[Ficlet] Kehidupan Si Pendosa

img_72001

Angelina Triaf ©2016 Present

Kehidupan Si Pendosa

Johnny Seo (NCT) | Surrealism | PG | Ficlet

0o0

Aku sudah terlampau sering menuruti perintahnya, bahkan melihat aku yang berlutut di hadapannya bukan lagi menjadi tabu di antara kami. Ia yang mengendalikanku, mengatur hidupku dalam segala aspek. Ke mana aku harus bergerak, melakukan apa pun atas kehendaknya. Aku tak pernah bisa bebas selama ini, seperti terikat janji dengannya.

Bukan janji, lebih tepatnya benar-benar terikat dalam belenggunya. Tangan dan kakiku bergerak sesuai jemarinya mengarah, tak peduli apakah hal itu dilakukan demi sebuah kebaikan atau bahkan sebaliknya. Sialnya, ia lebih sering menggunakanku untuk memainkan peran yang jahat―bahkan sangat jahat.

Masih segar dalam benakku saat ia membuatku terpaksa membunuh seorang gadis kecil yang lemah. Melihatnya bersimbah darah membuatku iba, tapi justru tawa jahatlah yang menggema sebagai tanda kepuasan atas keberhasilan.

Sungguh hina, ‘kan? Pernah juga suatu hari aku dipaksanya membobol sebuah bank dan tertangkap langsung oleh sang inspektur. Diasingkan dalam sebuah ruangan besi yang baunya menyaingi anyir darah. Mau tahu apa yang terjadi?

Ia membuatku dapat keluar dengan mudahnya, melumpuhkan petugas yang hendak membawaku ke ruang periksa seakan aku lebih kuat dari semua pahlawan super di dunia ini.

Ya, aku kabur dengan sempurna, dan tiap itu pula kudengar suara tawa yang sama.

Tak hanya satu, bahkan kurasa lebih dari seratus orang mengiringi setiap langkahku dengan kegaduhan mereka.

Kepalaku sakit tiap mengingatnya. Mungkin hanya ada satu kenangan manis di sepanjang usiaku ini; bertemu seorang gadis asing dengan rambut pirang emas yang menawan. Gadis itu tampak seperti seorang nona bangsawan dari negeri Belanda. Satu kali itu aku melihatnya tersenyum dengan sangat manis saat menyapaku.

Di pertemuan yang lainnya, aku sudah menemukan diriku dengan masker hitam dan sebilah pisau di tangan, menusuknya tanpa ampun seolah itu bukanlah perkara yang besar.

Mengapa aku sekejam itu? Mengapa aku bisa muncul sebagai si pendosa ketimbang berperan sebagai aktor rupawan yang memiliki kebaikan hati?

Tidak tahu, hanya penciptaku yang mengetahui hal itu.

Tapi, apakah ini adil bagiku? Menjadi boneka yang bisa ia gerakkan sesuka hati demi melakukan hal-hal keji, apakah seperti itu?

“Johnny, besok kita akan kedatangan teman baru.”

Ia memasuki ruangan, melihatku yang kini tengah duduk santai dengan senyuman andalannya. Selalu seperti itu, kedatangan teman baru hanya untuk kemudian dilepaskan begitu saja.

“Namanya Nancy, terdengar lucu untuk anak-anak, ‘kan?”

Nyatanya ia masih bicara padaku walaupun kini tengah memunggungiku, mencari-cari sesuatu di kotak kayu tempatnya menyimpan segala hal. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia juga menyimpan banyak senjata tajam dan pistol di sana.

“Nancy didatangkan langsung dari Jepang. Ya, mungkin kau bingung mengapa namanya Nancy dan bukannya Mikasa atau Yuria. Aku pun bingung, hahaha.”

Kini ia menghampiriku, menatap tepat di mataku dan mengerutkan keningnya. “John, sepertinya ada beberapa goresan di dahimu. Apakah ini bekas pertarungan kemarin?”

Ya … kalau sudah tahu kenapa bertanya? Sayangnya aku tak bisa mengatakan hal itu langsung padanya.

“Hah, kau tak bisa bertemu Nancy dengan keadaan seperti ini,” katanya dengan langkah kaki yang kembali menghampiri kotak kayu di seberang ruangan. “Nancy yang besok akan jadi temanmu dalam menjalankan misi, jadi kalian harus terlihat seperti sepasang agen yang profesional.”

Benar dugaanku, ia mengambil peralatan yang sudah tak asing lagi. Alat-alat yang akan dengan sempurna memperbaiki cacat sekecil apa pun di tubuhku.

“John, saatnya perbaiki penampilanmu. Akan ada lebih banyak orang besok yang melihat penampilan kita.”

Apa pun yang terjadi besok, kuharap tak akan ada adegan pembantaian atau hal lain yang melibatkan darah. Jujur saja, aku mulai mual dibuatnya. Tapi karena belenggu tipis mengikat tak kasat mata yang ia pasangkan padaku, semuanya sia-sia saja.

Mungkin orang-orang akan tetap terhibur, dan aku pun tetap pada posisiku; menjadi si penjahat keji yang namanya sudah dikenal seantero Seoul.

Nancy, kuharap kita akan bertemu dalam keadaan yang baik dan bukannya aku yang harus menembakmu seperti aku menembak Nenek Seolin lima hari yang lalu.

FIN

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Kehidupan Si Pendosa

  1. Saya suka fiksinyaa^^ diksi, alur, dan pembawaan cerita ini ngalir banget. Speechlessㅋㅋ

    Tapi saya engga paham soal beberapa hal. Ini surealis, kan? Saya kira Johnny hanya bawahan dari agen mafia biasa, tapi begitu scroll ke atas dan lihat genrenya… jeng jeng jeng. Johnny sejenis boneka kah? Kayak punya Kankurou di anime Naruto? /slapped/

    Hehehe maafkan komen panjang tak berfaedah ini, Kak. Keep writing!

    Like

  2. Halo! Alur fic ini cukup bikin aku menebak nebak. Walau di akhir aku belum cepat tangkap sebenernya Johnny itu siapa/apa dan harus ngulang baca sekali lagi, pada akhirnya pembaca yang disuruh menerka-nerka ‘kan?
    Ketika pemiliknya Johnny ambil sesuatu dari kotak kayu, aku berasumsi Johnny itu boneka … benarkah?
    Akhir kata, terima kasih, fanfic ini membantuku mempelajari genre membingungkan satu ini. Great work, author-nim!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s