[NCTFFI Freelance] Chewing – Third Person (Series)

chwsrs

[Chewing Series] Third Person

Cast:

Lee Haechan – Kwon Eunbin

Genre:

Fluff – AU

Disclaimer:

Semua cast yang dipakai adalah milik Tuhan, orangtua dan agensi mereka

Saya Cuma minjem kok~

Previous Series:

Chewing: Honey || Chewing: Chocolate ||  Chewing : Heels || Chewing : Acting || Chewing: Sleeping Beauty

Summary:

Aku mau putus!

Eunbin masih menatap wajah Haechan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan oleh siapapun. Benar-benar sulit. Bahkan Haechan yakin sekalipun ia datang ke cenayang paling terkenal se-antero Korea belum tentu ia dapat mengetahui arti tatapan Eunbin sore itu.

“Ummm Eunbin, kau kenapa? Kau sedang marah ya padaku?” setelah hampir 10 sekon terdiam akhirnya Haechan memberanikan diri mengeluarkan suaranya.

“Menurutmu?”

Haechan jadi bergidik saat suara Eunbin terdengar meninggi -menandakan jika firasat Haechan memang benar.

Haechan menelan salivanya dalam-dalam lalu kembali memantapkan diri untuk bertanya, “Kau marah kenapa? Karena aku terlambat datang kemari ya?”

Eunbin semakin mempertajam tatapan matanya, membuat Haechan takut jika sewaktu-waktu mata Eunbin akan melompat keluar lalu menusuk bola matanya sendiri. Menyeramkan bukan?

“Eunbin, jawab dong. Jangan diam aja. Aku kan bingung harus berbuat apa.”

“Haechan, kau tahu apa yang paling aku benci dari seorang lelaki?” Eunbin akhirnya bersuara juga. Haechan hanya menggeleng pelan, “Laki-laki itu sudah tahu salahnya apa tapi tidak mau minta maaf. Seharusnya ketika mereka tahu pacarnya sedang marah, mereka langsung saja minta maaf, bukannya malah banyak bertanya.”

Haechan menatap gadis yang baru ia pacari selama sebulan itu dengan rahang terbuka. Sial! Ia baru tahu jika Eunbin punya sikap seegois ini. Padahal dulu waktu pdkt, Eunbin selalu bersikap manis di depannya. Hah, benar juga kata-kata Chenle tempo hari, semua orang memang akan terlihat baik jika sedang dalam masa pendekatan. Kejelekannya baru akan terlihat saat sudah pacaran.

“Yasudah kalau begitu aku minta maaf. Sungguh aku tak bermaksud untuk datang terlambat, Eunbin-ah,” Haechan meraih puncak kepala sang gadis lalu mengelusnya pelan. Berharap mood sang kekasih segera membaik. Namun ia salah perhitungan, bukannya jadi senang, wajah Eunbin malah semakin merengut.

“Kau hanya minta maaf?”

“Eh?” Haechan mengernyitkan keningnya, tak mengerti lagi dimana letak kesalahannya kali ini.

“Kau tidak seharusnya hanya minta maaf, Haechan. Kau juga harus menjelaskan semua padaku. Alasan kau terlambat. Kau pasti punya alasan kan? Iya kan?” Kali ini Eunbin mulai mengguncang-guncang tubuh Haechan dengan gemas, persis seperti mengguncang tubuh seonggok boneka yang tak memiliki nyawa.

“Oke oke. Aku memang punya alasan. Dan aku akan mengatakannya ” Haechan mengembuskan napasnya sejenak, berusaha memilah-milah kalimat mana yang akan ia lontarkan pada Eunbin. Ia tak boleh sampai salah bicara. Jika tidak, mungkin Eunbin akan menyiram wajanya dengan coklat panas yang terhidang di depan mereka. Tidak lucu kan jika wajah tampan Haechan jadi melepuh, “Jadi begini. Aku terlambat datang kemari karena aku harus mengantar Bora. Kau tahu Bora kan?”

Mata Eunbin mendadak melotot, “Apa?! Jadi ini karena Bora lagi?! Kemarin kau datang terlambat ke bioskop karena Bora juga kan? Dan sekarang kau terlambar karena dia lagi?”

“Ah Eunbin, dengarkan dulu aku bicara. Kan aku belum selesai ngomong,” Haechan berusaha menenangkan Eunbin yang terlihat kesal, “Tadi aku menemani Bora ke salon-“

“Apa?! Ke salon?! Kampret! Kau bahkan tidak pernah menemaniku ke salon, tapi malah menemaninya ke salon. Kau ini pacar macam apa hah?”

“Tadi ibu memaksaku, Eunbin-ah.”

“Kau kan bisa menolak,” Eunbin membuang napasnya dengan kasar, menahan kekesalan yang hampir mencapai ubun-ubunnya.

“Mana mungkin aku menolak. Bisa-bisa ibu memarahiku. Kau tahu kan, Bora itu kesayangan ibuku. Sejak rumah kami nyaris terbakar 2 tahun yang lalu, ibu jadi makin menyayangi Bora. Wajar sih. Jika tidak ada Bora yang membangunkanku malam itu, mungkin rumah kami sudah hangus terbakar sekarang.”

“Apa?! Membangunkanmu?”

“Ya. Kami tidur berdua.”

“Apa? Jadi kalian tidur berdua. Berani sekali kalian begitu di belakangku,” kali ini Eunbin sudah mulai melempar Haechan dengan segala macam benda yang ada di atas meja. Ia melempar kotak tisu, bungkus cemilan mereka, bahkan kunci motor Haechan. Untung saja pikiran gadis itu masih cukup waras hingga tak menyiram isi gelasnya ke wajah Haechan.

“Eunbin, hentikan. Kau ini kenapa sih?” Haechan mulai kehabisan kesabaran. Eunbin benar-benar keterlaluan sekarang, “Sekarang maumu apa lagi? Aku kan sudah menjelaskan semuanya tadi. Aku juga sudah minta maaf.”

“Mauku kita putus!”

Kepala Haechan mendadak pusing. Bukannya apa sih. Dia memang kesal dengan tingkah kekanakan Eunbin, tapi jujur ia sangat menyayangi gadis itu. Sesaat satu per satu laci-laci memorinya terbuka, mengingat kembali bagaimana usaha ia mendapatkan hati gadis itu. Ia bahkan harus bersaing dengan Lee Jeno -yang tingkat kejeniusannya luar biasa, juga dengan Jaemin -yang punya wajah tak kalah tampan darinya. Ia berjuang mati-matian hingga Eunbin memilih dirinya. Ya, Haechan tak mau semua usahanya jadi sia-sia.

“Aku tidak mau putus!” Teriakan Haechan membahana ke seluruh penjuru caffee. Untung saja saat itu caffee sedang sepi pengunjung, jadi Eunbin tak perlu repot-repot menanggung malu, “Aku tidak mau putus, Kwon Eunbin!”

“Aku tidak mau pacaran dengan orang yang memprioritaskan orang lain, Lee Haechan. Kalau yang kau prioritaskan adalah masalah keluarga dan sekolah, mungkin aku bisa mengerti, tapi Bora -dia bukan siapa-siapa tapi kau selalu memperlakukannya dengan istimewa. Kau tidak tahu apa kalau aku cemburu?” Akhirnya uneg-uneg yang memenuhi isi hati Eunbin terkuak. Gadis itu menundukkan wajahnya berusaha menutupi air matanya yang menggenang di sudut matanya.

Greb. Tiba-tiba Haechan menarik Eunbin ke dalam dekapannya, mengalirkan hawa hangat untuk sang gadis yang hampir menangis itu.

“Maafkan, aku,” bisik Haechan pelan sambil mengusap punggung gadis itu, “Maaf jika aku membuatmu jadi sedih. Aku tahu aku salah, tapi aku benar-benar tak mau mengakhiri hubungan kita. Aku janji aku akan menuruti semua keinginanmu. Bahkan untuk masalah Bora. Aku akan berhenti mengurusnya mulai sekarang.”

“Benar?” Eunbin menarik dirinya dari dekapan Haechan, menatap wajah pemuda itu dengan tatapan sendu. Haechan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Janji?”

Eunbin mengadahkan jari kelingkingnya ke wajah Haechan, “Janji~” Haechan menautkan jari kelingkingnya ke jari Eunbin.

Mereka pun saling tersenyum lalu kembali berpelukan.

“Aku sayang Kwon Eunbin.”

“Aku juga sayang Lee Haechan.”

Mereka berteriak, tak peduli dengan tatapan membunuh yang dilayangkan sang penjaga caffee pada mereka. Ya seperti kata orang: jika sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua saja.

Fin

Extra Story:

“Haechan, aku mau nanya.”

Eunbin yang duduk di jok belakang motor Haechan berteriak.

“Nanya apa?”

“Umm kalo kamu berhenti ngurus Bora, lalu yang ngurus dia siapa?”

Haechan tersenyum tipis. Ia pikir Eunbin benar-benar membenci Bora.

“Mungkin akan kusuruh kak Taeyong yang mengurusnya mulai sekarang.”

“Apa? Kak Taeyong? Bukannya kak Taeyong alergi bulu?”

Haechan terkekeh pelan, “Oh ayolah, Kwon Eunbin, seekor anjing seperti Bora gak bakal bikin kak Taeyong mati mendadak kok. Tenang aja.”

Extra Story: Fin

Iya. Tau kok. Ini FF-nya sangat tak berfaedah sekali. Tapi intinya Cuma mau bilang Haechan itu setia kok. Dia gak selingkuh sama cewek lain, Cuma sama anjing doang (?) 😂

Waktu pertama foto teasernya Haechan keluar, aku gemes sendiri. Semua member NCT Dream posenya unyu-unyu, ehh kenapa gilirannya Haechan potonya sangar gitu. Aku gemeshh, bawaannya jadi pengen nyipok *dilempar pake bakiak*

Advertisements

7 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Chewing – Third Person (Series)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s