[Chaptered] Introvert Squad (2화)

sejungjaetae

“Introvert Squad” by Mingi Kumiko

Lee Tae Yong, Jung Jae Hyun, and Kim Se Jeong  friendship, school life, romance  PG-13 

Note : cerita ini mengandung unsur bromance

Chapter 1

“Kau begitu tahu tentang Jaehyun, dan Jaehyun rela melakukan apapun demi dirimu. Ya ampun, melankolis banget.”

.

.

Hari ini salju turun dan membuat suhu udara Kota Seoul mencapai titik yang cukup rendah. Sejeong menggosok-gosokkan tangannya di sela waktu istirahat latihan menari di sanggarnya. Sebenarnya suhu tubuhnya masih bisa menolerir udara dingin yang menusuk tulang karena latihan barusan lumayan melelahkan dan berhasil membuat keringatnya mengucur deras.

“Sejeong eonnie, murid dari kelas tari jazz ingin menemuimu, tuh! Dia menunggu di depan pintu.” Suara seseorang membangkitkan Sejeong dari upayanya untuk beristirahat sebentar. Itu suara Somi, juniornya di kelas tari klasik.

“Terima kasih, Somi. Aku akan temui dia.” Sejeong pun berusaha berdiri dan melangkah menuju pintu.

Ia pun mendapati seorang lelaki berbalut kaus hitam tanpa lengan dan celana levis yang berwarna senada tengah bersedekap seraya menyandarkan punggungnya di tembok.

“Ada perlu apa, ya?” tanya Sejeong.

“Hai, kita bicara di dekat jendela saja, yuk? Aku ingin melihat salju turun.” ujar Jaehyun yang dibalas anggukan oleh Sejeong. Akhirnya mereka pun berjalan bersebelahan menuju bangku di dekat jendela.

“Oh iya, aku ambilkan kopi dulu, ya?” kata Jaehyun saat mereka sampai di depan jendela.

“Enggak usah repot-repot.” tolaknya halus.

“Ah, enggak masalah, kok! Sebentar, ya.” Jaehyun tak menghiraukan ucapan Sejeong dan bergegas menuju mesin pembuat minuman. Tak lama setelah ia memasukkan 2 koin bernilai 500 won ke dalam mesin, dua kopi cup pun siap diminum.

Jaehyun menyodorkan gelas yang masih dikepuli oleh asap kepada Sejeong. “Terima kasih, ya.” ucap Sejeong seraya meraih gelas itu dari tangan Jaehyun.

“Mau bicara apa?” tanya Sejeong.

“Kau benar-benar enggak tertarik sama Taeyong?” Jaehyun langsung pada intinya tanpa perlu bertele-tele.

“Oh, itu… bukannya begitu, sih. Aku hanya malu saja kalau harus menemuinya duluan. Jujur, ya, menurutku kontes Noyeting itu kolot dan menjijikkan sekali. Kenapa juga, sih, mereka harus melelang cowok tampan untuk bakti sosial, sedangkan masih banyak cara untuk mengumpulkan dana. Dan kalau sampai kemarin aku menghampirinya seusai kontes itu berakhir, sama saja aku menjilat ludahku sendiri, dong?!” papar Sejeong dengan panjang lebar.

Eum, kalau Taeyong yang mengajakmu kencan duluan, bagaimana?” pertanyaan polos Jaehyun itu dibalas dengan gelakan tawa Sejeong yang nyaring.

“Kenapa malah tertawa, sih?” heran Jaehyun dengan reaksi Sejeong.

“Kau, sih, ada-ada saja. Bukannya malah bagus kalau aku enggak menagih tanggungannya menjadi pacar sehariku?”

“Dia pasti senang saat tahu kau yang membelinya dengan harga tinggi. Kau, kan, cantik.” Jaehyun kembali berucap seolah-olah ia adalah anak kecil yang masih kesusahan merangkai kalimat hingga tak mengerti asumsi apa yang akan orang tangkap saat mendengar ucapannya.

“Hentikan, Jung Jae Hyun!” Sejeong tak kuasa menahan tawa dan memukul-mukul pundak Jaehyun.

“Jadi bagaimana, mau kencan dengan Taeyong atau tidak?”

“Sudahlah, aku tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Lagi pula aku juga tak seberapa mengenalnya. Jadi rasanya sedikit canggung saat aku harus membelinya dengan harga semahal itu.” Jaehyun mendadak tertegun sesaat setelah Sejeong merampungkan kalimat.

“Ayolah, Taeyong menyukaimu. Aku mau kau berkencan dengannya meskipun cuma sehari.”

OMO, JEONGMAL?!” sergah Sejeong dan langsung memasang wajah penuh keterkejutan.

“Karena dia sahabatku, jadi tolong buat dia bahagia, oke?” pintanya.

“Hei, mana bisa begitu! Aku dan dia tidak saling kenal.”

“Kau hanya tinggal menyetujui ajakannya untuk berkencan. Di hari pertama kau bebas menyuruhnya apapun. Aku yakin Taeyong mau melakukan semua perintahmu. Sesederhana itu. Kau mengerti, kan?”

“Aku benar-benar tak habis pikir denganmu.” Sejeong mendengus kesal, kepalanya menggeleng. Keheranan.

.

.

“Apa? Ke sanggarmu sekarang? Untuk apa? Aigo, Jae… aku malas sekali, cuaca di luar sangat dingin. Mworagoyo? Oke, oke, aku akan ambil mantel dan payung kemudian bergegas ke sana. Tunggu, ya!”

Taeyong melempar ponselnya ke sembarang tempat dan langsung membuka lemari untuk mengganti celana dan memakai mantel tebal. Sebenarnya ia masih mau lebih lama bermesraan dengan kehangatan dari heater. Namun berhubung Jaehyun mendadak menelponnya dan bilang ada sebuah hal menarik di sanggar tari, jadi Taeyong penasaran dan ingin melihatnya. Dan, yah, meskipun ia tak seberapa suka salju, tapi tidak buruk juga berjalan-jalan sambil sedikit bermain dengan gumpalan es yang indah di sepanjang jalan.

Sesampainya di halte, pemuda itu menyusuri jalanan yang dibalut oleh tumpukan salju. Tak jarang pula ia menjumpai anak-anak kecil yang tengah berlarian atau membuat sebuah boneka salju dengan amat riang. Seketika ia teringat masa kecilnya yang juga pernah melakukan hal menyenangkan itu.

Dia ingat sekali, waktu itu salju pertama kali turun saat Taeyong dan Jaehyun sedang bermain mobil-mobilan di kamarnya. Jaehyun kecil yang menyadari salju pertama di musim dingin pun bersorak kegirangan dan segera berlari ke jendela. Matanya sangat berbinar dan ia nampak senang. Akhirnya Taeyong mengajaknya keluar rumah untuk bermain salju di pelataran.

Bip… bip…

Taeyong merasakan ponsel yang ia letakkan di saku celana bergetar, ada sebuah pesan yang masuk. Ia pun berhenti sejenak dan menepi untuk membuka pesan tersebut.

From : Jaehyunie

“Kau tidak lupa keluar dengan menggunakan baju hangat, kan? Jangan pikirkan aku dan lakukanlah hal yang menurutmu memang harus dilakukan, oke? Fighting, chingu-ya! ^^”

Taeyong mengerutkan dahi, penalarannya tak sampai untuk memahami kalimat yang Jaehyun tuliskan. Sejak kapan, sih, pecandu video game itu jadi pintar menulis sajak? Namun tak ingin ambil pusing, ia mengembalikan ponselnya ke saku dan melanjutkan langkahnya yang sudah separuh jalan menuju sanggar tari. Laju tungkainya lebih dipercepat. Taeyong sudah diselimuti oleh rasa penasaran.

Pria bersurai kecoklatan itu akhirnya sampai di Cluster Apel yang merupakan letak sanggar tari itu berada. Saat ia mendongakkan kepala untuk melihat tempat itu lebih jelas, tangan kanannya yang menggenggam payung pun seketika mengendur. Pupilnya melebar, tak kuasa menahan keterkejutan. Apa dia tidak salah lihat? Itu Sejeong! Dan dia tengah berdiri di depan sanggar sambil menggosok-gosokkan tangannya guna meningkatkan suhu tubuh.

Lakukanlah hal yang menurutmu memang harus dilakukan, oke?

Kalimat itu mendadak terbesit di pikiran Taeyong. Segera ia meyadarkan dirinya sendiri dari rasa terpaku. Tangannya terkepal dan kepalanya mengangguk mantap.

Kau laki-laki sejati, Tae! Kau harus memiliki keberanian untuk mendekati gadis yang kausuka.

Sekuat tenaga ia menghela napas untuk menetralisir rasa gugupnya. Dengan yakin melangkah menghampiri gadis ber-sweater biru toska itu.

“Hai, Kim Se Jeong-ssi.” Suara bergetar Taeyong menyapa rungu Sejeong. Mendengar itu, empunya nama langsung mendongak dan menoleh ke arah yang barusan bicara. Alisnya naik saat mendapati seorang pria bersurai kecoklatan dengan postur yang cukup ideal itulah yang barusan menyapanya.

“Lee Tae Yong?” ujar Sejeong seraya menatapnya jeri. Sepersekian kemudian, hati lelaki itu langsung dibuat berdesir. Sejeong baru saja menyebut namanya. Sayup-sayup suara itu bergema di dalam otaknya. Seketika ia merasa bodoh, bahkan hanya dengan hal sekecil itu, ia bisa dibuat terbang. Sungguh ironis.

“Iya. Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini, ya, Sejeong-ssi…” Taeyong tergugu-gugu saat membalas sapaan Sejeong. Kakinya bergetar hebat tanpa gadis itu tahu.

“Kalau aku memang murid di sanggar ini. Oh, kau ke sini mau bertemu dengan Jung Jae Hyun, ya? Tapi tadi kulihat dia sudah pulang.” jelasnya.

“Apa? Kau dan Jaehyun berlatih di sanggar tari yang sama?” tanya Taeyong yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Sejeong.

Taeyong kaget bukan kepalang. Ini adalah informasi penting, namun kenapa Jaehyun tak pernah memberitahu dan terkesan menutupinya? Ah, pasti ada yang tidak beres. Tapi Jaehyun adalah sahabatnya, lebih baik ia urung berprasangka buruk dan menanyakannya baik-baik setelah ia sampai rumah.

Hm, Sejeong-ssi…, kau tidak pulang?” tanya Taeyong setelah bergelut dengan pergolakan batinnya sendiri.

Serius, ia sangat gugup saat harus bicara dengan Sejeong karena ini adalah pertama kalinya ia mendekati seorang gadis. Taeyong menggigiti bibirnya yang beku di sela menunggu respon Sejeong atas pertanyaannya.

“Maunya, sih, begitu… tapi melihat salju yang tak kunjung berhenti, sepertinya aku harus menunggu lebih lama lagi. Jaketku hilang, pasti ada orang iseng yang mencurinya! Yah, atau mungkin aku saja yang teledor meletakkannya ke sembarang tempat.”

“A, aku bisa mengantarmu pulang!” sahut Taeyong yang membuat Sejeong langsung memutar kepalanya untuk menoleh.

“…itu pun kalau kau mau.” imbuhnya lantas menunduk, tak mengizinkan Sejeong menatap mimik kikuknya.

Taeyong baru menyadari kalau sedari tadi ia tak sama sekali melepas genggamannya pada gagang payung. Padahal ia tengah berdiri di depan gedung beratap yang otomatis menghindarkannya dari buliran salju. Ia pun sejenak meletakkan payungnya ke lantai kemudian berusaha melepas mantel tebal yang ia kenakan.

“Pasti kau kedinginan.” Taeyong secara tiba-tiba melepas mantel yang ia kenakan dan menyodorkannya pada Sejeong. Si gadis pun terkejut dan memandangi mantel tersebut dengan tatapan nanar.

“Ya ampun, tidak perlu… kau juga pasti kedinginan, Taeyong.” Sejeong lagi-lagi menolak atensi seseorang padanya secara halus.

“Sudahlah, pakai saja. Sweater yang kugunakan sudah cukup hangat, kok. Aku tidak tega melihatmu yang hanya berbalut kardigan.”

“Baiklah, aku pakai, ya?” Sejeong pun meraih mantel itu lantas memasukkan lengannya ke sela-sela mantel milik Taeyong dan merapatkannya agar terasa hangat.

Seulas senyum diam-diam terulum dari bibir tipis Taeyong setelah melihat mantel itu membalut tubuh gadis di hadapannya dengan sempurna.

“Ngomong-ngomong, boleh aku mengantarmu pulang?” tanya Taeyong lagi.

Homina, jadi kau serius? Rumahku jauh, lo! Ya walaupun masih bisa ditempuh dengan jalan kaki, sih.”

“Enggak masalah, kok!” ucap Taeyong mantap.

“Kalau begitu, oke…” Sejeong pun menyetujui. Sumpah demi apapun, Taeyong benar-benar ingin bersorak kegirangan saat ini juga.

Mereka berjalan beriringan melintasi kawasan Shinrim-dong dengan saling bungkam. Hanya helaan napas yang menyelimuti suasana canggung di antara mereka. Taeyong yang memegang payung berusaha sebaik mungkin untuk menghindarkan gadis berpostur jangkung itu dari buliran salju yang tak kunjung reda.

Tapi kalau boleh jujur, Taeyong benar-benar menikmati perjalanannya bersama Sejeong. Bayangkan saja apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Kalau dijadikan film, pasti adegan ini sudah mampu membuat penontonnya terbawa perasaan dan berpikir kalau mereka berdua begitu manis.

“Sejeong-ssi,” secara tiba-tiba nama itu terpenggal dari mulutnya. Seakan ada remote control tak kasat mata yang tengah mengendalikan pikirannya hingga tak kuasa menahan gejolak hatinya sendiri. Gadis yang merasa namanya dipanggil itu pun refleks menoleh.

“Apa kau cukup dekat dengan Jaehyun?” Taeyong bertanya. Bibirnya ia gigiti, sedikit berharap-harap cemas.

Hm, tidak juga, sih. Sebenarnya baru seminggu yang lalu aku bergabung dengan Sanggar Tari Tsukuyomi. Setelah lama mempelajari tari tradisional aku merasa ingin mencoba hal baru. Mangkannya aku bergabung. Di hari pertama latihan kami tak sengaja bertemu di depan ruang tari jazz. Dia cuma sekedar mengucapkan salam dan bilang kalau kami satu sekolah. Sebenarnya aku sering lihat dia, sih, di sekolah. Tapi aku baru tahu kalau dia seorang penari yang cukup hebat.”

Dari penjelasan barusan, Taeyong merasa mulai bisa memahami sifat gadis yang disukainya itu. Sejeong adalah tipikal orang yang suka berbagi cerita. Terbukti dengan jawabannya yang begitu panjang dan terkesan sedikit melenceng dari pertanyaan. Tapi tak masalah, Taeyong lebih menyukai gadis yang suka bicara untuk mengimbangi kepribadiannya yang cenderung tertutup dan acapkali diam.

“Oh, begitu… Jaehyun memang ahlinya dalam hal menari. Dia jago dalam segala jenis tarian. Percayalah.” terlintas secercah kelegaan di benak Taeyong saat tahu kalau hubungan Sejeong dan Jaehyun hanya sekedar teman satu sanggar.

Fyuh, hampir saja Taeyong menuduh sahabatnya dengan prasangka yang tidak-tidak.

“Kau begitu tahu tentang Jaehyun, dan Jaehyun rela melakukan apapun demi dirimu. Ya ampun, melankolis banget!” kelakar Sejeong disertai tawa.

“Kami, kan, sudah bersahabat sejak kecil.”

“Kau tahu seberapa banyak tentang dia?”

“Aku memahaminya lebih dari dirinya sendiri.”

Omo, daebak! Gila, gila, aku benar-benar takjub!” Taeyong tahu Sejeong bercanda. Pasti hubungannya dengan Jaehyun begitu menarik baginya hingga ia tertawa sampai sebegitunya. Tapi tidak buruk juga kalau ia harus menjatuhkan sedikit harga dirinya demi membuat Sejeong tertawa.

***

Hari ini Jaehyun menyuruh Taeyong untuk datang ke rumahnya karena beberapa waktu lalu ia telah membeli sebuah video game terbaru. Ia ingin mengajak Taeyong main bersamanya. Berhubung kedua orang tuanya sedang mengurus bisnis dan tugas dinas ke luar kota, jadi hanya ada pengasuh yang menemani Jaehyun.

Bukan hal biasa bagi Jaehyun ditinggal di rumah sendirian, dan Taeyong sangat mengerti keadaan sahabatnya yang satu itu. Tanpa perlu mengetuk, Taeyong langsung mendorong papan kayu mewah yang berdiri tegak itu kemudian memasukinya. Terlebih dahulu ia menyapa Bibi Oh, pengasuh dan asisten rumah tangga di rumah megah itu. Bibi Oh sudah tak asing dengan kedatangan pemuda tampan itu karena intensitasnya mengunjungi rumah keluarga Jung sudah tak lagi terhitung.

“Nak, tolong bawakan camilan ini untuk tuan muda, ya?” pinta Bibi Oh seraya memberikan sebuah nampan berukuran sedang kepada Taeyong. Yang dimintai tolong pun menyambut nampan itu dengan senyum ketulusan.

“Oke, bi!” ujarnya mengiyakan.

“Oh, sahabat jiwaku…, lama sekali datangnya?” tegur Jaehyun sebagai ucapan sambutannya atas kedatangan Taeyong.

“Apa kau sungguh merindukanku?” goda Taeyong seraya meletakkan nampan berisi beberapa potong wafer dan biskuit ke meja dekat kasur Jaehyun.

“Sebelum kita bermain, ceritakan, dong…, kemarin kau mengantar Sejeong pulang, ‘kan?”

“Hei, bagaimana kau tahu?”

“Tentu saja, itulah tujuanku menyuruhmu ke sanggar tariku. Sesuai rencana, kau pulang bersamanya. Syukurlah kalau begitu.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kalian satu sanggar?”

“Aku tak bermaksud merahasiakannya, kok! Hitung-hitung ingin membuatmu terkejut. Agar reaksimu saat bertemu dengannya lebih terkesan natural.”

“Siapa juga yang berpikiran kalau kau merahasiakannya? Ayolah, aku tak sejahat itu.” Taeyong menepuk pundak Jaehyun dengan pelan.

Pandangan Taeyong tersebar untuk mengamati penjuru ruangan. Berhubung ia sedang bingung harus melakukan apa, alhasil ia hanya sekedar berkutat dengan hal-hal tak berguna. Hingga sepasang maniknya menangkap hal ganjil dan harus segera ia tanyakan pada Jaehyun.

“Kenapa ada mantel motif Minnie Mouse di kamarmu, Jaehyun-a?” ujar Taeyong. Si empunya nama pun sontak memutar kepala ke benda yang dimaksud.

“Oh, itu punya Sejeong. Aku sengaja mencurinya kemarin.” jawabnya enteng.

Aigo, Jae… kau punya hobi baru sekarang? Menjadi seorang klepto? Atau kau sudah tidak waras sampai harus mencuri pakaian wanita?”

TAK!

Sebuah kepal tinju Jaehyun layangkan ke ubun-ubun Taeyong hingga menimbulkan decakan, “Aduh!”

“Aku melakukannya demi kelancaran kencan pertamamu kemarin, bodoh!”

Omo, kau memikirkannya hingga serinci itu? Demi aku?” mata Taeyong langsung berbinar karena tak kuasa menahan harunya setelah mendengar ujaran Jaehyun.

“Tentu saja,

“…kau, kan, sahabat pertama dan satu-satunya yang kumiliki.”

TBC

Sudah ya guys, ini panjang loh hehehe. Aku tahu sih yang harusnya dapet peran sebagai great dancer itu kan Taeyong ya? Tapi sudahlah, Jaehyun pun dance-nya keren kok ehehh /maksa.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya ^^ sama makasih juga buat yang sudah kasih support di chapter 1 kemarin, makasih banget banget deh pokoknya {}

Advertisements

27 thoughts on “[Chaptered] Introvert Squad (2화)

  1. Bromancenya Jaehyun ama Taeyong keterlaluan ahh.. Tau ngga mas? Dd juga pengen begitu 😅.
    Udah panjang ko, next chapter 3 yo.. hohoho~
    Awas aja ntar kalo Jaehyun ampe nikung Taeyong. Tak santet hlo mengko mas, 😂😂.

    Liked by 1 person

  2. “Kenapa juga, sih, mereka harus melelang cowok tampan untuk bakti sosial, sedangkan masih banyak cara untuk mengumpulkan dana.” <= Ngakak sumvah :'D

    Hai kak Lely, sesuai janji aku mau komen di capter ini HAHA. Oke, pertama-tama aku mau jujur kalo aku greget sama Jaehyun, dia terlalu baik masa :v And great, meski peran dance terbaik itu aslinya buat Tae tapi its oke lah, Jaehyun-ku kan emang jago dance :v Oh iya, aku juga ngakak pas tau Tae masih bawa payungnya pas udah masuk ruangan HAHA, dia terlalu terbawa suasana kali ya :V Sumpah ngakak banget pas bagian itu, gak bisa bayangin betapa malunya dia :v

    Kak Lely, aku kayaknya bakalan jadi fans-nya kakak deh selain kak Irish HAHA. Aku suka sama gaya tulisan kakak yang santai dan rada gaul, gak terlalu baku & santai 🙂 Aku juga suka setiap karakternya :v

    Semangat ya kak !! Tunggu aku di chapter selanjutnya ya ….. Ntar aku bakalan spam komen HAHA 😀

    Oh iya, salam kenal kak. Aku Rijiyo, panggil Jiyo (btw, itu nama fake aja sih HAHA)

    Liked by 1 person

  3. Kak, gaya tulisan dan bahasa kakak ‘gua banget!’ LOL maksudnya gaya kakak itu selera aku banget, aku suka cara kakak menyampaikan isi ceritanya. Disamping ceritanya menarik, tulisannya juga nyaman buat dibaca 😍
    Jaehyun jadi sahabat aja sweet banget coba kalau jadi pacar aku ehehehe
    Penasaran itu jaket beneran dicuri Jae atau skenario yg dibikin Jae sama Sejeong aja wkwk

    Liked by 1 person

  4. Wuah sahabat sejati.. Mereka mirip temenku deh /pamer/ :v
    ngomong2 reader satu ini terlambat baca heuheu.. Update kapan, nemunya baru kapan T,T
    aku suka banget kisah persahabatan mereka..

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s