[NCTFFI Freelance] On Rainy Day (Vignette)

15591134_1856482517928497_7935188768208062079_o

Story by Cherry Love

On Rainy Day

[NCT’s] Nakamoto Yuta

[OC’s] Ayuzawa Hikari

Hurt/Sad || Teenager || Vignette

Setiap orang pasti pernah merasakan Cinta, dimana mereka dapat mencintai dan dicintai oleh orang yang mereka kasihi. Aku..belum pernah merasakannya, mencintai seseorang dan dicintai seseorang. Dan Aku benar-benar penasaran tentang perasaan itu, bertatapan, jatuh cinta, berkencan, melakukan hal-hal yang indah. Telah lama aku menunggu perasaan itu datang, tapi bahkan ketika aku telah masuk Universitas, aku tetap tidak mendapatkan perasaan itu.

Namun, semuanya berubah di hari itu, hari ketika hujan turun di sore hari…

“Ah, kenapa tiba-tiba turun hujan.” gerutu seorang gadis pada dirinya sendiri. Ia adalah Ayuzawa Hikari, mahasiswi tingkat 1 di Universitas Yonsei. Saat ini ia tengah berteduh di bangunan depan Universitasnya. Diapun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, berharap menemukan seseorang yang ia kenal membawa sebuah payung sehingga ia bisa menumpang sampai ke luar Universitas dan ia bisa menaiki taksi. Tapi, ia tidak menemukan seorangpun, sampai matanya terpaku akan seseorang yang tengah berdiri di lapangan.

“Kenapa dia berdiri disitu ketika hujan tengah turun dengan derasnya?” gumamnya.

Tanpa sadar, ia telah cukup lama memperhatikan orang itu dan pada akhirnya kedua mata merekapun, bertemu..

Ketika ia sadar, ia segera memalingkan wajahnya. Merasakan debaran yang membuncah di dadanya. Ia memegang dada kirinya perlahan, merasakan degupan jantungnya yang berdetak begitu cepat.

Nani..kore? Kenapa perasaanku seperti ini? Lalu..kenapa udaranya terasa panas?’ batinnya.

Iapun melihat ke arah orang itu lagi, tapi kali ini ada seorang gadis yang berdiri di depannya. Pria itu tersenyum tipis.

Gome,”  lirihnya. Sedetik kemudian ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

‘Kenapa dadaku terasa sakit melihat itu?’

***

Apakah kata menyakitkan cukup untuk menggambarkan perasaanku saat ini? Ketika aku telah mendapatkan perasaan yang bernama cinta, saat itu juga aku mendapatkan perasaan yang bernama luka. Tapi perasaanku yang pertama ini, tidak akan berubah, perasaan untuk mencintai dirinya dalam kebisuanku. Kebahagiaanku adalah dia, dan kebahagiaannya adalah gadis itu. Jadi, aku akan tetap merasa bahagia jika ia bersama gadis itu, meskipun balasannya adalah hatiku yang penuh dengan luka. Aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, tidak ada tempat bagi kami untuk terhubung menjadi dekat. Jadi, biarkan saja aku mencintai seperti ini.

          Pria ditengah hujan saat itu, ia adalah Nakamoto Yuta mahasiswa tahun ke 2 di Universitas Yonsei, Hikari mencari tahu segala hal tentang Yuta, pria yang saat ini disukainya. Termasuk tentang Yuta yang telah memiliki kekasih, meskipun begitu Hikari tidak berhenti menyukainya, karena baginya hanya menyukainya dari jauh itu sudah lebih dari cukup. Karena pertemuan di hari saat turun hujan itu ia mulai merasakan perasaan menyukai seseorang, perasaan yang telah lama ia dambakan, karena itu meskipun ia harus terluka, Ia tetap merasa bahagia.

***

 “Hikari-san, kau tidak pulang?” ucap seorang gadis bernama Mayu pada Hikari.

“Kau duluan saja, aku akan pergi ke suatu tempat sebentar,”

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa.” Mayupun berlari meninggalkan Hikari sembari melambaikan tangannya. Hikaripun hanya tersenyum melihat tingkah temannya.

“Baiklah,,sekarang aku harus bisa memberikan hadiah ini pada Yuta senpai.” ucapnya. Sudah berkali-kali ia pergi ke lapangan basket untuk memberikan hadiah pada Yuta, tapi karena banyaknya gadis yang mengerubungi /? Yuta, ia selalu mengurungkan niatnya. Iapun kemudian pergi dari tempat itu, dan tanpa sengaja ia berpapasan dengan seseorang.

‘Bukankah, itu Ishikawa-san?’ batinnya.

“Yuta-kun!” panggil Ishikawa membuat Hikari menolehkan kepalanya.

“Ah, Reika-chan apa kau telah lama menunggu?” terlihat Yuta sedang berlari kecil menghampiri Reika dengan senyumannya yang begitu indah, senyuman yang hanya ia perlihatkan pada Reika, kekasihnya.

“Tidak juga, kelasku baru saja selesai.”

“Benarkah? Lalu, bagaimana jika kita makan ice cream?”

“Baiklah,”

‘Kenapa harus bermesraan di depanku?’ batin Hikari. Saat ini ia tengah menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya. Kemudian ia pergi dari tempat itu.

***

“Hikari-san, apa kau akan menemui Nakamoto-san lagi?” tanya Mayu ketika mereka telah menyelesaikan kelas hari ini.

Haik,” ucap Hikari lirih.

 “Berhentilah, kau tidak mungkin mendapatkannya, Ishikawa-san dan Nakamoto-san, cinta mereka begitu kuat dan aku pikir bagaimanapun mereka tidak akan terpisahkan. Hubungan merekapun telah berlangsung selama 4 tahun lamanya.”

A..arimasen. Aku hanya menyukainya saja, aku sadar aku tidak akan pernah bisa memilikinya,” Hikaripun tersenyum pilu.

“Hikari-san,”

Eto..aku harus segera pergi, jadi sampai jumpa.”

‘Hari ini aku akan benar-benar memberikan hadiah ini, mungkin saja ini yang terakhir kalinya sebelum aku menyerah pada perasaanku,’

Perlahan Hikaripun menghampiri Yuta yang tengah dikelilingi oleh para gadis. Ia berusaha masuk dalam gerombolan mahasiswi itu sampai akhirnya dia berhasil berhadapan dengan Nakamoto Yuta. Untuk sesaat ia merasakan jantungnya akan meledak, ia terpaku dengan sosok pria tampan yang kini tengah berada dihadapannya.

Kawaii’ batinnya.

“Na..Nakamoto senpai, ini_” belum sempat ia melanjutkan perkataannya ia telah di dorong oleh gerombolan mahasiswi itu sehingga membuatnya terjatuh. Hikaripun meringis kesakitan, tapi tanpa disangka sebuah tangan muncul di depannya. Iapun menelusuri pemilik tangan itu, sehingga matanya kini membulat karena terkejut. Iapun dengan perlahan menggapai tangan itu.

Daijoubu?” tanya Yuta.

Haik,” balas Hikari cepat. Tiba-tiba Yuta mendekatkan wajahnya ke telinga Hikari.

Watashi wo matte kudasai ne,” bisik Yuta membuat jantungnya kini berdebar dengan begitu cepat.

Haik. Aku akan menunggumu’

***

Sudah hampir 2 jam Hikari menunggu di gedung depan Universitas, tapi orang yang ditunggu belum juga datang. Ia masih setia menunggu, ia yakin bahwa pendengarannya tidak salah, Yuta menyuruhnya untuk menunggunya. Ia terus saja berkutat dengan pikirannya, sampai sebuah tangan menyentuh pundaknya.

Gome, kau telah menunggu begitu lama. Banyak yang aku urus,”

Nani mo nai,” balas Hikari dengan senyum canggung.

Eto, aku ingin memberimu hadiah ini.”

“Ah, arigatou,” Yutapun mengambil hadiah itu. Setelah itu merekapun terdiam untuk beberapa detik, sampai akhirnya Yuta angkat bicara.

“Kau ingin pulang bersama?” ajak Yuta membuat Hikari merasakan kebahagiaan yang sangat besar tumbuh dihatinya.

“Emm,” Hikari mengangguk senang.

“Pertama kali aku melihatmu ketika turun hujan, kau mengingatkukan?” tanya Yuta.

Haik,” balas Hikari gugup.

“Sejujurnya aku begitu malu, karena ada seseorang yang melihatku seperti itu,”

“Aku juga selalu melihatmu datang ke lapangan, kemudian pergi. Jadi kupikir, kau ingin mengatakan sesuatu padaku,”

Eto.. Senpai, watashi wa..daisuki desu,” ucap Hikari cepat. Yuta yang mendengarnya hanya tersenyum melihat tingkah dan wajah Hikari yang saat ini tengah memerah.

“Siapa namamu?” ucap Yuta lembut membuat Hikari kini menjadi semakin gugup.

“Ayuzawa..Hikari,” ucap Hikari perlahan.

“Ayuzawa Hikari-san? Aku rasa kita bisa menjadi teman dekat,” ucap Yuta tersenyum manis. Mendengar itu Hikari cukup senang, ia tahu ia tidak boleh berharap lebih dari ini.

“Apa itu tadi? Bukankah terlalu cepat mengatakan hal seperti itu, kkk.” ucap Yuta terkekeh sembari mengacak-ngacak rambut Hikari.

Saat itu aku merasa bahwa bunga telah benar-benar mekar dihatiku. Seperti aku tengah mengunjungi surga, perasaan menyukai seseorang ini, aku bersyukur bisa memilikinya. Sebelumnya, aku berfikir bahwa cinta yang kumiliki untuknya adalah sia-sia. Cinta yang selama ini kuharapkan, berujung pada luka yang begitu dalam. Aku ingin menyerah pada perasaan ini, menyerah untuk mencintainya. Namun, semakin lama aku menyukainya, aku sadar bahwa perasaanku padanya adalah hal yang nyata yang tak dapat dengan mudah kuhilangkan, dan akupun sadar Cinta yang kumiliki juga begitu indah, melihatnya tersenyum bahagia begitu indah. Cinta bukan bagaimana kau mendapatkannya, tapi bagaimana kau merasakan perasaan cinta itu sendiri.

Sudah sebulan lebih setelah perbincangan pertama Hikari dengan Yuta. Setelah itu mereka semakin dekat dan sering berjalan bersama, hubungan mereka berjalan dengan cukup baik. Namun, setelah itu, semuanya berubah menjadi lebih sulit.

***

‘Nomor yang ada hubungi sedang_’ berkali-kali Hikari mencoba menelfon Yuta, tetapi ponselnya masih tetap tidak aktif. Sudah beberapa hari ini Yuta menjauh darinya, iapun tidak dapat ditemui di kampus. Dan itu membuat Hikari sangat khawatir, iapun beranjak dari kelasnya dan mencoba mencari Yuta di lapangan basket.

“Ayuzawa-san!” panggil seseorang tiba-tiba. Hikaripun menolehkan kepalanya.

“I..Ishikawa-san?” ucap Hikari lirih.

“Jangan pernah menghubungi Yuta!”

Are?”

“Berhentilah mendekatinya, aku telah membiarkanmu selama sebulan ini. Dan sekarang, kau harus benar-benar berhenti mengganggunya seperti lalat!” Reikapun segera pergi meninggalkan Hikari yang tengah terpaku di tempatnya, merasakan gejolak rasa sakit yang menembus jantungnya. Air bening kini tengah berkumpul di pelupuk matanya, bersiap untuk menetes. Ia tidak bisa menahan gejolak itu, ia tersadar dengan tempatnya, tempat yang tidak seharusnya ia pijaki. Tapi, kini sudah terlambat baginya untuk mundur dan pergi, karena perasaannya pada Yuta telah tumbuh begitu besar. Tidak peduli bagaimana orang akan memandangnya, baginya Yuta adalah segalanya.

‘Drrtt’

Sebuah pesan masuk di ponselnya.

‘Yuta’ nama yang tertulis di kotak masuk, iapun membulatkan matanya dan segera membaca pesan itu.

‘Bisa kita bertemu? Aku menunggumu di lapangan basket’

Hikaripun segera beranjak dari tempatnya untuk menemui Yuta. Ia berlari secepat mungkin, berlari agar ia bisa menemui Yuta lebih cepat.

‘Hari ini, yah hari ini aku akan mengatakan perasaanku. Perasaanku yang telah lama tertanam dan tumbuh begitu besar. Aku idak bisa menahannya lagi, perasaanku ini aku akan sampaikan padanya’

5 menit kemudian Hikaripun telah sampai di lapangan basket, terlihat sosok Yuta yang kini telah menunggunya. Hikaripun tersenyum senang.

“Senpai,” ucap Hikari sembari berjalan mendekati Yuta.

Gome, Ayuzawa-san,”

Ne?” Langkah Hikaripun terhenti, senyum yang terlukis di bibirnya perlahan menghilang. Ia menatap Yuta intens.

“Sepertinya kita tidak bisa menjadi dekat lagi. Gome, aku yang mendekatimu tapi kemudian aku sendiri yang menjauhimu. Gome Ayuzawa-san,” ucap Yuta kemudian membalikkan badannya dan mulai melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.

Chotto matte!” ucap Hikari dengan keras. Membuat Yuta menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

Watashi wa Senpai ga suki desu. Hontouni daisuki,” ucap Hikari lantang, membuat Yuta terpaku sesaat.

Hajimete ata tokikara sukidata,”  lanjut Hikari. Saat ini air matanya telah jatuh dari pelupuk matanya, ia berusaha agar tangisnya tidak pecah saat itu.

Oite,ikanaide kudasai ,” ucapnya sembari membungkukkan badannya 90 derajat.

“Ayuzawa-san gome,” ucap Yuta lirih.

“Aku juga sangat menyukai Ayuzawa-san,” ucap Yuta lembut. Hikaripun perlahan menegakkan tubuhnya ketika mendengarnya.

“Hontou?” lirih Hikari.

Haik. Demo, aku sangat sangat mencintai Reika-chan. Gome,” Hikaripun tersenyum pilu. Ia tahu seharusnya ia tidak banyak beharap.

“Emm,,wakatta,”

“Ayuzawa-san gome,

“Eemm,,daijoubu,” ucap Hikari mencoba tersenyum setulus mungkin.

Ima made arigatou .. Senpai. Sayonara,”

Seperti langit setelah hujan turun, seperti membersihkan hati seseorang Aku ingat senyummu, selalu terbayang di pikiran ku Aku tidak bisa menahan senyuman, Pastinya, seperti kami di hari itu, Seperti anak kecil yang tidak bersalah Kami berlari melalui musim yang terus berganti, melihat masing masing hari esok. Setiap kali aku sendirian dan mulai merasa tidak nyaman Disaat malam aku tidak bisa tidur Aku hanya ingin kita terus berbicara.. Aku ingin tahu apa yang akan kau lihat disana Apakah sama dengan apa yang kulihat disini Aku akan coba mempercayakan air mataku pada kota ini, Dimana matahari terbenam mewarnai segalanya menjadi orange Sebuah cinta lahir diantara berjuta cahaya Bahkan jika kau tidak pernah berubah, bahkan jika kau telah berubah Kamu adalah dirimu, jadi aku tak perlu khawatir Suatu hari kita berdua akan tumbuh dewasa, dan bertemu orang-orang hebat Disaat itu, aku berharap kita bisa membawa keluarga yang tak tergantikan, Dan bertemu lagi disini..

Song : Seven Oops – Orange

‘Hikari-san, kau baik baik saja disana? Maaf karena telah begitu banyak menyakitimu. Jika kita ditakdirkan bertemu lebih awal. Mungkin aku akan mencintaimu lebih dari kau mencintaiku. Aku akan selalu berdo’a untuk kebahagiaanmu, Hikari-san’ – Yuta.

Ayuzawa Hikari

24 Juli 1995-20 April 2015

FIN

Note :

*Watashi wo matte kudasai ne: Tunggulah aku

*watashi wa daisuki desu: aku menyukaimu

*Chotto matte: tunggu dulu

*Hontouni daisuki : Sangat sangat menyukaimu.

*Hajimete ata tokikara sukidata : Aku menyukaimu saat pertama kali melihatmu

*Oite,ikanaide kudasai : Kumohon Jangan tinggalkan aku

*Hontou : really

*Demo : tapi

*Gome : maaf

*Wakatta : baiklah

*Daijoubu : tidak apa-apa

*Ima made arigatou : Terimakasih untuk segalanya

*Sayonara : selamat tinggal

Haloo aku kembali dengan FF Vignettenya Yuta 😀 Si Yuta jahat banget btw atau Hikarinya yang gak tahu diri ? :’v ah, pokoknya ini sebenernya terinspirasi dari diriku sendiri :’3 jangan lupa feedbacknya ya squad!!^^ Arigatou~

Advertisements

5 thoughts on “[NCTFFI Freelance] On Rainy Day (Vignette)

  1. Yuta sumpah jahat, haha. aku juga mencintaimu kekekeke. but, wait! kenapa author ini bikin aku jadi pengen baca manga lagi ini? ya ampun. hahaha

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s