tuh kaya gimana wkwk. Serius airmatamu menitik kak? I know what you feel kak /plak.

      Proporsi ceritanya memang sengaja nggak dipisah bagian satu pure punya ber bagian dua pure punya rani gitu, (maksudnya) emang kita saling berusaha melengkapi, (istilahnya tambal menambal /dikira tambal ban ber/).

      Lalu yang alur mundur-maju, itu emang sengaja ber buat seperti itu, biar ala-ala film hollywood /gak/ wkwkwk, tapi syukurlah kalau memang dalam pengemasannya masih selamat dan gak hancur yaa hamdalah :3.

      Btw soal ‘simpanses’, kalo kata rani itu typo wkwkw, jadi maafkan atas kemanusiawian robot ‘Johnny’ di sini /salah/

      Lalu yang soal masukan perbaikan kata-kata dari kanjel, mungkin bisa ditambahin nanti sama Rani. Ber cuma mau bahas yang ‘indera’ sama yang perihal ‘hati’ :
      -Tadi kata kanjel, ‘indera’ yang benar itu ‘indra’. Tapi setahu ber indera itu sudah benar wkwk, atau memang salah ya? Ternyata masih salah, dan buat ber jadi ragu.
      -Terus yang soal ‘Hati’ itu ‘jantung’ apa bukan? Iya jadi gini; Maksud ‘Hati’ di sini cukup tersirat kanjel. Jadi hati yang dimaksud penulis bisa saling dihubungkan, dari ‘hati’ Johnny (yang perasaan) sampai ‘organ hati’ Johnny (struktur hatinya atau mungkin bisa dibilang organ jantungnya) Sengaja penulisannya dibuat seperti itu memang karena diambil dari kutipan flashback yang Leta Arden ungkapkan di awal bagian kedua. Ada kata pembedanya kok; kata ‘hati’ doang sama ‘organ hati’ untuk membedakan klarifikasinya. Paham gak? wkwkwk.

      YOKHSIIII THANKS A LOT SUDAH MAU MAMPIR BACA KANJEEEL! JANGAN NGAMUK2 DONG, PROMOSINYA MASIH AKAN TETAP BERJALAN KOK KYAAAAAA /gak/

      Like

  7. KAN KAN DIKSINYA KAN…
    AH AUK AH, AKU TAMBAH BETE SAMA KALIAN BERDUA!!! /kemudian bebe ditimpuk berjamaah sama kaber plus rani/

    WHAI THIS FICT SO BERFAEDAH, HUH??? Pokoknya aku nggak mau tau, kalian harus mau privatin aku sekarang dan paketan jaemin sebagai bonusnya yaa…. /PLAK/

    Jadi si omjon awalnya beneran manusia? Terus hatinya dipake buat robot perang? Dan terus terus pas udah jadi robot, si om malah suka sama leta? Kyaaa mba kenzi kasian dong baper dewean /kemudian beneran disate kaber/

    FIX! AKU SUKA CERITANYA! Sci-fi-Dystopia featuring Angst kerasa banget…. Keep writing kakdeulcans dan kawan seline… See ya…

    Tertanda,

    Bebe yang-lagi-dendam-sama-dua-author-senpai-pembuat-fict-di-atas

    /Kaborrr/

    Liked by 1 person

    • Hai Bebeee wkwk. Tolong Be jangan balang kami, kami masih ingin punya keturunan dari Johnny :”) /GAK/

      Bhahaha berfaedah bagian mananya coba ber tanya? :’) Iyaap begitulah, si Kenzi rada psyco alay di sini wkwkwk /lalu Ber dibalang OC sendiri/

      MAKASIH BANYAK YA BEBE SUDAH MAU MAMPIR BACA DAN KOMEN ♡ Bebe juga keep writing! Ditunggu kolabnya juga! Sebagai hadiah nanti dapet kecup dari Jaem, atau kecup basah dari Ber aja sini 😉

      Liked by 1 person

  8. What a great teamwork! Saat aku lagi susah payah nyari ff NCT yang genre sci-fi, aku menemukan “Heart of Steel”. Entah beruntung atau emang takdir /slap/
    Penulisannya suka banget. Enggak ribet buat dipahami, tapi tetep detail. Ini brainstorming dan proses nulisnya gimana? Penasaran sendiri x) Dan itu, aku langsung konstrasi super tinggi ngebayangin kain hijau toscanya melorot >.<
    Yah, mungkin aku bukan pembaca yang rajin buka laman nctffindo ini, tapi percaya deh, aku seneng baca cerita di sini.
    Akhir kata, you guys slay me! Ready to wait another great story 9

    Liked by 1 person

    • Halooooo Danas! Salam kenal ya. Sebelumnya terima kasih banyak sudah mampir baca dan kasih riviewnya! Wah kebetulan sekali ya, kamu lagi cari ff nct yang scifi terus ketemu “Heart of Steel” kami! bhaha. Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk berjodoh 😉 /dikeplak/

      Proses nulisnya … hanya tambal menambal ban(?) dan ngalir gitu aja sih. Tergantung orang2nya juga. Jujur, meski emang gak mudah buat teamwork kaya gini, karena kita harus saling ngalah untuk nyatuin idenya itu sendiri, intinya bisa saling terbuka dan terima masukan antar satu sama lain ajaa, sama semangat yang membara! /slap/.

      Wkwk soal selimut hijau tosca melorot, kujuga gak mau berbicara banyak /_\

      Yoksi Danas, makasih banyak sekali lagi sudah mampir ke blog nctffi! ^^ sering2 mampir yhaa ehehe.

      Like

  9. Dari judul sampe komennya daku baca loh kaaaa~~ :3
    Aku mah gatau mau ngomong apalagiiiii~ soalnya pas dari awal ngebaca nama author nya yg tertera diatas aja, aku be like ‘wah.. Author ini, pasti bagus. Yakin’ krn ada 2 author bernama angel yg aku favoritin disini. Dan untuk author berly, gausah ditanya..klo aku kangen ojon pasti aku suka baca2in lagi ff karya nya ka berly, yg rata2 castnya ojon^^
    Terakhir, klo bs collab lagi ya kalian berdua^^ bikin single trus mini album dan full album jan lupa repackaged nya juga^^ ditunggu..

    Liked by 1 person

    • Haloo sorry for late respons~ Terima kasih banyak yaa sudah mampir baca dan meninggalkan kesan pesannya! dengan senang hati kalau ada kesempatan pasti kita kolab lagi wkw ^^

      Pokoknya makasih banyak, have a nice day!!!

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s