[Ratification Collabs] War of Milk

2016-10-9--15-49-55.jpeg

WAR OF MILK —

©2016, BaekMinJi93 & Febby Fatma

 

Starring with

NCT’s Na Jaemin — Jung Jaehyun — Dong Sicheng — Qian Kun

Also with Nakamoto Yuta and Lee Taeyong as cameo

 

| AU! — Fantasy — Surrealism | Ficlet-mix | General |

Storyplot is purely ours…

Happy reading…


#1st Ficlet – Preparation

 

“Terima kasih banyak, hyung.”

Lengkungan manis seketika terpahat di wajah Jaemin kala ia melakukan serah terima segelas susu bersama Yuta.

“Cepat tidur dan semoga mimpi indah,” kata Yuta seraya mengacak rambut coklatnya pelan, yang sayangnya hanya dibalas oleh sang empu berupa gumaman kecil. “Selamat malam.”

“Selamat malam,” balas Jaemin sembari asyik menghabiskan susu putih yang baru ia minum seperempat gelas tersebut.

Sepeninggal Yuta, seketika lampu kamar Jaemin mati dan hanya menyisakan seberkas cahaya bulan yang berhasil meloloskan diri melalui celah ventilasinya. Jaemin meletakan gelas susunya yang telah kosong di atas nakas. Entah apa yang sedang dipikirkannya hingga akhirnya Jaemin memutuskan untuk menguntai langkahnya menuju balkon.

Fokusnya sengaja Jaemin edarkan ke seluruh penjuru istana, tempat di mana dirinya menghabiskan waktu hampir seumur hidupnya di dunia. Tak ada bedanya dengan gulungan film, memori di benak Jaemin seketika berputar—mulai dari masa kanak-kanak hingga sesi ia dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Susu sampai saat ini. Jujur saja, Jaemin merindukan semua kenangan manis tersebut.

Heol … ” Jaemin menghela napas kasar, mencoba berusaha untuk melepas satu dari sekian banyak tumpukan beban yang ia panggul di punggungnya beberapa waktu akhir ini. “Aku ingin sebuah ketenangan dan kuharap Tuhan bersedia mengabulkan keinginanku—meski mungkin kesempatan yang akan menghampiriku hanya satu kali.”

Kasarnya, Jaemin tahu jika harapan itu perlahan akan lenyap seiring berjalannya waktu.

Ttok … ttok… ttok…

Suara ketukan pada pintu kamarnya seketika membuyarkan mimpi kecil yang barusan Jaemin ciptakan.

Ternyata pelakunya adalah Jung Jaehyun, sahabat sekaligus panglima perang terbaik yang ia miliki.

“Raja, seorang utusan dari perbatasan menyampaikan kabar bahwa Kerajaan Yogurt akan kembali menyerang kerajaan kita.”

Jaemin sedang asik bersandar di kursi di balkon kamarnya saat Jaehyun melangkahkan kaki ke kamarnya

“Kau sudah pastikan kabar itu benar?”

“Dari ujung desa Susu Strawberry, beberapa penjaga melaporkan jika mereka melihat arak-arak dengan bendera Kerajaan Yogurt.”

“Baiklah. Siapkan semuanya. Kita beri mereka pelajaran lagi.”

Jaehyun membungkuk tanda memberi hormat, “Baik, Raja.”

“Tunggu!” Baru saja Jaehyun berhasil menciptakan langkah kedua, suara Jaemin kembali menghentikannya. Wajah yang biasanya dihiasi dengan senyum ceria tersebut, kini seakan terasa sirna. “Dan jangan lupa perkirakan berapa lama tentara Kerajaan Yogurt sampai kemari,” lanjutnya.

“Baik, Raja.”

Meski dirinya sudah memberikan satu petuah jelas pada Jaehyun, namun tetap saja Jaemin masih merasa ada yang mengganjal perasaannya. Derap langkahnya menggaung ke seluruh penjuru lorong kala ia menuruni tangga bebatuan di sana. Jaemin pikir, masyarakat di wilayahnya tidak akan bisa tidur dengan tenang untuk beberapa hari ini dan seketika rasa bersalah pun melintas di hatinya.

Waktu yang seharusnya Jaemin gunakan untuk istirahat dari kepenatan mengemban tugasnya sebagai pemimpin, kini harus ia gunakan untuk kembali memeras otak bersama Jaehyun guna mendiskusikan pola pertahanan untuk perang kali ini.

Suasana semakin mencekam seiring sekon waktu terus berlari. Waktu sang bulan untuk berjaga di langit semesta tanpa terasa telah berganti dengan waktu sang fajar mulai menampakkan eksistensinya. Detak jantungnya tak berhenti berdetak dengan kencang. Meskipun ini sudah kali kelima kedua kerajaan tersebut berseteru dengan asyiknya dan juga untuk kali keempatnya kerajaan Susu merasakan indahnya kemenangan—karena ada satu kali kala dimana mereka menganggap perseteruan mereka imbang, tapi tetap saja Jaemin masih dapat merasakan sensasi serupa dengan hal yang ia sebut dengan jatuh cinta. Tapi saat ini kita tidak sedang membicarakan perihal jatuh cinta, omong-omong.

“Menurut laporan terakhir yang kami terima, jajaran tentara Kerajaan Yogurt telah sampai di area Desa Susu Kedelai. Hal itu menandakan jika kurang dari satu jam ke depan, mereka akan berhasil sampai di pintu gerbang utama istana kita,” lapor Jaehyun.

Raut serius secara sempurna terpahat di wajah oriental milik raja bermarga Na tersebut. “Coba berikan aku teropong jarak jauhnya,” ujarnya tegas.

Setelah terepong berhasil mendarat di tangan, Jaemin segera mengarahkannya ke arah di mana tentara kerajaan Yogurt berasal. Namun alih-alih mendapat pantulan para tentara tersebut, Jaemin malah mendapati wajah seseorang memenuhi kaca teropongnya.

“Kau sedang apa?”

 


 

#2nd Ficlet – Disturbance

 

“Kau sedang apa?”

Jaemin sontak terlonjak kala mendapati wajah Yuta memenuhi kaca teropongnya, akibatnya satu pukulan keras pun berhasil Jaemin layangkan ke arah punggung Yuta dengan lancar jaya. Sebagai informasi tambahan, suasana tegang ala menyambut peperangan kedua kerajaan pun seakan sirna dalam waktu sekejap.

Sambil mengaduh, pemuda yang terlahir dengan marga Nakamoto ini lantas bersiap memberi siraman rohani terhadap Jaemin. “Kau belum tidur? Besok kau masih harus berangkat sekolah. Aku tidak ingin melihatmu menggerutu seperti bebek hanya karena alasan telat bangun—….”

Dan percayalah, omelan dari pemuda berdarah Jepang tersebut tidak akan berhenti sampai di situ saja.

Jaemin hanya bisa bungkam sampai akhirnya kakak sepupunya tersebut menyelimuti tubuhnya seraya mengucapkan selamat malam sebagai penutupnya. Tetapi entah apa yang sedang Jaemin pikirkan sekarang, kenyataan sangat berbanding terbalik dengan harapannya.

“Ah, sial!”

Singkatnya, Jaemin mengalami insomnia.

Sebanyak apa pun Jaemin mencoba menutup kedua kelopak matanya dan berusaha tidur, sebanyak itulah Jaemin kembali membukanya dan terjaga di bawah secercah sinar rembulan yang melesak masuk di kamarnya. Hatinya terasa gelisah. Jantungnya berdetak tak keruan. Jika Jaemin boleh berkata jujur, dia ingin melanjutkan permainan malamnya hingga akhir.

“Jaehyun hyung,” panggil Jaemin kepada teman sekamarnya yang kebetulan berperan menjadi panglima perang di permainannya, Jung Jaehyun. Jaehyun bergumam merespon. “Kau belum tidur kan?”

Jaehyun terdiam sejenak, sebelum akhirnya bersuara. “Hampir, sampai akhirnya panggilanmu membuatku terjaga kembali.”

“Entah kenapa aku tidak bisa tidur malam ini,” keluh Jaemin dengan helaan napas berat di akhir kalimatnya. “Kau bersedia menemaniku melanjutkan permainan malam kita?”

“Aku bersedia menemanimu jika kedua bocah China itu kemari dan—….”

Hei, bro!

Ucapan Jaemin seketika menggantung kala terdengar suara berderit pintu kamar terbuka dan mendengar satu sapaan yang diberikan pada keduanya. Baik Jaehyun dan Jaemin segera melempar pandang ke arah sumber suara dan seketika lengkungan asimetris dengan makna tersirat terpahat di wajah mereka.

“Kau siap, hyung?” bisik Jaemin kepada Jaehyun dan satu anggukan yang ia dapatkan pun menjadi jawaban yang cukup jelas bagi pemuda Na tersebut.

***

Semua properti telah tersusun rapi di tempatnya. Mulai dari penempatan wilayah masing-masing kedua belah pihak—segelas susu putih di sisi kanan dan segelas yogurt di sebelah kiri—hingga beberapa bungkus snack makanan ringan yang rencananya akan mereka berempat gunakan sebagai senjata dan meriam.

Keadaan pun perlahan kembali ke suasana mencekam. Tidak ada lagi sebuah tempat tidur bertingkat milik Jaemin dan Jaehyun, semua tergantikan dengan pemandangan tanah lapang khas medan perang bak latar film yang tayang di layar lebar.

“Raja, lebih baik anda tidak perlu ikut perang. Kami para panglima akan memastikan kemenangan untuk kerajaan kita.” Ternyata Jaehyun sudah memulai perannya sekarang.

Jaemin menolaknya. “Aku ingin menghadapi mereka juga.”

Tanpa memperdulikan bagaimana reaksi para panglima perangnya, Jaemin pergi mempersiapkan perlengkapan perangnya. Dalam hati dia senang bukan main karena akhirnya bisa berhadapan dengan Raja Winwin lagi setelah kemenangan telak dari Raja sebelumnya, Raja Kun.

“Sekali lagi, akan aku tunjukan pada mereka jika Kerajaan Susu adalah kerajaan terbaik.”

Senyum kemenangan sudah menghiasi wajahnya. Rasa tidak sabar seperti kelabang raksasa yang melilit dan berputar di seluruh tubuhnya. Memandang para pasukan yang berbaris dengan gagah membuat semangatnya membuncah kembali.

Raja Winwin merajut langkah menghampirinya. Dengan senyum dengan kesan remeh yang terukir di wajah polosnya—cih, bahkan Jaemin tidak akan menyangka jika dirinya akan bertarung dengan raja berwajah selucu dia—, Winwin berkata. “Menyerahlah jika kau ingin menyerah sekarang, mumpung sekon waktu masih membiarkan kau dan pasukanmu untuk angkat kaki dari tanah ini.”

Jaemin berdecih dan mendengus. “Tidak, sampai aku berhasil membuatmu jatuh berlutut di hadapanku.”

“Jangan mencoba untuk bermimpi terlalu tinggi, Raja Na.”

“Asal kau tahu saja, ucapanmu barusan berlaku juga untukmu, Raja Winwin.”

Mereka berdua sempat bertukar tatap sebelum akhirnya kembali merajut langkah ke arah pasukan perang masing-masing.

“ANGKAT SENJATA KALIAN DAN LUMPUHKAN MEREKA SEKARANG!!!”

Seruan dari Jaemin lantas membuat semangat pasukan Kerajaan Susu berkobar. Tanpa menunggu waktu lama, perang telah dimulai. Meriam dan juga busur gula-gula mulai berterbangan bebas di angkasa. Darah mulai menghiasi namun tetap tidak membuat semangat kedua belah pihak luntur.

“TERUSLAH MELAWAN DAN JANGAN BIARKAN MEREKA MEREBUT DAERAH KEKUASAAN KITA!!!” bakar Jaemin untuk kesekian kalinya.

Entah kenapa, jauh di lubuk hati terdalam Jaemin pikir ini terasa menyenangkan dan juga terasa candu.

Dari atas, Jaemin dapat melihat sedikit celah dari pihak sang lawan. Banyak prajurit dari pihak Kerajaan Yogurt yang telah gugur, yang Jaemin pikir akan ada upacara besar-besaran untuk mengenang jasa mereka di Kerajaan seberang. Raja yang menyandang marga Na tersebut melayangkan senyum kemenangan ke arah panglima perangnya, Jung Jaehyun.

“Percayalah, kita akan tertawa di akhir cerita, kawan.” Jaemin berujar bangga.

“Sepertinya kau harus menahannya sampai hari berganti, Raja,” balas Jaehyun dengan raut wajah bergidik takut.

Jaemin menautkan kedua alisnya bingung, merasa ada yang janggal dari raut yang ditampilkan oleh Jaehyun.

“Kenapa aku harus menahannya?” tanya Jaemin masih dengan raut bingung yang tergambar jelas di wajahnya.

“Karena….” Jaehyun kembali menggantungkan ucapannya dan menelan ludahnya dengan raut yang tak berbeda dengan sebelumnya. Jaemin mengedarkan pandangannya dan kini ia tak mendapati batang hidung baik milik Kun maupun Winwin. “Coba kau lihat sebelah kananmu sekarang, Jaem.”

Apa maksudnya, pikir Jaemin bingung namun tetap menuruti apa yang Jaehyun petuahkan padanya.

Di detik selanjutnya, Jaemin hampir saja meloloskan satu umpatannya kala mendapati wajah Taeyong yang memerah—meskipun temaram, namun Jaemin yakin jika wajah Taeyeong benar-benar memerah akibat menahan amarah sekarang.

“Sekarang, bisakah kau menjelaskan siapa yang bersedia bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi di kamar tidurmu, Raja Jaemin?”

Hanya sekadar untuk penegas, khayalan Jaemin kembali dirusak oleh seseorang—yang untung saja berbeda pelaku dengan sebelumnya.

 

FIN

Febby Notes:

Yey! Selesai ternyata.. trims banget buat Bebe yang udah nyempurnain ff ini. Aku juga minta maaf karena waktunya mepet banget ya, Beb. Udah gitu aku malah ngilang lagi.. hehe, kamu yang terbaik. Hidup Na Jaemin!!”

Bebe Notes:

Hello everyone, Bebe here! Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih banget buat Kak Feb yang udah jadi partner kolab plus mau nerima saran surreal–aneh–dariku dan aku juga mau minta maaf buat semuanya–terutama kak Angel gara-gara aku molor banget kelarin nih FF hahaha. Sekali lagi maaf, Kak :D. Apa lagi ya? Ah, pokoknya makasih banyak deh buat yang udah sempatin waktu untuk baca FF kolab ini dan semoga ada kesan tersendiri ya setelah baca… Semangat semuanya!!!”

Advertisements

6 thoughts on “[Ratification Collabs] War of Milk

  1. UCUL BANGEEET!!!
    Duh dek Jaemin,,, sini noona peluk biar ga dimarahin sama Om Yuta en Om Taeyong.
    Sisus! Author nya great banget. Aku udah ngira sih pas ficlet awal, itu semacem khayalan nya Jaemin. Trus ini namanya Kerajaan Susu, aq jadi mikir kayak serial kartun Backyardigan, sekumpulan anak2 yg berimajinasi di belakang rumah itu lho. Bukan macem perang kaya film2 perang sungguhan.
    Nice! And Keep writing,,

    Like

  2. Halo! Ya ampun, nda paham lagi ini fic bikin aku pas bacanya senyum senyum sendiri. Kok lucu sih, perumpamaan kerajaan susu, kerajaan yogurt, meriam gula-gula dll. Kkk ada-ada aja nih khayalannya Nana.
    Seru, menghibur! Nice work, author-nim ❤

    Like

  3. unyuuuuuuuuuuuuuu ya Tuhan
    kerajaan susu aduh aduh dede jaem bobok dek bobok biar bsk ga bangun kesiangan. terus napa pula ini anak2 tua *aka 97line* ikut2an -.- dasar kalian.
    tuh jadinya dimarahin senpai sama mbah taeyong kan -.-
    sumpah ga bisa berhenti senyum dan nepuk dahi bacanya, dedek jaem ucullllllll
    keep writing!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s