[NCTFFI Freelance] Stitches (Ficlet)

stitches-vxiebell-ff-22

OC’s NattayaNCT’s Johnny | PG | Comfort | Ficlet | Vxiebell©2016

===============

You watch me bleed until I can’t breathe
I’m shaking, falling onto my knees
And now that I’m without your kisses
I’ll be needing stitches
Tripping over myself,
Aching, begging you to come help
And now that I’m without your kisses
I’ll be needing stitches

===============

Perasaan yang dahulu hanya sebuah khayalan tak bermakna yang akan terhapus ketika sadar kembali. Kini aku dapat merasakannya. Suka yang berubah menjadi lebih menyenangkan melebihi hadiah sejuta dolar. Sesuatu hal yang mampu mengubah gaya hidup. Segala aktivitas yang biasanya membosankan berbalik menjadi hal yang paling menyenangkan. Aku selalu menunggunya datang.

Aku tahu betapa malasnya untuk bangun pagi tatkala tiada satu pun motivasi. Jangankan menginjakkan kaki di ‘sekolah’, memikirkannya saja sudah membuat mood menjadi down. Namun nyatanya ada satu hal yang membuat hal itu berubah. Setiap pagi, tanpa adanya campur tangan orang tua yang membangunkan, mata ini selalu terbuka dan selalu terasa segar. Tanpa dipaksa, kakiku akan berjalan riang mempersiapkan diri untuk ke sekolah dengan kicauan ria khas orang yang bersemangat.

Adalah cinta.

Kata yang selalu kudambakan selama ini. Akhirnya dapat juga kurasakan betapa manisnya kata itu. Betapa bahagia dan bermaknanya tatkala mengenal kata cinta yang sesungguhnya. Aku rasa, aku telah jatuh terlampau dalam pada kemanisan cinta tanpa mampu memikirkan hal lain. Termasuk kata ‘perpisahan’.

“Johnny,” suaraku tercekat memanggil nama pemuda yang berdiri memunggungiku. Rambut blonde kecokelatannya membuat mataku perih hingga berkaca-kaca dan merah.

Semilir angin dapat kurasakan membelai wajahku lembut, namun tak dapat membuatku nyaman dengan sapuan itu. Siulan udara yang menerbangkan anak rambut hitam legam hingga berantakan pun tak ku hiraukan sama sekali.

“Maaf, Nattaya,” ujar pemuda yang masih setia membelakangiku. Suaranya terdengar mulus, datar, tanpa nada sedikitpun. Ada apa dengannya? Mengapa tiba-tiba berubah dingin seperti salju di Antartika?

Likuid bening menembus pelupuk mataku. Bergulir melewati wajahku yang sudah pucat. Semuanya sia-sia. Aku terisak dalam tangis memalukan ini. Aku menangis!

“Johnny, aku—“

“Sekali lagi, maaf,” Johnny menyerobot jatah kalimatku. Ia meminta maaf padaku. Ya, memang benar, dia meminta maaf padaku, tetapi tanpa rasa menyesal sedikitpun. Bagaimana bisa dia bersikap seperti ini?!

Air mata semakin deras membanjiri wajahku. Seberapa keras aku menahan supaya mereka tak tumpah, semua itu sia-sia. Seberapa kuat aku menggigit bibir bawahku, percuma saja, suara sesenggukan akan tetap terdengar. Sesegera mungkin aku mengusap wajah, menghapus air mata, tetapi air itu akan muncul lagi, lagi, dan lagi. Aku lelah.

Johnny melaju meninggalkanku. Langkah santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Dia bersikap seolah-olah dia itu keren dan sama sekali tak bersalah.

Suaraku tercekat. Aku tak lagi dapat memanggil namanya. Hanya suara tangis yang dapat keluar. Hanya air mata yang dapat melukiskan betapa sakitnya perasaanku saat ini. Hanya tanah yang tahu betapa lemas dan bergetarnya kedua tumpuanku. Hanya angin yang dapat merasakan kedinginan dan kehampaan hati ini.

Hatiku menjerit.

Sebuah jerit kesakitan.

Aku sudah pernah merasakan luka, tapi tiada yang membekas hingga seperti ini. Kata-kata Johnny membuatku teriris oleh sayatan pisau yang dalam. Nadi ini berdetak sangat lemah. Dadaku sesak. Aku butuh seseorang untuk menarikku dari kesesakkan ini. Aku butuh seseorang untuk memberikan udara dan kehidupan. Akan tetapi, seseorang itu malah pergi meninggalkanku.

Aku sendirian.

Kini aku bertumpu pada lutut dalam kelemasan. Seluruh ragaku roboh. Luruh bersama tanah. Semua telah hancur seperti kepingan kaca yang tajam. Aku menangis, tapi siapa yang peduli? Kala hati dan ragaku serapuh ini, engkau malah tetap berjalan pergi tanpa berbalik ataupun menoleh. Di mana hati nuranimu?

Suara tangis kembali berpendar dalam untaian udara yang kasat mata. Tak inginkah engkau berbalik dan menemuiku lagi? Tidak, aku rasa tidak. Kau hanya berhenti dan mematung. Hanyut dalam pikiranmu sendiri. Aku di sini, sangat rapuh tanpa oksigenku.

 Kau.

Johnny.

Kau berbalik dan memandangku seolah aku kasta rendahan. Mengapa kau berubah? Mengapa kau seperti ini padaku? Kau hanya diam memperhatikanku yang tengah berdarah-darah. Terluka. Hati ini tertusuk jutaan jarum tajam yang membuat nyeri dan ngilu, tidakkah kau tahu?

“Nattaya!”

Seruan itu menyeruak ke dalam gendang telingaku. Aku mendengarnya. Namun sama sekali tak berniat untuk tahu siapa gerangan. Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundakku dan satu tangan menggenggam tanganku hangat. Namun kehangatan itu tak sama seperti yang kau berikan padaku. Satu-satunya penghangatku di kala musim dingin tiba, hanya kau. Tiada yang lain.

Gwaenchanha?”

Suara itu kembali menyiratkan nada khawatir, namun aku tetap setia memandangmu yang masih terpaku dalam posisi dinginmu. Dia—yang entah siapa—membantu tubuhku untuk berdiri. Akan tetapi tak ada yang bisa membuat tenagaku kembali, kecuali dirimu. Seberapa kuatnya orang ini, aku hanya bisa bangkit dengan uluran tanganmu saja.

“Penghianat.”

Suara tegas Johnny menyeruak di telingaku. Seakan angin telah membawa suara itu kepadaku. Sepersekian detik berikutnya, kau kembali berbalik dan bergerak lebih jauh meninggalkanku. Oh, ada apa?

Hatiku kembali merintih. Kengeluan ini, kapan ujungnya?

Tanganku terulur berupaya meraih tubuh Johnny. Tanpa sadar aku telah berlari mengejarnya. Namun mengapa Johnny enggan berhenti dan menjelaskan semuanya padaku? Aku berlari. Sebuah batu kecil hampir membuatku terjatuh. Berkali-kali aku tersandung. Hampir roboh. Aku kehilangan keseimbangan. Aku seperti tersesat. Aku seperi orang bodoh!

“Johnny!” seruku parau.

Tubuh Johnny berbalik dengan enggan dan langsung memberikanku tatapan penuh emosi, “Kubilang kita PUTUS,” tegasnya sekali lagi. penuh penekanan di setiap kata, terutama kata terakhir. Kata yang enggan kudengar dari mulutnya.

Tubuhku membeku. Seketika lututku bergetar hebat. Aku jatuh berlutut tepat di hadapan Johnny. Tidakkah kau kasihan padaku? Mengapa harus mengakhiri hubungan manis kita? Kau, hanya kau satu-satunya harapan hidupku.

Aku seperti terseret dalam lubang kegelapan yang tiba-tiba terbakar api. Panas. Sakit. Semua rasa menyakitkan itu membakar tubuhku. Mengurung ragaku dalam selimut api. Aku hangus. Aku menjadi debu. Aku tak bisa bernapas. Aku sekarat. Namun kau tetap tak mempedulikanku.

Kumohon, kembalilah. Aku sangat mencintaimu.

—fin

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s