[Daydream Scenario] Polaroid Picture

twinn

Polaroid Picture

By Almiraa

 

Hwang Renjun – NCT Dream & Hwang Seojun as Renjun’s twin | Brotherhood, AU! | PG-13 | Ficlet

 

I just own the plot in this story. Please don’t plagiarize. Enjoy reading…

 

Twins Baby

~0o0~

Aku berdiri di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Melalui kaca persegi panjang pada sebagian atas pintu, aku dapat melihat apa yang ada pada ruangan di baliknya. Pada ruangan bercat putih itu hanya berisi sebuah meja persegi panjang dan dua buah kursi yang diletakan saling berhadapan di dua sisi meja.

Seorang pemuda berambut hitam duduk di salah satu kursi itu. Ia mengenakan pakaian yang  bermodel sama persis seperti yang kukenakan sekarang. Aku sempat heran dengan pemandangan itu dan detik berikutnya seseorang yang sedari tadi berdiri di sampingku mempersilakanku masuk ke dalam ruangan. Ia tidak ikut masuk, namun hanya berdiri saja di depan pintu itu. Bahkan setelah ia menutupkan pintu untukku.

Seseorang di dalam ruangan itu seketika menoleh ketika pintu terbuka dan ia menatapku selagi aku berjalan mendekati kursi di hadapannya untuk duduk. Tatap pemuda di depanku masih saja menelusuri wajahku, seolah aku adalah seorang manusia asing di matanya atau… Mungkin karena ia sudah lama tidak melihat wajahku.

“Wah, Renjun, sudah lama kita tidak bertemu, tapi kau masih terlihat sama saja dengan dirimu berbulan-bulan yang lalu.” Pemuda di depanku membuka konversasi dengan sebuah senyuman lebar.

“Seojun-a, aku memang tidak berubah, bukan? Jelas aku masihlah Hwang Renjun kembaranmu.” Aku senang mengakui hal ini, bahwa Hwang Seojun adalah saudara kembarku, pemuda yang saat ini duduk di hadapanku.

“Ada apa kau mengunjungiku, Seojun?” Tanyaku heran. “Sudah lama aku ingin bertemu denganmu, aku kangen sekali kalau boleh jujur.”

Seojun tersenyum hangat kepadaku sama sepertiku yang juga tersenyum sambil menatap wajahnya yang sangat mirip denganku. Setiap aku menatap dirinya, pikiranku seolah mengatakan aku sedang bercermin dan Seojun adalah pantulan diriku pada kaca.

“Renjun, kau tahu, aku menemukan foto polaroid ini saat membongkar tumpukan album foto kita sewaktu bayi!” Ucapnya bersemangat seraya menyerahkan selembar foto polaroid kepadaku.

Aku mengambil foto itu dan memperhatikan gambar yang tercetak pada benda berbentuk persegi panjang tersebut. Aku dapat melihat gambar dua orang bayi berambut hitam, berbaju biru dengan model yang sama, dan berwajah sama dengan senyum lebar yang sama pula.

“Ya ampun, bagaimana kau bisa menemukannya, Seojun? Foto ini sudah lama sekali, di bawahnya tertulis bahwa kita berulang tahun yang pertama.” Aku tertawa ketika melihat foto polaroid itu untuk kedua kalinya.

“Dirimu yang mana sih, Renjun? Sungguh, aku tidak bisa membedakannya.”

“Entahlah, aku juga.”

“Kita juga tidak terlihat berbeda sekarang. Lihat, buktinya kita memakai pakaian yang sama.”

“Pakaian penjara bukanlah suatu hal yang harus kau banggakan karena sama denganku, Seojun-a.”

“Aku hanya meminjam saja, Renjun, aku hanya ingin kita terlihat sama.”

“Kau bukanlah kriminal sepertiku, kau tidak seharusnya mengenakan pakaian itu sebenarnya Seojun. Jadilah dirimu sendiri sebagai pemuda yang baik-baik, aku tidak ingin kau terlihat seperti diriku yang menyimpan catatan kriminal.” Aku menatap Seojun dalam-dalam pada matanya.

Aku berharap bahwa ia mengerti penjelasanku akan keinginanku untuk menjadi diriku sendiri. Keinginan untuk bebas dari tekanan permintaan orang terdekatmu dan keinginan yang kuat untuk akhirnya dapat berhenti mendengar bagaimana orang terdekatmu membandingkan dirimu dengan seseorang yang konteksnya hanya sama secara fisik denganmu.

“Maafkan aku, Renjun. Aku mengerti, sangat mengerti bahwa di balik kesamaan kita, kita menyimpan kisah yang berbeda. Tapi, aku bangga untuk menyebutmu kembaranku karena kita telah melewati jalan kehidupan kita menuju dewasa bersama-sama.” Aku dapat melihat Seojun tersenyum tipis kepadaku. Melalui gerakan bola matanya, aku melihatnya melirik ke arah foto polaroid yang tergenggam pada tanganku. Sebelum aku menyerahkan kembali foto itu, aku berkata.

“Aku juga minta maaf karena telah membuat pergi eomma untuk selama-lamanya, Seojun. Aku sungguh minta maaf, aku hanya muak, kau tahu, aku… terlalu sering mendengarnya membandingkan dirimu denganku, aku…”

“Aku sudah memaafkanmu. Hal itu sudah terjadi, Renjun,” potong Seojun pada akhir kalimatku.

“Kita memang berbeda, Seojun, aku mohon maaf harus membuatmu sadar akan hal itu.”

Seojun menatap tembok di belakangku, ia mengerjapkan mata yang mungkin akan mengeluarkan air mata. Aku meraih tangannya pada meja dan memasukan foto polaroid itu ke dalam genggamannya.

“Aku harus kembali sekarang, Seojun. Waktu kita bertemu telah habis, kurasa.” Aku pun berdiri dan melangkah pergi, seraya menyeka sedikit air mata yang berhasil lolos di ujung mataku.

Fin.

Twins baby; there is nothing different in their physical appearance if compared to each other especially if they wear same outfit or accessories. But, when they grow up you will see the difference on each other’s personality.

 

Author note:

Pertama kali bikin FF dengan cast Renjun dan sudah dibuat jadi kriminal di cerita pertama ini. /digeplak\ Anyway, thank you for reading this story ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Daydream Scenario] Polaroid Picture

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s