[Chaptered] Introvert Squad (5화)

introverts

“Introvert Squad” by Mingi Kumiko

 Taeyong, Jaehyun, Sejeong, and Chaeyeon  friendship, school life, romance  PG-13 

Note : cerita ini mengandung unsur bromance

“Tapi sekarang berbeda, sudah ada Sejeong. Ah, rasanya seperti kehilangan separuh dari jiwaku.”

Previous Chapter
1 | 2 | 3 | 4

Taeyong berdecak frustasi karena panggilannya tak kunjung diangkat oleh Jaehyun. Hingga akhirnya ia menyerah pada usaha yang kedelapan belas. Pemuda itu pun beringsut dari kasurnya dan meraih mantel yang ia gantung di belakang pintu. Hatinya sudah risau tak tertahankan dan harus menemui Jaehyun secepatnya.

Lelaki itu lekas menekan bel sesampainya ia di rumah keluarga Jung. Bibi Oh yang mendengar bunyi bel pun langsung berlari kecil dari dapur menuju ruang depan. Wanita paruh bayu itu sontak terkejut karena tak biasanya Taeyong menekan bel terlebih dahulu saat sedang mampir.

“Bi, apa Jaehyun ada?” tanya Taeyong.

“Lo, bibi kira Tuan Muda keluar rumah bersamamu, nak…” jawab Bibi Oh.

“Jadi dia sedang tidak ada di rumah? Apa dia bilang pergi ke mana?” Taeyong menimpali ujaran Bibi Oh dengan kepanikan.

“Dia hanya pamitan untuk pergi main. Ponselnya juga ia letakkan di atas kasur. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada masalah?” Bibi Oh pun jadi ikut panik karena melihat ekspresi Taeyong yang nampak cemas.

“Ah, bukan masalah serius, Bi… hanya sedikit salah paham. Kalau begitu, aku permisi dulu, ya, Bi?” Taeyong berpamitan pada Bibi Oh dan bergegas pergi.

Setahunya, Jaehyun tak pernah memiliki jadwal latihan menari di hari Jumat. Jadi cukup tidak mungkin kalau ia bisa menemukan sahabatnya itu sanggar tari. Ia tak tahu apa yang sebaiknya harus dilakukan sekarang. Dan ia tak memiliki seorang pun untuk dihubungi dan dimintai tolong membantu mencari keberadaan Jaehyun.

Tapi sejenak ia berpikir, Jaehyun selalu bilang kalau ia telah tumbuh menjadi seorang lelaki yang pemberani. Jadi sudah saatnya Taeyong berhenti memperlakukannya seperti seorang gadis kecil yang perlu diawasi kemana pun perginya. Mungkin Jaehyun hanya butuh waktu menjernihkan pikiran seorang diri. Tak ada hal berlebihan yang perlu dikhawatirkan. Ya, semoga saja begitu, jadi Taeyong bisa kembali ke rumah dengan perasaan tenang.

Di sisi lain…

“Maaf, ya, gara-gara aku kita tidak jadi kerja kelompok di rumahmu.” ucap Chaeyeon di sela aktivitasnya mengotak-atik software pengedit gambar bergerak di laptopnya. Untuk sekedar informasi, tugas kelompok yang tengah mereka kerjakan adalah membuat sebuah video mengenai profil sekolah.

“Rumahmu juga nyaman, kok…” balas Jaehyun sembari menyusun konsep yang akan mereka gunakan pada tugas mereka di sebuah kertas polos.

“Aku lupa kalau ayah mengajakku dan adik ke Joyland besok.” kata Chaeyeon penuh sesal. “Ngomong-ngomong biskuit yang kau bawa rasanya enak! Terima kasih, ya.” imbuhnya.

“Ayahku mengirim banyak sekali biskuit dari kawasan sekitar tempatnya bekerja. Sepertinya dia mencurahkan setumpuk rasa rindunya dengan banyaknya biskuit yang ia kirim. Padahal aku lebih menyukai oats, kekeke.” candanya.

“Ternyata kau lumayan konyol, ya, Jae?”

“Memangnya selama ini kaupikir aku orang seperti apa?”

“Kau introver, dan… terus menempel pada Taeyong, si tampan dari kelas 3 – 2.”

“Hahaha… kami, kan, sahabat sejak kecil. Tapi sekarang dia sudah punya orang baru, jadi sepertinya aku sudah enggak bisa lagi nempel dengannya.”

“Kenapa, sih, kau selalu berpikir kalau Taeyong itu satu-satunya temanmu?”

“Ah, enggak begitu juga, kok. Dia hanya yang paling spesial dari teman lainnya. Mungkin karena aku kurang yakin ada orang lain yang akan mengerti aku seperti bagaimana cara Taeyong memahamiku, jadi aku sedikit menutup diri.”

“Kalau boleh tahu…, kau ingin dimengerti bagaimana?”

“Ah, sudahlah, kenapa kita jadi membahas hal rumit semacam ini?”

“Tak apa, aku siap mendengarkanmu, kok, Jae… walaupun tidak dekat, aku, kan, juga temanmu.” Chaeyeon menyingkap kedua tangannya yang sedari tadi menjamah keyboard dan bersiap-siap mendengar Jaehyun yang hendak memulai ceritanya.

“Aku dan Taeyong itu bagaikan cermin yang memiliki dua sisi. Aku terbiasa melakukan semuanya sendirian, sedangkan ia sama sekali tak suka sendirian. Dulu sewaktu kecil, ia selalu dijauhi karena sifat talkless-nya. Sebenarnya ia ingin berteman dengan siapa pun, hanya saja Taeyong tak tahu cara untuk memulai pembicaraan pada orang baru. Tapi katanya, kalau dia punya teman ia tak akan takut menghadapi apapun. Atas dasar itu kami berteman.

“Tapi sekarang berbeda, sudah ada Sejeong. Ah, rasanya seperti kehilangan separuh dari jiwaku.”

“Kenapa kau tak cari pacar saja, hitung-hitung supaya enggak kesepian, dan… mengisi jiwamu yang katanya sudah terambil separuh itu.”

“Ah, tidak… aku benci perpisahan. Kalau aku punya pacar, maka suatu hari pasti kami akan putus.”

“Kau ini aneh! Belum juga mencoba tapi sudah memikirkan putusnya.”

“Aku cuma mau menikahi cinta pertamaku, hidup dengannya sampai aku mati.” Jaehyun kembali menunjukkan sifat polosnya yang kelewat batas. Chaeyeon ingin tertawa, namun kalau ia melakukan itu, pasti Jaehyun akan kehilangan konsentrasi untuk melanjutkan cerita.

“Sudah kau temukan? Oh, atau kau berpikir kalau Taeyong adalah cinta pertamamu?”

“Kau tahu tidak, terkadang aku merasa beruntung karena meskipun sangat dekat dengan Taeyong, tapi orientasi seksualku tidak menyimpang. Tak pernah sekalipun terbesit dalam pikiranku untuk jatuh cinta padanya. Tapi aku sakit hati sekali saat ia tak lagi membutuhkanku.”

“Kalau aku boleh saran, nih, bicarakanlah dulu apa yang kau rasakan pada Taeyong. Mungkin kau cuma salah paham. Siapa tahu Taeyong tidak bermaksud menyampakkanmu. Terkadang memang harus ada yang mengalah dan mengesampingkan ego.” ujar Chaeyeon yang ditanggapi dengan anggukan yang mengisyaratkan bahwa yang diajak bicara sudah mengerti.

.

.

Jaehyun menghempaskan tubuhnya yang ringan ke atas ranjang sesampainya ia dari rumah Chaeyeon. Tangannya direntangkan untuk meraba-raba kasur, saat tadi berjalan menuju halte, ia baru sadar kalau ponselnya tertinggal. Ia pun berhasil mendapatkan ponselnya yang ternyata ia letakkan di samping guling. Jaehyun langsung menggeser lockscreen pada ponselnya. Dan benar saja, belum juga seharian ditinggal, ia telah mendapat begitu banyak pesan dan missed call. Ia pun lantas membuka salah satu dari sekian banyak pesan yang diterimanya.

From : Uri Taeyongie

“Setidaknya hubungi aku kalau sudah sampai rumah dan membaca pesan ini. Jangan marah padaku lagi. Aku memang salah, maafkan aku.”

 

Mungkin apa yang Chaeyeon katakan benar, semuanya harus dibicarakan secara baik-baik. Bukannya secara gegabah menyimpulkan suatu hal dari satu sudut pandang. Sungguh, kali ini Jaehyun merasa kalau dirinya telah keterlaluan memperlakukan sahabatnya sendiri. Tanpa tedeng aling-aling ia segera menekan tombol panggilan dan menempelkan ponselnya ke telinga kiri. Mendengar bunyi tut… tut… menguar melalui speaker depan, ia menunggu sambil bergumam, ayo, cepat segera diangkat.

“Jaehyunie-ya!” seru Taeyong dari seberang sana. Nada bicaranya terdengar sangat antusias.

“Taeyong…,” Jaehyun memanggil namanya lirih, seakan tengah memendam berbagai banyak hal dan ingin segera mengutarakan semuanya.

“Kau ke mana saja? Aku mencarimu sejak kemarin, dan kau terus mengabaikan panggilanku. Aku cemas, tahu!

“Aku ingin bicara denganmu. Bisa aku ke rumahmu sekarang?”

“Ah, tidak, tidak… aku yang akan ke rumahmu. Tunggu sebentar, oke?”

“Baiklah, Taeyong… terima kasih.”

Panggilan pun diakhiri, Jaehyun merebahkan kembali tubuhnya dengan penuh kelegaan, serasa beban yang memberatkan tubuhnya tiba-tiba saja terangkat sesaat setelah ia mendengar suara Taeyong (sorry alay banget, sok melankolis). Terkadang ia berpikir ini semua terlalu lucu – atau mungkin lebih tepatnya sedikit menjijikkan. Ia marah karena masalah sepele dan menghindari Taeyong seharian bagai sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

.

.

Taeyong akhirnya sampai di rumah keluarga Jung setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit menggunakan bis. Untuk kali ini ia tak perlu mengetuk pintu karena kebetulan Jaehyun telah menunggunya di teras.

“Tae!” serunya tertahan kala mengucapkan nama sahabatnya itu. Si empunya nama pun bergegas menghampiri dan langsung mencengkram pundak pria di hadapannya.

“Rasanya lama sekali aku tak berjumpa denganmu.” katanya.

“Ya, maafkan aku karena sudah ngambek tak jelas.”

“Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kalau kita membahasnya lagi maka kita akan terlihat seperti sepasang kekasih yang baru saja berbaikan, kau tahu?”

“Hahaha, kau terlalu berpikiran jauh, Tae…” ucap Jaehyun disertai tawa.

“Maafkan aku juga, aku tak bermaksud tak mengacuhkanmu kemarin.”

“Aku tak marah karena itu, omong-omong…”

“Lantas?” tanya Taeyong penasaran.

“Bukan apa-apa,”

“Kau seperti wanita kalau menutup-nutupi sebuah hal dariku!” Taeyong menepuk pundak Jaehyun karena geram.

“Aku lelaki yang tampan dan berani, asal kau tahu!”

“Maka dari itu, ceritakanlah…” desak pria yang berbalut hoodie kasual warna kelabu itu.

“Mungkin Kim Se Jeong akan jadi wanita pertama yang pernah aku benci. Karena dia berhasil membuatku cemburu. Kau lebih memilih pergi ke museum salju bersamanya dari pada aku, cih!”

Taeyong langsung menepuk dahinya sendiri mendengar penuturan Jaehyun. Benar juga, kemarin, kan, dia sudah berpikiran mengajak Jaehyun ke sana. Tapi karena hari ini Jaehyun sedikit menunjukkan sikap yang aneh, pikirannya jadi terombang-ambing kemana-mana dan tak memikirkan hal lain kecuali mendapatkan cara agar mereka bisa berbaikan.

“Ayo kita pergi ke sana sekarang!” seru Taeyong mantap.

“Ah, tidak, tidak. Tak apa, kita bisa pergi tahun depan. Kau, kan, sudah ke sana, pasti bakal bosan.” Jaehyun menolak dengan gaya santainya. Seolah ia akan baik-baik saja menunggu datangnya event itu selama setahun.

“Tidak, kok, serius… kemarin sebenarnya ada yang tak sempat kubeli karena aku berjalan dengan seorang gadis.” Taeyong beralibi.

“Apa hubungannya tak sempat membeli sesuatu dengan berjalan bersama seorang gadis, huh?”

“Karena aku tidak enak hati pada orang tuanya kalau membawanya pulang terlalu malam, jadi aku menuruti semua yang ia katakan agar tidak membuang banyak waktu.”

Aigo, aku baru tahu kalau sahabatku adalah orang yang sangat menjaga wanitanya. Sekarang tingkat kecemburuanku pada Kim Se Jeong jadi berkembang berkali-kali lipat.”

Ya! Jangan mengalihkan pembicaraan, aku serius mengajakmu pergi ke sana…” Taeyong dibuat jengkel oleh Jaehyun yang terus saja bicara melantur dan tak menghiraukan topik utama dari perbincangan mereka.

“Oke, deh… kalau kau memaksa, aku pamit pada Bibi Oh, ya? Tunggu sebentar.” tandas Jaehyun yang akhirnya setuju dengan ajakan Taeyong untuk pergi ke museum salju bersamanya.

~ T B C ~

Oke silakan hinaku sepuasnyahh kalian semua suci aku penuh dosyahh, maafin karena telat padahal aku udah bilang di last chapter bakal update ga lebih dari seminggu. Ehh ternyata aku terlalu semangat belajar buat SBMPTN sampai lupa dunia hahaha ~

Makasih sudah mau membaca sampai akhir. Jangan lupa komen dong setelah baca 😦 aku kan butuh pendapat kalian, sebagai inspirasiku juga untuk melanjutkan cerita ini. Enggak papa kok kalo emang enggak komen dari awal, siapa juga yang akan marah? Percayalah guys segala bentuk komentar kalian tuh berharga banget, please please please 😥

 

Advertisements

22 thoughts on “[Chaptered] Introvert Squad (5화)

  1. Ciyeee yg mau sbmptn
    Semangat ya bljrnya! XD
    Anw chapter ini tuh… ASEEEM JAEYONG FEELS tolong akika tenggelam dlm lautan bromancenya!
    Gatau lagi. Jae tolong ya itu sikap biar ga kyk istri jarang dibelai -.-
    Good job, aku juga suka momennya chaehyun ehe
    Keep writing!

    Liked by 1 person

    • Iya kak, mana aku mau lintas jurusan.. harusnya ambil saintek malah pengen ikut tes soshum 😂 /lah kenapa lu malah curhat
      Ngga tau kak mengapa makin ke sini si jaehyunnya kurbel bgt. Apa gegara rambutnya skrg pirang jdi kelihatan manis manjahh aduhaii gitu 😂
      Makasih kak udah mau mampir ❤ ❤

      Like

  2. Berasa jaehyun di sini kek cewek. Ganti nama aja deh, jadi jaehee gitu, biar tae gak melirik ke tempat lain 😂 asem banget, ini dua orang udah kayak couple resmi. Kan aku jadi rada fujoshi gitu, kak. Eh gak ding, aku yg lempeng2 ajalah, beneran. Btw, semangat sbmptn nya kakak…. 😂 kibar bendera jaeyong 😀

    Liked by 1 person

  3. Mba lel masyaallah 😍❤❤
    JAEYONG TOLONG DIKONDISIKAN MBAAAA!!!! DD NGGA KUAT BACA KISAH ROMANCE BROMANCE DUA KUNYUK SYAALANN INI!. /oke sorry kepslok/

    “Setidaknya hubungi aku kalau sudah sampai rumah dan membaca pesan ini. Jangan marah padaku lagi. Aku memang salah, maafkan aku.” – suka banget pesan Taeyong yang ini ya ampunn. Mas mas pacar bangett dahh…

    Btw, semangat SBMPTN nya Mba Lel ❤ FIGHTING!!! 💪💪,
    LUV LUV Mba Lell ❤❤ Nice fic ❤ and keep writing 💪

    Liked by 1 person

  4. Cieeeeeeeeeeeeeeeeeeee akhirnyaTaeyong sama Jaehyun udah baikan cieeeeeeeeeeeeee :v Suka banget sama cara mereka yg nggak keburu-buru adu mulut, mungkin inilah persahabatan yang sesungguhnya HAHA. Taeyong juga pengertian banget, dia gak malu minta maaf. Eh, entah kenapa aku malah suka sama Chaeyeon loh. Aku merasa kalo sifat kami itu mirip 😀 (Abaikan plis –“) Serius deh kak, Jaehyun sama Chaeyeon aja deh *maksa* *digolok kak Lel*

    KAK LEL, AKU SEMAKIN JATUH CINTAH SAMA TULISANMU!!!!

    Trus aku juga ngerasa kalo part ini sama pendeknya kayak pasrt 4 (atau aku yg lagi2 terlalu menghayati?) Oh iya, btw Se Jeong ke mana? Kok di part ini dia nggak nyempil sama sekali? HAHA, gak tau kenapa reaksi Jaehyun ke Sejeong lucu aja sekarang, bener2 kayak cemburu sama pasangannya 😀 Tpi untunglah orientasi seksualnya Jaehyun nggak ikutan miring :v

    Sekian dulu komentar saya yg selalu nggak bermutu. Dan daripada kak Lel sakit mata gegara baca komentar saya, mending kabur aja sama Kun…. *lari sama Kun*

    Cieeeeeeeeeee yang mau SBMPTN  Semangat ya kak!!!!! *niup terompet bareng Yuta*

    Like

    • iya, Taeyong memang idaman, dan Jaehyun itu seakan minta dikarungin buat temen tidur /ehhh
      MAKASIH UDAH JATUH CINTA PADA TULISANKU NAMUN CINTAKU HANYA UNTUK ZHONG CHEN LE /ditendang
      aku malah suka komenmu panjang2 gini :3 makasih makasih, doakan aku berhasil lolos SBMPTN :’)

      Like

  5. “Aku cuma mau menikahi cinta pertamaku, hidup dengannya sampai aku mati.” 😭😭😭😭😭😭 kuy lah kita nikah oppa wkwk
    Kak, Tae sama Jaenya jangan manis2 aku engga bisa berhenti senyum =(

    Like

    • percayalah si jaehyun itu hanya pencitraan hahahaha
      yahh maafin kalo over sweet pdhl aku nulisnya juga ga pernah sampe mikir bakal bisa bikin baper. Pdhl ini masih bromance lo, belom yaoi XD
      makasih ya udah baca dan komen ^^

      Like

  6. Sejeong sama chaeyeon udah kaya penasihat asmaranya taeyong jaehyun. Jadi disini sebenarnya love line-nya berbelok-belok dan nggronjal nggronjal. Author gak pernah tau -sebelum kuberi tahu- FF-nya berhasil buat aku jadi pemain sepak angin dan bergelinding di tempat yang datar.

    Like

    • iya, sejak mario teguh tersandung kasus dengan anak kandungnya yg tak diakui, Sejeong dan Chaeyeon lah yg mengisi sesi golden ways /GAK
      ente pake majas apaan ini susah amatt dipahamin wkwkwk
      makasih sudah komen :’v

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s