[NCTFFI Freelance] Exam (Ficlet)

img_20161210_220650

EXAM

Linkers – @lianaaaasari

Renjun x You

Fluff, Friendship, School-life

Ficlet (700+)

.

“Beruntung jantungku masih berdetak tanpa kehadiranmu. Tetapi tidak dengan otakku”

.

.

.

.

                Ketukan-ketukan serta goresan benda runcing dengan kertas terasa seperti harmoni yang menyelubungi tempat tersebut. Ketika jantung mereka tetap berdetak dan otak yang sedang bekerja keras, sangat berbeda dengan anak yang satu ini.

                Tangan mungilnya meraba sesuatu yang berada di dalam dadanya. Hembusan nafas keluar setelah mengetahui bahwa organ jantungnya masih berdetak. Namun, ketika ia melihat sebatang pensil di genggamannya dan beberapa lembar soal yang bahkan belum ia sentuh sama sekali. Ia baru menyadari bahwa otaknya tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.

                Matanya menatap kosong kesana-kemari berusaha mengingat sesuatu dan kepalanya bergerak mengedarkan pandangannya berusaha mencari sesuatu namun hanya sebuah teguran dari pengawas yang ia dapatkan. Ia pun kembali tertunduk, tetapi kali ini ia mengambil kumpulan soal tersebut dan berusaha menjawabnya.

                Tangannya menggoreskan pensil sesekali berhenti untuk memikirkan sesuatu, tulisannya mencurahkan apa yang ada di pikirannya. Otaknya bekerja keras untuk memecahkan masalah tersebut. Soal demi soal ia kerjakan dengan seluruh usahanya sampai tangannya berhenti dan kepalanya terkatuk meja karena otaknya kembali berhenti.

                Seharusnya ia dengan mudah mengerjakan soal tentang momentum, usaha, gaya maupun soal Fisika sekolah menengah atas tingkat dua itu. Bahkan ia mendapatkan juara umum ketika berada di tingkat satu dan memenangkan olimpiade Sains dalam pelajaran Fisika membuat ibu dan ayahnya sangat bangga. Namun, ketika kehadiran sosok itu di dalam kehidupannya, ia menjadi merasa hidupnya telah tergantung dengan orang tersebut. Saat mereka dipisahkan oleh sebuah dinding tebal tak bernyawa, kehidupannya menjadi tak karuan seperti ini.

                Sebuah bunyi terdengar hingga ke seluruh penjuru sekolah. Kelas pun menjadi rusuh seketika saat murid-murid berlomba-lomba untuk mengumpulkan pekerjaannya. Renjun yang sadar akan hal itu langsung panik, namun ia lebih memilih berdiri dan ikut mengumpulkan hasil pekerjaannya yang tidak sampai setengah dari seluruh soal yang diberikan.

                Pengawas langsung terheran ketika melihat selembar kertas kecil yang disodorkan oleh anak itu, “Huang Renjun, kau baik-baik saja? Kenapa tidak kau selesaikan?”

                Renjun hanya memperlihatkan giginya yang khas sambil menggaruk tengkuknya.

                “Pergilah ke ruang konseling sepulang ujian nanti”

                “Ti Tidak usah, songsaengnim. Aku tidak apa-apa”

                Pengawas itu pun akhirnya mengangguk dan meninggalkan kelas. Gigi khas itu langsung hilang ketika ia menatap punggung pengawas yang berpapasan dengan gadis yang terlihat bertanya kepada seorang pria. Pria itu pun memberitahu sang gadis lewat bukunya.

                Tangannya kembali meraba dadanya yang berdetak lebih cepat kali ini. Namun, otaknya tidak bisa mengirimkan impuls untuk menggerakan tangannya menarik gadis itu. Ia pun terengah-engah akibat jantungnya yang semakin bergejolak.

                “Renjun

                Kepalanya mendongak dengan mata melebar. Giginya kembali ia perlihatkan tetapi dengan ekspresi berbeda. Jantungnya berdetak cepat namun tidak secepat tadi. Sosok itu masuk ke dalam kelas menghampirinya dengan sebuah buku tebal di pelukan gadis tersebut.

                “Bagaimana dengan ujiannya? Huft jika saja ujian itu seperti kelas biasa, aku bisa duduk dan mengerjakannya bersama denganmu” ucap gadis itu dengan kecewa.

                Renjun mengubah ekspresinya bertolakbelakang dengan tadi. Ia langsung melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Otaknya kembali bekerja ketika ia ingat akan sesuatu.

                “Ayo kita pulang, aku akan ke rumahmu. Belajar untuk ujian Matematika besok”. Gadis itu menarik Renjun, namun Renjun menahannya.

                “Kurasa aku harus melakukan ujian ulang”

                Gadis itu menatap Renjun bingung, “Untuk apa?”

                Renjun merangkul gadis itu dengan akrabnya, “Tentu agar aku bisa mendapat juara umum dan membanggakanmu” ucapnya membuat gadis tersebut tertawa.

                “Yak aku serius”

                “Aku tidak mengerjakan ujian dengan benar.”

                “Kenapa bisa?”

                Renjun terkekeh sebentar lalu menangkup pipi gadis itu dengan gemas. Ia tak menyangka bahwa wajah manis ini berhasil membuat dirinya lemah seperti sekarang.

                “Karena dengan teganya kau meninggalkanku sendirian di dalam kelas. Cepat bereskan barangmu dan temani aku mengikuti ujian ulang” ucap Renjun cepat sambil mengambil tasnya yang tergantung di meja. “Dan berjanjilah satu hal denganku

                Gadis itu kembali menaruh ekspresi bingungnya membuat Renjun semakin gemas dengan hal itu.

                Tetaplah bersamaku ketika ujian nanti, di sekolah ini atau di dunia ini sekali pun dan dalam keadaan seperti apapun jangan pernah hilang dari pandanganku, kau mengerti?”

                Sebelum mendapatkan jawaban dari gadis itu, Renjun sudah terlebih dahulu menariknya meninggalkan kelas yang entah sejak kapan sudah sepi.

Ia kembali tersenyum. Seharusnya ia percaya dan tidak berpikiran negatif kepada gadis yang duduk di sebelahnya ketika di kelas ini. Gadis yang selalu bersikap manja di hadapannya dan bersikap seolah tegar ketika di depan orang lain. Gadis yang selalu mendebatkan jawaban ketika hasil jawabannya tidak sama dengan jawaban Renjun. Gadis yang selalu meminta Renjun mengantarkannya sampai gerbang sekolah memastikan ibunya sudah menjemput. Seharusnya ia percaya bahwa gadis itu hanya akan bersikap manja kepadanya.

Renjun tahu kehidupannya akan sangat berbeda ketika gadis itu tidak bersamanya. Namun, ia harus bertekad di dalam dirinya agar dia tak akan menjadi lemah seperti ini. Kemana pun gadisnya pergi, ia akan mengawasainya walaupun saling berjauhan. Mereka akan menjaga kepercayaan masing-masing. Dan Renjun mengerti bahwa jarak bukanlah hal yang menakutkan. Karena bintang tetaplah bersinar sejauh apapun keberadaannya.

fin

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Exam (Ficlet)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s