[Ratification Collabs] Délire

pixlr.jpg

DÉLIRE

aurora ft. Angelina Triaf

starring NCT’s Mark and Red Velvet’s Yeri // Slice of Life, Psychology, Angst, slight!Married-life, Drama // Oneshot // PG-15

“My youth is yours, run away now and forevermore.”

— Youth, Troye Sivan.


Dulu sekali, kalau tidak salah ingat ketika ia menyentuh usia empat belas, cita-cita Mark adalah menjadi pilot. Di bangku sekolah, ia memejamkan mata, membayangkan dirinya mengangkasa mengantarkan orang-orang menuju destinasi mereka, tak lupa ditemani sebaris pramugari berparas menawan, lantas semangat belajarnya akan melunjak tinggi.

Ketika Mark berusia enam belas tahun, cita-citanya bergeser; ia ingin jadi dokter. Diberi kepercayaan atas kelangsungan hidup masyarakat, mengenakan jas putih seharian penuh, dengan kompeni suster-suster manis—ah, musim semi langsung menyambangi senyuman Mark.

Sekarang Mark sudah delapan belas tahun. Dengan rambut yang acak-acakkan dan kemeja dikancing tak keruan, ia melajukan Rover hitam pemberian ayahnya, menyisir jalanan berliku dan menerobos deru napas sang malam. Ada Yeri di sampingnya dengan penampilan yang tak kalah berantakan, ada koper-koper yang bertumpuk dari bangku penumpang hingga bagasi, dan ada sketsa yang tak terjabarkan dalam sorot mata keduanya.

Setir dibanting ke kiri, kalkulasi dari Google Maps bilang mereka akan menyentuh perbatasan Kanada dalam radius lima ratus meter ke depan. Lantas kelegaan mulai mengisi rongga dada Mark—yang ironisnya dibarengi dengan kegelisahan.

Tetapi Yeri mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan Mark, mentransfer kejut listrik statis yang membuat Mark menoleh; manik mereka bertemu.

“Kita akan baik-baik saja,” kata Yeri, dan Mark mengapresiasinya dalam dua anggukan ringan sebelum kembali pada kemudi.

Kita akan baik-baik saja, ulang Mark dalam hatinya.

Sebentar lagi Toronto akan jadi keping yang tertinggal di hidup mereka; bangunan-bangunan tempat Mark bersekolah dulu, rumah orangtuanya, taman-taman bermain yang berisi memoar-memoar nan hangat, juga NEST.

Yeri mengutak-atik pemutar musik di mobil, mengganti Fall Out Boys dengan Transviolet, kemudian tertidur.

Flat yang akan mereka tinggali letaknya di pertengahan kota Quebec. Mark mendapatkannya dengan harga supermurah, tanpa perlu menawar. Tidak terlalu luas, mungkin hanya seperempat dari rumah Mark di Toronto dulu—nyaris menjurus pada sempit, tetapi penghuninya cuma dua orang, apa pula yang mereka inginkan?

Cuma dua orang. Dan mungkin setelah enam bulan berlalu, akan menjadi tiga.

“Aku ingin dia perempuan.” Yeri berkata begitu sambil memindahkan pakaian-pakaian dari dalam koper ke lemari. Dia sudah tidak berantakan lagi. Rambut cokelat mudanya dikepang satu dan piama ungu pastelnya beraroma buah persik seperti biasa.

“Dia harus laki-laki,” sahut Mark dari balik selimut.

Ia menghabiskan delapan setengah jam lebih menyetir dari Toronto menuju Quebec. Rasanya seluruh kerangkanya remuk dan yang ia ingin lakukan cuma tidur hingga penatnya lepas.

Yeri menghela napas keras-keras. Ada sensasi aneh berkeliaran dalam setiap jengkal tubuhnya. Berada dalam spasi bertitel kamar cuma dengan Mark berimbas buruk pada jantungnya. Ingatan-ingatan tentang malam di NEST itu berkelebat dalam kabut—menabur sesal temporer.

“Aku selalu mau punya anak perempuan yang manis dan bisa kudandan-dandani,” ucap Yeri. “Tidak menyangka dia bakal datang sebentar lagi, lho.”

Mark membalikkan badan, menghadap Yeri. “Dia pasti laki-laki,” balasnya separuh bercanda.

“Perempuan.”

“Laki-laki.”

“Kembar.”

Yeri menutup argumennya dengan menunjuk bibir Mark menggunakan telunjuk; cara yang efektif sejak dulu.

“Sana istirahat. Kususul sebentar lagi.”

Satu-satunya pekerjaan yang bisa Mark penuhi adalah menjaga toko buku yang terletak dua blok dari tempat tinggalnya. Bosnya adalah seorang pria paruh baya yang berkumis tebal, dengan aksen Spanyol yang masih kentara. Namanya Tuan Montez. Beliau suka mengenakan kemeja kotak-kotak yang dilapisi apron cokelat.

Dan beliau begitu ramah.

“Ah, jadi kau pergi merantau dari Toronto ke Quebec, ya?” tanya Tuan Montez di hari pertama Mark bekerja.

Mark mengangguk dari balik setumpuk buku karya ilmiah yang harus ia rapikan. Sadar bahwa Tuan Montez tak bisa melihatnya, ia menjawab, “Yeah—maksudku, iya. Keluargaku agak bermasalah. Jadi aku memutuskan untuk mencari suasana baru.”

“Kau punya teman atau keluarga jauh di sini? Tinggal bersama mereka?”

“Tidak, aku tinggal dengan….”

Dengan siapa?

Tidak mungkin Mark menjawab “Dengan seorang perempuan yang sedang hamil tiga bulan karena kami sama-sama bodoh dan terpengaruh alkohol.” atau, “Dengan istriku—sebentar, kami tidak melangsungkan pernikahan, tapi kami bakal punya anak.”

Itu akan membuatnya dipecat dengan rekor kerja tiga jam. Sungguh tidak mengasyikkan.

“Dengan sepupuku,” jawab Mark.

Tuan Montez manggut-manggut. Beliau menyapukan kemocengnya ke rak tua di belakang meja kasir.

“Putra bungsuku seumuran denganmu, Lee,” kata Tuan Montez. “Dia tinggal di San Fransisco, ikut sekolah penerbangan. Sejak kecil dia ingin jadi pilot dan sekarang dia tinggal beberapa langkah dari mimpinya.”

Mark menghentikan pergerakan tangannya. Rasanya seolah buku-buku ini membuat bebannya jadi bertambah.

Tuan Montez berkata lagi, “Kau pasti juga punya impian, ‘kan? Jangan biarkan masalah keluargamu mempengaruhi bahkan sampai mengacaukan impianmu. Kau kelihatannya anak yang cerdas. Jangan sia-siakan itu.”

Mark meletakkan buku terakhirnya dengan tenggorokan yang terasa dijejali karang.

Tapi impianku sudah dikacaukan, pikirnya, karena aku sendiri.

Beberapa pengandaian hinggap di pikirannya.

Andai malam itu kami tidak pergi ke pesta ulang tahun Lara di NEST.

 Andai kami tidak mencoba-coba sampanye.

 “Lee, tolong pindahkan kardus yang di dekat kakimu itu ke lantai dua,” perintah Tuan Montez.

Mark tidak menggubrisnya. Ia mematung, seolah dunia di sekitarnya berhenti mengejar waktu. Ia tenggelam perlahan-lahan dalam gema sesal … dan amarah pada diri sendiri.

Sebuah hal membosankan sering kali membuat waktu menjadi lambat mengarungi jalannya. Tetapi nyatanya Yeri sudah bertahan dengan cukup sabar terperangkap dalam kubus yang tak terlalu luas ini. Terhitung empat bulan di sini, mengetahui bahwa kewarasan tak perlahan meninggalkannya saja sudah cukup membuat hati lega.

“Mark, kau pulang.”

Rutinitas sore ini kembali terulang, layaknya program yang sudah diatur sedemikian rupa. Mark selalu pulang kisaran jam lima sampai enam. Ia sudah tak pernah membawa mobilnya lagi, cukup berjalan kaki ketika berangkat dan pulang dari toko buku tempatnya bekerja.

Mendengar suara Yeri yang menyambutnya kali ini, entah mengapa Mark hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman singkat, satu kecupan ringan di kening lalu dengan sedikit gontai melangkah masuk ke kamar mereka tanpa mengucapkan apa pun lagi. Benar-benar bukan Mark yang biasanya.

Tunggu, apa yang Yeri pikirkan? Ia tak pernah punya cukup waktu untuk mengetahui tentang bagaimana Mark yang sebenarnya.

Karena jika boleh jujur, Yeri tak pernah mengenal Mark lebih dari sekadar teman satu sekolah yang kebetulan sama-sama mengenal Lara; Mark adalah sahabat dari mantan pacar Lara, dan Yeri hanya seorang teman dari sahabat Lara.

“Mark, sudah waktunya makan.”

Entah apa yang ada di dalam kepala seorang Yeri. Hanya bisa terdiam ketika mengetahui bahwa ia telah hamil dua bulan. Baru berani mencari Mark yang kala itu sedang berada di lapangan basket dengan teman-temannya sebulan kemudian. Mau-maunya dibawa kabur oleh Mark yang frustrasi ke tempat antah-berantah. Menjalani hidup layaknya sepasang suami-istri tanpa adanya ikatan apa pun. Mengurusi Mark, menuruti segala yang ia katakan.

“Mark?”

Pilinan memori yang terus berputar seiring langkahnya untuk menghampiri Mark yang tak kunjung keluar dari kamar mereka.

“Mark―astaga, ada apa?”

Lagi-lagi hanya bisa terdiam ketika Mark tiba-tiba memeluknya, tanpa mengatakan apa pun, walau Yeri bisa merasakan pelukan Mark kali ini lebih erat dari biasanya.

“Tolong katakan ini semua hanya mimpi, Yeri. Benar, ‘kan? Ini semua pasti hanya mimpi.”

“Mark, kau bicara apa?”

Seharusnya Yeri tahu bahwa tak mudah bagi mereka untuk menjalani segalanya yang kacau seperti ini. Mereka lahir di tahun yang sama, namun naluri yang berbeda tumbuh dalam diri mereka empat bulan belakangan.

Yeri menjadi lebih dewasa. Percaya atau tidak, suatu malam ia teringat ketika ayahnya menceritakan bagaimana perjuangan ibunya ketika mengurus kehamilan sampai melahirkannya. Tubuh remajanya dipaksa memahami apa yang belum seharusnya terjadi, dan Yeri untungnya baik-baik saja dengan perubahan besar tersebut.

Namun Yeri lupa bahwa Mark menjalani hidup yang lebih berat darinya. Ia tak pernah tahu hal apa saja yang ada di pikiran Mark. Mereka belum sepenuhnya saling percaya, Yeri sangat tahu hal itu. Maka jangan salahkan dirinya jika ia tak mampu berucap di hadapan Mark yang seperti ini.

Mark sedang kacau.

“Apa yang terjadi padamu?”

Mencoba melepas pelukan Mark darinya, yang Yeri dapati hanya keresahan tergambar jelas di wajahnya. Apa yang terjadi di luar sana sehingga Mark bisa jadi seperti ini?

“Aku melihatnya, Yeri. Setiap hari,” gumam Mark agak tidak jelas, tangannya mengguncangkan kedua pundak Yeri agak kencang.

“Apa yang kau lihat?”

Perasaan Yeri mengatakan bahwa hal ini akan menjadi sesuatu yang tidak baik bagi mereka.

Mark sangat kalut, bahkan lebih terlihat seperti orang yang kehilangan akalnya. Bicaranya melantur, mungkin sebentar lagi ia akan menangis. “Masa depanku. Orang-orang di luar sana selalu membicarakan tentang betapa bahagianya mereka di sekolah. Bahkan bosku selalu bertanya mengapa aku tak melanjutkan sekolah dengan cita-citaku yang tinggi itu.”

Demi Tuhan, Yeri cukup ketakutan saat ini. Ia pikir kejadian ketika mereka nekat kabur dengan mobil malam itu adalah hal yang paling membuatnya trauma dan ketakutan. Tapi sepertinya Yeri salah, Mark ternyata bisa lebih membuatnya ketakutan.

“Apa kau tahu? Seandainya saja malam itu kau tak datang menghampiriku yang sedang tertidur di meja bar. Seandainya saja kau tidak datang ke lapangan basket dan memberitahukanku segalanya. Seandainya saja―sialan!”

Tangannya refleks mendorong pundak Yeri untuk menjauh. Memang Yeri tidak langsung jatuh begitu saja, tapi perasaan sakit berlipat ganda yang ia rasakan ini mungkin akan membuatnya meneteskan air mata sebentar lagi.

“Mark…”

Di luar rasa sakit di kedua pundaknya, hati Yeri merasakan perih yang lebih dari itu. Jadi selama ini apa? Mark tak pernah menganggap eksistensinya? Ataukah keberadaannya hanya menjadi beban saja bagi pemuda itu?

“Aku tak butuh omong kosong ini lagi, Yeri.”

“Mark kau mau ap―akh! Mark, lepas…”

Nurani Mark entah sudah hilang ke mana, yang jelas tangannya dengan tanpa belas kasih menarik rambut panjang Yeri, menyeretnya lalu dengan kasar mendorong tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur mereka.

“Ini semua harus berakhir.”

Seperti tubuh yang kehilangan jiwanya, akalnya sudah terkikis perlahan-lahan tanpa Mark sadari. Karena yang ia lakukan saat ini adalah menghampiri Yeri yang akhirnya menangis ketakutan, mencekik lehernya tanpa belas kasih, tanpa memedulikan ucapan rintih kesakitan yang memenuhi seluruh penjuru ruangan.

Mark kehilangan dirinya, ego dan tekanan luar biasa itu berhasil mengambil alih hidupnya.

Kabur dengan membawa semua barang-barangnya dan meninggalkan Yeri seperti bajingan. Mark terus melajukan mobil yang sudah lama tak ia gunakan ini walau jalanan tampak sangat gelap lantaran tak ada sinar bulan yang menerangi.

Butuh waktu beberapa jam bagi Mark untuk memikirkan hendak pergi ke mana ia. Apakah ia harus ke rumah kakak perempuannya atau justru bertandang ke rumah kakak sepupunya. Yang jelas Mark harus pergi meninggalkan hal-hal buruk yang bahkan baru terjadi beberapa jam lalu.

Tok … Tok…

Yes, I’m here―oh! Mark? What are you doing here?”

Ia putuskan untuk mendatangi rumah kakak sepupunya ketimbang mendatangi sang kakak. Ia tak ingin membuat Kenzie khawatir. Maka Mark akhirnya berada di sini, di Ottawa.

Where’s Taeyong? Sorry for coming this late. Emergency.”

Ada raut kebingungan tergambar di wajah Cheonsa, tapi sepupu iparnya itu tetap mengizinkan masuk sementara ia membangunkan Taeyong yang masih tertidur.

“Mark? Kenapa bisa ke sini? Hei, ini bahkan sudah lewat tengah malam dan―”

“Kak, tolong aku Kak, tolong…”

Memeluk seseorang dan menangis bukanlah hal yang biasa Mark lakukan. Tapi malam yang sangat kacau ini membuatnya melakukan hal-hal di luar nalar. Ia menceritakan segalanya pada Taeyong, awal mula ini semua terjadi sampai alasan mengapa ia lebih memilih mendatangi Taeyong di ibu kota daripada Kenzie yang menetap di Chicago bersama suaminya.

But, Mark … you leave that girl alone there? And she’s died?”

Sebagai sesama perempuan tentunya Cheonsa yang menjadi orang paling syok mendengar semua ini. Ia lebih memikirkan keadaan Yeri, terlebih lagi dengan bayi yang dikandungnya.

I don’t know. I just leave her and I’m not sure that she’s died or not.”

Hingga Taeyong memutuskan untuk mengakhiri obrolan malam ini. Mark butuh istirahat untuk menenangkan pikirannya, dan Taeyong butuh untuk berpikir tentang bagaimana nasib sepupunya itu nanti.

Jujur saja, Taeyong agak tak bisa menerima kelakuan Mark untuk kali ini, tapi ia terlalu tak tega untuk menolak kehadiran Mark di saat ia tengah kacau seperti itu.

Ia butuh seseorang yang bisa menjadi tempatnya bersandar untuk sementara ini.

Mark mengikuti tes lulus kesetaraan sekolah menengah, bertemu dengan Kenzie yang datang atas pemberitahuan Taeyong dan tentunya mendapatkan sedikit omelan dari sang kakak hingga akhirnya masuk salah satu universitas kenamaan Kanada di Ottawa. Banyak hal yang terjadi selama enam bulan ini, dan Mark sedikit banyak sudah mulai bisa melupakan hal-hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya.

“Mark, kau yakin ingin menjalani hidup di sini dan bukannya pergi bersamaku ke Chicago? Kuyakin Johnny tak akan keberatan―”

“Tidak, Kak, terima kasih.” Mark mencium pipi kakaknya, menunjukkan senyum kecil yang sudah cukup lama tak ia perlihatkan pada orang lain. “Kak Taeyong berbaik hati membelikanku sebuah flat di dekat kampus dan aku juga sudah bekerja sambilan di toko bunga ini, ‘kan? Kakak tak perlu khawatir.”

Iya, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, setidaknya itulah yang ada di pikiran Mark untuk saat ini. Walau tak bisa dipungkiri, Mark masih belum bisa melupakan kenangan buruk itu.

Melupakan Yeri dan anaknya.

Kenzie pun pergi setelah memberi tahu Mark bahwa ia akan mengirimkan uang kuliah setiap bulan padanya. Mark pun kembali melanjutkan kegiatannya untuk memotong tangkai-tangkai mawar putih juga menghilangkan duri di sana.

“Permisi, bisakah buatkan aku satu buket bunga mawar putih? Isinya sembilan belas tangkai, ya.”

Suara itu …

“Mark, tolong buatkan satu buket bunga mawar putih isi sembilan belas tangkai untuk ibu muda itu, ya?”

Nyonya Grace kembali ke balik meja kasir setelah memberi perintah pada Mark. Ia menggelengkan kepalanya, pasti hanyalah sebuah delusi di kepalanya.

Iya, pasti.

“Nyonya, ini bunganya.”

“Oh, terima kasih, Mark,” ucap Nyonya Grace. “Nona, ini pesanan anda.”

“Cantik sekali. Terima kasih, Nyonya. Berapa harganya?”

Demi Tuhan, entah Mark seharusnya tak pernah menoleh ke belakang, atau memang ini sebuah takdir yang berkata lain.

“Bayinya tampan sekali, hidungnya mirip dengan punyamu, Nona.”

“Benarkah? Terima kasih, kuharap matanya juga sama seperti milikku, tapi ternyata tidak.”

Tentu saja tidak, karena mata bayi dalam gendongan ibu muda itu…

“Yeri?”

Mark tidak menyadari bahwa suaranya terlampau keras untuk bisa didengar oleh kedua wanita di depannya. Ia sangat ingat dengan rambut cokelat muda milik Yeri, yang kini tidak sepanjang sebelumnya. Hanya sebatas bahu, dan itu membuat Yeri terlihat dua kali lebih dewasa.

“Maaf, sepertinya kau salah orang. Namaku bukan Yeri.”

Bohong, kau ini Yeri, dan itu adalah anakku.

“Kau membeli bunga sebanyak ini untuk apa, Nona?”

Yeri melepas kontak matanya dari Mark, kembali tersenyum pada Nyonya Grace lalu berkata, “Untuk suamiku. Oh, maksudku untuk diletakkan di atas makam suamiku.”

“Oh, Nona, maafkan aku.”

“Tak apa. Anakku memiliki mata yang sama dengan ayahnya. Aku sudah terbiasa.”

Nyatanya Mark hanya bisa menjadi seorang pengecut saat ini, melihat Yeri yang jelas-jelas belum mati malam itu dan mungkin memutuskan untuk tetap melahirkan anak mereka juga membesarkannya sampai saat ini.

Dan apa katanya tadi? Makam suaminya? Mereka tak pernah menikah, dan Mark belum mati. Apakah ini cara yang Yeri lakukan untuk menghibur dirinya dari lelucon menyebalkan dalam hidupnya?

“Baiklah, Nyonya. Sekali lagi terima kasih.”

“Silahkan datang lagi, ya.”

Begitulah, bagaimana Mark menyia-nyiakan kesempatannya untuk menebus dosa pada Yeri. Ia hanya bisa mematung melihat kepergian perempuan itu. Mark bahkan belum sempat melihat anaknya dari dekat.

Sepertinya ia butuh waktu lebih lama lagi, untuk bisa menjadi lelaki sejati yang suatu hari nanti akan berusaha mati-matian untuk mencari di mana keberadaan mereka. Mungkin akan terlambat, tapi Mark memiliki bayangan sederhana dalam kepalanya kalau saja ia dan Yeri benar-benar menikah dan menjadi keluarga kecil yang paling bahagia.

Mark sudah terlalu lama tenggelam dalam segala macam penyesalan, dan mungkin hanya waktu yang bisa mengobati sakit di dalam hati juga jiwanya.

FIN


notas:

Ais — olla, aurora in the house!

HUAAAAAAAKHIRNYAAA KELAR JUGA SATU UTANG AING :”) :”) :”) tbh ini bukan pertama kalinya aku kolaborasi nulis, tapi kolab sama Kak Angel a.k.a Nyobez Bandeng tuh baru kali ini. tbh (2) aku agak gaenak juga sih bikos aku nyelesainnya LAMA BANGET dan LEWAT (BANGET) DARI DEADLINE i deserve to be punished. but thank god kudapet rekan yang sooooper baik dan zabar menghadapiqu. terkait plotnya, actually ini ide Kak Angel bikos aku fakir ide, aku cuma nyambung-nyambungin aja 😊

lastly makasih yang udah baca!

Angel — once again welcome for aurora aka ais aka nyobez cirenq kesayangan Markeu Lee in NCTFFI bigfams. sebenernya angel engga ikutan acara kolab ini bikos ga milih member tapi ais dengan tanpa berdosa milih Mark dan staf lain gaada yang milih dia alhasil diriku yang mengalah :’) but it’s such a great collab with her kyaaaaaa ❤

Advertisements

16 thoughts on “[Ratification Collabs] Délire

  1. YA ALLAH, HAMBA MENANGIS TAK TERKIRA SEPANJANG MASA ;;-;;
    Ya ampun, apa yang harus kukomentari lagi di sini… astaga ini tuh super banget ya, langsung kebayang gimana mark bawa kabur yeri ;;-;;
    Kenapa mark brengseque sekali ya ampun aku gak bisa berenti menangis ini otoke ;;-;;
    Aku suka bgt yaampun apalagi yg harus kukomentari dari fic sekeren ini ;;-;;

    Teruntuk saudari banjarku, aisya dan kak angel, HAH KALIAN SUNGGUH SUDAH MELAKUKAN YANG TERBAIK DAN MOHON MAAF ATAS BETAPA TIDAK BERFAEDAHNYA KOMENANKU INI ;;-;;

    Hm daripada buang buang waktu baca komenanku yg tida penting ini, baiknya kusudahi saja, ya daripada komenan tsampah ini makin panjang🔫🔫

    xoxo,
    jodoh renjun .g ❤❤❤❤

    Like

  2. Memang mark masih takut buat nerima kenyataannya. Jadi dia blm bisa nerima yeri dan anaknya. Mungkin dia masih terlalu muda buat bertanggung jawab ke yeri. Tapi yeri benar2 tegar bgt. Aku penasaran sm kehidupan yeri wktu ditinggal mark gimana. Trus keadaan yeri sekarang gimana. Dan stelah mark dan yeri ketemu apa mark masih blm bisa bertanggung jawab ya?
    Yaampunn, butuh sequel buat ngejawab ini semua. Sequel pleaseee

    Liked by 1 person

  3. Tuhan, Mark-ku dinistakan~ Markeu yang selama imi imagenya pabo-pabo gak jelas di mataku ditambah image en-si-ti deurim… beh sya sama kangel kalian dasyat wkwkwkw..
    Ba-ji-ng-an. Satu kata untuk Mark. Gila lah mark……. sian yeri…. mampus lu mark dianggap mati sama yeri bahhaah xD ///apalah ini///

    Like

  4. Tau gak sih, sudut nataku itu udah ada air mata:(
    Gila banget mark ihh, walaupun dia kalut dan gak sanggup mending bershower(?) daripada nyakitin cewek yg lagi hamil gitu. Gak ngerti kenapa mark jahat 😦
    Aku baper gegara baca fict ini sambil dengerin treat you better, gak nyambung sih tapi mudah mudahan yeri menemukan seseorang yg treat you better then he can wqwq

    Like

  5. Halo! Berada di sini karena diundang Ais dan Angel ke collab fic mereka. Just a wild guess, tapi kayaknya aku tahu siapa nulis yang mana ehehehehe ga penting itu ga penting.
    Gaiz, ini slice of life-nya bagus, porsi marriage life-nya cuma disentuh pas ngegambarin semacam ‘kecelakaan akibat alkohol’ yang terlalu dini, dan pergolakan emosi di dalam diri mark itu full of point banget. emang ya kalo udah mikirin masa depan sementara kita sendiri ngerasanya apa-apa udah terlambat itu rasanya frustrating. tapi jangan menyerah, mark! there will be a chance called tomorrow! eh aku lupa itu kata siapa sih ehe.
    ada saran dikit, dikit aja. beta ulang tulisan kalian kayaknya perlu deh, soalnya di sini aku nemuin paragraf yang tiga kali mencantumkan ini, itu, ini. rasanya ngga asik dan monoton aja sih baca satu paragraf yang kayak gini: blablabla saat itu. blablabla saat ini. blablabla saat itu. dibeta lagi deh.
    anyway guys, dont you think that mark and yeri are still way too cute to be a super young family?
    sukses yaaa!

    Like

  6. halo, halo. dapet fic ini dari link yang dikasih temen. sebelum aku nulis panjang, biar sopan aku perkenalan dulu aja ya. aku Tasya, 95liner. salam kenal Ais dan Angel. 🙂

    apakah Ais dan Angel bisa menerima kritikan? semoga bisa ya dan semoga komentarku nggak menyinggung Ais dan Angel. aku punya beberapa hal yang perlu Ais dan Angel perhatikan. semoga Ais dan Angel bersedia memperhatikan. biar bisa jadi pertimbangan ke depannya.

    1. karena penulisnya ada dua orang jadi bisa dimaklumi, tapi sejujurnya perpindahan tangannya terasa rada njomplang. antara setengah cerita pertama dan setengah cerita ketara banget lho ditulis sama orang yang beda. atau kalo ditulis orang yang sama berarti yang satu lagi lancar dan yang satu lagi wb hehe. mungkin kedepannya kalo Ais sama Angel collab lagi chemistry nya bisa lebih diselaraskan? biar perbedaannya nggak terlalu jauh.

    2. masalah umur tokoh yang dipake buat cerita. aku awalnya kurang kenal sama Mark sama Yeri karena udah jarang ngikutin kpop grup grup baru. tapi waktu gooling mm … ternyata mereka masih di bawah umur ya? apakah ada pertimbangan kenapa dua artis itu yang dipakai? karena implikasinya bisa panjang sekali lho dan nanti ada poin sendiri di bawah.

    3. secara umum waktu aku selesai baca fic punya Ais sama Angel ini yang ada di pikiranku pertama adalah: ini cerita dengan setting western (Kanada) dengan tokoh eastern (Korea) tapi culturenya Indonesia sekali lho. mengesampingkan tokoh, clash antara setting tempat dengan perangai para lakonnya yang kental sekali dengan norma/etika Indonesia menurutku mengganggu sekali lho. contohnya begini:
    – setau aku kejadian hamil di luar nikah adalah hal yang umum di sana. sebagian pasangan memang masih konvensional dibanding yang lain tapi budaya seks bebas di sana yang menyebabkan pre-marriage pregancy adalah hal yang lumrah. dan karena lumrah tersebut hal itu nggak lagi jadi aib.
    – dari kalimat ini: Tidak mungkin Mark menjawab “Dengan seorang perempuan yang sedang hamil tiga bulan karena kami sama-sama bodoh dan terpengaruh alkohol.” atau, “Dengan istriku—sebentar, kami tidak melangsungkan pernikahan, tapi kami bakal punya anak.” Itu akan membuatnya dipecat dengan rekor kerja tiga jam. Sungguh tidak mengasyikkan. seolah olah mereka melakukan hal yang tabu. tinggal seatap dengan lawan jenis yang belum ada ikatan pernikahan hal yang lumrah kok. dengan catatan mereka adalah orang dewasa ya. nah di sini udah mulai nyerempet poin aku nomer dua lho tapi dibahas nanti aja.
    – di budaya barat banyak pasangan yang akhirnya memutuskan punya anak tanpa menikah walau mereka menjalani kehidupan mereka layaknya pasangan yang menikah termasuk tinggal seatap dan melakukan hubungan. mungkin Ais sama Angel bisa jadikan ini buat landasan plot yang lebih mengakar.
    – bahkan di kasus lainnya ada juga cewek yang nggak minta pertanggung jawaban dari si cowok setelah kejadian. mereka berakhir jadi ibu tunggal gitu aja lho. banyak juga yang minta pertanggung jawaban, tapi dari beberapa subpoin yang aku tulis itu yang membuat aku lompat ke kesimpulan kalo cerita ini cenderung pake budaya Indonesia sebagai basis. menemukan seorang gadis yang hamil di luar nikah, dia panik, minta pertanggung jawaban, merasa malu, mempengaruhi masa depan dan kehidupannya, ini tipikal cewek Indonesia yang kena kasus bukan? walaupun nggak ditulis secara gamblang tapi bahkan dari sudut pandang Mark pun sudah keliatan. lain kali aku harap Ais sama Angel bisa lebih peka terhadap budaya dari setting yang mau diangkat ya, jangan disamakan karena berbeda. dan hasilnya tentu mengganggu. perbanyak browsing kayanya membantu lho.

    4. sejujurnya aku rada prihatin karena alkohol selalu dijadikan kambing hitam buat semua kesalahan. tapi ayo kita bahas sedikit. kalo dari flashback Yeri dan Mark melakukan kesalahan karena sebelumnya minum alkohol di pesta ulang tahun temannya, Lara. pertanyaannya, Lara ini umurnya berapa? ulang tahun keberapakah dia pada waktu kejadian Yeri dan Mark? karena kaitannya: ada batas minimum kalo minum alkohol di Kanada (dalam kasus ini, Toronto ya, ibukota Ontario). umur yang diperbolehkan di Toronto untuk minum alkohol adalah 19 tahun ke atas, dengan standar prosedur menunjukkan identitas dan sebagainya. otomatis umur di bawah 19 tahun (dan untuk amannya: baru menginjak 19 tahun) dan belum punya identitas sebagai bukti validasi belum diperbolehkan minum. aturan tambahannya: alkohol dilarang diperjual belikan bagi orang dewasa jika nantinya untuk ditransfer ke minors/underage. kejanggalan di cerita Ais dan Angel, ulang tahun Lara ini kok ada sampanye segala? kembali lagi, karena nggak dibahas Lara ulang tahun ke berapa, aku asumsikan Lara seusia dengan Yeri dan Mark. yang mana belum diperbolehkan di hukum negara mereka. kecuali kalo Lara lebih tua dibanding Yeri dan Mark, itu beda cerita. atau alkohol di pesta ulang tahun Lara adalah ilegal, semacam seludupan dari temannya. itu pun keliru, karena sampanye digunakan umumnya untuk selebrasi yang berkaitan dengan pencapaian, bukan sekedar ulang tahun (lagi: ulang tahunnya anak muda pula, beneran lho itu ngeganggu banget).

    5. semoga Ais dan Angel belum bosen bacanya ya karena ini bakalan panjang sekali. dan semoga poin yang ini nggak menyinggung Ais dan Angel. sebelumnya aku mau nanya dulu bener nggak Ais 99liner dan Angel 97liner? maaf ya adik adik aku nggak ada maksud buat ngejelekin Ais sama Angel. tapi ini mengganggu bagi aku pribadi (karena aku paham kasusnya) dan aku merasa perlu memberi tahu buat pelajaran bersama dan semoga gak diulangin di masa mendatang. ini kaitannya sama poin nomer 2, adakah alasan menggunakan tokoh Yeri dan Mark yang notabene masih di bawah umur? karena label usia underage/minors/belum legal/di bawah umur itu tujuannya bukan hanya buat pelarangan yang bersangkutan terhadap ini itu, tapi untuk melindungi juga. melindunginya nggak hanya secara fisik, tapi juga mental. dari bahaya, dari alkohol, dari kejahatan dan yang terpenting dari seksual, entah itu kejahatan atau hal hal seksual pada umumnya.

    mirisnya, orang orang di negara kita belum peduli dengan hal seperti ini. banyak banget disepelekan. padahal label tersebut nggak hanya berlaku buat mereka saja yang dilabelin, tapi juga orang orang yang bersangkutan dengan mereka. di western culture, us/europe/na, hal ini udah jadi concern bersama masyarakat. bagusnya malah hal ini udah masuk ke pola pikir dan culture mereka. lalu apa hubungannya dengan ceritanya Ais sama Angel, nah. sebagai orang orang yang sudah lebih tua dibanding minor, kita sebenernya nggak boleh menuliskan mereka, atau menggambarkan, atau sesimpel memberi pujian yang mempunyai makna implisit ke arah seksual. karena apa, karena hal tersebut sudah masuk ke tindakan pedofilia. apalagi dengan setting di kanada lho, yang mana di sana udah jadi culture. aku kasih contoh begini: bayangkan ada seorang om-om, ngedatengin adik cewek kita dan muji badannya seksi. kita pasti marah kan dengernya? atau ada tante tante yang ngedeketin atau flirting ke adik cowok kita, rasanya kaya jijik gitu kan?

    sama juga dengan ucapan kita terhadap idol. kita bisa aja ignorant, ah idol nggak terpengaruh. atau mereka nggak tau dan nggak denger kita ngomong apa. atau bahkan, ah aku nggak bermaksud mesum kok. memang bener. tapi kalian perlu tau kalo itu adalah budaya yang keliru. dan dari kekeliruan yang banyak disepelein ini jadinya menyebar jadi sebuah kebiasaan yang salah. nanti kalo udah ada kasus pelecehan dan (semoga kita dijauhin ya) kita yang jadi korban, baru deh teriak. padahal di daily life kita sering tanpa sadar ngelakuin ke orang lain. semoga teguranku ini nggak berakhir menyinggung, terutama bagi para penulis yang usianya di atas minors dan semua yang baca komentarku, kebiasaan itu mulai dikurangi dan dihilangkan. belajar buat berubah emang susah, apalagi mengubah sesuatu yang sudah mengakar. makanya kita perlu memulai dari diri sendiri.

    sebagai fans, aku sendiri juga ngaku kok, kadang aku sering khilaf sama idol hehe. dan itu wajar. cuma kita juga harus jadi fans yang pinter, nggak hanya terpengaruh trend atau ikut ikut yang lain karena mereka juga begitu. terutama masalah underage tadi. di cerita Ais dan Angel, banyak hal yang menggangguku sebagai seseorang yang mempelajari hal hal seperti ini. tapi yang paling utama adalah bagaimana sepasang anak underage dipilih untuk memerankan cerita fiksi yang implying ke akibat dari tindakan seksual mereka. aku yakin banget kalian nggak ada maksud menyakiti mereka atau maksud negatif lain. fokus cerita ini pun tentang masa depan mereka yang gak pasti setelah malem itu. tapi kuyakin juga pembaca awam pun pasti punya gambaran apa yang mereka lakuin di masa lalu yg menyebabkan seperti itu. dan ini yang salah. sekali lagi, implying seksual ke anak anak di bawah umur (apalagi ditulis oleh orang orang yang lebih dewasa dibanding mereka) adalah hal yang sangat keliru.

    underage itu waktunya buat cerita cerita unyu, jatuh cinta pandangan pertama, rainbow and butterly, gebet menggebet dan sebagainya. jadi paham kan kenapa dari tadi aku nanya kenapa Yeri dan Mark yang dipilih? padahal ada banyak pasangan idol lain yang berakhir less problematic dibanding mereka. semoga ini buat pertimbangan Ais dan Angel ke depan, dan pelajaran buat aku dan siapapun yang baca biar gak mengalami kekeliruan serupa. tolong diperhatikan dan dipertimbangkan supaya lebih banyak orang yang aware berkat Ais dan Angel yang ikut mengajak orang lain buat sadar.

    sekali lagi aku minta maaf kalo komenku kepanjangan dan di beberapa poin nggak enak dan menyinggung. aku gak ada maksud buat nyakitin Ais sama Angel kok, toh aku juga ga kenal Ais sama Angel. terima kasih sudah meluangkan waktunya Ais dan Angel buat baca komenku.

    semangat terus yaaa!

    Much love.
    Tasya. ❤

    Liked by 4 people

  7. Halo,
    sebelumnya dapet ff ini karna dikasi tau temenku, echa hehe.
    baca ceritanya serasa nonton drama, feelnya dapet, walaupun ga terlalu tau Mark, tapi gambarannya dapet bgt hehe.
    semangat terus buat collabsnya ya💕

    Like

  8. Kak…. diriku mengeryitkan kening terus selama baca alurnya karena terlalu serius dan sedih, tapi pas baca bagian ini -> “sampai alasan mengapa ia lebih memilih mendatangi Taeyong di ibu kota daripada Kenzie yang menetap di Chicago bersama suaminya.” daku langsung terbahak (:: thengs. Miyane juga baru selesai baca kolab Ais dan Angel sekarang wkwkw baru sempet /dikeplak/. Such a great collab! Keep writing ya nyobez-nyobez NCTFFI xD

    Like

  9. Oh My God you didn’t know how much I love this fix❤❤

    Suka suka suka banget pokoknya. Awalnya agak susah bayangin mereka berdua haha soalnya aslinya yang satu jahil-rame yang satu polos tapi ga polos xD. Tapi ternyata karena emang bahasanya bagus, no typo, alurnya ngalir, ditambah aku suka tipe fanfic yang fokus ke personal dan feeling, imej itu menghilang. Ini fic NCT bagus pertama yang pernah aku baca! (thumbs up)

    Mungkin ada satu aja yang mau aku koreksi.
    [Tapi impianku sudah dikacaukan, pikirnya, karena aku sendiri.]
    Kayaknya lebih enak kata ‘karena’nya diganti ‘oleh’. Soalnya, ‘kan sebelumnya ‘DIkacaukan’, jadi karena itu pasif lebih enak pake ‘oleh’.

    Balik lagi ke komentar cerita.

    Mark enak banget ya haha (sarcasm). Dia kayaknya hidupnya emang udah enak dari sananya, terus stres gegara perbuatannya sendiri, nyalahin orang lain, bawa kabur anak orang, hampir ngebunuh, dan ninggalin itu aja. Ngerti sih dia stres, apalagi masih delapan belas tahun, tapi ya Yeri pasti lebih stres lah. Dia yang hamil lho, dia yang melahirkan, dia yang dibawa kabur. Ga ingin justifikasi tapi ga setuju sama perbuatannya Mark. Dan sekarang dia mau balik? Atas dasar apa? Kalau emang pengen memperbaiki hubungan, oke lah. Toh emang harusnya mereka duduk terus ngomongin apa-apa aja soal masa lalu. Tapi ga mungkin dia tiba-tiba cinta Yeri, kan? It seems imposible and a bit nonsense. But it’s up to the author, right haha.

    Overall, makasih banyak buat fanficnya. Menghibur dan beneran jadi cuci mata (halah) karena udah lamaaaa banget ga baca fanfic Indo. Bisa ya aku ambil ilmunya xD

    Keep writing and keep the good work!

    Like

  10. Hahahaha sumpah ya aku suka sama yang angst2 cem gini. Aku suka penokohan Mark srsly karena aku langsung bisa bayangin Mark yang di masa mudanya begitu ceroboh tapi masih ingin tanggung jawab yah, walaupun pada akhirnya pun ego yang menang. Dan untuk Yeri, aku ga terlalu tau si cuma sekedar tau muka aja dan yang terpenting aku bisa nge-feel dia.

    Dan ehm, cuma mau menambahi komentar2 diatas aja sih, menurut aku sendiri sebuah cerita pasti punya makna dan tergantung pembaca mau memaknai cerita itu seperti apa. Apa yang bisa ku ambil dari aku membaca fiksi ini belum tentu sama dengan yang diambil sama pembaca lain. Dan semakin banyak orang maka akan semakin banyak gagasan2 yang muncul karena kita memang diberi kebebasan untuk berpikir. Maka dari itu aku cuma mau nyampein, dari membaca fiksi ini pun aku seperti diberi tau bahwa dunia punya begitu banyak kisah, punya begitu banyak peristiwa yang bisa terjadi pada siapa saja. Hal2 yang kita anggap tabu pun bisa terjadi di belahan dunia2 lain tanpa kita sadari jadi yah, setiap orang punya pendapat dan plus minus yang beda2. Yah pokoknya gitu deh hahay.

    Btw, tetep berkarya keh. Tingkatkan lagi menulisnya dan inget aja kita ga bisa buat semua orang seneng. Dan btw, jangan merasa terkungkung oleh apapun ya, karena sejatinya jiwa penulis itu bebas… sebebas2nya.

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s