[NCTFFI Freelance] Letter from Sankt Moritz (Vignette)

letter-from-sankt-moritz

Letter from Sankt Moritz

| Vignette | Kun NCT, Xian Lai | Friendship, Life, Love, Romance |

By – Jo Andante (andantecho.wordpress.com)

Demi merayakan musim dingin yang menutup tahun ini. Semoga suka. Terima kasih sudah membaca.

-.

-.

***

Untuk Kun, sahabat terbaikku, di Seoul. Dikirim dari Sankt Moritz, Lembah Engadin, Swiss.

Cuaca sangatlah buruk. Salju turun sejak dua hari yang lalu tanpa henti, menumpuk di halaman resor ini. Aku bahkan tak bisa keluar ke balkon kamar resorku karena salju. Padahal aku ingin menikmati butir-butir salju jatuh di kepalaku. Puncak tertinggi Alpen hanya beberapa kilometer di selatan kota ini. Tetapi cuaca buruk menghentikan ekspedisiku ke area tersebut. Jaringan telepon pun sulit di sini, dan aku tak bisa menghubungimu sama sekali.

Jangan khawatir, Kun. Aku baik-baik saja. Aku sehat, tidak sakit atau mengalami apapun yang buruk. Dan aku tidak pernah lupa ulang tahunmu, Kun. Kau sahabat terbaikku sejak kita kuliah di Seoul. Kita sama-sama pendatang, masih asing dengan kota itu ketika kita memulai kuliah. Tapi kau menjadi teman yang baik dan ada dalam setiap waktu. Selain itu, kita juga bekerja di kantor yang sama, membuatku susah jauh darimu.

Kau pasti bertanya-tanya, kenapa akhir-akhir ini aku rajin sekali melakukan ekspedisi. Ada beberapa hal menjadi landasannya. Pertama, kita bekerja di perusahaan pertelevisian, Kun. Kau di bagian film, dan aku di bagian berita. Aku ingin membuat berita ekspedisi lagi. Kedua, aku tengah memikirkan berbagai cara untuk jauh darimu, Kun. Tolong jangan salah paham dulu. Bukannya aku benci padamu. Tetapi aku terlalu senang bersamamu sampai pemikiranku jadi kacau.

Kau ingat Yuta? Dia laki-laki yang kusukai saat kita kuliah dulu, Kun. Dia pemain sepak bola yang handal dan punya senyum menawan. Ketika ia bermain sepak bola, semua orang kagum pada keahliannya. Aku suka padanya, tapi terlalu takut untuk sekadar mengatakannya. Ia akhirnya menjalin hubungan dengan gadis lain dan akan menikah sebentar lagi. Undangan pernikahannya sampai di rumahku beberapa hari sebelum ekspedisi ini berlangsung. Untungnya, aku akan berada di Seoul saat acara itu datang.

Ketika aku sadar bahwa aku kehilangan Yuta, hatiku hancur dan menghilang sebagian, dibawa pergi pria itu. Kau ada di saat-saat terpuruk itu, Kun. Dan aku bersyukur kau ada bersamaku waktu itu. Kau adalah satu-satunya pria yang bisa mengumpulkan lagi hatiku, mengisinya dan merekatkan kembali kepingan-kepingan itu. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa mengembalikan kepingan yang hilang.

Kun, karena itulah, aku jadi mencintaimu. Kau lebih berharga dari apapun di dunia ini, Kun. Aku tahu, pengakuan ini seperti sebuah badai salju di hari ulang tahunmu yang dingin itu. Tapi aku tak bisa membiarkanmu berlalu tanpa mengetahui perasaanku seperti Yuta dulu yang berlalu begitu saja. Jauh darimu membuatku lebih banyak berpikir tentangmu, Kun. Bukannya melupakanmu, aku malah teringat padamu. Dan karena itulah, aku menulis surat ini.

Aku memikirkan banyak hal, Kun. Hal-hal itu tentang dirimu. Beberapa hal mengingatkanku padamu. Seperti salju yang menumpuk di tiap ulangtahunmu, ataupun lagu-lagu yang kuputar sendiri dan kusenandungkan kala sepi. Aku jadi berpikir, haruskah aku mengajakmu ke pernikahan Yuta di Seoul nanti agar aku tidak terlalu patah hati? Atau haruskah aku memberikanmu kartu pos untuk menambah koleksimu? Tolong katakan padaku kalau suratku sampai di Seoul nanti.

Terakhir, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, Kun. Aku berdoa untuk panjang umurmu dan kesehatanmu agar kita bisa selalu bersama-sama dalam menjalani hidup kita. Aku berharap akan segala sesuatu yang terbaik untukmu. Dan aku akan selalu mendukungmu, Kun. Kalau kau merasa pengakuanku di atas tadi sangat aneh, lupakan saja, Kun. Tak ada gunanya diingat-ingat.

Seharusnya aku mengirim surat ini beberapa minggu sebelum ulang tahunmu agar ia sampai tepat waktu. Tapi tak masalah. Lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali, kan?

Sampai bertemu lagi, Kun. Aku rindu padamu.

Xian Lai

-=-

Kun meremas surat di tangannya ketika air matanya jatuh tanpa henti. Bagian bawah surat itu jadi basah, terkena titik-titik tangis Kun yang meleleh sejak tadi. Pintu ruang operasi di samping pria itu masih tertutup rapat, dan lampu di atas pintu masih menyala terang. Operasi masih berlangsung, tak tahu kapan selesainya. Kun hanya terduduk dalam diam, berharap kepastian.

Pemirsa, kecelakaan pesawat tersebut diduga karena cuaca buruk dan badai salju yang akhir-akhir ini melanda Seoul. Pendaratan pesawat disertai guncangan besar yang mengakibatkan beberapa penumpang kritis dan luka-luka. Beberapa penumpang langsung dilarikan ke rumah sakit. Beberapa korban selamat mengalami kritis karena cedera berat. Salah satu korban adalah jurnalis divisi berita yang berasal dari Beijing, Xian Lai. Ia baru saja kembali dari ekspedisinya di Swiss, tepatnya di Sankt Moritz.

Suara televisi di ruang tunggu membuat Kun tambah sedih. Pria itu berdiri, menekan tombol televisi agar benda itu tak bersuara lagi. Lantas Kun pun beralih ke arah pintu ketika lampu ruang operasi akhirnya padam. Seorang dokter keluar dengan noda-noda darah di tubuhnya dan maskernya. Wajah dokter itu tidak memperlihatkan ekspresi yang baik, membuat Kun makin khawatir. Kun langsung menghampirinya tanpa basa-basi. Dengan nada kacau, Kun bertanya pada dokter itu.

“Bagaimana keadaan Xian Lai?” Kun bertanya cemas.

“Sangat buruk. Nona Xian Lai belum sadar dan mungkin tidak akan sadar dalam waktu lama. Keadaan sangat buruk dan kemungkinan dirinya untuk bertahan sangatlah kecil.”

“Dia harus bertahan, Dokter!” Kun menjerit di tengah tangisnya yang jatuh kembali. “Dia harus bertahan untukku!”

“Nona Xian Lai mengalami cedera berat di beberapa bagian vital seperti kepala dan lehernya. Hal ini tentu memperburuk keadaannya. Darahnya berkurang drastis dan kinerja otaknya menurun. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain berharap dan menanti jawaban. Jika Nona Xian Lai tidak bangun dalam kurun waktu satu hari, maka harapan kita akan pupus.”

Dokter itu menepuk bahu Kun beberapa kali, mencoba memberikan penghiburan sebagai seorang dokter. Sementara Kun hanya bisa menunduk dengan wajah pucatnya, berharap adanya keajaiban datang.

-=-

Kun memakai baju steril serba biru, lengkap dengan masker dan penutup kepala yang menutupi rambut hitamnya. Xian Lai masih ada di atas kasur ruangan khusus, disertai perban yang menutupi seluruh tubuhnya. Mulut Xian Lai bernapas lewat selang oksigen. Beberapa alat bantu hidup juga terhubung dengan tubuh Xian Lai. Kun hanya bisa melihat mata Xian Lai yang tertutup.

“Xian Lai,” panggil Kun pelan meski tak ada respon. “Jangan tinggalkan aku sendirian. Beri aku kesempatan untuk membalas pengakuanmu. Kau harus mendengar jawabanku, Xian Lai.”

Tak ada jawaban sama sekali. Hanya suara monitor jantung yang berbunyi statis. Kun menghela napas, merasakan matanya berkaca-kaca karena air mata.

“Xian Lai,” desah Kun pelan. “Aku ingin mengatakan bahwa aku juga mencintaimu. Karena itu, bangunlah dan dengarkanlah pengakuanku. Aku akan menemanimu ke pernikahan Yuta. Jadi kau jangan takut atau khawatir. Kau bisa membawaku dan membanggakanku di depan teman-temanmu.”

Tanpa terasa, kata-kata Kun berubah jadi isak tangis. Suara monitor jantung berubah disertai bel peringatan yang berdering keras di ruangan itu. Kun pun jatuh terduduk di lantai, menangis keras-keras dan meraung. Lantai menjadi ternoda oleh air matanya. Dan Kun terus berteriak, memanggil nama Xian Lai sampai pintu ruangan itu terbuka

“Aku mencintaimu! Xian Lai, aku cinta padamu!”

Dua orang perawat menarik Kun menjauh dari kasur Xian Lai. Tapi Kun memberontak, ingin tetap berada di sana. Seorang dokter menerobos masuk bersama timnya, mendekati Xian Lai. Kun semakin berteriak ketika kata-kata kritis keluar dari mulut para dokter. Kun hanya bisa menangis saat pintu ruangan Xian Lai tertutup di depannya, menyisakan kenangan akan para dokter yang mencoba mengembalikan hidup sahabatnya.

“Kenapa harus seperti ini?” Kun berbisik pelan.

Rasa takut pun menyerang Kun. Ia takut bahwa tak ada kesempatan untuk menyatakan perasaannya pada Xian Lai. Ia takut kalau Xian Lai pergi tanpa mengetahui bahwa Kun selama ini juga mencintainya. Ia takut andai kata ia kehilangan Xian Lai, sahabat terbaiknya sekaligus cinta sejatinya.

Dan ia takut, bahwa ia tak sempat membalas surat yang dikirim Xian Lai dari hati terdalamnya.

-End-

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] Letter from Sankt Moritz (Vignette)

  1. Wahh udahan nih, Xian Lai-nya meninggal? Jadi angst dong :’) Deskripsinya runtut plus detil banget, sukses lah bayangin tiap scene-nya. Galaunya abang Kun di depan ruang operasi, trus paniknya dia, bikin baper huhu. Ngga bisa pamer ke Yuta dong :’)
    Anyway nice ones! Keep writing yah!

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s