[NCTFFI Freelance] 16 Years Old and Still Counting (Ficlet)

16-years-old-and-still-counting-na-jaemin-x-lee-jeno

16 Years Old and Still Counting

Na Jaemin as Evan Na x Lee Jeno as Adrian Lee (NCT)

Other cast :

  • Na Jaehee, Bianca Parker, Janice Matthews, Gabriel Edwards, Timothy Gray (OC)

Friendship || Rate : T || Ficlet

Based on Divergent novel by Veronica Roth

 

All artist cast belong to God, family, agency

Divergent OCs belong to Veronica Roth

 

I only own the OC and story

 

babyneukdae_61 storyline

 

“Kita benar-benar seorang Dauntless sekarang, Jaemin,” ujar Jeno, sahabatku. “Tak dapat kusangka kita dapat menyelesaikan inisiasi,” lanjutnya.

Aku mengalihkan atensiku kepada Jeno. Aku tersenyum mendengar perkataannya. Benar, kami seorang Dauntless sekarang.

Aku pun tidak menyangka kami dapat menyelesaikan tahap inisiasi. Namun aku percaya semua itu terjadi karena kami konsisten dengan pilihan kami. Meskipun kami tahu, meninggalkan faksi kami yang lama bukanlah hal yang tak punya risiko.

“Benar, tak terasa kita telah melewati 10 minggu itu dengan baik,” jawabku.

Jeno tertawa kecil. “Dan persahabatan kita dapat berjalan dengan lancar sekarang,” ujarnya.

Aku teringat saat pertama kali aku bertemu dengannya di sekolah. Saat itu aku masih mengenakan jubah Abnegationku, dan ia masih sibuk dengan buku dan kacamata baca yang bertengger di pangkal hidungnya. Sebagai seorang Erudite, kehidupan Jeno tak pernah lepas dari buku dan ilmu pengetahuan.

Kami bertemu untuk pertama kalinya di kelas Sejarah Faksi, 2 tahun yang lalu. Pada saat jam pelajaran Sejarah Faksi berakhir, Jeno tengah sibuk mencari bukunya yang hilang. Aku yang merasa kasihan pun membantunya mencarinya. Saat itu ia benar-benar berterima kasih kepadaku. Baru kali ini aku menemukan seorang Erudite yang sungguh menghargai seorang Abnegation. Dan seiring waktu berjalan, kami menjadi sahabat karib, namun orang tua kami melarang kami untuk menjadi lebih dekat satu sama lain, karena pada saat itu Abnegation dan Erudite berseteru.

Pada saat upacara pemilihan, aku meneteskan darah dari tanganku ke batu bara Dauntless, begitu juga Jeno. Aku tak menyangka bahwa kami akan memilih faksi yang sama.

Aku pun mengakhiri ingatan kilas balikku, lalu menoleh ke arah Jeno.

“Mungkin karena kita mempunyai jiwa keberanian Dauntless yang membuat kita bertemu di faksi ini,” ujarku.

Yeah, lagipula aku sudah bosan dengan ilmu pengetahuan,” jawab Jeno menimpali perkataanku.

Sebenarnya di lubuk hatiku, aku masih memikirkan orang tuaku dan Kak Jaehee, apakah mereka kecewa kepadaku karena aku meninggalkan faksi dan rumah tempat aku dibesarkan. Aku merasa seperti seorang penghianat Abnegation. Tiap saat aku mengingat hal itu, aku akan merasa sedih dan bersalah. Aku tak yakin mereka akan mengunjungiku di Hari Kunjungan nanti.

“Jaemin? Are you okay?” ucapan Jeno membuyarkan lamunanku.

I’m okay. I’m just remembering my family,” jawabku sembari menyunggingkan senyumku.

“Tidak apa-apa, Jaemin. Tak ada salahnya kau mengingat keluargamu. Kau memang bukan bagian dari Abnegation lagi. Tetapi bagaimanapun juga, kau punya keluarga,” ujar Jeno menghiburku.

Thanks, Jeno. Oh, omong-omong bagaimana dengan luka memarmu?” tiba-tiba aku teringat akan luka memar di wajah Jeno, hasil dari pertarungan fisik saat inisiasi. Saat itu aku mengalahkannya, dan di saat itu juga aku merasa sangat bersalah. Jiwa Abnegation-ku mendominasiku saat mengingat kejadian itu.

“Sudah lebih baik. Sebentar lagi akan sembuh,kok,” jawabnya.

Melihatku yang hanya terdiam, ia menepuk kepalaku, “Sudah, jangan merasa bersalah. Seorang Dauntless pasti akan mendapatkan luka memar seperti ini,” ujarnya.

Tak lama kemudian, Bianca, Janice, Gabriel dan Timothy pun menghampiri kami. Mereka adalah teman-teman kami, sesama anggota pindahan.

Hey guys, what’s going on?” ujar Gabriel yang merangkul pundakku.

Nothing, hanya menikmati keindahan kota,” jawabku.

“Bagaimana kalau kita pergi membuat tattoo? Untuk merayakan diterimanya kita di Dauntless,” ujar Bianca, yang ditanggapi dengan anggukan dari Janice, Gabriel dan Timothy.

“Bagaimana dengan kalian, Evan, Adrian?” tanya Timothy.

Evan adalah nama baruku di Dauntless. Adrian adalah nama baru Jeno. Kami menggunakan nama itu sebagai identitas baru kami sebagai seorang Dauntless. Namun, kami berdua masih menggunakan nama asli kami untuk memanggil satu sama lain.

Aku dan Jeno mengangguk pertanda setuju.

“Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, kita pergi sekarang!” ujar Janice.

Kami berenam pun meninggalkan ujung tebing tempat kami berkumpul tadi, kemudian berlari ke pusat daerah Dauntless.

Sambil berlari, Jeno bertanya kepadaku.

“Sampai umur berapakah kita akan melakukan hal-hal seperti ini bersama?”

Aku tersenyum miring.

I don’t know. Tetapi kita dapat menghitung dari 16,” ujarku.

Ya. 16 tahun. Usia saat kami memilih Dauntless, mengikuti inisiasi Dauntless, dan diterima sebagai Dauntless. Masa-masa Dauntless kami dimulai dari sini.

FIN

Kyaaaaa akhirnya jadi juga ff Jaemin-Jeno nyaa

Aku dapet inspirasi dari novel Divergent kkkk~

Yang belom tau novel ini coba deh baca #promosi -_- :v

Please review like and comment this amateur fiction >,< Makasih udah mampir xD

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s