[Ratification Collabs] Rescue Mission

1469973338559

Rescue Mission

misshin017 & echaminswag~ present

Taeyong; slight Jaehyun! / fantasy, surrealism, dystopia, dark, sci-fi  / PG-15

Tampaknya kali ini harus menyelamatkan diri, bukan tanpa mimpi.

.

.

[1]

Ada dunia baru di balik cermin Lee Taeyong.

Pemuda itu menemukan sebuah dunia baru di balik cerminnya ketika ia berusia tujuh belas tahun. Dunia penuh warna yang berbanding terbalik dengan suasana kelabu yang selama ini melingkupi kamarnya. Dunia yang membuat hidup Taeyong tak lagi sama pada hari-hari selanjutnya.

Saat pertama kali Taeyong masuk ke dalam cerminnya, ia melihat burung-burung berkicau di dahan pohon yang daunnya berwarna hijau. Nampak begitu berwarna hingga membuat Taeyong terkesima akan pemandangan yang tertangkap oleh netranya. Bunyi kecipak dari sumber mata air yang jatuh ke aliran sungai pun terdengar menjadi musik khas tiap kali ia masuk ke sana.

Hal itu membuat Taeyong ingin pergi ke dalam dunia di balik cerminnya secara terus-menerus. Saat petang datang, Taeyong akan melepas sandalnya di dalam kamar dan pergi secara diam-diam. Namun, bekas lumpur yang menempel di kakinya yang membuat lantai kamar menjadi kotor, selalu menimbulkan banyak pertanyaan di benak orang tuanya.

Apa yang dilakukan oleh Lee Taeyong semalaman?

Hari ini, Taeyong kembali pergi ke dalam dunia di balik cerminnya. Ia berjalan ke arah pantai karena hari masih sore. Biasanya, Taeyong akan melihat seorang gadis kecil berlarian di sepanjang pantai pada senja seperti ini. Tetapi, sosok itu tidak terlihat hari ini.

Taeyong lantas mendudukkan dirinya di atas pasir sembari menikmati anak rambutnya yang dimainkan oleh angin. Ia menatap lurus ke arah laut. Suara debur ombak yang bising kemudian diinterupsi sepasang sepatu yang berlari mendekat kepadanya.

Seorang wanita paruh baya menyengkeram kuat pundaknya. Dia berusaha mengatakan sesuatu menggunakan bahasa yang sama sekali tidak Taeyong mengerti. Buliran keringat jatuh dari pelipis si wanita. Wajahnya nampak pucat pasi. Dia kebingungan bagaimana menjelaskan kepada Taeyong tentang maksud dari perkataannya. Maka, dengan segera, wanita itu menyeret lengan Taeyong untuk ikut bersamanya, namun si pemuda lekas menolaknya.

“Maaf, aku tidak bisa pergi terlalu jauh.” Tuturnya dengan sopan. Giliran si wanita yang mengerutkan dahi, tidak mengerti. Jadi, Taeyong pun menggerakkan tangannya memberikan isyarat bahwa ia tidak bisa mengikuti wanita ini. Lagipula, Taeyong baru pertama kali bertemu dengannya. Dan seperti yang selalu Ibu pesankan padanya; jangan mudah percaya dengan orang asing.

Si wanita lantas melepaskan cengkeramannya. Dia menunduk meminta maaf atas kelancangan yang telah dilakukannya.

“Adora.” Katanya sambil memposisikan telapaknya di dada―yang kali ini dapat Taeyong mengerti bahwa wanita ini tengah memperkenalkan diri.

“Aku Taeyong. Ada apa sesungguhnya?”

Wanita itu kembali berbicara banyak hal yang tidak dapat Taeyong mengerti. Tapi, dari telunjuknya yang menuding ke sebuah arah, Taeyong dapat menangkap satu hal yang dimaksud oleh Adora. Dia meminta pemuda ini untuk pergi ke arah yang ditunjukkannya.

“Dana.” Telunjuknya masih tertuju ke arah yang sama sambil menggumamkan nama itu berulang kali. “Dana.” Tangannya kemudian menyatu―membuat sebuah permohonan kepada Taeyong bahwa ia harus pergi ke sana untuk mencari si pemilik nama Dana itu. Adora kemudian menjelaskan lagi dengan telunjuknya yang berputar-putar menunjuk seisi pantai. Dia juga menyentuhkan tangannya pada garis di atas telinganya.

Dan akhirnya Taeyong mengerti apa maksud wanita ini. Gadis yang biasanya berlarian di sepanjang pantai dengan memiliki tinggi pada batas telinga Adora, kini berada dalam bahaya. Bisa dipastikan lagi, bahwa ialah si Dana.

Tanpa mau mempertimbangkan banyak hal lagi, Taeyong lekas berlari menuju hutan yang ditunjuk oleh Adora. Di sana banyak sekali suara-suara aneh. Dari petikan gitar samar, suara klarinet, kelontang perkakas dapur, sampai gelak tawa beberapa orang, seolah menyatu dan berdengung di telinga Taeyong.

Tetapi sejauh ia memandang, Lee Taeyong tidak melihat apapun dari dalam hutan itu selain kabut tebal yang menyelimutinya. Mungkinkah itu hanya ilusi? Pikirnya sembari berjalan masuk lebih dalam. Tidak ada seorang pun di sana. Tidak ada apa-apa, namun suara itu masih terdengar jelas di telinganya.

Mata Taeyong kemudian menangkap siluet beberapa orang berjalan di depannya. Memastikan apa yang dilihatnya tidaklah salah, ia pun mengerjapkan mata beberapa kali. Sekitar empat anak laki-laki menyeret seorang anak gadis berkuncir dua―di mana gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Di kegelapan yang berangsur datang, Taeyong melihat wajah anak gadis itu. Dia adalah gadis yang sama dengan yang dilihatnya di pantai setiap kali Taeyong berkunjung kemari. Dana.

Dan setelah mengetahui apa yang terjadi, Taeyong dapat menyimpulkan apa yang harus ia lakukan; menyelamatkan gadis itu dari berandalan yang menyanderanya.

Tidak. Taeyong bukan tipikal superhero yang akan menyelamatkan seseorang dengan menghajar si penjahat. Selain ia tidak dapat berkelahi, ia juga enggan berurusan secara fisik. Ia lebih suka menggunakan ide-ide brilian yang muncul dari otaknya untuk membuat mereka menyerah dengan sendirinya.

Taeyong pun melesat―mencari jalan lain di antara pepohonan dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Ia mengikuti para lelaki itu membawa si gadis sampai ke tengah-tengah hutan. Dari balik pepohonan, ia dapat melihat lelaki-lelaki itu mengambil botol minuman keras dan membiarkan si gadis terkulai di atas tanah.

“Kudengar hutan ini angker. Kita kubur di mana anak ini?”

Alis Taeyong bertaut. Mereka berbicara menggunakan bahasanya. Tetapi Adora, mengapa dia tidak bicara menggunakan bahasa yang sama juga? Dan… dikubur? Apakah gadis itu sudah tidak bernyawa lagi?

“Apa kautakut, Sin?”

“Tidak sepenakut dirimu, sih, Fez.”

“Bagaimana kalau mereka sungguh-sungguh muncul?”

“Aku akan mengh―”

KRUSAK

“Tunggu, kaubilang kita akan aman di sini. Mengapa ada―”

KRUSAK

“Siapa di sana?”

“Kau sungguh-sungguh takut?”

“Bukan, hanya saja ini aneh. Seharusnya hanya musik-musik peri itu yang terdengar. Bukan suara kemeresak seperti ini ‘kan?”

“Tidak perlu mencari alasan, bilang saja kau takut ‘kan?”

“Sudah kubilang―”

UHUK

“Kaudengar itu?”

HRRR

“Itu hanya halusinasimu, Sin. Nama hutan ini adalah ‘Hutan Ilusi’, jadi hal-hal seperti itu hanya―”

KROMPYANG

BLETAK

BRUG

Berbagai benda dapur seperti panci dan semacamnya terjatuh dari atas pohon. Para lelaki itu pun berlindung dari perkakas yang menimpanya menggunakan kedua lengan. Mereka lantas berlari pergi tak lama kemudian. Taeyong yang berada di balik pohon, tersenyum sembari mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.

Kerja bagus peri-peri.

Sebuah ide brilian bukan, meminta tolong para peri untuk memberi pelajaran para berandalan itu? Imbalannya? Tentu saja ada. Taeyong hanya harus memberikan nyawanya untuk gadis yang tergeletak di atas tanah itu kemudian menjadi peri bersama mereka.

Dan Taeyong baru mengerti, mengapa Adora tidak berbicara laiknya mereka tadi. Dia mengikuti Taeyong masuk ke dalam hutan, omong-omong. Dia membantu Taeyong dalam misi penyelamatannya. Dia adalah seorang peri.

Ugh, di mana aku sekarang?”

Pada detik berikutnya, si gadis bernama Dana membuka matanya.

.

.

[2]

Beberapa waktu terakhir aku super disibukkan dengan beragam rutinitas dalam lab penelitian. Maksud hati ingin menyelesaikan bagian untuk otopsi, justru saat ini terpaksa berdiam diri menghabiskan hari dengan menulis segala macam dari proyeksi.

Sudah hampir sejam lamanya aku menunggu Jaehyun kembali dari kantin depan. Dia bilang ingin beli cemilan dan bawakan kopi, katanya. Entah dia jujur saja aku tak peduli, yang pasti aku harap dia cepat kembali.

Well, kalian mungkin tak bisa melakukan apa yang seperti kulakukan. Berdiri di depan kaca pembatas sekeras baja, dan menuliskan macam-macam fakta di luar naluri manusia. Sebenarnya tidak aneh juga, terkecuali kau memang sudah sejak lama bekerja di tempat ini.

Mari kukenalkan, satu dari bagian masalah hidupku yang akhir-akhir menjadi pembuat pusing kepala. Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatu sembari menghela nafas, menyadari tidak ada pergerakan yang berarti sejauh ini.

Kalaupun aku jelaskan lebih rinci, barangkali kalian bisa saja tertawa dan meledekku. Denhar, tidak akan pernah ada yang mau percaya kalau pria tipe anarkis dan dari jurusan modern dance seperti malah harus bekerja di sebuah tempat pusat penelitian.

Tolong diingat dengan baik, pusat penelitian. Dan yang sedang kukerjakan saat ini adalah, menikmati bagaimana umat-umat buatan di dalam ruangan berkaca itu sedang menari.

Yang pastinya menari dalam artian tertentu. Yang berbadan gempal kami sebut ‘endo’ dan yang kurus nan tinggi bernama ‘ekso’. Tidak ada sejarah pasti kenapa dinamai begitu. Dari penglihatanku, mungkin si endo lebih senang menahan diri dan tidak bergerak lebih liar daripada ekso.

Kalian mau kuberitahu mereka ini apa? Yah, akan kuberitahu asal tidak mengatai diriku konyol saja.

Mereka ini.

Manusia buatan.

Lucu, kan?

Hampir 10 tahun terakhir, Korea Selatan mempersiapkan segala macam taktik jika-jika Korea Utara datang dan menghancurkan negara kami. Pemerintah sangat yakin kekuatan militer Korea Selatan tidaklah lebih baik dari Korea Utara, dan inilah yang menjadi pemicu penelitian ini.

Awalnya mereka hanya akan membuat peledak dengan gabungan atom-atom tertentu, namun sayang, benar-benar gagal. Lalu beberapa waktu berlalu, Dokter Wang (aku tak tahu siapa nama aslinya), datang ke Korea dan membangun sebuah lab berukuran sedang di bawah tanah daerah Gangnam.

Aku bertemu dengan diribya saat menjadi salah satu penari jalanan, sesungguhnya sedang mencari agensi yang tertarik akan bakatku. Tapi justru malah bertemu dengan dirinya saat itu. Dia menawarkanku bekerja sebagai divisi pengawas, dia berikan alasan jika mataku sangat tajam dan linxah dalam memperhatikan pergerakan sekecil apapun dari objek ataupun lawan.

Antara tersanjung ataupun tidak sebenarnya. Namun berhubung tidak ada pekerjaan, dan menjadi pengangguran bukanlah ide yang baik, maka aku langsung menerima tawaran itu. Gajinya lumayan tinggi, dan akunbahkan tak perlu mengikuti kontesbtari jalanan untuk mendapatkan kontrak-kontrak dari para agensi.

Hell, terkadang hidup memang semudah ini.

“Tae, kopimu dingin.”

Oh, baru kusadari Jaehyun sudah kembali dan meletakkan gelas kopi di atas mejaku. Kulihat dia memeluk sebungkus tiga bungkus roti dan berjalan keluar dari ruangan sesaat aku menutup buku jurnal harian.

Endo dan ekso masih asik berkelahi di dalam sana. Mereka seperti mumi hidup bagiku. Bayangkan saja,mereka berasal dari sel manusia yang digabungkan dengan sel hewan buas. Seperi serigala, buaya, dan ular. Tubuh mereka penuh luka, dan nampak-nampaknya berbau amis. Jujur, aku sendiri belum pernah mendekati mereka untuk masuk ke dalam ruang kaca itu.

Setidaknya aku masih mau hidup di dunia ini.

Kuhempaskan tubuhku ke kursi dan mengambil gelas kopi itu.

“Dingin,” ujarku mengetahui pendingin ruangan telah meraup panasnya kopiku.

Kuteguk cairan pekat tersebut memberikan sedikit sensasi segar yang tadi dimakan oleh rasa kantuk yang luar biasa.

Sial, aku masih saja menguap.

Mungkin aku terlalu memaksakan diri untuk beberapa hari ini. Setidaknya terlelap mampu sebentar dapat mengusir beratnya lelah.

Pelan-pelan tapi pasti kupejamkan mataku. Hei, tidak buruk ju—

Ewh, kopiku tumpah.

Buru-buru aku membuka mata saat merasakan basahbdi sekitar siku jasku. Kopi itu tumpah tak sengaja terkena sikuku, dan parahnya mengenai macam-macam barang di atas meja.

Kuambil tisu dan mengelapnya.

Dilap.

Dilap.

Dilap.

Bulu kudukku mendadak meremang. Suara sesuatu yang bergesekkan membuat perasaanku jadi tidak karuan.

Tunggi, sejak kapan kopinya berwarna merah?

Lantas kutoleh ke belakang dan melotot menemukan sepasang manusia yang menyerupai hewan siap setiap saat memangsaku—

“Tae, kopimu dingin.”

Kukerjap-kerjapkan mataku, dan menemukan atensi Jaehyun yang membawa tiga bungkus roti di dekapannya. Dia kemudian pergi keluar dari ruangan sesaat kemudian. Membiarkan aku yang sedang memutar otak mengingat apa yang terjadi barusan.

Ugh, untunglah hanya mimpi.

Kuambil gelas kopi dan meneguknya. Terasa dingin dan tak sehangat yang biasa. Nampaknya efek pendingin ruangan sangat tidak baik untuk makanan yang diletakkan di sini.

Aku berdiri dan melirik arlojiku,  mengingat malam ini ada pertemuan dengan adik sepupuku yang baru saja pulang dari California. Maka segera aku angkat kaki dari ruangan ini sambil meronggoh kunci mobil yang ada di sakuku.

Ugh, kenapa sikuku basah lagi?

Kulirik siku jasku dan menemukan cairan merah pekat tertempel di sana.

“Brengsek.”

Suara gesekannya terdengar lagi.

Tampaknya kali ini harus menyelamatkan diri, bukan tanpa mimpi.

END

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s