[Ficlet] Betting

large-3

BETTING

©2016 – thehunlulu

[NCT’s] Mark Lee & [OC’s] Jane Jung — Horror/Ficlet/General

.

Mark tidak kuat lahir dan batin.

***

Jika Jane terlanjur merengek, jangan salahkan Mark jika ia ingin segera lari dari kenyataan; bahwa dirinya tidak memiliki sepersen pun nyali untuk menginjakkan kaki ke dalam rumah hantu. Sejemang berlalu, pemuda Lee tersebut kalut dalam pikirannya—yang sejatinya hendak menolak permintaan Jane namun bibirnya terlalu takut untuk berucap. Jadi, daripada Jane menangis di tengah keramaian, ada baiknya jika Mark sedikit merayu kekasihnya itu.

Selagi jemarinya menjamah tengkuknya yang tidak gatal, akhirnya Mark buka suara, “Jane yang manis—“

Perkataan Mark tersendat, lekas melengking kencang saat Jane menggigit lengannya hingga membiru.

“—aww! Jane Jung! Sakit tahu!”

Mereka pun merajut langkah, sedangkan Jane terlihat sempoyongan sembari mengimbangi langkah cepat Mark yang sudah lari terbirit-birit di depannya. Ini bukanlah sebuah cerita roman picisan yang selalu hadir dalam sebuah kehidupan, dan Mark maupun Jane juga tidak terlalu senang jika dijuluki demikian.

Ini adalah taruhan; kemarin malam Mark bertekad bulat untuk bermain samyang challenge di rumah Jane. Dengan bermodal kepercayaan diri yang terlalu dipaksakan, Mark berkata dengan enteng, ‘Jika aku kalah maka aku akan mengajakmu masuk wahana hantu, tapi jika kau yang kalah, kau harus berfoto dengan seekor kadal di tanganmu.’

Namun jikalau takdir menghendaki Mark untuk termakan oleh omongannya sendiri—

“Serius Jane, aku kebelet pipis, nih.”

—apa boleh buat?

Demi Dewa Saturnus beserta seluruh galaksi di jagat raya, seberapa besar strategi pemuda berdarah Kanada itu untuk meluluhkan gadisnya, kata ‘tidak’ yang terlontar begitu saja sudah membuat si pemuda bergidik ngeri. Bak seorang pangeran suci nan rupawan yang diusir dari istana, setidaknya Mark harus berusaha untuk mengaktifkan kembali tombol kepekaan Jane agar ia mendapat sedikit belas kasih darinya.

Hingga Jane menuntaskan jangkahan terakhirnya, Mark tertap saja bergelayut manja dengan mengapit jemari Jane yang ikut-ikutan bergetar seirama dengan degup jantung kekasihnya yang kian menderu.

Tidak ada pilihan lain selain Mark menutup kedua telinganya. Lantunan lagu super horor ditambah efek tangisan bayi dan teriakan wanita bisa saja membuatnya buang air di celana. Ia sangat benci momen seperti ini. Seakan ditimpa batu tanpa ampun juga bertubi-tubi, kenyataannya Mark tidak akan bisa lolos dari ajang taruhan kali ini. Jangankan dirinya, roh yang hanya seberat 21 gram—begitu kata seorang ilmuwan­—miliknya saja terasa seperti melayang, ia tidak kuat lahir dan batin.

Tiba-tiba bulu kuduknya meremang, lantunan tersebut beralih menjadi suara bisikan dengan efek tiga dimensi yang mengudara melalui sepasang sound system yang bertengger tak jauh di dekatnya.

“Demi Tuhan, Jane! Apa-apaan kau ini?!”

“Dasar pengecut!”

Skakmat.

“Siapa yang mempunyai ide untuk melakukan taruhan gila seperti kemarin? Kau sendiri, ‘kan?! Sekarang kau malah berusaha menghindari perkataanmu sendiri?”

Cukup, Mark lebih memilih untuk beradu dengan nyalinya sendiri ketimbang beradu argumen dengan Jane yang notabenenya adalah seorang wanita-yang-selalu-benar. Dengan begitu, Jane maupun Mark langsung memasuki antrean setelah membeli tiket.

“Dua orang pengantre berikutnya silahkan masuk, namun sebelum itu diwajibkan untuk membaca peraturan yang tertera pada papan berikut, ya,” ucap salah seorang petugas.

Jane manggut-manggut, dwimaniknya menelaah beberapa peraturan; dilarang berlari, memegang properti, maupun kembali menuju pintu masuk saat berada di dalam wahana. Sementara Mark sendiri sibuk berjingkat, kepalanya melongok ke dalam berharap  setidaknya mendapat sedikit saja spoiler sebelum nyalinya dipermainkan.

Tak lama, mereka berdua pun diperbolehkan untuk masuk. Alih-alih menikmati perjalanan memasuki ‘dimensi lain’, pemuda itu kerap kali merengek seraya mengenggelamkan kepalanya di belakang punggung kecil Jane.

Aroma busuk mengudara dan terendus oleh indera penciuman mereka, namun yang tampaknya bisa tenang hanyalah Jane. Mark hendak berlari ketika sepasang netranya menilik sesuatu yang berada di bawah kakinya; lantai dengan kaca transparan yang menampilkan sosok mumi berbalut pakaian bercorak darah. Kemudian ia mendongak ke atas, melihat jajaran boneka seram yang sesekali bergerak naik turun sambil mengeluarkan suara tangisan pilu.

Tiba-tiba lampu padam. Menginterupsi langkah Jane yang masih setia menggandeng Mark di belakangnya. Hingga secara tak terduga ada uluran tangan sedingin es yang menarik pergelangan tangan Mark. Sekonyong-konyong pemuda itu berteriak, meminta Jane untuk berlari namun gadis itu menolak; masih ingat dengan peraturan pada poin pertama.

“Jane ayo pergi!”

Si lawan bicara hanya tertawa sumbang. “Pantas saja tidak boleh berlari, mungkin agar hantunya bisa dengan leluasa menggerayangi pengunjung yang datang, ya Mark?”

Mark terdiam. Napasnya menderu.

“Nah, lampunya sudah nyala, ‘kan? Ayo kita jalan lagi.”

Jane sengaja tidak berkomentar apapun tentang Mark, juga keadaan telapak tangan kekasihnya yang sedari tadi mengeluarkan keringat dingin. Mungkin itu wajar—begitu batinnya.

“J-Jane…”

“Hm?”

“A-ada yang menggelitik leherku dari belakang…”

Karena penasaran, Jane akhirnya menoleh ke belakang, memusatkan atensi pada sosok manusia berkostum hantu yang bersembunyi di belakang properti. “Sudah Mark, hantunya sudah kembali ke tempatnya, kok.

Akhirnya Mark bisa bernapas lega, bersamaan dengan seberkas sinar yang semakin dekat pertanda berakhirnya petualangan mengerikan mereka.

Sampai di pintu keluar, seorang petugas tersenyum pada mereka sembari berkata, “Mohon maaf jika mungkin kalian berdua merasa disentuh oleh sesuatu saat berada di dalam, itu berarti—“

Mark cengengesan, ia tahu jika itu semua hanyalah jebakan belaka.

“—bukan hantu milik kami. Karena kami tidak mempekerjakan manusia untuk menjadi hantu, semuanya murni boneka dan robot semata.”

What the

Mark dan Jane mendelik.

hell?

.

.

.

-fin.

  1. Halo saya kembali! 🙂
  2. Adakah yang kangen Mark-Jane? /ga ada don/
  3. Atau
  4. Kangen
  5. Sama
  6. Yang
  7. Nulis?
  8. /plak/
  9. Mind to review? 😉
Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] Betting

  1. Finally Donna~~~
    Jadi gitu ya, gituu, o gittuu “Mark sedikit merayu kekasihnya itu.” , sekarang udah disebut sebut kekasih ya :’) ,
    Jane juga ko Jahat, Mark nya ko juga takut-an :” .
    Tapi kangen Mark-Jane nya terobati ko..
    SAYANG MARK JANE, SAYANG DONNA- juga 😘

    Liked by 1 person

    • Selow kaber selow … Harap sabar ini ujian…ujian dari Allah :’) /dibuang/

      Wkwkwkwkwk baper kenapaaa lagi kaber? Bertemu sosok kunti yang menyerupai mantan kah? /GA/

      Makasih suda mampir kabeeeerr 😉

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s