[Chaptered] I Like U Too Much (3rd Chapter)

ir-req-i-like-2-e1468935727182

Title: I Like U Too Much | Author: L.Kyo♪ [IG: ireneagatha_ ] | Artwoker: IRISH@PosterChannel | Cast: Kim Yerim (Red Velvet), Jung Jaehyun (NCT), Choi Arin (Oh My Girl) | Genre: Drama, Romance, Fluff | Rating: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

[ https://agathairene.wordpress.com/  ]

Prev:: [CHAPTER 1]  [CHAPTER 2]

—oOo—

H A P P Y R E A D I N G

“Kau selesai?” Yerim mendongak, tak nyaman dengan seseorang yang mengambil bukunya tak sopan. Dan Yerim harus menahan napasnya sebentar lalu memalingkan wajahnya ke samping. Itu Jaehyun. Lelaki itu akan menemuinya jika tempat itu tak terlalu di datangi orang.

 

“Sudah ku katakan jangan mengangguku!” Nada tinggi Yerim sama sekali tak mengubah ekpresi dingin Jaehyun. “Tak apa kau meneriaku seperti itu. Yang pasti perjanjian kita terus berlanjut”. Heol, perjanjian yang membuat Yerim menyesal seumur hidup.

 

“Kenapa kau tak membiarkanku mati saja? Daripada aku tersiksa dengan semua perintah menjengkelkanmu itu. Dan perlakuan kotormu itu padaku. Jika aku bisa, aku akan menghajarmu!” Geraham Yerim mengeras. Tapi satu hal yang dibenci Yerim, tetap saja dengan ekspresi Jaehyun yang sama sekali tak berubah.

 

Bahkan lelaki itu pun hanya diam saja. Muak? Tentu saja muak hingga Yerim ingin muntah rasanya. “Sudahlah, temui aku jika kau butuh. Jangan mencoba menemuiku seperti ini. Aku tidak mau berurusan dengan keluargamu dan keluarga Arin tentang ini!”

 

“Itu bagus jika terjadi. Akan terasa menyenangkan bukan? Melihatmu menjadi pusat perhatian, seseorang yang berhasil membuat Tuan Muda Jung luluh lantah dengan mudah?” Kini ekspresi Jaehyun berubah, menampakkan sosoknya yang terlihat licik. Yerim berdiri, mencoba mensejajarkan pandangannya pada Jaehyun.

 

Gadis itu mendekat, menatap mata Jaehyun dalam-dalam. Apakah dia psiko? Kenapa lelaki itu suka sekali membuat masalah tanpa alasan? “Sebenarnya siapa kau? Kau datang padaku dan membuat perjanjian itu? Apa kita pernah mengenal sebelumnya? Apa aku pernah membuatmu malu? Atau memang kehidupan kiita sebelumnya kau terus mengusikku? Katakan padaku!”

 

Jaehyun hanya menelan saliva nya tapi pandangan masih berusaha datar. “Lalu apa maksudmu dengan pernyataan kotormu semalam? Apa kau gila? Sungguh aku tidak tahu apa isi otak mu itu”. Yerim mengambil bukunya di meja namun berlalu. “Aku tidak berniat berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya”. Jaehyun mengatakan itu tanpa menatap Yerim yang rasanya api mengepul dari atas kepalanya saat itu juga.

 

“Mengenalmu saja tidak. Lancang sekali kau mengatakan itu!” Mata Yerim memerah. Dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya Jaehyun mengatakan hal bodoh itu lagi. Menyukai apa? Terkadang Jaehyun bersikap seolah tak mengenalnya, seolah Yerim adalah orang asing dan pelampiasan. Dan jelas-jelas itu adalah sebuah kata bullshit.

 

“Lebih baik, pikirkan tentang Arin! Jangan coba-coba menjadi orang brengsek Jaehyun-ssi! Jangan membuatku semakin muak denganmu!” Dada Yerim bergerumuh dan seharusnya ia lebih memilih untuk pergi daripada berurusan dengan lelaki bebal dan kepala batu seperti Jung Jaehyun. Yerim membalikkan tubuhnya namun langkahnya harus terhenti tatkala pergelangan tangannya ditahan olehnya.

 

Yerim mencoba menenangkan diri namun lelaki itu menyentuhnya dalam diam. “Katakan apa maksudmu menyentuhku?” Suara Yerim kembali serak. Rasanya begitu tersiksa menahan sakit luar biasa untuk menahan setiap degupan dalam dadanya. Ya, karena ia tak berhak untuk merasakan rasa memuakkan ini.

 

“Jaehyun-ah! Kau dimana?” Sayup-sayup suara Ten di ujung sana menggema. Mereka berdua sama-sama kelabakan. “Y … Ya! Le … lepaskan tanganku!” Yerim panik. Tentu saja jika Ten tahu, apalagi siapa yang tak tahu dengan 1000 mulut Ten yang bisa saja akan menjadi gosip.

 

Jaehyun mengerti. Tapi siapa yang tak tahu Ten. Ten adalah sahabat terbaik Jaehyun. Yang pasti Ten tahu tentang seluk beluk Jaehyun dan Yerim. Ten tahu itu. Dan buktinya, Ten sama sekali tak membuka mulutnya. “Kau tuli atau tidak? Aku bilang lepaskan tanganmu!”

 

Jaehyun justru semakin mengabaikan Yerim dan lelaki itu menarik tubuh Yerim dalam pelukannya. Mereka berdua terdiam. “A … Apa yang kau … “ Yerim berhenti protes. Justru semakin ia protes, Jaehyun semakin mendekapnya lebih dalam. “Jaehyun-ah!” Suara Ten semakin dekat. Apa yang dilakukan Yerim percuma, genggaman erat Jaehyun terlalu kuat untuk ia lepaskan. Dengan sigap Jaehyun mengambil majalah di sisi tubuhnya lalu membukanya lebar. Ia memundurkan langkah bermaksud sedikit menjauh kan tubuhnya.

 

Dan ia menutupi tubuh mungil Yerim dengan majalah tersebut. “Jaehyun! Kenapa kau diam saja dari tadi?” Ten muncul. Yerim memejamkan matanya erat, ia sudah pasrah jika saja Ten mengetahui jika ia ada dibalik majalah itu. “Oh? Aku sedang membaca majalah. Berita sepak bolanya membuatku fokus. Ada apa?” Tatap Jaehyun pada Ten tanpa menurunkan majalah dari tangannya.

 

“Guru Song memanggilmu. Ada yang ingin ia bicarakan tentangmu. Sepertinya tentang nilaimu akhir-akhir ini”. Jaehyun mengangguk saja. “Apa yang kau tunggu? Ayo!” Yerim semakin ingin menangis rasanya. Kenapa Ten tidak pergi dulu saja? Kenapa ia seolah-olah menjadi penjahat disini?

 

“Apa yang kau baca sebenarnya?” Ten tak sabar karena Jaehyun sama sekali tak terlalu meresponnya. Yerim memundurkan langkahnya hingga punggungnya sudah menyentuh rak di sisinya, karena Jaehyun memang sengaja memposisikan seperti itu, supaya Ten tidak terlalu melihatnya.

 

Mata Jaehyun menatap Ten sinis. Hingga Ten harus mengurungkan niatnya untuk mendekat. “Aku tahu! Aku tahu! Aku akan kesana! Tunggu aku di depan!” Ucap Jaehyun sedikit berteriak. “Baiklah. Jangan lama-lama”. Dan pada akhirnya helaan nafas lega Yerim begitu kentara. Suara sepatu Ten menjauh dan Jaehyun menurunkan majalahnya kasar.

 

Helaan nafas Jaehyun kembali terdengar. “Kenapa? Bukankah seharusnya aku yang harus menghela nafas?” Yerim sewot. “Kenapa kau sangat cerewet sekali?”. Jaehyun menghentakkan majalahnya ke kedua tangan Yerim dan melengos pergi tanpa mengucapkan kata maaf atau penjelasan lainnya.

 

Y…Ya!” Yerim menutup majalah itu lalu mengembalikan ke dalam rak asal. “Benar-benar tidak sopan! Aku tidak tahu kenapa Arin begitu tergila-gila padanya. Anak orang kaya memang seperti itu. Susah di atur, tidak punya attitude, berlagak penguasa disini!” Yerim memijat keningnya yang baru saja pening.

 

Namun moment beberapa menit lalu membuat wajahnya kembali memerah bagai kepiting direbus tanpa ampun. Pelukan dan dekapan Jaehyun masih begitu terasa. Dan Yerim tahu ini lancang jika ia mengakui bahwa ia menikmati setiap sentuhan Jaehyun padanya. “Aku tidak tahu kenapa pikiran liar ini muncul lagi. Sudahlah”.

 

 

***

 

 

“Apa yang Guru Song katakan padamu?” Ten mengekori Jaehyun yang sudah melangkahkan lebarnya, tak peduli Ten sudah berlari kecil menunggu jawaban Jaehyun. “Tidak penting!” Singkat Jaehyun. “Tidak penting apanya? Apa karena nilaimu?” Dan pada akhirnya Jaehyun menghentikan langkahnya, tampak sisi bibirnya tersungging.

 

“Jika dia berani mengatakan seperti itu, aku yakin besok ia tak akan mengajar lagi”. Jaehyun kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Ten yang masih terdiam. Ia menepuk dahinya mengingat sesuatu. “Benar, Ayahnya kan pemegang saham terbesar disini. Mana mungkin guru-guru di sini mengatakan seperti itu padanya. Lalu apa yang dibicarakan mereka berdua?”

 

Bukan Ten jika ia tak ingin ketinggalan satu berita pun. Lelaki itu menepuk bahu Jaehyun berulang kali dan pada akhirnya Ten menang. Jaehyun menghentikan langkahnya dan menatap Ten kesal. “Apa lagi?” Nada Jaehyun meninggi. “Apa susahnya kau mengatakannya? Aku sudah menjaga rahasiamu dan kau berani-beraninya menyembunyikan sesuatu dari ku?” Ten tak mau kalah.

 

Ya! Jangan membuatku jijik dengan sikapmu itu. Jangan bersikap seperti pacarku”. Teriak Jaehyun. Tapi percuma saja bukan, menyumpal dengan sehelai kain pada mulutnya pun tak akan membuat Ten menyerah. “Katakan! Katakan padaku!” Mohon Ten.

 

Lelaki itu menahan nafasnya lalu menghembuskan nafas panjang. “Minggu depan kita ada tugas, kita akan mendirikan tenda. Seperti acara api unggun, yah semacam itu”. Alis Ten sedikit terangkat, masih bingung dengan hal-hal seperti itu. Lagipula Jaehyun mana mau mengikuti acara camping seperti itu.

 

Lagipula yang ia katakan ada sebuah tugas. Seakan benang sensor Ten dalam otaknya terhubung. “Ah, kau pasti menemui Guru Song karena kau tidak ingin ikut? Hah, orang berpengaruh seperti mu juga tidak akan protes. Hidupmu sangat beruntung Jung. Ahh, aku tidak tahu di musim panas ini kenapa ada kegiatan aneh seperti ini? Aku tidak suka berkeringat”.

 

Ten sewot, membayangkan betapa sakit saat tidur di dasar tenda, keras dan dingin di malam hari. Banyak serangga yang siap mengigit kulitnya, bernyanyi bersama mengelilingi api unggun seperti anak TK, pada siang hari mencari sesuatu untuk sebuah laporan yang menjengkelkan.

 

Membayangkan saja sudah membuat Ten naik darah. “Aku yang memintanya pada Guru Song. Aku ingin tugas seperti itu.” Bayangan menjengkelkan Ten tiba-tiba menguap saat Jaehyun mengatakan di luar ekpentasinya. “Apa katamu? Kau memintanya?” Ten berteriak terkejut. Pasalnya Jaehyun anti sekali dengan tugas seperti itu.

 

Tugas berkelompok saja ia enggan. Dan ajaibnya justru Jaehyun yang meminta itu. “Kau benar-benar ingin belajar?” Ten menarik lengan Jaehyun hingga lelaki itu terdiam, menatap Ten tanpa ekspresinya. “Kau percaya aku belajar?” Jaehyun menyunggingkan senyum lalu Ten mengangguk setuju.

 

“Tentu saja, kau kan muak tentang itu. Apa karena kau baru saja bertemu dengan junior cantik Jaehyun-ah? Atau kau mau melakukan itu dengan Arin? Yerim?” Jaehyun sedikit terkejut dengan pertanyaan Ten. “Apa ada yang salah?” Ucap Ten tak terima.

 

“Jaga mulutmu! Kau membuatku terlihat seperti playboy!” Protes Jaehyun sembari melangkahkan kakinya pergi. “Bukankah para lelaki bangga menyebut mereka playboy? Bernapas saja kau sudah dikata keren!” Puji Ten. “Ahh, berhenti memujiku. Sungguh menjijikkan!” Ucap Jaehyun geli sembari melangkahkan kakinya lebih lebar lagi.

 

 

***

 

 

Alunan musik ballad dan suara gemericik teh yang sedang di tuangkan dalam cangkir, bau khas teh yang layaknya sama seperti sebuah terapi, dan pancuran air kolam yang membuat isi Kafe itu memang pantas untuk dikunjungi. Sangat cocok untuk dijadikan tempat berkencan. Tapi bukan itu masalahnya.

 

Bukan sejoli pria dan wanita memadu kasih, tapi justru dua gadis yang masih saling menatap. Yang satu menatap sungkan, yang satu mencoba untuk selalu tenang. Sungguh tidak cocok dengan tempat yang bak surga ini.

 

“Minumlah. Aku dengar teh ini banyak yang memesannya. Aku tidak tahu kau menyukai teh jenis apa. Katakan padaku jika kau tak menyukainya. Hmm?” Senyum gadis itu cantik lalu menyeruput teh itu dalam diam, menatap jalanan keluar yang berhasil menampakkan dagu tajam dan tatapan menawan. Yerim mengalihkan pandangan ke bawah, menatap asap teh itu masih mengepul.

 

“Berapa lama kita tidak bicara akhir-akhir ini Yerim-ssi? Aku dengar kau menjadi bahan perbincangan akhir-akhir ini”. Senyum Choi Arin yang penuh misteri seakan membuat Yerim semakin terpojokkan. Tentang perbincangan akhir-akhir ini jangan harap jika itu adalah karena rumornya bersama Jung Jaehyun.

 

Mengerikan memang. Ketahuan mengobrol berdua sebentar sudah sampai ke telinga Arin. Sungguh, manusia baik di dunia ini memang hanya bisa dihitung dengan jari. “Ahh, itu … itu”. Yerim kelabakan, ia tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan melihat bola mata Arin ia tak bisa. Yerim terlalu jauh bermain-main dengan tunangan orang lain.

 

Apalagi beberapa hari yang lalu ia sengaja menyindir Jaehyun kepada Arin. Saat Jaehyun pergi ke rumahnya, mabuk dan tidur di tempatnya. Bahkan dengan lancangnya Yerim mengatakan itu pada Arin. Yerim mengigit bibir bawahnya, seakan merasa bersalah saat itu.

 

Seharusnya Yerim mengerti dan memahami perasaan Arin saat itu. Coba bayangkan bagaimana pria yang kau sukai, yang sudah saling terikat pertunangan yang saat itu mengetahui bahwa pria yang ia cintai tidur di rumah wanita lain. Dada Yerim semakin hancur saat ia mengatakan itu pada Arin dengan nada angkuhnya.

 

“Soal kemarin, maafkan aku Arin-ah!” Yerim meremat leher cangkir di depannya. “Aku tidak bermaksud untuk melukaimu. Aku sama sekali tidak ada perasaan dengan Jaehyun. Sungguh! Aku tidak tahu kenapa dia mengangguku. Wajahku memang pantas di bully. Kau tahu, saat orang baru pertama mengenalku, mereka tidak menyukaiku. Mungkin itu yang dilakukan Jaehyun. Dia sengaja menganggu tidurku saat itu!” Ucap Yerim dengan penjelasan lebarnya.

 

Namun gadis itu terdiam, bahkan Arin sedang berusaha menyunggingklan senyumnya. Yerim bisa melihat kedua tangan Arin saling menggegam. Apa Yerim salah bicara lagi? “Ahh, benarkah? Apa kalian tidak pernah bertemu sebelumnya? Teman semasa kecil. Ahh, ada apa denganku ini? Padahal aku mengajakmu bukan untuk membahas hal itu”. Arin merebahkan duduknya. Menatap langit-langit sana dengan tatapan sedih. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud …”

 

“Apa kalian teman semasa kecil?” Potong Arin tiba-tiba. “Aku akan mengerti jika kalian adalah teman masa kecil. Itu hal biasa jika Jaehyun sedang stres dan tinggal sementara ke rumah teman. Jaehyun mengatakan juga bahwa kau adalah … “ Arin terdiam, menggantung kata-katanya membuat Yerim merapatkan kedua alisnya. Bagi Arin, tidak tepat jika ia mengatakan cinta pertama Jaehyun, kan?

 

“Teman masa kecil?” Tanya Yerim disambit anggukan Arin. Yerim tertawa lirih lalu meneguk teh itu sekali shoot. ‘Apa yang dikatakan Jaehyun brengsek pada Arin? Apa ia sedang membuat naskah drama? Teman masa kecil? Teman apanya?’ Yerim kembali tersenyum. “Y … ya, begitulah. Kita adalah teman masa kecil”.

 

‘Oh Shit, persetan dengan Jung Jaehyun. Kalau bukan karena si brengsek itu, aku tidak akan membuat kebohongan ini. Teman masa kecil apanya? Jaehyun melawak? Teman antara pria dan wanita adalah suatu kemustahilan!’ Hati kecil Yerim berteriak murka.

 

“Ahh, syukurlah. Sebelumnya aku sudah berpikiran tidak-tidak padamu. Seharusnya aku menghormatimu karena kau adalah teman dekat Jaehyun. Kau pasti tahu banyak tentang dia”. Senyum Arin merekah dan saat itu Yerim semakin bersalah. Tahu tentang Jaehyun? Mengenalnya saja hanya beberapa bulan.

 

“Maaf jika aku lancang. Tapi bolehkan aku mengetahui satu hal?” Tanya Yerim serius. “Tentu saja. Kau bisa bertanya apapun. Karena kau teman Jaehyun, aku akan menjadi temanmu juga. Bertanyalah!” Mata Arin berbinar. Yerim mengambil cangkirnya untuk minum tapi ia lupa jika ia sudah menghabiskannya. “Ahh, kau mau teh lagi? Ingin ku pesankan?” Arin beranjak tapi Yerim menarik lengan Arin untuk duduk kembali.

 

“Tidak, tidak. Aku ingin cepat-cepat mendengarkan jawabanmu. Ba … bagaimana awal kalian bertunangan? Apakah itu hanya perjodohan untuk mengembangkan masing-masing Perusahaan, seperti .. seperti drama yang sering kita tonton?” Yerim menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lagi-lagi ia mengeluarkan pertanyaan konyol.

 

“Bukan seperti itu. Dulu aku menganggumi Jaehyun diam-diam. Aku bahkan tak berani untuk menyapanya. Dan aku tidak tahu gadis ideal Jaehyun seperti apa. Kami sering berpapasan tapi tidak pernah saling menyapa. Kami juga pernah saling bertemu saat ada rapat antar perusahaan untuk acara makan malam, dan kami hanya mengobrol hal sederhana. Tidak ada yang istimewa”.

 

“Namun tiba-tiba, saat acara makan malam perusahaan, Jaehyun tiba-tiba menarik tanganku dan membawa pada Kakeknya. Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku dan ingin bertunangan denganku saat itu. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku seperti menjadi Cinderella. Bukankah itu sangat romantis?” Lanjut Arin dengan mata berbinar-binarnya.

 

“Wah, dia benar-benar melakukan itu?” Yerim terkejut bukan main. Yang jelas saaat itu mungkin Jaehyun juga menyukai Arin dalam diam. Dan Yerim akui jika Jaehyun gentle saat itu, wanita akan jatuh pingsan jika ada seorang pria mengatkan seperti itu di depan banyak orang.

 

“Ahh, tunggu! Bukankah kau seharusnya tahu?” Tanya Arin. Yerim kelabakan. Benar, teman masa kecil bukankah harus mengetahui itu juga. “I … itu. Y , ya Jaehyun selalu mengatakan rahasia-rahasia. A … apa menceritakan cinta adalah sebuah dosa. Di … dia mungkin terlalu malu”. Jawaban Yerim berhasil membuat Arin mengangguk.

 

“Oh ya, aku ingin bertanya tentang Jaehyun …” Yerim segera mengemasi ransel dan mengeluarkan selembaran uang. Karena akan mejadi malapetaka jika Arin menanyakan Jaehyun padanya. Tentu saja itu seperti bunuh diri. Karena Yerim tidak tahu apa-apa tentang Jaehyun. “Maaf, aku baru ingat jika aku ada keperluan setelah ini. Kau pulang lewat mana? Naik taksi? Bis? Ahh bis tidak mungkin kan?” Yerim berdiri, menunggu Arin beranjak.

 

“Kita pulang? Ahh baiklah.” Arin mengemas barangnya. Dan sesungguhnya Yerim ingin memukul otaknya. Kenapa ia bisa seceroboh ini? Lagipula kenapa gadis secantik Arin bisa saja jatuh cinta dengan Jaehyun. Jaehyun pun sama sekali tak tampan.

 

“Hmm, dimana sopirmu?” Yerim melihat jalanan sekitar. Mobil merah yang mereka tumpangi saat ini tak tampak. “Ahh itu, Paman Eun sedang mengantar Ibuku sebentar di Butik. Supir kami yang lain sedang pulang kampung jadi keluarga kami mengandalkan Paman Eun sekarang. Aku pikir kita masih berlama-lama di sini jadi aku mengiyakan saja Paman Eun bersama Ibuku!” Oh Shit! Yerim menelan ludahnya. Kali ini membuat kesalahan lagi.

 

“Taksi? Bagaimana?” Tanya Yerim khawatir. “Tidak perlu! Aku akan coba menghubungi Jaehyun.” Arin mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomer. Rasanya perih yang Yerim rasakan, sungguh kisah cintanya sangat memilukan. Apalagi tunangan Jaehyun sedang meminta jemputan. Sudah pasti setelah ini ia harus pergi.

 

“Ahh, Jaehyun-ah!” Yerim melirik sekilas Arin, Yerim rasa Jaehyun mengangkat teleponnya. “Aku sedang berada di Kafe teh dekat sekolah, bisakah kau menjemputku? Paman Eun sedang mengantar Ibuku, jadi …” Ucap Arin terpotong. Yerim melirik sekilas.

 

Suara sambungan di sana mati, Arin mencoba menelan salivanya dan menatap Yerim sebentar. “Ja … jangan lama-lama. Kau mengerti? Aku akan mentraktirmu ayam sesampainya di rumah”. Senyum Arin merekah yang memang ia buat. Arin mematikan teleponnya, menunduk untuk berusaha tak menurunkan air matanya. “Bagus jika Jaehyun menjemputmu. Aku pergi. Selamat tinggal!” Yerim berlari kecil, meninggalkan Arin yang masih berdiri diam menatapnya.

 

Tangan kanan Arin meremat kuat ponselnya. Dadanya bergerumuh dan lagi-lagi ia tidak bisa menahan tangisnya. “Wah sepertinya aku harus berjalan kaki? Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh!” Arin tertawa kecil, menghapus airmatanya kasar. Ia menatap punggung Yerim penuh amarah.

 

“Jaehyun-ah, apa tipemu seperti dia? Bahkan ia mencoba membohongiku! Dia benar-benar pintar bersandiwara. Teman? Bahkan lidahku terasa pahit saat menawarkan pertemanan!” Nafas Arin menggebu, berusaha menahan tangsinya lalu melangkahkan kakinya pergi.

 
***

 

 

Angin sore yang berasal dari pohon sepanjang koridor. Tak peduli dengan ramainya lalu lintas yang jelas Yerim masih bisa merasakan angin itu menyejukkan. Bahkan daun-daunnya sedikit berguguran. Lega? Tidak juga. Setidaknya ia bisa menghapus kecurigaan Arin kepadanya. Menurut Yerim, Arin selain cantik, gadis itu berhati lembut dan selalu berpikir positive. Dan Yerim menyukainya.

 

“Hah, jika aku pria mungkin aku akan tergila-gila padanya. Tapi Jaehyun?” Yerim melengos, membayangkan senyum Jaehyun yang mesum dan penggoda itu sungguh membuat Yerim muak. “Haish, dunia memang kejam. Arin yang cantik seperti dewi bagaimana bisa mendapatkan pria sebrengsek itu. Benar-benar aku ingin melempar Jaehyun ke neraka!”

 

Yerim berhenti sejenak dan ia menunduk. Ia bisa merasakan perutnya berbunyi sekarang. Ia lapar bahkan ia belum sempat makan siang tadi. Padahal ia harap mereka akan memesan makanan namun nyatanya secangkir teh. Dan Yerim tidak tahu, kenapa gadis yang dianugerahi wajah cantik begitu sangat pemilih tentang makanan.

 

Menjaga tubuhnya? Memang jika mereka tidak bisa dunia akan hancur? Yerim menggelengkan kepalanya lalu memasuki kelontong tak jauh darinya. “Selamat datang!” Sambut dari karyawan. Yerim tak peduli, yang ia peduli adalah perutnya setelah baru saja ia alami hari ini. Yerim langsung mengambil mie cups, sosis dan kimchi instan.

 

Setelah membayar, ia menuju ke meja dan membuka di tempat karena kelaparan. Setelah memasukkan air hangat, Yerim menghela nafas berat. Memandang jalanan yang terlihat suram. “Hah, hari ini benar-benar melelahkan!” Kesal Yerim sembari mengaduk mie nya asal.

 

“Hah, aku tidak peduli. Aku harus menuruti dulu perutku. Kau sudah bekerja keras!” Yerim menepuk perutnya. Tanpa basa basi, Yerim membuka penutup cups nya lalu segera melahap mienya. Namun apa yang di harapkan di luar ekspentasinya. “Hah, panas! Panas! Panas!“ Tangan kanannya mengipasi mulutnya yang seakan terbakar. Tentu saja Yerim memuntahkannya. “Haish, sial!”

 

“Minumlah ini!” Sebuah tangan terjulur melewati matanya tiba-tiba. Yerim berbalik dan pandangannya terdiam. Tahu jika gadis itu hanya diam, lelaki itu menarik tangan Yerim dan mencoba menggegam air mineral yang ia beli baru saja. Kemudian ia mengambil lagi di kulkas tak jauh dari mereka. “Aku pikir cola lebih baik. Aku akan memberikan itu padamu. Makanlah!” Lelaki itu menepuk punggung Yerim singkat lalu berlalu.
Perayalah jika Yerim baru saja terhipnotis. Ia tidak bisa membungkukkan badannya, tak bisa mengcuapkan terimakasih bahkan mengedipkan matanya sejenak. Ia seperti merasakan mimpi dalam sekejap dan menjadi nyata saat laki itu menyentuh punggungnya lalu berlari. Dan senyum itu? Yerim menampar pipi kanannya mencoba menyadarkan diri. “Apa-apaan tadi? Wah, aku benar-benar gila sepertinya hari ini. Apa itu tadi? Apa aku baru saja bertemu pangeran berkuda putih?”

 

Yerim menatap air mineral itu yang masih utuh bersegel. “Ternyata ada orang baik di dunia ini. Aku jadi terharu”. Bukannya meminumnya, Yerim mengambil sebotol susu dingin dan menegukknya. “Aku jadi tidak tega meminumnya. Aku akan menyimpannya! Mungkin ini adalah jimat? Atau Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk menenangkanku? Mungkin! Karena pria itu sangat tampan.” Gadis itu terkikik, lalu memasukkan air mineral ke ranselnya lalu kembali melahap mie cupsnya.

 

“Hari ini aku banyak berpikir konyol. Hah, kau memang sangat bodoh Kim Yerim!”

 

-TO BE CONTINUE-

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s