[Ficlet] Revenite

Processed with VSCO with a8 preset

Revenite

story by ayshry

[NCT’s] Ji Hansol – [OC’s] Yoon Jooeun

AU!, Fluff, Romance/Ficlet/G

Disclaimer : Cast belong to God and the plot is Mine!

“Aku tak suka berdebat, aku sukanya kamu. Tolong jangan perdebatkan.”

-kekeirwina

***

Bisu adalah senjata keduanya sore ini. Satu jam berlalu dan pasangan itu masih setia dengan saling berdiam diri; tanpa ada keinginan untuk membuka pembicaraan.

Hansol sebenarnya gerah—benar-benar gerah. Bibirnya pun tak tahan untuk tidak menyemburkan berbagai kalimat pembelaan akan dirinya, namun, hanya melihat tatapan si gadis saja sudah mampu membuat setiap kalimat yang telah terangkai indah, lebur begitu saja.

Di satu sisi, Jooeun telah menjadi seorang penunggu; menunggu sampai pemuda yang kini memandangi dirinya dengan sendu itu memulai pembicaraan. Ia tak ingin menjadi yang pertama dalam pemecah keheningan; ia ingin mendengarkan. Karena jika bibirnya yang lebih dahulu berucap, maka bisa dipastikan berbagai kalimat makian akan keluar tanpa berniat untuk berhenti sedetik pun.

Lantas sampai kapan keheninggan akan menyelimuti keduanya jika tak ada yang bergegas memecahkannya?

“Jooeun-a.”

“Kak Hansol.”

Pada akhirnya keduanya menyerukan nama satu sama lain pada waktu yang bersamaan.

“Maafkan aku.” Hansol adalah orang pertama yang melanjutkan perkataannya. “Begitu banyak hal yang harusnya kujelaskan malam tadi, tetapi sepertinya kau enggan mendengarkannya barang sekalimat pun.”

Menarik napasnya dalam-dalam, Jooeun seperti tengah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pendengar. Jauh di dalam hati kecilnya, ia memang sudah menunggu kalimat seperti apa yang akan dijadikan pembelaan atas kejadiaan yang membuatnya amat marah

“Kau salah paham.”

Hansol menarik lengan Jooeun; membawa gadis itu lebih dekat dengannya.

“Aku dan Solla tidak memiliki hubungan apa-apa, sungguh. Kami hanya … aku, oke, Solla memang menyukaiku, tapi tidak denganku. Percayalah.”

“Tidak denganmu? Tapi kau membiarkan Solla atau siapapun nama gadis menyebalkan itu bertengger manja di lenganmu?”

“Eh?”

“Aku melihat semuanya, Ji Hansol.”

“Solla itu manja, dan kautahu, hmm … aku tipe orang yang tak bisa menolak keinginan seseorang bukan? Termasuk—“

“Termasuk ketika gadis penggoda itu memintamu untuk mengantarkannya pulang dan meninggalkanku yang sudah menungguimu lebih dari satu jam di luar ruangan klub tari?”

“Jadi kau berada di luar saat itu?”

“Bukannya aku sudah mengirimu sebuah pesan singkat, Kak? Kau bahkan tak memeriksa ponselmu, huh?”

“Astaga, Yoon Jooeun, aku benar-benar tak tahu. Jadi … itu alasanmu marah padaku dan—“

“Iya dan iya. Masih ada yang ingin kau jelaskan, Kak Hansol?”

Menenggak salivanya susah payah, Hansol bimbang. Di satu sisi ia tak merasa bersalah akan kejadian tempo hari yang membuat hubungan keduanya dirundung masalah, namun di sisi lain ia mencoba mengerti bagaimana perasaan sang kekasih ketika secara langsung melihatnya dengan wanita lain; meskipun Hansol berani bersumpah jika ia benar-benar tak memiliki perasaan dengan gadis tersebut.

“Aku bersalah, Joo, aku minta maaf.” Hansol akhirnya mengalah. “Sungguh, aku tak bermaksud membuatmu marah atau pun sedih, aku tak tahu dan ya, kuakui, aku yang bersalah. Jadi, berhenti memarahiku atau memusuhiku karena kesalahpahaman ini.”

“Salah paham?”

“Oh, sial, apa aku salah bicara lagi?”

“Entahlah.”

“Please, Joo! Jika kau seperti ini terus aku tak tahu lagi harus bagaimana, tahu.”

“Lantas?”

“Astaga, masih ingin berdebat juga?”

Kali ini Jooeun menutup rapat-rapat bibirnya; mengalihkan pandangannya dan Hansol tahu si gadis tengah mendengus penuh kekesalan.

“Kautahu, Joo? Aku tak suka berdebat, aku sukanya kamu. Tolong jangan perdebatkan.”

Mendengar kata-kata ajaib yang menguar dari bibir sang kekasih membuat Jooeun berbalik secepat kilat. Menatap Hansol lekat-lekat, Jooeun rasa ada yang tak beres dengan kepala pemuda bersurai kecoklatan itu kini. Sejak kapan seorang Ji Hansol tahu caranya menggombal? Oh, jika sudah seperti ini apa yang bisa dilakukan Yoon Jooeun selain mengulum bibir menahan senyumannya?

“Jadi … kita sudah berbaikan, ‘kan?”

Tak menjawab, namun senyuman yang tak dapat ditahan lagi oleh Jooeun sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaannya.

“Oh, sepertinya setelah ini aku harus segera menemui Yuta dan berterima kasih padanya. Karena sarannya, kita bisa cepat berbaikan seperti ini, tahu. Kurasa, sering-sering mendengarkan ocehan Yuta tak ada salahnya. Benar, ‘kan, Yoon Jooeun?”

-Fin.

  1. LatAlay, makasih ya photo home di Line-mu memang sangat menginspirasi HAHA ❤
  2. JOOSOL BACK YAW GAJADI PISAH YAW GAJADI BERPALING KE YUTA YAW /digiles/
  3. Wis yang mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya guys ❤

img_5283

-mbaay.

Advertisements

12 thoughts on “[Ficlet] Revenite

  1. HWALOOOO KAKYAYY. HEEMM CERITANYA HABIS MARAHAN HEMMMM….. gombalannya ampuh nih? heeeemmmm si Hansol buisya ajaaa wkkwwkwk.lucu ihhhh lanjot yaaaa nextcerita request gantian si Hansol yang marah AWWS😂😂😂😍😍😘

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s