[Chaptered] You Look Yummy (Part 12 – END)

S-LCOUP

Main Cast : [NCT] Jaehyun, [DIA] Chaeyeon, [17] DK, [Gfriend] Yuju

Genre : School Life, Friendship, Romance

Rating : PG-17

Previous Chapters :

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |

.

.

Chaeyeon berharap hari ini tidak pernah ada. Gadis itu ingin kembali meneteskan likuid berwujud kristal bening dari netranya saat mengingat perkataan Harim tadi siang. Sepulang sekolah, tanpa menunggu siapapun, ia bergegas menuju halte supaya bisa segera pulang. Ponselnya pun diatur ke mode pesawat agar tak ada yang bisa menginterupsinya. Serius, dia ingin sendiri.

Beruntung ibunya pergi untuk mengurus kebutuhan Sang Ayah yang sedang tugas ke luar kota sejak kemarin. Jadi ia tak perlu repot-repot cari alasan saat membuka pintu dengan mata sembab dan sesenggukan.

Ia ingin berterima kasih pada bantal yang sejak tiga jam lalu bersedia menyerap seluruh air mata yang telah ia linangkan. Andai benda itu hidup, boleh jadi Chaeyeon akan mengajaknya ke kedai kopi paling tenar di kawasan Gangnam sebagai ungkapan terima kasih.

Salahkah bila kali ini dia benar-benar terpuruk? Apa sikapnya justru kekanakan? Ah, apapun kaumenganggapnya. Coba saja bertukar posisi dengan Chaeyeon, biar bisa maklum. Maksud hati ingin berpikir jernih. Namun entah mengapa itu sangat sulit untuk ia lakukan. Jadilah kini Chaeyeon hanya bisa berkutat dengan kekalutannya sendiri.

Jadi seberat ini, ya, risiko yang harus dihadapi saat memacari cowok paling tenar sesekolah?

Ia merutuki dirinya sendiri. Andai tak gegabah, pasti Chaeyeon sudah pulang dengan senyum merekah karena bisa naik bis bersama Jaehyun. Meskipun harus menunggu keadaan sekolah sepi dulu agar tidak tertangkap basah oleh para penggemar pacarnya yang hampir semuanya ganas itu. Tapi tak ada gunanya menyesal sekarang. Lagi pula masalah dirinya yang tiba-tiba pulang tanpa pamit pada Jaehyun bisa diselesaikan besok.

Di sisi lain…

Pria yang masih berbalut seragam itu terus menekan bel rumah Keluarga Jung. Wajahnya muram, seakan sedang menggenggam kekhawatiran.

Sampailah ia dipercobaan menekan tombol yang kesepuluh, dan masih tak ada respons dari orang di dalam. Sebenarnya mudah saja bagi Jaehyun jika ingin langsung masuk karena pemuda itu tahu password-nya.

 

“Warga komplek sebelah ditemukan tewas setelah diserang oleh predator kelamin. Seram!” kata Chaeyeon di sela perjalanan mereka menuju halte untuk pulang.

OMO! Bagaimana ini? Kalau daerah komplekmu didatangi makhluk jahanam semacam itu, kan, bahaya!” Jaehyun merespons dengan tingkah berlebihan. Tapi sungguh, ia benar-benar khawatir.

“Kau harus selamatkan aku kalau sampai itu terjadi. Kau harus segera datang saat aku menghubungimu.”

“Tapi percuma saja aku datang cepat-cepat kalau tidak tahu password rumahmu. Apa aku harus merayap ke jendela kamarmu seperti Spiderman?”

Password-nya 1421. Sekarang tahu, ‘kan?”

“Oke… aku akan jadi kekasih yang lebih siaga dari mobil pemadam untuk menyelamatkan kekasihku.”

 

Jaehyun merasa gadisnya itu bertingkah aneh sejak bel masuk jam istirahat kedua. Biasanya mereka akan saling melempar senyum saat netra mereka bersirobok. Namun hingga waktu itu sampai jam pulang, Chaeyeon sama sekali tak mengarahkan pandang ke arahnya.

Karena sudah dikungkung oleh kuriositas, Jaehyun langsung memasuki rumah Chaeyeon tanpa pikir panjang. Masalah tata kramanya yang jadi bernilai nol karena sudah seenaknya masuk tanpa izin ia kesampingkan terlebih dahulu. Pokoknya ia harus bertemu kekasihnya itu sesegera mungkin.

Saat sampai di ruang tengah, ia pun mendapati realita bahwa rumah Keluarga Jung sedang tak ditinggali oleh penghuninya. Namun pintu sebuah ruangan – yang ia yakini adalah kamar Chaeyeon – terlihat terbuka. Ia pun langsung mengambil langkah seribu menuju ke sana.

Jaehyun berdiri di ambang pintu dan manik kelamnya menangkap seseorang yang tengah meringkuk di atas nakas sambil memeluk guling.

“Chaeyeonie,” suara beratnya menyambangi rungu si pemilik nama, membuat yang bersangkutan terlonjak kaget.

Otot mata Chaeyeon tertarik untuk melihat orang yang barusan memanggilnya. Langsung gelagapanlah ia saat pria jangkung yang masih mengenakan seragam sekolah itu sudah ada di ambang pintu kamarnya.

Sial, aku tak kepikiran untuk menutupnya karena sudah ingin menangis sejadi-jadinya.

Karena tak kunjung mendapat sambutan dari si empunya ruangan, Jaehyun, atas kehendaknya sendiri, memasuki kamar itu untuk menghampiri ranjang. Masa bodoh kalau memasuki kamar seseorang – apalagi ia seorang gadis – tanpa persetujuan terlebih dahulu itu tidak sopan.

“Kenapa langsung pulang dan tidak menungguku? Aku terus meneleponmu tapi ponselmu selalu tidak aktif.” tegur Jaehyun dengan tetap berdiri – mengingat tak ada kursi di sekitar ruangan itu. Tentu saja, kamar Chaeyeon, kan, bukan ruang rawat inap.

“Hanya ingin.” tandas Chaeyeon sekenanya tanpa menoleh ke pemilik pertanyaan.

Jaehyun berlutut, secara perlahan menarik tubuh kekasihnya itu untuk berbalik dan menghadapnya. Ia pandangi wajah sayu yang tertutupi oleh beberapa helai rambut itu dengan raut suram.

“Apa terjadi sesuatu?” tanyanya.

 

Wajahmu itu meneduhkan sekali hingga membuatku langsung percaya saat kau mengatakan bahwa hanya akulah gadis yang selama ini kautunggu, gumam Chaeyeon saat sebelah tangan Jaehyun menyentuh pipi bulatnya.

“Apa kau marah karena aku membalas senyum dan sapaan seorang gadis hari ini? Please, percayalah itu semua cuma formalitas, chagi…” imbuh Jaehyun.

 

Aku malah bangga punya pacar berkepribadian hangat sepertimu, Yun! Tapi sayang, ternyata kau adalah seorang penipu ulung.

Bukannya menjawab, Chaeyeon malah terus berkutat dengan suara batinnya sendiri. Diembuskannya napas berat oleh Pemuda Jung itu. Sepertinya Chaeyeon masih enggan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku akan menunggumu di depan pagar. Kalau hatimu sudah tenang, tolong temui aku, oke?” Jaehyun akhirnya berhenti mendesak Chaeyeon untuk memenggalkan jawaban. Meskipun tak mengerti kesalahan apa yang telah ia perbuat, namun pasti itu amat menyakiti hati kekasihnya. Ia merasa pantas mendapat penghakiman dari Chaeyeon.

Sebelum Jaehyun beranjak makin jauh, sebuah cengkeraman erat menyambangi pinggang rampingnya dari belakang. Wajah gadis itu menempel di punggungnya dan mulai mengeluarkan air mata lagi.

“Jangan pergi…” Chaeyeon sambil terisak. Telapak tangannya berpegangan pada ruas-ruas jarinya sendiri. Yang direngkuh pun bergeming dengan raut terkejut. Dapat ia rasakan kekhawatiran Chaeyeon – yang tak ia ketahui karena apa – melalui sentuhan itu.

Dilepasnya tangan yang melingkar itu dengan pelan. Jaehyun berbalik dan posisinya pun kini jadi menghadap Chaeyeon. Ia menangkup pipi bulat Chaeyeon dengan kedua tangan lantas menyeka air mata yang berlinang hingga membuat mata gadis itu amat sembap.

“Tolong jangan menangis… kau membuatku merasa gagal menjadi seorang pria.” ucap Jaehyun teduh dan terus menyapukan ibu jarinya di pelupuk sang kekasih.

Gadis itu senang Jaehyun memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tatapan teduh itu melegakan hatinya yang terbalut perasaan kalut.

“Apa benar… kau pernah menghabiskan malam bersama Harim?” tanya Chaeyeon, kedua pasang manik mereka masih saling bersitatap tanpa teralihkan barang sejemang pun.

“Chaeyeonie, kau bicara apa, sih?” Jaehyun tersentak kaget mendengar Chaeyeon bertutur demikian.

“Dia bilang begitu. Dan enggak mungkin, kan, dia cuma asal bicara?”

Kembali ia benamkan wajah pucatnya ke dada bidang Jaehyun. Menjadikannya tempat ternyaman untuk melepaskan semua rasa sakitnya. Pemuda itu mengelus surai kelam milik gadisnya, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.

“Itu cuma omong kosong. Kejadian sebenarnya tidak seperti itu. Aku bisa membuktikannya.” tandasnya seraya tetap berusaha menenangkan Chaeyeon.

“Tapi kita harus ke ruang tengah terlebih dahulu.” tambahnya yang dibalas anggukan patuh oleh Chaeyeon. Jaehyun pun menggandeng pergelangan tangan gadis itu untuk menuju ruang tengah.

Dimasukkannya USB yang berasal dari dalam ponselnya ke televisi pintar milik Keluarga Jung. Ia membuka menu video player dan memainkan apa yang ingin ia tunjukkan pada Chaeyeon.

Gadis yang terduduk anteng di sofa itu menontonnya dengan saksama, tak membiarkan detail sekecil apapun luput dari penglihatannya. Video itu berisi rekaman CCTV, dan jika dilihat dari keterangan waktu di pojok bawah, kejadian itu sudah sekitar setahun yang lalu.

Tertangkap oleh matanya ketika Jaehyun tengah memapah Harim yang tengah sempoyongan untuk memasuki kamar hotel. Pakaian casual yang mereka kenakan membuat Chaeyeon berkesimpulan bahwa Jaehyun dan Harim habis mengunjungi sebuah acara informal, sejenis pesta atau sekadar nongkrong, mungkin?

“Ulang tahun Junhoe dirayakan di Hotel Maple. Kebetulan Ayahnya adalah CEO di sana.  Semua murid di kelas diundang olehnya.” kata Jaehyun.

“Kalau banyak anak, kenapa harus kau yang mengantar dia ke kamar? Sebagai bentuk penghargaan karena begitu fanatik memujamu?” tukas Chaeyeon ketus.

“Cuma aku anak laki-laki yang tidak mabuk, jadi aku membawa Harim yang hampir bikin onar karena mabuk berat ke kamar yang telah disediakan pegawainya.”

“Terus… apa yang terjadi? Katanya dia mabuk berat hingga nyaris bikin onar? Besar kemungkinan, dong, kalau ia bertindak agresif?” Pikiran Chaeyeon langsung dihujani kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dilakukan seorang gadis yang sedang mabuk.

Bisa saja, kan, secara tiba-tiba Harim menarik Jaehyun ke dalam rengkuhannya kemudian memberikan sebuah ciuman agresif? Seperti apa yang ia lihat di “My Love From The Star” episode empat.

Merasa jengkel karena tak kunjung dipercayai, Jaehyun pun melangkahkan kaki dan mendudukkan dirinya pada sisi sofa yang Chaeyeon tempati.

“Sayangnya aku cuma boleh meminta rekaman CCTV di area koridor. Tapi sumpah, aku mengempaskan tubuhnya ke kasur tanpa membenarkan posisi tidur atau memakaikannya selimut. Kau pasti sedang membayangkan adegan di drama-drama!” tukas Jaehyun sambil meremas-remas pipi Chaeyeon karena jengkel.

“Sumpah, aku langsung lari karena takut diperkosa olehnya.” tambahnya dan sontak mengusir raut sarkatis di raut Chaeyeon. Dan kini gadis itu pun tertawa karena lelucon yang ia buat.

“Masih belum percaya?” Jaehyun memiringkan kepala.

Secara tiba-tiba kedua tangan Chaeyeon meraih area tengkuk Jaehyun hingga membuat kepala si pria terlongok kendati hanya beberapa jemang dari posisi awal.

“Apa ada penjelasan lain?”

“Karena merasa bertanggung jawab, aku pun menjemputnya pagi-pagi sekali. Maksudku, sih, kalau dia masih ada di kamar, akan aku telepon orang tuanya supaya menjemput dia.” jelas Jaehyun. Kini ia mulai bisa berujar dengan santai karena seulas senyum perlahan terkulum dari bibir Chaeyeon.

“Terus?”

“Saat aku mendekati kasurnya, dia pun terbangun. Karena aku pakai jaket yang sama dengan malam itu, dia pikir aku ada di sana sepanjang malam bersamanya. Dan sampai sekarang ia tetap meyakini hipotesisnya sendiri.”

“Oh, begitu…” balasan singkat yang Chaeyeon ucapkan membuat bibir Jaehyun mengerucut. Namun raut muram itu tak berlangsung lama setelah mendapati sang kekasih tiba-tiba saja manggut-manggut sambil tersenyum, “Aku percaya.”

Jaehyun membalas rengkuhan Chaeyeon di lehernya dengan sebuah ciuman sekilas, “Terima kasih.” tandasnya seraya mengelus pucuk kepala Chaeyeon dengan penuh kasih sayang.

Sekonyong-konyong Jaehyun mendorong tubuh Chaeyeon untuk ia rebahkan di atas sofa. Jadilah kini badan Jaehyun menimpali tubuh mungil gadis cantik itu, mereka berdua saling dekap dan memandangi satu sama lain.

“Sudah makan?” tanya Jaehyun.

“Tadi, kan, aku ke kantin…” jawabnya sambil tersenyum.

Kalian boleh mengatai Chaeyeon gadis labil karena suasana hatinya dengan cepat berubah. Tapi gadis mana pula yang tidak akan luluh setelah diberi perlakukan manis layaknya apa yang Jaehyun lakukan. Atau mungkin juntrungnya saja Chaeyeon yang memang tak suka berlama-lama mendiamkan Jaehyun? Mengingat gadis itu sangat mencintainya.

Pemuda Jung itu meraih ponsel yang ia selipkan di dalam saku. Setelah menggeser gambar gembok, pemuda itu mulai mengotak-atik benda tersebut.

“Mau apa?” tanya gadis yang berada dalam dekapannya itu penasaran. Ia memutar tubuhnya agar tak lagi menindih badan Chaeyeon. Untungnya sofa di ruang tengah kediaman Keluarga Jung itu cukup besar hingga cukup dibuat berbaring oleh dua orang.

Ia menggeser lengan Chaeyeon agar lebih dekat padanya, bahkan ia memposisikan kepala Chaeyeon untuk bersandar di dadanya.

“Mengganti foto profil. Foto mana, ya, yang bagus?” tanyanya. Kedua pasang manik mereka sama-sama menelusuri galeri di ponsel Jaehyun.

“Wah, ada folder bertuliskan namaku!” seru Chaeyeon. “Lihat, dong!”

Menuruti keinginan Chaeyeon, Jaehyun pun menekan folder itu dan menujukkannya pada sang kekasih. Ada sekitar seratus foto dalam folder itu, dan isinya amat membuat gadis yang sosoknya terdapat dalam koleksi jepretan Jaehyun melongo.

Berbagai macam fotonya dengan beragam ekspresi dan situasi ada di situ. Saat ia sedang serius mengerjakan tugas, tertawa bersama teman-temannya, bahkan foto penampilan Chaeyeon di panggung classmeet pun tersimpan di sana.

“Aku jadi merasa punya penggemar, hihihi…” celetuk Chaeyeon dan disusul dengan sebuah kecupan singkat dari Jaehyun yang mendarat di dahinya.

“Kau jadi manis sekali kalau sudah tertawa sambil memamerkan gigi.” tandas si pria yang sama sekali tak ada relasinya dengan apa yang Chaeyeon ucapkan barusan.

Mereka beralih ke folder yang memuat koleksi selca keduanya saat sedang berjalan-jalan atau menghabiskan waktu bersama.

“Aku paling suka yang ini,” Chaeyeon menunjuk foto empat bingkai yang mereka ambil di kedai es krim. Terihat pose mereka yang saling menyelipkan kelima ruas jemari masing-masing dan menunjukkannya ke kamera. Chaeyeon berpose duck face, sedangkan Jaehyun pura-pura tak acuh dan enggan menghadap kamera.

“Yang ini bagus,” kata Jaehyun saat ia menggeser layar untuk menuju foto selanjutnya. Gambar itu diambil setelah mereka bersenang-senang di area sirkuit malam itu.

Chaeyeon mengeluh kakinya pegal karena menapaki anak tangga yang banyak sekali untuk sampai ke bench penonton. Akhirnya dengan nada merajuk ia meminta Jaehyun untuk menggendongnya. Saat menuruni tangga, tiba-tiba Chaeyeon terlelap di pundak pacarnya itu dan mengundang keisengannya untuk mengambil foto si gadis yang dengan imutnya terlelap.

“Ih, curang! Wajahku saat tidur sangat memalukan.” rutuk Chaeyeon sambil memukul-mukul perut berotot Jaehyun. Tiba-tiba pria itu membuka opsi dan mengatur gambar tersebut sebagai foto profilnya.

“Kau yakin mengunggahnya?” tanya Chaeyeon.

“Keragu-raguan tak ada dalam kamusku, sayang…” lagi-lagi Jaehyun memainkan hidung Chaeyeon – yang ia anggap sangat menggemaskan – dengan hidungnya sendiri.

“Sekarang aku tak akan menyembunyikan hubungan kita lagi. Akan aku ambil semua risikonya. Tidak masalah, ‘kan?” tandasnya seraya tersenyum teduh. Senyum merekah pun seketika mengembang di kedua sudut bibir si gadis. Sumpah demi apapun, Chaeyeon senang sekali mendengar Jaehyun berbicara seperti itu.

“Jadi sekarang aku tak perlu takut untuk mendekatimu di depan banyak orang?” tanya Chaeyeon dan dibalas dengan anggukan yakin oleh Jaehyun.

“Sori karena sudah membuatmu menahannya cukup lama.” ucap si pria penuh sesal. Chaeyeon tak menghiraukan berapa lama ia telah menunggu.

Perlahan, ia gunakan kelima ruas jarinya untuk mengelus pipi tembam kekasihnya. Posisi tubuhnya yang semula berbaring pun sedikit ia miringkan dan lantas melongokkan kepala. Bibir yang membulat itu pun secara manis mendarat di bibir Jaehyun. Pria itu berkedip selama beberapa sekon karena terkejut oleh ciuman yang Chaeyeon berikan.

Gadis itu masih enggan melepaskan bibirnya dari milik Jaehyun. Hingga akhirnya sang kekasih pun balas membulatkan bibir untuk membalas ciumannya. Namun bukan Jaehyun namanya kalau tidak gengsi saat membiarkan Chaeyeon menjadi nahkoda dari aktivitas menyenangkan yang tengah mereka lakukan.

Setelah puas meraup bagian atas dan bawah bibir milik sang kekasih, Pemuda Jung itu pun kembali memposisikan dirinya untuk berbaring. Begitu pula dengan Chaeyeon yang kembali bersandar di dada bidang Jaehyun sambil merengkuh pinggang kekasihnya itu dengan sangat erat.

“Oh iya, aku mau tanya… arti susunan angka di biomu itu apa, sih? Panjangnya mengalahi nomor rekening.” celetuk Chaeyeon. Tiba-tiba saja ia teringat obrolannya dengan Yuju tentang fakta-fakta mengenai Jaehyun di perpustakaan tempo hari.

Eum… perhatikan, ya! Ini perlu sedikit pemahaman mendalam untuk dimengerti. Saat kau menekan keypad 2 sebanyak 3 kali, maka akan tertulis huruf C. Begitu, pikirkan dengan cara yang sama di setiap angkanya.”

“Tunggu, apa mungkin… pola angka-angka itu membentuk namaku?” tukas Chaeyeon.

“Kau pintar!” Jaehyun mengacak poni Chaeyeon dengan gemas. “Ya ampun, sampai sebegitunya…” heran Chaeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Kesalahpahaman yang tadinya sempat terjadi pun seketika lenyap, dan kini yang ada hanyalah perasaan tak ingin kehilangan satu sama lain. Jaehyun bahagia memiliki Chaeyeon, begitu pula sebaliknya. Sepasang kekasih yang tengah diselimuti rasa cinta yang menggebu-gebu itu saling dekap dan berbagi kehangatan, menyalurkan kasih sayang yang sudah lama mereka simpan selama tak saling bertemu dalam jangka waktu yang sangat lama.

Mungkin terlambat bagi Chaeyeon untuk menyadari bahwa rasa empatinya terhadap Jaehyun tak pernah hilang sejak ia masih kecil. Pun bagi gadis itu, Jaehyun merupakan lelaki yang selalu ada di kursi terdepan hatinya. Chaeyeon ingin selalu bersamanya, melewati hari-hari yang panjang dengan bertemankan senyuman teduh Jaehyun yang hanya ditujukan padanya.

.

.

“Hei, lihat! Yunoh mengganti foto profilnya.” seru Seokmin saat sedang menjelajahi isi timeline SNS-nya. Karena kedai jjajangmyun yang ia kunjungi sedang ramai, pesanannya pun tak kunjung datang. Jadilah ia memilih bermain ponsel untuk membunuh waktu.

“Suka-suka dia, dong… kenapa ekspresimu enggak santai begitu?” sahut Yuju yang pergi ke sana bersamanya. Setelah saling mengungkapkan perasaan dan berciuman, mereka pun memutuskan untuk menghabiskan beberapa jam untuk bersama. Mungkin hari ini bisa disebut kencan pertama.

“Kau harus lihat, nih!” Seokmin menyodorkan ponselnya agar gadis itu juga melihatnya. Pupil Yuju langsung membulat setelah melihat apa yang terpampang di layar smartphone Seokmin. “Daebak! Mereka sangat berani.” sentaknya tak kuasa menahan keterkejutan.

LOL. Tapi syukurlah kalau akhirnya Yunoh tak lama-lama menyembunyikan hubungannya. Aku sempat khawatir pada Chaeyeon.” ucap Seokmin.

“Benar… pokoknya nanti kalau ada yang sampai mem-bully Chaeyeon, bakal aku piting kepalanya sampai enggak bisa bernapas lagi!”

“Kau sangat mengerikan.” celetuk Seokmin menanggapi ocehan asal Yuju.

Pesanan yang mereka tunggu pun akhirnya datang. Keduanya menyambut hidangan itu dengan raut antusias, mengingat perut yang sudah keroncongan sejak jam pelajaran terakhir berlangsung.

Seokmin meraih sumpitnya dan menjumput acar lobak untuk ia taruh di atas saus kacang hitam di mangkuk milik Yuju.

Thanks,” adalah sepenggal kata yang gadis itu ucapkan setelah mendapat perlakuan manis dari Seokmin. Sahabatnya itu memang selalu melakukan hal demikian saat mereka menghabiskan waktu bersama untuk makan jjajangmyun. Namun baru kali ini Yuju menyadari bahwa apa yang Seokmin lakukan adalah bentuk perhatian untuknya yang sangat besar. Ah, dia jadi menyesal karena selama ini tak menyadari betapa baiknya Seokmin.

“Seok, jangan pernah berubah, ya…” ucap Yuju saat Seokmin hendak mendaratkan beberapa helai mie ke dalam mulutnya.

“Tidak akan berubah, aku akan selalu tampan, kok. Tenang saja, Yu.” balasnya dengan bercanda. Tangan Yuju pun menggeladik untuk menyentuh punggung tangan milik Seokmin.

“Jangan pernah lelah memahami sifat menyebalkanku.” Yuju menatap Seokmin dengan raut teduh penuh pengharapan. Seokmin tersenyum, digenggamnya kelima ruas jari lentik milik Yuju dengan erat seraya mengelus-elusnya dengan penuh perasaan.

“Kau tak perlu khawatir. Sampai kapan pun aku akan berada di sisimu…” tuturnya lembut disertai air muka teduh yang mampu membuat Yuju merasa lega dan terlindungi.

Tak penting bagi Yuju bagaimana pun cara Seokmin menunjukkan rasa cintanya. Mungkin dia memang tidak romantis dan kurang pandai basa-basi. Bahkan setelah mengungkapkan perasaan, mereka tetap terlihat seperti sahabat. Namun meski demikian, Yuju merasa amat beruntung mendapati lelaki sebaik Seokminlah yang mencintainya dengan tulus.

– END –

Maaf karena mengakhiri ff ini dengan tiba-tiba. Seriously, I’m indeed confused to continue this story. Mungkin ada yang penasaran gimana reaksinya temen2nya Chaeyeon pas tahu ternyata dia pacarnya Jaehyun, atau aksi brutal Harim buat bikin perhitungan ke Chaeyeon yang udah ‘ngerebut’ bebep kesayangannya.

Asli, aku juga pengen bikin panjang, tapi entahlah… karena sepanjang sejarah abad, You Look Yummy ini ff terpanjang yang pernah aku tulis. Cuma ya entahlah, daripada entar pas aku lanjutin alurnya makin ga karuan, mending diakhiri dengan cara seperti ini. Semoga masih layak untuk disebut ‘enggak gantung’.

Makasih untuk temen2 yang udah mau baca dari awal sampai akhir. Makasih banyak untuk kakak2 yang udah mau komen, kasih saran dan masukan, yang udah vote, yang udah masukin You Look Yummy ke reading list. Thanks for treat me well even I’m just a freshman on this site. Aku seneng banget bisa berinteraksi sama kalian lewat cerita ini.

Go check this link if you wanna read much more about JaeYeon’s story 🙂

Sampai jumpa di ff selanjutnya ^^

~ SEQUEL~ 

Advertisements

8 thoughts on “[Chaptered] You Look Yummy (Part 12 – END)

  1. Pingback: Fingers Dancing

  2. kyaaaaa end huahua agak2 ga rela soalnya bakal kehabisan momen ni dua pairing huhu
    tapi gapapa. betul katamu, jika merasa ga nyaman utk meneruskan ya mending ga usah diteruskan
    overall aku suka tulisanmu yg rapi dan *seperti keluhanku ke author2 muda lain* kaya kosakata ga kayak ffku…. momen2 nya manis, terutama waktu di sirkuit tuh yang ‘eh kenapa nih ada warningnya jangan2 jaeyeon mau ehem2’ HAHAHA untungnya tidak cuman ciuman doang, maafkan diriku yg pikirannya ke mana2 ini. scene ciuman yuju seokmin itu juga tidak terduga krn interaksi mereka yg biasanya kocak tiba2 berubah panas di chap 11 uhukjiwashipperkuuhuk. well sbnernya aku ga ngeship dk-yuju banget sebesar jaeyeon dan karena itulah aku jumping2 ga karuan di sini, labil bgt kyk emak2 nonton sinetron sampe sepupuku bingung -.-
    tapi menurutku, ada bbrp kekurangan juga di penulisannya. kosakatamu banyak tapi kadang ga terpasang benar, salah satu contoh yg paling kuingat… kamu pasang ‘kelakar’ (kbbi: perkataan yang bersifat lucu untuk membuat orang tertawa (gembira)) waktu yeri muji chaeyeon dgn lirih. ‘dgn lirih’ saja sudah menggambarkan bahwa yeri ga pingin bikin chae ketawa, maka kelakar tentu tidak tepat. dan aku tidak yakin soal ini tapi kamu nulis ‘gadis jung’, ‘pemuda lee’ itu dgn huruf kapital semua depannya, padahal biasanya kalo aku baca di ff2 pro *jyah* biasanya mereka cuman mengkapitalkan marga tanpa ‘gadis’ dan ‘pemuda’ nya dikapitalkan.
    ceritanya sendiri sudah menyenangkan, friendshipnya kerasa, tapi kadang aku pikir ‘nih kenapa masalah mereka cepet bgt keresolvenya ya’. ini hanya pendapat pribadi sih, aku gak maksa kamu manjangin juga ehe. juga… aku pribadi merasa jaehyun agak ooc kalo dia mulai nggombal, aku lebih suka cara seokmin yuju mengungkapkan cinta ^^
    last but not least, keep writing (jaeyeon) haha! aku suka sekali fluffmu ~

    Liked by 1 person

    • bentar…… kakak baca ff ini SKS apa gimana?? serius, cepet banget selesainya. Aduh kak, tolong jaga kesehatan /adanya lu yg kelihatan ga sehat lel
      ehh iya ternyata kelakar itu ungkapan untuk orang yang lagi ngelawak hahaha selama ini aku kira kelakar itu omongan panjang, gosh bodohnya aku >///<
      kalo masalah gadis jung dan pemuda lee itu aku juga cari referensi kak.. karena kupikir penggunaan 'gadis jung' itu kan sama ya kaya 'pak zafar'
      nah, setahuku yang bener itu ditulis 'Pak Zafar' ehh tapi nanti aku coba tanyain bu anjar deh /kak liana kaga kenal bu anjar woyy/
      lah biasa kak emang otak aku cuma mampu mikir sebatas alur ftv indosiar atau lovepedia jadi ga ada klimaks yang ampe serius dan bikin tegang gitu huhuhu aku pun kzl mengapa alurku ga pernah ada yang ooh ahh hage
      sipp kak, ff jaeyeon emang selalu jadi prioritasku hahahaha 😄
      makasih kak liana ~~ udah mau baca sampe end, sempetin mampir ke blog buat baca 'user' juga :3 salam kenal kak~ makasih reviewnya bermanfaat sekali XOXO {}

      Like

  3. Pingback: [Vignette] No Longer A Secret | NCT Fanfiction Indonesia

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s