[Daydream Scenario] Girl’s

Girl’s

by. Andelle

.

.

# Based from promt ; High Heels

.

.

Starring NCT’s Park Jisung and OC’s Bethany Lee

slight! NCT’s Na Jaemin

A fluff genre story

G rated Ficlet  length

­­­­­­­­­­­­­­­­

DISCLAIMER

I own the original character and this storyline is pure from my mind so it’s pure mine. There’s no element of plagiarism in this story. I hate the silent readers and copy this story without any credit and/or my own permission is really prohibited.

COPYRIGHT©2016 ANDELLE ALL RIGHT RESERVED

HAPPY READING

….

 

“Maksudmu, kau tidak ikut latihan karena kau sudah berjanji akan menemani nuna-mu ke Myeongdong?”

Itu suara Jaemin. Jisung menggumam sebentar, dengan satu tangan lainnya masih tetap mencomot keripik kentang dari dalam bungkusnya.

“Iya. Jarang-jarang ‘kan Bethany-nuna pulang ke Korea. Jadi, sebagai adik sepupu yang baik aku mau menemaninnya ke Myeongdong. Dia bilang terakhir kali dia pulang ke Korea, dia tidak sempat pergi ke sana. Jika aku bertemu dengan teman sekelas mereka akan mengira kalau aku mengencani nuna-nuna cantik,”

Wah, kau sudah berkembang, Jisung-ah,” jawab Jaemin di ujung sana tepat ketika Jisung memasukkan keripik kentang terakhir ke dalam mulutnya. “Wanita akan menjadi sangat menyebalkan ketika sedang jalan-jalan, kau harus tahu itu”

Ya, aku tahu kau—“

“Jisung-ah! Park Jisung!”

“Ah, Bethany-nuna memanggilku, kurasa dia sudah siap. Baiklah, aku tutup dan sampaikan izin dan maafku pada Mark-hyung, oke?”

“Wah, Myeongdong tetap menakjubkan, ya” kata Bethany sembari mengamati sekitarnya. “Baiklah, Jisung-ah. Should I buy bag or clothes or anything else?” tanya Bethany sambil merangkul Jisung dengan tangan kirinya.

“Entahlah.”

“Tentu saja kau tidak tahu. Aku berani taruhan bahwa kau tidak punya pacar, ‘kan?” ucap Bethany sembari tertawa.

Ya, nuna! Jangan menggodaku!”

“Hei, siapa yang menggodamu? Lihatlah! Kita bahkan seperti tante dan keponakan sekarang karena tingkahmu, Jisungie!”

Nuna, berhenti memanggilku seperti itu. Aku sudah besar sekarang,”

“Baiklah. Jisung sudah besar sekarang.” Bethany terkekeh dan melepas rangkulannya. “Aku tahu kau rela tidak latihan basket bersama klubmu demi ini. Ayo!”

“Kau tahu ini semua berat, nuna.

Bethany tersenyum miris. Dia memang meninggalkan Jisung sendirian ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Oh Sehun tadi. Niatnya hanya ingin menanyakan kabar selayaknya teman yang sudah lama tak bertemu, tapi sialnya Sehun menyinggung tentang reuni untuk angkatan mereka musim depan.

“Yah, aku tahu. Maaf ya,” kata Bethany mengambil tas plastik dari tangan kiri Jisung. “Tadi teman lamaku, Oh Sehun. Dia bilang akan ada acara reuni musim depan”

“Jadi, musim depan nuna akan pulang lagi?”

“Lihat saja nanti, jadwalku sedang padat.”

“Aku ikut, ya?”

“Apa? Ikut kemana?”

“Ikut ke acara reunimu. Lagipula kita satu keluarga besar SM High School, ‘kan?”

“Sebenarnya aku takut dikira sudah memiliki anak jika mengajakmu,” kata Bethany. “Eh, tapi kalau Sehun mengajakku berangkat dengannya, kau tidak bisa ikut denganku, ya.”

Nuna!”

“Oke, nanti kita bahas ya,” kekeh Bethany. “Oh, kurasa aku perlu beberapa sepatu lagi.” Bethany masuk ke dalam toko sepatu itu tanpa mendengarkan Jisung yang mengeluh. Dan, sepertinya Bethany lupa kalau ia baru memberikan Jisung es krim sebagai pengganjal perutnya.

Langkah kaki Bethany berhenti pada koleksi sepatu high heels dengan berbagai macam rupa dan warna. Jisung melirik pada harga yang tertera pada salah satu heels berwarna merah di dekatnya. Astaga. Sepatu itu bahkan lebih mahal daripada jumlah uang sakunya selama sebulan penuh—tidak, atau mungkin dua bulan? Dan bagaimana dengan semua barang yang tengah dia bawa sekarang?

“Jisung-ah, menurutmu bagus yang mana? The red one? Or the black one?” tanya Bethany sambil menunjukkan sepatu yang dimaksud. “Oh, astaga, this pink is also cute,

“Kenapa tidak beli semuanya? Nuna ‘kan punya banyak uang,”

“Hei, Jisung. Kita tidak boleh boros. Lagipula aku hanya seminggu di Korea dan kurasa tidak perlu membawa banyak sepatu baru dari sini ketika pulang. Merepotkan,” jawab Bethany. “Jadi? Yang mana yang bagus?”

Jisung memutar matanya. “Kurasa yang warna hitam bagus,”

“Yang ini?” tanya Bethany dan Jisung mengangguk. “Yah, kau benar. Ini sangat elegan. Tapi, Jisung-ah, yang ini juga bagus, ‘kan? Merah!”

“Ya sudah beli yang itu saja,”

“Oh, oke, yang merah,” kata Bethany. “Astaga, aku lupa yang pink ini. Really cute, right? Baiklah aku ambil semuanya!”

Jisung menghela napasnya panjang.

Setelah keluar dari toko, keduanya mampir ke restoran terdekat untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan. Jisung tak perlu repot-repot membawa uangnya karena ia tahu Bethany yang akan membayar semuanya.

“Hei, nuna, kau tidak makan?” tanya Jisung sambil mengunyah makanannya.

“Astaga, Jisung-ah, coba lihat ternyata banyak sekali barang yang sudah kubeli!” rengek Bethany.

Jadi, dia baru sadar? Demi Tuhan.

“Yah—“

Bethany menggigit ujung kukunya. “Demi Tuhan, ini menghabiskan gajiku selama tiga bulan. Astaga, aku menyesal—“

Entahlah. Ini lebih memusingkan daripada matematika dan para sekutunya.

Benar kata Jaemin.

Oh, seharusnya Jisung latihan basket saja hari ini!

-fin-

ANDELLE’s NOTE ;

Yah.

Jisung, ya.

Park Jisung.

Cucucucucuwing gam.

Sedih nggak bisa manggil oppa.

Astaga.

Regards ;

andelle ; —

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s