[NCTFFI Freelance] Can’t Stop (Chapter 2)

1471363313050

Title : Can’t Stop [Chapter 2]

Author : H.ZTao_94

Genre : Romance, Brothership, Sad, Family

Rating : PG +15

Lenght : Chaptered

Main Cast : NCT’s Jaehyun as Jung Jaehyun

Winner’s Mino as Song Minho

Red Velvet’s Yeri as Kim Yerim

Additional Cast : Blackpink’s Jisoo as Kim Jisoo

Moon Gayoung (Actrees) as Moon Gayoung

BTOB’s Sungjae as Yook Sungjae

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, keluarganya dan agensi masing-masing. Cerita ini asli hasil imajinasi Author, jika ada kesamaan alur maupun cerita hanya sebuah ketidaksengajaan.

Author’s Note : Holla all… Aku balik lagi bawa ff abal-abal. Semoga menghibur dan bisa menjadi inspirasi.

DON’T COPAS OR RE-UPLOAD

DON’T PLAGIAT

DON’T BE SILENT READER

HAPPY READING…

“Tak bisa berhenti karena sebuah alasan. Dan alasan itu karena aku mencintaimu.”

Link wattpad :

http://my.w.tt/UiNb/ajLSm19fLw

Story By H.ZTao_94

[PREVIOUS CHAPTER 1]

Bruukk…

Jaehyun dan seseorang yang ditabraknya pun terjatuh diatas lantai kampus yang dingin dan sedikit berdebu itu.

“Maafkan aku!” Ucap Jaehyun mencoba menolong gadis yang tak sengaja ditabraknya tadi dengan mengulurkan tangannya pada gadis tersebut.

Namun, gadis itu justru menampik tangan lelaki berlesung pipi ini.

“Apakah kau tak punya mata?” Cerocos gadis yang ada dihadapan Jaehyun itu.

“Maafkan aku!” Sesal Jaehyun.

Lelaki ini melihat ke segala arah memastikan ia tak kehilangan jejak sahabatnya. Namun, tampaknya Gayoung telah pergi entah kemana. Jaehyun pun segera bangkit dan melanjutkan kegiatannya tadi tanpa mempedulikan Yerim, gadis yang bertabrakan dengannya tadi.

YAK, JANGAN PERGI! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB!” Teriak Yerim dengan penuh kemarahan.

CAN’T STOP [CHAPTER 2]

Karena merasa tak dipedulikan, Yerim pun melempar sepatunya tepat ke arah Jaehyun yang tengah berlari itu. Namun, tampaknya Dewi Fortuna tak berpihak padanya. Ia salah sasaran dan justru sepatu yang dilemparnya tadi mengenai kepala Dosen Han, seorang Dosen yang terkenal killer dan di takuti oleh para mahasiswa disana.

Buukk…

Sepatu Yerim mendarat dengan indah diatas kepala Dosen Han. Sontak hal itu membuat Yerim takut.

“Astaga! Apa yang harus kulakukan?” Bisik Yerim panik dengan membereskan buku-bukunya yang berjatuhan karena insiden tadi.

Gadis ini menemukan sebuah alat bantu dengar dibawah buku-bukunya yang berceceran. Ia pun memungut benda tersebut.

“Milik siapa ini?” Bisik Yerim penasaran.

Ia berpikir sejenak. Mencoba membuat opini siapa pemilik alat bantu dengar itu yang sebenarnya. Namun, ditengah konsentrasinya itu, Yerim harus menghadapi amarah dari Dosen Han yang menyeramkan.

“KIM YERIM!” Teriak Dosen Han seraya berlari menghampiri mahasiswinya itu.

Yerim pun mendongakkan kepalanya memandang wajah Dosen Han yang sangat menyeramkan.

Glek…

Yerim menelan ludahnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Gadis ini pun bangkit dan berusaha memasang wajah memelas pada Dosen killer yang ada di hadapannya itu.

“Dosen Han, maafkan aku!” Ucap gadis manis ini dengan membungkuk di hadapan lelaki paruh baya itu.

“Ada kabar buruk untukmu!” Ujar Dosen Han menyipitkan matanya memandang Yerim tajam.

“Kumohon maafkan aku, Dosen Han! Aku tak sengaja. Sungguh!” Ucap Yerim memelas dengan berlutut di hadapan Dosennya itu.

“Ini bukan masalah memaafkanmu atau tidak. Tapi… Tapi…” Dosen Han menggantung ucapannya seraya memandang Mahasiswinya itu.

“Lalu?” Tanya Yerim seraya beranjak berdiri memandang Dosen killer di hadapannya itu serius dan penasaran.

“Beasiswamu dicabut!” Jawab Dosen Han dengan wajah yang sedikit bingung.

“Apa? Beasiswaku dicabut? Mengapa? Mengapa Beasiswaku dicabut? Bukankah prestasiku semakin meningkat? Aku bahkan tak pernah absen mata pelajaran apapun sekalipun sedang sakit.” Cerocos Yerim yang tampak tak terima dengan kenyataan ini.

“Bukan hanya kau, tapi tiga ratus Mahasiswa sekaligus yang Beasiswanya dicabut. Karena Presdir Song, CEO Jung Corporation, mengurangi donaturnya untuk Universitas ini.” Jelas Dosen Han.

“Mengapa harus Beasiswa kami yang dikorbankan? Beasiswa adalah satu-satunya jalan kami untuk meraih cita-cita.” Ujar Yerim.

“Entahlah!” Balas Dosen Han tampak pasrah.

“Itu berarti… Berarti mulai bulan ini dan seterusnya aku harus membayar uang kuliah?” Tanya Yerim yang tentu saja mendapatkan anggukan dari Dosen yang ada di hadapannya itu.

.

.

©H.ZTao_94

.

.

Yerim berdiri di depan sebuah gedung megah mencakar langit, Jung Corporation. Entah apa yang akan dilakukan gadis manis ini. Yang jelas, ia ingin bertemu dengan orang yang bernama Song Jimin yang telah mencabut beasiswanya dan dua ratus sembilan puluh sembilan Mahasiswa lain. Ia pun memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya memasuki area gedung tersebut. Namun, seorang petugas keamanan menghampirinya dan membuatnya harus menghentikan langkahnya.

“Maaf Nona, anda siapa? Dan ada keperluan apa anda datang kesini?” Tanya petugas keamanan tersebut.

“Aku… Namaku Kim Yerim. Aku adalah Mahasiswi di Seoul University. Aku datang kesini untuk bertemu dengan Presdir Song.” Jawab Yerim.

“Apakah anda sudah membuat janji dengan beliau?” Tanya petugas keamanan itu memastikan.

Eum… Aku… Aku belum membuat janji dengannya. Tapi aku memang ada keperluan yang sangat…”

“Maaf, Presdir Song adalah seseorang yang sangat sibuk. Lebih baik sekarang anda pergi dari sini!” Usir petugas keamanan tersebut tanpa mau mendengarkan penjelasan Yerim terlebih dahulu.

Yak, mana boleh seperti itu! Aku harus bertemu dengan Presdir Song!” Ucap Yerim keras kepala dengan menerobos pintu kaca gedung tersebut.

Karena ulahnya yang sangat ceroboh itu, petugas keamanan pun memaksa Yerim untuk pergi dengan menyeret gadis tersebut hingga ke tempat parkir.

YAK, AKU HANYA INGIN BERTEMU DENGAN PRESDIR SONG! MENGAPA KALIAN MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI, HAH?” Teriak Yerim frustasi.

Gadis ini benar-benar tak terima dengan perlakuan petugas keamanan tadi terhadapnya. Sebagai luapan rasa marah dan kesalnya, ia pun menendang ban sebuah mobil mewah yang ada dihadapannya.

Aish, benar-benar menyebalkan!” Ucapnya kesal.

“Apa yang harus kulakukan? Aku tak mampu membayar uang kuliah yang sangat mahal. Apakah aku harus berhenti kuliah? Lalu bagaimana aku bisa mewujudkan impianku jika seperti ini?” Bisik Yerim dengan duduk di samping mobil yang ditendangnya tadi.

Gadis manis ini tampak bingung dengan keadaannya saat ini yang semakin sulit. Yerim mulai terisak pelan. Ia mencium lututnya dan menenggelamkan wajahnya agar tak ada orang yang bisa melihat wajahnya yang kini tengah berlinang air mata.

Hiks… Hiks… Hiks…”

Tanpa Yerim sadari, ada seseorang yang kini tengah berdiri di sampingnya. Sosok lelaki tampan berpakaian rapi dengan jas hitam yang melekat ditubuhnya. Lelaki yang dikenal dengan nama Song Minho ini tak bisa menyuruh Yerim pergi begitu saja. Sekalipun karena keberadaan Yerim itu menghalangi jalannya untuk memasuki mobil mewahnya.

Beberapa saat kemudian, Yerim pun menyadari keberadaan seseorang disampingnya itu. Pelan-pelan gadis ini mendongakkan kepalanya memandang seseorang yang berdiri disampingnya itu. Ia pun bergegas berdiri.

Eum… Maaf!” Ucap Yerim dengan membungkuk lalu pergi meninggalkan lelaki bermarga Song itu.

Minho hanya bisa diam dengan banyak pertanyaan yang bergentangan di kepalanya.

“Siapa gadis itu?” Bisiknya pelan bahkan hampir tak terdengar.

Tiba-tiba ponselnya berdering di dalam genggamannya. Minho segera mengusap layar ponselnya dengan malas setelah melihat nama ‘Ayah’ di layar ponselnya.

“Yeoboseo…” Ucap Minho memberi salam.

“…”

“Aku sedang sibuk. Nanti siang saja saat jam makan siang.” Balas Minho lalu mengakhiri panggilan telepon dari Ayahnya itu.

.

.

©H.ZTao_94

.

.

Jaehyun diam di samping Gayoung yang tengah terisak di atap gedung. Cuaca yang begitu terik tak membuat gadis bermarga Moon itu berpindah dari tempatnya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini?” Tanya Jaehyun mendekati sahabatnya itu.

Gayoung pun mendongakkan kepalanya memandang wajah Jaehyun. Gadis ini mengusap kasar air matanya.

“Aku harus bagaimana? Sungjae tampaknya sudah memiliki kekasih.” Balas Gayoung.

Jaehyun hanya diam karena ia tak mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia kemudian meraba telingany. Dan benar saja, alat bantu dengarnya tak ada.

“Kemana hilangnya?” Bisik Jaehyun seraya berpikir dan mengingat kejadian yang di alaminya tadi saat bertabrakan dengan seseorang.

“Pasti terjatuh.” Ucapnya kemudian bergegas pergi untuk mencari alat bantu dengarnya.

Jaehyun kembali ke tempat dimana ia tadi terjatuh. Namun, tak ada sesuatu pun di sana. Ia pun merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Kemudian ia menulis sebuah pesan untuk Tuan Park.

“Bisakah kau datang dan membawakan alat bantu dengarku yang lain? Alat bantu dengarku hilang.”

 

Setelah mengirim pesan, Jaehyun pun melangkah menuju pintu gerbang kampusnya untuk menunggu kedatangan Tuan Park. Lelaki ini memasang earphone di telinganya sekalipun saat ini ia tak bisa mendengar apapun. Setidaknya dengan memasang earphone, ia merasa lebih nyaman.

Beberapa saat kemudian, terlihat sebuah mobil mewah menepi. Tampak seorang lelaki paruh baya menghampiri Jaehyun.

“Tuan Muda…” Panggil Tuan Park dengan menepuk pundak lelaki pemilik lesung pipi ini.

“Pak Park…” Ucap Jaehyun dengan melepas earphone-nya.

“Ini. Lain kali Tuan Muda harus lebih berhati-hati agar tidak hilang lagi.” Ujar Tuan Park dengan memasangkan alat dengar tersebut pada telinga Jaehyun.

“Terima kasih, Pak Park.” Ucap Jaehyun.

Kemudian lelaki ini melirik jendela mobil. Tampak ada seseorang yang tengah duduk di kursi belakang.

“Apakah itu Minho Hyung?” Tanya Jaehyun dengan menunjuk seseorang di dalam mobil.

“Iya. Tuan Muda Minho dan aku akan bertemu dengan rekan bisnis dari China.” Jawab Tuan Park.

“Semoga pertemuannya lancar. Aku akan kembali dan belajar lebih baik agar setelah lulus nanti bisa ikut membantu bisnis keluarga bersama Ayah, Minho Hyung dan Pak Park.” Ucap Jaehyun.

“Iya. Saya permisi dulu, Tuan Muda.” Pamit Tuan Park.

“Hati-hati…” Balas Jaehyun dengan tersenyum.

Perlahan mobil mewah yang ditumpangi oleh Minho dan Tuan Park pun melaju dengan kecepatan normal. Jaehyun melangkah kembali memasuki area kampus. Saat melewati lapangan basket, tiba-tiba ada seseorang yang sengaja melempar bola pada lelaki bermarga Jung ini. Untung saja Jaehyun bisa menangkap bola tersebut. Terlihat seorang lelaki menghampirinya dengan wajah yang penuh dengan keringat.

“Lemparanku benar-benar tepat sasaran.” Ujar lelaki yang bernama lengkap Yook Sungjae itu.

“Ambil kembali bolamu!” Balas Jaehyun seraya menyerahkan bola ditangannya pada Sungjae, kemudian ia melangkah melanjutkan perjalanannya.

Yak, tunggu!” Ucap Sungjae dengan memegang lengan Jaehyun.

“Ada apa?” Tanya Jaehyun.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Gayoung? Mengapa tadi pagi tiba-tiba dia berada di depan ruang seni bersamamu? Apa yang kalian berdua lakukan?” Tanya Sungjae dengan menyipitkan matanya.

“Mengapa kau peduli pada Gayoung? Bukankah kau sudah memiliki kekasih?” Jaehyun justru balik bertanya pada Sungjae.

“Itu karena… Karena selama ini Gayoung selalu bersikap baik padaku. Gayoung adalah temanku. Dan yang tadi pagi itu bukan kekasihku.” Jawab Sungjae.

“Jika kau menganggap Gayoung adalah temanmu, mengapa kau tampak memberikan harapan padanya? Bukankah itu sama saja kau menyakitinya?” Jaehyun tampak mulai memojokkan Sungjae.

“Aku hanya… Hanya berusaha bersikap baik pada Gayoung. Jika dia salah mengartikan sikap baikku, itu bukan salahku.” Bantah Sungjae seraya melangkah kembali bersama teman-temannya untuk melanjutkan permainan basketnya tadi.

.

.

©H.ZTao_94

.

.

Sore menjelang. Yerim masih sibuk bergelut dengan rangkain bunga ditangannya. Gadis ini masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Ia bahkan hampir putus asa karena masalah beasiswanya itu.

“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Bisiknya.

Beberapa saat kemudian, terlihat seorang pengunjung datang. Dengan malas ia menghampiri pengunjung tersebut.

“Selamat datang! Bunga apa yang anda cari?” Tanya Yerim berusaha menampilkan wajah yang penuh dengan keramahan.

“Bunga Krisan putih.” Jawab si pengunjung.

“Baiklah, aku akan mengambilkan untukmu.” Ucap Yerim seraya melangkah menuju tempat bunga yang akan diambilnya.

Setelah mendapatkan bunga Krisan putih di tangannya, Yerim pun kembali untuk menemui si pengunjung tadi.

“Ini bunga yang kau minta.” Ucap Yerim seraya menyerahkan bunga di tangannya.

“Terima kasih!” Balas si pengunjung dengan menunjukkan lesung pipinya.

Kali ini Yerim mulai memperhatikan wajah si pengunjung dengan seksama. Ternyata dia adalah lelaki yang tak sengaja bertabrakan dengannya tadi pagi.

“Bukankah…” Batin Yerim seraya berpikir bagaimana caranya untuk meminta maaf.

“Ini uangnya.” Ucap si pengunjung lalu melangkah keluar florist.

Yak, tunggu!” Kata Yerim dengan memegang lengan si pengunjung yang berpostur tubuh tinggi itu.

“Ada apa?” Tanya si pengunjung memandang Yerim penuh tanya.

“Apakah ini milikmu?” Tanya Yerim dengan menunjukkan sebuah alat bantu dengar.

“Iya. Dari mana kau menemukannya?” Tanya si pengunjung yang akrab dipanggil Jaehyun itu.

“Tadi pagi di tempat kita tak sengaja bertabrakan. Oh iya, aku… Aku minta maaf atas ucapanku tadi pagi.” Jelas Yerim dengan membungkuk.

“Memangnya kau mengatakan apa? Aku… Aku tak mendengarnya.” Balas Jaehyun dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Eum… Lupakan saja! Terlalu kasar jika dibahas. Namaku Yerim, Kim Yerim.” Kata Yerim memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan pada lelaki yang ada di hadapannya itu.

“Namaku Jaehyun, Jung Jaehyun.” Balas Jaehyun menyambut uluran tangan Yerim.

Dua anak manusia ini pun saling memandang satu sama lain. Hingga Jaehyun menyadari jika ia harus segera pergi.

“Aku harus pergi. Bye…” Ucap Jaehyun sembari melangkah keluar florist memasuki mobil mewahnya.

Yerim hanya diam memandang punggung Jaehyun yang semakin menjauh. Yerim tak menyangka jika ternyata orang yang tadi pagi dimakinya adalah seorang yang tak bisa mendengar.

“Kasihan sekali. Masih muda dan tampan tapi tak bisa mendengar. Apakah Tuhan mempertemukanku dengannya agar aku bisa lebih bersyukur lagi? Tampaknya akhir-akhir ini aku banyak mengeluh dengan keadaanku. Tuhan, maafkan aku!” Bisik Yerim.

“Yerim, bisakah kau mengantarkan bunga ke alamat ini?” Tanya Nyonya Jang, si pemilik florist dengan menunjukkan sebuah kertas.

“Tentu saja. Aku akan mengantarkannya. Ini tidak jauh dari sini.” Jawab Yerim.

“Apakah setelah ini kau akan langsung pulang? Jika kau langsung pulang, bawalah ini untuk Yejin!” Ucap Nyonya Jang dengan memberi sebuah kantong plastik pada Yerim.

“Apa ini?” Tanya Yerim memandang kantong plastik di tangannya.

“Itu Tteobokki. Tadi siang aku membuat banyak, jadi aku menyisihkannya sedikit untuk Yejin.” Jawab Nyonya Jang.

“Terima kasih, Bibi Jang.” Kata Yerim dengan membungkuk pada atasannya itu.

“Iya. Cepat antarkan bunga ini!” Titah Nyonya Jang.

“Baiklah! Aku pergi…” Pamit Yerim sembari melangkah menuju sepedanya.

.

.

©H.ZTao_94

.

.

Malam yang dingin. Yerim tengah mengelap meja kafe sebelum pulang. Selain bekerja di florist, gadis bermarga Kim ini juga bekerja di kafe saat malam hari. Hidupnya yang sulit membuatnya harus bekerja keras di usianya yang masih muda. Ia tinggal bersama adiknya di sebuah rumah atap yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai Nelayan dan hanya pulang setiap tiga bulan sekali. Sedangkan Ibunya sudah meninggal saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Yerim pun bergegas pulang. Dengan menaiki sepeda mininya, ia melewati jalanan yang sudah mulai sepi karena malam semakin larut. Sebenarnya Yerim takut terjadi sesuatu jika harus pulang selarut ini, namun ia tak ada pilihan lain.

Setelah melewati jalan raya, Yerim pun memasuki gang kecil yang gelap. Tiba-tiba saja ada dua lelaki bertubuh besar yang mencegatnya. Yerim pun mengerem sepedanya secara mendadak. Tampaknya dua lelaki di hadapan Yerim itu tengah mabuk. Dengan cepat, gadis itu segera berbalik arah. Namun, salah satu dari mereka telah memegang bagian belakang sepeda Yerim. Membuat gadis itu tak bisa menghindar dari bahaya.

“Kau mau kemana, gadis manis?” Tanya salah satu dari lelaki bertubuh besar itu dengan suara yang menyeramkan.

“Kumohon jangan sakiti aku!” Melas Yerim dengan tubuh yang gemetaran.

“Kami tak akan menyakitimu! Mari kita bersenang-senang bersama!” Ucap salah seorang bertubuh besar tersebut dengan menarik tangan Yerim.

“TOLONG… TOLONG…” Teriak Yerim berusaha meminta pertolongan.

Namun, tampaknya ia akan sia-sia karena tempat tersebut sangat sepi. Gadis ini berusaha untuk melawan, namun tetap sia-sia karena tenaga dua lelaki itu lebih besar dari tenaga seorang Kim Yerim.

Beberapa saat kemudian, Yerim mendapatkan ide. Gadis ini pun menginjak kaki salah satu dari dua lelaki yang memeganginya itu. Sontak hal itu membuat salah satu dari mereka melepaskan Yerim karena merintih kesakitan. Hal ini dimanfaatkan oleh Yerim untuk lari.

YAK, JANGAN LARI!” Teriak salah satu dari mereka kemudian mengejar Yerim yang hendak melarikan diri itu.

Gadis manis ini terus berlari hingga ke jalan raya. Namun, tetap saja tak ada yang menolongnya. Sesekali Yerim menoleh melihat ke belakang untuk memastikan orang yang mengejarnya tadi masih terus berusaha atau sudah kehilangan jejaknya. Namun, tampaknya orang bertubuh besar itu masih terus mengejar Yerim.

“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Bisik Yerim dengan nafas yang terengah-engah karena terus berlari.

Karena sudah sangat lelah, akhirnya Yerim pun terjatuh di atas trotoar karena tak sengaja kakinya tersandung batu.

Buukk…

Tubuh Yerim mendarat di atas lantai trotoar yang kotor dan berdebu. Lututnya berdarah membuatnya sulit untuk bangkit. Yerim semakin bingung tatkala orang-orang yang mengejarnya tadi semakin dekat.

“Apa yang harus kulakukan? Hiks… Hiks…” Gadis berparas cantik ini mulai terisak karena bingung dan takut.

“Akhirnya kau berhenti juga gadis manis.” Ucap orang bertubuh besar itu mendekati Yerim dan mencoba untuk menyentuh dagu gadis tersebut.

“HENTIKAN!”

Terdengar suara seseorang yang tiba-tiba datang. Entah siapa orang itu, Yerim tak tahu. Lelaki bertubuh besar yang hendak menyakiti Yerim itu pun menghentikan aktivitasnya dan membalikkan tubuhnya melihat seseorang yang telah berani menghentikan acara bersenang-senangnya itu.

“Berani sekali kau berteriak padaku! Apakah kau sudah bosan hidup, hah?” Ujar lelaki bertubuh besar tadi memandang sosok lelaki yang baru datang hendak menolong Yerim itu.

“Hadapi aku jika kau memang seorang lelaki!” Balas orang yang berjas rapi itu seraya melangkah mendekati lelaki bertubuh besar tadi tampak seperti menantang.

Lelaki bertubuh besar tadi tampaknya tak terima dengan ucapan lelaki yang bernama lengkap Song Minho barusan. Ia lantas menyerang Minho dengan membabi buta. Minho pun tak tinggal diam. Akhirnya terjadilah perkelahian antara Minho dan lelaki bertubuh besar tadi. Mereka saling memukul satu sama lain. Hingga beberapa saat kemudian, Minho berhasil mengalahkan lawannya sekalipun wajahnya babak belur. Lelaki bertubuh besar tadi tersungkur di atas trotoar dengan darah segar yang mengalir dari ujung bibirnya dan wajah yang babak belur serta memar.

Hosh… Hosh… Hosh…

Deru nafas Minho terdengar begitu keras. Keringatnya mengalir melewati pelipis. Lelaki bermarga Song ini pun melangkah mendekati Yerim yang masih diam di tempatnya sejak tadi. Tanpa Minho sadari, teman dari lawannya tadi datang dan mencoba untuk membalasnya. Lelaki bertubuh besar itu menyambar sebuah pot bunga yang berada di trotoar untuk dilemparkan pada Minho. Melihat hal itu, Yerim segera berteriak untuk memberikan peringatan pada seseorang yang telah menolongnya itu.

“AWAS…” Teriak Yerim.

– TO BE CONTINUED –

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s