[Daydream Scenario] Her Own Way

636fa8972c39d119d6e69a4b3e788764

Her Own Way

by baekpear

NCT Dream’s Na Jaemin, Red Velvet’s Irene Bae | School-life, Family | General

[Based on prompt : beautiful teacher]

“Because she is beautiful in her own way”

Senja sudah mendominasi bentangan angkasa sejak hitungan menit yang lalu. Semburat jingga cerah mewarnai rupa langit tak terlalu merata. Pepohonan berbaris rapi dalam petak kecil yang mengiring langkah ringan tiap siswa yang berpisah selepas melintasi gerbang. Semilir angin hangat masih setia berembus melewati celah kaca, koridor dan ruang kosong sekolah yang telah kehilangan penghuni.

Dari tingkat dua, Jaemin menyaksikan potret jam kepulangan dengan lap basah yang terus ia tekankan pada bingkai jendela. Senyum geli ia tampilkan menyadari betapa malang dirinya kini. Kebodohannya karena terlambat bangun serta ketidakberuntungannya kala guru piket pagi itu adalah Guru Bae, menghantarkan Jaemin pada situasi menyedihkan yang membuatnya ditahan sedikit lebih lama demi menanggung hukuman.

Bagi seluruh makhluk berseragam SMA Daeguk, eksistensi Guru Bae telah memiliki catatan tersendiri. Begitu pula bagi murid dengan predikat biasa-biasa saja semacam Jaemin. Pemuda itu sering dibuat sakit kepala akibat matriks dan integral yang diajarkan wanita berkacamata itu. Ia juga sering dibuat berduaan dengan kain pel di toilet pria atau bersama ratusan buku berdebu dalam pekatnya perpustakaan akibat kesalahan sepele seperti, terlambat mungkin.

Tidak hanya Jaemin sebenarnya. Kawan-kawannya juga merasakan hal serupa.  Sanksi yang diberikan pun kini semakin bervariasi –bukti kekreatifan Guru Bae. Kejadian lumrah yang terulang bak siklus tetap tersebut mengundang satu hingga puluhan bibir siswa membicarakan tentang kekurangan yang dimiliki Guru Bae sebagai bentuk pelampiasan kekesalan.

Dari caranya berpakaian, metode pengajaran bahkan kehidupan pribadinya disorot. Jaemin sering menyaksikan siswa laki-laki berteriak kurang ajar saat Guru Bae melintas dan melarikan diri layaknya pengecut setelahnya. Mereka dengan sengaja mengabaikan penuturan Guru Bae di depan kelas dan dengan seenaknya melakukan percakapan diluar materi. Bahkan para siswa kini dengan berani melemparkan benda dari lantai dua saat Guru Bae tengah berjalan di bawah.

Lalu seperti biasa, Guru Bae akan menghukum sesuai aturan dan kawan-kawannya itu akan menerima seolah hal tersebut terlampau normal.

Lamunan Jaemin diusik oleh gemelatuk langkah samar yang terdengar dari luar jendela. Pemuda itu menjulurkan lehernya dan menilik keadaan sekitar. Maniknya menangkap sosok yang sangat ia kenali bahkan dari radius sekian meter. Surai yang diikat rapi, kacamata baca, setelan formal hitam putih, serta sepatu berhak tak terlalu tinggi. Guru Bae, tengah menyusuri halaman depan dengan mendekap beberapa berkas.

Dengan cekatan Jaemin lekas menyudahi acara bersih-bersih sore itu. Melemparkan kain yang ia gunakan tadi ke dalam rak perkakas di sudut kelas dan lekas berkemas. Dalam waktu singkat pemuda itu sudah menenteng ranselnya dan berjalan tergesa. Belum sedetik Jaemin menelusuri koridor, jalinan netra Guru Bae menghentikan seluruh pergerakannya.

Jaemin bergeming sebelum membungkuk hormat. “Selamat sore, Guru Bae.”

Guru Bae mengulum senyum di tengah rupa kelelahannya. “Selamat sore. Baru pulang?” tanya Guru Bae. Air wajahnya jauh lebih lunak ketimbang saat jam-jam pelajaran. Jaemin sendiri sedikit terkejut menatap raut letih tak wajar yang menurutnya begitu asing bagi sang guru, tetapi ia memilih bungkam.

“Iya.” lirihnya, kepalanya tertunduk.

“Kalau begitu, hati-hati di jalan Na Jaemin. Besok jangan terlambat lagi.” ucap Guru Bae berkelakar. Langkahnya terayun melewati tempat Jaemin berdiri.

“Itu,–“

Guru Bae berbalik akan seruan spontan Jaemin. Pemuda itu nampak serius. Ia membasahi bibirnya sebelum berucap. “Saya yakin apa yang dilakukan Guru Bae adalah hal benar dan untuk kebaikan kami semua. Jadi Guru Bae tidak boleh menyerah meski pun kami sangat tidak terkendali. Guru Bae harus tetap semangat.” tutur Jaemin, berusaha menyalurkan kecemasannya dalam rangkaian kata. Entah kenapa Jaemin merasa bahwa kepenatan Guru Bae sore ini adalah akibat kelakuannya dan kawan-kawannya selama ini.

Jaemin khawatir.

Guru Bae tertegun barang sekian sekon.

“Selain itu,” Jaemin lekas merogoh isi tasnya. Telapaknya kembali dengan menggengam sebuah kotak makan, dimana selapis roti isi mendekam hangat. “Ibu tak boleh terus melewatkan sarapan jika tak ingin terlihat pucat. Kali ini nasihat dari anak ibu, bukan murid berandalan yang rajin terlambat.” ujarnya, sembari mengangsurkan kotak bekal.

Senja itu, Jaemin lelah bersandiwara dengan bepura-pura tidak tahu tentang perkara gurunya –atau ibunya. Kendati ia membenci integral dan matriks, hatinya jauh lebih membenci tindakan tak patut kawan-kawannya pada sang ibu. Karena sesering apa pun Guru Bae memberinya sanksi dengan kain pel atau toilet bau, baginya Guru Bae tetaplah seseorang berhati mulia. Dan beruntungnya lagi sosok berhati mulia itu adalah wanita paling berharga di hidupnya.

“Kau memang,” Guru Bae tersenyum kecut. “dasar anak nakal.”

Fin.

Advertisements

6 thoughts on “[Daydream Scenario] Her Own Way

  1. Halo, Baekpear!
    Hal pertama yang menarik perhatianku untuk terus lanjut baca sampai akhir adalah diksinya. Pemilihan katamu bagus banget, loh! Puitis tapi nggak lebay, aku suka, hehehe… Aku juga suka cara kamu mendeskripsikan Guru Bae di sini, detail tanpa perlu bertele-tele. I melted when Jaemin tried to cheer her up, like- Jarang banget, ‘kan ada murid SMA (terutama cowok) yang bisa bersikap sesopan itu sama guru walaupun gurunya nyebelin. Terus plot twist di akhir lumayan bikin terkejut, ternyata Jaemin itu anaknya, toh. Pantesan dia nggak pernah tergoda buat ikut-ikutan temennya jahilin Guru Bae.
    Aku mau koreksi redaksional sedikit, ya? Semoga nggak menyinggung dan bisa membantu kamu.
    -. “Dari caranya berpakaian, metode pengajaran bahkan kehidupan pribadinya disorot.” Setahuku, sebelum “bahkan” itu sebaiknya diberi tanda koma karena objek yang disebut (cara berpakaian, metode pengajaran, dan kehidupan pribadi) lebih dari dua.
    -. “diluar” seharusnya dipisah menjadi “di luar”.
    Anw, I really like this one, mulai dari diksi, plot, sampai moral value-nya. Terus menulis, ditunggu karya selanjutnya 🙂

    Like

  2. ya ampuuunnn ini kereeeeen XD lagi nyari ff nct dream yg ada irene nyaaa XD aduuhh g nyangkaaa irene udh jd ibu2 ._. kira2 bapaknya jaemin siapa yaaaa bogum ya? wkwkwk *delulu* lagi kepingin baca ff yg tema sekolah tp yg bkn romance dan disinilah aku nemu ff yg tepat seleraku dan kece banget! kyaaaa na jaemin cakepnya kamu naaakkk *plak*

    Like

  3. ini kayak ngegambarin banget anak-anak sekolahan, keren banget, kak, aku ssuka.
    Teruss, yang bagian pura-pura nggak punya hubungan keluarga itu, kayak, wuah, aku gak bisa ngomong apa-apa, pokoknya wah banget lah, aku kagum soalnya biasanya kalo di sekolah-sekolah itu, anak guru itu kayak dibedain kayak lebih istimewa kayk gitulah pokoknya, sedangkan di fanfict ini mereka malah kayak gitu, pokoknya like lah 😀
    Komen aku kok muter-muter yah?

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s