[Ficlet] Between Coffee

between-coffee

Between Coffee

a ficlet by Jane Doe

Starring [NCT’s] Moon Taeil & [OC’s] Han Jisun
Genre: Romance and Fluff | Labeled as General
Plot and OC are mine!

_ _ _

[Han Jisun’s Side]

Tak ada yang lebih baik dari senyuman manis miliknya serta secangkir caramel macchiato.

_ _ _

 

Layaknya sebuah rutinitas harian, sepasang kaki itu melangkah memasuki cafe. Dentingan lonceng di pintu menjadi ucapan selamat datang baginya, menyisakan getaran di setiap langkah kecil yang ia buat. Tak mau membuang waktu, ia bergegas melakukan hal yang harus ia lakukan. Menebar senyum sekilas pada pelayan cafe, lalu mengambil bangku agak jauh di seberang—di sudut cafe—tempat kesukaannya, seraya memesan secangkir caramel macchiato. Bagian terpenting yang tak boleh terlewati.

Sepasang manik kecokelatan bergerak risau menelusuri sudut ruangan. Mencoba mencari sesuatu yang menjadi kebutuhan bagi matanya—dan juga kebutuhan hatinya. Hingga obsidian miliknya beradu dengan siluet sosok yang belakangan ini membabi buta mengeroyok perasannya, tanpa sedikitpun memberinya celah untuk bernafas lega.

Gadis bersurai kehitaman itu sibuk mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa menggebu. Jawaban mengapa gadis itu—Han Jisun—ada di sini ialah untuk melihatnya. Pemuda yang akhir-akhir ini sudah menyita seluruh perhatian, waktu, serta hatinya.

Jisun menyesap caramel macchiato yang kini telah tersaji di hadapannya. Dwimaniknya masih terpaku pada sosok yang kini tengah sibuk berkutat dengan kamera SLR di tangannya, sambil sesekali menikmati—entah apa—yang ia pesan.

Dalam balutan hoodie monokromatis membuat pemuda itu semakin terlihat sempurna. Bagai sebuah kaleidoskop yang begitu membingungkan dan menyilaukan, mampu menyeret Jisun ke alam bawah sadar untuk berkhayal sejenak.

Tak butuh waktu lama bagi Jisun untuk merumuskan bagaimana gadis itu mengagumi sosok yang bernama Moon Taeil—yang ia ketahui dari temannya yang kebetulan bekerja di cafe tersebut. Jisun hanya perlu melihat Taeil selama 15 menit dalam sehari. Dan kemudian ia—Jisun—yakin hal itu bisa membuat hatinya bergemuruh hebat hingga esok hari.

Jisun terkesiap kala kedua irisnya bersirobok dengan sepasang manik hitam milik pemuda tersebut. Frekuensi jantunya bertambah cepat seiring dengan aliran darah yang mendesir menuju wajahnya, membuat semburat kemerahan di kedua pipi ketika seulas senyum itu terukir di paras menawan tanpa cela.

Tanpa tedeng alih-alih, Jisun melampiaskan rasa malu yang tiba-tiba menyergapnya pada secangkir caramel macchiato yang mulai mendingin termakan waktu. Sekarang ia menyadari satu hal. Tak butuh jutaan alasan untuk bahagia. Ia hanya perlu duduk di cafe, dan menikmati senyuman manis pemuda tersebut—semanis caramel macchiato kesukaannya.

.

.

_ _ _

[Moon Taeil’s Side]

Sosok itu benar-benar candu baginya.

_ _ _

Sudah kesekian kalinya ia melakukan hal gila di café kecil tersebut. Harus diakui bahwa ia—Moon Taeil—acap kali melakukan sesuatu di luar batas kewajaran. Namun menjadi segila ini merupakan hal yang tak dapat ia sangka. Menghabiskan sepersekian waktu dalam hitungan hari—hanya untuk sekedar menikmati secangkir cappuccino chiaro.

Hanya karena seorang gadis yang berlalu lalang meninggalkan kesan menjulang—menunjukkan sisi malaikatnya—yang pada akhirnya hanya membuat Taeil semakin kecanduan. Seperti dirinya sudah kecanduan pada cappuccino chiaro.

Gadis bernama Han Jisun. Taeil mengetahuinya seminggu lalu saat dwinamiknya tak sengaja mengangkap badge name di seragam gadis itu. Han Jisun, nama yang indah.

Entah ini sudah jadi kali keberapa mereka bertemu di café yang sama. Lanyaknya sebuah kebiasaan. Berkunjung di waktu yang sama, memesan secangkir minuman yang mereka sukai, bahkan tak hanya itu. Seringkali dua ulas senyuman tergurat saat manik mereka bertemu dalam satu titik yang melambungkan.

Ini gila, benar-benar di luar kendali. Taeil merasa ada yang tak beres dengan hatinya. Dan lihat, logikanya pun tak mampu bersua ketika tangannya begitu saja menekan tombol SLR yang ia bawa untuk mengabadikan paras cantik nan menawan milik si gadis.

Bahkan dari layar kecil SLR-nya, Taeil masih dapat melihat pesona yang mengagumkan. Satu hal yang tidak ia mengerti akan cinta. Mengapa di setiap ia coba sangkal, hanya membuat pemuda bersurai hitam itu semakin terseret ke dalamnya.

Sejenak, Taeil mulai menggeru imajinasi hanya karena sebuah pemandangan nyata yang tercipta menjadi sebuah melodi beraturan tepat ketika obsidian mereka kembali bertemu. Menciptakan sebuah fantasi liar yang terlintas di benaknya.

Tidak! Taeil benar tergila-gila oleh gadis itu. Senyuman yang ia tunjukkan menoreh seberkas kesan mendalam. Menukik keras menghujam hatinya.

Jemari tangannya yang panjang berusaha meraih secangkir cappuccino chiaro yang sedari tadi belum sempat ia sentuh—mencoba meredam degup jantungnya yang semakin menjadi. Pemuda itu mengernyit kendati indera pengecapnya merasakan cappuccino chiaro tersebut. Ia tidak dapat merasakan rasa manis yang biasa ia dapatkan dari cairan kecokelatan itu. Apa lidahnya kini sudah tidak berfungsi dengan baik? Atau, yang paling sederhana, senyuman manis Jisun mengalahkan rasa manis dari cappuccino chiaro miliknya.

Rupanya Taeil telah terhanyut dengan kekaguman tanpa batas pada seorang Han Jisun.

.

.

.

-fin

Advertisements

One thought on “[Ficlet] Between Coffee

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s