[NCTFFI Freelance] Missing You (Chapter 1)

missingyu-req

Missing You

Storyline by Cho Hana

Poster by. Mingi Kumiko @ Story Poster Zone

Β [OC] Shin Youngna

[NCT] Lee Taeyong || [NCT] Moon Taeil || [NCT] Kim Doyoung || [NCT] Ten Leechaiyapornkull ||

[Red Velvet] Park Sooyoung

Drama || Time Travel || Romance || School Life

PG-15 || Chapter

.

Inspired by the Korean Drama titled ” Marry Him If You Dare ” with a different storyline

.

Karena walaupun aku merindukanmu, aku takkan bisa berada di sisimu

.

“Tunggu! Hey, tunggu! Tunggu aku!”

Teriakan gadis itu terus menggema bercampur dengan suara napasnya yang memburu. Siapa gerangan yang ia kejar pagi-pagi begini? Jika kalian pikir ia mengejar seseorang, maka kalian salah. Nyatanya ia tengah mengejar sebuah benda besar berbentuk persegi panjang dan berwarna kuning. Tepatnya itu bus umum.

“Sial! Mereka tidak mendengarku atau apa sih? Kenapa mereka meninggalkanku? Aish,” Gadis itu tak henti-hentinya mengomel. Sumpah serapah telah ia layangkan pada supir bus yang bertugas hari itu. Ya ampun, memangnya apa salah si supir bus? Bukan supir bus itu yang salah, tapi gadis itu. Salahkan alarm jahanam yang lupa ia ganti batreinya semalam. Ia jadi telat bangun.

“Bagaimana ini? Bagaimana? Aku harus segera sampai ke sekolah sebelum jam 7, jika tidak…”

Tiba-tiba sekelebat khayalan menyeramkan terlintas di kepalanya. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir imajinasi menyeramkan yang diciptakannya sendiri.

“Tidak! Tidak! Itu tak boleh terjadi,” Gadis itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Masih ada waktu 15 menit lagi. Semoga saja mobil yang mereka tumpangi pagi ini bannya bocor.”

Mendadak gadis itu ingat ucapan Ayahnya.

“Doa yang jelek takkan pernah dikabulkan Tuhan.”

Ia menepuk keningnya sendiri lalu menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi halte yang kosong. Salahkah jika ia memanjatkan doa semacam itu. Terdengar jahat memang, tapi gadis itu berani bersumpah jika Tuhan harus mengabulkan doanya. Jika tidak, maka tamatlah riwayatnya pagi ini.

Gadis itu berusaha duduk dengan tenang, namun nyatanya tingkahnya yang tak ubahnya seekor cacing kepanasan mengundang tatapan heran dari beberapa orang.

“Maaf.”

Sebuah suara membuat gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap si empunya suara berat yang terdengar hangat itu.

“Apa ini punyamu?”

Sekarang di depan gadis itu berdiri seorang pemuda jangkung. Wajahnya sangat tampan dan senyumnya sangat manis. Untuk beberapa sekon, gadis dengan surai legam itu termenung. Melongo menatap ciptaan Tuhan paling sempurna yang pernah ia lihat sepanjang hayatnya. Lupakan masalah Song Jongki atau Park Bogum yang amat dieluk-elukan oleh teman-teman perempuan sekelasnya. Pemuda ini jauh lebih tampan daripada aktor yang hanya bisa kau lihat dilayar televisi itu.

“Maaf.”

Sekali lagi pemuda itu bersuara. Kali ini dengan sedikit menepuk pundak gadis yang melongo itu.

“Oh?” gadis itu tersadar dari lamunannya lalu menatap sebuah shall berwarna putih yang ada di tangan pemuda itu. “Oh itu milikku.”

Entah sejak kapan shall rajut yang dibuat dari benang wol itu telah lepas dari leher gadis itu. Mungkin terjatuh saat ia heboh berlari mengejar bus tadi.

“Terima kasih,” Gadis itu berucap pelan lalu mengambil shall miliknya, melingkarkannya kembali hingga menutupi lehernya.

“Sama-sama,” Pemuda itu tersenyum lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah.

Kini gadis itu jadi semakin gelisah. Bukan lagi karena ia tak sabar menunggu kedatangan bus selanjutnya, melainkan karena pemuda yang kini duduk di sebelahnya itu. Gadis itu melirik sekilas, menatap penampilan pemuda itu. Sepertinya ia seorang pelajar. Terbukti dari tas ransel yang bertengger di punggungnya. Tapi sialnya ia mengenakan mantel, jadi seragamnya tak kelihatan.

“Apa kau siswi SMA Bokchang?” Suara pemuda itu kembali terdengar.

“Oh iya,” Gadis itu menyahut, tak lupa sambil memperlihatkan senyumnya yang termanis.

“Ah kebetulan sekali. Aku juga siswa di sana.”

“Hah? Apa?!”

Gadis itu membulatkan matanya. Tak percaya dengan ucapan pemuda itu. Mustahil. Jika ia memang satu sekolah dengannya, seharusnya pemuda itu mengenalnya. Ya, dia kan sangat ‘terkenal’ di sekolahnya.

“Maksudku aku murid baru,” Pemuda itu nampaknya bisa melihat gurat kebingungan di wajah gadis itu. “Namaku Moon Taeil. Aku siswa pindahan dari Jepang.”

Pemuda itu mengulurkan tangannya. Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengulurkan tangannya juga.

“Namaku Youngna. Shin Youngna.”

πŸƒπŸƒπŸƒ

Gadis itu -Shin Youngna- melangkahkan kakinya dengan gontai menyusuri koridor sekolahnya. Berbagai runtukan sudah memenuhi kepalanya.

Kenapa pemuda itu harus satu sekolah dengannya?

Dari sekian banyak sekolah di Seoul, kenapa ia memilih sekolah di sekolah yang tidak keren ini?

Kenapa juga Youngna harus jadi orang ‘terkenal’ di sekolahnya?

Title ‘terkenal’ tak selalu bermakna positif. Jika kau terkenal sebagai seorang siswa berprestasi atau siswa yang populer karena kecantikannya, maka kau harus berbangga hati. Tapi sayangnya itu tak berlaku untuk seorang Shin Youngna. Nyatanya ia disematkan dengan title ‘terkenal’ karena ia adalah objek bully di sekolahnya.

Sebut saja di sekolah itu ada orang-orang kelas atas dan kelas bawah. Orang-orang tingkat atas tentu saja akan menjadi penguasa sementara yang di bawah akan jadi yang tertindas. Ada 3 pemuda yang paling terkenal di sekolah itu. Lee Taeyong, Ten Leechaiyapornkull dan Kim Doyoung.

Lee Taeyong, pemuda berwajah dingin yang amat digilai di SMA Bokchang. Menjadi primadona bersama kedua teman karibnya karena ketampanannya. Yah sebut saja jika wajah adalah aset berharga pemuda itu. Jangan lupakan tentang masalah harta. Pemuda itu adalah pewaris tunggal dari perusahaan orangtuanya yang telah lama meninggal. Ia hanya perlu menyelesaikan masa study-nya sebelum akhirnya menerima jabatan pemimpin nomor 1 di perusahaan almarhum Ayahnya.

Kedua, Ten Leechaiyapornkull. Pemuda blasteran Korea-Thailand. Cassanova sejati yang memiliki bisa penggoda di lidahnya. Ia memanfaatkan ketampanannya untuk memikat hati semua gadis. Mottonya: ‘Tak apa cinta melayang, yang penting sempat satu ranjang’. Brengsek memang tapi begitulah sosoknya.

Terakhir, Kim Doyoung. Pemuda dengan status sosial yang digadang sebagai orang kaya nomor 1 di SMA Bokchang. Pewaris tunggal dari Kim Corporation. Tak suka banyak bicara dan memiliki tempramen yang buruk. Ia terlahir untuk jadi orang nomor 1 di dunia.

Hubungan Youngna dan ketiga pemuda itu bisa dibilang kurang baik. Oh ralat. Bukan kurang baik, tapi sangat buruk. Tiga pemuda itu memiliki sifat yang berbeda, namun perangainya sama. Mereka sama-sama suka mem-bully Youngna. Entah apa alasannya.

Youngna terlalu sibuk dengan khayalannya hingga tanpa sadar ia telah sampai di kelasnya. Dengan pelan dihempaskannya tubuhnya di kursi paling pojok -kursi miliknya. Ia masih sibuk dengan pikirannya saat suara gaduh dari luar kelas terdengar.

Youngna buru-buru membuka ranselnya, mengeluarkan sebuah buku cetak secara random dan menutup wajahnya. Itu dia. Tiga setan berwajah tampan itu telah datang. Youngna harus menghindari kontak mata dengan mereka.

Gadis-gadis penggila tiga pemuda tampan itu masih berteriak dengan histeris. Youngna tak habis pikir bagaimana bisa pemuda-pemuda dengan perangai buruk itu bisa memiliki banyak penggemar. Apa gunanya punya wajah tampan jika tingkah lakunya jelek? Ini benar-benar tidak bisa dibenarkan.

“Hai, Shin Youngna.”

Suara itu terdengar familiar di telinga Youngna. Pasti itu suara Ten. Siapa lagi yang memiliki suara mendayu seperti itu selain si cassanova kacangan itu.

“Hey, kau mau mengabaikan kedatangan kami?”

Kali ini Ten menarik paksa buku yang menutupi wajah Youngna. Youngna langsung menundukkan kepalanya. Sial sekali! Mereka pasti ingin melakukan ‘ritual pagi’ sekarang.

“Ummm Kim Doyoung, bisakah kau keluarkan resep spesial kita hari ini?” Ten melirik pemuda yang lain -Kim Doyoung.

Doyoung merogoh tasnya mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna hitam pekat yang membuat mata Youngna membulat. Apa lagi itu? Pupuk cair seperti semalam atau lumpur dari pulau Jeju yang menjijikan seperti minggu lalu? Youngna berusaha menerka-nerka isi botol itu.

“Oh warnanya cantik sekali. Apa itu?” Ten memekik dengan wajah yang sumringah sekali.

“Ini saos seafood dicampur kecap asin.”

“Saos seafood? Yang super pedas itu ya?”

“Ya begitulah. Kira-kira kalau kena kulit sih bakal panas selama 2 jam,” seringai itu tercipta di wajah Doyoung. Dengan santai ia menyodorkan botol itu pada Ten. “Ini. Eksekusi saja seperti biasa.”

“Ah sepertinya aku sudah terlalu sering melakukan hal ini. Aku bosan, Doyoung-ah,” Ten melirik pada pemuda yang berdiri di belakang mereka, yang sejak tadi belum mengeluarkan sepatah kata pun. “Bagaimana jika Taeyong yang melakukan eksekusi hari ini?” Ten menyodorkan botol tadi pada Taeyong.

Taeyong terdiam untuk beberapa saat. Tatapannya tertancap pada sosok gadis yang masih menundukkan kepalanya itu. Dilihatnya tangan gadis itu bergetar, mungkin ia tengah menahan rasa takutnya sekarang. Perlahan Taeyong menyambar botol yang disodorkan Ten. Dua temannya yang lain sudah siap untuk menyaksikan aksi Taeyong. Mereka tahu jika Taeyong tak pernah setengah-setengah jika menyiksa gadis itu.

“Lupakan saja,” alih-alih menyiramkan cairan hitam itu ke tubuh Youngna, Taeyong justru melemparnya ke arah bak sampah, membuat Ten dan Doyoung melongo untuk beberapa saat.

“Taeyong, kau sedang bercanda atau apa? Kenapa kau tidak menyiramnya? Kau sedang sakit ya?” Ten melemparkan tatapan tak percaya pada Taeyong.

“Tidak apa-apa. Hanya saja-” Taeyong melirik ke arah pintu masuk kelasnya, “Sebentar lagi guru Han akan datang. Jika kita ketahuan, kita bisa dihukum.”

Ten dan Doyoung saling bertukar tatap untuk beberapa saat. Mereka sama sekali tak mengerti dengan ucapan Taeyong.

“Semuanya kembali ke kursi masing-masing!” Teriakan itu membahana ke seluruh penjuru kelas, mengantarkan langkah semua penghuni kelas menuju kursi masing-masing, tak terkecuali Taeyong, Ten dan Doyoung.

Mereka langsung kembali ke kursi masing-masing.

“Selamat. Untung saja Taeyong tidak menyiram gadis itu,” Doyoung berbisik pada Ten yang duduk di sebelahnya.

“Ya, kau benar. Jika kita ketahuan, bisa-bisa guru killer itu menghukum kita,” Ten menimpali. “Tapi darimana Taeyong tahu jika guru Han akan datang?”

Ten menatap Taeyong yang duduk di bangku belakang dengan tatapan penuh tanda tanya.

πŸƒπŸƒπŸƒ

“Hari ini kita kedatangan murid baru.”

Ucapan guru Han itu membuat Youngna langsung mengangkat kepalanya. Murid baru? Jangan-jangan itu Moon Taeil -pemuda tampan yang ia temui di halte bus tadi pagi. Seisi kelas sudah mulai ramai, penasaran dengan sosok murid baru yang akan menghuni kelas mereka.

“Hei, kau boleh masuk.”

Guru Han memanggil seseorang yang sedari tadi menunggu di luar. Youngna membulatkan matanya. Dugaannya benar. Siswa baru itu benar-benar Moon Taeil. Ia buru-buru meraih buku cetak yang ada di mejanya lalu menyembunyikan wajahnya.

“Haduh, kenapa kami harus satu kelas sih?” Youngna meruntuk dalam hatinya.

Sementara siswa yang lain nampak semakin heboh, terutama siswa-siswa perempuan. Tentu saja mereka senang. Sekarang list siswa berwajah tampan di kelas mereka jadi bertambah satu. Moon Taeil tentu saja langsung masuk dalam list itu.

“Nah, sekarang silahkan perkenalkan dirimu.” Guru Han mempersilahkan pemuda jangkung itu untuk memperkenalkan dirinya secara resmi di depan kelas.

“Halo semuanya. Perkenalkan nama saya Moon Taeil. Saya pindahan dari Jepang. Saya warga negara Korea, tapi saya lahir dan dibesarkan di Jepang. Saya harap kalian bisa membantu saya disini.” Perkenalan itu diakhiri dengan Taeil yang membungkukkan badan -memberi hormat pada teman-teman sekelasnya.

“Taeil, sekarang kau bisa duduk di-” Guru Han mengedarkan pandangannya, mencari-cari kursi kosong yang sekiranya bisa ditempati pemuda itu. Maniknya menancap pada salah satu kursi kosong dipojokkan kelas. “Ah kau bisa duduk di sebelah Shin Youngna.”

“Apa?!” Youngna memekik dalam hati. Sial! Kenapa Taeil harus duduk di sebelahnya?

Taeil melemparkan senyumnya pada Guru Han sebelum akhirnya menyeret langkah menuju kursi di sebelah Youngna. Sementara Youngna masih menyembunyikan wajahnya di balik buku.

“Sepertinya aku mengenalmu.”

Ucapan Taeil itu membuat Youngna tersentak. Pelan-pelan ia menurunkan bukunya, menampakkan wajahnya yang sudah dihiasi seulas cengiran bodoh.

“Hai, Moon Taeil,” Youngna menyapa teman barunya itu.

“Hei juga, Shin Youngna,” dan senyum itu kembali bisa meluluh-lantahkan pertahanan Youngna.

Sepertinya Youngna benar-benar menyukai pemuda itu hingga ia sendiri tak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengamati gerak-gerik mereka.

πŸƒπŸƒπŸƒ

Bel istirahat baru saja berbunyi. Seluruh penghuni kelas langsung membereskan segala macam perlatan belajar mereka. Satu persatu mereka mulai beranjak menuju kantin, kecuali Ten. Pemuda itu nampaknya tak senang karena tadi pagi kedatangan Guru Han berhasil menyelamatkan Youngna dari ‘ritual pagi’ mereka.

“Hey, cupu!” Ten langsung melempar tiga buah buku tulis ke arah meja Youngna. “Kerjakan tugas kami. Seperti biasa ya. Rangkap tiga.”

“Kami tak punya waktu mengerjakannya karena kami harus berlatih untuk turnamen basket minggu depan. Kerjakan dengan benar. Jika sampai nilaiku jelek, lihat saja apa yang akan kulakukan padamu,” Doyoung mengeluarkan ancamannya. Pemuda ini memang tak suka banyak bicara, tapi sekali bicara maka sebuah ancamanlah yang akan keluar.

“Ba… Baik,” Youngna menyahut dengan tergagap. Ia baru saja akan mengambil buku-buku yang sudah ia ketahui pasti milik Taeyong dan teman-temannya, namun sebuah tangan mendahuluinya.

“Moon Taeil?” Gadis itu melirik Taeil yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat meja. Ia pikir pemuda itu sudah melenggang menuju kantin seperti siswa yang lain.

Taeil merebut buku itu dari meja Youngna lalu menyodorkannya kembali pada Ten. Ten hanya menatap Taeil dengan datar sementara Doyoung sudah melemparkan tatapan membunuh pada murid baru di kelasnya itu.

“Hey, apa yang kau lakukan?” Tanya Ten pada Taeil.

“Mengembalikan apa yang seharusnya dikembalikan.” Taeil menyahut dengan santai tanpa sedikit pun rasa takut.

“Woah, nyalimu besar juga ya. Kurasa karena kau murid baru kau tidak tahu siapa kami,” Kali ini giliran Doyoung yang angkat bicara. Tangannya sudah gatal ingin menonjok wajah pemuda sok berani itu.

Taeil hanya mengulum senyum, seolah Ten dan Doyoung baru saja melemparkan lelucon padanya.

“Siapa bilang aku tak kenal kalian?” Taeil mengarahkan maniknya pada Ten dan Doyoung secara bergantian. “Namamu Ten ‘kan? Ayahmu orang Korea dan ibumu orang Thailand. Kau seorang playboy. Sudah meniduri lebih dari puluhan gadis. Apa aku perlu memberitahumu jika di masa depan, kau akan menyesali perbuatanmu? Percayalah padaku. Di masa depan, kau akan mencintai seorang gadis, namun gadis itu akan mencampakkanmu -sama seperti kau mencampakkan gadis-gadis yang telah kau tiduri sekarang. Kau akan jadi gila, lalu masuk rumah sakit jiwa. Kau akan berada di sana hingga seumur hidupmu.”

Ten hanya terdiam. Ia cukup tersentak dengan ucapan Taeil yang terdengar seperti sebuah kutukan.

“-dan kau. Kim Doyoung. Pewaris tunggal Kim Corporation. Perusahaan pemegang saham terbesar di Seoul. Ah apakah kau tahu jika kau bukanlah keturunan tunggal keluarga Kim? Kurasa kau sudah tahu jika Ayahmu punya seorang simpanan. Mereka punya seorang anak yang usianya lebih tua darimu. Kau khawatir bukan tentang masalah itu? Kau takut jika suatu saat anak itu akan datang lalu menuntut hak waris atas Kim Corporation. Kau takut akan kalah dengannya hingga kau berpikir untuk menyingkirkannya. Kau membunuhnya lalu masuk penjara. Kau akan dihukum mati di masa depan.”

Ten dan Doyoung terdiam. Entahlah ucapan Taeil itu sebenarnya seperti bualan saja, namun tak dapat mereka pungkiri ucapannya itu terdengar cukup menakutkan.

“Kau!” Doyoung hampir saja melayangkan bogemnya ke wajah Taeil saat seseorang menahannya. “Taeyong?”

“Berhentilah. Ini tak ada gunanya.” Taeyong menarik tangan Doyoung. Ia lalu melirik pada Taeil sekilas, melemparkan tatapan super dinginnya pada pemuda itu. “Lebih baik kita ke kantin saja.”

Taeyong langsung menyeret langkahnya menuju pintu keluar.

“Omong kosong. Kau pikir kau cenayang? Dasar murid baru aneh!” Ten berceloteh lalu menyusul Taeyong menuju ke luar kelas.

“Ingat. Urusan kita belum selesai!” Doyoung menatap Taeil dengan kesal lalu menyusul dua temannya yang lain.

Sementara itu Youngna masih diam di tempat duduknya. Jujur saja, kejadian barusan membuatnya cukup kaget.

“Tenang saja. Mulai sekarang aku akan melindungimu,” Taeil tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Youngna dengan pelan.

Untuk pertama kalinya, ada orang yang mau membelanya. Apa Taeil itu adalah dewa penolong yang dikirimkan Tuhan?

πŸƒπŸƒπŸƒ

Kedatangan tiga pemuda itu di kantin mengundang perhatian dari pengunjung yang lain. Mereka beringsut menuju meja yang biasa mereka tempati di sana. Ten dan Doyoung langsung mengambil tempat duduk berdekatan, sementara Taeyong menghempaskan tubuhnya di sisi yang lain.

“Aku tak percaya murid baru itu berani melawan kita. Seharusnya kau tidak menahanku tadi,” Doyoung melemparkan tatapan sebal pada Taeyong yang duduk berhadapan dengannya.

Taeyong hanya menghela napas panjang. Ia nampak sama sekali tak berniat meladeni omelan sahabatnya itu.

“Ini aneh.” Ten bergumam pelan.

“Apanya yang aneh? Ucapan murid baru itu? Kau percaya padanya? Dia itu hanya asal ngomong, Ten,” Doyoung menepuk pelan pundak Ten.

“Bukan ucapan bocah itu yang aneh. Tapi Taeyong,” kini giliran Ten yang menatap Taeyong dengan tajam, “Hey bung, apa yang salah denganmu hari ini? Tadi pagi kau tidak melakukan ‘ritual pagi’ pada Youngna lalu kau juga mencegah Doyoung menghajar murid baru itu. Kau kesambet setan apa sih?”

“Aku hanya sedang malas membuat masalah,” Taeyong menyahut sekenanya lalu beranjak dari kursinya.

“Kau mau kemana?” tanya Doyoung pada Taeyong.

“Ngambil makanan. Aku lapar.” Taeyong melenggang dengan santai menuju tempat pengambilan makanan.

“Lihat. Aku benar ‘kan? Taeyong memang aneh hari ini. Dia bahkan mengambil makanan sendiri. Biasanya ‘kan kita menunggu si cupu untuk mengambil makanan kita,” Ten berbisik pada Doyoung. Manik mereka masih tertancap pada punggung Taeyong yang bergerak semakin menjauhi mereka.

“Kurasa semalam ia terjatuh dari ranjangnya. Mungkin kepalanya terbentur,” Doyoung hanya asal bicara.

πŸƒπŸƒπŸƒ

Kedatangan Youngna di kantin disambut oleh seringai di wajah tampan dua pemuda itu -Ten dan Doyoung. Bahkan mereka mengabaikan sejenak keanehan sikap Taeyong yang kini sudah menyantap makan siangnya lebih dulu.

“Eh Shin Youngna!” Ten berteriak memanggil gadis yang sudah membawa dua buah nampan di tangannya. Yah tanpa disuruh pum Youngna sudah cukup hapal dengan perintah dua pemuda itu. Tentu saja ia harus mengambil makan siang mereka.

“Anak pintar,” Doyoung berucap saat dua nampan itu sudah tiba di depannya. “Cepat ambil makananmu karena aku sudah lapar. Jangan biarkan aku menunggumu.”

Tanpa banyak bicara Youngna langsung menyeret langkahnya, mengambil satu nampan lagi berisi makan siangnya. Biasanya ia selalu makan satu meja dengan ketiga pemuda itu. Bukan sebuah kebanggaan tentu saja karena fungsi Youngna di sana adalah sebagai babu mereka.

Youngna baru saja meletakkan nampannya di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah Taeyong. Ia baru saja akan memasukan suapan pertama ke mulutnya saat tiba-tiba seseorang mengambil tempat duduk di sebelahnya.

“Moon Taeil?” Mata Youngna membulat, menatap pemuda itu dengan kaget.

“Ah kau lagi rupanya. Kau benar-benar mau cari masalah ya?” Doyoung nampaknya mulai murka.

“Kenapa?” Tanpa rasa bersalah pemuda itu mulai melahap makan siangnya. “Oh ya, selamat makan ya.”

“Hey, kau pikir kami sedang becanda? Kau tidak tahu ya kalau meja ini adalah milik kami. Hanya kami yang boleh duduk di sini. Pindah sana!” Ten menimpali.

“Oh ya? Tapi, aku di sini karena ada Youngna. Aku ingin makan di dekatnya.”

Tingkah Taeil semakin membuat Ten dan Doyoung kesal. Sepertinya mereka harus memberi Taeil sedikit pelajaran.

“Hey, kau benar-benar mau mati ya? Sepertinya kau perlu kuberi pelajaran,” Doyoung sudah mengepalkan tangannya, siap melayangkannya kapan saja ke wajah Taeil.

Prang

Suara gaduh itu tercipta kala sendok Taeyong beradu dengan nampan makannya, membuat fokus keempat orang itu teralih padanya.

“Aku sudah kenyang. Aku ke kelas duluan.” Taeyong langsung beranjak dari kursinya.

“Apa? Hey, Taeyong, kau mau kemana? Kau tidak mau memberi bocah ini pelajaran. Hey!”

Taeyong sama sekali tak menoleh kendati kini teriakan dari mulut Ten dan Doyoung terus menghampiri rungunya. Youngna menatap Taeil yang sedang menyantap makanannya dengan santai. Sekarang ia sudah yakin. Ya, Taeil pasti adalah dewa malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya.

πŸƒπŸƒπŸƒ

Doyoung menghempaskan tubuhnya di atas hamparan rumput sekolahnya yang hijau, sementara Ten kini masih sibuk mendribble bola di lapangan sana. Ah, mungkin dia masih ingin memanjakan fans-fansnya yang berdiri di pinggir lapangan. Omong-omong, tubuh Ten yang berkeringat itu terlihat sangat seksi di mata semua gadis.

Setengah jam berlalu dan Ten mulai lelah. Ia menyudahi permainannya lalu menghampiri Doyoung yang masih berbaring di atas hamparan rumput.

“Apa yang kau pikirkan?” Ten bertanya setelah meneguk air mineral untuk melepas dahaganya.

“Tidak ada. Hanya saja, aku bingung. Ucapan murid baru itu membuatku kepikiran.”

Ten terkekeh, “Astaga, kau ini konyol sekali. Kau sendiri yang tadi bilang jika ucapannya itu hanya omong kosong. Sekarang lihatlah, kau sendiri yang justru takut.”

“Aku bukan takut,” Doyoung mengoreksi ucapan Ten. Di kamusnya sama sekali tak ada kata takut. “Hanya saja itu aneh… dan itu membuatku sedikit kepikiran.”

“Santai saja. Dia itu hanya asal bicara. Mana mungkin sih hal-hal yang dia bilang tadi terjadi pada kita. Lihatlah aku. Oh ayolah gadis mana sih yang bisa mencampakkan aku? Jangankan mencampakkanku, menyakitiku seujung kuku saja mereka takkan sanggup. Aku ini terlalu tampan untuk dicampakkan.” Doyoung nyaris muntah mendengar penuturan Ten yang terlampau PD itu. “Dan kau- hey siapa yang tidak tahu dirimu sih? Kim Doyoung. Orang kaya nomor 1 di SMA Bokchang. Pewaris tunggal Kim Corporation dan murid baru itu bilang apa tadi? Ummm anak simpanan- pppffttt itu menggelikan. Bisa kau bayangkan jika Ayahmu yang berwibawa itu tiba-tiba punya simpanan? Itu terlalu mengada-ada dan tidak masuk akal. Jadi Doyoung-ssi, lupakan saja tentang ucapan murid baru itu. Lagipula dia bukan cenayang. Dia hanya manusia biasa. Memangnya dia pikir di Tuhan apa, bisa menentukan nasib kita seenaknya.”

Doyoung masih terdiam, tak menanggapi ucapan Ten. Matanya menerawang jauh pada langit yang ada di atas sana.

“Oh ya, ngomong-ngomong Taeyong mana? Kurasa setelah bel pulang tadi ia langsung menghilang,” Tanya Ten pada Doyoung yang masih konstan dengan posisinya.

“Entahlah. Tadi di mengirimiku pesan. Dia bilang dia tidak bisa ikut latihan sore ini. Dia harus pergi ke suatu tempat.”

“Suatu tempat? Dimana? Ah dia aneh sekali.”

πŸƒπŸƒπŸƒ

Sejak kedatangan Taeil, entah mengapa Youngna merasa sedikit aman. Setidaknya seharian ini, tiga trio setan itu tak bisa menjahilinya. Entahlah. Youngna sebenarnya bingung kenapa seharian ini Taeyong -si pemimpin geng tukang bullying itu jadi sangat pendiam. Padahal biasanya, pemuda itulah yang paling getol mengerjainya.

“Ah Shin Youngna bodoh!” Youngna memukul kepalanya sendiri. “Untuk apa kau bingung? Bukannya itu bagus. Sepertinya Taeyong takut pada Taeil. Itu bagus. Mereka takkan berani mengganggumu. Ah Taeil memang dewa penyelamatku.”

Sepanjang jalan Youngna terus bergumam sendirian. Tak ia pedulikan lirikan-lirikan yang pejalan kaki lain arahkan padanya. Jika seseorang jatuh cinta, ia takkan takut jadi gila bukan?

Kebiasaan Youngna saat sedang senang adalah mendengar lagu. Dirogohnya saku seragamnya, lalu dikeluarkannya ponsel miliknya beserta earphone-nya. Ia menyambungkan kabel earphone itu dari ponsel ke telinganya. Ia memutar sebuah lagu favorit yang ada di list-nya. Sepanjang jalan Youngna terus mendengar lagu itu, menikmati tiap alunan nadanya yang mendayu-dayu itu. Youngna begitu terhanyut hingga ia tak sadar ada sebuah mobil yang melaju dari arah berlawanan saat ia menyebrang jalan.

Tiitt tiiittt tiitt

Si supir mobil sudah berkali-kali menekan klaksonnya, namun Youngna sama sekali tak bergeming karena terlalu asik dengan lagunya. Dilangkahkannya kakinya dengan santai menuju sebrang dan matanya terbelalak saat mobil sedan berwarna hitam itu hanya berjarak beberapa meter darinya.

Youngna rasa ia takkan selamat dan dirinya akan tertabrak saat itu juga hingga tiba-tiba ia merasa tubuhnya melayang. Ya tubuhnya melayang. Apa ia sudah mati? Youngna penasaran lantas membuka matanya yang terpejam. Matanya membulat dan tubuhnya membeku. Bahkan ini ratusan kali lebih mengejutkan daripada sekedar melihat sebuah neraka di depanmu.

“Lee Taeyong?”

Youngna bergumam pelan saat sadar dirinya telah berada dalam dekapan pemuda itu. Tubuh mereka sama-sama terhempas ke tepi jalan dan Youngna tak bisa percaya jika seorang Lee Taeyong-lah yang menolongnya.

πŸƒπŸƒπŸƒ

Taeyong melangkahkan kakinya pelan, memasuki rumahnya. Ia sedikit meringis saat sadar jika sikut tangannya mengalami luka lecet.

“Lee Taeyong!”

Sebuah suara membuat pemuda bersurai legam itu menghentikan langkahnya sejenak, lantas ia menoleh pada si empunya suara yang tak lain dan tak bukan adalah neneknya.

“Ada apa, Nek?” tanya Taeyong yang masih berdiri di anak pertama tangga menuju kamarnya.

“Nenek hanya mau bertanya, apa tadi kau pergi ke daerah Myeondong?”

Pertanyaan itu membuat Taeyong menelan salivanya dalam-dalam. Pertanyaan yang di luar prediksinya. Apa jangan-jangan wanita renta itu melihat Taeyong saat menolong Youngna?

“Tidak. Seharian aku latihan basket bersama Ten dan Doyoung di sekolah.”

“Oh benarkah? Aneh sekali. Padahal Nenek sepertimu melihatmu di Myeondong tadi siang,” sang nenek nampak kebingungan, namun detik berikutnya ia menatap Taeyong kembali.

“Lupakan saja, Nek. Mungkin Nenek salah lihat.” Taeyong baru saja akan melanjutkan langkahnya saat suara neneknya kembali terdengar.

“Oh ya, Taeyong, kau jangan lupa ya dengan jamuan makan nanti malam. Kau harus bersiap-siap. Nenek akan memperkenalkanmu pada putri tunggal keluarga Park.”

Taeyong tak kaget, bahkan seulas senyum tipis terukir di wajah tampannya, “Baiklah, Nek. Aku mau ke kamar dulu. Sampai jumpa nanti malam.”

Taeyong segera masuk ke kamarnya. Dilemparnya tas ransel yang ia gunakan ke sembarang arah lalu dihempaskannya tubuhnya ke atas kasur king size miliknya. Ditatapnya langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading untuk beberapa saat.

“Kau hebat, Lee Taeyong. Ya, kau melakukannya dengan baik. Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencanamu. Semuanya memang harus terjadi seperti ini. Kau harus menjauhkan Youngna dari dirimu sendiri,” Taeyong bergumam pada bayangan tubuhnya sendiri.

πŸƒπŸƒπŸƒ

Youngna melangkahkan kakinya dengan pelan memasuki sebuah toko ayam goreng -yang tak lain dan tak bukan adalah milik Ayahnya. Ia berjalan sedikit timpang mengingat kini tungkainya sudah dipenuhi darah segar.

“Ah anak Ayah sudah pulang ya. Youngna, hari ini kau mau makan ap- Hey kakimu kenapa?” Suara ceria sang Ayah mendadak berubah jadi teriakan heboh saat dilihatnya kaki sang putri semata wayangnya berdarah. “Apa yang terjadi katakan pada Ayah? Kenapa kakimu bisa sampai berdarah seperti ini?”

Lelaki itu buru-buru berlari mengambil kotak P3K, sementara Youngna menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi dan membiarkan sang ayah membersihkan lukanya.

“Tidak ada apa-apa, Yah. Tadi aku hanya hampir tertabrak mobil.”

“Apa?!” lagi-lagi sang ayah menampakkan ekspresi yang berlebihan, “Hampir tertabrak? Tapi kau tidak apa-apa kan? Tidak ada bagian lain yang cedera kan?”

“Iya, Yah. Tidak ada. Hanya kakiku saja yang lecet. Tadi ada seseorang yang menolongku.”

“Oh ya? Siapa? Laki-laki atau perempuan? Aish, seharusnya kau mengajaknya kemari. Ayah harus memberinya kupon makan gratis sebagai ucapan terima kasih.”

Youngna hanya mendecakkan lidahnya. Gila saja jika ia mengajak Lee Taeyong menemui Ayahnya. Bisa-bisa Ayahnya berpikiran macam-macam. Lagipula mana mungkin pemuda kaya seperti Taeyong mau makan di toko ayam goreng murahan seperti milik Ayah Youngna.

“Hey, kenapa kau diam? Ayah bertanya padamu, Shin Youngna.”

Suara itu menyadarkan Youngna kembali, “Ah dia seorang laki-laki. Kami satu sekolah tapi tak saling mengenal, Yah.”

“Ah begitu. Lain kali ajak dia kemari ya. Ayah harus memberikannya imbalan karena telah menolong putri paling berharga yang pernah Ayah miliki. Ajak dia kemari besok. Oke?” lelaki itu mengelus surai Youngna dengan lembut.

Youngna hanya menghela napas, “Aku tidak janji, Yah. Akan diusahakan. Lagian kami tidak saling mengenal satu sama lain.”

“Aish, kalo tidak saling kenal ya kenalan. Kan lumayan. Siapa tahu kau bisa jadi seperti pemeran utama dalam drama-drama picisan di TV. Pemuda yang menolongmu itu bisa jadi adalah jodohmu.”

“Ayah hentikan!” Youngna mendadak meneriaki sang ayah. Menggelikan sekali membayangkan ia harus berjodoh dengan Lee Taeyong. “Jangan berkata yang tidak-tidak. Aku sudah punya seseorang yang kusuka tahu.” Youngna buru-buru membungkam mulutnya sendiri. Sial! Kenapa ia bisa sampai keceplosan? Matilah dia. Ayahnya pasti akan mengintrogasinya habis-habisan.

“Eh, jadi kau sudah punya seseorang yang kau sukai? Aih, anak Ayah sudah mulai dewasa rupanya. Ahh uri-Youngna sudah mulai mengenal cinta sekarang. Ayo ceritakan pada Ayah, siapa pemuda yang beruntung itu? Apa ia tampan? Apa ia kaya? Apa kalian berada di kelas yang sama?”

Youngna merotasi matanya. Tepat setelah sang Ayah selesai memperban kakinya, ia pun bangkit berdiri dan beranjak menuju kamarnya.

“Lupakan saja, Yah. Aku tadi hanya sembarangan bicara. Sudah ya, aku mau istirahat. Besok aku ada ujian. Dah Ayah~”

Youngna buru-buru melarikan diri sebelum sang Ayah mulai banyak bicara lagi.

“Dasar gadis SMA! Apa susahnya sih mengakui perasaannya sendiri? Ah aku bikin aku penasaran saja,” Sang Ayah bergumam sendiri. “Ah gorengan ayamku!”

πŸƒπŸƒπŸƒ

Matahari telah beranjak dari peraduannya, berganti dengan bulan yang kini menghiasi gelapnya langit malam. Jamuan makan malam antara keluarga Lee dab keluarga Park pun berlangsung. Makan malam itu dihadiri oleh Tuan Park beserta istri dan putrinya.

Taeyong diperkenalkan pada putri Tuan Park. Namanya Park Sooyoung. Wajahnya sangat cantik dan penampilannya modis. Sepanjang waktu makan malam hanya diisi oleh perbincangan soal bisnis -yang sama sekali tak membuat Taeyong tertarik. Oleh karena itu, setelah menghabiskan santapannya Taeyong pamit pada Neneknya. Ia beranjak menuju tepi kolam berenang, menikmati bintang-bintang bertebaran yang menghiasi langit malam itu.

“Langit malam ini sangat cerah. Bintangnya banyak sekali.”

Sebuah suara membuat Taeyong membalikkan tubuhnya sesaat. Gadis dengan balutan gaun berwarna marun itu mendekatinya. Disodorkannya segelas wine pada Taeyong.

“Terima kasih,” Taeyong menyambut gelas itu.

“Sepertinya kau bosan dengan acara makan malam ini,” Suara Sooyoung kembali terdengar.

“Sedikit. Aku tak tertarik dengan obrolan bisnis Nenekku,” Sahut Taeyong sekenanya.

“Berarti kita sama. Jujur aku juga tak tertarik dengan bisnis,” Gadis itu mengulum senyumnya. “Kau tahu kurasa kita memiliki banyak persamaan, Taeyong-ssi. Kurasa kita cocok untuk berteman.”

Taeyong menatap wajah gadis itu dalam diam. Ya, wajah cantik itulah yang mampu memperdayanya hanya dalam hitungan detik, yang dapat membuatnya jatuh hati hanya dengan satu kedipan mata. Jika saja Taeyong masih sama seperti dulu, mungkin ia sudah di mabuk kepayang sekarang saat bibir merah itu menarik kurvanya, membentuk senyum termanis yang pernah ia lihat dalam hidupnya.

“Ya kurasa begitu. Mari kita berteman.” Taeyong mengulurkan tangannya pada Sooyoung. Gadis itu menyambut uluran tangannya dengan cepat -tak lupa dengan senyum termanis yang menghiasi wajah jelitanya.

“Ya, Lee Taeyong, kau sudah melakukannya lagi. Kerja yang bagus. Kau hanya harus mengikuti alurnya. Ini semua demi Shin Youngna.”

Β 

πŸƒπŸƒπŸƒ

Malam itu, Youngna tak bisa fokus belajar. Berkali-kali ia membolak-balikkan buku cetaknya, berusaha menyerap materi yang ada, namun hasilnya nihil. Pikirannya hanya terpusat pada satu nama.

Lee Taeyong.

Entah sudah berapa puluh kali huruf hangeul nama itu menghiasi pojokan buku tulisnya. Sial! Kenapa harus nama pemuda itu yang memenuhi pikiran Youngna? Bukankah seharusnya ia memikirkan Moon Taeil saja? Ia menyukai Taeil bukan? Lalu kenapa otaknya justru lebih memilih memikirkan Taeyong ketimbang Taeil? Ini gila!

Youngna mengacak-acak rambutnya frustasi lalu mengeram jengkel. Ia kesal. Kenapa pula sikap Taeyong harus kelewat berubah hari ini? Kenapa Taeyong jadi tak berani menyiksa Youngna lagi? Mungkinkah karena kedatangan Moon Taeil? Jika benar demikian, maka Youngna bisa berlega hati. Tapi, kenapa harus Taeyong yang datang untuk menolongnya tadi siang? Kenapa tidak Taeil saja? Ah Tuhan benar-benar menulis skenario yang membuat Youngna kebingungan.

“Ah persetan dengan Lee Taeyong!” Youngna memekik kesal lalu menyandarkan kepalanya di meja hingga tanpa sadar mulai terlelap.

Sang Ayah mengintip dari balik pintu, memeriksa apakah sang putri sudah tidur. Pelan-pelan ia masuk ke dalam kamar Youngna. Diambilnya selimut berwarna merah muda yang biasa dipakai Youngna saat tidur lalu menggulung tubuh sang anak dengan selimut itu.

Lelaki berusia 40 tahunan itu tersenyum kala didapatinya wajah tenang sang anak saat terlelap. Lelaki itu tak memiliki harta berharga yang lain selain putrinya sendiri, Shin Youngna. Tangan laki-laki itu bergerak pelan membereskan peralatan belajar Youngna yang masih berantakan di atas meja. Gerakannya berhenti saat tanpa sengaja ia menemukan coret;coretan tangan Youngna.

“Lee Taeyong,” Lelaki itu tersenyum kala deretan huruf itu ia eja. “Ah jadi nama pemuda yang ia sukai itu Lee Taeyong. Nama yang bagus. Ia pasti pemuda yang baik dan tampan. Haruskah aku menemuinya besok?”

-TBC-

Author note:

Setelah selesai merampungkan ff series-nya dedek gemes akhirnya aku bikin project ff chapter (btw, Chewing series versi dd Jisung sama dd Haechan tinggal dipublish aja minggu depan). Β Ff chapter coy ff chapter!! Padahal aku sendiri belum pernah bikin ff chapter sampe rampung. Biasanya keseringan kena virus mager + WB di tengah jalan. Tapi semoga aja untuk yang kali ini penyakitku yang satu itu gak kambuh >,<

Β 

Percaya deh, sebenarnya ide awal ff ini bukan kayak gini. Gak tau kenapa tiba-tiba aja aku kehilangan feel dari ide pertama trus tiba-tiba (lagi) aku dapat pencerahan entah dari dewa mana dan akhirnya jadilah ff chapter super absurd ini. Jadi jangan heran kalo judul dan isi ceritanya rada kagak nyambung ya. Makluk aja author emang rada gesrek otaknya.

Β 

Oh ya buat inspirasi sendiri, ff ini memang terinspirasi dari salah satu drama Korea lawas. Judulnya ‘Marry Him If You Dare’. Adakah yang pernah nonton?

Β 

Aku suka drama itu. Ceritanya unik dan brilian -yah tipikal-tipikal drama Korea banget lah ya. Tapi, sumpah aku nyesek banget liat endingnya. Bukan karena mengharukan bukan! Tapi karena endingnya gantung banget. Kampret! Itu gak jelas si pemeran utamanya jadi pacaran sama cowok yang mana. Aku kesel sendiri nontonnya.

Β 

Mungkin di chapter ini masih banyak hal yang kurang jelas dan pastinya bakal di perjelas dalam chapter berikutnya. But, buat kelanjutannya, aku bakal liat feedback-nya dulu. Kalo feedback-nya lumayan mungkin ff ini bakal lanjut. Kalo gak yasudahlah, biarlah ff ini di museumkan sajaπŸ˜‚

Β 

-tertanda bininya Chittaphon😘

Β 

Β 

Next chapter:

“Selama ini aku tak pernah membahagiakan Youngna. Aku benar-benar menyesal.”

“Aku melihat Ayahmu di lantai atas. Dia lagi nyari Lee Taeyong tuh.”

“Aku akan selalu ada di sampingmu untuk percaya pada apa yang kau katakan, bukan yang orang lain katakan.”

“Aku akan melawanmu mulai hari ini.”

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Missing You (Chapter 1)

  1. Halo kak penulis, fanficnya bagus banget, baca ini berasa nonton drama korea yang tokohnya anak nct. Aku nggk bisa nebak alur ceritanyaaa masa. Tapi aku suka bgt soalnya main castnya bias aku semua πŸ˜†πŸ˜†
    Semangat nulisnya yaa, ditunggu kelanjutannya

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s