[NCTFFI Freelance] Orang yang Sama (Ficlet)

orang-yang-sama-written-by-vxiebell

NCT’sJohnny and OC’sNaomi | G | Fluff | Ficlet
Vxiebell©2016

.

Siang ini, panas menyengat kulit tak tanggung-tanggung. Tak seperti hari kemarin yang cuacanya agak mendung, hari ini justru terang benderang dengan sinar matahari yang menyilaukan mata. Keringat mengucur di punggungku, membasahi seragam sekolah putih yang besok masih harus dipakai.

Di halte ini, aku duduk menahan panas yang semakin menyengat. Bus koridor dua yang kutunggu sejak lima menit lalu belum juga nampak batang hidungnya. Merasa jenuh, aku memilih mengeluarkan novel yang kemarin lusa baru kubeli di pameran yang sedang diskon besar-besaran. Di halaman 120, aku melanjutkan membaca novel itu dengan sesekali mengangkat kepala, siapa tau busnya sudah tiba.

Tak berapa lama kemudian, bus berwarna biru gelap itu berhenti di halte tempatku menunggu. Pintu itu terbuka, buru-buru aku bangkit dan melangkah ke sana. Namun karena penumpang yang masuk agak banyak, aku pun menjadi terdesak dan novelku terlepas dari genggaman. Buku bersampul bening itu jatuh dan terinjak oleh beberapa orang yang tak menyadari, bahkan juga di tendang. Aku menjadi panik dan segera mengikuti arah buku itu bergeser.

Pintu sudah tertutup, keempat ban itu telah bergerak, membuat bus itu melaju dan para penumpang yang tak siap pun ikut terdorong ke depan, terutama aku. Karena sibuk hendak mengambil novel, aku pun menjadi tak siap dan akhirnya oleng hingga menabrak penumpang lainnya. Buru-buru kuucapkan permintaan maafku padanya.

Lantas, ketika bus itu sudah melaju normal, tubuhku sedikit kubungkukkan supaya bisa mengambil novel yang berada di bawah kursi kosong. Namun, sebuah tangan juga terulur dan mengambilnya. Sontak aku mengangkat kepala dan menatap sosok itu. Seorang pemuda dengan rambut cokelat madu dan tatanan yang rapi. Dia tersenyum memandangku yang masih terpesona olehnya.

“Nih,” ujarnya seraya menyerahkan novel itu padaku. Segera kuterima dan kuucapkan terima kasih padanya sambil tersenyum. Dan sekali lagi dia membuatku terpesona, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman tulus.

Pak sopir tampaknya tak menyadari adanya peristiwa ini. Dengan santainya, ia mengerem bus ketika tiba di halte selanjutnya, mempersilahkan penumpang lain masuk. Namun, di samping itu, aku yang tak berpegangan apa-apa menjadi kembali terdorong dan berakhir di pelukan laki-laki itu.

Karena panik, segera kutarik diriku dan bangkit berdiri. Sebelah tanganku menggapai udara untuk meraih pegangan. Jantungku berdegup sangat cepat, membuat atmosfer panas yang lebih besar daripada tadi. Aku pun berdeham, canggung.

Laki-laki itu ikut bangkit dan berpegangan sepertiku. Ketika kutolehkan kepala padanya, ia tersenyum ramah, yang demi apapun membuatku menahan malu. Kenapa pula pak sopir itu sangat tak perngertian? Menghentikan bus seenak jidatnya sendiri!

“Rumahmu mana?”

Kepalaku dengan refleks terangkat dan menatap wajah laki-laki itu. Kemudian dengan cepat segera kutundukkan lagi karena masih malu dengan kejadian tadi.

“Kok nggak dijawab?”

“Ngga usah kepo deh,” ujarku ketus.

Lalu, terdengar suara kekehan kecil darinya. “Jangan bilang, kamu lupa sama aku, ya?”

Aku meliriknya, mempertajam penglihatanku dan mulai menganalisis wajahnya. Sekian detik kemudian, aku baru teringat. Dia adalah orang yang sama, pikirku yakin.

Empat hari lalu, aku juga terjebak dalam situasi ramai-sesak seperti ini. Hari itu, aku hampir jatuh dan untungnya ada seseorang yang menangkapku, sehingga aku tak harus menanggung malu. Dan orang itu adalah dia. Orang yang sama yang hari ini juga menolongku. Orang yang sempat kukagumi karena dia baik hati dan mau menolongku. Yang sempat kusebut-sebut sebagai malaikat penolongku.

Aku menolehkan kepala, menatap wajahnya. Betul, dia.

“Hai, Naomi. Seharusnya kamu nggak bersikap angkuh sama kakak kelasmu,” ujarnya lalu mengedip genit padaku, yang demi apa bisa membuatku mel0ngo.

Dwimanikku turun melihat badge kelas pemuda itu. XII IPS. Johnny Seo. Seragamnya pun sama dengan yang kukenakan. Ah, kenapa pula dia harus satu sekolah denganku?

“Nggapapa, nggak usah kaget gitu.”

Aku hanya bisa nyengir kuda menanggapinya.

“Kamu kelas X IPS 4, kan?”

“Iya, Kak. Emang kenapa, ya?”

“Cuma mastiin aja, sih—” Kemudian ia merangsek maju dan berbisik di telingaku.

.

.

.

.

.

“—supaya nanti bisa ngapelin kamu.”

 

—FIN

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] Orang yang Sama (Ficlet)

  1. emang ya,, yang namanya halte bus atau bus itu sndiri, sasaran apik buat plot cheesy2 kaya gini.
    kok jadi gemes sama mas jojon di sini ya? hahay.
    lu modus mau ngapelin adek kelas lu kan jon,, jangan2 lu sengaja naek bus biar ketemu naomi, kyakyakya

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s