[Chaptered] You Look Yummy (Part 11)

S-LCOUP

Main Cast : [NCT] Jaehyun, [DIA] Chaeyeon, [17] DK, [Gfriend] Yuju

Other Cast : [OMG] Jiho & Bini, [iKON] Junhoe, [GF] Eunha

Genre : School Life, Friendship, Romance

Rating : PG-17

Previous Chapters :

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |

.

.

Seariously?! YA! Mereka keterlaluan! Kenapa kau enggak langsung cerita kemarin?” Seokmin menjengit setelah Yuju rampung menjelaskan alasannya terus saja murung di perjalanan menuju sekolah.

“Ya karena baru ingin cerita sekarang.” balasnya ketus.

“Ini enggak bisa dibiarkan!” decakan Seokmin hanya ditanggapi seringaian tipis oleh Yuju. Dieratkannya cengkeraman pada gantungan untuk penumpang yang berdiri di dalam bis.

Sampailah mereka di halte dekat sekolah. Dengan langkah beriringan mereka berjalan bersama menuju gerbang. Obrolan basa-basi pun mereka ulas untuk mengusir bungkam yang mengungkung. Pertanyaan tentang apa yang satu sama lain makan untuk sarapan, jam berapa keduanya bangun. Tidak penting, sih, tapi Yuju dan Seokmin menikmatinya dengan cara mereka sendiri.

Saat sudah sampai di koridor, beberapa pasang mata tertuju pada sepasang sahabat itu. Merasa tidak nyaman karena jadi pusat perhatian, Seokmin pun mengedarkan pandang ke sekitarnya. Ia mendapati beberapa gadis – yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari – sedang berbisik-bisik.

“Dia enggak terlalu cantik, mana mungkin Jaehyun suka padanya. Dasar jalang!” sebuah sarkasme sampai ke rungu Seokmin. Sontak ia berbalik dan berjalan menghampiri gadis yang baru saja bicara demikian. Yuju pun terlonjak kaget, belum sempat ia mencegah sahabatnya itu untuk melangkah, namun Seokmin sudah ada di hadapan gadis itu.

“Jangan bicara sembarangan! Bahkan ujung kaki hingga kepalamu pun tak layak disandingkan dengan sehelai rambut milik Yuju!” hardik Pemuda Lee itu dengan amarah yang bergejolak. Karena ketakutan, gadis itu pun langsung menelungkupkan kepalanya dengan kaki bergetar.

“Apa yang kau lakukan, Seok?!” tegur Yuju. Segera ia tarik lengan kekarnya untuk enyah dari pandangan tukang cibir itu.

“Aku menandaimu, camkan itu!” raut sarkatis masih belum sirna dari sepasang manik obsidiannya saat ia perlahan mundur untuk pergi.

.

.

Suasana kelas 3 – 2 sedikit gaduh sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Mereka sedang membahas pertengkaran kecil yang terjadi antara Seokmin dan salah seorang penggemar Jaehyun.

“Benar kau pacaran sama Choi Yu Ju?” tanya Junhoe pada pemuda yang tengah anteng duduk di bangkunya sendiri.

Mwoya… kami teman sejak kecil. Aku enggak paham kenapa para gadis jadi bertambah ganas akhir-akhir ini.”

“Kalau kau khawatir, kondisikan para penggemarmu itu agar tidak menyusahkan orang lain, dong!” cibir remaja bermarga Goo itu.

“Nanti, deh… aku akan mengurusnya.” tandas Jaehyun enteng.

.

.

Seokmin tak jemu meletakkan rasa herannya pada sikap dingin Yuju sejak pagi tadi. Sepertinya gadis itu marah karena ia membentak orang yang sudah mencelanya. Yuju sempat bilang bahwa apa yang dilakukannya itu berlebihan. Tapi, please, Seokmin begitu, kan, karena tidak terima kalau ada yang mencelanya.

“Aku enggak mau kita bermusuhan untuk kedua kalinya dalam minggu ini.” celetuk Seokmin pada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Bukannya menanggapi, Yuju malah tetap berkutat dengan aktivitas menulisnya.

“Oke, maafkan aku karena sudah melakukan hal yang menurutmu keterlaluan. Tapi siapa, sih, yang akan diam saja melihat orang yang disayangi mendapat cemoohan seperti itu?” imbuhnya tanpa menghiraukan respons Yuju setelah ini. Kalau dia tetap diam pun itu pilihannya.

Yuju menghentikan kegiatannya menulis hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pelajaran. Sebenarnya itu cuma gimic agar kentara kalau ia tidak ingin memiliki konversasi dengan Seokmin.

“Ya, ya, ya… terima kasih karena sudah peduli padaku. Sungguh suatu kehormatan.” ucap Yuju enteng seraya menepuk pundak bidang Seokmin pelan.

Seandainya itu bukan Lee Seok Min yang telah menghabiskan belasan tahun hidup bersama Yuju, mungkin dia akan menimpalinya dengan ucapan sarkatis. Sakitkah hati Seokmin karena sudah tak dihargai? Tentu tidak karena pemuda itu sudah bertekad untuk menjadi orang yang selalu memahami Yuju. Tak peduli meskipun ia harus selalu mengalah dan berlapang dada. Percayalah Seokmin tidak akan terluka.

.

.

Pada jam makan siang, Chaeyeon duduk di bangku kantin bersama ketiga sahabatnya. Banyak hal yang dibahas, mulai dari topik tidak penting mengenai stan 1 yang tutup sejak hari senin. Mereka pun jadi rindu dengan rasa pedas nasi gorengnya. Model rambut Eunha yang awalnya lurus menjuntai dan kini berubah jadi model bob pun tak luput dari pembahasan.

“Sebenarnya aku mau meniru model saggy-nya Yoobin. Tapi urung karena nanti dia berpikir aku penggemarnya.” oceh Eunha bercanda. Yang bersangkutan pun langsung menyikut lengannya, “Please, aku tidak seberlebihan itu, ya…”

Seketika dua orang gadis yang tengah menenteng nampan datang dan menginterupsi pembicaraan seru mereka. Saat mendongakkan kepala, didapatilah Harim dan Myungjin yang tanpa permisi langsung menduduki bangku di samping Chaeyeon dan Jiho.

“Enggak ada bangku kosong lagi, jadi enggak apa-apa, kan, kalau kita join?” celetuk Myungjin yang hanya ditanggapi oleh raut bergeming Yoobin dan kawan-kawan.

“Hei, Jiho… lama sekali, ya, kau enggak main bareng kita? Sudah dapat teman yang lebih seru, nih, kayaknya.” kata Harim yang lebih terdengar seperti ocehan sok asyik. Karena malas, Jiho pun hanya menyunggingkan seulas senyum simpul.

Chaeyeon merasa tak nyaman dengan eksistensi Kyungjin di sebelahnya. Ia terus memberi isyarat melalui tatapan mata pada Eunha, siapa saja tolong bawa aku menjauh dari sini bagaimana pun caranya!

 

Mendadak ia teringat bahwa dua gadis yang tanpa sungkan nimbrung di gerombolannya itu adalah pembuat onar yang kemarin mengerjai sahabatnya, Yuju. Sebenarnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk Chaeyeon. Sudah saatnya ia membalas kebaikan dan ketulusan Yuju selama ini. Tapi di sisi lain ia merasa ragu. Dia tahu sekali kalau Myungjin dan Harim itu sangat berbahaya kalau diusik sedikit saja.

Masa bodoh sajalah dengan rasa takut. Chaeyeon cuma ingin memberi penjelasan singkat pada mereka. Kalau sampai dua gadis itu macam-macam, kan, ada Jiho yang pernah berjanji akan membelanya.

Jogiyo… Myungjin-ssi, Harim-ssi,” kata Chaeyeon sontak membuat para empunya nama menoleh. “Tidak usah pakai honorifik segala, kulit hantu… kita teman sekelas, bukan?” sahut Myungjin disertai seringai yang menyiratkan kesan meremehkan.

“Dia punya nama, kau tahu, ‘kan? Jung. Chae. Yeon. Bukan seperti apa yang kau sebut tadi.” omel Eunha yang merasa tak terima sahabatnya dikatai seperti itu. Tiga sahabatnya terkejut, baru kali ini mereka melihat ia yang biasanya berperangai kalem jadi mendadak tersulut amarahnya.

“Oke, oke… bicaranya tidak usah ngegas gitu, dong!” kata Harim. “Ada apa, Jung. Chae. Yeon?” imbuhnya dengan mengikuti cara Eunha memenggalkan nama gadis itu.

Eum… kudengar kau mengerjai Yuju kemarin? Kumohon hentikan. Mereka berdua enggak pacaran, kok. Jaehyun dan Yuju itu teman sejak kecil.” Chaeyeon langsung menelan saliva setelah ujarannya usai.

“Apa urusannya denganmu?” semprot Harim.

Eung… memang tidak ada, aku tahu. Tapi aku mohon jangan ganggu Yuju lagi. Kenapa, sih, kalian selalu menganggu gadis yang berhubungan dengan Jung Jae Hyun? Kita di sini, kan, semuanya berhak saling berinteraksi.”

Secara blak-blakan Chaeyeon mengutarakan seluruh isi hatinya. Peduli setan kalau setelah ini ia menerima bogem mentah atau jambakan kasar dari mereka, kebebasan berpendapat sudah diatur oleh Undang-Undang di Negara ini, ‘kan?”

“Sori, bagaimana pun juga… Jaehyun itu milikku.” tandas Harim. Mata mereka langsung membulat, dan Chaeyeonlah yang melotot paling lebar. Batinnya merutuk sebal mendengar ucapan gadis itu.

Enak saja kalau ngomong, Jaehyun itu punyaku tahu! Mata, hidung, bibir, semuanya hanya aku yang boleh memilikinya!

“Kok bisa?” tanya Chaeyeon meminta kejelasan. “Mereka pernah menghabiskan malam bersama.” tandas Myungjin dengan entengnya.

Well, aku sudah selesai makan. Yuk, pergi!” Harim menengkurapkan sendok dan garpunya. Tak lama setelah itu, mereka pun beranjak dari kursi dan lantas melenggang pergi.

“Masa, sih, Jaehyun seperti itu? Enggak mungkin! Ya, kan, Jiho? Dia cuma membual, ‘kan?” panik Yoobin.

“Selama berteman dengannya, baru kali ini aku mendengar hal itu. Ya ampun, jangan sampai kejadian sungguhan!” balas yang disuguhi pertanyaan.

Aliran darah Chaeyeon serasa terhenti untuk beberapa saat. Syaraf-syarafnya mendadak kaku, disusul dengan pikiran-pikiran kalut yang menyapa serebrumnya. Sugesti Jaehyun enggak mungkin seperti itu terkalahkan oleh raut meyakinkan Harim saat berkata demikian. Sungguh, ia ingin menangis sejadi-jadinya sekarang.

.

.

Seokmin pernah menonton sebuah drama, di mana terdapat kutipan yang keren sekali di episode terakhirnya. Kurang lebih bunyinya seperti ini; Bukan cinta namanya kalau kau terus memendam perasaanmu. Karena saat sedang jatuh cinta, kau selalu memiliki hasrat untuk mengungkapkannya.

 

Seokmin mencintai Yuju, dan itu telah berlangsung sejak waktu yang tak ia ketahui. Dia tahu ini konyol dan kalian boleh tertawa. Tapi Seokmin tidak peduli, sumpah demi apapun ia akan memperjuangkan cintanya sampai akhir.

Mulai hari ini, Seokmin memutuskan untuk berhenti memendam apa yang ia rasakan. Pemuda itu tahu kalau keputusannya kali ini terbilang mendadak. Dia sudah lelah menjalani cinta satu arah, cinta yang tidak akan berbunyi, karena hanya sebelah tangan yang bertepuk. Barangkali kalau Seokmin mengungkapkannya sekarang, Yuju bisa berhenti memperlakukannya seperti teman biasa.

“Aku sudah bosan jadi orang yang tidak pernah kau prioritaskan.” adalah kalimat yang Seokmin ucapkan saat mereka sedang menyusuri koridor untuk menuju gerbang. Yuju sontak menoleh dengan dahi yang sudah mengernyit, “Maksudmu?”

“Sebenarnya selama ini aku suka padamu.” tandas Seokmin tanpa ragu. Lelaki itu telah mempertimbangkan semuanya matang-matang. Dan menurutya, menyatakan secara gamblang adalah metode mengungkapkan perasaan yang paling tepat.

Seokmin berani jamin kalau Yuju tak akan ambil pusing dengan ucapannya barusan. Mereka, kan, sudah kenal sejak lama. Tidak tepat rasanya apabila ia harus repot-repot membawa Yuju ke tempat romantis seraya menyodorkan sebuket bunga mawar.

“Kau belum menjelaskan apa maksud dari pernyataan pertama.” celetuk Yuju. Tak segaris pun ekspresi terkejut melintas di wajah ovalnya yang presisi.

“Mungkin kalau aku sudah mengaku suka padamu, kau bisa membuka hati dan pikiran. Jadi lebih menghargai keberadaanku, mungkin?” kata Seokmin.

“Jadi kau pikir selama ini aku selalu mengabaikanmu?”

“Kurang tepat, tapi hampir bisa dikatakan begitu.”

Entah mengapa yang tercipta setelah percakapan itu adalah atmosfir dingin yang mencekam. Kedua pasang manik kelam itu bersirobok, berlarut-larut menyiratkan kesan menegangkan. Sungguh bertolak belakang dengan momen pengungkapan perasaan yang sering terlihat di serial remaja yang tayang tiap Sabtu malam.

“Bodoh!” ucap Yuju sambil mendorong lengan Seokmin dengan kasar.

“Kenapa kau malah mengatai aku bodoh?” herannya.

“Kau tak tahu alasanku selalu berusaha bersikap dingin, eoh? Tentu saja agar rasa cintaku padamu tidak ketahuan.” setelah bicara, Yuju pun segera membuang muka untuk menyembunyikan rautnya yang bersemu merah. Ia malu bukan main.

Seokmin langsung tersentak setelah ia mendapat sebuah pernyataan tidak terduga dari gadis itu. Padahal ekspektasinya cuma sekadar Yuju yang akhirnya tahu tentang apa yang ia rasakan. Saat tahu ternyata gadis itu juga suka padanya, bisa bayangkan sendiri, kan, betapa bahagianya Seokmin?

“Aku ingin menciummu, tapi tidak di sini.” kata Seokmin dengan segaris seringai licik di sebelah bibir. Gadis jangkung itu pun terdongak untuk menatap wajah tampan milik Seokmin.

“Kalau begitu, biar aku yang akan menciummu di sini.” tandas Yuju lantas berjinjit dan meraih tengkuk Seokmin. Beruntung sekali ia memiliki kaki panjang yang membuatnya tak kesulitan untuk memberi sapuan lembut pada bibir pria itu.

Mata si pemuda terbelalak hebat atas perlakuan tiba-tiba itu. Untung saja ia tak hilang kesadaran. Tangannya perlahan menggeladik untuk ia tempelkan pada punggung Yuju, sedangkan tangan yang satu lagi mencengkeram pinggang si gadis dengan erat.

Seokmin berhasil membuatnya terdorong hingga membentur dinding. Dan di saat itulah ia mengambil alih kendali ciuman yang sedang mereka lakukan. Yuju terkejut dengan kelihaian Seokmin menaikkan suhu tubuhnya. Ia jadi penasaran, dari mana Seokmin belajar membuatnya nyaman dengan sebuah ciuman?

Tapi Yuju tak ingin memikirkan itu sekarang. Dari mana pun Seokmin berguru, gadis itu tak mau tahu. Ia hanya ingin menyalurkan rasa cintanya yang dalam pada Seokmin di momentum ini.

To Be Continued

/banting meja

/pengen ngumpat

/kenapa yuju seokmin jadi absurd, kenapa???!!! kenapa???!!!

Meskipun amat random dan bikin nalar terguncang, dimohon untuk tetap meninggalkan jejak ya ^^ please please please ~

Advertisements

6 thoughts on “[Chaptered] You Look Yummy (Part 11)

  1. OMG!! Jadi yuju suka Seokmin?? Waaa gk nyangka,, yuju yg selama ini dingin ternyataaa😳😳
    Lahir couple baru!! Jadj 4 sahabat berakhir saling jatuh cinta?😍

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s