[Ficlet-Mix] Troubles in Marriage (2)

ir-nct-winwin-2

Troubles in Marriage

A fiction by Angelina Triaf; BaekMinJi93; Febby Fatma; Mingi Kumiko

[NCT] Dong Sicheng/Winwin

Genre: Comedy, Marriage-life, Romance, Slice of Life | Duration: 4 Ficlets | Rating: PG

For our beloved Mas Win

~~~

[1]

Dapatkah kau mendengarnya? Suara degupan itu, yang membuat aliran darah terasa memanas dan seluruh tubuh jadi bergetar. Kali ini Winwin tengah merasakannya, deru napasnya tak beraturan. Oh sungguh, ini bahkan lebih menegangkan daripada terjun bebas tanpa mengenakan parasut—ya meskipun sejatinya Winwin tak sekali pun pernah berpikir untuk berbuat konyol semacam itu, sih.

Sang mempelai wanita akhirnya datang dan memasuki ruang yang digunakan untuk melangsungkan prosesi akad nikah. Gadis itu pun mengambil posisi duduk di sebelah Winwin. Ia tersenyum simpul, menyiratkan kesan malu-malu, “Abang enggak usah tegang, ya…” ucapnya lirih.

“Iya, dek… doakan abang, ya.” Winwin memamerkan deretan giginya yang tidak rata.

Senyuman Cheng Xiao—nama gadis itu—amat meneduhkan hati Winwin. Setidaknya kegusaran hatinya sudah sedikit berkurang sekarang.

“Bagaimana, sudah siap?” tanya pria yang bertugas menjadi penghulu di pernikahan mereka.

Insya Allah siap, Pak.” Tandas Winwin mantap.

Kedua lelaki itu pun saling berjabat tangan. Sang penghulu memenggalkan kalimat ijab kabul yang harus Winwin ikuti setelahnya.

“Saya terima nikah dan kawinnya Cheng Xiao bin Cheng Ho—” ujaran Winwin terputus saat ia menyadari kesalahannya mengucap ijab kabul. Semua orang yang hadir pun langsung tertawa karena kekikukannya.

Hell!” rutuk Winwin kesal, namun ia memastikan hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar.

“Abang ngomong kasar, ya?” tegur Cheng Xiao dan langsung menyatroni pemuda itu dengan sorot tajam.

“Eh… abang enggak maksud dek. Kelepasan.”

Winwin pun beritikad mengulang ijab kabulnya lagi. Kembali ia jabat tangan sang penghulu dan hendak memulai ujaran.

“Saya terima nikah dan kawinnya—”

“Enggak bisa! Aku mau pernikahan ini dibatalkan.” Pekik Cheng Xiao yang langsung membuat seluruh saksi keheranan.

“Lo, nak… kenapa tiba-tiba sekali?” Sang Ibunda bertanya dengan nada panik. “Aku enggak mau punya suami yang suka ngomong kasar, bu!” kata Cheng Xiao tegas.

“Dek, Abang, kan, ngomong kasarnya masih dalam batas wajar.” Winwin coba memberi pembelaan pada dirinya sendiri. Konyol sekali jika sampai pernikahannya batal hanya karena satu kata yang terucap dari mulutnya tak disukai oleh Cheng Xiao.

“Abang janji, kan, enggak akan ngomong kasar, enggak akan nakal. Tapi lihat, di momen penting kita abang malah begitu. Abang enggak berubah!” Cheng Xiao meracau, mengungkapkan rasa kecewanya pada sang calon suami.

Seisi ruangan pun diselimuti rasa tegang. Anggota keluarga dari kedua mempelai coba menenangkan suasana, membujuk Cheng Xiao agar tetap mau melanjutkan pernikahan. Menurut mereka, alasan gadis itu ingin mengurungkan prosesi akad nikah sangatlah konyol.

“Aku tetap enggak mau. Bang Winwin belum sepenuhnya jadi orang baik!” gadis itu kukuh membatalkan pernikahan. Seketika pemuda itu mengembuskan napas berat, badannya menegak dan rautnya berubah menjadi lebih seram.

“Oke, abang memang nakal. Tapi abang enggak munafik. Kalau dedek enggak mau sama abang yang kayak begini, ya udah sana, cari saja yang pura-pura baik di depan adek!” sentak Winwin dan langsung beranjak dari lantai beralas karpet yang ia duduki. Segera ia mengambil langkah seribu untuk keluar dari ruangan itu. Terserahlah kalau Cheng Xiao tak mau jadi istrinya, Winwin hanya ingin jadi apa adanya.

~~~

[2]

Winwin malu setengah mati. Dia hanya bocah SMP biasa yang harus menanggung malu seumur hidup akibat keegoisan sang kakak.

Sungguh, baru sekali ini dalam hidupnya Winwin berharap punya kekuatan sihir untuk menghilangkan diri dari pandangan orang-orang. Khususnya dari semua kerabat, sahabat dan kawan kakak perempuannya.

Semua bermula dari kegilaan kakak perempuan Winwin pada hal-hal berbau K-Pop. Boy-band, drama, reality show, sampai gags. Semua! Kakak perempuan Winwin menyukai semua hal berbau Korea, bahkan bisa mengorbankan segalanya demi hal-hal itu.

Yang terbaru itu kemarin.

Harusnya kemarin kakak perempuannya menikah.

Calon suami kakaknya tahu, kok, tentang kebiasaan kakaknya itu. Semua orang tahu. Tapi ada satu hal yang mereka tidak tahu, dan itu adalah hal yang membuat Winwin menanggung malu seumur hidup.

Singkat cerita, dua hari sebelum acara pernikahan – saat Winwin menemani sang kakak fitting gaun pengantin – seorang teman kakaknya yang sama-sama penggila K-Pop mengabari bahwa Boy-band kesukaan mereka akan mengadakan fan meeting. Teman kakaknya itu juga sudah mendapatkan dua tiket.

 “Kau harus gantikan aku.”

Begitu titah kakaknya setelah melihat tanggal yang tertera di tiket sama dengan tanggal pernikahan sang kakak.

“Mendatangi fan meeting?”

“Bukan. Dipernikahan nanti.” Sialnya, sungguh sangat sial bagi Winwin yang hari itu ikut mengantar kakaknya fitting gaun.

Berkat wajah yang mirip bak anak kembar, tinggi badan dan ukuran badan yang hampir sama, Winwin menjadi korban kakaknya. Sudah begitu desain gaunnya mendukung Winwin untuk melakukan cosplay menjadi kakak perempuannya sendiri. Lalu entah bagaimana ceritanya – Winwin sendiri takut mengingat itu – Winwin sudah menggantikan kakaknya menggunkan gaun pengantin, berjalan menuju altar menggunakan gaun dan tudung putih.

Awalnya semua berjalan lancar. Winwin bahkan berhasil meniru suara kakaknya saat sedang flu. Tapi masalah datang kemudian.

Saat laki-laki yang menikahi dia (yang mewakili kakaknya) hendak mencium Winwin.

Oh, ayolah. Winwin masih normal. Dia straight! Suka pada perempuan! Mana mau bibirnya yang masih suci dia berikan pada laki-laki itu.

Dan bisa dibayangkan sendiri apa yang terjadi setelahnya.

Winwin kabur. Dia mengakui semua rencana gila sang kakak sambil berlari dikejar sepupunya.

“Winwin! Buka pintunya, sayang. Ibu ingin bicara.”

“Tidak mau!”

“Atau setidaknya makan dulu. Dua hari ini kamu belum makan, sayang.”

“Aku malas!”

Terdengar ribut-ribut di depan pintu kamarnya sampai suara ketukan keras – lebih seperti ingin mendobrak – mengagetkan Winwin.

“Oi, bukan pintu!” Itu suara kakak perempuannya.

“Pergi kau! Enyah sana!”

“Jangan kurang ajar padaku, ya. Buka pintunya sekarang juga!”

“Enyah kubilang!”

“Dasar bocah SMP tidak tahu diri!”

“Sana bercermin, siapa yang tidak tahu diri?! Jangan mengaku sebagai kakakku lagi. Aku tidak sudi punya kakak yang gila!”

Dug-dug!

“Buka, bocah sial!”

“Tidak akan!”

Dan itu berlanjut sampai malam, sampai kakak perempuannya menangis minta maaf pada Winwin di depan kamar.

Lagi pula salah dia juga. Winwin hanya bocah SMP yang ingin melihat kakaknya pakai gaun pernikahan lebih awal dan berfoto bersama tiga hari lalu. Tapi sekarang sudah tidak. Winwin sudah tidak ingin mengakui perempuan yang setiap hari berkhotbah mengagungkan K-Pop menjadi kakaknya.

Biarlah pernikahan kakaknya batal. Toh, itu salah si kakak sendiri.

~~~

[3]

Memalukan.

Kita cukup memberi satu kata untuk mendeskripsikan bagaimana rupa resepsi pernikahanku kemarin siang. Bayangan akan suasana romantis seketika menghilang di benakku kala menyadari jika akulah dalang dari semua kekacauan ini. Jangan tanya mengapa dan apa yang menyebabkan kejadian ini bisa terjadi, karena ini semua juga diluar dugaanku—setidaknya hal itu dapat disebut pembelaan jika kau memerlukan sebuah kalimat pembelaan dariku.

Tak berbeda dengan drama yang sering Chenyi tonton di rumah, semua insiden ini memiliki plot dan menariknya semua ini berjalan lancar tanpa adanya campur tangan dari sang sutradara sama sekali.

Semua itu bermula kala hangatnya sinar mentari menyapa kulitku pagi itu.

“DONG SICHENG! CEPAT BANGUN ATAU KAU AKAN MENYESAL UNTUK SELAMANYA!”

Omong-omong suara kencang itu berasal dari ibuku jika kau ingin mengetahui siapa pelakunya. Yang sialnya seruan tersebut terus saja berlanjut hingga menjadi sebuah siraman rohani guna menyambut pagi cerahku.

Hanya sebagai bahan informasi semata, kurang dari dua jam lagi acara resepsi pernikahanku dengan sang belahan jiwa akan dimulai.

“Seharusnya kau—”

“Ibu, kumohon berhentilah mengomel. Aku tahu aku salah. Setidaknya bantulah putramu yang tampan ini berubah menjadi pria yang berwibawa.”

Dan herannya, layangan protes dariku tersebut cukup membuat kicauan dari ibuku berhenti seketika.

***

Derit suara pintu utama gereja mulai bertandang ke gendangku. Seiring sekon waktu berjalan, detakan jantungku juga turut terpacu dengan cepat. Aku menoleh dan berniat menyambut Chenyi-ku yang tampak mempesona dengan balutan gaun putih panjangnya.

“Chenyi,” sontak aku bergumam kala fokusku menangkap bayangan gadis itu di ujung ruangan.

Namun tiba-tiba aku merasa ada yang aneh. Alih-alih mendapat balasan senyum manis dari gadisku, Chenyi malah menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan. Kesan terkejut menjadi paling dominan dalam tatapan tersebut. Sesekali bibirnya bergerak seakan mengajukan sebuah pertanyaan padaku.

“Ada apa?”

Kini tak hanya Chenyi yang berlaku aneh. Para tamu undangan juga memberikan tatapan serupa padaku.

“Dong,” panggil Chanyi merapal namaku. “Sebelum acara ini dimulai, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu saja,” balasku cepat dengan anggukan cepat pula.

Dari raut wajah yang ia tampilkan, Chenyi sedikit merasa kebingungan dan sekali kudapati dirinya sedang menahan senyum yang aku tahu jika ini ada yang tidak beres.

“Kau tidak salah mengenakan pakaianmu ‘kan, sayang?”

Mendengar pertanyaan Chenyi barusan, sontak fokusku langsung mengarah pada tuksedo yang kukenakan. Merasa tidak ada yang aneh, aku menggeleng tanpa dosa.

“Tidak. Kurasa tidak ada yang aneh dengan pakaianku. Apa ada noda di tuksedoku?”

Chenyi menggeleng.

“Apa aku bau? Tapi tentu saja itu tidak mungkin.”

Sekarang tawa Chenyi tak lagi dapat ia tahan lagi dan seolah tak peduli dengan atensi seluruh undangan yang mengarah padanya.

Disela tawanya, Chenyi berujar. “Celanamu.”

Mendengarnya, netraku seakan tersetel otomatis dan sontak mengarah pada—Hei! Sejak kapan aku mengenakan boxer polkadot sialan ini?

~~~

[4]

Yang ada di kepala Winwin saat ini ialah, ke mana calon suami kakaknya? Sudah ditunggu selama hampir satu jam di altar tapi tak kunjung datang juga. Agaknya menyebalkan, bahkan sampai sang ibu memintanya untuk menyusul pria itu di satu ruangan dalam gereja yang dijadikan tempat rias mempelai pria.

“Aish, ini menyusahkan,” gerutunya sembari memacu langkah. “Bisa-bisanya Kak Xiu memilih pria lambat seperti itu untuk menjadi suaminya.”

Masih dengan berbagai macam gerutuan akibat kejengkelannya, Winwin akhirnya sampai di depan pintu ruang rias―

Duk!

“Aw!”

―yang tahu-tahu terbuka, membentur kepalanya dengan suara yang cukup keras. Mungkin akan meninggalkan bekas merah di keningnya.

“Oh, Winwin, maafkan aku!”

Itu suara Zhang, sang tokoh utama dalam pernikahan hari ini. “Win, kau tak apa-apa, ‘kan?”

“Menurut Kak Zhang bagaimana?” sarkasnya, mengelus keningnya yang dirasa sudah mulai bertekstur tidak rata alias terdapat benjolan di sana.

Keduanya entah mengapa terdiam, hingga akhirnya Winwin kembali fokus pada sang calon ipar. “Kak, ayo cepat! Semua orang sudah menunggumu.”

“Eh, Win…” panggil Zhang ragu, untuk sejenak ia berpikir haruskah menceritakan hal ini pada Winwin atau tidak.

“Apa? Ayolah jangan buang-buang waktu lagi―”

“Kurasa sebaiknya pernikahan ini ditunda dulu.”

“Apa?!”

Oke, Winwin belum pernah seemosi ini sebelumnya. Faktor sakit kepala dan lelah menunggu menjadi alasan kuat baginya untuk semakin meninggikan nada suara. “Apa maksudmu, Kak? Jangan bercanda.”

“Aku tak bercanda,” balas pria itu, “Entah kenapa hatiku justru semakin ragu untuk menikah. Mungkin kau tak akan mengerti, Win, tapi ini membuatku khawatir kalau―”

“Khawatir apa, hah?” potong Winwin dengan kesal, kedua tangannya mencengkeram bahu Zhang. “Kak, ayolah, kakakku sangat mencintaimu. Apa kau tega mengecewakannya? Mengecewakan keluarga kita? Belum lagi malu yang akan kita tanggung kalau pernikahan ini sampai batal.”

“Tapi, Win―”

“Diam! Aku belum selesai!”

Inikah kekuatan seorang adik yang menyayangi kakak perempuannya?

“Kakak seharusnya bersyukur dan tak perlu lagi ragu dengan kakakku, dia perempuan yang sangat baik hati. Demi Tuhan, Kak, jodoh sudah kau temukan, tinggal satu langkah lagi masa mau berhenti? Kakak enggak kasihan sama aku? Aku malah sudah keliling mencari jodoh tapi sampai sekarang belum ketemu juga. Bahkan keluargaku tak hentinya bertanya kapan menyusul Kakak sementara ia saja baru menikah hari ini. Kakak setega itu pada kami? Padaku?”

Untuk sesaat Zhang merasakan banyak perasaan aneh dalam dirinya, tapi ada satu hal yang lebih dominan; apakah Winwin sedang mengeluhkan pasal percintaan padanya?

“Ayolah Kak Zhang…”

“Tapi, Win―”

“AH SUDAHLAH, AKU KESAL PADAMU!”

Drama kali ini diakhiri dengan lengan Zhang yang ditarik sekuat tenaga oleh Winwin, membuat pria itu lama-lama pasrah saja dengan keringat dingin yang sudah menumpuk di wajahnya.

Entah nantinya akan menjadi hal yang baik atau buruk, yang Zhang tahu untuk saat ini adalah janan pernah buat Winwin marah sedikit pun. Anak itu sangat mengerikan saat emosinya sedang meluap-luap.

“Ayo Kak, cepat! Lambat sekali.”

Benar-benar mengerikan.

2 of 2

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet-Mix] Troubles in Marriage (2)

  1. INI JUGA HARUS PAKE KEPSLOK

    KELAKUAN BANGET SIH YAWLAH ITU AWSICHENG NYASAR DARI MANA COBA WKWK KUCIUM DULU SINI KAMU KAK ADA-ADA AJA xD

    TABAHKAN HATI WINWIN PUNYA KAKAK CEM GITU YAAMPUN LAWAQ KKK.

    DAT BOXER TIME AND FEELING MAS MAU NIKAH APA MAU MACUL DI SAWAH? MIMI BENING DULU SANA AH.

    Like

  2. DEMI APA INI YG BAGIAN SICENG NYAMAR JADI KAKANYA TERUS ADA ADEGAN KEJAR KEJARAN AKU MALAH KEBAYANG BANCI KALENG PINGGIR JALAN YANG BIASA NYANYI ‘aku tamau dikalau aku dimadu aw aw’ LAGI KENA RAZIA /digiles

    wis ah semuanya ucul ih gemes pengen nabokin yg nulis atu atu /lempar meja/

    Happy besdey lagi nak alay cina dong siceng muah💜

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s