[Vignette] Solve the Problem

mfii9ng5-jpg-large

A collab fiction by Angelina Triaf & ayshry

Solve the Problem

Jung Jaehyun (NCT) & Go Sikyeong (OC) | Drama, Hurt/Comfort | T | Vignette

0o0

“Kau terlambat lagi.” Nada suara ketus serta tatapan mengintimidasi dari Go Sikyeong menjadi hadiah kecil bagi Jaehyun bahkan ketika pemuda itu baru saja menginjakkan kakinya di tempat ia berdiri kini.

“Kali ini apa lagi alasanmu?”

Jaehyun masih terengah-engah dan memilih untuk mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum menjawab setiap pertanyaan yang terlontar. Meski ia tahu, gadis di hadapannya tidak memiliki banyak waktu dan kesabaran lagi untuknya.

“Macet? Oh, atau kau ketiduran?”

“Maaf, Sikyeong. Tadi aku—“

“Sudahlah, aku tak ingin mendengar alasanmu. Pasti tak berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Aku mau pulang.”

Sikyeong mendesah kesal lantas mengayunkan tungkainya. Ia terlanjur lelah dan marah. Rasanya penantiannya kali ini sia-sia. Ia sempat membayangkan betapa menyenangkannya malam yang akan terlewatkan, tapi yang ia dapat hanyalah pil pahit yang tak mampu menyembuhkan lukanya. Jung Jaehyun lagi-lagi ingkar.

“Nontonnya nggak jadi?” Pertanyaan dari Jaehyun itu membuat sang gadis menghentikan langkahnya—terpaksa.

Sikyeong berbalik lantas berkata dengan nada sinis, “Omong-omong filmnya sudah selesai sejak dua puluh menit yang lalu. Apa kau lupa kita janjian jam berapa, Tuan Jung? Oke, akan kuingatkan. Jam tujuh, dan sekarang sudah jam sembilan lewat tiga puluh empat menit.” Melirik jam di pergelangan tangannya, Sikyeong yang sempat menahan langkah kembali melanjutkan, mengabaikan tatap penuh penyesalan sang pemuda yang sudah sangat ia hafal.

Sial!

“Tunggu, aku akan mengantarmu.”

Terburu-buru, Jaehyun berlari demi mengejar sang gadis. Pemuda itu sadar jika kali ini ia sedikit—atau benar-benar—bersalah lantaran melupakan janjinya dan membiarkan gadis Go tersebut menunggu lama―tidak, sangat lama.

Tangan sang gadis berhasil diraihnya. Meski ia menerima penolakan, namun tenaganya yang lebih kuat membuatnya mampu menahan lebih lama. “Kau marah ya, Yeong?”

“Tidak.”

Desahan kasar menguar dari bibir sang pemuda. “Maafkan aku, Yeong, oke? Aku benar-benar lupa.”

“Aku sudah meneleponmu tapi nomormu tak bisa dihubungi.”

“Ponselku mati, Yeong. Tadi aku sedang bersama anak-anak yang lain, dan bodohnya aku sampai melupakan janji denganmu.” Jaehyun menyengir, mencoba menunjukkan ekspresi yang membuatnya mendapatkan kata maaf dari sang gadis. “Maaf, ya?”

Sikyeong memilih untuk diam, maniknya menatap lekat-lekat wajah sang pemuda. Bibirnya bergetar, giginya ia rapatkan agar tangisnya tak meledak saat itu juga meski genangan air sudah terkumpul di pelupuk matanya—hanya tinggal menunggu setetes air terjatuh dan kemudian akan disambung dengan tetes air lainnya. Tanpa bisa dicegah.

“Yeong…” panggil Jaehyun tertahan. Pemuda itu tak menyangka jika kecerobohannya kali ini akan membuat gadisnya menangis. Ia merasa amat bersalah. “Maafkan aku, Yeong, maafkan aku.”

Merengkuh tubuh bergetar milik sang gadis, Jaehyun mendekapnya erat. Bibirnya tak henti-henti mengucapkan kata penyesalan, namun sang gadis di pelukan masih bergeming tanpa ada kemauan untuk membalas pelukannya.

Pada akhirnya, pertahanan gadis Go itu runtuh tatkala tubuhnya merasakan hangatnya pelukan sang pemuda. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah lagi. Tangisnya pecah, bahkan kini ia mulai terisak. Sekuat tenaga gadis itu menahan agar tangisnya tak mengeluarkan suara. Namun, semakin kuat ia bertahan, semakin kuat pula isakannya terdengar. Kali ini Sikyeong benar-benar kalah, pada emosi juga kebodohannya.

“Kumohon berhentilah menangis, Yeong. Aku tak tahu jika kau akan menjadi sesedih ini karena kesalahanku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Maaf.”

“Jaehyun.” Sikyeong menyuarakan namanya dengan lirih, terdengar menyakitkan juga membuat sesuatu di dada sang pemuda bergemuruh. “Kautahu? Ini bukan kali pertamanya aku menangis karenamu dan ini juga bukan kali pertamanya kau mengumbar janjimu padaku, tapi apa kau pernah menepati barang sekali saja semua janji-janjimu itu?”

“Yeong…” Pelukan Jaeyun perlahan melonggar hingga akhirnya terlepas. Pemuda itu mundur selangkah lantas menatap si jelita yang tengah menyeka air matanya dengan sudut lengan bajunya.

“Apa aku pernah mengecewakanmu? Apa aku pernah mengabaikanmu? Apa aku pernah melupakan janji—oh, apa aku pernah membuatmu menunggu barang semenit? Aku bahkan rela membatalkan janji dengan teman-temanku demi kau, Jung Jaehyun. Menemanimu mencari sesuatu yang kau butuhkan, menemanimu melakukan hobi-hobimu, menemanimu selagi aku tak ada kegiatan, menemanimu—”

“Jadi sekarang kau mau mengungkit semuanya, Yeong?”

“Aku sudah tak tahan lagi, Jae. Kita tak bisa seperti ini terus. Aku lelah. Kau yang selalu membuat kesalahan, kemudian meminta maaf dan nantinya akan mengulangi hal yang sama. Terus seperti itu, semuanya seperti tak pernah usai. Aku tahu kita memang selalu bertengkar, bahkan karena hal sepele saja kita tak bisa menahan ego masing-masing dan entah sudah berapa kali kita berpisah namun kemudian memilih untuk bersama kembali. Tapi sekarang, bagiku sekarang semuanya berbeda. Aku—“

“Jadi, kau mau apa? Pisah?” Belum apa-apa Jaehyun sudah tersulut emosinya. Nada suara yang tadinya lembut berubah keras dan kasar. “Kau mau kita berpisah, Yeong? Iya?”

Sang gadis terdiam. Bibirnya bergetar.

“Oke, jika itu maumu. Baiklah, kita akhiri saja.”

Tangisan kembali pecah. Bahkan kali ini lebih keras dari yang sebelumnya. Sikyeong merasakan perih yang luar biasa, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bahkan pada momen-momen perpisahan yang lalu.

“Kenapa? Kenapa kau menangis? Bukannya kau sendiri yang ingin menyudahi hubungan kita? Bukannya kau sengaja mencari-cari alasan agar terbebas dari hubungan konyol ini? Bukannya―“

“CUKUP!”

Teriakan Sikyeong barusan berhasil membungkam mulut Jaehyun.

“Hentikan omong kosongmu itu, Jae. Aku tak ingin mendengarnya lagi. Hentikan.” Berujar dengan susah payah, Sikyeong kini mulai kesusahan bernapas. Bibirnya mengelu, getaran di seluruh tubuh membuatnya tak mampu sekadar berdiri dengan kedua kakinya. “Kau sungguh keterlaluan, Jung Jaehyun!”

“Apa benar kalau aku yang keterlaluan?”

Niat untuk melangkah pergi pupus hanya dengan satu kalimat yang ia dengar. Tak seperti sebelumnya, nada bicara pemuda itu melemah, suaranya rendah dan sarat akan makna. Sikyeong tahu bahwa Jaehyun selalu bicara lembut padanya, tapi ini bukan seperti ia yang biasa.

“Jawab aku. Apa benar akulah si brengsek di sini?”

Keadaan mudah saja ia balik jadi seperti ini. Jaehyun memang orang yang seperti itu. Pikiran rasionalnya mengantarkan ia pada sebuah kisah cinta yang rumit. Para gadis hanya ingin dimengerti dari hati, tapi Jaehyun terlalu mengedepankan logikanya tanpa menimbang apa itu andil dari sebuah perasaan.

“Kau tahu konsekuensi menerimaku kala itu, ‘kan? Aku yakin kau sangat tahu, Yeong.”

“Iya, aku sangat tahu,” jawab Sikyeong, kini ia mulai tenang dengan sendirinya―walaupun sangat sulit. “Kau dengan segala logikamu. Mungkin bagimu kesalahan kali ini sepele, seperti yang sudah-sudah.”

Memberanikan diri, akhirnya ia menatap tepat ke dalam mata Jaehyun, menemukan sebuah ketenangan yang hampir sama dengan yang dirasanya. “Tapi jika kesalahan yang sepele ini terulang terus-menerus, apakah menurutmu aku masih bisa bersabar?”

“Kau harus. Karena nyatanya cinta itu berarti saling menerima satu sama lain.”

Sikyeong mengeluarkan ponselnya, mencari nomor sang ayah lalu meninggalkan Jaehyun sebentar. Mereka butuh berpikir, siapa sangka percintaan remaja bisa sebegini rumit. Bahkan mereka yang menikah pun merasakan kebahagiaan walau sederhana, mengapa Sikyeong dan Jaehyun yang masih muda ini tak bisa bahagia juga barang sejenak saja?

“Iya, Ayah. Terima kasih.”

Gadis itu kira Jaehyun akan meninggalkannya begitu saja, menganggap mereka berdua tak pernah memiliki kenangan apa pun lalu tak akan muncul lagi di kemudian hari.

Tapi nyatanya Jung Jaehyun masih di sini, berdiri di tempatnya tanpa berpindah selangkah pun. Ia masih menunggu Sikyeong, ia ingin masalah ini jelas dan memiliki sebuah jawaban mutlak; pisah ataukah tetap bersama.

“Jae,” panggil Sikyeong dengan lembut. “Cinta tak bisa hanya mengandalkan teori, kautahu? Rasa sakit, sekecil apa pun itu, tetaplah menyakitkan untukku.”

Menjadi peran utama yang menyembunyikan tangis dengan senyuman, Sikyeong terkadang berharap agar Jaehyun setidaknya menjadi pemuda bodoh untuk sehari saja, agar ia tak tahu bahwa Sikyeong tengah berpura-pura kuat hingga tak meledakkan tangis seperti sebelumnya dan membuatnya merasa menjadi gadis cengeng yang menyebalkan.

Namun anehnya, kini Jaehyun tersenyum kecil, memandangnya dengan lembut lalu mendekatinya beberapa langkah. “Hah, ternyata perkataan yang lain ada benarnya,” ujarnya diikuti tawa kecil yang selalu mampu membuat Sikyeong jatuh cinta berkali-kali.

“Maksudmu?”

“Ya … teman-teman selalu bertanya mengapa kita tak pernah terlihat bertengkar hebat seperti pasangan lainnya. Selalu hanya dengan sebuah maaf dariku bisa membuatmu langsung memaafkanku. Seperti cerita dalam drama, seperti air mengalir saja.”

Jung Jaehyun sialan, lalu kau mau aku mengamuk setiap kali kau datang terlambat?!

 

“Ternyata kau bisa marah juga, ya. Maaf tadi aku sudah berteriak padamu.”

Ponsel Sikyeong berdering di tengah-tengah kekosongan antara mereka. Sang ayah kembali menelepon, mungkin hendak menanyakan lokasi Sikyeong karena gadis itu tadi langsung memutuskan panggilannya.

“Iya, Ayah―”

“Selamat malam, Pak, ini Jaehyun.”

Tahu-tahu tangan Jaehyun sudah mengambil paksa ponsel itu, membawanya pergi menjauhi Sikyeong sembari masih berbicara dengan orang di seberang panggilan.

Ketika kembali pada Sikyeong, satu cengiran mirip anak kecil melukis wajah tampannya, membuat sang kekasih justru mengerutkan kening. “Ayo pergi cari camilan, Jane punya banyak film di komputernya.”

Jaehyun menarik tangan Sikyeong, tapi gadis itu dengan cepat melepaskan diri. “Maksudnya apa, Jae?”

“Yeong, kenapa otakmu itu lambat sekali berpikir, sih?” Kedua pipinya dicubit dengan gemas oleh Jaehyun, memancing sebuah teriakan melengking yang untungnya tak cukup keras didengar oleh semua orang yang lewat di sekitar mereka. “Malam ini menginap di rumahku, ya? Sebagai ganti nonton yang tadi.”

“Tapi, kan―”

“Tidak ada tapi. Ayo!”

Ya, masalah memang selesai begitu saja. Sederhana, namun jangan kira mereka dapat dengan mudah melupakan segala hal yang terjadi malam ini.

Perlu diketaui bahwa Sikyeong akan selalu mengingat untuk menyabarkan hatinya jika itu berurusan dengan kelakuan super ajaib dari Jung Jaehyun.

Lalu bagaimana dengan Jaehyun? Tentunya kini cinta tak lagi hanya sekadar praktik yang terbukti berdasarkan teori baginya, tapi tentang benar-benar memahami satu sama lain dan tak lagi bertingkah seperti orang bodoh yang menyusahkan sang kekasih.

FIN

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Solve the Problem

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s