[Ficlet] Bring Back The Missing Piece

tumblr_o6nyefhil71vng20oo1_540

.

A sequel to Heart of Steel.

by Angela Ranee

Rating G

Genre robot!AUhurt/comfort

starring

[NCT] Johnny Seo & [OC] Leta Arden & Mackenzi Lee

.

“I also want to return something to you.

Maaf, bukan ‘sesuatu’, melainkan ‘seseorang’.”

***

It’s been a year.

Sudah setahun berlalu semenjak Perang Dunia III resmi berakhir. Kedamaian kini bukan lagi omong kosong belaka. Tak ada lagi yang mengangkat senjata, tak ada lagi yang mati sia-sia, tak ada lagi kekelaman. Kendati demikian, ada beberapa negara yang terpaksa bergabung dengan negara tetangga yang lebih kuat lantaran mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri.

Leta Arden mengulas senyum simpul tatkala televisi hologram di hadapannya menampilkan berita tentang perkembangan hubungan diplomatik antarnegara di berbagai belahan dunia yang semakin membaik. Hanya ini yang ia inginkan, dan mungkin diinginkan pula oleh jutaan manusia lain di luar sana.

Beralih ke berita selanjutnya, Pemirsa. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan pernyataan bahwa seluruh robot-robot Perang Dunia III akan ditarik secara massal. Penarikan ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan robot-robot tersebut, baik oleh perseorangan maupun oleh lembaga tertentu. Kendati demikian, Dewan Keamanan PBB belum mengungkapkan alasan di balik penarikan robot-robot ini…

Dwimanik biru koral Leta tidak berkedip barang sedetik. Suara sang pembawa berita seolah membawa kembali sisa-sisa kenangan menyakitkan dari masa lalu. Membawa kembali memorinya akan satu nama.

Johnny.

Masihkah ia “hidup”? Kalau iya, dimana ia sekarang? Kalau Johnny masih ada dan turut ditarik oleh Dewan Keamanan PBB, kira-kira akan dikemanakan dirinya? Akankah ia dihancurkan? Dinonaktifkan selamanya?

Leta tahu, semakin banyak ia memenuhi pikirannya dengan Johnny, semakin sulit baginya untuk bernapas. Leta merindukan Johnny, dan sisi irasional wanita itu masih saja berharap Johnny akan kembali.

Oh, bagaimana dengan Mackenzi? Bagaimana kabarnya sekarang? Ah, gadis itu pasti hidup enak dan telah berhasil mendapatkan apa yang menjadi impiannya sejak dulu. Menjadi ilmuan utama kepercayaan negara. Kenzi gadis yang pandai dan penuh ambisi, tidak sulit baginya untuk mendapatkan posisi tersebut.

Leta masih di sini, di sebuah apartemen bergaya modern nan minimalis. Orang-orang mengenalnya sebagai “ilmuan nomor satu negara yang pensiun dini”, yang kini bekerja sebagai dosen di sebuah universitas ternama.

Ah, bicara soal profesi baru Leta, dua jam lagi Leta harus segera mengajar. Wanita itu buru-buru menghabiskan roti isi dan jus jeruknya, lantas beralih ke kamar untuk berganti pakaian dan berdandan. Karena bagaimanapun, Leta harus terus melangkah maju, tak peduli sesakit apa luka yang ia dapat dari masa lalu.

***

Leta baru saja selesai dengan kelas pagi yang ia ajar ketika salah seorang mahasiswanya masuk ke dalam kantornya.

“Profesor, seseorang mencari Anda,” ungkap mahasiswa dengan rambut legam yang berantakan tersebut.

“Oh, ya? Siapa?” tanya Leta.

“Ia tidak mau memberitahukan identitasnya kepadaku, Profesor. Tetapi ia bersikeras hendak bertemu dengan Anda,” jawabnya.

Leta mengerutkan dahi. “Mengerikan sekali,” komentarnya.”Baik, bilang padanya aku akan segera keluar. Terima kasih sudah memberitahuku.”

***

Terkejut? Tentu saja. Leta Arden tidak akan pernah menyangka presensi sosok itu di hadapannya setelah sekian lama. Sosok yang pernah menoreh cerita di lembaran lama dalam buku kehidupannya.

“Mackenzi Lee?”

Wanita itu mengangguk sembari tersenyum. Penampilannya masih sama seperti ketika terakhir kali Leta melihatnya.

Long time no see, Prof. Arden,” ucapnya. “Apa kabar?”

“Baik,” Leta balas tersenyum, meski tidak begitu yakin dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. “Bagaimana denganmu?”

“Aku juga baik,” jawab Kenzi. “Aku senang bisa bertemu kembali denganmu, meski aku tidak yakin kau juga merasakan hal yang sama.”

“A-aku? Tentu saja aku juga senang bertemu lagi denganmu,” sahut Leta. “Kau… tidak banyak berubah.”

“Kau juga,” Kenzi berujar.

Well, mau masuk dan duduk sebentar untuk mengobrol bersama? Or going out to grab some coffee, maybe?”

“Tidak perlu repot-repot. Aku tidak akan lama di sini,” tolak Kenzi. “Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal kepadamu.”

“Tiga hari lagi aku akan pergi.”

“Kemana?”

“Kau tidak perlu tahu, Leta. Aku akan melepas karirku sebagai ilmuan, dan pergi ke suatu tempat yang jauh, memulai kehidupan baru sembari menyesali perbuatan-perbuatan bodoh yang pernah aku lakukan di masa lalu. Kau tidak perlu menemui aku lagi setelahnya.”

Ada perasaan tidak rela ketika Leta mendengar ucapan wanita di hadapannya barusan. Leta tahu, Kenzi bersalah kepadanya dan Kenzi pernah menyakiti perasaannya. Tapi bukan berarti Leta ingin Kenzi pergi dari kehidupannya. Mackenzi, bagaimanapun wanita itu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Ia pernah menjadi bocah periang dan cerdas yang Leta banggakan. Melepas Kenzi untuk pergi tanpa ada keinginan untuk berhubungan dengannya lagi tentu bukan hal mudah bagi Leta.

“Aku ke sini hanya karena aku ingin bertemu denganmu kembali untuk yang terakhir kalinya dan berpamitan,” sambung Kenzi, tersenyum tipis meski sepasang matanya sedikit berkaca-kaca. “I also want to return something to you. Maaf, bukan ‘sesuatu’, melainkan ‘seseorang’.”

Kenzi belum sempat melanjutkan ucapannya, pula Leta belum sempat menjawab, ketika sosok yang selama ini ia pertanyakan keadaannya dan ia nantikan kehadirannya berjalan melewati lorong yang lengang. Bunyi ketukan sepatu yang ia kenakan seirama dengan degup jantung Leta. Sepasang maniknya menatap lurus ke arah milik Leta tanpa berkedip maupun beralih sedikit pun, ekspresi yang tertera pada wajahnya sulit untuk Leta tafsirkan maknanya.

“Ia milikmu sepenuhnya sekarang,” gumam Kenzi. “Selama beberapa bulan aku susah payah menyembunyikannya agar ia tidak turut serta dibawa Dewan Keamanan untuk dinonaktifkan dan dihancurkan.”

Leta tidak bisa berucap barang sepatah kata. Seperti ada batu besar yang mengganjal di tenggorokan dan kupu-kupu menari di perutnya.

“Sekarang tugasku sudah selesai,” lanjut Kenzi. “Leta Arden, thank you for ever being the best professor for me. I am truly apologize for ever treating you rudely in the past time. Now that I would go far away from here—

Can’t you stay?” potong Leta, suaranya lirih sekali. “We can make it up, I promise.”

Kenzi menggeleng. “I can’t. I should go.”

Wanita muda itu mengambil selangkah mundur, kemudian membungkuk dalam-dalam di hadapan Leta, tanda terima kasih, permintaan maaf, sekaligus pamit kepada mantan rekan kerja sekaligus gurunya. “I’m leaving,” ucap Kenzi, berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Leta bersama sosok yang kini berdiri di hadapannya, menggantikan presensi Kenzi di sana.

“John—”

“Leta,” potongnya. “I’m back.”

Leta tersenyum. Bulir-bulir air mata mengalir membasahi pipinya. “You didn’t change too much.”

Johnny turut tersenyum, senyum yang Leta rindukan selama setahun terakhir. “Aku merindukanmu.”

“Aku juga,” Leta melangkah maju, menyentuh permukaan pipi Johnny lembut. “Perangnya sudah berakhir, ‘kan? Sekarang tugasmu sudah selesai.”

Tetapi Johnny menggeleng pelan. “Tidak, tidak, tugasku belum selesai, Leta.”

Leta menatapnya penuh tanya. Jemari Johnny bergerak untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi Leta, kemudian menggumam,

“Tugasku sekarang adalah untuk menemanimu.”

.

.

.

-fin.


Notes :

  • It’s been almost two months since the last time I posted a fanfiction here. Anyone miss me? //hell no, ran
  • Tulisan ini adalah tindak lanjut ((halah)) dari ratification collab-ku sama Kak Berly. Btw kalo Kak Berly juga mau nulis sequel dari point of view KakBer sendiri isokey loh pasti bakal aku baca 😀
  • Last, dropping some comments wouldn’t hurt and just fine, right?
Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] Bring Back The Missing Piece

    • Ranee, alooo akhirnya ber kembali wkwk.
      Yosh, this is cute and so simple sequel, cieee uhuk yang akhirnya happy ending. Setelah di episode sebelumnya, menghasilkan banyak sekali mengalir atau menggenangnya air mata para pembaca saat mereka menghayati alurnya XD /plak. Habis baca sequel ini lalu kembali inget alur cerita sebelumnya yang full of complicated, menurut ber, sequel ini ibarat kata hanya bagian ‘penyelesaian yang apik’ wkwkwk. Pemanis, supaya episode sebelumnya gak ngegantung-gantung amat. Dan selamat! Film ini sukses akan ditayangkan di bioskop hollywood nanti, Ranee wkkw. Kalo perlu diseriesin cem harpot kyaaa, atau cinta fit/sensor/ season 5 XD. Keep writing always pokoknya!

      Like

    • Hello!
      First, just call me Ranee. But actually it’s okay if you want to call me Angel, it makes me feel like “malaikat” LOL
      Whoa, really? I ‘ve never known that someone’s been waiting for the sequel, tho.
      Thanks for reading and dropping comment! I love you, too ❤ ❤ ❤

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s