[NCTFFI Freelance] Troublemakers (Chapter 2)

poster 1

TROUBLEMAKERS [Part 2]

Chaptered FF

Story by Cute_Noona

NCT Taeyong | NCT Doyoung | NCT Jaehyun | NCT Ten
and others

School Life – Friendship

PG-13

*

*

===============================

SEUNGRI HIGH SCHOOL

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan sekolah usai tampaknya selalu terlihat sedikit intens dan menakutkan dibanding hari-hari yang biasa dilalui semua murid SMU Seungri. Bagaimana tidak, presentase kedisplinan dan ketatnya peraturan sekolah selalu meningkat lebih dari 50%. Seolah-olah sekolah yang biasa mereka datangi berubah menjadi camp militer dalam sehari. Kalau sudah begini, jangan sampai kau memiliki pemikiran untuk terlambat masuk sekolah meski hanya satu detik. Karena bila kau nekat melakukannya, pintu gerbang sekolah yang tingginya dua kali dari tinggi badan orang dewasa dan berwarna hitam tersebut tidak akan menerimamu selama 3 hari berturut-turut. Istilah yang lebih singkat dan sederhana adalah kau akan diskors selama 3 hari bila kau terlambat masuk sekolah di hari pertama ini. “Neraka” bukan?

Well, semua murid SMU Seungri yang masuk hari ini lolos dari “neraka” yang menakutkan itu karena mereka berangkat lebih awal dari biasanya. Setidaknya Pak Kim, guru olahraga yang merangkap menjadi Kepala Bagian Kedisplinan Murid hanya melihat mereka di pinggir pintu gerbang dengan wajah yang tidak senang. Ha, itu artinya pria bertubuh tinggi besar tersebut belum mendapatkan mangsanya.

Namun, setelah setengah jam berlalu, wajahnya mulai berubah sumringah karena jam tangannya menunjukkan detik-detik terakhir pintu gerbang akan segera ditutup. Ia terlihat senang bukan tanpa alasan. Kedua matanya menangkap tiga muridnya yang muncul dari arah yang berbeda. Salah satu dari mereka tampak keluar dari mobil mewah berwarna hitam. Satu lagi terlihat tengah mengayuh sepeda dengan kecepatan yang cukup kencang ke arah pintu gerbang. Satunya lagi hanya berjalan santai.

“Selamat pagi, Pak! Masih ada waktu 30 detik kan? Terima kasih, Pak! Semoga hari Anda menyenangkan!” seru Doyoung setelah berhasil melewati pintu gerbang. Ia hampir saja tertabrak oleh salah seorang murid yang mengayuh sepeda, yang juga hampir terlambat pagi ini.

Sorry!”

Ten yang hampir menabrak Doyoung langsung meminta maaf sebelum kembali mengayuh sepedanya ke area parkir sekolah.

Pak Kim yang melihat tingkah dua murid laki-laki tersebut hanya menggertakkan giginya pelan. Dua mangsanya lolos dari terkamannya.

“Selamat pagi, Pak.”

Suara satu muridnya lagi membuatnya mengalihkan perhatiannya ke arah pintu gerbang. Alih-alih membalas sapaan muridnya tersebut, ia justru semakin memperkeruh raut wajahnya karena murid tersebut melangkah masuk dengan begitu santainya, seolah sama sekali tak terpengaruh oleh kilatan api yang keluar dari matanya.

“Ini pertama kalinya kau datang terlambat, Lee Taeyong,” dengus Pak Kim sambil menunjukkan jam tangan ke arah Taeyong yang baru saja membungkuk padanya.

“Anak itu bilang masih ada sisa sekitar 30 detik, Pak. Itu artinya kami belum sepenuhnya terlambat.”

Hanya itu yang diucapkan Taeyong sebelum melangkah masuk ke area gedung kelas yang ada di depannya. Meninggalkan guru olahraga tersebut yang semakin bersungut-sungut karena tak mendapatkan satu pun murid yang terlambat masuk, yang bisa ia “siksa” selama tiga hari.

Uh-oh… sebenarnya ia masih bisa mendapatkan satu murid yang bisa ia siksa andai ia berhenti mengumpat dan memperhatikan sekitarnya karena saat ini, tanpa sepengetahuannya, seorang murid laki-laki terlihat sukses memanjat pagar sekolah yang letaknya tak jauh darinya dan melompat ke dalam area sekolah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Murid laki-laki yang nametag-nya bertuliskan Jung Jaehyun tersebut lantas menampilkan smirk kecil sebelum menghilang di balik gedung.

oOo

Suasana kelas 2-3 mendadak menjadi sunyi. Sesunyi area pemakaman umum yang ada di pinggiran kota. Mungkin akan terkesan wajah bila ini karena hari pertama masuk sekolah dan murid-murid yang ada di kelas tersebut masih belum terlalu mengenal teman sekelas mereka. Akan tetapi… pada kenyataannya, bukan itu penyebabnya. Sebagian besar dari murid-murid yang ada di kelas tersebut sudah saling kenal sejak tahun petama di sekolah ini. Jadi, mereka semua bisa dengan nyaman berbincang satu sama lain.

Lalu kalau bukan itu, apa yang sebenarnya membuat suasana aneh ini terjadi? Well…. ini karena… salah satu murid laki-laki yang sedang duduk di bangku paling belakang. Hampir setiap lima detik sekali mereka semua menoleh ke arahnya sambil berbisik-bisik pelan.

Bagaimana bisa dia sekelas dengan kita?

Apa yang terjadi dengan semua guru di sekolah ini sampai-sampai harus memasukkannya ke dalam kelas ini?

Astaga, kelas ini akan seperti neraka selama satu tahun.

Dia tampan, tapi kelakuannya lebih menyeramkan dari wajahnya yang tampan.

Dari sekian banyak bisikan yang bisa didengar, hanya itu yang ditangkap oleh telinga Jaehyun yang tertutup sepasang earphone. Ia bisa saja menegakkan tubuhnya yang sejak tadi ia telungkupkan di atas mejanya dan membalas mereka, tapi saat ini masih terlalu pagi baginya untuk berbicara. Toh, ini bukan pertama kali baginya mendengar hal-hal semacam itu. Di tahun pertama kemarin ia sudah kenyang dengan bisikan-bisikan itu. Jadi setidaknya di tahun kedua ia bisa sedikit ‘berpengalaman’.

“Selamat pagi semua!”

Suara nyaring Ten mengalihkan perhatian semua orang ke arah pintu kelas, kecuali Jaehyun. Setelah memperkenalkan diri dengan sangat singkat, pemuda berambut hitam tersebut seraya mengedarkan matanya ke arah deretan bangku, mencari bangku mana yang masih kosong, yang bisa ia duduki. Setelah beberapa detik, senyumnya kembali mengembang saat ia mendapati meja kosong paling belakang dekat jendela. Diayunkannya kakinya ke arah bangku tersebut.

“Nama saya Ten. Salam kenal… Hey…, kau yang tertidur di atas meja.” Ten terpaksa mengetuk-ngetuk pelan meja yang ada di samping mejanya, berharap Jaehyun yang masih mengubur wajahnya di atas meja mau menoleh ke arahnya dan membalas sapaannya.

Baiklah. Tidak ada respon dari Jaehyun. Ten hanya akan membiarkannya.

Kurang dari 10 menit setelah kedatangan Ten, muncul satu lagi murid laki-laki. Dia berpostur tinggi dan kurus. Rambut coklatnya sedikit berantakan karena ia harus berlari menaiki tangga ke lantai dua untuk sampai ke kelas ini.

Beberapa murid perempuan yang duduk di deretan bangku paling depan menyapanya dan mengajaknya berbicara sebentar sebelum ia berjalan ke bagian belakang. Untuk beberapa detik ia memandang bangku Jaehyun dan bangku Ten yang ada di sampingnya. Awalnya ia ingin mengayunkan kakinya ke bangku Jaehyun, tapi karena Ten menegakkan kepala dan menyunggingkan senyum lebar ke arahnya, akhirnya Doyoung memilih untuk meletakkan tasnya di meja yang sama dengan Ten.

“Hai, nama saya Ten. Saya baru pindah hari ini,” sapa Ten, tangannya meletakkan tasnya ke dekat kursi.

“Aah… jadi kau yang mereka bilang murid pindahan itu? Kau tidak seperti orang asing,” ujar Doyoung, mengenyakkan diri di kursi samping Ten. Dipandanginya pemuda sebayanya yang ia pikir akan memiliki wajah seperti orang Barat mengingat semua teman-temannya bilang murid pindahan yang akan masuk di Tahun Kedua adalah anak berdarah campuran.

“Orang… asing?” Ten terpaksa mengernyitkan keningnya. Tangannya terangkat, menggaruk pelipisnya pelan, tidak paham dengan apa yang diucapkan Doyoung.

Belum sempat Doyoung memberikan penjelasan pada Ten, suasana hening yang mendadak tercipta untuk kedua kalinya membuatnya menoleh ke arah depan. Seketika matanya terbelalak cukup lebar ketika melihat seorang murid laki-laki yang masuk ke kelas.

Lee Taeyong, murid kelas 2-3 yang terakhir masuk ke dalam kelas tengah berjalan langsung ke arah deretan bangku paling belakang.

Eo… bukankah dia…..”

Dia? Memangnya siapa dia….” Ten terpaksa memberi jeda pada kata-katanya karena ia harus membaca nametag yang ada di dada kiri Doyoung. “…. Doyoung-ssi?”

Doyoung tidak menjawab. Ia sibuk dengan dirinya sendiri yang cukup terkejut mendapati murid laki-laki tersebut adalah teman satu kelasnya. Yeah… murid laki-laki tersebut semalam melayaninya di Blue Cafe.

“Astaga, jadi kau sekolah di sini?!” seru Doyoung pada Taeyong yang dengan santainya duduk di meja yang sama dengan Jaehyun.

Taeyong hanya mengulas senyum tipis dan mengangguk kecil.

Doyoung sedikit terkejut saat tiba-tiba Ten menabrak punggungnya. Ia bisa melihat sebuah tangan terulur dari kanan tubuhnya yang mana tangan tersebut adalah milik Ten.

“Ah, saya baru ingat! Kau adalah pelayan cafe malam itu, kan? Yang membantu saya menemukan Toko Buku Gyungju! Nama saya Ten! Senang bisa menjadi teman kelasmu. Maksudku… teman kelas kalian.”

Taeyong kembali tersenyum kecil, membalas jabatan tangan dari pemuda yang duduk di sebelah Doyoung tersebut.

“Saya tidak tahu kalau hari pertama saya masuk sekolah, saya sudah mendapat—“

“Tidak bisakah kalian diam, hah? Berisik sekali.”

Ungkapan senang Ten mau tidak mau harus terhenti setelah mendengar suara dari arah kanan tubuh Taeyong. Suara itu adalah suara milik Jaehyun yang merasa terganggu dengan percakapan dua teman sekelasnya.

Seketika Doyoung dan Ten mengatupkan bibir mereka secara bersamaan dan mengubah posisi duduk mereka menghadap ke arah depan. Taeyong yang melihat mereka berdua hanya berdecak pelan sebelum membenarkan posisi duduknya sendiri. Untuk beberapa detik ia memandang Jaehyun yang kembali menelungkupkan diri ke atas meja.

“Doyoung-ssi, apa kau mengenalnya?” Suara Ten begitu pelan ketika ia mencondongkan kepalanya ke arah Doyoung, berharap volume suaranya tidak didengar oleh Jaehyun yang entah kenapa terlihat menyeramkan di matanya.

“Namanya Jaehyun. Jung Jaehyun,” jawab Doyoung sama pelannya.

“Apa dia berandalan di sekolah ini?”

Doyoung terpaksa terkekeh sebelum berkata, “Bukan. Dia bukan murid semacam itu. Dia…”

“Aku sudah menonton begitu banyak Drama Korea bertema sekolah, dan hampir semua karakter murid berandalan ada pada dirinya. Berwajah tam… tam.. tampan, selalu tidur di jam pelajaran, tidak suka dengan teman sekelasnya,” kata Ten.

“Penampilannya memang mirip dengan semua yang kau katakan tadi, tapi sebenarnya dia bukan murid berandalan. Dia hanya… sedikit lebih aktif dan sensitif dari yang lain. Meski begitu, semua nilai mata pelajarannya selalu  di atas rata-rata.”

Ten menampilkan eskspresi tercengang setelah mendengar penjelasan Doyoung. “Bagaimana kau bisa tahu tentangnya? Ah, maafkan saya, kalian kan sudah sekolah di sekolah ini sejak Tahun Pertama.”

“Dia sudah cukup terkenal sejak Tahun Pertama karena penampilannya dan juga…”

“Saya tidak peduli dengan penampilannya. Yang ingin saya tahu hanya satu hal. Apakah dia anak baik?”

Doyoung mengerjap-ngerjap pelan, kemudian mengangguk pelan. “Dia anak baik. Hanya saja definisi baik di dalam kepalanya sedikit menyimpang.”

oOo

Suara bel istirahat seolah seperti lonceng yang berasal dari surga bagi semua murid di semua Tingkat yang sudah hampir mati mengikuti jam pelajaran. Tak terkecuali dengan Kelas 2-3. Sebagian besar muridnya melesat keluar sedetik setelah bel istirahat dibunyikan. Sebagian lagi masih sibuk berbincang dengan teman sebangku mereka sambil menulis sesuatu di buku mereka.

Jaehyun yang selama jam pelajaran hanya terduduk diam di depan buku tulis kosongnya hanya berdiri dan berjalan malas ke arah pintu kelas. Kedua telinganya kembali ia sumbat dengan sepasang earphone. Matanya melirik dengan ketus ke arah murid laki-laki kurus yang baru saja menabraknya pelan di depan kelas.

Lalu bagaimana dengan Taeyong, Ten dan Doyoung yang masih ada di kelas?

Well…, sebenarnya Taeyong terlihat keluar tepat dua menit setelah Jaehyun menghilang dari depan kelas. Doyoung dan Ten…., mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah setelah membahas rangkuman mata pelajaran yang baru saja mereka pelajari tadi bersama beberapa teman sekelas mereka.

Tak ada yang istimewa sih pada suasana di kantin. Apa yang kalian harapkan di sana? Bukankah kalian hanya akan menemukan beberapa murid tengah menikmati makanan mereka sambil berbincang-bincang dengan teman mereka? Yeah, memang itu yang selalu kalian temukan di kantin sekolah mana pun. Tak terkecuali dengan Doyoung dan Ten yang duduk di meja kantin dekat jendela kaca.

Sebenarnya Doyoung ingin melontarkan pertanyaan yang sejak sepuluh menit lalu memenuhi kepalanya. Hanya saja saat melihat Ten begitu lahap memakan menu makan siangnya, ia terpaksa harus mengurungkan niatnya.

Sayang sekali, tampaknya Ten sudah lebih dulu menangkap basah ekspresi di wajah Doyoung yang mudah terbaca itu.

“Apa ada yang ingin kau tanyakan pada saya?” tanya Ten setelah menelan nasinya.

“Hah?”

“Tidak… sepertinya kau… kau… wait…. I need to find the right words…. kau… kau… ada sesuatu yang ingin kau katakan pada saya.”

“Kelihatan ya? Kurasa aku memang bukan orang yang mudah menyembunyikan sesuatu.”

Ten terkekeh sambil memasukkan potongan kimchi ke dalam mulutnya.

“Bukan sesuatu yang penting sih… hanya… itu…” Doyoung menunjuk kimchi milik Ten yang entah kenapa porsinya terlihat lebih banyak tiga kali lipat dari miliknya. “Apa kau sesuka itu pada kimchi?”

Ten terpaksa menundukkan kepalanya untuk melihat kimchi yang ditunjuk Doyoung. “Ah… tadi saya meminta Bibi Penjaga Kantin untuk menambahkan porsi kimchi karena aromanya yang lezat. Tidak saya sangka, ternyata rasanya lebih lezat daria aromanya dan…” Ten tak melanjutkan kata-katanya, hanya menampilkan senyum lebarnya.

Doyoung yang paham dengan penjelasan Ten hanya ikut tersenyum sebelum menyuruh Ten untuk kembali menikmati makan siang mereka. Beberapa kali Doyoung mencoba mencuri pandang ke arah murid berdarah Thailand-Korea tersebut. Jujur saja, ini pertama kali baginya bertemu dengan seseorang yang begitu polos seperti Ten. Ditambah dengan caranya bicara yang begitu formal padahal sudah jelas-jelas mereka adalah teman sebaya.

.

.

.

Meanwhile…

Jaehyun menendang sebuah kerikil kecil yang ada di dekat sepatunya dan menendang lebih banyak kerikil lagi ketika kakinya memasuki area taman belakang sekolah yang cukup sepi. Entah karena tidak banyak murid yang suka menghabiskan waktu di tempat ini atau karena desas-desus adanya hantu murid laki-laki sekolah ini yang menjadi penunggu area taman belakang, setidaknya bisa membuatnya senang. Bukankah itu artinya bila ia ingin berlama-lama di sini tidak akan ada yang mengganggunya. Termasuk hantu menyedihkan itu.

Matanya tertuju pada sebuah pondok kecil yang ada di sudut taman. Pondok tersebut berada tepat di bawah pohon yang cukup rindang. Ia mendengus pelan. Apakah pondok itu juga ditakuti semua murid di sini? Yang benar saja. Hari ini akan menjadi awal Tahun Kedua baginya bersekolah di sini, tapi ia tidak semenyedihkan murid lain yang begitu ketakutan dengan tempat ini.

Setelah mengenyakkan diri di salah satu tepi bangku kayu yang ada di pondok tersebut, Jaehyun mencabut earphone-nya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

“Kukira kau tidak akan pernah mau berada di tempat ini karena rumor hantu tersebut.”

Jaehyun yang tengah memandangi layar ponselnya tersebut terkejut hingga ia harus terjatuh dari tepi bangku. Bahkan ponselnya pun terlepas dari tangannya dan berakhir di lantai pondok. Sungguh demi apapun, ia bisa merasakan jantungnya hampir terlepas dari tempatnya. Mungkin dalam hitungan beberapa detik, ia bisa mati karena terkejut. Tapi untung saja ia tidak mati. Buktinya ia bisa mengumpat.

Matanya memandang dengan tajam ke arah seorang murid laki-laki yang muncul entah dari mana dengan sebuah kaleng cola di tangannya.

“Aku tidak tahu kau sekaget ini.” Taeyong mengulurkan tangannya, mencoba memberikan bantuan pada Jaehyun untuk berdiri.

Bukan Jaehyun namanya kalau tidak menolak. Lihat saja. Masih dalam posisi duduknya, Jaehyun menepis tangan Taeyong yang ada di depan wajahnya dan memilih untuk berdiri sendiri.

“Untuk seseorang yang tangguh sepertimu, kurasa takut pada hantu adalah sesuatu yang mengejutkan,” ucap Taeyong ringan sambil mengambil ponsel Jaehyun yang ada di dekat kakinya. Ia kembali menggelengkan kepalanya pelan saat Jaehyun hanya merebut dengan kasar ponsel tersebut dari tangannya.

“Kau terlalu banyak bicara…” Jaehyun memberi jeda pada ucapannya untuk melihat nametag milik Taeyong. “… Lee Taeyong.”

Setelah menyebutkan nama lengkap Taeyong dan memberinya tatapan kurang bersahabat, Jaehyun pergi begitu saja. Ia datang kemari karena ingin mendinginkan kepalanya yang sejak tadi panas karena harus mengikuti pelajaran berjam-jam. Akan tetapi kemunculan Taeyong yang sudah seperti hantu jelas mengganggunya.

Taeyong yang menyaksikan punggung Jaehyun menjauh dari pandangannya hanya menghela napas pelan. Disesapnya lagi cola yang ia beli di kantin beberapa saat lalu sambil mendaratkan pantatnya ada bangku kayu. Untuk beberapa detik ia mencoba meregangkan otot tangannya dan menggerak-gerakkan lehernya untuk mengurangi rasa kaku yang sudah menyerangnya sejak semalam.

Sebut saja, sikap dingin Jaehyun terhadap dirinya tidak berpengaruh sama sekali karena ini bukan sekali dua kali ia mendapatkan respon seperti itu. Masih ingat dengan apa yang sudah ia lakukan pada bocah itu semalam bukan? Entah itu karena ia pintar berakting atau preman-preman itu yang bodoh, yang jelas ia sudah menyelamatkan nyawa Jaehyun dari mereka. Tapi apa yang didapatnya dari orang yang sudah ia selamatkan? Tidak ada. Oh ada! Hanya tatapan kurang bersahabat seperti yang ia saksikan barusan. Yeah, hanya itu.

“Otaknya hanya jenius bila berurusan dengan ujian mingguan, tapi sangat idiot bila harus mengingat orang-orang yang ada ada di sekitarnya,” gumam Taeyong pelan, masih saja merasa heran dengan teman satu kelasnya tersebut.

oOo

Matahari terus bergerak ke arah barat tanpa disadari oleh semua orang hingga akhirnya langit mulai terlihat gelap. Oh, bahkan ini pun sudah tak bisa lagi disebut sore. Sebagian besar orang sudah terlihat memenuhi jalanan. Kesibukan yang sudah mereka lakukan sejak pagi tadi sudah berakhir dan ini saatnya bagi mereka untuk pulang, mengistirahatkan tubuh mereka.

Dan peraturan klasik bagi anak-anak sekolah yang seharusnya sudah berada di rumah di jam-jam ini tidak dipatuhi oleh Jaehyun yang baru saja keluar dari PC ROOM alias warnet. Pemuda berambut gelap tersebut terlihat menggerutu pelan setelah selesai adu mulut dengan penjaga warnet. Bahkan ia tak segan untuk menendang sebuah kaleng soft drink kosong ke arah tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk tempat tersebut.

“Kalau bukan karena aku harus melunasi hutangku pada kalian, aku juga tidak akan kemari. Seharusnya kalian bersyukur karena aku tidak membakar tempat kalian.”

Jaehyun terus saja menggerutu saat menyusuri trotoar. Rambut gelapnya bergerak lemas tertiup angin malam yang berhembus. Ha, berterimaksihlah pada angin tersebut karena kini wajah tampan Jaehyun terlihat sepenuhnya tanpa rambut bagian depannya yang menutupi sebagian keningnya. Beberapa gadis yang kebetulan bersimpangan dengannya terlihat berbisik-bisik sambil sesekali memandang ke arahnya. \

Andai Jaehyun menyadari wajah tampannya mampu mengalihkan perhatian gadis-gadis yang sepertinya lebih tua darinya tersebut, mungkin ia akan mengulas senyum ke arah mereka. Tapi sayang, seorang Jung Jaehyun tidak seperti itu. Jaehyun hanya menatap mereka kurang dari tiga detik dan terus mengayunkan kakinya tanpa berniat menoleh ke belakang.

Sebuah gang kecil yang sedikit lebih gelap dibanding jalan utama yang ia lalui menjadi tujuannya karena gang tersebut mempersingkat waktunya untuk tiba di rumah. Namun, belum sampai ia mencapai setengah bagian dari gang tersebut, ia terpaksa menghentikan kedua kakinya. Untuk sesaat salah satu kakinya terlihat bergerak ke arah belakang. Dua orang bertubuh besar yang berdiri tak jauh darinya tampaknya memang sudah berada di sana sebelum ia masuk ke gang ini. Dan mereka sepertinya memang sengaja menunggu kedatangannya.

“Hei, Jung Jaehyun! Akhirnya kau menunjukkan batang hidungmu sendiri pada kami ya!” Salah satu pria bertubuh besar tersebut melambaikan tangan ke arah Jaehyun.

Jaehyun mengumpat pelan saat mengenali mereka berdua. Mereka adalah orang-orang yang ia kalahkan kemarin malam di tempat biliyard. Sial!

Tanpa menanggapi ucapan pria tersebut, Jaehyun langsung memutar tubuhnya ke arah yang sebelumnya ia lalui dan berlari sekencang yang ia bisa.

Okay, sepertinya keberuntungan tidak bersamanya malam ini karena…

“Kau mau ke mana, Bocah Tengik?”

Tiga orang pria lainnya rupanya sudah menghadangnya di ujung gang yang tadi ia lalui. Sial! Sial! Sial! Habis sudah riwayatnya. Mustahil ia bisa melawan mereka berlima sendirian. Sang Jagoan Jung Jaehyun ternyata mengerti pada batas yang sudah pasti tidak bisa ia lewati. Ia bisa saja melawan mereka kalau ia sudah tidak punya akal sehat. Tapi malam ini, sangat konyol rasanya bila ia benar-benar melawan mereka. Terakhir kali mereka bertemu, ia dengan sangat yakin mendengar mereka akan menggantungnya bila mereka bertemu lagi.

Malam ini ia akan digantung hidup-hidup oleh mereka. SEMPURNA.

Bugh~

Pemanasan awal, Jaehyun sudah lebih dulu tersungkur ke jalan yang beraspal dan dingin setelah sebuah bogem mentah mendarat kasar di wajahnya. Belum sampai ia mampu bangun, kerah seragamnya ditarik kasar oleh pria berambut berantakan dan wajahnya kembali dipukul. Ia berniat untuk melawan, tapi lagi-lagi pukulan sialan itu bergerak lebih cepat dari tangannya.

.

.

.

“Kau yakin ayahmu tidak marah bila kau pulang terlambat?” tanya Ten setelah menyedot Iced Choco yang ia beli beberapa menit lalu

Doyoung yang masih meminum cola hanya mengangguk kecil.

“Tapi tadi kelihatannya sopirmu sedikit tidak setuju saat kau bilang akan pulang sendiri.” Ten masih ragu bahwa keputusannya untuk mengajak Doyoung pergi ke toko buku dan berjalan-jalan sebentar adalah tepat. Bukannya apa-apa, bila ia tidak salah dengar, Doyoung adalah anak seorang pejabat. Ia memang tidak terlalu paham dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan dan semacamnya, tapi satu yang pahami, yaitu seorang pejabat adalah seseorang yang cukup penting dan terkenal di negara atau setidaknya di kota. Itu artinya Doyoung adalah anak dari seseorang yang sangat berpengaruh. Apakah tidak apa-apa anak seorang pejabat berjalan-jalan seperti ini di malam hari tanpa ada pengawal?

“Sejak Tahun Pertama di sekolah aku memang sering menyuruh Paman Park untuk membiarkanku pulang sendirian, yaaa… meskipun terkadang reaksinya akan seperti yang kau lihat tadi,” jawab Doyoung kemudian.

“Apa benar… ayahmu seorang pejabat? Tadi beberapa teman kelas kita memberitahu saya saat saya di perpustakaan,” Ten sedikit memelankan suaranya.

Tak ada jawaban pasti dari Doyoung karena pemuda bertubuh tinggi tersebut hanya terkekeh pelan dan tak mengalihkan pandangannya dari jalanan yang ada di depannya.

“Sebentar. Sepertinya ada yang berkelahi di sana.” Doyoung menunjuk kea rah ujung gang di mana di sana ada seseorang yang tengah dihajar oleh beberapa orang.

Andai mereka tahu kalau seseorang tersebut adalah Jaehyun, teman sekelas mereka.

“Be-be-berkelahi?” Ten mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Doyoung. Matanya seketika terbelalak ketika melihat memang benar ada beberapa orang yang sedang menghajar seseorang.

“Do-Doyoung-ssi, bagaimana kalau kita…”

“Jaehyun?” gumam Doyoung pelan saat ia merasa mengenali seseorang yang tergeletak di jalan.

“Siapa? Jaehyun? Maksudmu… Jaehyun teman sekelas kita?” Ten masih bisa mendengar Doyoung menyebut nama Jaehyun.

“Iya! Itu Jaehyun!” Kini Doyoung yakin pada penglihatannya. Seseorang yang mengenakan seragam SMU Seungri adalah Jaehyun.

Ten yang juga mengenali orang tersebut adalah Jaehyun lantas melepaskan tangannya dari sepeda hingga membuat sepedanya ambruk begitu saja di jalan. “Kenapa mereka menghajarnya? Dan juga… eh… Doyoung-ssi! Kau mau ke mana?!”

Ten dibuat terkejut saat tanpa ia duga Doyoung justru berlari menghampiri mereka. Baiklah, awalnya ia memang ingin mengajak Doyoung untuk pergi dari sini dan menelpon polisi, tapi ketika ia melihat sendiri Doyoung ikut tersungkur di jalan setelah berusaha menghalangi salah seorang dari lima pria tersebut yang menghajar Jaehyun, akhirnya ia pun lupa pada ketakutannya sendiri dan berlari ke arah mereka.

Dengan postur tubuhnya yang lebih pendek dari mereka semua, Ten sudah jelas mengalami waktu sulit untuk melawan mereka.

Yaa, siapa yang…” Jaehyun yang sudah berhasil berdiri meski sempoyongan, terpaksa memandang heran ke arah Doyoung dan Ten yang muncul entah dari mana.

“Tidak bisakah kau bertanya nanti saja?” Doyoung asal menjawab sambil berusaha menghindar dari pukulan salah seorang preman tersebut.

Yeah, saat ini memang bukan waktu yang tepat untuk bertanya karena ia dan kedua teman sekelasnya tersebut sibuk menangkis dan melawan sebisa mereka.

Ten, gerak tubuhnya cukup lincah dan fleksibel. Dari caranya melawan dan menangkis, bisa terlihat ia memiliki sedikit ilmu bela diri. Doyoung pun begitu. Berbeda dengan Jaehyun yang asal melayangkan tinju dan tendangannya.

Kekompakan mendadak yang terjalin di antara ketiga murid kelas 2-3 tersebut rupanya masih tidak mampu mengalahkan lima preman yang mengincar Jaehyun tersebut. Mereka tersungkur hampir bersamaan. Tampaknya pukulan yang mereka dapatkan malam ini cukup kuat hingga tidak bisa segera kembali bangun. Terutama Jaehyun yang sudah lebih lama dihajar sejak sepuluh menit lalu.

Lima pria tersebut baru akan menghampiri Jaehyun ketika terdengar suara sirine mobil polisi. Tak pelak suara tersebut membuat mereka terpaksa mengurungkan niat untuk benar-benar menggantung Jaehyun. Bila ingin pantat merek selamat dari polisi-polisi tersebut, satu-satunya jalan keluar adalah kabur dari sana. Yeah, kabur adalah cara paling baik. Lakukan sekarang.

“Me-mereka sudah kabur,” ujar Ten setelah berhasil bangun dan membersihkan celananya yang kotor. Dibantunya Doyoung untuk berdiri. Ia cukup terkejut saat luka di wajah Doyoung lebih sedikit darinya, padahal seingatnya orang-orang tersebut cukup lama memilih menyerang Doyoung ketimbang dirinya dan Jaehyun. “Saya tidak tahu kau sekuat itu melawan mereka.”

“Aku sudah berlatih taekwondo sejak SMP,” jawab Doyoung yang berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Jujur saja, tadi ada pertarungan yang cukup menguras tenaganya. Beberapa detik kemudian ia baru ingat kalau ada satu orang lagi yang masih tergeletak di dekatnya.

“Jaehyun-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Doyoung pada Jaehyun.

Jaehyun menepis tangan Doyoung yang ada di atasnya. Ia berusaha bangun sendiri. Namun, karena ulu hatinya terasa nyeri, ia kembali ambruk di jalan.

“Kalian tidak apa-apa?”

Sebuah suara memaksa Ten dan Doyoung menoleh ke arah belakang tubuh mereka.

Sosok Taeyong muncul dengan sebuah ponsel di tangannya. Tidak berbeda dengan mereka, ia juga masih mengenakan seragam sekolahnya.

“Taeyong-ah, bagaimana kau tahu kalau kami ada di sini? Apa kau yang memanggil polisi tadi?”

“Tapi di mana mobil polisinya? Sejak tadi saya tidak melihat satu mobil polisi pun?”

Taeyong menunjukkan ponselnya pada Ten dan Doyoung. “Beberapa hari lalu aku iseng mendownload suara sirine mobil polisi. Setidaknya berguna untuk saat-saat seperti ini. Jadi, kalian tidak apa-apa?”

“Kami tidak apa-apa. Tapi Jaehyun…” Doyoung tak melanjutkan ucapannya dan hanya menundukkan kepalanya ke arah Jaehyun yang menyerah untuk bangun.

“Apa yang harus kita lakukan padanya?” tanya Doyoung.

“Bukankah kita harus membawanya ke hospital? Rumah sakit?” tambah Ten.

Jaehyun yang akhirnya bisa bangun dan berdiri lantas mengibas-ibaskan tangannya ke arah ketiga teman sekelasnya tersebut. “Kalian… kalian… urusi saja urusan kalian sendiri. Jangan mengurusi urussss..”

Protes Jaehyun terhenti ketika ia tiba-tiba limbung dan pingsan begitu saja. Andai Taeyong dan Doyoung tidak segera menangkap tubuhnya mungkin ia akan berakhir kembali ke atas jalan dengan wajah yang pertama kali mendarat.

“Kalian pulang saja. Aku yang akan membawanya pulang,” ujar Taeyong.

“Tapi… aku tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini,” elak Doyoung pelan.

Taeyong mengamati Doyoung sejenak. Seragam yang dikenakan temannya tersebut sudah kotor. Sudut bibirnya dihiasi luka lebam tipis.

“Saya… juga tidak mungkin pulang ke rumah. Ibu saya pergi Busan dan saya tadi pagi lupa membawa kunci rumah, ” Ten juga mengatakan hal yang sama.

“Apa?” Taeyong tidak percaya mereka berdua akan mengatakan hal tersebut.

“Kita bawa Jaehyun ke rumah sakit dulu—“

“Tidak. Masalah akan semakin besar bila kita membawanya ke rumah sakit.”

Jawaban Taeyong memaksa Doyoung mengernyitkan kening. “Memangnya kenapa?”

“Anak ini sangat membenci rumah sakit. Bila dia bangun dan tahu dia ada di rumah sakit, kita bertiga akan dihabisinya,” jawab Taeyong dengan cepat sebelum menahan tubuh Jaehyun yang hampir lepas dari tangannya. “Benar-benar menghabisi kita,” lanjutnya ketika menyadari ekspresi bingung Ten dan Doyoung.

“Bukankah dia anak baik?” gumam Ten pelan, mencoba mengingat perkataan Doyoung yang menyebutkan Jaehyun adalah anak baik.

“Kalau begitu kita ke rumahmu saja. Malam ini biarkan kami menginap di sana sekaligus membaringkan Jaehyun. Kurasa tubuhnya sangat lemah saat ini karena dihajar habis-habisan oleh orang-orang itu,” usul Doyoung yang rupanya berhasil membuat Taeyong terkejut.

“Apa kau bilang?”

To be continued

==========

Sorry, part dua baru dibuat hehehe. Yang kemarin ngira kalau sekilas plot FF ini hampir sama dengan Kdrama School 2013, sebenarnya memang iya. Maksudku, FF ini terinspirasi dari drama itu. Honestly, that’s my favorite drama ^^. Poster FF nya aja aku buat dari tubuh-tubuh para pemain School 2013 yang kepalanya aku ganti sama Dojaetaeten hehehehe. Mungkin bedanya hanya pada plotnya. Thanks 😀

Advertisements

5 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Troublemakers (Chapter 2)

  1. Dojaetaeten bakal nginep bareng omaigat ‘0’
    pasti seru klo karakter mereka kayak di ff ini… penasaran banget
    aku juga suka banget sama drama school 2013, sampe nangis nonton school 2013 saking bagusnya :’D

    Liked by 1 person

  2. Fyuhhh finally chapter 2 dirilis juga (walaupun telat bacanya kekeke)
    Author-nim ngebahas soal komentarku bulan lalu rupanya 😀 soal itu lupakan sajalah, udah jelas banget plot nya beda hehe. BTW aku suka banget baca cerita yang temanya itu full friendship, kalo romance ngga terlalu tertarik, entah kenapa.. Rasanya ff freanship itu kesannya lebih meaningfull*rip english* akusih berharap ff ini lebih fokus sama frienship *puppy eyes* Semangat buat nulisnya, duhh cinta deh sama ff ini^^

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s