[Daydream Scenario] VIP

img_0882

VIP

Author Nadyaputri // Casts NCT’s Chenle & f(x)’s Victoria // Length Ficlet // Genre Crime, School life, AU! // Rating PG-15

Specially written for “Daydream Scenario” event

Based on prompt Berry Gum

.

Aku hanya perlu melakukan seperti yang sudah-sudah.

.

Chenle

Ketika kubilang aku menyukai Victoria Jiejie, tentu maksudku bukan rasa suka kepada lawan jenis. Penampilan Vic Jiejie dengan rambut berponi yang dicat cokelat memang lebih mirip anak kuliahan ketimbang wanita karier yang usianya hampir menyentuh kepala tiga, tapi ayolah, aku masih cukup waras untuk tidak mengencaninya. Ia empat belas tahun lebih tua dariku, Bung, kau pasti bercanda kalau mengira aku naksir padanya.

Aku tidak ingat kapan pastinya aku mulai menganggap Vic Jiejie penting. Yang kutahu, dalam diri wanita itu kutemukan sosok ibu dan kakak perempuan yang tidak pernah benar-benar kupunyai. Kami bersemuka pertama kali di pelataran sekolahku pada suatu sore yang basah. Aku tengah menanti gumpalan kelabu di atas sana berhenti mengucurkan fluida ke bumi ketika Vic Jiejie sekonyong-konyong menjajari dudukku. Lewat ujung mata kuamati ia, lantas benakku dengan cepat menyimpulkan bahwa figurnya sama sekali asing.

“Tidak pulang?” suara yang lolos dari bibirnya selembut beledu, merdunya nyaris mengalahkan simfoni hujan.

Kujawab hanya dengan gerakan menunjuk ke arah cairan langit yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti tumpah—kurang lebih artinya “aku-tidak-ingin-merangkai-konversasi-denganmu-wahai-orang-tak-dikenal.” Tapi alih-alih nampak tersinggung atau mengataiku cecunguk-kecil-tidak-sopan, Vic Jiejie justru menjungkitkan ujung bibir sembari mengangsurkan sebungkus permen karet padaku.

“Rasa buah beri.”

Apa permen karet rasa buah beri dapat menyetop hujan yang kian deras? Tidak, tapi mengunyah benda itu bisa membantu membunuh waktu. Aku sempat berkontemplasi dalam batin, tapi akhirnya kucomot dan kususupkan ke mulut juga.

Rasa rileks serta-merta menerpa, lalu entah bagaimana membuatku dan Vic Jiejie saling berkenalan. Aku bahkan tanpa ragu berkisah perihal keluargaku—Ibu yang meninggalkan rumah selepas kematian Ayah dan kakak perempuanku yang kuharap segera enyah ke neraka bersama selusin pacarnya. Membincangkan carut-marut kehidupanku biasanya menjadikan aku terlihat serupa pecundang yang menyedihkan, tapi Vic Jiejie kala itu menanggapiku dengan tutur yang begitu menenangkan dan sarat akan simpati tanpa sedikitpun merendahkan.

Senang mendapati Vic Jiejie tetaplah orang yang sama hingga saat ini—hangat dan keibuan. Aku teramat percaya padanya; kuceritakan semua yang ia ingin tahu. Ia selalu mampu mendatangkan perasaan santai dan secuil ledakan euforia—pastilah karena pembawaannya yang menyenangkan. Ya, pasti. Permen karet rasa buah beri yang rajin ia sodorkan padaku untuk kukunyah pasti tidak ada sangkut-pautnya. Aku yakin sekali.

                                                                              .

Victoria

Kalau ada yang menitahku untuk mendeskripsikan Zhong Chenle, maka akan kujawab bahwa ia adalah bocah enam belas tahun yang mahir memainkan peran sarkastik demi menutupi sisi rapuh dirinya. Aku menyukai nyaris semua hal tentang Chenle, termasuk matanya. Terutama matanya. Sepasang manik itu tak ubahnya langit malam: gelita, tapi kerap kau temukan pendar di sana.

Padanya, kubilang kalau aku adalah wanita karier. Bukan sebuah dusta, kok. Aku punya pekerjaan—pekerjaan sungguhan, gajinya lumayan, sayang tidak banyak yang mau melakonkan. Entah bagaimana reaksi Chenle jika nanti ia tahu profesi apa yang sejatinya kugeluti, meski—well—aku tak begitu yakin apakah masih ada kata nanti untuknya.

Omong-omong soal pekerjaan, aku sudah siap untuk menghidu wangi segepok uang dalam amplop besok. Aku hanya perlu melakukan seperti yang sudah-sudah: menghimpun rasa percaya dari para bocah sekolahan; menjejali mereka dengan gula-gula yang entah dibikin dari bahan apa oleh bosku—aku tak akan terkejut kalau ada narkotika dengan dosis raksasa di sana; menggasak barang berharga milik mereka.

Kudengar harga liver sedang meroket lantaran banyak yang mencari, kendati tidak semahal harga ginjal bulan lalu. Senang mengetahui tak banyak yang menghendaki bola mata, jadi dua keping permata hitam penuh binar di paras Chenle bisa kusimpan untukku.

.

.

notas:

  • the moodboard is taken from http://instagram.com/Ikpopmood
  • I’ve done the best i can to finish this fiction :’ my warmest hug goes to admin(s) in charge, thanks for reviewing ❤
  • hatur nuhun pisan yang sudah bertahan sampai akhir ❤
Advertisements

7 thoughts on “[Daydream Scenario] VIP

  1. Ya ampunnn ternyata Jie jahat juga yaa, see orang yg keliatan baik itu belum tentu beneran baik, selalu ada maksud tersembunyi dibalik keramahan itu 😈😈

    Like

  2. bisa jadi dengan peribahasa, jangan liat orang dari covernya bukan cuma buat kebaikan. tapi untuk hal keburukan. jangan liat orang dri covernya yang baik, karna isinya bisa jadi busuk. Sukaaaa bangeeett ceritanyaa!! Luv Luv.. Keep Writing Yaaa!!!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s