[Vignette] Special Gift For You

image

©Zifanfan

Moon Taeil (NCT), Bae Seulyoon (OC)

Riddle, Family, AU! PG – 15 | Vignette

°°I Just Own The Plot and OC°°

.
.
.

 

Suasana pagi di kediaman keluarga Moon cukup tenang, para anggota keluarga memasuki arena dapur untuk sarapan bersama, hal yang wajar dilakukan oleh setiap keluarga bukan?

 

“Taeil-ya, besok kau ulang tahun ‘kan? Kau mau kado apa dari Ayah?” Tuan Moon yang merupakan ayah kandung dari Moon Taeil, serta ayah tiri dari Bae Seulyoon, membuka percakapan yang sedaritadi hening.

 

“Aku bukan anak kecil lagi Ayah, aku tidak perlu kado, yang aku inginkan hanyalah agar kalian bisa datang menyaksikan audisi ku besok,” Ucap Taeil sebelum ia menyambar segelas susu dan meminumnya habis.

 

Sementara sang kakak tiri, Bae Seulyoon, sempat tersedak seusai mendengar ucapan Taeil.

 

“Ada apa denganmu Seulyoon-ah?” Tanya Ayah.

 

“Tidak, aku hanya tersedak saja Ayah,”

 

Apa Taeil akan mengikuti audisi itu? Tidak! Itu tidak boleh terjadi, ia akan menarik semua perhatian, dan bisa saja dia yang lolos di audisi itu. Bagaimana denganku? Impianku menjadi idol bisa gagal hanya karena dia.

 

Aku harus menggagalkan dia!

 

Terlintas sebuah ide jahat dipikiran Seulyoon untuk menyingkirkan Taeil dari audisi itu, Taeil yang merupakan adiknya.

 

Ya, walaupun dibelakang kata ‘adik’ masih ada embel ‘tiri’ bagi sosok Taeil dimata Seulyoon.

 

Setelah Taeil beranjak dari rumah, Seulyoon pun ikut menguntit dibelakangnya, bermodal dengan kendaraan roda empat yang beberapa hari lalu dibelikan oleh Ayahnya, juga beberapa peralatan menyamar seperti kacamata hitam dan juga masker.

 

Dia mengikuti jejak Taeil kemanapun ia pergi. Tak terkecuali saat Taeil sedang latihan di Taman yang sepi.

 

Diam diam, Seulyoon juga mendengarkan petikkan gitar, dan lantunan suara merdu dari Taeil.

 

Mengapa ia bisa mempunyai suara sebagus itu?

 

Memangnya ia mengikuti bakat siapa? Sepertinya bukan Ayah, karena Ayah sejak muda ‘katanya’ selalu berkutat dengan pekerjaan kantoran.

 

Mungkinkah Ibunya?

 

Seulyoon terdiam sejenak, mematung sembari menatap Taeil dari kejauhan, sesungguhnya ia tidak ingin melakukan niat jahat ini. Namun keinginannya menjadi seorang Idol bisa terhalang karena hadirnya Taeil di audisi besok. Mengingat kalau audisi yang diadakan oleh salah satu Agensi itu hanya memerlukan satu orang dengan Talenta berlimpah.

 

Taeil nampaknya sudah memenuhi syarat agar bisa memenangkan audisi itu, sehingga membuat Seulyoon melancarkan aksi jahatnya.

 

****

 

Hari sudah menginjak malam, matahari sudah kembali ke peraduannya, dan hendak digantikan oleh sang rembulan. Taeil masih berada di Taman yang sepi itu, sibuk membenahi gitar dan juga beberapa kertas yang diyakini sebagai kertas berisikan lirik lagu yang akan ia bawakan besok di audisi.

 

Taeil bertekad agar bisa menang, ia telah mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya, dan meminta mereka untuk hadir. Sebagai anak yang berbakti, Taeil tentu berusaha keras agar tidak mengecewakan orang tuanya.

 

Sementara itu, Seulyoon masih berkutat dengan penelusurannya terhadap Taeil. Ia sendiri sebenarnya merasa lelah, menjadi penguntit seharian dan hanya berada di balik semak, hingga membuat beberapa bagian tubuhnya menjadi gatal digigit oleh nyamuk.

 

Tak lama, Taeil berdiri dari singgasananya sejak pagi tadi, mengumpulkan kertas yang berserakan itu dan memasukkan gitarnya kedalam tas khusus, lalu ia pun berjalan pulang.

 

Seulyoon kembali menguntitnya, dengan tatapan bingung ia melihat kalau Taeil tidak menumpangi bus yang akan membawanya pulang.

 

Lantas ingin kemanakah Taeil dimalam itu?

 

Tidak ingin penelusurannya berakhir sia sia, Seulyoon memacu mobilnya agar berkendara lebih cepat lagi dan mengikuti jejak bus yang ditumpangi oleh Taeil.

 

Ternyata, pada malam itu, Taeil menuju ke sebuah Krematorium, ditangannya sudah ada sepucuk bunga mawar putih, dengan langkah percaya diri ia memasuki Aula gedung Krematorium.

 

Apa itu tempat abu jenazah Ibunya disimpan?

 

Ya, bisa jadi. Dia kan anak berbakti, tentu saja ia harus memohon restu dari Ibunya agar audisinya besok berjalan lancar.

 

Tapi itu sama sekali tidak akan berguna Moon Taeil!

 

Sebuah pilar menjadi tempat persembunyian yang pas bagi Seulyoon yang masih terus menguntit Taeil.

 

****

 

Beberapa saat yang lalu, Taeil sudah meninggalkan Krematorium untuk segera pulang ke rumah dan beristirahat. Begitupun yang dilakukan oleh Seulyoon, didalam mobil ia menyaksikan Taeil yang sedang berdiri di zebra cross hendak menyebrang jalan. Lantas niat jahat itupun ia anggap sesegera mungkin akan terlaksana.

 

Inilah saat yang ku tunggu tunggu sedaritadi.

 

Suasana jalan yang mulai sepi dimanfaatkan oleh Taeil agar segera melintasi zebra cross itu, lain halnya untuk Seulyoon yang menginjak gas mobilnya, dan mobil itupun melaju dengan kecepatan tinggi hingga beberapa meter lagi akan menabrak tubuh Taeil yang sedang melintas.

 

Brukk…

 

Sontak saja, kecelakaan terjadi, Seulyoon perlahan membuka matanya dan mendapati tubuh Taeil telah terbujur kaku dengan keadaan bersimbah darah diujung jalan. Seulyoon menatap ke sekeliling melalui kaca mobilnya.

 

Tidak ada siapa siapa yang melihat ini. Ia harus bergegas secepat mungkin untuk membawa tubuh Taeil ke tempat lain.

 

Apa yang baru saja ku lakukan?
Apa betul aku membunuhnya?

 

Dengan susah payah, Seulyoon mengangkat tubuh Taeil dan meletakkannya ke dalam mobil. Ia kembali ke kemudi, dan sebelum menjalankan kemudinya, ia berbalik menatap Taeil.

 

Maafkan aku Taeil-ah, tapi ini satu satunya jalan agar aku bisa mencapai cita citaku. Kau tidak tahu seberapa besar aku berjuang mengikuti audisi dimana mana, dan audisi besok itu kuharap menjadi audisi yang terakhir kali ku ikuti sebelum akhirnya aku menjadi Idol.

 

Seulyoon menepikan mobilnya di pinggir jembatan yang berada diatas Sungai Han. Perlahan ia mengeluarkan tubuh Taeil, lalu menggulingkannya hingga akhirnya tubuh yang telah ditinggalkan Ruhnya itu terjun ke dalam dinginnya air Sungai Han.

 

Airmata membasahi kedua pipi Seulyoon, ia sebenarnya seorang Manusia yang mempunyai hati nurani juga. Namun keinginan terbesarnya menjadi seorang Idol kemudian menggelapkan matanya untuk berbuat jahat kepada siapapun yang menghalangi, tak terkecuali adik—tirinya, Moon Taeil.

 

****

 

Keesokkan harinya, Seulyoon terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia melirik sekilas ke jam digital yang diletakkan di nakas tempat tidurnya.

 

Pukul 09.15 pagi.

 

Tidak, ia belum terlambat untuk mempersiapkan diri ke audisi itu, masih ada waktu sekitar 1 setengah jam lagi untuk bersiap. Seulyoon mengambil ponselnya, ternyata ada sebuah pesan dari Ibu.

 

Eomma

 

Seulyoon-ah, Ayah dan Ibu berangkat dari rumah pagi sekali,
Mandi dan nikmatilah sarapanmu.

 

Segera setelah membaca pesan itu, Seulyoon pun menuju ke kamar mandi.

 

1 jam sudah waktu yang dilewatkan oleh Seulyoon untuk mandi, bersiap, dan menghabiskan sarapannya. 30 menit yang tersisa ia gunakan untuk berpacu menuju ke gedung tempat audisi dilaksanakan.

 

Dan rupanya, audisi sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu.

 

Seulyoon memilih untuk duduk dibangku belakang, sibuk menata kembali riasan wajahnya yang natural itu, setelah usai ia pun menatap ke seluruh penjuru ruangan.

 

Betapa kagetnya ia ketika mendapati Ayah dan Ibunya duduk dibarisan penonton paling depan.

 

Apa yang mereka lakukan disini?

 

Itulah kata yang terlintas dipikiran Seulyoon sesaat setelah melihat kedua orang tuanya duduk bersama di depan.

 

“Marilah kita sambut penampilan pertama. Anak Lelaki ini sangat jago memainkan senar gitarnya, keahliannya itu ia padukan dengan suara merdunya yang sangat Luar biasa. Inilah dia, Moon Taeil!!!” Ucap sang MC mempersilahkan peserta pertama untuk tampil.

 

Tapi, ada sesuatu yang janggal, peserta itu bernama Taeil.

 

Ya, Moon Taeil.

 

Taeil berjalan dengan tegak penuh percaya diri ke atas panggung. Tak lupa ia membawa gitar yang akan menemani penampilannya.

 

“Terimakasih karena sudah mempersilahkan saya, saya disini ingin menampilkan sebuah lagu ciptaan saya sendiri. Lagu ini didedikasikan untuk keluarga saya, terutama kepada Ayah dan Ibu saya yang sudah hadir. Dan oh, Nuna saya juga turut hadir dan duduk dibangku belakang. Terimakasih sekali lagi atas kehadiran kalian.” Begitulah sepenggal kalimat yang menjadi pembuka dari Taeil.

 

Sementara Seulyoon ditempatnya, keringat dingin telah mengucur keluar, bu—bukankah semalam ia sudah melakukan aksi pembunuhan terhadap Taeil?

 

Bukankah juga ia sudah membuang jenazah Taeil ke Sungai Han?

 

Lantas, jika Taeil sudah ia bunuh, maka Taeil siapa yang berdiri diatas panggung dan hendak memainkan gitarnya itu?

 

-FIN-

 

Ho’oh
Ini FF dari jaman kapan coba terendapkan di draft -,-
Maap ku sudah menistakan Mamas Taeil disini :”
Gimana dengan Riddlenya? Garing? Biasa aja? Mudah ditebak? Maklum aku baru mencoba masuk ke dalam dunia ridel setelah bereksperimen dengan genre kripik goreng beberapa bulan silam.
Ada yang bisa tebak riddlenya? 
Hayo, yang bisa tebak aku kasih Mamas Taeilnya, langsung diantar ke alamat pake JNE REG, ongkir nanti ku tanggung lho 😂😂

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s