[Vignette-Mix] That Teacher

006a44bf66bcc6a67cedb53c2812dab3

That Teacher

A fiction by Angela Ranee; Angelina Triaf; ayshry; IRISH

[NCT] Ji Hansol

Genre: School-life, Comedy, Sci-fi, Fantasy | Duration: 4 Vignettes | Rating: PG

For our beloved Ji Hansol

~~~

[1]

Kalau saja, di dunia ini tidak ada teknologi klonning, mungkin segalanya akan jadi lebih baik. Ugh, namaku Noeul omong-omong. Aku adalah seorang murid sekolah menengah atas, tepatnya di tahun ketiga.

Jika kalian pikir sekolah di zaman ini masih sama dengan sekolah di zaman dulu, kalian salah total. Sungguh. Dan juga, demi Tuhan. Siapa sih manusia konyol di zaman dulu yang bercita-cita agar manusia bisa diklonning?

Apa kalian tidak tahu bagaimana membosankannya sekolah kami?

Hanya ada satu orang guru di sekolah ini. Ji Hansol, namanya. Tapi, ada sekitar  empat puluh klonning dari Ji Hansol yang ada di sekolah ini. Bayangkan, sekolah yang luar biasa membosankan bukan?

Dari pagi sampai sore, mulai dari pelajaran Matematika, Sastra, Sejarah, semuanya diajarkan oleh Hansol! Hanya saja, dalam wujud klonning yang berbeda. Duh, memang sih Ji Hansol itu tampan—kelewat tampan malah—dan saat pertama kali masuk di sekolah ini, aku pikir punya guru setampan Hansol itu akan menyenangkan.

Menyenangkan. Hah. Yang ada sekarang aku merasa mual tiap kali membayangkan wajah Hansol. Dia ada di mana-mana, kawan. Hansol ada di setiap kelas, mulai dari kelas satu sampai tiga. Hansol juga ada di ruang guru, di ruang kepala sekolah. Hansol juga ada di koridor-koridor sekolah sebagai petugas kebersihan. Bahkan, Hansol juga ada di kantin. Dan kalian tahu apa yang lebih menyenangkan lagi?

Satu orang Hansol ada di masing-masing kelas, sebagai ketua kelas sekaligus yang mengawasi kerapihan dan kebersihan kelas, juga ketertiban proses belajar mengajar. Hebat bukan? Kenapa tidak sekalian sekolah ini diubah saja namanya menjadi Hansol Academy?

Bayangkan bagaimana muaknya aku karena selama sebelas jam dalam sehari harus melihat Hansol sejauh mata memandang. Sekali lagi, dia tampan. Sungguh, Ji Hansol itu tampan.  Tapi kalau terlalu sering melihatnya juga aku bisa merasa mual, mungkin kalau aku bertahan lebih lama lagi di sekolah ini, aku akan menderita phobia terhadap Hansol.

“Hai, Noeul.” aku terperanjat saat sebuah sapaan terdengar. Bukannya aku jarang disapa oleh teman-temanku, tapi suara ini terlalu familiar.

Dia pasti, Hansol.

“Oh, ya. Hai.” aku melambai kecil pada salah satu sosk Hansol dalam versi yang tidak lagi bisa kudeskripsikan dengan benar. Semua Hansol terlihat sama persis, ugh.

Umm, seragammu tidak rapi.” ia kemudian berucap.

Aku memicingkan mata mendengar ucapannya. Sejak kapan dia peduli pada rapi tidaknya seragam? Setahuku, hanya Hansol yang ada di kelas-kelas saja yang peduli pada kerapihan.

“Seragammu tidak rapi, Noeul.”

Aw!” aku mengaduh saat penggaris alumunium yang ada di tangan Hansol sekarang ia gunakan untuk menepuk punggungku. Dari penampilannya, dia jelas salah satu guru. Tapi guru apa? Kenapa tingkah lakunya sekarang begitu aneh? Mencurigakan, ia sungguh mencurigakan.

Ssaem! Kau akan kemana?” jarang-jarang berhadapan dengan Hansol yang tidak pelit bicara seperti ini. Kubawa tungkai ini melangkah mengikuti Hansol sementara ia sendiri hanya melirikku sekilas.

“Ke ruang guru, tentu saja.” ia menyahut dengan ketus.

Merasa belum menemukan bahan pembicaraan yang menarik, aku akhirnya hanya mengikuti Hansol dalam diam. Ia sendiri melirik sesekali, menaruh curiga pada kegiatanku.

Ya, memangnya siapa yang mau repot-repot mengekori Hansol?

Ssaem! Lihat kami!” sebuah seruan terdengar. Well, kami sekarang tengah melewati kelas tiga, jurusan ilmu sosial. Dan aku tidak bisa untuk menahan tawaku ketika kudapati dua orang murid laki-laki—namanya Yuta, dan Ten kalau tidak salah—sedang bergelantungan di kusen pintu, berdua. Menjijikkan sih, tapi di saat yang bersamaan juga terlihat menggelikan.

“Yuta, Ten, turun.” hanya kalimat itu yang meluncur sebagai komentar dari Hansol. Hanya perintah untuk turun saja. Sementara dua murid itu mengabaikannya. Mereka sibuk terkekeh geli dan kembali bergelantungan layaknya anak monyet.

Ssaem, mereka lucu, ya?” ucapku kembali berusaha membuka konversasi dengan Hansol yang identitasnya masih belum kuketahui ini—maksudku, aku tidak tahu dia guru pelajaran apa. Semua Hansol tampak sama, ingat?

“Ya, mereka lucu.” Hansol menyahutiku singkat, tanpa memandang. Sementara ia mempercepat langkahnya seolah ingin meninggalkanku.

Herannya, tungkai bodoh ini justru melangkah lebih cepat lagi, benar-benar berniat mengekori Hansol hanya untuk mengetahui identitasnya saja.

“Tapi ssaem tidak tertawa melihat mereka.” ucapku membuat Hansol terhenti, ia melirikku sekilas dengan alis bertaut. “Kau juga lucu, dan aku tidak tertawa saat melihatmu, Noeul.”

Oh! Lihat! Hansol berpikir bahwa aku—lucu?

“Lucu? Apa ssaem pikir aku lucu?” sebenarnya, apa ia ingin mengatakan bahwa aku terlihat menggemaskan? Tapi ia salah mengutarakannya dengan perkataan lucu?

“Ya, Noeul. Kau juga sangat lucu. Terutama saat kau tersenyum atau tertawa.”

Ah, sial. Hansol macam apa yang aku hadapi sekarang? Mengapa ia bisa mengucapkan sesuatu yang sangat cheesy seperti ini?

“Memangnya, apa lucunya diriku, ssaem?” tanyaku makin penasaran.

Hansol mengerjap pelan, sekon kemudian, bibirnya membuka untuk menjawab pertanyaanku. “Kau sangat lucu karena setiap kau tersenyum dan tertawa, pipimu akan membulat. Persis seperti globe yang ada di ruanganku.”

Pipi?

“H-Hey! Apa ssaem bilang kalau aku—” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Hansol sudah melangkah pergi—dengan teramat cepat.

Sekarang, aku berdiri dengan kebingungan. Hansol baru saja memujiku, atau malah menghinaku? Mengapa ia menyamakan pipiku dengan globe? Sialan. Globe? Benda bulat yang—

Ah, sudahlah. Untuk apa berdebat dengan Hansol? Sekarang bisa kuyakini, dia pasti guru Geografi. Lihat saja bagaimana telitinya ia menyamakan pipiku dengan globe. Well, setidaknya aku juga tahu Hansol—dalam versi guru Geografi—menganggapku lucu.

~~~

[2]

Kalau bisa, ingin rasanya Haseul bolos sekolah hari ini. Jika bukan karena ulangan Fisika yang ia lupakan—sehingga tak sempat belajar—juga tentang tugas Geografi yang belum diselesaikan, maka ia akan berpura-pura sakit agar tidak harus pergi ke sekolah. Namun apa daya, jangankan menyuarakan keinginan, si gadis kini bahkan sudah berada di dalam kelas dan duduk di bangku miliknya.

Beberapa menit lagi bel akan berbunyi dan Haseul masih sibuk berkutat dengan sisa tugas mata pelajaran Geografi yang tersisa, tentu saja dengan ditemani contekan. Oh, terima kasih pada Meredith— teman sebangkunya—yang dengan senang hati membiarkannya menyalin tugas meski sebelumnya mendapatkan rentetan nasihat yang kiranya lebih menyebalkan daripada omelan sang kakak.

Sebenarnya, keinginan Haseul untuk membolos tidak benar-benar ia tanamkan dalam pikiran, lantaran setahunya sang kakak akan turun lapangan dan menjadi guru di tempatnya menimba ilmu. Well, sesungguhnya Haseul sangat penasaran bagaimana sosok kakaknya jika berada di hadapan para murid—sepertinya. Tetapi ia tak banyak berharap. Pasalnya, ketika gadis itu bertanya tentang kelas yang akan dimasuki, laki-laki yang berjarak enam tahun darinya itu masih tak mau menjawab—oh, lebih tepatnya ia pun tidak tahu karena pembagian kelas akan dilakukan saat hari pertama ia mulai menjalani praktikum kuliahnya.

Mari lupakan sejenak tentang Hansol dan kembali fokus pada tugas Geografi yang—

“Hei, kudengar akan ada guru magang yang menggantikan Pak Kim pada pelajaran Geografi.”

Haseul lekas melempar penanya ketika Meredith datang membawa kabar yang entah bagaimana harus ia tanggapi. Haruskah ia bahagia atau sedih lantaran tugas yang terburu-buru ia selesaikan nyatanya tidak akan dikumpulkan hari ini.

“Sial. Kenapa baru mengatakannya sekarang, huh?”

“Aku juga baru tahu saat kembali dari ruang guru tadi, mengambil absensi. Hei, untuk jaga-jaga, selesaikan saja tugas Pak Kim, siapa tahu ia meminta guru magang itu untuk mengumpulkan tugasnya.”

Oh, benar juga yang dikatakan oleh Meredith barusan. Maka, Haseul lekas mengambil kembali pena yang sempat ia lempar sembarangan lantas mulai menyalin tugas yang hampir selesai.

Haseul menyelesaikan contek-menconteknya ketika bel tanda masuk berbunyi. Kebetulan sekali pelajaran pertama adalah Geografi dan ia benar-benar merasa lega setelah tugasnya selesai dengan sempurna. Merapikan meja lantas duduk dengan tenang, tak bisa dipungkiri jika ia tak sabar untuk melihat siapakah guru magang yang akan akan mengajar pagi hari ini.

Ketika maniknya masih sibuk mengamati awan yang bergelantungan di langit dari jendela, suara derap kaki memasuki ruangan membuat keadaan yang semula ribut menjadi senyap seketika. Seluruh mata kini tertuju pada sosok pemuda di depan sana, tak ketinggalan juga sepasang mata milik Haseul yang kini terbelalak lebar. Oh, hampir saja gadis itu menyemburkan tawa jika ia tak cepat-cepat membekap mulut dengan kedua tanganya. Hm, pastinya kalian tahu, bukan, apa yang membuat Haseul setengah kegirangan begitu?

Well, Ji Hansol; kakaknya tengah berdiri dengan senyum menawan di depan sana.

Mata mereka sempat bertubrukan untuk beberapa sekon dan ada sesuatu yang sepertinya hendak Hansol katakan pada sang adik. Ya, Haseul mengerti. Pasti kakaknya itu tak ingin teman-temannya mengetahui hubungan mereka dan Haseul pun memilih untuk diam dan mencoba bersikap sewajarnya.

“Selamat pagi. Mulai sekarang dan dua bulan ke depan, saya akan menggantikan Pak Kim di mata pelajaran Geografi. Oh, nama saya Ji Hansol. Silakan panggil saja Pak Ji.”

Perkenalan yang terlalu kuno, pikir Haseul.

“Oh, Pak Kim memintaku untuk mengumpulkan tugas yang ia berikan minggu lalu. Tolong ketua kelas bantu saya mengumpulkan tugas.”

Haseul mendesah. Untung saja ia mendengarkan kata-kata Meredith tadi, jika tidak—

“Haseul-a, Pak Ji ganteng ya?”

“Ha? O-oh, iya. Kurasa.”

“Hei, sejak kapan seleramu tentang lelaki berkurang gitu, huh? Coba kau lihat, wajahnya terlalu tampan untuk menjadi seorang guru. Kurasa bergabung dengan idol grup lebih cocok ketimbang menjadi seorang pengajar.”

Haseul tak menanggapi, hanya anggukan kecil yang ia berikan pada sang kawan. Bukannya apa-apa, ia memang tak pernah memperkenalkan kakaknya pada siapa pun atau sekadar membicarakannya dengan teman-teman. Haseul bukan tipe orang yang suka mengumbar keluarganya.

Meski mencoba bersikap seolah tak mengenal sosok di depan sana, namun Haseul tetap saja tak mampu menahan tawanya. Bahkan, ketika Hansol mulai berlagak seperti seorang pengajar—menyuruh murid-muridnya membuka halaman sekian dari buku paket lantas mulai menerangkan pelajaran—terkadang tawa kecil terlepas begitu saja dan ketika Haseul tersadar, pasti tatapan Hansol sudah terarah padanya.

Pembahasan hari ini adalah tentang pertumbuhan penduduk yang makin hari kian besar. Bahkan di beberapa tempat saja angka kematian dan kelahiran sangat tidak seimbang, sehingga berdampak pada jumlah penduduk yang terus-terusan memadat.

Sejatinya, Haseul tak terlalu menyukai pelajaran Geografi lantaran terlalu banyak kata-kata yang terkadang memusingkan dan ia tak habis pikir kenapa kakaknya bisa mengambil jurusan pendidikan Geografi di jenjang perkuliahan. Kalau dia, mungkin akan lebih memilih hal-hal yang jauh dari hapalan juga—

“Hei, kamu yang duduk di sudut sana.”

Lamunan Haseul lekas buyar ketika Hansol jelas-jelas mengarahkan telunjuk ke arahnya. Sial. Apa yang hendak pemuda itu lakukan padanya, huh? Ditambah lagi ia tak sempat mendengarkan penjelasan dan malah melamun.

“Saya, Pak?”

“Iya kamu. Siapa lagi, huh? Dinding?”

Oke, sepertinya Hansol akan minta digebuk sepulang sekolah nanti.

“Bisa ulangi kembali apa yang baru saja jelaskan tadi?”

Sial. Haseul benar-benar tak tahu apa yang baru saja Hansol komat-kamitkan di depan sana. Kalau sudah seperti ini, apa yang harus dilakukannya, huh?

“Kamu tidak mendengarkan pelajaran saya, ya?”

Susah payah Haseul memasang wajah tenang pun seolah merasa bersalah. Awas saja nanti kalau sudah pulang, habis kau, Ji Hansol!

 

“Kalau begitu, coba kamu yang di sampingnya.”

Kali ini Hansol menunjuk Meredith yang duduk di sebelah Haseul. Dan tentu saja, gadis peringkat teratas itu bisa dengan lancar mengulang apa yang Hansol jelaskan tadi. Menyebalkan memang, tapi setidaknya Haseul sedikit terbantu dengan jawaban yang dilontarkan Meredith barusan.

Merasa puas dengan jawaban yang diberikan, Hansol kini merajut langkah mendekati dua bangku yang bersebelahan tersebut. Memasang wajah manis juga senyum menawan, ia pun menumpukan tangannya pada meja milik Meredith lantas melontarkan beberapa kalimat yang terdengar menyebalkan—bagi Haseul.

“Meredith Tuan, benar, bukan? Juara kelas sekaligus juara umum? Gadis yang pintar. Berbeda sekali dengan gadis disebelahmu itu.”

“O-oh, iya, Pak. Terima kasih.”

Tak dapat dipungkiri, Meredith tersipu ketika Hansol berada sedekat itu dengannya. Jika saja ini bukan di kelas, mungkin Haseul sudah menghadiahkan pukulan pada kepala sang kakak yang tiba-tiba menjadi sangat menyebalkan tersebut.

“Lain kali, perhatikan pelajaranku. Mengerti?”

Haseul mengangguk malas, sedang Hansol mengerling diam-diam sebagai pertanda kemenangannya.

“Oh, Meredith!”

“Ya?”

“Berhubung kau paham dengan pembelajaran yang kusampaikan tadi, jadi … hm, nanti kalau kita punya anak nggak usah banyak-banyak, ya? Biar pertumbuhan penduduk tidak semakin padat.”

Usai kata-kata itu menguar, Haseul lekas berdiri sembari menggebrak meja dengan keras. Semua mata kini tertuju padanya yang—

“OI, JI HANSOL! BERHENTI BERSIKAP MENYEBALKAN ATAU KUADUKAN KAU MENGGOMBALI GADIS LAIN PADA KAK JOOEUN! DASAR KAKAK MESUM!”

Oops, sepertinya Haseul kelepasan dan membiarkan seisi kelas tahu tentang hubungannya dengan seorang Ji Hansol.

~~~

[3]

Sejak awal Ji Hansol menginjakkan kaki di dalam ruang kelasnya, Na Jaemin tahu ada sesuatu yang pria itu sembunyikan. Pemuda yang usianya baru menginjak dua puluh dua tahun tersebut memang baru menyandang gelar sarjana beberapa bulan silam, dan hanya akan mengajar di sekolah Jaemin selama tiga bulan ke depan, menggantikan Han Songsaenim yang sedang dalam masa cuti melahirkan.

Di hari pertamanya mengajar, Hansol Songsaenim membawa sebuah kotak besar berisi potongan-potongan dark chocolate yang ia bagikan kepada masing-masing murid di dalam kelas, termasuk Jaemin. Seminggu kemudian, ia membawa lollipop untuk Jaemin dan teman-temannya. Selama sebulan pertama Hansol Songsaenim mengajar, minimal seminggu sekali ia akan membawakan manisan bagi para muridnya. Satu hal yang sulit untuk Jaemin pahami karena— Hei, mereka adalah murid SMA, bukan murid taman kanak-kanak yang harus dibujuk sedemikian rupa agar mau belajar berhitung! Tanpa perlu Hansol Songsaenim membawakan mereka cokelat atau permen pun mereka bakal tetap belajar matematika meski malas-malasan.

Bukan hanya itu, pada saat ulangan, anehnya tidak ada satu pun yang mendapat nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal. Padahal menurut Jaemin sendiri, soal yang Hansol Songsaenim buat terbilang sulit.

“Menurutmu ini ada hubungannya dengan manisan yang Hansol Songsaenim bagikan setiap minggu?” tanya Donghyuk sembari menimang-nimang candy cane yang pria itu berikan tadi sebagai “hadiah” karena seluruh muridnya tuntas dalam ulangan matematika.

“Yang benar saja,” Jaemin mendengus geli. “Memangnya dia penyihir?”

“Entahlah, kita mana tahu kalau makhluk-makhluk semacam itu benar-benar ada atau tidak,” Donghyuk mengendikkan bahu.

“Ah, bukan itu masalah sebenarnya buatku,” Jaemin mengibaskan tangan. “Permen-permen ini bisa bikin gula darahku naik dan terkena penyakit, tahu. Bayangkan saja selama tiga bulan setiap minggunya kita diberi permen, lama-lama aku bisa kena diabetes di usia muda.”

“Sebentar, soal penyihir itu tadi, aku jadi ingat dongeng yang pernah mendiang nenekku ceritakan kepadaku,” sela Jeno yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. “Katanya ada penyihir-penyihir yang baik hati dan menggunakan mantranya untuk berbagi kebaikan kepada anak-anak. Biasanya mereka akan membagikan manisan yang sudah dimantrai dengan mantra yang membuat anak-anak menjadi semakin rajin belajar, suka menolong, murah senyum, dan lain sebagainya.”

“Kau percaya dengan dongeng itu?” kali ini Jaemin melempar tanya.

“Tidak juga, aku hanya bercerita,” sahut Jeno. “Tapi sepertinya bakal jadi cerita menarik kalau Hansol Songsaenim betulan seorang penyihir.”

Donghyuk terkekeh pelan. “It feels like we live in Hogwarts.”

Don’t you think all of you are a little too old for fairy tales?” timpal Jaemin. “Ayolah, ini tidak masuk akal. Ini sudah tahun 2016, mana ada penyihir hidup di antara kita? Kalaupun ada, cepat atau lambat ia pasti akan kepergok dan jadi buah bibir masyarakat.”

Tidak lagi berminat untuk membahas dongeng isapan jempol yang dirasa kurang masuk akal, remaja itu buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. Toh, selang beberapa hari kemudian, ia mendapatkan sendiri jawaban akan segala pertanyaan yang ia miliki berkaitan dengan Hansol Songsaenim.

Siang itu, Jaemin hendak meminta ulangan matematika susulan kepada Hansol Songsaenim. Seperti biasa, pria muda itu menyambutnya dengan ramah dan hangat, seolah-olah Jaemin adalah adik atau bahkan teman sebayanya sendiri.

“Kau sudah belajar untuk ulangannya?” tanya Hansol Songsaenim sembari mencari lembaran soal untuk Jaemin kerjakan.

“Sudah, Songsaenim,” jawab Jaemin.

“Bisa kutebak, kok,” Hansol Songsaenim menjentikkan jarinya, lantas mengulas senyum simpul. “Kau bahkan belajar materi statistika, yang sebenarnya tidak masuk dalam materi ulangan, bukan?”

Hell, bagaimana bisa ia tahu? “Maaf, bagaimana bisa Anda tahu?”

“You seem like a hardworking person,” jawab Hansol Songsaenim dengan santai. “Oke, ini soalnya. Aku tidak akan menetapkan batasan waktu pengerjaan, tapi sebaiknya kau cepat agar kau tidak pulang ke rumah terlalu sore.”

Sementara Jaemin berkutat dengan soal-soal peluang di hadapannya, sepasang dwimaniknya diam-diam mencuri pandang ke arah Hansol Songsaenim yang tampak sibuk mencatat di atas meja kerjanya. Tampak rumus-rumus yang begitu rumit tertuang di atas lembaran kertas-kertas di sana, yang kalau Jaemin perhatikan sungguh terlihat seperti gabungan dari beberapa rumus yang berbeda.

“Menyiapkan materi selanjutnya, Songsaenim?” tanya Jaemin, sekadar basa-basi untuk memecah keheningan.

“Tentu saja tidak,” Hansol Songsaenim tergelak pelan. “Mana mungkin aku mengajarkan kalian gabungan dari rumus logaritma, aljabar, dan trigonometri?”

Jaemin menanggapinya dengan kekehan pelan, lantas kembali menyibukkan diri dengan dua soal terakhir yang belum terpecahkan. Hansol Songsaenim membereskan tumpukan kertas di hadapannya, lalu berdeham untuk menarik perhatian Jaemin.

“Sepertinya kau sudah tahu banyak,” ucapnya.

“Maaf?”

“Tahu banyak tentang diriku.”

Jaemin berhenti menulis, kemudian mengangkat wajah dan menatap gurunya dengan penuh tanya. Pria itu hanya mengulas senyuman tenang, kemudian melanjutkan,”Sepertinya kau tahu kalau aku bukan guru matematika biasa.”

Jaemin tidak menjawab. Oh, rupanya dongeng tentang makhluk selain manusia itu tidak sepenuhnya bohong. “Maafkan kelancanganku, Songsaenim,” ucap Jaemin.

“Tidak, kau tidak lancang bagiku. Aku menyukai murid yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, omong-omong,” jawab Hansol Songsaenim.

Pria itu merendahkan volume suaranya seolah tengah berbisik, katanya,”I’m a witch.”

Sungguh, Jaemin tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. “Is it a good news or a bad news?”

It depends on how you see it, bisa jadi baik, bisa pula buruk,” jawab Hansol Songsaenim. “Aku seorang penyihir. Sekadar informasi, kami benar-benar ada di dunia meski populasi kami makin sedikit. Kami tidak menggunakan kemampuan kami untuk berbuat jahat, atau melakukan ritual pemujaan kepada setan dan semacamnya. Banyak cara bagi kami untuk membuat mantra. Aku, misalnya, menggunakan rumus matematika.”

Kali ini, Jaemin hanya bisa melempar tatapan heran kepada gurunya. Seorang penyihir menggunakan rumus logaritma untuk membuat mantra? Ha, menarik.

“Aku tidak perlu menjelaskan alasan mengapa aku membagikan manisan kepadamu dan teman-temanmu setiap minggu, ‘kan?” tanya Hansol Songsaenim lagi, disambut anggukan oleh Jaemin. “Bagaimanapun, aku harap kau tidak menceritakannya kepada yang lain.”

“Baik, Songsaenim,” Jaemin mengangguk. Kesunyian kembali meliputi atmosfer ruangan tersebut sementara Jaemin menyelesaikan soal ulangan yang tersisa. Beberapa menit kemudian, lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, dan menyerahkan lembar jawabannya kepada sang guru.

Want some chocolate for reward?” Hansol Songsaenim menawarkan sebelum Jaemin meninggalkan ruangan.

“Tidak, terima kasih, Songsaenim,” tolak Jaemin. “Ini usul pribadiku saja, Songsaenim. Mungkin lain waktu Anda bisa mengaplikasikan mantra Anda di makanan selain manisan. Anda benar-benar berpotensi membuat kami semua terkena diabetes atau obesitas.”

~~~

[4]

Hanyeon tidak pernah takut dengan monster, iblis atau bahkan neraka yang panas sekali pun. Pernah suatu hari Lami menceritakan padanya tentang hantu penunggu pohon sakura di pekarangan neneknya, tapi yang terjadi justru Lami sendiri yang menangis ketakutan lantaran teringat kembali wajah hantu perempuan yang menyeramkan itu.

Ji Hanyeon adalah gadis paling tangguh yang pernah kekasihnya kenal. Tidak takut dengan cacing juga katak, berani memegang ular yang besar bahkan tertawa senang ketika berenang di samping ikan pari ketika sekolahnya mengadakan liburan ke daerah tropis.

Ya, setangguh itu seorang Ji Hanyeon―

“Ayah, dari sekian banyak sekolah di Seoul kenapa kau memilih untuk pindah dinas ke sini?!”

Anak itu kini duduk di pangkuan seorang pria, melingkarkan lengannya di leher orang itu lalu merajuk seperti anak kecil. Matanya memerah namun air matanya tidak bisa keluar. Ia kesal, lebih tepatnya.

Imej tangguh Hanyeon hilang sudah, jika itu berurusan dengan sang ayah.

“Sekolah ini dekat dengan rumah, sayang. Kautahu ‘kan kalau ibumu sudah puluhan kali protes tentang jam pulang malam Ayah yang ekstrem? Ini kesempatan emas untuk bisa membungkam mulut cerewet wanita itu.”

“Salah sendiri kenapa Ayah menikahi Ibu dan bukannya Tante Joo saja.”

Hansol langsung menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar ucapan tidak masuk akal dari anaknya. “Kalau Ayah menikah dengan Tante Joo mungkin kamu akan jadi anak kembar dan Ayah lebih sayang pada kembaranmu itu.”

Oh iya, Tante Joo punya kembaran dan otomatis ada gen kembar dalam dirinya.

 

“Lagi pula, kan sudah Ayah ceritakan berkali-kali, Tante Joo itu terjebak friendzone―”

Satu jemari Hanyeon terangkat, membungkam bibir Hansol telak. “Ya, ya, aku sudah hafal dengan cerita lama itu. Ayah putus dengan Ibu lalu pacaran dengan Tante Joo. Saat Ibu sudah hampir kencan dengan Om Yuta justru kalian yang putus dan Ayah memohon kembali pada Ibu serta Tante Joo yang akhirnya menikah dengan Om Yuta―”

“Wow, wow, bisakah suaramu itu terdengar lebih … santai?”

“Habisnya aku kesal dengan Ayah ketika mendengar cerita itu untuk pertama kalinya! Ayah terlalu plin-plan.”

Yang ada di kepala Hansol hanyalah sejak kapan Hanyeon bisa jadi semirip Solla, istrinya―menjadi pendiam dan selalu bersikap tenang tapi sebenarnya merupakan bom waktu yang mudah meledak jika kesabarannya menyentuh titik akhir.

“Sudahlah, aku tak ingin memperdebatkan kisah cinta kalian yang seperti drama itu. Yang jelas aku tak suka Ayah mengajar di sini, apalagi merahasiakan usiamu sehingga―”

“Permisi, Pak Hansol?”

Buru-buru Hanyeon turun dari pangkuan ayahnya, kembali duduk di kursinya semula dan terdiam saat salah satu guru masuk ke dalam ruangan.

“Oh, Hanyeon? Kau pasti berbuat nakal sampai guru baru saja memanggilmu ke ruangannya.”

“Ya ampun, Pak Taeil, kapan sih aku nakal?”

Tawa terdengar dari kedua orang tua itu, maka Hanyeon memutuskan untuk segera keluar sebelum Pak Taeil lambat laun curiga padanya.

Inilah hidup. Sudah sekitar dua minggu ayahnya, Ji Hansol, menjadi guru Biologi merangkap guru Matematika yang baru. Selama itu pula, hidup Hanyeon hanya dipenuhi dengan obrolan teman-temannya tentang betapa tampannya sang ayah.

Sialnya, Ji Hansol adalah tipe pria yang sangat suka menjahili orang lain. Bayangkan saja, saat perkenalan pertamanya di kelas Hanyeon ia sama sekali tak ingin menyebutkan usia dan statusnya. Tentunya hal itu menimbulkan rasa penasaran yang sangat dari setiap murid―terutama yang perempuan.

Banyak siswa berasumsi bahwa Hansol adalah seorang guru muda di usia akhir dua puluhan, dan tentunya tak ada yang menebak bahwa Hansol sudah menikah.

Hanyeon hanya bungkam, tak ingin merusak momen penasaran teman-temannya dengan berkata di depan kelas dengan lantang seperti, “Teman-teman, Pak Hansol itu adalah ayahku. Marga kami sama, ‘kan? Ia adalah pria tua awal empat puluhan yang telah memiliki seorang istri dan dua anak―abaikan wajahnya yang awet muda itu. Jadi, bisakah kalian tidak lagi membahas soal betapa tampannya ia apalagi berniat untuk menjadi ibu tiriku di kemudian hari?”

Tidak, tentu saja Hanyeon tidak bisa bicara begitu, ‘kan?

“… Han … Jihan!”

“Eh, oh? Kenapa, Jun?”

Pemuda dengan rambut hitam itu memutar bola matanya, memandang Hanyeon dengan jengah. Pasalnya, selama jam kosong ini Hanyeon hanya terdiam di kursinya, tak memedulikan Renjun yang memanggilnya sama sekali.

“Sebentar lagi pelajaran baru, kau sudah mengerjakan tugas Biologi minggu kemarin?”

“Tugas … tugas apa?”

“Ji Hanyeon ….”

Seakan dunianya benar-benar runtuh, bahkan Hanyeon sama sekali tak protes ketika Renjun kesal dan mencubit pipinya dengan gemas. “Hari ini kau kenapa, sayangku?”

“Hidupku hancur, Jun.”

“Hah?”

Terdengar suara langkah kaki di tengah senyapnya kelas mereka. Hansol memasuki kelas dengan senyum paling cemerlang abad ini, membuat para siswinya menahan jeritan lantaran terlalu terpesona.

“Pak Hansol, hari ini kita belajar apa?”

“Pak, tugas minggu kemarin jangan dikumpul dulu, ya? Diskusikan di kelas saja.”

“Pak Hansol sudah makan?”

Pertanyaan terakhir dari Mina membuat satu kelas terdiam sembari meliriknya bersamaan, membuat gadis itu hanya senyum-senyum sendiri karena malu.

“Hari ini kita belajar bab tujuh pasal reproduksi manusia, tugas minggu lalu tetap harus dikumpulkan tapi kupastikan nilai kalian tidak akan lebih buruk dari B walaupun kertas kalian bahkan hanya bertuliskan judulnya saja,” ujar Hansol tanpa jeda sembari membuka buku dan menuliskan sesuatu di papan tulis.

“Dan untuk Mina,” panggilnya dari depan kelas, menatap anak muridnya itu, “Saya sudah makan, terima kasih telah bertanya. Baiklah, kita langsung saja membahas tentang….”

Perkataan Hansol selanjutnya sudah tak digubris oleh murid-muridnya. Hanya ada bisik-bisik dari murid perempuan tentang betapa beruntungnya Mina hari ini.

“Kuperhatikan kau selalu memasang wajah masam setiap Pak Hansol masuk kelas kita. Ada apa?”

Tak salah jika Hanyeon menerima Renjun untuk jadi kekasihnya, pemuda itu menyadari betapa ia tak suka saat ayahnya mengajar di kelas terlebih lagi menjadi bahan pembicaraan oleh hampir seluruh murid perempuan.

“Ia ayahku Jun.”

“Apa?”

“Pak Hansol itu ayahku, Jun. Kau tidak pernah melihatnya di rumah karena sebelum ini ia selalu pulang malam.”

Butuh waktu kiranya satu menit bagi Renjun untuk menyadari hal tersebut. “APA?!”

“Bahaya dari AIDS dapat mengantarkan kalian kepada kemungkinan terburuk yaitu kematian, dan Renjun, dilarang berteriak di kelasku. Apa yang kau bicarakan dengan Jihan sedari tadi hingga kalian tak minat sama sekali untuk memerhatikan pelajaranku?”

Oh tidak….

 

Di luar konteks bahwa Hansol nyatanya kini tengah berjalan menuju keduanya, murid-murid lain kembali berbisik satu sama lain. Bagaimana bisa Hansol tahu bahwa Hanyeon dipanggil dengan nama Jihan? Semua guru tak pernah tahu hal itu selama ini.

“Apa yang tadi kalian bicarakan?”

“Pak Hansol…” Hanyeon menggeram kesal, menatap Hansol dengan tajam.

“Kenapa kalian tak menyimak penjelasan saya? Jihan dan Renjun, kalian―oh … jadi kau yang namanya Renjun?”

Oh tidak … tidak!

 

“Jika saya adalah guru Fisika mungkin kamu akan saya suruh untuk menghafal tabel periodik, tapi sayangnya saya ini guru Biologi, jadi―”

“Ayah!”

Hening.

Hening.

Hening.

Hanyeon terdiam sembari menutup mulutnya, Renjun memasang tampang super aneh dan jangan lupakan Hansol yang hanya bisa terdiam dengan kedua matanya yang berkedip-kedip lantaran bingung.

Tapi tak lama Hansol menyadarkan dirinya, tersenyum kecil lalu menepuk kepala Hanyeon sambil berbisik di telinganya, “Bukan Ayah yang bilang, ya. Jihan, lain kali kendalikan emosimu, oke?”

Hansol mengacak-acak poni anaknya, lalu berjalan kembali menuju papan tulis. “Ya, tugas minggu kemarin silakan kumpulkan ke depan lalu saya akan memberikan kalian tugas lagi, kali ini kerjakan dengan teman sebangku masing-masing. Lakukan riset yang benar, jika ada yang tidak dimengerti kalian bisa langsung tanyakan pada orangtua di rumah, saya yakin orangtua kalian tahu jawabannya.”

Lagi-lagi para murid tak memerhatikan penjelasan Hansol. Tapi bukan karena terpesona, melainkan karena fakta besar yang baru saja terungkap.

Selamat tinggal fantasi atas guru muda tampan, nyatanya ia telah memiliki seorang anak gadis kelas dua SMA.

FIN

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette-Mix] That Teacher

  1. (1) Satu orang Hansol ada di masing-masing kelas, sebagai ketua kelas sekaligus yang mengawasi kerapihan dan kebersihan kelas, juga ketertiban proses belajar mengajar -> Robot ternyata :’v
    (2) Hayoo, bakal diadu Haseul, makanya jangan kegenitan 😂😂😂
    (3) “Ini usul pribadiku saja, Songsaenim. Mungkin lain waktu Anda bisa mengaplikasikan mantra Anda di makanan selain manisan. Anda benar-benar berpotensi membuat kami semua terkena diabetes atau obesitas.” PLIS ANE NGAKAK HARD SAMPE DIBILANG KEWARASAN ANE ILANG!!! 😂😂😂
    (4) se-awet apakah Hansol yang sudah kepala empat itu dikira seorang pria berumur duapuluhan? :’v kuingin meminta rahasia keawetannya mana tau ntar udah jadi nenek2 umur 70 thun disangka baru tiga atau empatpuluhan :v

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s