[NCTFFI Freelance] Spring Tears (Oneshot)

14972000_1769836653233005_1170605939_n

Spring Tears

By : Aleeshazh

Mark Lee [NCT] – Han Yujin [OC]

Hurt – School Life

Rated T

Oneshot

Disclaimer :

Tokoh di atas milik Tuhan dan saya hanya meminjamnya XD

(ps : All is Mark’s Point Of View)

.

.

Seharusnya aku tidak bermain main dengan waktu..

.

.

****

Aku tidak tau pasti sejak kapan aku mulai suka memandang wajah salah satu dari 5 orang gadis yang tengah duduk tak jauh dari tempat ku kini singgah, mereka tengah bergurau dan sepertinya membicarakan sesuatu yang lucu sampai sampai mereka semua tertawa cukup keras.

Waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi, kelas satu angkatan ku dengan jurusan lain baru saja selesai berolahraga. Aku sendiri tengah membolos pelajaran Bahasa Mandarin karena sebuah alas an yang amat konyol.

Aku ingin melihat gadis itu seperti minggu minggu yang lalu. Lapangan kami di batasi sebuah besi tembus pandang karena aku berada di lapangan futsal dan mereka semua berolahraga di lapangan basket. Tidak masalah, selagi aku masih bisa melihat ia tertawa walau dari kejauhan.

Sebenarnya..

“Apa yang terjadi padaku?…” Gumam ku sendiri masih tidak ingin mengalihkan pandangan ku.

“..Mark, awas!..”

Duk!

“Aish..”

Aku meringis pelan dan mengambil bola yang baru saja terkena kepala ku. Tampak Doyoung hyung dan Taeyong hyung menghampiri. Aku mengoper bola itu menggunakan kaki ku dan kami pun kembali bermain. Aku sibuk mengoper bola karena target ku adalah menjebol gawang yang di jaga oleh Haechan. Aku benar benar harus fokus bahkan saat melewati lawan tersulit ku yaitu Jaehyun Hyung.

Buyar karena…

“Ya! Ya! Terus Yujin-a!! Hampir kena..”

“Aigoo~ Bolanya tersangkut terlalu tinggi..”

 

Aku terkekeh melihat betapa konyolnya para yeoja mengakali sebuah bola basket yang tersangkut di dahan pohon besar yang lumayan tinggi. Mereka apakan bola itu? Melemparnya? Pft.

“..Mark! awas!”

Duk!

“Akh- appo!”

Rasa nyeri menjalar ke area sekitar pelipis dan mataku.

“Gwaenchana? Hahaha kau sudah kena dengan bola itu 2 kali. Apa yang membuat mu tidak fokus?”

Dia…..

***

“Mark-a, kau benar benar tidak ingin memberitahu kami?”

Entah sudah keberapa kali nya aku mendengar Haechan bertanya seperti itu dan aku tetap pada jawaban ku adalah tidak.

Sore itu kami (Aku dan kawan-kawan ku) biasa berkumpul –sebut saja itu basecamp kami. Sebuah ruangan tak terpakai bekas ruangan OSIS di dekat lab sekolah. Para hyung dan kawan kawan sebaya ku seperti Haechan, Jeno dan Jaemin ikut ingin tau siapa gadis yang sedang memenuhi pikiran ku sekarang.

Mereka menjadi gemas karena aku bercerita bahwa aku belum terpikir untuk meminta kontak nya agar kami bisa berhubungan dengan baik.

“Bahkan kau tidak pernah menyapanya.. aih.”

Aku hanya terkekeh saat Jaehyun hyung berkata sedemikian rupa sambil menggelengkan kepalanya.

“Aigoo- Hyung hyung disini kenapa begitu antusias dengan urusan ku? Ini tidak terlalu penting-“

“Penting agar kau melepas masa lajang mu..” Sambung Doyoung hyung.

Aku tertawa sesaat.

“Siapa yang peduli dengan status lajang ku..”

“Ne- aku mendengar banyak adik kelas yang berharap lebih padamu. Kau ingat surat kaleng yang mengejar mu belakangan ini? Kau bilang padaku kau risih akan itu..” Ujar Jaemin dan aku mengiyakan selanjutnya.

“Tunggu apa lagi? sapa dia, minta kontaknya dan.. shoot!”

Aku melongo karena saran Taeyong hyung barusan.

Menyapa..

Meminta-akh. Sepertinya akan susah…

“Baiklah, aku akan pulang. Siapa yang mau ikut?”

Akhirnya sore itu aku pulang bersama Taeyong Hyung. Rumah kami memang searah dan kami sepakat sore itu untuk menaikki kereta bawah tanah. Susasana kereta sudah lumayan sepi karena kami pulang agak larut malam. Sepanjang perjalanan aku terus bertanya pada Taeyong hyung. Bagaimana aku harus menyapa sampai mendekati yeoja itu.

“Kau mengerti?”

Aku mengacungkan ibu jari padanya dengan mantab.

~

Entah dewi fortuna sedang berpihak padaku atau hanya kebetulan saja. Pagi itu aku datang lebih awal karena Han sosaengnim menyuruhku datang lebih pagi. Saat aku melangkah di lorong koridor yang cukup sepi, dari koridor lain gadis itu ikut berjalan ke arah yang sama dengan ku. Jadi Jadi posisinya adalah dia tepat di depan ku kini. Aku jadi teringat oleh kata kata Taeyong hyung semalam.

“Sapa dan tanyakan namanya lebih dulu..”

Aku malah salah fokus dengan tas yang ia gunakan -itu tas yang bagus tetapi sepertinya ia lupa untuk menutup rapat resleting tasnya. Buku buku tebal di dalam tas itu nampak akan berjatuhan sebentar lagi.

“Ah- kau..”

Aku terus memaki dalam hati kenapa susah sekali untuk menarik bahu nya dan memberitahu bahwa ia lupa menutup tas nya.

“Ya! Kau.. berhentilah..”

Sampai ke luar koridor aku hanya berlari kecil berharap dapat menyusul langkahnya yang cepat karena ternyata ia bertemu dan bersapa dengan kawan kawan nya.

Brakk..

Aku menepuk jidat ku. Buku buku itu jatuh dan ia baru menoleh dengan wajah watadosnya. Aku antara ingin terkekeh dan gugup karena pada saat itu lah pandangan kami bertemu.

Aku selalu melihat beberapa cuplikan sinetron yang eomma ku sering tonton di rumah. Aku pun membantu ia merapihkan buku buku nya yang berserakan.

“Tadi.. aku memanggil mu hendak memberitau bahwa tas mu terbuka.. tetapi kau tidak juga menoleh..” kataku menyerahkan buku paket yang sudah tersusun kepadanya.

Ia terkekeeh dan menyapu rambutnya beberapa kali. Pipinya bersemu. Ah- apakah ia malu?

“Jinjja, mianhae. Aku benar benar tdak mendngar mu dan gomawo telah membantu ku.. em- siapa namamu?”

Begitu terdengar indah di telinga ku.

“Namaku Min hyung a- panggil aku Mark.. ya..”

Apa apaan. Aku benar benar terlihat kacau di depan nya saat ini.

“A- namaku Han Yujin. Senang bertemu dengan mu Mark-ya.. hm, aku harus segera ke kelas. Sampai jumpa..”

Dia tersenyum sebelum berbalik dan meninggalkan ku .

Dan itu lah perkenalan singkat kami yang begitu berharga menurut ku. Bukan hanya mengentahui nama masing masing, aku bisa memperkirakan sifat dia lebih dalam. Aku tau dia ramah dan periang- sepertinya aku tidak salah menyukai orang.

Kita baru mengenal nama satu sama lain namun keesokan harinya aku masih berfikir untuk mau menyapa nya atau tidak. Aku masih menjadi Mark yang sebelumnya, hanya berani melihat nya dari sela sela rak perpustakaan saat istirahat pertama, membolos pelajaran bahasa mandarin setiap kamis pagi, bahkan saat ia melewati ku- aku masih menyembunyikan wajah ku namun aku tak tahan hanya sekedar untuk bersiul pelan sampai ia menoleh mencari cari sumber suara.

Sampai pada sore itu, dimana aku baru saja masuk ke dalam bus hendak menuju rumah. Seragam ku sedikit basah karena hujan mengguyur Seoul sangat deras. Sampai di halte selanjutnya banyak beberapa siswa yang masuk semua kursi sudah terisi dan sisa kursi yang ada di samping ku.
Aku hanya sibuk memperhatikan embun yang mengalir di luar kaca bus tanpa menyadari sesuatu sampai suara yg amat tak asing akhirnya membuat ku menoleh.

“Annyeong..”

Bagaimana bisa ada seorang bidadari yang kehujanan di dalam bus ini? Oh Lord.

“A-annyeong.. Yujin-a.” Balas ku -sangat kaku.

“Boleh aku duduk?”

Aku mengangguk dengan cepat dan dia pun duduk di samping ku.

Beberapa saat hanya terdengar bunyi mesin bus dan guyuran hujan dari luar sebelum ia membuka topik pembicaraan -dan aku merasa tak berdaya untuk kesekian kalinya.

“Kau jarang sekali menyapa ku padahal.. kita sering bertemu..”

Apa maksudnya itu -aku terkekeh.

“Ne- jeosonghabnida.”

“Apa wajah ku menyeramkan??”

Sontak aku langsung menoleh padanya. Ia menatap ku dengn tatapan yang sulit ku artikan.

“A-ania. Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Kau menjawab ku tanpa menoleh padaku. Apa kau sedang berbicara dengan kursi yang ada di depan mu?”

Aku sedikit terkejut dengan ucapan nya barusan.

“M-mwo? A-jeosong -“

“Hahahaha omona.. kenapa kau malah terus meminta maaf padaku?”

Hujan belum berhenti namun aku sudah melihat pelangi sebelum waktu yang di tentukan. Baru kali ini aku melihatnya tertawa sedekat ini. Biar aku perjelas, sedekat ini. Aku bahkan bisa melihat jelas eye-smile nya yang menggemaskan.

Aku ikut tersenyum.

“Apa kau gugup?”

Pertanyaan nya membuat ku ingin mati saja. Ada apa dengan yeoja ini? Dia seakan akan tahu jika aku benar benar mengagumi nya.

“N-ne.. aku Hanya belum terbiasa..” cicit ku.

Dia mengangguk angguk paham.

“Baiklah, lain kali menyapa lah.. agar kau tidak gugup lagi dengan ku. Arrachi?”

“Ne.. aku akan mencoba nya.”

Kami pun kembali ke topik yang selanjutnya. Hujan semakin deras dan kami tetap mengobrol sampai ia turun di halte yang selanjutnya.

Pertemuan tak terduga itu seakan akan mendorong ku untuk lebih berani mendekati nya. Aku tau tidak ada maksud lain dalam ucapan nya itu- tetapi caranya meyakinkan ku bahwa hubungan kita bisa lebih dekat menjadi alasan ku untuk menyapa nya keesokan hari nya.

Hari ku menjadi lebih berwarna di banding kemarin. Aku tidak lagi mengintipnya dari sela rak- kami malah suka belajar bersama. Bahkan melambai saat kami berada di lapangan yang berbeda.

Saat hendak pulang, aku berpapasan dengan nya di lorong menuju lapangan sekolah. Ia tampak sibuk membawa beberapa tumpukan buku.

“Apa itu berat?”

“Gwaenchana aku terbiasa. Kau mau pulang?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, hati hati di jalan ne??”

Aku hanya tersenyum dan melihat punggung nya menjauh dari jangkauan pandangan ku. Ini benar benar membuat ku gila sepanjang hari.

Bahkan saat bersama para hyung di basecamp pun aku lebih banyak diam, melihat ponsel dan tersenyum pada udara.

“Aish, dia benar benar seperti sudah gila sekarang..”
Aku masih mendengar Haechan mengatai ku walaupun pikiran ku di bawa melayang oleh sosok Yujin di kepala ku.

“Itu berkat saran ku. Sebentar lagi mungkin kita akan makan enak gratis..”

Aku menoleh pada Taeyong hyung yang berkata sedemikian rupa barusan.

“Gyahhh! Aku benar benar akan gilaaaaaa hyunggggg etteo?” Kata ku tertawa pelan.

“Jinjja Mark kau benar benar terlihat menggelikan. Cepat lakukan conffesion dan perkenalkan yeoja manis itu pada para hyung mu..” ujar Doyoung hyung membuat ku semakin ingin cepat menyatakan perasaan ini.

~

“Jinjja? Apakah akan berhasil??” Ujar ku pada Haechan.

Kami berdua tengah berada di sebuah toko bunga tak jauh dari kawasan sekolah. Setelah sekian lama berfikir berkali kali akhirnya aku memutuskan untuk menyatakan perasaan ku pada Yujin.

Aku terlalu malu untuk meminta bantuan para hyung ku dan aku lebih memilih Haechan untuk membantu ku.

“Kau tidak percaya padaku? Aku sudah berpengalaman semenjak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pilih bunga rose yang paling indah di matamu..”

Aku mulai memperhatikan satu persatu rose yang terhampar di beberapa bucket dan mereka semua indah di mataku.

“Perlahan.. dan lihatlah dengan hati hati..” bisik Haechan.

Aku menemukan bunga yang berbeda di mataku, warna merah nya lebih hidup di banding yang lain dan aku pun memesan 1 bucket untuk hari spesial itu.

“Kapan itu akan terjadi?” Tanya haechan saat kami sudah berada di jalan pulang.

Aku berfikir sjenak. Ini adalah akhir musim dingin dan esok adalah awal musim semi. Bukan kah akan sangat indah jika menyatakan perasaan itu di bawah hamparan bunga sakura yang baru bermekaran. Aku tidak bisa membayangankan lebih jauh lagi.

“Besok tepat saat musim semi datang..”

Haechan menepun bahu ku pelan.

“Good luck!”

****

Hari itu pun datang lebih cepat dari yang ku bayangkan. Sekolah kami kebetulan juga sedang melaksanakan sebuah karnaval musim semi yang sudah biasa di selenggarakan setiap tahun nya.

Orang orang sibuk memeriahkan jadi hampir tidak ada yang berada di kelas untuk duduk duduk atau mengobrol.

Aku merapihkan almamater ku saat orang rang sibuk di lapangan untuk bersenang senang. Di hadapan ku sudah terkapar sebucket bunga mawar merah dan dengan santai aku mengiri mi yeoja itu pesan singkat.

From : Yujin

Baiklah, kita bertemu di depan lab bahasa. Kebetulan aku sedang berada di lantai 3 saat ini.

 

“Sedang apa dia?- ah aku tidak peduli. Seperti nya aku harus bersiap lagi..”

Cklek.

“Mark hyung..”

Ternyata Haechan.

“Kau masih disini?? Aku melihat Yujin yang sudah menaikki tangga menuju sini.. ingat! Pajak jadian untuk ku lebih besar. Arraseo?”

Aku mengacungkan ibu jari ku dan anak itu pun pergi dari sana. Ku sembunyikan sebucket red rose itu di balin punggung ku dan mulai berjalan keluar kelas.

Sepanjang jalan aku benar benar bisa mendengar jelas detak jantung ku yang berdebar tanpa kontrol. Aku menghela nafas berkali kali walau aku tau aku akan jatuh kaku di hadapan nya.

Namun baru sampai di lab kimia tak jauh dari basecamp aku terkejut bukan main,

Kami berpapasan.

“Mark..”

“Kau mengejutkan ku..” cicit ku.

Dia tertawa lalu kembali menatap ku.

“Wae? Ada yang kau ingin tunjukkan??” Katanya penuh selidik.

Aku menelan saliva ku berkali kali, degupan ku berdebar 2 kali lebih cepat. Aku benar benar di buat blank hanya karena ia menatap ku dan bertanya apa yang mau aku tunjukkan berkali kali.

“A-anu..”

“Ne? Jebal. Aku sudah di tunggu..-“

Cklek.

“Kajja!”

1 detik..
Aku melihat Taeyong hyung keluar dari lab kimia secara tiba tiba

2 detik..
Pandangan ku beralih pada tangan nya yang menggenggam pergelangan tangan Yujin.

3 detik..
Perasaan ku mulai tidak di katakan baik baik saja.

“O- Mark? Apa yang kau lakukan??”

Aku meremas erat tangkai bucket yang kungenggam di balik tubuh ku. Sampai sampai aku merasakan duri red rose itu menyakiti sekitar area jemari ku.

Aku masih diam dan menatap kedua nya bergantian.

“Mark-a, kau tadi ingin menunjukan apa padaku?”

“Woah- Chagi, kau mengenal sahabat ku? kalian sudah saling mengenal?”

Kini aku benar tidak baik baik saja.

Seperti ada ratusan jarum yang menyuntik ku, menuangkan racun yang membuat ku tidak dapat berkata kata saat itu juga. Aku bungkam, seperti orang bisu yang benar benar tidak bisa mengatakan apapun. Lidah ku kelu bahkan saat Taeyong hyung merangkul yujin tepat di depan mata ku.

Aku semakin mengeratkan genggaman ku pada bucket yang ku rasa bagian bawah tangkai nya sudah tak beraturan karena aku genggam terlalu kuat. Lutut ku lemas saat Yujin malah menggamit lengan hyung ku sendiri.

“Kalian..-“

“A~ jangan bilang yang lain dulu. Hanya kau yang tau. Arraseo? Nanti malam saat acara karnaval night disini. Aku akan mengumumkan hubungan ku dengn Yujin..”

Hyung, boleh aku memukul mu saat ini juga?

Aku tertawa hambar.

“Chukkae..”

Hanya itu yang bisa ku katakan. Bahkan aku tidak bisa melihat Yujin untuk sedetik saja. Rasanya semakin sakit karena tau ternyata Taeyong hyung lebih dulu mendapatkan yeoja yang baru ku sayang beberapa minggu terakhir ini.

“Apa- kau tidak jadi menunjukan..-“

“Anio, itu tidak penting.” Potong ku cepat.

Ku lihat sekilas raut wajah Yujin berubah saat itu juga.

“Baiklah. Kami pergi dulu. Ne?”

Aku menatap nanar kedua punggung sejoli yang hilang di balik koridor.
Sedetik selanjutnya aku memegang dada ku dan membuang bucket itu asal. Aku duduk bersandar di pintu lab- dan mengacak rambut ku kasar.

“Waeyo hyung? Kau yang memberi nasihat pada ku dan kau yang merebut nya. Poor me..”

Seakan akan menertawai ku- reruntuhan bunga sakura yang terkena angin itu berlalu lalang di depan ku.

Aku hanya bisa mengaduh terus menerus, sungguh bodoh nya aku tidak membiarkan diriku untuk menyapa nya dari awal. Aku menahan diri untuk dekat dengan nya. Aku merasa benar benar seperti pecundang saat ini.

Aku tidak pernah ingin menyalahkan siapapun disini, namun aku terlalu kecewa dengan diri ku sendiri.

“Mark hyung, Gwaenchana?”

-The End-

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Spring Tears (Oneshot)

  1. Mark!!!! jangan sedih.. Udah sini sama noona aja XD

    Fictionnya bagus 👍 kyaaaa suka deh 😆 keep writing author… kutunggu fiction selanjutnya 😀

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s