[Ficlet-Mix] New Life in University (2)

img_7197

New Life in University

A fiction by Angelina Triaf; ayshry; L.Kyo

[NCT] Nakamoto Yuta

Genre: College-life, Slice of Life, Comedy, Friendship | Duration: 3 Ficlets | Rating: General

For our beloved Nakamoto Senpai

~~~

[1]

Apa yang terjadi jika Yuta memulai aktivitasnya sebagai mahasiswa baru? Dia sudah membeli banyak T-Shirt, kemeja dan kebutuhan lainnya untuk keperluan kampus. Dan apa sih hal yang dibawa ke Kampus? Kan tak ada kata ribet hanya laptop, sebuah buku tulis dan bolpoin. Hanya bermodal itu saja dan tak perlu membawa buku paket super tebal seperti jaman sekolah menengah lalu.

Tapi tetap saja Yuta ingin rasanya pipis di celana. Bukan karena Dosen killer, killer apanya? Masuk saja masih hari ini. Apalagi Dosen seksi nan tinggi itu mana mungkin killer? Yuta nyengir lalu menggelengkan kepalanya dengan apa yang ia pikirkan baru saja. ‘Otak mesum!’ Celetuk Yuta.

Jadi mahasiswa itu ada enak dan tidaknya. Enak nya Yuta bisa melakukan apapun, minum soju  sepuasnya, minum bir, pulang malam dan tak akan ada yang tahu. Dan tidak menyenangkannya, ia harus mati-matian menghemat uang untuk makan, Apartement, tagihan listrik air, keperluan kuliah dan club, tugas yang membutuhkan banyak kertas dan print out. Rasanya Yuta ingin mengumpat kala itu.

Tapi ada satu hal yang membuat Yuta menyebutnya sebagai sumber neraka. Dan itu adalah moment tersial dalam hidupnya. Itu karena Hinata. Gadis itu memakai dress bunga-bunga yang Yuta sebut itu norak. Dengan rambut sebahu yang Yuta sebut seperti kartun Dora Explorer atau Chibi Maruko-chan, kemudian dengan heels tingginya. Memang Hinata Cinderella ke Kampus memakai heels setinggi itu?

“Yuta-ya!” Teriakan Hinata dan genggaman tangan pertanda bogem siap meluncur membuat Yuta memundurkan wajahnya. Sebuah kesalahan kenapa ia memilih mengintip daripada membolos kelas kali ini. Tugas kuliah itu ribet. Kenapa sih tugas kelompok tidak pakai sistem absensi? Kalau Hinata membencinya, kenapa ia mencoba-coba menulis nama panjangnya menjadi satu kelompok dengannya. Yang salah siapa sekarang?

Dosen cantik itu mengernyit lalu mendekati Yuta yang sudah setengah mati menyembunyikan diri. “Kau tidak masuk? Perkuliahan akan segera dimulai nak”. Yuta pun hanya menelan saliva nya yang terasa pekat. Ia hanya mengangguk lalu masuk kelas dengan ragu.

***

“Buat apa sih, ospek dengan atribut memalukan ini? Sudah tidak berguna!” Yuta membuang topi jeraminya dan menghapus lipstik merah dibibir. Hinata yang disampingnya hanya mendengus. “Kalau begitu tidak perlu kuliah. Pelukan Ibumu disana siap kau dapatkan!”

 

Siapa gadis ini? Yuta sama sekali tak membuat masalah dan mengajak bertengkar. “Hentikan mulut cerewetmu itu! Hanya kau yang tidak normal menyukai ospek. Kau tidak normal!” Namun gadis itu acuh, bahkan ia memainkan kuku panjangnya.

 

“Aku yakin kau akan mendapatkan hukuman karena itu!” Yuta menunjukkan kutex milik Hinata dengan warna merah menyala. “Jika kau melaporkannya, aku akan menghajarmu lho”. Tetap wajahnya acuh. Yuta cemas, antara mengadu atau diam saja.

 

Tapi melihat tampilan norak karena atribut ospek, Yuta tak tahan diri untuk mengadu.

 

“Sunbae-nim!” Yuta mengacungkan tangan tinggi-tinggi, membuat seisi gedung memperhatikannya dirinya.

 

Belum ia mengadu, sunbae yang awalnya terlihat cantik itu pun matanya seakan memerah dan melotot padanya. Menampakkan amarah murka yang siap memakan Yuta bulat-bulat.

 

“Hei! Siapa yang menyuruhmu menurunkan topimu? Dan kau siapa menghapus liptikmu. Apa kau tuli? Siapa yang menyuruhmu membuka mulutmu?”

 

Hinata yang disampingnya hanya nyengir. Yuta tentu tak terima. “Sunbae-nim, kukunya! Kukunya!” Yuta dengan 1001 semangat menunjuk kuku Hinata yang sama sekali tidak tertutup. Dan Yuta mendapatkan cubitan ditangannya dari sang sunbae. Nah lo? Yuta hanya melongo.

 

***

 

Hinata menepuk kursi disampingnya, bermaksud menyuruh Yuta duduk di sampingnya. “Bagaimana? Kau sudah mengerjakan bagianmu?” Tanya Hinata sembari mengeluarkan print out nya. Mungkin Yuta akan dibunuh setelah ini. “Aku tidak setim denganmu! Salah jika kau menanyakan itu padaku!” Yuta menjawabnya kecut.

Sudah tahu Yuta ceroboh, masih saja Hinata menulis namanya. “Apa kau sangat menyukaiku hingga kau terus membututiku? Aku tidak akan lupa dengan kejahatanmu di ospek kemarin. Bukannya aku mendapatkan pengenalan jutru aku harus membersihkan Kamar mandi super bau itu. Bagus!” Yuta nyerocos.

Hinata mengacungkan tangannya tinggi membuat Yuta terkesiap dengan apa yang dilakukan Hinata kali ini. “Iya Igarashi-ssi?”  Hinata menatap Yuta, menunggu Yuta untuk menarik pernyataannya baru saja, tetapi lelaki itu bungkam. Hinata menatap Dosennya dengan senyum tercantiknya. ‘Mungkin ia akan mengatakan aku tidak mau mengerjakan tugasnya. Heol’. Yuta melengos, begitu biasa dengan pengaduan Hinata.

“Yuta baru saja mengatakan bahwa anda memakai bra merah dan itu sangat jelas dikemeja anda. Bukankah itu tidak sopan? Saya sangat berkenan jika Ibu menghukumnya. Atau perlu Ibu bisa memberikan nilai D padanya”. Hinata benar-benar penghancur. Rasanya Yuta ingin melupakan saat-saat pandangan pertamanya pada gadis si rambut Maruko-chan ini.

Yuta hanya nyengir, menatap Dosennya tak berdaya. “Nakomota Yuta! Setelah mata kuliah ini kau ikut Ibu. Ibu akan menghukummu! Jangan harap Ibu akan berlaku baik padamu”. Dosen muda itu pun pergi melengos, meninggalkan longoan dari Yuta. ‘Rasakan kau!’ Gurat wajah Hinata seakan mengatakan itu. Yuta pasrah, pasrah!

~~~

[2]

Raut kusut itu belum juga hilang dari wajah Nakamoto Yuta. Seluruh otot wajahnya seakan tertarik ke bawah. Belum lagi tatapan tajam bagai siap menerkam alat tulis di hadapannya, membuat pikirannya yang kosong semakin menjadi-jadi. Mengusak rambutnya dengan geram akibat tugas yang diemban, ia seperti orang yang tengah kehilangan akal sehatnya.

Sekon berikutnya, Yuta dengan raut berantakan meraup segala sesuatu yang ada di hadapannya lantas memasukkan ke ransel sembarangan. Selanjutnya, pemuda itu bangkit dari duduknya; merajut langkah tergesa-gesa menuju rumah sebelah: kediaman keluarga Yoon.

“Jooeun-a, Yoon Jooeun!” Berteriak setelah menjejakkan kakinya ke dalam rumah, Yuta mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan namun tak mampu menemukan eksistensi sang gadis.

Ketika ia masih sibuk memanggil-manggil, sebuah suara dari arah dapur membuatnya melongokkan kepala ke sana.

“Mencari Jooeun, Nakamoto?” Adalah Yoon Jeonghan, kakak kembar sang karib.

Yuta mengangguk pelan lantas mengajukan pertanyaan. “Dia ada di rumah, ‘kan, Jeong?”

“Joo baru saja pulang. Mungkin dia ada di kamarnya, naik saja.”

Yuta melempar senyum lantas membawa tungkainya berlari menuju lantai dua. Ia memang sudah terbiasa keluar-masuk rumah tersebut dengan bebas begitu pula dengan sang gadis ketika bertandang ke rumahnya. Ketika ia tiba di depan pintu mahoni bercat hijau muda, Yuta lekas menekan kenop pintu yang terbuat dari kuningan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.

“Joo—SIAL!”

“NAKAMOTO SIALAN! KETUK PINTU DULU MAKANYA!”

Teriakan menguar bersamaan dengan Yuta yang kembali menutup pintu dan bergegas keluar. Dia mengumpat, kebisaannya tersebut membuatnya terlibat dalam kesialan kali ini. Mendapati sang gadis tengah berganti baju di dalam adalah apa yang selalu ia takutkan dan pada akhirnya benar-benar kejadian. Setelah insiden ini, pemuda Jepang itu berani bertaruh bahwa Jooeun pasti enggan menemuinya apalagi membantunya.

“Makanya kunci pintunya kalau sedang berganti baju!” Yuta menggerutu.

“Pulang sana!” balas Jooen dari arah dalam.

“Oh, tidak, Joo. Jangan sekarang!”

Tak ada jawaban. Diam-diam Yuta mulai berhitung dalam hati; memperkirakan berapa banyak waktu yang sang gadis butuhkan untuk lekas menyelesaikan acara berganti bajunya.

“Oke, Joo, aku tahu kau sudah selesai.” Yuta tiba-tiba mendorong pintu dan menerobos masuk. Untungnya ia benar, sang gadis sudah duduk manis di atas kasurnya dengan berbagai peralatan tulis berserakan di sana.

“Kau belum pulang?” Jooeun terlihat menggerutu, namun ia tetap menggeser tubuhnya demi memberi ruang cukup untuk sang pemuda duduk.

“Belum. Dan aku ke sini karena membutuhkan bantuanmu.” Mengeluarkan seluruh isi ranselnya, Yuta mulai meraih sebuah penggaris, pensil juga selembar kertas tebal yang masih bersih. “Bantu aku membuat denah kampus, Joo. Tugas dari senior.”

Ck. Setelah apa yang kau lakukan tadi dan kau masih mengira aku mau membantumu, huh?”

“Sial. Oke, aku meminta maaf untuk kejadian tadi. Joo, kumohon. Kau tahu sendiri, ‘kan, aku paling buruk dalam hal menggambar dan sejenisnya. Lagi pula—“

“Hanya menggambar garis-garis saja apa susahnya, huh?”

“Yoon Jooeun!”

Menerima tatapan sinis dari sang gadis, Yuta rasa bentakannya tadi membuat mood Jooeun benar-benar memburuk. Cepat-cepat memasang wajah ceria juga senyuman lebar, yang Yuta lakukan kini adalah mencoba segala cara untuk membujuk sang karib agar mau membantunya.

Pizza?”

“Aku sedang diet.”

Shopping?”

“Sedang malas berkeliaran di pusat perbelanjaan.”

“Jadi apa yang kau mau?” Yuta benar-benar geram. Biasanya, membujuk Jooeun tak membutuhkan usaha yang keras, tapi kali ini segala rayuan tak mempan, sepertinya.

“Hansol.”

“Ya?”

“Ji Hansol, kau mengenalnya, ‘kan? Senior dengan wajah kalem dan senyum manisnya itu, kau pasti tahu, Nakamoto!”

“Lantas?”

“Jodohkan aku dengannya.”

“Apa? Kau sudah gila? Bagaimana caranya, huh?”

“Mau atau tidak? Kalau tidak … ya, sudah. Kau kerjakan saja tugasmu sendiri sana. Aku mau tidur.” Bersiap-siap membaringkan tubuhnya di atas kasur, Yuta terburu-buru menarik lengan Jooeun dan membuatnya terduduk kembali.

“Tidak ada pilihan yang lain? Maksudku, astaga, Joo, aku bahkan tak tahu senior yang kau maksud itu yang mana. Bagaimana mungkin aku menjodohkanmu dengannya, huh?”

“Itu urusanmu. Jadi bagaimana? Mau atau tidak?”

“Kau serius, Joo?”

“Apa aku terlihat bercanda?”

Yuta mengerang. Berdecak sebal ketika sang gadis mulai menggodanya dengan ekspresi wajah yang menyebalkan. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri demi tugas menyebalkan dari sang senior, Yuta akhirnya berkata, “Oke, aku akan membantumu. Tapi … jika aku berhasil menjodohkanmu maka seluruh tugas kuliahku akan kau kerjakan. Deal?”

“Kau sedang memerasku, Tuan Nakamoto?”

Jooeun menggeram. Sekon berikutnya, kedua tangan sang gadis sudah bersarang di pipi Yuta dan mencubitnya dengan gemas. Bahkan teriakan kesakitan juga mohon ampunan tak digubris oleh gadis Yoon tersebut.

“Jadi … masih mau bermain-main denganku, Tuan Nakamoto?”

“TIDAK, TIDAK! AMPUN, JOO, OKE AKU TIDAK AKAN MEMINTA LEBIH. MENJODOHKANMU DENGAN HANSOL? SIAP, AKAN KULAKUKAN! TAPI, BERHENTI MENCUBIT PIPI TAK BERSALAHKU, YOON JOOEUN!”

~~~

[3]

Entah bagian apa yang harus disalahkan, kampus barunya yang begitu luas ataukah memang Yuta yang terlampau buta arah. Sedari tadi berkeliling namun ia masih tak kunjung menemukan gedung fakultasnya. Jangan lupakan pula bahwa ini adalah hari pertama ospek.

“Sial … sial … sial!”

Kakinya cukup lelah, tapi Yuta sadar bahwa jika di hari pertama saja sudah telat, bisa-bisa ia akan ditandai oleh beberapa seniornya dan menjalani kehidupan yang tak tenang di dunia perkuliahan. Padahal ia sudah mengimpikan hari-hari bahagia sebagai mahasiswa seperti dalam drama.

“Permisi, Kak.”

Malu bertanya sesat di jalan, lebih baik Yuta meluangkan waktunya sedikit demi mengetahui arah gedung fakultasnya ketimbang terus berjalan namun tak kunjung sampai di sana.

Ia bertanya pada dua orang gadis yang sedang berjalan berlawanan arah. Yang satu berambut hitam sebahu dan satunya lagi pirang bergelombang. Untuk sedetik Yuta terpana, bagaimana bisa ada gadis secantik mereka berdua.

“Iya?” Si pirang yang menyambut tanyanya.

“Eum, gedung fakultas hukum di mana, ya?”

Mereka berdua terdiam sejenak, sampai si rambut hitam tersenyum kecil dan mengambil alih pembicaraan. “Kamu mahasiswa baru, ya?”

“Iya, Kak.”

“Oh begitu,” timpal si gadis sembari mengangguk. “Dari sini kamu lurus terus sampai ada pertigaan, ambil jalan yang tengah. Lalu lurus lagi, sampai menemukan rumah kaca. Nah, tepat di sebelahnya itu!”

“Gedung fakultas hukum?”

“Bukan, kantor satpam bagian timur. Terus dari situ kamu belok ke kiri kira-kira dua ratus meter nanti ada danau di kiri jalan, tapi kamu harus belok ke kanan. Nah, beberapa meter dari belokan itu!”

“Letak gedungnya?”

“Bukan, itu gedung fakultas kedokteran.”

Refleks Yuta menghela napas, tapi sayangnya kedua gadis itu tak menyadari jika Yuta sedikit kesal dengan mereka. “Lalu dari fakultas kedokteran aku harus ke mana, Kak?”

“Ah, dari situ tinggal lurus terus, agak jauh jalannya, nanti kamu akan menemukan gerbang timur kampus A. Nah, kamu keluar gerbang terus menyebrang ke sisi lain jalan.”

Kini Yuta mengerutkan keningnya. “Kenapa keluar?”

“Kamu tunggu bis di halte dekat sana. Gedung fakultas hukum berada di kampus C, bukan di sini.”

Ternyata selain buta arah, Yuta juga seorang pelupa akut.

“Sudah ya, kami ada kelas. Semoga tidak terlambat, tampan!”

Ditutupi dengan si pirang yang pamit padanya, Yuta kembali sendiri dalam keheningan. Lebih tepatnya, meratapi kebodohannya.

“Haruskah aku minta pada ayah agar dibuatkan surat dokter untuk hari ini…” lirih Yuta pada pohon mangga yang berada di sampingnya.

Sungguh konyol.

2 of 2

Advertisements

9 thoughts on “[Ficlet-Mix] New Life in University (2)

  1. Nakamoto, mending balik ae balik gosah ikutan ospek, balik teros bobok yha sama jooeun kyaa AKU TAU FIC KETIGA MILIK SIAPA DAAAANNN YG BIKIN MINTA DI TABOK EMANG /lempar meja/

    HAPPY BESDEY (lagi) YUTA SAYANG, MUAH💜

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s