[NCTFFI Freelance] Five Years Without You (Vignette)

five-years-without-you

Five Years Without You

By: Jo Andante

Taeil x OC

Love/romance

1000+ words

Kunjungi andantecho.wordpress.com jika ada kesempatan. Terima kasih.

-=-

Langit mendung, tak terlalu indah bagi seorang fotografer pernikahan seperti Taeil. Ia menatap dekorasi pesta yang tertata rapi tak jauh dari tempatnya berdiri. Untuk pertama kali sepanjang karirnya sebagai fotografer pernikahan, ia mendapat kesempatan untuk berkarya di sebuah pesta taman.

“Hei, Taeil, rapikan dasimu. Jangan miring-miring seperti itu,” kata seseorang membuat Taeil menoleh dari pandangannya kepada dekorasi taman.

“Astaga, Hansol. Jangan mengagetkanku.”

“Apa yang kau pikirkan dari tadi?” tanya Hansol sambil memegang kameranya sendiri.

“Langitnya mendung,” kata Taeil singkat. “Aku khawatir turun hujan. Akan sangat merepotkan bagi kita bila hujan turun di pesta taman seperti ini, kan?”

“Apa kau belum pernah menghadiri pernikahan di taman seperti ini?”

“Belum,” Taeil menggeleng, membuat Hansol mengangguk paham.

“Kau tak perlu khawatir. Hujan jarang terjadi di musim ini.”

“Bukankah kau seharusnya mengambil foto keluarga di sana?” tanya Taeil tiba-tiba sambil menunjuk sisi lain taman. “Itu bagianmu, kan?”

“Astaga, kau benar,” Hansol tertawa kecil. “Aku pergi dulu. Sebentar lagi acaranya juga dimulai. Bersiaplah, Moon Taeil.”

-=-

Taeil meregangkan otot-ototnya, melihat para tamu bergerak ke buffet yang disiapkan tuan rumah pesta. Segera Taeil menyiapkan kamera, mengambil foto orang-orang yang tengah mengambil makanan. Mereka nampak bahagia, berbicara satu sama lain dalam keadaan gembira. Taeil juga membidik makanan-makanan yang tersaji dengan hati-hati. Ada beberapa seafood tersaji di sana, membuatnya bergidik kecil.

“Kau sudah coba dagingnya? Enak sekali,” kata seorang gadis di dekat Taeil.

“Ya, aku sudah coba. Tentu saja,” balas salah satu temannya.

Mereka bertiga tertawa satu sama lain, lalu membicarakan gaun pengantin wanita yang sempat tersangkut di semak-semak ketika berjalan.

“Bagaimana dengan cumi-cuminya?” tanya salah satu gadis.

“Aku belum coba. Memangnya kau boleh makan cumi-cumi? Bukankah kau alergi cumi-cumi?”

Tangan Taeil berhenti mengambil foto. Ia menurunkan kameranya demi melihat gadis-gadis itu lebih jelas lagi. Salah satu gadis mengambil cumi-cumi dari tempat buffet, lalu tersenyum pada teman-temannya yang sedari tadi khawatir akan alerginya.

“Aku tidak alergi cumi-cumi. Taeil yang memiliki alergi itu.”

Taeil terdiam, lalu menatap gadis itu lekat-lekat. Ia menghela napas pelan ketika melihat wajah gadis itu. Dengan senyum kecil, ia mendekati kumpulan tiga gadis itu. Ketiganya nampak tak menyadari keberadaan Taeil yang hanya satu meter dari mereka, masih membicarakan topik tadi.

“Kenapa kau masih saja mengingat Taeil dan kumpulan alerginya itu?” kata temannya lagi. “Kalian sudah lama berpisah, kan?”

“Sepertinya Andante kesulitan melupakan Taeil karena ia terlanjur ingat semua alerginya.”

Gadis yang dipanggil Andante itu tertawa pelan, lalu menggaruk kepalanya sendiri. Hal ini membuat jepitan bunga di ramputnya meluncur jatuh dan mendarat di rumput.

“Astaga, Andante itu memang ceroboh sekali,” komentar temannya.

Andante menunduk sambil tertawa kecil, hendak mengambil jepitan itu. Tetapi tangan lain sudah lebih dulu memungutnya untuk Andante.

“Terima kasih,” kata Andante, dan pria itu mengangkat kepalanya.

Wajah mereka beradu, mata mereka pun bertemu. Pekik kecil terdengar dari mulut dua teman Andante yang dari tadi ada di sana.

“Moon Taeil?!” kedua teman Andante berseru.

Taeil hanya tersenyum, lalu menatap Andante yang masih membesarkan mata karena terkejut.

“Halo, Ran. Halo, Jen. Kulihat kalian berdua masih saja bermain dengan Andante,” Taeil tertawa kecil. “Sepertinya teman SMA memang teman paling abadi, kan?”

Ran dan Jen meringis kecil, lalu menatap Andante. Andante masih tak ada tanda-tanda akan bergerak dari posisi patungnya. Ia masih menatap Taeil dengan mata hijau cerahnya.

“Moon Taeil?” kata Andante akhirnya.

“Hai, Andante. Apa kabar?” Taeil tersenyum pada Andante. “Apa kalian keberatan kalau aku meminjam Andante sebentar?” tanya Taeil pada dua teman Andante.

“Oh… ya, tentu saja tidak keberatan sama sekali,” Ran memotong cepat.

“Benar. Silahkan,” Jen menambahkan sembari menarik Ran menjauh dari Taeil dan Andante.

Sepeninggal dua temannya, Andante menatap Taeil dengan tatapan paling canggung sedunia. Ia memegang piringnya dengan bingung. Akhirnya ia menunjukkan piring itu pada Taeil dan tersenyum.

“Kau mau?” tawar Andante membuat Taeil menggaruk tengkuk, lalu menggeleng pelan.

“Aku alergi cumi-cumi. Kau tidak lupa, kan?”

“Ah ya, benar,” Andante tertawa terpaksa. “Dan kau juga alergi udang, kan?”

“Kau masih ingat?”

“Tentu. Kau punya seribu jenis alergi dan aku harus mengingat semuanya,” Andante tersenyum manis. “Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Sudah lima tahun kita tak bertemu, kan?”

Taeil hanya mengangguk saja, lalu mengajak Andante duduk di kursi tamu yang kosong. Hanya ada mereka berdua di sana, dan Andante mulai menikmati makanan yang diambilnya. Taeil duduk di samping Andante, menekan tombol kameranya dan mengambil gambar Andante tanpa berkata apa-apa.

“Hei,” Andante menoleh. “Kenapa tidak mengatakan apapun sebelum mengambil fotoku?”

Taeil tertawa kecil, lalu memperlihatkan foto itu pada Andante. Andante nampak sangat konsentrasi pada makanannya di gambar itu.

“Bagus, kan?” tanya Taeil pada Andante.

“Sangat bagus. Seperti dulu, kau memang ahli mengambil foto,” puji Andante.

“Kau ingin lihat foto-foto pernikahan ini?”

“Apa boleh?”

“Tentu saja,” Taeil tersenyum sambil menyodorkan kameranya.

Andante melupakan sejenak makanan di depannya dan mengambil kamera dari tangan Taeil. Dengan hati-hati, ia menekan tombol kamera dan melihat hasil gambar yang Taeil buat sepanjang hari. Ada foto-foto dekorasi pernikahan, foto air mancur di dekat pelaminan, foto pengantin wanita dengan bunga di tangan, dan foto pengantin pria yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.

“Foto ini bagus sekali,” kata Andante sambil memperlihatkan foto bunga di tangan pengantin wanita. “Aku senang karena kau sudah menggapai cita-citamu sebagai fotografer pernikahan.”

“Tentu saja. Aku harus menggapai cita-cita itu,” Taeil tersenyum bangga. “Apa kau saudara pihak pria?” tanya Taeil.

“Aku teman kantornya.”

“Kau bekerja di Treasure Company?”

“Ya, benar. Aku mendapat jabatan di bagian public relation perusahaan itu.”

“Bagaimana pekerjaanmu?”

“Menyenangkan. Sejak SMA dulu, itu memang cita-citaku, kan?”

Taeil hanya mengangguk-angguk saja. Tiba-tiba tangan Andante berhenti menekan tombol kamera dan memperlihatkan benda itu lagi pada Taeil.

“Kenapa kau masih menyimpan foto-foto lama?”

Taeil menatap beberapa foto itu dalam diam, melihat dirinya dan Andante dalam balutan seragam SMA tengah berpose dengan penuh kebahagiaan. Taeil nampak merangkul Andante, dan mereka memperlihatkan lembar ujian mereka yang mendapat nilai tinggi.

“Karena… foto itu bagus,” jawab Taeil. “Momennya menyenangkan.”

Ketika Andante menekan tombol lagi, foto masa lalu mereka pun muncul lagi. Andante terdiam, begitu pula Taeil yang hanya mampu menatap foto-foto itu dalam diam.

“Ini foto ketika kita…”

“Hari jadi ke-seratus,” jawab Taeil rendah. “Waktu itu kita merayakannya di Namsan Tower.”

Foto-foto gembok berwarna merah pun bermunculan di layar kamera itu. Ada tulisan tangan mereka dan foto Andante yang memperlihatkan gembok itu pada Taeil.

“Taeil dan Andante, Hari Jadi Ke-seratus,” Andante membaca tulisan itu, lalu tersenyum. “Kita akan selalu bersama sampai seratus tahun lamanya,” Andante mengatakannya lagi.

“Kita dulu sangat naif,” Taeil tertawa kecil. “Iya, tidak?”

“Iya,” Andante mengangguk. “Tapi aku merasa senang dengan rasa naif itu. Seperti tidak ada pikiran yang rumit, hanya kuliah dan mengerjakan tugas, lalu menghabiskan waktu bersama,” Andante tertawa, mengingat kilas kenangan akan dirinya dan Taeil.

“Hanya saja, ketika kita mulai masuk lingkungan kerja, kita mulai menjadi sibuk,” kata Taeil kemudian, membuat senyum di wajah Andante memudar.

“Bahkan kau harus sampai melepaskanku karena kesibukan kita,” balas Andante sembari menunduk. “Hatiku sangat sakit waktu itu karena tak bisa melupakanmu sebagaimana kau dengan mudahnya berjalan meninggalkan aku.”

“Aku juga menderita waktu itu,” kata Taeil tiba-tiba, membuat Andante terdiam.

“Kau?” ulang Andante. “Kupikir kau bisa melupakan aku karena aku tidak berkesan sama sekali, kan?” Andante tertawa kecil.

“Bagaimana mungkin kau tidak berkesan?” Taeil membalas. “Kau adalah teman terdekatku selama masa SMA dan kita menghabiskan waktu di universitas bersama. Kau selalu menjadi motivasiku, menjadi cintaku, dan menjadi impianku.”

“Apa kau juga menderita waktu itu?” Andante bertanya hati-hati, menyadari bahwa topik ini nampak sensitif bagi mereka.

“Kau ingin tahu penderitaanku?” Taeil terkekeh kecil. “Aku pikir aku sudah gila waktu itu. Aku mencoba mengubur kenangan tentang kita dan bertanya-tanya apakah kau melakukan hal yang sama atau tidak. Aku terdengar seperti orang gila, kan?” Taeil menutup kata-katanya dengan tawa miris.

“Percayalah, aku juga sama. Aku mencoba menggantikanmu dengan orang lain, tetapi tidak yang bisa melakukannya. Tak ada orang lain yang bisa seperti dirimu, bertingkah canggung sepertimu, atau sekadar mengambil foto sebagus dirimu,” balas Andante pelan sembari menunduk.

“Kalau aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan melepasmu waktu itu.”

Andante terdiam, mengangkat kepalanya dengan tiba-tiba ketika kalimat itu menerjang telinganya. Matanya bertemu langsung dengan mata Taeil, melihat sorot kesedihan di dalam sana.

“Maksudmu?”

“Aku tak tahu bahwa kita akan berakhir seperti ini. Kalau aku tahu kita akan sama-sama menderita, seharusnya aku tak melepasmu. Aku terlalu muda saat itu, terlalu bodoh. Seandainya aku bisa dewasa sedikit saja, kita mungkin masih bersama.”

Helaan napas Andante adalah satu-satunya jawaban dari gadis itu. Makanan tak disentuhnya lagi, pertanda dirinya kehilangan selera makan. Taeil melihat seorang pelayan lewat membawa nampan berisikan gelas-gelas penuh. Segera ia mengambil satu gelas dan menaruhnya di meja. Sebelum Taeil sempat meminum isi gelas itu, Andante menahannya.

“Minuman ini mengandung buah ceri. Kau alergi, kan?”

“Sungguh?” Taeil mengendus gelas itu. “Sepertinya iya. Untung saja kau mengatakannya. Tidak lucu kalau alergiku kambuh di sini.”

Andante tersenyum, menyingkirkan gelas itu dari tatapan Taeil. Ia menatap Taeil lekat-lekat, lalu menepuk punggung tangan Taeil sekali.

“Aku selalu ingat tentang alergimu.”

-=-

Matahari terbenam, dan orang-orang mulai merapikan semua dekorasi karena pesta sudah selesai. Taeil menyelesaikan tugas terakhirnya, mengambil gambar pengantin dan keluarga mereka, serta memberikan ucapan selamat untuk yang terakhir kalinya. Andante masih menunggu di dekat dekorasi gerbang yang tengah dibersihkan.

“Terima kasih banyak atas kerja kerasmu hari ini,” kata pengantin pria sambil menyalami Taeil.

Taeil mengangguk sopan, mengucapkan terima kasih sekaligus pamit. Ia menghampiri Andante yang masih menunggunya dan tersenyum cerah.

“Kita pulang bersama?” tawar Taeil cepat.

“Tak masalah. Teman-temanku sudah pulang tadi. Kau bisa mengantarku ke rumahku, kan?”

“Bisa,” Taeil mengangguk. “Oh ya, ini untukmu,” Taeil menyodorkan mainan boneka kuda pada Andante. “Pengantin pria memberikan ini untukku. Kau suka kuda, kan? Ini untukmu saja.”

“Yang benar?” Andante tertawa, mengambil boneka itu dari tangan Taeil. “Terima kasih, ya!”

Dan mereka berjalan bersama menuju mobil Taeil yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Taeil masih ingat tentang hewan favorit Andante. Sementara Andante masih ingat tentang segala alergi Taeil. Mungkin mereka masih butuh waktu untuk saling melupakan satu sama lain.

-=-

Taeil membukakan pintu mobil dan membantu Andante turun dari mobil. Mata gadis itu mengantuk, pertanda ia siap tidur kapan saja ketika ia menginjak lantai rumahnya.

“Terima kasih telah mengantarkanku pulang,” kata Andante sambil tersenyum semampunya.

“Tak masalah. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi.”

Andante mengangguk, lalu membuka kunci pagar rumahnya. Tetapi, sebelum ia masuk ke dalam rumah, Taeil menyebut namanya pelan. Andante menoleh, menatap Taeil bingung.

“Andante, aku ingin tahu satu hal.”

“Ya?”

“Seandainya kita tahu bahwa perpisahan akan sesulit ini, apakah kita akan berpisah waktu itu? Apakah kita sekarang masih saling mencintai satu sama lain?”

Andante diam, antara mengantuk dan berpikir dalam keadaan separuh sadar. Tapi akhirnya gadis itu menemukan jawabannya, lalu tersenyum kecil sambil menatap rambut Taeil yang berantakan.

“Kalau kita tahu bahwa kita tak mampu saling melupakan satu sama lain, mungkin kita tak akan berpisah. Mungkin, kita masih bersama dalam cinta saat ini.”

Taeil mengangguk kecil dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mampu berkata-kata lagi dan akhirnya maju mendekati Andante. Dengan sisa-sisa keberanian, ia memeluk Andante hangat dan menyembunyikan wajahnya yang sendu.

“Seharusnya, aku tak pernah melepaskanmu. Seharusnya aku tahu, kau adalah duniaku dan mimpiku. Kau adalah segalanya bagiku.”

-=-

Taeil menatap sisa-sisa keberadaan Andante dalam mobilnya. Ia mengambil kameranya dan membuka-buka kenangan yang tersimpan di sana. Sebuah foto favoritnya muncul, membuat hatinya tersentuh dengan sangat kuat. Hanya foto Andante di sana, dengan baju tidurnya yang kusut dan selembar kertas di tangan. Tulisan berantakan Andante tertera di lembar kertas itu.

‘Selamat ulang tahun, Moon Taeil. Aku mencintaimu. Dan akan selalu mencintaimu.’

“Aku juga akan selalu mencintaimu, Andante.”

-End-

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] Five Years Without You (Vignette)

  1. “Taeil masih ingat tentang hewan favorit Andante. Sementara Andante masih ingat tentang segala alergi Taeil. Mungkin mereka masih butuh waktu untuk saling melupakan satu sama lain.”
    Hal-hal sederhana kayak kenangan gitu adalah alasan salah satu orang susah move on.

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s