[NCTFFI Freelance] Very Special (Vignette)

cu8u84euiaeyikl

Title: Very Special || Author: HasekuraLee00 || Main Cast: Na JaeMin (NCT), Kim JiHyun (OC) || Support Cast: Kim TaeHyung (BTS), Nyonya Kim (OC)|| Genre: Romance, School Life, Comedy || Rating: Teen, PG-13 || Length: Vignette (1800+ Words)

Disclaimer : JaeMin belong to his agency, parents, NCT, and their fans! The storyline and OC are mine. Sorry for typo(s) and Happy Reading^^

Summary :

“Aku menyayangimu, Kim Jihyun.

Bukan sekedar karena kau sahabatku, tapi karena kau adalah orang yang spesial dihidupku”

Na Jaemin-

 

***

 

Seoul, October 2016

 

            Matahari belum menampakkan dirinya, jam masih menunjukkan angka 7 pagi. Namun, namja yang tengah mengenakan celana trainee silver dan hoodie hitam itu telah bersiap dan kini menuntun sepedanya keluar dari garasi rumah megahnya. Ia menyapa petugas keamanan yang tengah bertugas dengan ramah, menyunggingkan senyuman seorang Na Jaemin yang begitu khas.

Baru saja keluar dari gerbang rumahnya, seseorang namja berjaket hitam juga tengah keluar dari rumah didepannya.

Hyeong!” Panggilnya.

            Namja itu menoleh kearahnya, menyunggingkan senyuman hangat.

Eo, Jaemin-ah. Eodiga?” Ucap namja yang ia panggil hyeong itu ramah.

“Aku mau jalan-jalan hyeong. Hyeong sendiri mau kembali ke dorm?”

eum, aku melarikan diri semalam dan ponselku tak berhenti berdering karena panggilan dari manager

            Jaemin tertawa ringan menanggapi ucapan Taehyung yang kini telah menjadi bintang dunia itu.

eo! Kenapa kau tak mengajak Jihyun saja? Aku bahkan belum melihat batang hidungnya sejak semalam”

“Jihyunnie?”

hm, ajaklah dia bersepeda bersama. Kudengar dia sedang stress karena Olimpiade tingkat Nasiona-nya yang sudah dekat”

            Jaemin sedikit berpikir. Jihyun memang terlihat suntuk beberapa hari ini. Mereka bahkan jarang bertemu karena jadwal bimbingan olimpiade Jihyun yang semakin diperpadat oleh Kim sonsaengnim.

“Baiklah hyeong

            Taehyung tersenyum pelan kearah Jaemin, tangan kanannya memegang bahu kiri Jaemin. Dan tak lama kemudian, ia mendekatkan wajahnya kesisi telinga Jaemin. Mengatakan beberapa baris kalimat secara pelan dan berbisik.

Ne?!” Ucap Jaemin tiba-tiba.

“Haha, kalau begitu aku pergi dulu ya, adik ipar!” Taehyung kembali menepuk bahu Jaemin kemudian berlalu pergi.

            Jaemin masih tak berutik. Memikirkan apa yang baru saja dibisikkan oleh Taehyung. Tak lama, bibirnya melengkungkan senyuman malu, rasa kagetnya berganti dengan perasaan aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya. Jaemin tak bisa menamai perasaan aneh tersebut.

            Kini, retinanya beralih memandang rumah 2 lantai didepannya. Terfokuskan tepat dijendela kamar yang ada dilantai 2 sana. Kamar milik Jihyun.

***

 

-Tok tok tok

            Dari dalam rumah nan megah tersebut, terdengar suara ketukan pintu dari luar sana. Nyonya Kim yang tengah menyiapkan sarapan pun tergerak untuk segera berjalan kedepan dan membukakan pintu.

-cklek

An-annyeonghaseyo ahjumma

“Jaeminnie? Uwa~ kau jadi semakin tampan saja. Ayo masuk” Sambut Nyonya Kim ramah.

Kamsahamnida

“Mencari Jihyun ya? Sudah naik saja, dia masih tidur”

N-ne? Jihyun belum bangun?”

“Dia tidur larut semalam, sepertinya mengerjakan soal. Oppa-nya pulang pun ia tak tahu. Kamu langsung ke kamarnya saja. Ahjumma sedang menyiapkan sarapan”

Ne”

***

 

“Jihyun-ah

“……” hening, tak ada jawaban dari dalam kamar.

“Jihyun-ah ini aku, kau- masih tidur?”

“A-aku masuk, ya?”

cklek

            Pintu kamar bercat pink itu kemudian terbuka perlahan, suasana masih gelap didalam sana. Hanya lampu tidur di meja dekat tempat tidur Jihyun satu-satunya sumber pencahayaan dikamar itu.

            Ini bukan pertama kalinya untuk Jaemin memasuki kamar gadis pencinta matematika itu. Tapi anehnya, kali ini Jaemin merasa canggung dan sedikit… malu?

            Ia perlahan melangkahkan kakinya menuju arah gadis yang tengah tertidur pulas itu. Senyumnya mengembang penuh arti, dan sampailah ia dipinggiran tempat tidur Jihyun, ia duduk ditepiannya. Memandang lekat-lekat wajah gadis didepannya. Tanpa sadar, senyumannya semakin mengembang.

“Jihyun-ah, Ireona~ ayo kita bersepeda bersama” Ucap Jaemin pelan.

“……”

“Jihyun-ah, ireona”

Eomma! Jangan ganggu aku, aku masih ingin tidur” jawab Jihyun malas.

            Jaemin tertawa pelan. Sepertinya Jihyun masih berada dialam bawah sadarnya. Ia jadi tidak tega mengganggu tidurnya.

“Apa gadis itu masih belum bangun juga?” Terdengar sebuah suara dari luar –Nyonya Kim.

            Jaemin menoleh kesumber suara, pandangannya berhenti didepan bayangan wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu.

N-ne, sepertinya dia benar-benar butuh istirahat, ahjumma. Tak apalah, aku akan bersepeda sendiri saja”

“Tunggu, biar ahjumma saja yang bangunkan. Gadis ini juga butuh udara segar dari luar sana, aku jadi ikut pusing melihatnya terus-terusan menghadapi kitab-kitab tebal itu”

A-ah, ne. Baiklah, kalau begitu saya akan tunggu diluar saja”

“Tunggulah sebentar, Jihyun akan segera menyusul”

Ne” Jawab Jaemin singkat, kemudian mulai berdiri dari duduknya, menatap Jihyun yang masih lelap sekilas.

***

 

            Kurang dari 10 menit, gadis berambut hitam itu kini berlari dengan sekuat tenaganya keluar dari rumah bercat putih itu. Belum genap 5 menit yang lalu ia baru saja terbangun dari tidurnya, dan kini ia sudah siap dengan hoodie dark blue kesukaannya. Segaris senyum nampak menghiasi wajah manisnya kala mengingat ucapan eomma-nya beberapa waktu lalu.

***

 

“Jihyun-ah~ Ireona! Ini sudah pagi”

“Eommaaa, aku masih ingin tidur” tolak Jihyun, semakin menaikkan selimutnya.

“Cepat bangun! Jaemin mengajakmu bersepeda hari ini!”

            Antara sadar dan tidak, kata-kata eommanya mulai tercerna didalam otak jeniusnya itu. Jaemin? Bersepeda?

-sret

            Selimut yang sedari tadi menyelimutinya kini tersibak dan ia segera mendudukkan dirinya, menatap sang eomma sambil mengumpulkan kembali seluruh kesadarannya.

“Jae- Jaemin, eomma bilang?”

“eung, tadi dia kemari dan mencoba membangunkanmu. Tapi kau tak juga bangun”

“Maksud eomma Jaemin barusan dari sini??! Kamar ini??!”

“eum, kau tak sadar? Dia sedang menunggumu diluar sekarang. Cepat bersiap!”

            Jihyun memegangi kedua pipinya tak percaya.

‘Apa Jaemin sedang mencoba mengajakku berkencan?’ –pikirnya.

‘Tidak, tidak. Mana ada kencan sepagi ini. Hhh…” Ia menampis pemikirannya sendiri.

            Cukup lama, Jihyun malah berkelut dengan pemikirannya sendiri. Mengacuhkan sang eomma yang ada dihadapannya.

“Kau masih ingin terus-terusan melamun seperti itu?!” Eommanya mulai dibuat kesal.

“Ah, tidak tidak! Aku akan segera bersiap!”

 

***

 

“Jae- Jaemin?”

“Kau dimana?”

            Baru saja keluar dari gerbang rumahnya, Jihyun sudah kebingungan mencari keberadaan namja yang telah menemaninya selama ini. Sahabatnya sejak kecil, Na Jaemin.

“Dia tidak disini, pasti aku terlalu lama” Ia mengerucutkan bibirnya sedih.

“Padahal aku berpikir dia akan mengajakku kencan-“ Ucapnya terpotong.

“Kencan?” Sebuah suara megagetkannya.

            Jihyun membalikkan badan,menemukan namja yang sedari tadi ia cari keberadaannya. Jaemin menatapnya lekat-lekat.

wae- wae?!” Ujar Jihyun gelagapan.

“Kencan dengan siapa?” Tanya jaemin.

            Jihyun membulatkan matanya menanggapi pertanyaan Jaemin.

“Bu- bukan apa-“ Ucap Jihun kembali terpotong.

            Jaemin tiba-tiba mendekatkan wajahnya kearah Jihyun dnegan cepat, membuat Jihyun tak lagi bisa berkata-kata.

“Aneh sekali” Ucap Jaemin.

“A- apanya yang aneh!”

“Kau bahkan menggunakan parfume padahal kita hanya akan berolahraga”

blush

            Jaemin memang sesuatu. Dia ini anjing pengendus atau apa sih, Jihyun tak mengerti. Kini, Jihyun hanya bisa menunduk malu.

“Tadi kau bilang ‘kencan’, dan sekarang kau menggunakan parfume berlebihan padahal hanya akan berolahraga”

“Su- sudah! Cepat berangkat! Kalau tidak jadi, aku mau tidur lagi!” Tegas Jihyun terbata.

            Jihyun kemudian kembali berlari kedalam rumahnya. Pipinya merona karena perlakuan Jaemin. Ia menyembunyikan malunya dengan berlari menuju garasi untuk mengambil sepeda miliknya.

***

 

Ah, lelah sekali” Ucap Jihyun, mengak minumannya.

            Jaemin hanya tersenyum pelan memadang gadis disampingnya. Kini, keduanya sedang duduk beristirahat ditepi Sungai Han setelah bersepeda berkeliling.

“Apa kau sedang menyukai seseorang?” Tanya Jaemin to the point.

eh? Mworago?”

            Jihyun terlihat bingung bercampur kaget. Kenapa Jaemin menanyainya begitu tiba-tiba?

“Tingkahmu jadi aneh, kau seperti orang yang sedang jatuh cinta” Ucap Jaemin.

“Seperti kau pernah jatuh cinta saja!” Timpal Jihyun meledek.

            Keduanya terbawa dalam suasana. Tertawa bersama di pagi nan cerah itu.

eung, lalu jika kau sedang menyukai seorang gadis apa kau akan bercerita padaku?” Tanya Jihyun saat suasana diantara keduanya mulai sepi.

mwo? Entahlah” Jawab Jaemin enteng.

“Kau bilang ‘entahlah’? Hey, kita sudah bersahabat sejak kecil, kau tahu! Seharusnya tidak ada rahasia diantara kita!”

“Faktanya, kau sendiri tak mau menjawab pertanyaanku” Timpal Jaemin.

            Jihyun menatap kedua mata Jaemin tajam. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.

“Begini saja, kita lomba lari. Yang kalah harus menjawab pertanyaan tadi” Usul Jaemin.

call!” Setuju Jihyun.

            Keduanya segera berdiri. Membuat ancang-ancang untuk berlari secepatnya agar bisa mengalahkan satu sama lain. Jihyun sendiri sangat ingin menang, karena ia penasaran dengan jawaban Jaemin atas pertanyaannya. Jujur saja, ia khawatir Jaemin menyukai seorang gadis tanpa sepengetahuannya. Yup, Jihyun memang mempunyai perasaan aneh saat bersama Jaemin. Ia juga baru menyadarinya semenjak usia remajanya ini. Perasaan aneh yang membuat Jihyun khawatir gadis lain merebut posisinya dimata Jaemin.

Hana- dul- set!” Keduanya menghitung bersama-sama, menatap satu sama lain.

Aaa~” Jihyun memulai larinya dengan teriakan penuh semangat.

            Keduanya berlari di antara banyak orang yang juga tengah berolahraga ditepian Sungai Han itu. Meninggalkan sepeda mereka begitu saja ditempat awal. Keduanya masih belum berhenti. Jaemin unggul beberapa meter dari Jihyun.

“Kau pasti akan kalah, Na Jaemin!” Teriak Jihyun, mempercepat langkahnya.

            Jaemin sedikit menoleh kebelakang, melihat seberapa keras gadis itu mencoba mengalahkannya. Jaemin mengenal baik seorang Kim Jihyun, gadis bergolongan darah A itu memang sangat perfeksionis dan tak akan pantang menyerah apalagi mudah dikalahkan. Ia tersenyum simpul memandang Jihyun yang sangat bersemangat itu.

“Coba saja kalau bisa, Nona Kim!” Jaemin meledek, terus berlari kedepan.

“Berhenti kau!!” Teriak Jihyun.

            Kurang lebih 200 meter telah mereka lalui, Jaemin kembali menoleh kebelakang, melihat Jihyun yang mulai kelelahan. Jaemin jadi tak tega. Gadis itu pasti tak akan menyerah meski harus melalui 1 km lagi.

Ah ah ah! Aku lelah! Aku menyerah!” Jaemin memperlambat langkahnya, berpura-pura kelelahan.

“Kubilang kan! Kau pasti kalah! Haha” Ucap Jihyun sumringah atas kemenangannya.

“Baiklah nona Kim, kau menang” Jaemin terengah-engah.

“Kau kalah! Sekarang jawab pertanyaanku tadi!” Ujar Jihyun semangat.

“Kau sangat penasaran, ya?”

            Jihyun terduduk disisi Jaemin. Menatap namja itu lekat. Menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.

“Cepat jawab!” Desak Jihyun tak sabar.

“Ulangi pertanyaanmu!”

“jika kau sedang menyukai seorang gadis apa kau akan bercerita padaku?”

ne, aku akan cerita”

“Tapi, kau belum pernah cerita apapun. Apa karena kau belum memiliki seorang gadis yang kau sukai?”

            Jaemin terdiam. Memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan tersebut. Jihyun membulatkan matanya antusias. Jikalau Jaemin benar-benar memiliki gadis lain yang ia idamkan, maka Jihyun harus menyerah terhadap perasaan yang ia miliki pada namja itu.

“Aku punya. Tapi aku akan cerita setelah aku menyatakan perasaanku pada gadis itu” Terang Jaemin.

deg

            Hancur sudah harapan Jihyun untuk menjadi sekedar sahabat bagi Jaemin. Posisi gadis special itu sudah ada yang menempati. Ia hanya bisa menunduk, mencoba menerima keadaan.

“Jadi- aku akan nyatakan dulu perasaanku pada gadis itu” Lanjut Jaemin.

            Jihyun sudah tak peduli lagi, kenyataan bahwa dia hanyalah sebatas sahabat sudah cukup untuk mengacaukan harinya. Ia masih terus menunduk, mencoba untuk tidak terlihat lemah.

“Aku menyayangimu, Kim Jihyun” Ucap Jaemin tiba-tiba.

            Ekspresi datar tak  berubah dari wajah Jihyun. Kini, ia mendongakkan kepalanya sedikit menatap Jaemin.

“Aku tahu” Jawab Jihyun lemah.

            Jaemin kaget dengan apa yang diucapkan Jihyun. Kalau benar ia mengerti bahwa Jaemin menyayanginya, kenapa sangat tidak kontras dengan ekspresi wajahnya yang mengkerut seperti itu.

“Kau tahu?” Tanya Jaemin bingung.

eung, kita kan sahabat”

            Jaemin berdecak pelan. Apa Jihyun sepolos itu dalam persoalan seperti ini?

“Kau salah”

“Apanya?” Jihyun kembali mendongakkan wajahnya.

“Aku menyayangimu, bukan sekedar karena kau sahabatku. Tapi karena kau adalah orang spesial dihudupku, Kim Jihyun”

deg

            Apa lagi ini? Na Jaemin benar-benar membuat perasaan Jihyun bercampur aduk jadi satu. Bahkan jutaan rumus matematika yang berkeliaran di otaknya tak bisa digunakan untuk memecahkan 2 kalimat Jaemin barusan.

“Tidak! Aku tahu kalau kau pasti paham apa maksudku. Hanya saja, ini terlalu tiba-tiba untukmu, kan?”

            Jaemin menatap Jihyun lekat. Mencoba menyampaikan perasaan yang sebenarnya.

“Kau juga memiliki perasaan yang sama denganku kan, Kim Jihyun? Tadi pagi, Taehyung hyeong bilang bahwa kau menulis namaku disetiap sudut diary-mu. Iya kan?”

‘Taetae oppa? Apa alien satu itu sudah gila?!” –batin Jihyun mengumpati kakaknya.

            Jihyun terdiam. Habis sudah rahasianya. Ia tak tahu harus senang atau bagaimana. Ini terlalu mengejutkan baginya. Ia senang, kelewat senang malah. Tapi, ia tak tahu harus apa.

“Benar, kau benar. Aku memang memiliki perasaan lebih dari sahabat kepadamu. Aku mencoba menyembunyikannya karena aku takut kau akan marah.

“Kenapa aku harus marah?”

“Karena dulu kau bilang kau membenci semua hal yang merusak hubungan persahabatan kita. Dan aku pikir masalah asmara akan merusak persahabatan kita”

A-ani! Aku tak akan memintamu menjadi Yeoching-ku sekarang. Aku akan menunggu, sampai suatu saat nanti, kau bersedia menerimaku”

            Jihyun tersenyum lembut menatap namja dihadapannya, jujur saja, ia kelewat bahagia saat ini. Ia senang karena Jaemin mampu memahami semua perasaannya. Bak telepati yang terpasang diotak dan hati keduanya.

Gomawo Jaemin-ah. Aku juga menyayangimu. Sangat”

            Jaemin tersenyum simpul menanggapi pernyataan Jihyun. Keduanya saling melepar senyuman, detik berikutnya mereka melemparkan pandangan kembali ke jernihnya Sungai Han.

            Sungguh pagi yang indah untuk keduanya. Dimana mereka sudah mengetahui perasaan satu sama lain. Meski pernyataan itu tak mengantarkan mereka menuju hubungan yang lebih dari sekedar sahabat saat ini, mereka yakin itu akan terwujud dimasa depan, saat mereka sudah dewasa nanti.

END

 

Author’s Corner:

001026~161026 A special gift for my beloved Kim JiHyun’s birthday 😉 As you know, semua hal indah bisa terwujud dalam fanfiction 😀

Wish U all the best Youngie ❤ Luv ya 🙂

XOXO,

HasekuraLee00

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Very Special (Vignette)

  1. Terima taehyung… yongie ❤❤❤
    ff.ny keren.. aku blushing mulu pas baca..
    Gift paling keren..
    gak tahu mau bls apa..
    gomawo gomawo gomawo gomawo gomawo 😙😙😙

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s