[Ratification Collabs] In the Blink of an Eye

moodboad_99

IN THE BLINK OF AN EYE

That is all, isn’t it?

– Mingi Kumiko’s & aiveurislin’s masterpiece © 2016 ; Jung Jaehyun, Lee Taeyong, Nakamoto Yuta, Johnny Seo, Chittaphon Leechaiyapornkul, Dong Sicheng & Jeanine Lee ; a ficlet-mix includes 4 fictions counts 800-1000 words within complicated, dark, crack, crime, action, hurt/comfort, school life things for parental guidance


Satu.

Menurutku hidup seseorang akan sangat bahagia saat memiliki teman dari kalangan murid yang tenar. Terang saja aku memiliki pendapat seperti itu. Hei, coba lihat saat Lee Taeyong dan kedua kawannya –Nakamoto Yuta dan Johnny Seo– berjalan menyusuri koridor. Kegagahannya berhasil membuat seluruh atensi orang-orang secara otomatis terfokus pada mereka.

Aku tidak tahu faktor apa yang membuat tiga lelaki itu amat dielu-elukan oleh banyak gadis. Memang sih ketiganya bersinar, bahkan saat sedang bersikap kasar sekali pun. Misal memotong antrean makan siang atau membolos saat jam pelajaran. Konyolnya, hal itu malah membuat kelompok itu terlihat semakin garang dan keren.

“Jadi kau mau bergabung dengan kami?” Taeyong memicingkan mata, menatapku dengan raut penuh penghakiman. Bagiku wajar-wajar saja sih dia seperti itu. Siapa coba yang tidak akan heran saat seorang anak culun macam diriku tiba-tiba datang menghampirinya dan berkata bahwa aku ingin bergabung dengan kelompoknya? Maksudku, Taeyong dan kedua temannya yang tak kalah tampan itu.

Well, peduli setan dengan pendapat mereka dengan aksi nekatku. Toh, kalaupun ditolak, kabar memalukan itu tak akan mungkin tersebar luas. Pertama, karena aku bukan murid tenar. Kedua, come on, rasanya perlu kutanyakan status kejantanan mereka bila sampai gembar-gembor tentang masalah sepele macam itu.

Mungkin kau akan menganggapku gila karena rela membuat diri sendiri terlihat seperti pandir di hadapan ketiga serigala liar itu. Tapi serius, aku bosan jadi Jung Jaehyun yang payah, Jung Jaehyun yang hanya bisa menunduk pasrah saat diremehkan orang.

Kuangkat bingkai kacamata berlensa cekungku yang mulai mengendur dari tempatnya bertengger.

“Kau yakin mau bergabung dengan kami? Bukannya salah jalan menuju ruangan klub buku? Kalau memang begitu, aku bisa menunjukkan jalan yang benar padamu, Bung.” celetuk Yuta seraya memandangiku dari ujung kaki hingga kepala. Cengkeramanku pada tali tas punggung makin erat. Aku gugup bukan kepalang.

“Aku yakin dia cuma bercanda saat bilang ingin jadi teman kita. Lihat kulitnya, seperti bayi. Pasti dia mendapat penjagaan ketat dari ibunya.” seakan tak mau kalah, Johnny menimpali ocehan Yuta dengan nada yang tak kalah meremehkan.

Aku hanya bisa menelan ludah saat mereka mengejekku seperti itu. Bodoh, kalau reaksiku begini, yang ada akan ketahuan kalau aku ini memang lemah. Tapi aku sungguh tidak tahu harus bagaimana.

“Tak apa, tak apa… hak memiliki teman pun telah diatur dalam Undang-Undang, bukan?” celetukan Taeyong berhasil membuat tawa kedua temannya terlipat. Sejurus kemudian ia mengambil beberapa langkah untuk mendekatiku.

Mataku sontak terbebalak saat tiba-tiba ia mendongakkan daguku. Meski pada akhirnya ia pun juga mendongak, mengingat tubuhku yang lebih tinggi beberapa senti darinya.

Gwiyeowun…” ujarnya saat manik kami bersirobok. Sarafku langsung menegang, tingkahnya barusan membuatku merinding. Mengapa ia memandangi kaum sesamanya dengan penuh hasrat? Jangan-jangan dia gay, lagi!

Namun segera kutampik konklusi kilatku itu saat Taeyong sudah menjauhkan jemarinya dari wajahku. Rahangnya menengadah dan ia kembali memancarkan aura penuh wibawa yang biasa aku lihat saat mereka menyusuri koridor

“Aku enggak akan tanya atas dasar apa kau ingin bergabung dengan kami. Kuhargai keberanianmu itu, dan… tentunya kami akan mengajukan syarat agar bisa diterima.” ucapnya yang disusul dengan anggukan setuju oleh kedua temannya.

“Apakah kami sekeren itu di matamu?” sahut Johnny disertai seringai dari sebelah sudut bibirnya.

Enggak gampang lho kalau mau bergabung dengan kami. Pikirkan lagi, anak culun.” imbuh Yuta.

Taeyong mengacak surai kelamku. Membuat beberapa helainya mencungul dan jadi tidak rapi lagi. “Sudah izin mamamu saat mengajukan diri menjadi teman kami?” tanyanya dengan wajah yang dimiringkan. Aku tetap bergeming, enggan menimpali karena takut salah mengutarakan jawaban.

Pemuda tampan itu berbalik guna menatap kedua sahabatnya yang tengah berdiri dengan tangan bersedekap.

“Apa kau membawanya, Yuta?” ujaran dengan intonasi rendah itu disambut dengan tawa lebar oleh si empunya nama. Perlu kau tahu jika deretan gigi putih yang ia pamerkan itu merupakan amunisi paling ampuh untuk membuat para gadis berseru tertahan saking terpesonanya.

“Selalu siap sedia, Tae!” Yuta pun berjalan untuk mengambil tas yang ia geletakkan di atas drum kosong yang telah dicat motif mural menggunakan pilox. Dikeluarkannya sebuah botol berwarna gelap hingga aku tak bisa menerka apa yang ada di dalamnya.

Yuta menyerahkan benda berbentuk silinder itu pada Taeyong. “Minum ini,” ia menyodorkan botol itu tepat di depan hidungku

“Dan jangan banyak tanya itu apa,” kata Johnny yang seakan bisa membaca pikiranku mengenai kuriositas tentang minuman jenis apa itu sebenarnya.

Seketika pikiranku kalut, aku sedang berada di situasi yang sangat membingungkan. Mereka tak mengizinkanku menilik apa jenis minuman itu lebih lanjut. Meskipun culun tapi aku tidak bodoh, pasti ada yang tidak beres dengan minuman ini. Entah itu memabukkan atau membuat keracunan, aku tidak tahu.

“Kau minum itu atau pergi dari markas kami dengan langkah sempoyongan?” ancam Johnny. Barangkali ia sudah tidak tahan denganku yang sedari tadi terus saja menatap nanar botol itu.

“Kami siap mendandani wajah mulusmu itu dengan luka lebam atau darah segar kalau kau pergi tanpa meminumnya. Segala hal di dunia ini memiliki konsekuensi, bukan? Termasuk saat kau memutuskan untuk mendatangi markas kami dan meminta bergabung,” titah Yuta dengan mata elangnya yang secara telak menyorotiku.

Oh sial, Mama telah menghabiskan banyak sekali uang untuk membelikan aku serum perawatan wajah dan kulit. Aku tidak ingin mengecewakan usaha keras Mama menjadikan aku setampan ini.

Tatapan sarkatis Taeyong makin membuatku tersudut. Dengan ragu aku memutar tutup botolnya, tanpa pikir panjang meminumnya beberapa teguk. Rasanya aneh, ada bau amis dan aroma pekat khas besi yang langsung menyambangi pangkal tenggorokanku. Sekilas aku jadi ingat rasa sosis darah yang dijual di kedai-kedai pinggir jalan. Tidak persis sama, tapi mirip.

“Selamat, karena kau telah meminum darah anjing itu, kau boleh menjadi teman kami,” Taeyong maju selangkah untuk menepuk pundakku. Disusul dengan Johnny dan Yuta yang langsung meraih tanganku untuk mereka jabat.

Bibirku mengatup, tertegun untuk beberapa saat. Darah anjing? Ini gila! Lidah suciku telah ternodai cairan menjijikkan.


Dua.

Lidahku tak henti bergetar setiap mengingat darah anjing yang tadi siang kucicipi. Pun malam ini, meskipun serebralku dipenuhi kuriositas tentang apa tujuan Taeyong menyuruhku membeli benda-benda aneh di toko swalayan, aroma amis nan pekat itu tetap tak bisa aku singkirkan dari kepala.

Aku belum cerita, ya, kalau malam ini ketiga teman baruku itu menyuruhku datang ke tempat mereka biasa berkumpul –yang entah tujuannya apa. Rasa heran menyergap saat aku dengan intens memindai tiap sisi dari markas kedua mereka –aku baru tahu kalau markas mereka bukan cuma gudang sekolah. Itu adalah sebuah rumah kosong yang sudah lama tak ditinggali oleh pemilik aslinya. Letaknya pun sedikit jauh dari pemukiman warga. Jangan tanya apakah itu menyeramkan, tentu saja iya.

Jarak rumah tersebut dengan toko swalayan kurang lebih sembilan ratus meter. Aku menempuhnya dengan berjalan kaki selama lima belas menit. Di tanganku kini telah tergantung sebuah kantung plastik berisi barang pesanan mereka. Ada sari buah, lotion anti nyamuk, minuman berkarbonasi, dan spiritus. Awalnya aku penasaran, namun kuurungkan niat untuk bertanya. Kalau kulakukan, pasti mereka akan mengomel dan memiting leherku sampai sesak napas. Nasib menjadi pria lemah, mudah sekali ditindas oleh orang lain.

Setelah sampai, aku membuka pintu rumah itu yang kebetulan tak dikunci. Ketiga serigala liar yang tengah duduk bersila di atas lantai itu sontak memutar kepala dan menoleh ke arahku dengan raut sarkatis.

“Lama sekali, sih!” cibir Yuta. Tak kuhiraukan ucapannya dan langsung meletakkan kantung plastik itu di tengah-tengah mereka. Johnny meraihnya dan memeriksa barang belanjaan itu.

“Oke, lengkap. Tak kurang satu pun.” katanya sambil manggut-manggut. Kuhela napas lega, setidaknya aku tak akan babak-belur kali ini.

“Duduklah bersama kami,” perintah Taeyong dan seperti orang bodoh aku mengangguk kemudian mengatur posisi persis dengan mereka.

“Apakah ciunya masih ada sisa?” tanya Johnny.

“Ada, kok. Tunggu, biar aku yang ambil,” Pemuda asli Jepang itu beranjak dari duduknya dan berdiri untuk mengambil ciu. Kalau kalian tidak tahu, ciu adalah sejenis arak tradisional.

Tubuhku bagaikan tersengat aliran listrik sepersekon detik setelah aku menyadarinya. Ciu, kan, minuman yang memabukkan. Gosh, jangan-jangan mereka hendak pesta miras di sini. Sial, berbohong pada Mama bahwa tujuanku ke mari adalah untuk belajar kelompok saja sudah membuat hatiku tak tenang setengah mati. Apa lagi kalau sampai Mama tahu aku malah mabuk-mabukan. Pasti ia akan sangat kecewa. Jung Jae Hyun bodoh, kenapa juga aku tanpa pikir panjang mendatangi mereka dan minta bergabung? Sekarang aku menyesal.

Yuta pun datang dengan sebotol ciu di tangannya. Aku menelan ludah, tak bisa membayangkan kalau cairan terkutuk untuk kedua kalinya masuk ke kerongkonganku.

Oh iya, aku ada ini!” Taeyong mengeluarkan sebuah plastik dari saku celana levisnya. Kuamati benda itu lamat-lamat, berusaha membuat pupilku bekerja optimal di suasana remang-remang ini. Aku tak yakin dengan konklusiku, tapi kurasa itu adalah obat-obatan yang masuk dalam daftar G. Daebak, dari mana murud SMA macam mereka mendapatkannya?

Bibirku tetap bungkam, tak memiliki keberanian untuk menanyakan apa tujuan Taeyong mengeluarkan benda itu.

“Mari bertaruh, siapa yang bisa meracik minuman paling memabukkan.” ucap Johnny sontak membuatku melotot. Benar dugaanku, mereka hendak membuat oplosan dari bahan-bahan yang kubeli di toko swalayan tadi.

“Kau harus ikut minum juga, oke?” Taeyong menyenggol lenganku. Dengan kikuk aku menunduk.

Diawali dengan Yuta yang mencampur sari buah, vodka, dan spiritus, setelah itu ia mengocok minuman racikannya kuat-kuat.

“Cuma itu bahannya? Cemen kau!” ledek Taeyong. Pria yang barusan bicara itu melanjutkan ucapannya dengan mengambil ciu, kopi serbuk, dan minuman berkarbonasi. Setelah mengocoknya, ia pun mencemplungkan obat daftar G tadi ke dalam botol.

Yang terakhir Johnny, minuman racikannya adalah yang paling membuatku hampir terkena serangan jantung. Ia menuangkan lotion anti nyamuk ke botol bir. Tak lupa ia menambahkan serbuk biji kecubung dan minuman penambah energi.

Ini mengerikan, bahkan sebelum aku melihat efek sampingnya setelah mereka menenggak oplosan itu.

“Hei, kau! Cepat racik minumanmu!” tandas Taeyong yang tentu saja diarahkan padaku. Dengan tangan bergetar aku meraih sari buah kemasan, mencampurnya dengan obat batuk dan ciu. Entah akan seperti apa rasanya. Dan aku benar-benar tak membayangkan jika sampai harus meminumnya.

“Oke… sekarang kita mulai kompetisinya. Minum sekarang!” setelah aba-aba Johnny selesai, ketiganya pun mulai mengucurkan ramuan mereka ke dalam mulut. Sementara aku cuma pura-pura mengarahkan botolnya ke sela bibir. Meskipun culun, tapi aku berani bilang kalau aku tidak bodoh seperti mereka. Mana mau aku membiarkan masa depanku melayang hanya demi mendapatkan sensasi mabuk paling nikmat.

Kutatap ketiga remaja itu dengan pandangan nanar. Sepertinya minuman itu mulai bereaksi. Segera aku berdiri untuk menjauh dari mereka. Perilaku orang mabuk itu sangat sulit ditebak, bukan? Dan tak menutup kemungkinan juga jika salah satu dari mereka mengantungi benda tajam. Kemudian tanpa sadar melibaskannya ke arah siapa pun yang mereka lihat. Aku menakutkan hal tak terduga semacam itu sampai terjadi.

Ini gila, kau akan berjengit ngeri bila berdiri di posisi yang sama denganku saat ini. Mereka tertawa sendiri, berjalan sempoyongan seperti orang yang baru saja mendapat tempeleng keras. Ketakutanku tiba-tiba hilang saat melihat tingkah Yuta. Dia bersalto ke sana dan ke mari. Sedangkan Taeyong melakukan tarian menyerupai balet.

Johnny menunjukkan reaksi paling menakjubkan – dan sedikit mengerikan. Ia membenturkan kepala ke dinding sambil mengerang seperti orang kesakitan. Seketika tubuhnya ambruk. Pria jangkung itu memegangi perutnya seraya merintih kesakitan. Kurasa itu terjadi karena oplosannya mengandung lotion anti nyamuk.

Aku langsung dibuat panik oleh situasi ini. Aku tak mungkin datang untuk menolongnya. Karena indikasi yang Johnny tunjukkan nampak tak bisa ditangani dengan cara sederhana. Hei, bahkan meski otakmu dangkal, kau akan tahu jika orang keracunan seperti dia butuh perawatan seorang ahli medis di rumah sakit.

Kuputuskan untuk keluar dari rumah itu dan menelepon 119. Masalah mereka bertiga yang akan menghajarku apabila tahu ternyata aku tidak ikut minum bisa dipikirkan nanti. Yang penting aku tidak mau Johnny menemui ajal sekarang.

Satu hal yang aku pelajari, bahkan meskipun kau tidak terlalu banyak mendapat sorotan dan sering diremehkan, percayalah akan lebih baik jika kau tetap jadi diri sendiri dan melakukan hal yang menurutmu baik. Jangan iri pada mereka yang populer di kalangan banyak gadis, karena bisa jadi yang dielu-elukan itu memiliki sisi buruk yang sangat mengerikan apabila kau sampai mengetahuinya.


Tiga.

Memulai lembaran baru dalam hidup bukanlah hal yang mudah bagiku. Menggores tinta hitam sedikit saja bahkan lebih terasa seperti dikuliti di setiap sayatannya. Kenangan-kenangan itu terus membuntutiku. Terhitung sejak hari itu, tak akan pernah ada gelap malam yang bisa kulewati dengan tenang.

Aku melarikan diri.

Keputusasaan terbesarku adalah bersembunyi di akademi ketentaraan, menjadi perwira dan menjalani pelatihan. Menutup rapat segala memoir lalu, menjadikannya belenggu agar tetap maju walaupun pada akhirnya tetap saja ada yang tahu.

Menjijikkan. Bahkan aku harus tetap hidup dengan bayang-bayang itu. Entah aku merasa hina atau muak dengan semuanya, aku melampiaskannya tanpa ampun. Menutup diri dengan dalih menjadi pribadi yang baru. Cih, padahal aku hanya melebih-lebihkan ambisiku dengan tujuan melawan rasa takutku, tentu saja.

Kini, peran menjadi salah satu perwira terbaik dalam segala bidang sedang aku lakoni. Menjadi yang paling dibangga-banggakan, menjadi yang terdepan di medan perang, sesuatu yang sudah cukup untuk mendobrak rasa takutku bukan?

Ambisiku mengalahkan segalanya, kecuali rasa takutku. Hingga akhirnya sebuah perintah menyatakan bahwa aku dipindah tugaskan ke Republik Kochenia, tempat asing di mana konflik berkepanjangan belum menemui titik final. Bagiku, ini adalah titik terang untuk lepas dari masa lalu demi meloloskan pencitraan baru.

Landasan terbang nampak lengang. Hanya ada desauan baling-baling pesawat militer maupun helikopter yang berlalu-lalang membongkar-pasang muatan yang terdengar. Aku memijaki kumpulan ilalang yang menunduk menahan beban angin entah seberapa knot kecepatannya.

Beberapa anak buahku mengekoriku, membentuk sebuah barisan shaf sembari memikul ransel berisi keperluan. Tak banyak hal yang bisa aku bicarakan pada mereka selain memberi komando pun menerima laporan.

Hoi, anak baru!”

Aku terkejut setengah mati mendapati seorang wanita yang berpakaian sama denganku merangkulku tiba-tiba lengkap dengan cengiran yang telah terlebih dahulu terpatri di wajahnya. Kubingkai paras mungilnya yang terlihat dari samping dalam dua obsidianku.

“Perkenalkan, aku Jeanine, koordinator divisi penyelamatan sipil daerah Semenanjung Balkan, kode L9. Kau siapa?”

Pandangan kami bertubrukan. Kelopak yang membungkus sepasang mata almondnya menyempit. Namun seperti biasa, aku tak kunjung menampakkan ekspresi apa-apa. Tak serta-merta jua aku menjawabnya, mengingat beberapa anak buahku yang berjarak beberapa meter di belakang turut melihat kami. Menanggapinya dengan santai, aku menghela napas sembari membuang muka ke lain arah, “Jung Jaehyun, kapten divisi komando khusus daerah zona militer Republik Kochenia, kode J2,”

Sekejap kemudian, rangkulannya pun terlepas. Gadis itu nampaknya sedikit terkejut mendengar ucapanku barusan, “Ups, sorry. Aku tidak mengira jika aku merangkul kapten divisi komando khusus. Maafkan kelancanganku, oke?”

Aku pun menoleh ke belakang dan mendapati beberapa orang asing bergabung dengan timku dengan lagak santai layaknya mereka sudah saling mengenal.

“Apa kau orang Korea? Atau warga negara asing yang punya visa khusus untuk masuk dinas ketentaraan Republik Korea?” Gadis itu memandangku takjub setelah aku menyelesaikan pertanyaanku.

Waah, kau tajam juga rupanya. Perlu kaucatat baik-baik Kapten J2, aku orang Korea asli. Aku hanya ingin membuang identitas Korea karena pengalaman pribadiku yang sangat mengerikan. Dan nama itu juga tidak cuma-cuma aku dapatkan. Aku pernah ke Praha untuk menjalankan misi kemanusiaan dibawah United Nations. Saat itu aku tidak memiliki identitas selain kode. Lalu saat mengunjungi salah satu katedral di sana, aku mendapatkan nama Jeanine,” jelasnya yang membuatku sontak tersenyum miring.

“Kau tidak perlu bercerita sedetail itu. Aku tidak sepenuhnya mendengarkanmu, Letnan L9.”

Ia mendecih dan aku tidak peduli. Untuk sekian menit, kami terjebak dalam kungkungan keheningan. Aku sibuk mengurusi rekan timku begitu pula dengan Jeanine. Hingga aku menyadari ada suatu kejanggalan yang terjadi saat itu. Kutatap dia dengan sirat penuh tanya yang sepersekon kemudian ia jawab dengan intonasi yang tidak formal.

“Jangan tatap aku seperti itu, Kapten Jung. Kita akan pergi dengan pesawat yang sama.”

Setelah timku dan tim Jeanine selesai memasukkan barang bawaan kami ke bagasi pesawat, kami langsung masuk dan duduk di tempat kami masing-masing.

Tidak satu pun dari kami mencetus satu topik pembicaraan, tentu saja gadis itu termasuk. Aku yang terbiasa bungkam seribu bahasa pun juga tidak akan pernah memiliki selaksa niat itu. Hanya saja sejak prapenerbangan hingga pascapenerbangan yang kini telah menginjak tujuh jam sejak pesawat tinggal landas, aku terus membatin dengan meluruhkan atensiku pada sosok pimpinan divisi penyelamatan sipil itu.

Seseorang yang tadi menempeli bahuku dengan lengan kurusnya itu kini hanya sesekali memandangiku dalam diam. Aku tidak akan kelewat percaya diri, apalagi seorang wanita kadang kala tidak bisa dinilai dari satu sisi saja. Setidaknya itu persepsiku yang telah kubangun sejak lima tahun yang lalu.

Perwira yang lain telah terlelap sejak tiga jam yang lalu. Hanya tersisa aku dan Jeanine yang saling bertukar pesan lewat tatapan. Aku tidak berniat terlelap sementara Jeanine, sepertinya gadis itu belum dihampiri rasa kantuk dan lebih memilih bermain-main dengan interkom yang melekat di salah satu telinganya.

Sekian menit kemudian gadis itu mulai menyibakkan selimut yang menutupi kedua lengannya. Ia menatapku seketika sembari mengulas senyum. Aku memperhatikannya, seperti biasa dengan tatapan sewajarnya. Dengan cepat kedua tangannya bergerak di udara, mengirim sinyal isyarat bahasa tubuh padaku.

Kau tidak tidur?

Kira-kira seperti itulah aku menangkapnya. Sepersekian detik itu terbuang begitu saja. Namun Jeanine justru menampakkan lagi cengirannya yang sontak membuatku juga ikut terkekeh pelan dengan volume suara paling minimum yang kubisa.

Kesadaranku kembali mematut raga dan sesaat kemudian otot wajahku mengendur. Aku sungguh tidak sadar jika aku telah menarik kedua sudut bibirku tadi. Sorot mataku langsung linglung, membuatku yakin jika Jeanine pasti sedang tertawa dalam hati di seberang sana.

Ya, ini pertama kalinya aku mendapatkan kembali kemampuan untuk tersenyum setelah masa kelam itu.


Empat.

Republik Kochenia tidak semenyeramkan yang aku kira. Perlu kuakui, tempat ini cukup menarik pada dasarnya. Hal yang paling menarik yang aku ketahui dari Jeanine mengenai tempat ini adalah mitos kemunculan vampir yang cukup terkenal. Aku tidak tahu mengapa sifat rasionalku tidak berlaku dalam hal ini. Sebenarnya semua hal yang dikatakannya tidak sepenuhnya bisa kupercayai. Yang aku tahu, tempat ini pernah dilanda wabah epidemi kolera berabad-abad lalu. Namun sejak gadis itu menceritakan legenda itu, aku jadi makin betah berada di sini.

Tak masuk akal memang jika jalinan pertemanan antara aku dan Jeanine telah terbentuk tanpa ada selaksa niat apa pun sebelumnya. Kami memang sering berbincang dan berdiskusi. Hanya saja semua itu tentu bukan dengan maksud yang tidak jelas. Divisiku memang sering bekerja sama dengan divisinya dan yeah, kami hanya sebatas rekan seperti itu.

Pagi itu tidak ada yang berubah. Hanya presensi Jeanine yang tidak aku jumpai sejak fajar menyingsing. Hal itu pula yang membuatku heran. Namun pemikiran itu hilang tatkala anak buahnya memberitahuku bahwa gadis itu pergi ke markas komando di pusat kota.

Awalnya aku berencana untuk memastikan posisi Jeanine terlebih dahulu lalu setelahnya berpatroli dengan Chittaphon dan Sicheng pagi itu. Namun anak buahnya menghampiriku dan melaporkan bahwa mereka kehilangan kontak dengan pimpinan mereka itu dan memintaku menghubungi komando pusat.

Aku, Chittaphon, dan Sicheng langsung pergi ke markas komando pusat demi mendiskusikan masalah ini dengan komando divisi orang hilang. Mereka kemudian menelusuri GPS yang terpasang di tubuh Jeanine dan mendeteksi koordinatnya. Setelah melaporkan kepada komandan markas pusat Republik Kochenia, kami dan beberapa pasukan terpilih bergegas pergi membawa mandat beliau untuk menyelamatkan gadis itu dan kembali ke pasukan dalam keadaan utuh.

Aku tidak banyak bicara saat itu. Seluruh ruang di kepalaku hanya terisi oleh Jeanine dan bagaimana cara untuk menyelamatkannya. Hanya saja, tidak ada satu pun dari hal itu yang bisa membuatku menemukan titik terang. Dan benakku berkata bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Kami akhirnya tiba di sebuah bangunan tua yang sudah setengah hancur akibat perang. Belum kutemukan adanya tanda kehidupan di tempat ini. Hanya saja memang benar bahwa koordinat bangunan ini sama dengan koordinat posisi Jeanine saat ini.

Mengendap-endap, kami pun memasuki bangunan ini. Menemukan posisi yang strategis untuk melakukan pengintaian. Tempat ini seperti sunyi senyap seperti kehilangan napas kehidupan. Sekian langkah pun kami tapaki hingga akhirnya kami tiba di salah satu pintu yang terhitung masih layak digunakan. Setelah sejenak berdiskusi dengan timku, jemariku pun mulai kutuntun membuka kenop. Derit pintu seakan-akan mencekat napasku, pun perlahan-lahan seberkas sinar yang menyilaukan kian tersibak memunculkan objek pencarian kami tengah bersimpuh di jantung ruangan.

“Jean….” Bergegas aku menghampirinya yang sudah setengah kehilangan kesadaran, bersimbah peluh dengan kedua tangan dan kaki terikat. Surai coklat madunya kusut. Kudapati beberapa luka lebam yang membiru di sekujur tubuhnya, juga sedikit likuid merah yang sudah agak mengering di sudut ceruk bibirnya.

Kualihkan atensi pandangku pada Chittaphon dan Sicheng, memberi komando isyarat untuk melaksanakan tugas mereka. Kedua orang itu mulai bergerak ke sekitar, menelisir ke setiap sudut ruangan dengan dalih memastikan bahwa tempat ini aman. Setidaknya untuk beberapa menit kedepan.

Jeanine menggenggam erat lenganku. Tindakan itu sontak membuat atensiku memagut figurnya sepenuhnya, pun menelusuri celah aksara dalam binar temaram sepasang fokusnya, “Cepat pergi dari sini, Jaehyun. Sebelum kakakku meledakkan tempat ini.”

Aku terperangah sejamang, merasakan isi kepalaku mulai memanas akibat pernyataan gadis itu, “Apa maksudmu, Jean? Siapa yang kausebut kakak?”

“Kapten Jung!”

Seruan itu membuat atensiku kembali teralih pada kedua rekanku. Sicheng kemudian menunjuk salah satu boks karton yang agak besar di sudut ruangan. Chittaphon pun lantas membukanya dan memperlihatkannya padaku.

Sebuah bom.

“Ini bom rakitan waktu biasa. Waktunya sudah disetel kira-kira sejak Letnan Jeanine disandera, sekitar pukul enam tepat waktu Republik Kochenia. Sekarang pukul sebelas lima puluh tujuh dan waktu telah berjalan selama hampir enam jam.”

Kurasakan jemari-jemari Jeanine mulai bergetar hebat setelah mendengar penuturan Chittaphon. Tatapanku merangsek masuk ke sepasang lensanya alih-alih mengais rasa ketakutannya akan hal ini, “Mereka datang, Jaehyun. Orang-orang yang memberimu kenangan yang mengerikan itu dan memorak-porandakan hidupku, Kak Taeyong dan teman-temannya, mereka mencari kita.”

“Kapten, saya tidak bisa menjinakkan bom ini. Kita hanya memiliki waktu kurang dari satu menit. Sudah terlambat,” ulasan Sicheng semakin membuatku kalang kabut. Di saat-saat genting seperti ini, aku harus benar-benar memutuskan pilihan terbaik untuk menyelamatkan semua yang bernyawa di tempat ini.

“Tinggalkan aku di sini. Menyelamatkanku hanya akan memperlambat pekerjaan kalian. Kalian telah melakukan tugas dengan baik.”

Tak menggubris klausa yang diudarakan Jeanine, jemariku kian lincah bergerak membuka beberapa simpul yang membelenggu rangka apendikuler tubuhnya. Serta-merta berkejaran dengan detik yang terus berdetak, membuat darahku semakin berdesir pun peluhku yang kian berbulir, “Jangan berpikir seperti itu. Kita akan pulang ke barak bersama-sama. Itu misiku dan aku tidak akan membiarkan misi ini gagal begitu saja.”

Selesai. Segera setelah itu, aku langsung bangkit dan berlari ke arah Chittaphon dan Sicheng. Hanya tersisa setengah lusin sekon untuk menghindari ledakan bom itu. Kedua tanganku lantas meraih boks berisi bom yang berada di tangan Sicheng kemudian melemparkannya ke luar jendela.

“Berlindung!”

Sepersekon kemudian, bom itu meledak.

“Maaf karena datang terlambat,” ujarku sembari merangkulkan lengan kanan gadis itu di pundakku. Aku membantunya berdiri dan meninggalkan tempat ini dengan langkah terantuk-antuk. Setidaknya aku masih bisa mengampunya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

“Ini baru akan dimulai. Perang yang melibatkan aku dan kau juga mereka. Pertarungan antara aku dan rasa takutku. Dan sekarang, Jean, maukah kau berjuang bersamaku?”

Sirat Jeanine tertuju padaku dan tentu saja radarku dapat menembus iris kelamnya dalam jarak sedekat ini. Gadis itu membisu, namun perlahan ceruk bibirnya menipis membentuk satu ulasan yang menafsirkan satu jawaban, “Perjuangan ini akan sangat berat, Jaehyun.”

“Kau hanya perlu percaya bahwa ini akan berakhir, di waktu yang tepat, dalam sekejap mata. Ketika kau menutup mata lalu membukanya kembali, setiap detik akan mengalun lebih cepat dan yang perlu kau lakukan hanyalah percaya padaku.”

–finish.


notas ;

jadi akhirnya penutup ‘Ratification Collabs’ publis juga /fyuh elap keringet/ so, fiksi ini udah sampe dua bulan ini ngaret pengerjaannya #ketawanista yah, aku ga mau nyalahin tugas sekolah, jadwal les, kegiatan organisasi dan ekskul karena itu semua kewajiban ((nyelesain ini juga kewajiban sih xD)) apalagi di musim libur kayak gini webe malah menyerang /poor me/ akhirnya dengan segala keterbatasan, fanfiksi ini bisa selesai 😀

Yang pertama, aku mau minta maaf sama Kak Lely yang udah banyak menderita (sok hiper lu bin) karena kolab sama aku yang tahun ini super sibuk sama agenda yang bejibun. Padahal Kakak udah nyelesain bagian Kakak dari lama banget cuma emang biduk masalahnya aku aja yang super molor mode-on dan makasih juga mau jadi rekan kolabku dan sabar menanti fanfiksi ini di posting (( thanks a lot for everything and I luv u so much Kak ❤ )). Lalu Kak Angel, Budir, jeongmal miyanee karena postingan terakhir event Ratification Collabs sangat-sangat terlambat T.T yang lain udah selesai berbulan-bulan lalu dan aku baru posting hari ini #ketawanistajilid2 and another thanks a lot for everything Kak Angel 😀

Bye. See you in the next post!

aiveurislin.

Advertisements

14 thoughts on “[Ratification Collabs] In the Blink of an Eye

  1. WIIIHHH SORRY BIN AKU BARU BACA EHEHHH
    pokoknya semua kisah tentang pelayaran samudra (ini bener ga sih) selalu bikin aku inget sama novelnya Tere Liye /ya teruuuusss
    jadi masa lalu yang bikin Jaehyun terpuruk tuh apa? jangan-jangan…….. kejadian menyelamatkan jeannie dari serangan bom itu pernah dialami juga sama Jaehyun? terus cewenya (yang sepertinya pacarnya jaehyun) engga bisa selamat? jadi jaehyun berusaha gimana pun caranya untuk tidak gagal menyelamatkan cewe yang dia sukai lagi (aku sih nangkepnya jaehyun jadi naksir sama jeannie) /YA UDAH LEL SANA LU BIKIN AE FF SENDIRI
    tsadeesstt
    makasih looo bin sudah mau kolab ya maafin kalel emang tulisannya absurd terus, sungguh tak layak disandingkan diksi indahmu huuuaaa otokkeeee >////<
    maaf juga kemarin2 bawel nanyain kapan kamu sempet wkwkwk TT

    Like

    • Gapapa kok kak. Take your time aja Kaak #hahaha
      Lha apalah yaampun pelayaran samudra-nya Tere Liye xD kak lel bisa aja sih hipernya wkwkwk
      Jadi imajinasi kakak sampai jauh banget masa. Penggambaranku sebenernya masih simpel. Masa lalu si Jae itu berhubungan sama Taeyong dkk (yang digambarkan di ceritanya kakak). Di sini aku bikin Jae itu trauma ketemu sama mereka. Sementara Jean secara koinsidental itu adiknya Taeyong. Dia juga ngalamin kejadian yang juga nyebabin suatu rasa takut (sama kakaknya) yang buat dia mengganti identitasnya dan kabur ke Praha (kedoknya jadi relawan PBB gitu). Kejadian penculikan dan bom itu sebenernya yang ngebuat mereka sadar kalo rasa takut akan selamanya menghantui jika mereka nggak melawan karena pada hakikatnya rasa takut muncul untuk dihadapi dan diatasi, bukan untuk dijauhi dan dibiarkan.
      Sebenernya sih Jean yang suka sama Jae. Cuma disini aku lebih nekanin part Jae. Jadi kesannya si Jae kayak suka Jean (terlalu perhatian sih doi). Karena mereka punya ketakutan yang sama, jadi mereka berjuang bareng buat menghadapi ketakutan mereka sama masa lalu. Dan hubungan mereka di sini juga cuma sebatas rekan (ga ditambahin hidup lho xD)
      Terus ya aku yang seneng bisa kolab sama Kak Lel yaampun. Kakak luarbiyasah badai. Thanks for everything ya kak ❤ 😀

      Liked by 1 person

      • wanjayyy kok jauh amet dari tebakan, maafin ga peka XD ohhhh jadi Jaehyun trauma sama trio oplosan itu wkwkwkwkwk ngakak. alhamdulillah ya Jae traumamu berfaedah sekali
        Jadi Taeyong lah dalang di balik semua ini >///< emang demen ngerusak hidup orang tuh anak hahahaha
        kayaknya itu asumsiku terlalu sayang untuk dibiarkan bin, kamu coba bikin ff deh /SAPA LU NYURUH2
        iya bin masama makasih sudah bikin lanjutan untuk kisah absurdku apalah ini anak nct dibikin jadi tukang ngoplos miras T_T
        hayuk kapan2 kolab lagi XD

        Like

  2. YHAAAA DON MAU NGERUSUH DULU

    SATU

    DUA

    TIGA

    sebenernya aku udah baca ini sejak pertama diposting, tapi baru cerita pertama dan lupa mau ngelanjutin. ingetnya pas barusan ini kaklel promosiin di grup /ihik/ /digampar/.
    Serius yaaaa… aku nggak nyangka ceritanya bakal diluar espektasi kaya gini kaaaaak yawla tolong…. kudu punya ilmu banyak nih sebelum nulis ini pasti kan ya? pertama adegan mereka ngoplos minuman keras ituuuuuu, whyyy sepertinya yang nulis cukup berpengalaman? apa jangan2 dirimu pengedar oplosan kak /dibantai/. terussss nih terusss, aku ngiranya si jaehyun ini bakal nyelametin mereka2 yang mabuk, terus merekanya tersentuh karena jaehyun anak baek2 terus akhirnya ditemenin deh, intinya mereka semua khilaf /ngarang lu woy/. semakin kebawah semakin candu tau ga sih kaaaak, apalagi penjabaran siapa jaehyun itu, pekerjaannya, dimana dia, lagi ngapain, itu haceeeepp bangettttt.. dan yang bikin melongo ternyata mba mba ini adeknya taeyong…

    warbyazaaah kakak2ku sekalian sini don peluk dulu siniiihhhh…. berawal dari ngoplos sampe mabuk dan berakhir jadi kapten (yaa alhamdulillah walaupun jaehyun nda ikut2an minum) hihihihihihi XD XD

    Liked by 1 person

    • HAI DON! 😀

      Ini murni bener-bener diluar ekspektasi lho (kalimatmu bener syekali donna). Sebenernya ini diluar kehendak dan kesepakatan awal aku sama Kak Lel. Rencana awalnya kita mau bikin adventure-fairytale tapi setelah terima naskah bagiannya Kak Lel, aku kaget bingo. Dua bagian awal isinya oplos-mengoplos! Gewlak ga pernah bikin yang begituan mah aku T.T jadi bingung mau dibawa kemana. cuma bisa mantengin doang #heuheu trus ya Kak Lel juga ngejelasin cara ngoplosnya lagi. Yasalam, aku speechless! Kak Lel, why engkau tau banget hal-hal macem gitu?!?!?!
      Dan akhirnya dengan alasan ‘kurang paham oplos-mengoplos’ xD, aku bawa cerita ini sampe meluber jadi teror-meneror #huahaha /ketawa setan/

      Liked by 1 person

  3. jeongmal
    saya salfok sama pembukanya, saya kira ini bakal jadi ff school life dgn warna bullying yg biasa ternyata endingnya seperti itu. saya suka saya suka! aku sih ga begitu paham bagaimana cara nulis ff bernuansa militer jadinya terkagum2 deh baca ini :p
    itu harus bgt 95line minum oplosan dan gedenya jadi teroris
    terus aku gak menyangka kamu menjadikan tiga orang itu tentara asing uhuiiiiii itu salah satu plot yg tdk tertebak dan menurutku lumayan menarik.
    dan cerita yg tdk benar2 dituntaskan sampe jung jae ketemu taeyong — itu bikin penasaran!
    speechless, intinya suka sama ff ini, keep writing to both of you!

    Liked by 1 person

    • Halo Kak LDS!
      Karena satu penulisnya ga bisa bikin ff school life bullying dan ga paham oplos-mengoplos (tunjuk diri sendiri) jadinya ada plot-twist ditengah-tengah /nyengir/
      Soalnya kalo 2000liner yang minum oplosan dan gedenya jadi teroris, bakal segempar apa satu blog ini #wkwkwk
      Jadi karena pertimbangan Yuta dan Johnny yang beda bangsa sama Taeyong (bener ga sih?) akhirnya memasukkan Ten dan Winwin di kubu Jaehyun jadi pilihan. Juga karena dinas ketentaraan tidak bisa menerima perwira berkewarganegaraan asing, jadi satu-satunya pilihan adalah membuat mereka bersatu dibawah PBB. daan – sebenernya Taeyong sama Jaehyun udah sempet ketemu disini. Sebenarnya ada plot-hole juga sih (ga papa ya aku sampein disini) waktu Jeanine disandera itu ada Taeyong dkk di situ (Jeanine disandera biar Jaehyun keluar nemuin doi) Tapi aku revisi lagi gara-gara nanti meluber sampe kemana-mana dan aku sendiri juga lebih tertarik sama cerita yang open ending /ketawa setan/
      makasih buat komenannya ya kak 😉 ❤

      Like

  4. keren thorrr… duh kebayang jung jaehyun cowok terperfek seantero sm jadi tentara:*
    btw tiway boleh jg jd gengster scara mukanya mendukung wkwk
    pokoknya keren thor keep writing yah^^

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s