[Ficlet-Mix] New Life in University (1)

img_7198

New Life in University

A fiction by Angela Ranee; Febby Fatma; IRISH

[NCT] Nakamoto Yuta

Genre: College-life, Slice of Life, Comedy, Fluff | Duration: 3 Ficlets | Rating: General

For our beloved Nakamoto Senpai

~~~

[1]

Selain dosen killer, kakak senior yang menyebalkan, perjalanan menuju kampus yang jauh, terlambat bangun pagi, uang bulanan yang belum di transfer, kegiatan orientasi kampus yang menghabiskan waktu juga sangat membosankan, tahukah kalian apa yang paling mengesalkan bagi seorang Nakamoto Yuta pagi ini?

Myoui Mina.

Gadis berkebangsaan sama dengannya itu adalah sumber kekesalan paling utama bagi Yuta, khususnya, saat ini. Ketika ia terbangun jam tujuh seperempat pagi sementara dia sudah diwajibkan untuk ada di kampusnya jam setengah delapan.

“Mina! Ayo! Aku terlambat!” Yuta berteriak, digedor-gedornya pintu kamar mandi dengan heboh, sementara di dalam sana, ia yakini ada Mina yang sedang santainya berlulur-ria.

“Iya, Yuta! Sebentar!” terdengar suara Mina samar-samar. Duh, inilah derita Yuta yang tidak diperbolehkan menghabiskan uang berlebihan. Maklum, setelah lulus dari sekolah menengah atas di Tokyo, dia harus menempuh ilmu di salah satu universitas ternama di Seoul.

Dan satu-satunya tempat tinggal yang kamarnya disewakan dengan murah ya hanya kediaman Mina ini. Oh, jangan lupa siapa Mina, dia adalah anak dari pemilik rumah tempat Yuta tinggal sekarang. Secara kebetulan, mereka juga masuk di universitas yang sama dan demi mendapatkan diskon biaya bulanan, Yuta berbaik hati menawarkan diri sebagai tenaga antar-jemput Mina.

“Mina! Ayo cepat! Ini sudah jam berapa!” lagi-lagi Yuta berucap. Belum lagi Yuta mandi, perutnya sekarang sudah melilit akibat semalam menghabiskan dua bungkus ramyeon yang dicampurnya dengan potongan cabai, mahakarya Mina tentu saja.

Tidak lagi Yuta mau mengulang pengorbanan tidak penting seperti semalam.

“Mina! Perutku sakit!” Yuta akhirnya berucap, baru saja tangannya bergerak hendak menggedor pintu kamar mandi, terdengar suara pintu dibuka tidak jauh dari belakang Yuta.

“Yuta? Kenapa masih berdiri di sana?” tunggu. Yuta sekarang berbalik dengan ragu, hampir saja Yuta lupa cara bernafas saat sadar jika Mina baru saja keluar dari kamarnya, sudah berdandan cantik dan wangi, siap untuk berangkat ke kampus.

“Kau tidak ada di kamar mandi?” pertanyaan bodoh itu Yuta utarakan. Demi Tuhan, apa dari tadi Mina menyahutinya dari dalam kamar? Apa pendengaran Yuta sedang mengalami gangguan karena sakit perut?

Hey, Yuta. Di kamar mandi tidak ada orang, bodoh. Aku kira kau memanggilku sedari tadi karena sudah siap berangkat. Duh, kalau begini caranya aku berangkat sendiri saja ya, bye.” Mina tergelak, menyadari jika sedari tadi Yuta berdiri di depan kamar mandi yang pintunya ditutup. Well, bukan salah Mina kalau dia menutup pintu kamar mandi, bukan?

Salah Yuta yang tidak mencoba membuka pintu kamar mandi.

Sekarang, haruskah Yuta berangkat ke kampus tanpa mandi?

~~~

[2]

Dari yang Yuta tahu, kegiatan orientasi mahasiswa baru yang menjurus pada perpeloncoan sudah dihapuskan sejak beberapa tahun silam. Akira, kakak laki-laki kekasihnya saja tidak mengalami hal itu dua tahun lalu. Tapi, kenapa sekarang Yuta justru mengalaminya?

“Oi, Nakamoto! Baris yang benar.”

Yuta mengikuti instruksi dari senior yang kebetulan adalah teman Akira.

Jujur saja Yuta merasa sedikit lega pada awalnya. Mengingat Ran, kekasihnya, diorientasi oleh Akira langsung—yang artinya Ran aman dari segala macam kekerasan atau rayuan senior kurang kerjaan. Tapi kalau melihat situasi saat ini, rasa-rasanya sekarang Yuta sendiri yang merasa terancam.

“Nakamoto-kun, sini-sini.”

Keluar barisan Yuta menghampiri satu senior perempuan.

“Ini hukuman untukmu yang tidak bisa baris dengan benar, sering melamun sendiri, dan terlambat tadi.”

Sebuah gulungan berpindah tangan pada Yuta. Sambil kembali pada barisannya Yuta hanya bisa menatap kepergian senior perempuan tadi; larinya seperti sedang main film India.

Perasaannya tidak enak. Yakin betul kalau isi gulungan di tangannya adalah sebuah kesialan.

“Itu hukuman untukmu.”

Yuta membuka gulungannya setelah dipersilahkan.

“Ini hukuman?”

Senior tadi mengangguk.

“Yang benar saja!”

Sambil bertolak pinggang si senior terlihat menahan tawa. “Donna memang suka memberikan hukuman yang aneh. Tapi itu benar-benar hukuman.”

“Kalau kau menurutinya, dijamin, selama orientasi kau aman.”

Gulungan di tangan buru-buru Yuta masukan ke saku saat dua teman yang mengapitnya ingin mencuri-curi melihat.

Mereka bilang jika menuruti perintah dalam gulungan tadi Yuta bisa selamat selama orientasi. Tapi kalau sampai Ran dan Akira tahu, jangankan masa orientasi, membayangkan apa yang terjadi besok saja Yuta takut.

“Lagi pula, kenapa itu disebut hukuman?” Keluhnya dalam diam.

—Pulang nanti kita kencan.

Aku tunggu di lapangan parkir gedung rektor jam 2.

Jangan telat atau sampai tidak datang.

Senior Donna—

~~~

[3]

Menjadi mahasiswa baru itu tidak enak. Ha, rasanya Yuta ingin memaki saja setiap murid SMA yang berujar,”Ya ampun, aku ingin cepat lulus SMA dan jadi mahasiswa! Pasti hidupku akan lebih santai dan bebas!”

Lebih santai dan bebas jidatmu itu! Kalau memang benar adanya jadi mahasiswa itu berarti ia bisa duduk ongkang-ongkang kaki, pasti Yuta tidak akan ada di sini.

“Ah, dasar printer busuk!” umpat pemuda bermarga Nakamoto itu sembari memukul pelan printer di hadapannya yang mulai ngadat untuk kesekian kalinya malam ini. Jemarinya kembali menari tergesa-gesa di atas tuts keyboard, sebelum menekan ikon “print” lagi.

Menjadi mahasiswa bukanlah hal yang menyenangkan, ditambah dengan fakta bahwa Yuta adalah anak rantau di negeri orang. Ya, Yuta harus mengakui bahwa pada awalnya ia sempat kelewat berbangga hati lantaran berhasil memenangkan jatah beasiswa kuliah di sebuah universitas nomor satu Korea Selatan yang terbatas itu. Dalam bayangannya, sesampai di Seoul, Yuta akan jalan-jalan ke Menara Namsan dan Istana Gyeongbok, berpose di depan kamera, kemudian mengunggahnya di akun Instagram miliknya agar semua temannya terkagum-kagum akan Yuta.

Sayang, bayangan itu hanya menjadi angan semata yang lantas lenyap bagai debu diterpa angin, ketika Yuta dihadapkan pada realita kehidupan seorang mahasiswa. Memang, sih… Satu setengah bulan sebelum kuliah dimulai, Yuta punya banyak waktu untuk berleha-leha layaknya seorang turis. Melancong sana-sini, bahkan hingga ke luar kota Seoul sekalipun. Akun Instagram-nya dipenuhi oleh foto-fotonya dengan latar belakang destinasi favorit wisatawan di Korea Selatan, maupun potret kuliner khas Negeri Ginseng tersebut. Tetapi semuanya hanya berlangsung dalam waktu singkat. Setelahnya, status Yuta bukan lagi seorang turis, melainkan mahasiswa. Seorang mahasiswa tugasnya menuntut ilmu, bukan jalan-jalan dan belanja.

Sekarang, Yuta sedang dihadapkan dalam kondisi yang berpotensi membuatnya jadi gembel di emper pertokoan daerah Gangnam. Mendekati akhir bulan, dompetnya menjadi setipis kaos oblong Spongebob-nya. Mie instan menjadi makanan sehari-hari Yuta, kalau sedang beruntung maka Nenek Han yang tinggal di apartemen sebelah bakal mengantar kimbap hangat nan nikmat yang bisa membuat Yuta bertahan hidup setidaknya selama dua hari. Deterjennya habis, sehingga pemuda berambur kecoklatan itu terpaksa mencuci pakaiannya dengan cairan pel (untung ia beli yang beraroma lavender). Ia pulang dan pergi kemana saja naik bus umum, agar uang yang sedianya dipakai untuk membeli bensin bisa dialihkan untuk kebutuhan lainnya.

Itu baru soal biaya hidup, belum ditambah soal tugas ini-itu yang seolah tidak akan berhenti diberikan kepada Yuta kecuali para dosennya mendadak keracunan susu basi dan opname massal di rumah sakit. Beruntung Yuta masih cukup waras untuk tidak menghadiahi mereka masing-masing seloyang brownies kadaluwarsa.

Malam ini, nyaris pukul sepuluh malam, tetapi Yuta masih berada di perpustakaan universitas. Demi menghemat uang, Yuta memanfaatkan printer di perpustakaan yang tentunya tidak akan membuatnya merogoh kocek. Kafe internet zaman sekarang memang suka kurang ajar. Hanya datang untuk menyewa printer saja bayarnya semahal pahala. Yuta yang kebetulan lumayan dekat dengan Pak Kim, si penjaga perpustakaan, menduplikat kunci perpustakaan agar bisa ke sana kapanpun ia butuh.

Jujur saja, seorang diri di kawasan kampus yang besar, gelap, dan sunyi itu menyebalkan. Lebih tepatnya, menakutkan. Yuta memang bukan tipe orang yang bakal terkencing-kencing ketika mendengar atau membayangkan kisah-kisah gaib, tetapi bukan berarti ia cukup bernyali.

Lelaki itu menghela napas lega ketika printer tua di hadapannya kembali berfungsi. Setelah menyelesaikan urusannya dengan tugas yang harus dikumpulkan besok pagi, Yuta segera mematikan seluruh perangkat komputer yang tadi ia gunakan, membereskan barang-barangnya, kemudian keluar dari perpustakaan. Ia melangkah menuju gerbang kampus dengan langkah tergesa. Memang kampus ini tidak sepenuhnya kosong karena ada beberapa satpam yang menjaga sampai subuh. Tapi itu bukan alasan Yuta untuk berjalan santai, apalagi melakukan moonwalk.

Tap.

Bahu Yuta berjengit kala telinganya menangkap suara ketukan sepatu di atas ubin. Berusaha mempertahankan pikiran positif dan sisa-sisa akal sehatnya, Yuta terus melangkah tanpa berniat untuk menoleh ke belakang barang sedetik saja.

Tap. Tap. Tap.

Bunyinya terdengar semakin jelas dan dekat, mau tak mau bulu kuduk Yuta berdiri serempak bagai suporter bola di stadion kala tim jagoannya berhasil membobol gawang lawan. Yuta mempercepat langkahnya, kali ini mulutnya berkomat-kamit memanjatkan doa kepada Tuhan hingga mantra pengusir setan yang pernah neneknya ajarkan waktu ia masih bocah dulu.

Tap. Tap. Tap. Tap, tap, tap—

“Nakamoto!”

Yuta nyaris menjerit dengan tidak elit, kala sebuah tangan menepuk punggungnya dengan agak keras dari belakang. Suara itu tidak asing, dan Yuta harap suara itu berasal dari pemilik aslinya, bukan dari makhluk jadi-jadian yang Yuta tidak sudi bayangkan seperti apa rupanya.

“Ya ampun, kamu cepat juga kalau berjalan. Aku kewalahan tahu mengikutimu.”

Yuta menatap wajah sang pemilik suara. Cantik, seperti biasa. Kemudian dwimaniknya menatap sepasang kakinya yang berbalut sepatu berhak tinggi. Masih menapak permukaan lantai, semuanya aman.

“Rei, sedang apa di sini?” tanya Yuta, mengulas senyum kaku demi menutupi fakta kalau ia hampir mengompol di celana beberapa detik yang lalu.

Gadis bernama Rei itu balas tersenyum, lantas berkata,”Mengerjakan presentasi, tapi teman-temanku yang lain tidak pulang lewat sini, jadi aku terpaksa berjalan sendirian. Beruntung tadi aku sempat melihatmu keluar dari perpustakaan, jadi aku segera mengikutimu agar aku punya teman.”

Yuta manggut-manggut, sebelum mengajak Rei untuk kembali berjalan menuju gerbang kampus. Keduanya masih bercengkerama, hingga mereka sampai di pos satpam, dan mendapati salah seorang satpam yang sedang berjaga di sana menatap Yuta penuh tanya.

“Hei, kau sedang bicara dengan siapa?” tanya satpam itu.

“Astaga, apa kau tidak bisa lihat, aku sedang bicara dengan—“ Yuta menoleh ke samping kiri, nyaris mengumpat keras saat mendapati tidak ada seorang pun di sana. “R-Rei…”

“Ah, ternyata terjadi lagi, ya?” komentar si satpam sambil tersenyum timpang. “Rupanya si tua Kim itu lupa mengingatkan kau agar jangan berada di perpustakaan sampai lebih dari jam sepuluh. Di sana ada penunggunya, arwah mantan mahasiswi yang meninggal karena serangan jantung pada jam sepuluh malam ketika lembur mengerjakan tugas di perpustakaan itu beberapa tahun yang lalu.”

Hihihi, maafkan aku, ya, Nakamoto~ Setidaknya kamu tidak berjalan sendirian, ‘kan?

Oke, sekarang rasanya Yuta mau mati berdiri saja. Menjadi mahasiswa memang menyebalkan!

1 of 2

Advertisements

6 thoughts on “[Ficlet-Mix] New Life in University (1)

  1. INI KENAPA ADA SENIOR DONNA INI KENAPAAAAA /lempar donna ke jurang/

    Yg ketiga yha heu pinter bener yg bikin siapa atuh hayoloh ngaku, awas entar kejadian beneran kaya begitu /uhuq/

    HAPPY BESDEY NAKAMOTO SAYANG, MUAH💜

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s