[Ficlet-Mix] Medical School Room

medical-school-room

MEDICAL SCHOOL ROOM

©2017 — thehunlulu

[NCT’s] Huang Renjun, Mark Lee, Jung Jaehyun & [OC’s] Jane Jung — School life, Friendship/3 Ficlets/Teenager

“Renjun naksir adikmu!”


[1st]

CEDERA

Tidak kupedulikan suasana koridor yang tengah sunyi, dengan menyisakan suara gaduh yang menguar dari bilik jendela kelas—yang sedikit terbuka. Irisku terpaut pada satu titik; ubin persegi berwarna putih marmer seraya melajukan tumit menuju ruang kesehatan. Jam pelajaran sedang berlangsung lima belas menit yang lalu, maka dari itu kelenggangan lingkungan sekolah tampak terasa sehingga membuatku bersantai sejenak, membetulkan posisi headphone yang bertengger di kepalaku.

Dikarenakan beberapa anggota PMR satu angkatanku yang lain sedang mengikuti pembelajaran, maka presensiku yang tidak terlalu diperlukan di dalam kelas saat jam kosong pun bergegas untuk menjaga UKS. Setidaknya walaupun di sana tidak ada siapa-siapa, tidak ada salahnya juga kan jika sekedar numpang tidur atau memeriksa kelengkapan obat di dalam rak?

Baru satu menit lagu dari dalam ponselku mengalun, selangkah setelah melewati tangga kulihat sosok gadis yang tergopoh dan berusaha merampungkan dua anak tangga di depannya, seraya sebelah tangannya menggenggam erat pegangan yang ada di sampingnya.

“Kak Jane kenapa?!”

Sontak kusibakkan tanganku untuk melepaskan headphone dengan kasar. Kepalaku perlahan melongok saat kudapati sosoknya yang tampak kesusahan sambil menatap pergelangan kakinya yang membengkak. Peluhnya meluncur bebas melewati paras cantiknya, kuncir kudanya tidak terikat rapih serta sisa air mata yang begitu kentara membanjiri pelupuknya.

“Kak Jane terkilir?” tanyaku perlahan di sela isakan kecilnya, kendati tubuhku tahu-tahu sudah berjongkok di depannya. “Naiklah, akan kuantar ke UKS.”

Masih belum ada sepatah kata yang mencelos dari bibir tipisnya saat tubuhnya kini bertumpu pada punggungku. Selanjutnya laju langkahku lebih pelan, Kak Jane melingkarkan tangannya di atas pundakku.

Ah, benar. Pergelangan kaki Kak Jane terkilir. Begitu batinku saat memerangkap kondisi kaki kirinya yang tidak terbalut sepatu.

Tidak lama kami berdua menembus pintu UKS, kujatuhkan tubuh Kak Jane di atas tempat tidur sementara atensiku beralih untuk mencari keberadaan chlor etil—obat semprot pereda sakit pada kaki cedera—di dalam rak. Bola mataku bergulir, menilik satu per satu deretan obat di dalam rak berlapis kaca tersebut. Hingga pada akhirnya dahiku berkerut samar saat obat yang kucari tidak ada sama sekali, bahkan obat lain yang sejenis juga nihil saat kuabsen satu per satu di dalam catatan obat.

“Cari obat semprot, Jun?”

Pandanganku beralih. “Iya, kenapa tidak ada ya? Apa perlu kutanya—“

“Itu di dekat wastafel.”

Parah, dengan raut kikuk pun malu akhirnya kutemukan—ralat, Kak Jane menemukan benda berbentuk silinder yang tertata rapih di atas meja dekat wastafel. Tidak bisa kuhindari betapa Kak Jane malah terkekeh memandangku yang berlagak bodoh seraya menyambar obat tersebut. Bisa gila lama-lama jika dengan kehadiran Kak Jane saja sudah membuatku amnesia perihal tata letak obat yang disimpan di dalam UKS.

Kemudian aku bertandang untuk berdiri di sampingnya sembari menggulung sedikit bagian bawah celana olahraganya.

Aww, sakit Jun, hentikan sebentar,” tukas Kak Jane sesaat setelah cairan tersebut kusemprotkan.

“Jangan dipijat Kak, nanti cederanya semakin parah. Rileks saja, sakitnya tidak akan lama, kok,” jelasku sementara menyuruh Kak Jane untuk bersandar pada dinding.

Dengan perlahan kusemprotkan kembali cairan itu hingga merata. Sejenak pikiranku melayang entah ke mana, saat tiba-tiba Kak Jane mengamati wajahku dengan sebuah senyuman yang terukir pada wajahnya. Rasanya… seperti mimpi, jika kau tahu. Laki-laki mana yang tidak mau melakukan kontak fisik dengan kakak kelas secantik Kak Jane? Kurasa jatuh cinta itu sederhana, jadi tidak salah ‘kan jika menemani Kak Jane istirahat di sini sampai bel pulang menyapa?

“Nah, sudah selesai!”

Kak Jane menarik tubuhnya, meniup beberapa anak poni yang menghalangi penglihatannya. “Wah, terima kasih, Renjun!”

Aku hanya mengangguk singkat tanpa melunturkan senyuman guna membalas Kak Jane. Setelah meletakkan obat, aku beranjak menuju jendela di samping tempat tidur Kak Jane dan menyibakkan gorden berwarna biru muda tersebut agar terbuka.

“Kira-kira berapa lama kakiku akan pulih?”

Kutatap wajah Kak Jane, sementara diriku bergeming di tempat yang sama. “Hm… mungkin sekitar satu sampai dua hari jika tidak terlalu parah. Kelihatannya cedera Kak Jane agak ringan, kok. Memangnya Kak Jane habis ngapain sampai terkilir seperti itu?”

“Konyol sekali, kautahu. Saat lari estafet aku tidak sengaja menginjak stik kasti yang dilempar temanku kemudian aku terjatuh dengan posisi berlutut.”

“Ah, begitu rupanya…”

“Omong-omong, Renjun tidak ada pelajaran?”

Aku lekas menggeleng. “Tidak, memang sedang jam kosong jadi aku memilih untuk menjaga UKS. Di sini lebih menyenangkan daripada di kelas, hehehe.”

Tidak. Apa aku sedang mengode Kak Jane jika bersamanya semuanya akan terasa lebih menyenangkan?

“Syukurlah, aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan jika bukan kau yang mengobatiku di sini,” ucapnya selagi lengannya terulur, meraih puncak kepalaku lalu mengacak rambutku sekilas.

“Ke—kenapa?”

Oh Tuhan, pertanyaan macam apa yang baru saja kuluncurkan?

“Tidak apa-apa, kok. Cederaku akan cepat sembuh mungkin jika kau yang mengobatiku?”

“Eh?”


[2nd]

DI BALIK JENDELA

“Mark Lee! Tangkap!”

Di belakangku, sosok Jeno melemparkan bola basketnya ke arahku yang kubalas dengan desisan singkat saat presensinya menghilang begitu saja. Menariknya, karibku yang satu itu begitu tahu jika sahabatnya ini sedang butuh pelampiasan setelah menerima nilai ulangan harian fisika yang jauh dari kata sempurna. Maka setelah lembaran yang tertera nilai—tidak, sepertinya nomor absen—dua puluh tiga itu kuterima, lantas saja kulancarkan aksi untuk skip dengan alasan sakit perut.

Hingga tubuhku kini melesat cepat, men-dribble­ bola berwarna kecoklatan itu kemudian melakukan lay-up dan berhasil meloloskannya ke dalam ring. Selebrasi kecil turut kulontarkan disertai hentakan kaki sambil memutar bola basket itu di atas telunjukku. Rasanya sangat menyenangkan, persetan dengan kutukan laknat Pak Taeyong yang mungkin saat ini sedang menyumpahiku dengan doa kesialan yang paling buruk sekalipun.

Sepasang manikku mengedar, mencari keberadaan Jane di antara gerombolan kelasnya yang sedang melakukan pendinginan seusai olahraga. Kalau tidak salah, jadwal olahraga kelas Jane itu hari ini. Atau mungkin Jane sedang pergi ke kamar mandi, begitu asumsiku. Tapi biarkanlah, tidak terlalu penting juga jika terlalu memikirkannya. Karena yang kubutuhkan saat ini adalah pelampiasan, bukan—tunggu, itu ‘kan Jane?

Pandanganku semakin menengadah, disusul menyipitkan kedua mata saat sosok Jane terperangkap netraku di atas sana. Apa yang ia lakukan di dalam UKS?

“Jane Jung!” panggilku sekencang mungkin setelah gorden di dekatnya terbuka sempurna. Kukatupkan jemariku di samping bibir lantas kupanggil gadis itu sekali lagi. “JANE JUNG! JANE JUNG! SEDANG APA DI SANA?!”

Tak peduli seragam bagian belakangku yang mulai menyerap keringat, karena diriku masih menunggu respons Jane di balik jendela yang tak kunjung menyadari keberadaanku di lapangan.

“Sedang bicara dengan siapa, Jane?!”

Tepat, setelah pekikan selanjutnya nyaris kulayangkan tiba-tiba sosok laki-laki menyembul dari balik gorden sambil menyematkan cengengesan pada bibirnya. Mataku tidak rabun, pun sedang dalam keadaan berdelusi. Tapi itu adalah Huang Renjun, adik kelas yang berada satu tingkat di bawahku yang kerap kali mengundang kekhawatiranku karena dia—

“Sialan!”

—naksir dengan Jane.

Segera, tanpa ampun kulemparkan bola basket yang berada di tanganku hingga memantul nyaris mencium pelipisku. Emosiku membuncah tak mengenal situasi sesaat setelah kegiatan bercengkerama bahagia mereka berakhir, lalu Jane mengacak rambut Renjun pelan.

Kuangkat telunjukku mengarah ke atas, sementara dalam hati berkata kasar—sekasar mungkin—kemudian mengambil bola basket itu seraya melemparkannya ke arah ring dengan tenaga maksimal. Senada dengan amarah yang kian meletup-letup saat kudapati wajah kampret Renjun malah cengengesan. Hatiku semakin tertohok sempurna kala Jane terlihat enggan melepaskan senyumannya untuk bocah tengik seperti Renjun.

“BERENGSEK KAU HUANG RENJUN! KAU SAMA MENYEBALKANNYA DENGAN NILAI ULANGAN HARIANKU, BODOH! HARI INI KAU TIDAK AKAN KUBIARKAN PULANG DENGAN SELAMAT, BOCAH KURANG AJAR!”

Sumpah, segenap hatiku benar-benar dongkol setengah mati dengannya. Setelah melemparkan bola dan menghantam ring dengan keras, aku meninggalkan lapangan lalu berlari guna kembali ke kelas.

Kali ini kau boleh menang, Renjun.


[3rd]

MUSTAHIL

“APA?!”

Kak Jaehyun sekonyong-konyong tersedak lalu menyemburkan orange float dari dalam mulutnya.

“Katakan… Katakan sekali lagi, aku tidak mendengarnya!”

Di sini—di hadapan Kak Jaehyun—aku hanya bisa menggelengkan kepala tak mengerti. Mengingat-ingat kejadian tadi pagi mampu membuatku cukup gila. Sungguh, bahkan Kak Jaehyun yang notabenenya adalah kakak kandung Jane saja terperangah hebat setelah mendengar ucapanku.

“Serius, Renjun naksir adikmu, Hyung!”

Detik berikutnya biarkan Kak Jaehyun mencerna sendiri apa maksud dari perkataanku yang cukup gamblang itu. Dijauhkannya gelas berisi cairan jeruk itu, kemudian menempelkan kedua sikunya di atas meja selagi jemarinya terpaut layaknya orang yang sedang berpikir keras.

“Lalu apa maksudmu tentang Renjun yang berduaan dengan Jane di dalam UKS?”

It’s for real, Hyung! Oh ayolah, di sini aku bercerita dengan posisi Jane adalah kekasihku sedangkan kau adalah kakak kandungnya. Tidakkah kau merasa khawatir saat mengetahui adikmu sendiri—yeah, mengobrol dengan seorang laki-laki di dalam UKS? Just only two of them!”

“Perkataan orang yang sedang cemburu memang sering sepertimu, Mark. Lupakanlah, mungkin—“ Kak Jaehyun mendelik menatapku. “Apa?! Hanya mereka berdua?!”

Beberapa hal aku memang tampak seperti sedang menitikberatkan perasaanku bahwa cemburu itu memang ada. Terlebih Jane seperti sudah sangat akrab, hingga menyentuh puncak kepala Renjun lalu mengacak surainya pelan. Bukannya apa, tapi bocah tengik seperti Renjun harus mengerti situasi sebenarnya. Tapi tidak mungkin juga aku membahas hal itu pada Kak Jaehyun, karena itu akan terlihat seperti diriku membenci Jane—padahal perasaanku tidak demikian.

“Jadi tidak salah, ‘kan jika aku tiba-tiba membenci Renjun? Aku tidak akan mudah membenci seseorang tanpa alasan yang logis, Hyung.

Beberapa jemang kami berdua saling diam. Kak Jaehyun mendongak disertai helaan napas berat, obsidiannya menerawang seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu.

“Kita harus melakukan sesuatu pada Renjun,” ucapan ringanku terlontar, mengundang Kak Jaehyun untuk menatapku lalu menenggak saliva-nya dengan susah payah.

“Maksudmu kau ingin kita menghajarnya, begitu? Seperti yang kulakukan padamu saat kau ketahuan mendekati Jane waktu itu? Tidak. Cukup kau saja yang menjadi korbanku, jangan biarkan Renjun menjadi penerusmu karena sebentar lagi aku ujian kelulusan. Jadi tolong hentikan pertikaian konyol seperti itu.”

“Hei, preman sekolah sepertimu bisa khilaf juga ternyata! Lalu apa yang akan kaulakukan kalau begitu untuk melindungi Jane?” Mataku menatap lekat Kak Jaehyun yang beralih menyedot minumannya. “Hyung!”

“Percayalah Mark, kau hanya perlu bicarakan hal ini baik-baik dengan Jane. Simpel, bukan?”

Dalam hati diriku tertegun, sejak kapan Kak Jaehyun berpikiran selurus ini? Atau jangan-jangan ia hanya benci padaku? Buktinya beberapa bulan lalu ia membogem pelipisku mentah-mentah saat diriku ketahuan naksir dengan Jane.

“Baiklah. Akan kucoba,” jawabku lemah.

“Nah, begitu dong!”

Pokoknya aku tidak membiarkan Jane mengetahui bahwa seorang Mark Lee sepertiku sedang emosi karena ulah Renjun. Juga yang terpenting, semoga saja Renjun tidak menjadi sasaran bogemanku esok hari.

.

.

-FIN-

 

  1. Lucu banget ya, hubungan Mark-Jane ditarik ulur gitu wkwkwkwk /slapped/
  2. Sebenernya dari dulu lagi kesengsem banget nih sama Renjun, abisnya dia mukanya polos banget ngundang tonjokan mesra gitu, ah entahlah aku tak bisa mendeskripsikannya TT^TT
  3. Jadi gimana nih enaknya, Mark-Jane atau ganti jadi Renjun-Jane? 😄 /kabur/
  4. Mind to review? 😉

4 thoughts on “[Ficlet-Mix] Medical School Room

  1. Kyaaaaaa bias Noona semua ada di siniii
    Setuju, muka renjun tuh mengundang bogem ih dasar Moomin apalagi kalo di cerita ini sama noona2 beneran dan dia jadi clumsy aish. Terus ya Mark sama jae jadi liar gitu hahahaha ngakak Mark kasih goeun ajaaa. Jae itu anak org knp mau kau hajar kan kasihan Moomin
    Lucu, tulisan nya manis, tapi ada bbrp kata yg kurasa kurang enak. Misalnya ‘kata yg mencelos’ hm mencelos dlm konteks itu jarang dipake tapi aku gatau sih. Trs ada memerangkap kondisi, nggg kondisi emang bisa diperangkap ya?
    Anyway great job! Keep writing!

    Like

  2. NGAKAK. Renjun kampret katanya … Pfftttt 😂😂
    Itu kalau petugas uksnya kayak mas njun, tak bela2in kesandung deh 💁
    Sabar Mark, ini ujian, setelah babak belur demi mendapat restu jaehyun. Sekarang kamu harus ngadepin renjun. 😁

    Like

  3. APAANSI WKWKWKKWKW NGAKAK ITU RENJUN YA APA SI BELAJAR DARI MANA SURUH SWEET PAKE SEGALA GENDONG JANE GITU YAKAN. TERUS WKKWKWKWK BAYANGIJ MUKA MARK KEMERAH MERAHAN GARA GARA MARAH NGELIAT JANE SELINGKUH MANJA BUKANNYA ITU MENYENANGKAN MARK? KAMU BISA SELINGKUH SAMA AKU /plak

    DAN JAEHYUN KENAPA LUCU BANGET DISINI SAYA GAKUAT, ROMA MAU CIUM JAEHYUN BOLEH YA? HEHEE SEKALI AJA.

    TIGA TIGANYA GEMESIN DIKIRAIN SEMUANYA JADU FLUF GITU HEHE, TERUS ADA ADEGAN BERNTEM MANJA DAN BERAKHIR DENGAN PENYESALAN. HUHU GEMESIN! KALO AKU KAYAKNYA MARKJANE AJA DEH KELAPAQ, RENJUN COCOKNYA SAMA ROMA tq.

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s