[Drabble-Mix] What’s Happening on New Year’s Eve? (2)

img_77921

What’s Happening on New Year’s Eve?

a special b’day fic from nctffi staffs

Mixed-drabbles by:  Angela Ranee; Angelina Triaf; IRISH; Jane Doe; Mingi Kumiko; thehunlulu

| Length: ±200wc | Rating: PG-13 |

Genre: Hurt/Comfort; Crime; Fluff; Horror; Supernatural; Romance; Friendship

Rules : no plagiarism!

.

Bagian dua dari dua

.

[Scotland]

“Akan kubawakan bola api raksasa malam nanti!”

Satu ucapan bergema di benak Sana sekarang. Sementara ia sendiri menghembuskan nafas kesal saat sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tapi kekasihnya—Kun—tidak kunjung tampak. Jangankan wujudnya, aroma parfumnya saja tidak tercium.

Duh, kalau tahu begini Sana tidak mau repot-repot datang.

Kun sebenarnya tahu benar kalau Sana adalah tipe introvert yang tentu saja, sangat benci keramaian. Tapi Sana bisa apa? Kun bilang melihat Sana di malam tahun baru adalah harapan ulang tahunnya. Padahal, Sana pikir Kun mungkin berusaha mengurangi sifat introvert-nya dengan cara membuatnya menunggu seperti ini.

“Sana!” terdengar teriakan menyapa rungu Sana, membuat gadis itu segera mengitarkan pandangan ke kiri dan kanan, mencari keberadaan Kun.

“Kun!” ia memekik saat dilihatnya Kun berdiri tidak jauh darinya, melambai-lambai sambil memasang senyum cerah di wajah. Lekas, Sana merajut langkah mendekati Kun sementara netranya mencari keberadaan ‘bola api raksasa’ yang tadi Kun bicarakan.

“Di mana bola apinya?”

Kun—masih dengan senyum di wajahnya—lantas menarik Sana ke dalam dekapan. Dipeluknya gadis itu erat-erat sembari berucap.

“Ini, di dalam sini ada bola api terbesar di dunia. Bola api cintaku.”

Nah, sekarang darimana Kun belajar menggunakan kata-kata cheesy seperti itu?

.

[USA]

“Emma, kau ingat ‘kan kalau tahun lalu kita batal pergi ke Amerika?”

Di tempat yang sama, waktu yang sama dengan dentang jam dua belas kali yang persis terdengar seperti setahun lalu, Kun tak lagi sendirian. Gadis berambut cokelat panjang itu menemaninya, dengan senyum takjub yang sedari tadi singgah di bibir.

“Doyoung sakit, ingat?” Emma menatap Kun, tertawa kecil karena kepalanya secara otomatis memutar memori yang menurutnya lucu itu. “Akhirnya kami berdua melakukan panggilan video padamu, dengan kue ulang tahun rasa lemon yang Doyoung pesan. Ya Tuhan, wajah Doyoung yang memerah dan super jelek itu masih tergambar jelas dalam otakku.”

Kun hafal perangai Emma. Gadis itu hanya akan tertawa jika ia benar-benar menyukai sesuatu. Saat ini, ia melakukan hal itu, karena teringat akan Doyoung.

“Emma.”

“Ya?”

“Berteman denganku selama ini … apakah tak akan ada yang berubah di antara kita?”

Bukan kali pertama Kun memulai obrolan yang seperti ini, sehingga Emma tak perlu menjadi jenius untuk mengerti. “Tidak. Kau akan selamanya jadi teman baikku, Kun.”

Semuanya seperti mimpi. Kekecewaan dalam diri Kun belum sepenuhnya merambati hati ketika Emma menarik jemarinya, menjinjitkan kaki lantas menciumnya dengan lembut.

Seperti tradisi di tanah ini, Emma hanya berharap agar tahun ini akan jadi lebih baik. Ia ingin bisa melupakan kesedihannya. Menjadi teman terbaik bagi Kun, mungkin juga bisa ditambahkan sedikit bumbu romansa yang baru.

Yang lebih manis. Yang lebih indah.

.

[German]

Jangan pernah berharap memiliki momen tahun baru yang indah jika kau merayakannya denganku. Jangankan ajakan berkencan, mengajak anak tetangga yang berumur tujuh belas tahun untuk merayakan malam tahun baru saja rasanya sesulit bertemu idolamu—jika kau seorang fangirl pecinta Korea.

Hal yang sama harus terjadi setiap tahun, dan mau tak mau kau harus menikmatinya sampai dentingan jam mengarah pada pukul dua belas lebih lima menit waktu setempat. Biar kuberitahu sesuatu; jika kau tinggal di Jerman, kau akan menemukan acara televisi Inggris yang berjudul ‘Dinner for One’.

Masih belum mengerti? Oke akan kujelaskan.

Adalah sebuah acara tahunan yang rutin disiarkan pada malam tahun baru, yang bahkan jika kau tinggal di kota besar seperti Berlin pun, seluruh penduduk akan berdiam diri di dalam rumah untuk menonton acara tersebut. Sampai sepuluh tahun ke depan mungkin malam tahun barumu akan bernuansa boring seperti yang kurasakan sekarang.

Tahun baru kali ini kedua orang tuaku sedang berada di Milan karena urusan pekerjaan yang entah apa itu—juga masa bodoh—istilahnya. Sejujurnya aku sudah merajuk untuk ikut mereka berdua, namun ayahku lah yang melarangku karena setiap malam tahun baru akan ada seseorang yang memberiku hadiah duri ikan mas sebagai jimat keberuntungan. Ck, sialnya negara ini penuh dengan takhayul yang bahkan tak pernah kupercaya sebelumnya.

“Kak Kun!”

Teriakan seorang gadis mengundangku untuk menolehkan kepala ke arah pintu yang tengah diketuknya. Selagi melempar remot yang sedari tadi kugenggam erat, detik berikutnya aku melangkah untuk membuka pintu dan—

Frohes neues Jahr! Selamat tahun baru, Kak Kun!”

—disambut oleh presensi anak gadis tetangga yang sedari tadi kuharapkan kehadirannya.

“Mau bermain kembang api bersamaku?” tawarnya sumringah sambil memberikan sebatang kembang api yang tengah meletup-letup itu padaku.

Aku mengulum senyum. Bersamaan dengan itu, si gadis mengulurkan sebuah kantung berisikan duri-duri ikan mas kepadaku.

“Selamat ulang tahun Kak Kun, semoga dirimu senantiasa diberi keberuntungan oleh Tuhan,” ujarnya lalu berjinjit di hadapanku.

Cup!

Tak sampai sedetik doa gadis itu pun terkabul.

.

[Colombia]

Aku masih tak mengerti mengapa Sinterklas memberiku hadiah berupa koper yang berisi seekor dalmation berkaki pincang di malam natal kemarin.

Meskipun tak menyukainya, namun aku tak punya pilihan selain menghabiskan waktu di dalam kamar bersama hewan itu. Melihatinya berlarian dengan riang. Lidahnya pun terjulur dan menorehkan raut berbinar.

“Jangan melakukan hal tidak berguna!” sentakku karena muak melihat aksi lincahnya.

“Jangan pura-pura bahagia dengan fisikmu yang cacat. Kau terlihat menyedihkan!”

Aku pun beranjak dari kursi dan membuka jendela kamar. Kupandangi jalanan di depan rumah—berhubung rumahku berada di sebuah cluster. Suasana sangat ramai, kerlap-kerlip lampu mewarnai jalanan yang biasanya lengang.

Kudengar seruan anak-anak tetangga yang riang menunggu giliran mereka berlari sambil menyeret koper kosong—tradisi di daerah kami apabila malam tahun baru tiba. Anjing itu menghampiriku, menempel-nempelkan bulunya dengan manja hingga kakiku terasa geli.

“Kubilang berhenti menganggap bahwa kau sama dengan anjing normal lainnya! Itu menyakitkan!” napasku sontak tercekat. Anjing itu pun berhenti bertingkah antusias setelah kuhardik.

Namun itu tak berlangsung lama. Ia kembali menjulurkan lidah dan berlari ke ambang pintu. Kuembuskan napas berat.

“Baiklah, jika kau memaksa. Ayo kita main ke luar dan menyeret koper kosong.” tandasku seraya meraih tongkat kakiku yang tersampir di sebelah meja belajar.

.

[Japan]

“Belnya akan berbunyi sebentar lagi,” ucap Rei seraya menyodorkan gelas kertas berisi kopi panas kepada Kun. “Kopi?”

“Terima kasih,” jawab Kun. “Aku belum pernah merayakan pergantian tahun dengan cara seperti ini sebelumnya, kalau boleh jujur.”

“Kalau begitu perayaan pergantian tahun kali ini harusnya bakal berkesan bagimu,” Rei tersenyum, memandang orang-orang yang berada di sekitar Kuil Yasaka sembari menunggu pergantian tahun.

Kun menghabiskan liburan akhir tahunnya di Kyoto, Jepang, sekaligus untuk menemui kawan lama dari masa SMA-nya, Ino Rei. Sosok yang pernah mengisi spasi kosong di hatinya. Malam itu keduanya tengah mengunjungi Kuil Yasaka, salah satu kuil Buddha yang menjadi destinasi favorit para wisatawan di Kyoto. Adapun tradisi membunyikan bel sebanyak 108 kali pada detik-detik pergantian tahun di kuil-kuil Buddha Jepang, yang dipercaya dapat mengusir kejahatan dan pengaruh buruk di tahun yang akan datang.

Listen, the bell is already ringing!” Rei menepuk pundak Kun. “Jangan lupa doakan semua harapanmu di tahun yang akan datang!”

Kun memejamkan mata seraya memanjatkan doa dan harapan untuk tahun yang selanjutnya. Dwimaniknya kembali terbuka untuk menatap gadis bertubuh mungil yang berdiri di sebelahnya.

Bel berbunyi untuk yang keseratus delapan kali, bersamaan dengan Rei yang mengizinkan Kun untuk meninggalkan satu kecupan di bibirnya.

.

[Ecuador]

“Kun, kau sudah gila!”

“Bukannya kau sendiri yang ingin melakukan ini, Doyoung-a?”

Kun tersenyum sarkastik ketika retinanya menangkap pergerakan Doyoung yang kini tidak meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari ikatan yang dibuat Kun. Karena terakhir kali, usahanya tersebut malah membuahkan beberapa goresan dalam di sekitar pergelangan tangannya.

Sementara Kun tidak berkomentar. Ia sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam ritualnya malam ini.

“Aku sebenarnya tidak bermaksud melakukan ini padamu. Tapi, kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau bosan melewatkan malam pergantian tahun yang itu-itu saja.”

Kun mengangkat bahu sambil mengacungkan sebuah benda yang terbuat dari logam berkilat tepat di hadapan Doyoung yang kini menatap Kun dengan tatapan membunuh.

“Demi langit, aku akan membalas perbuatanmu nanti!”

Kun nyaris tertawa mendengar komentar Doyoung yang semakin lama semakin sinis. Pemuda itu tidak menggubris selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara.

“Apa kau tahu, Kim Doyoung? Di Amerika Latin, tepatnya Ekuador, masyarakat biasanya akan menghabiskan malam tahun baru dengan membakar orang-orangan sawah yang ditempeli wajah orang yang mereka benci untuk buang sial. Dan kau tahu—,”

Kun mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu di telinga Doyoung.

“—kau adalah orang yang paling kubenci, Kim Doyoung.”

–Fin.

  • Skotlandia: Bola api viking dianggap sebagai lambang pemurnian serta pengharapan, jadi setiap malam tahun baru para lelaki Skotlandia akan berparade mengelilingi kota membawa suluh (obor).
  • Amerika: Berciuman dengan orang yang dikasihi pada malam tahun baru di Amerika dipercaya sebagai bentuk pengharapan akan hilangnya kesedihan dan munculnya cinta yang baru.
  • Jerman: Dinner for One adalah nama sebuah acara pertunjukan di Inggris. Tiap malam tahun baru, mereka akan menonton acara itu bersama-sama. Bayangkan bagaimana rasanya menonton acara dengan gambar dan pemain yang sama tiap tahunnya.
  • Kolombia: Penduduk Kolombia akan mengelilingi blok perkotaan dengan menggeret sebuah koper kosong. Hal ini sebagai pengharapan agar di tahun mendatang kehidupan mereka penuh dengan perjalanan.
  • Jepang: Menurut kepercayaan Buddha di Jepang, membunyikan bel lonceng di kuil sebanyak 108 dalam perhitungan mundur malam tahun baru akan mengusir kejahatan dan dosa manusia.
  • Ekuador: Membakar orang-orangan sawah tepat jam 00.00 di malam tahun baru dipercaya bisa membakar habis hal buruk selama satu tahun yang telah dilewati dan membawa keberuntungan di tahun yang akan datang.
Advertisements

5 thoughts on “[Drabble-Mix] What’s Happening on New Year’s Eve? (2)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s