[NCTFFI Freelance] Troublemakers (Chapter 4)

poster 1

TROUBLEMAKERS

Chaptered FF
Author : Cute_Noona
Casts : NCT Taeyong – NCT Doyoung – NCT Ten – NCT Jaehyun
Rating : PG-14
Genre : School life – Friendship

Happy reading~

===========================

*

*

*

Jaehyun yang sudah menghabiskan hampir tiga jam di dalam warnet dibuat terkejut dengan suara bel kecil yang berbunyi ketika ia membuka pintu kaca warnet tersebut. Well, seharusnya ia sudah hafal dengan bunyi bel tersebut mengingat hampir setiap hari ia mengunjungi tempat ini. Tapi entah kenapa ia tetap saja menunjukkan reaksi seperti itu.

“Lain kali lepaskan saja bel ini. Mengganggu sekali,” gerutu Jaehyun pada penjaga warnet yang kemudian hanya menatapnya dengan tatapan yang seolah sama sekali tak memedulikan apapun yang ia katakan.

Mungkin saja penjaga warnet tersebut hanya malas mendengar gerutuan yang sama yang dilontarkan Jaehyun setiap hari.

Menyadari tidak direspon sama sekali, Jaehyun hanya menggebrak pelan tepi pintu kaca tersebut sebelum berjalan keluar sambil mengeratkan jaket yang membungkus tubuhnya karena angin malam langsung menyambutnya dengan cukup kencang. Dinaikkannya tudung jaket ke atas kepalanya. Yeah, setidaknya telinganya tidak kedingingan.

Berjalan sendirian seperti ini di malam hari memang sudah menjadi “rutinitas”-nya sebelum kembali ke tempat yang terpaksa ia sebut dengan rumah dan membiarkan kantuk menguasainya tanpa peduli pada apapun yang ada di “rumah”nya.

Langkah kakinya melambat saat matanya tanpa sengaja melihat cafe kecil yang ada tak jauh darinya. Namun, tidak ada yang ia lakukan. Ia hanya melihatnya sekilas saja sebelum kembali melanjutkan jalannya. Sesekali kakinya menendang udara kosong yang ada di depan sepatu sekolahnya dengan pelan. Dan kepalanya menoleh ketika ia melintas di depan cafe tersebut.

Cafe yang relatif sepi. Tak banyak pengunjung yang datang, padahal malam begitu larut. Masih pukul delapan malam, ngomong-ngomong. Bila Jaehyun harus memberikan penilaian—meski sebenarnya ia tidak harus juga sih— cafe tersebut tidak terlalu buruk meski ukurannya cukup kecil dibanding cafe lain di sekitar daerah ini.

Dan juga…..

Greb!

Belum selesai Jaehyun menilai cafe tersebut dengan menggunakan matanya, tiba-tiba seseorang mengamitkan tangannya pada lengannya. Tentu saja ia terkejut bukan main dan hampir saja mendorong orang tersebut kalau saja ia tak segera menoleh dan melihat senyum lebar orang tersebut.

“Akhirnya kau datang juga, Jung Jaehyun!” seru Ten yang masih saja mengamitkan tangannya pada lengan Jaehyun.

Tanpa menggunakan tenaga besar, Jaehyun berhasil melepaskan tangan kurus Ten dari lengannya dan melemparkan tatapan tajam ke arah teman sekelasnya tersebut yang entah muncul dari mana.

“Kami menunggumu sejak tadi. Saya kira kau tidak datang. Tapi rupanya….”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Jaehyun memotong dengan ketus.

Alih-alih menjawab, Ten justru mendorong punggung Jaehyun agar berjalan ke arah cafe. Setiap kali Jaehyun berusaha menyingkirkan diri dari tangan Ten, pemuda berambut hitam selalu berhasil meraih belakang jaketnya dan kembali mendorongnya.

“Jung Jaehyun sudah datang!” Ten kembali berseru setelah berhasil membawa Jaehyun ke depan sebuah meja pengunjung dekat kaca di mana di sana sudah ada Doyoung yang sibuk menikmati minuman hangat pesanannya.

Doyoung, pemuda bertubuh tinggi kurus ini tak memberikan respon apapun selain menegakkan kepalanya dan memandang heran ke arah Jaehyun. Sungguh, kemunculan Jaehyun saja sudah cukup mengejutkannya.

“Duduklah. Biar saya pesankan minuman satu lagi untukmu.” Ten langsung menarik kursi di depan Doyoung dan mendaratkan Jaehyun ke sana dengan sedikit tenaga. Tangannya melambai ke arah Taeyong yang kembali muncul dari belakang.

Ya, Ten dan Doyoung memang sedang berada di BlueBear Cafe, tempat Taeyong bekerja. Mereka sengaja berkumpul di sini karena itu adalah cara mudah untuk bertemu dengan Taeyong meski sebenarnya cukup sulit juga mengajak berbicara teman mereka tersebut setelah tahu Taeyong terus-menerus keluar-masuk dari dapur belakang cafe ke meja kasir dan counter untuk melayani pengunjung cafe. Sendirian.

Dan sekarang tiba-tiba Jaehyun muncul di saat mereka semua tidak yakin dia akan datang setelah Ten mengirimi ratusan pesan di ponsel Jaehyun, memintanya agar datang ke cafe ini.

“Di tahun ini kau banyak berubah ya? Tidak terlalu banyak sih,” celetuk Doyoung yang ditinggal sendirian bersama Jaehyun di mejanya.

Jaehyun hanya memutar matanya jengah. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambutnya sekilas dan membuang pandangannya ke arah lain.  Baiklah, ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang Doyoung katakan padanya. Bahkan ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia diseret kemari oleh…. oleh….

“Kenapa kau dan anak kawin silang itu membawaku kemari?” Akhirnya Jaehyun membuka mulutnya untuk bertanya sesuatu meski respon yang ia dapat adalah Doyoung tersedak oleh minumannya.

Jaehyun berdecak pelan melihat Doyoung terbatuk-batuk sambil meletakkan gelas minumannya kembali ke atas meja dan memukul-mukul pelan dadanya.

“Bahkan minum saja kau tidak becus,” desis Jaehyun sebelum beranjak dari kursinya, bermaksud untuk mengambilkan Doyoung sebotol air mineral. Akan tetapi, sosok Ten yang berjalan ke arah mereka membuatnya kembali menghenyakkan diri ke kursinya.

“Pesananmu akan segera datang,” ucap Ten seraya duduk di samping Jaehyun. Sedetik kemudian, pemuda bermata besar ini heran melihat Doyoung sibuk meredakan batuknya. Spontan ia beralih ke samping Doyoung dan menepuk-nepuk punggung Doyoung sambil menyodorkan sebotol air putih yang ia ambil dari dalam tas hitamnya. “Apa yang terjadi denganmu?”

Doyoung tak menjawab. Setidaknya matanya bergerak dan berhenti pada Jaehyun yang mana itu artinya jawabannya ada pada pemuda bersifat pemarah itu. Tidak mungkin ia akan memberitahu Ten bahwa Jaehyun baru saja menyebutnya “anak kawin silang”. Sebutan itu cukup kasar di telinganya dan ia tidak ingin Ten merasa tersinggung.

Doyoung berharap Jaehyun tak memanggil Ten dengan sebutan itu tepat di depan wajah Ten. Semoga saja tidak pernah terjadi meski ia tidak yakin sepenuhnya akan hal itu mengingat bagaimana Jaehyun selalu suka bicara sesuka hati.

Taeyong muncul dengan sebuah cangkir berwarna putih di atas baki kayu. Dengan hati-hati ia meletakkan cangkir tersebut di depan Jaehyun yang mana mendapat kerutan dahi dari Jaehyun.

“Apa ini?” tanya Jaehyun dengan cepat sambil mendongak ke arah Taeyong.

“Coklat panas,” jawab Taeyong ringan.

“Kau pikir aku masih bayi?”

“Udara malam ini dingin sekali makanya saya memesankan coklat panas untukmu—“

“Jangan sok kenal denganku, Kau Anak Ka—“

Mengetahui Jaehyun akan menyebut Ten dengan sebutan Anak Kawin Silang, Doyoung yang cukup pintar membaca keadaan dan berpikir dengan cepat langsung menjauhkan cangkir tersebut dari hadapan Jaehyun dengan sedikit kasar supaya perhatian Jaehyun teralihkan.

“Aku akan meminumnya! Kau pesan saja sesukamu, okay?” ujar Doyoung, melihat Jaehyun dan Ten bergantian. Sementara itu, Taeyong memandang puncak kepala Jaehyun sambil menghela napas panjang, merasa gerah dengan sikap kasar Jaehyun.

“Berikan saja padaku.”

Aneh, Jaehyun justru merebut kembali cangkir tersebut dari tangan Doyoung dan meminumnya sedikit dengan cukup kasar sebelum meletakkan kembali ke atas meja. “Katakan saja padaku kenapa tiba-tiba kalian membawaku kemari?”

“Untuk merayakan keberhasilan kita mempresentasikan tugas kelompok kita tiga hari yang lalu. Sekaligus saya ingin berterima kasih padamu karena kepiawaianmu membawakan poin-poin penting tugas kita. Mungkin kalau bukan karena dirimu, kelompok kita tidak akan mendapatkan nilai tinggi,” Ten menyerobot lebih dulu untuk memberikan jawaban. Hanya dengan melihat ekspresi di wajahnya dan cara bicaranya yang selalu ceria seperti yang biasa ia tampilkan, kita sudah bias menyimpulkan bahwa amarah Jaehyun tak berpengaruh padanya. Untuk yang kesekian kalinya.

Dengusan kasar lolos dari bibir Jaehyun. Namun, ketika ia akan membalas ucapan Ten, seseorang memanggil Taeyong dari arah meja kasir. Serentak keempat pemuda itu menoleh ke arah yang sama.

“Aku… aku harus kembali bekerja. Nikmati minuman kalian,” ucap Taeyong sebelum berlari kecil ke arah rekan kerjanya.

Sosok Taeyong menghilang setelah masuk ke dalam dapur belakang bersama rekan kerjanya tersebut. Doyoung dan Ten kembali melanjutkan percakapan yang sebelumnya terhenti.

.

.

.

.

“Apa sekarang pekerjaanmu berubah? Berbicara dengan pelanggan cafe? Begitu?” tanya salah satu karyawan cafe yang bertubuh besar sambil berkacak pinggang di depan Taeyong.

“Maaf, Sunbae. Mereka adalah….”

“Teman-temanmu?” Karyawan lain yang bertubuh kurus dan berambut pirang langsung memotong ucapan Taeyong dengan sinis.

Taeyong hanya mengangguk pelan sambil memandang mereka berdua.

“Kita dibayar untuk melayani pesanan pelanggan secepat mungkin, bukan mengobrol dengan orang-orang yang kau sebut teman tadi. Itu bisa mengganggu konsentrasi kerja, tahu tidak?”

Yang bisa Taeyong lakukan hanyalah membungkuk dan meminta maaf meski sebenarnya ia bisa saja membalikkan ucapan mereka. Semua yang mereka berdua lakukan sejak tadi hanyalah .mengobrol tidak jelas di dekat lemari pendingin sambil menghabiskan hampir sepuluh soft drink dan menyuruhnya melakukan ini dan itu.

“Waktu shift kami sudah hampir habis dan kami tidak punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan kami. Bereskan sisi kompor yang itu sebelum kau keluar ke meja kasir. Mengerti? Sebenarnya aku ingin membantumu, tapi aku sudah punya janji dengan teman-temanku dan dia,” Rekan kerja Taeyong yang bertubuh besar lantas melepaskan apron berwarna biru dan meletakkan sembarangan ke dekat meja. Hal yang sama dilakukan oleh rekan kerjanya yang bertubuh kurus.

“Selamat malam, Sunbae, Hyungnim. Hati-hati di jalan.”

Tak ada respon. Tentu saja begitu. Aneh bila Taeyong mendapatkan respon meski hanya sekedar ucapan iya atau semacam itu. Sambil menghela napas pelan ia lantas mengambil dua apron biru tersebut dan memasukkannya ke dalam kecil dekat tempat cuci piring untuk ia cuci nanti saat ia akan pulang.

Ia menghentikan kegiatannya ketika ia menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari arah lorong yang menuju ke toilet. Ditolehkannya kepalanya ke jendela dan mendapati sosok Jaehyun berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan datar khasnya.

Tak ada yang Taeyong ucapkan karena ia harus segera keluar dari dapur dan melayani pengunjung cafe ketika mendengar suara pintu kaca cafe dibuka. Ia yakin teman sekelasnya itu melihat semuanya tadi karena jarak lorong dengan dapur hanya beberapa langkah, ditambah jendela dapur mengarah langsung pada lorong yang selalu dilewati oleh para pengunjung cafe saat mereka ingin ke toilet.

Well, sebenarnya ia tidak ingin pemandangan seperti itu disaksikan oleh temannya. Atau mungkin lebih tepatnya…. oleh semua orang yang mengenalnya.

oOo

Seungri High School, 07.45.00 KST

Ten baru saja keluar dari toilet pria dan kini sedang sibuk merapikan rambut hitamnya di depan kaca. Suasana hatinya sedang baik—padahal hampir setiap hari moodnya selalu baik— karena tak ada satupun temannya yang keluar dari group chat yang ia buat beberapa minggu lalu.

Ha, mungkin seharusnya Ten menyebut nama Jaehyun saja karena hanya teman satu kelasnya itu saja yang selalu keluar setiap kali ia memasukkannya ke dalam group chat. Mungkinkah Jaehyun sudah lelah dengan sifat keras kepalanya? Kalau benar begitu, Ten harus bangga pada dirinya karena ia bisa membuktikan pada Doyoung bahwa ia bisa “menaklukkan” seorang Jung Jaehyun. Yeah, meski hanya untuk masalah group chat.

Mungkin “berbangga diri” bukanlah kata yang cukup tepat mengingat Jaehyun masih saja bergeming setiap kali percakapan di group chat mereka semakin panjang. Setidaknya Taeyong masih mau ikut memberikan kata-kata meski tidak terlalu panjang dan cukup sederhana sebagai respon.

Hyung, aku sudah mendapatkan teman di sini,” gumamnya dengan suara lemah. Sekilas ada biasan kesedihan di kedua matanya sebelum ia memejamkannya untuk beberapa detik dan menghela napas panjang.

Kepalanya menoleh ke arah pintu ketika setidaknya ada tiga sampai empat seniornya masuk ke dalam toilet. Awalnya Ten hanya membiarkan mereka setelah membungkukkan badannya sebentar untuk menyapa. Ingat, mereka adalah senior kelas 3. Tapi beberapa detik kemudian ia harus mengernyitkan kening karena langkahnya dihadang.

“Maaf, Sunbaenim, saya ingin keluar. Jam pelajaran akan….”

“Namamu Ten, bukan?” Hoobin, nama salah satu senior Ten tersebut mengulurkan tangan ke arah dinding di dekat Ten, membuat Ten kembali berhenti berjalan.

“Iya, Sunbaenim.” Ten menelan ludah perlahan. Kebiasaannya menonton drama korea untuk belajar bahasa Korea membuatnya membayangkan banyak hal-hal yang mengerikan. Apakah senior-seniornya ini akan memukulinya di sini? Bila ia harus melihat bagaimana ekspresi wajah mereka yang seolah menghakiminya, ia yakin sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.

“Kudengar kau…. pernah di-bully sewaktu kau…. masih SMP. Benar begitu? Aku jadi penasaran akan hal itu. Kau tahu, ini adalah pertama kali bagi sekolah ini menerima anak sepertimu. Lalu….”

Tiba-tiba Ten menarik napas dan wajahnya berubah ketakutan ketika seniornya tersebut menyergap kerah seragam sekolahnya dengan cukup kasar. Sebuah kilasan masa lalu melintas dengan cepat secara bergantian di dalam benaknya, membuatnya merasakan dadanya perlahan mulai sesak.

Sun-sunbaenim… to-tolong le-lepaskan ta-tanganmu….” Suara Ten terdengar terbata-bata.

Sungguh, Ten sendiri juga terkejut dengan reaksi yang ia tunjukkan mengingat reaksi seperti ini sudah lama tidak ia rasakan. Perasaan ngeri mulai menjalar di dalam benaknya. Bahkan keringat dingin mulai muncul di keningnya tanpa sebab.

“Ooh.. jadi seperti ini kau sewaktu SMP dulu?” Ejek Hoobin sambil menyeringai tipis di sudut bibirnya.

Ekspresi ketakutan Ten justru semakin membuat senior kelas 3 tersebut bersemangat untuk mengerjainya. Akan tetapi suara pintu dibuka dengan cukup keras dari arah salah satu pintu toilet membuat mereka semua terkejut dan seketika menoleh kea rah pintu tersebut.

“Para Senior Terhormat, bukankah kalian terlalu kekanak-kenakan melakukan hal seperti itu?” Jaehyun muncul dari balik pintu sambil menarik resleting celananya ke atas. “Seingatku kita sudah SMU. Aah…, aku salah. Sepertinya semua senior kelas 3 di sekolah manapun akan selalu melakukan hal seperti itu. Kekanak-kanakan, memalukan, menjijikkan dan tidak berguna.”

Bagus. Kini perhatian semua senior benar-benar beralih pada Jaehyun. Ten pun sudah terlepas dari tangan Hoobin dan kini sedang berusaha mengatur detak jantungnya yang sejak tadi tak karuan karena perasaan takut.

Bel tanda pelajaran pertama akan segera dimulai tiba-tiba berbunyi. Dan ya, sebut saja… bel tersebut menyelamatkan Jaehyun yang mungkin saja akan mendapatkan sedikit “balasan” dari para seniornya tersebut karena sudah mengganggu kegiatan mereka.

“Kalau ingin menghajarku kapan-kapan saja. Hari ini aku ingin giat belajar, Sunbaenim. Jadi, selamat pagi.” Hanya itu yang Jaehyun ucapkan sebelum mengulurkan tangannya ke arah Ten, menarik seragam bagian depan pemuda berambut hitam tersebut agar ikut dengannya keluar dari toilet.

Ten berulangkali mengucapkan terima kasih pada Jaehyun ketika mereka berjalan di lorong yang akan membawa mereka ke kelas 2-3 sambil berusaha mengatur napasnya.

“Kau ini anak laki-laki tapi kenapa lemah sekali sih? Kenapa tidak melawan mereka saja? Toh, tinggi badan kalian tidak jauh berbeda. Sama-sama pendeknya,” gumam Jaehyun, tangannya kembali terulur untuk menarik kerah bagian belakang Ten ketika teman sekelasnya tersebut bermaksud untuk masuk ke kelas yang salah. “Kelasmu bukan yang itu. Tapi di depan sana.”

Ten hanya menyeringai, menggaruk pelan pelipisnya.

“Balas budi. Saya akan membalas budi. Katakan saja apa permintaanmu dan saya akan mengabulkannya,” ucap Ten sambil merapikan kerah seragamnya.

“Apa selain menjadi murid sekolah, kau juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai jin?” Jaehyun mendengus pelan. Untuk beberapa detik ia cukup bingung dengan kombinasi wajah riang dan sepasang mata yang masih terlihat ketakutan dan trauma secara samar-samar pada diri Ten.

“Saya serius dengan itu. Kapan pun kau membutuhkan bantuan saya, saya akan—“

“Masuk sajalah.” Jaehyun memotong ucapan Ten dengan mendorong punggung Ten ke dalam kelas mereka yang seperti biasa, selalu sunyi secara mendadak setiap kali ia melangkah masuk.

Doyoung yang sejak tadi duduk di kursi Jaehyun karena ada yang harus ia bicarakan dengan Taeyong berniat untuk beranjak ke kursinya sendiri. Namun, ia kembali menghenyakkan diri dengan ekspresi heran ketika Jaehyun justru menarik kursi di samping Ten.

“Doyoung­-ah, berikan tasku,” ujar Jaehyun dengan nada pelan tanpa menoleh ke arah Doyoung.

Meski ada banyak pertanyaa di dalam kepala Doyoung, ia tetap saja menuruti apa kata Jaehyun. Dengan cepat ia mengambil tas Jaehyun yang menggantung di samping meja dan langsung memberikan tas tersebut pada Jaehyun.

Suara derap sepatu terdengar dari arah luar kelas dan sosok guru mata pelajaran Bahasa Inggris untuk pagi terlihat dari arah jendela kelas mereka yang menghadap ke lorong. Well, tampaknya pagi ini mereka bisa sedikit santai karena guru tersebut adalah guru yang tidak terlalu “mengerikan”.

Jaehyun yang duduk di samping Ten lantas menampilkan smirk  tipis di sudut bibirnya.

“Kau bilang akan mengabulkan permintaanku, kan?” tanya Jaehyun sambil menoleh ke arah Ten.

Ten hanya mengangguk kecil.

“Kalau begitu ini adalah permintaanku.” Jaehyun mengalungkan tasnya pada bahunya.

Ten yang masih tidak mengerti dengan perkataan Jaehyun hanya mengernyitkan kening. “Saya tidak mengerti,” ungkapnya kemudian.

“Otakmu kan pintar. Jadi kau pasti dengan mudah menemukan alasan masuk akal untuk yang satu ini.”

Hanya itu yang diucapkan Jaehyun sebelum menyelinap ke belakang kursi Ten dan membuka jendela yang ada di samping teman sekelasnya tersebut. Secepat kilat, ia berhasil keluar dari kelasnya dengan cara melompat keluar melalui jendela, tepat sedetik sebelum guru kelasnya masuk.

Tentu saja, Ten dibuat terkejut dan terlihat berusaha mencerna apa yang baru saja ia lihat. Jaehyun tiba-tiba kabur dari kelas melalui jendela dan sebelumnya mengatakan bahwa ia ingin permintaannya dikabulkan. Apa ini?

“Ten?” Doyoung yang menyaksikan adegan Jaehyun dari bangku Taeyong lantas memanggil Ten.

Dengan wajah bingung yang begitu polos, Ten menoleh. Ia tidak tahu harus berkata bagaimana. Dan itu sudah cukup membuat Doyoung terkekeh.

“Apa tadi….”

“Dia baru saja memanfaatkanmu, Ten,” tutur Doyoung dengan sedikit berbisik.

“Seseorang harus memborgolnya di mejanya sendiri agar ia tidak main kabur seperti itu lagi,” celetuk Taeyong.

“Aku berani bertaruh, dia akan membawa kabur mejanya bersamanya. Anak itu sama sekali tidak berubah,” sahut Doyoung yang membiarkan Ten kebingungan di bangkunya.

To be continued

Advertisements

8 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Troublemakers (Chapter 4)

  1. maaf yah dari kemaren aku belum koment apa apa di fanfic ini, tapi serius ini bagus bangettt, moment ten jaehyun nya itu natural tapi sukses buat senyum senyum sendiri. dan terakhir sukses buat aku penasaran sama masa lalu nya ten, sumpah demi apa ten pernah dibully 😂😂😂😂
    pkoke lanjut terus ya ~~
    fighting!!!

    Like

  2. aq mau ngasih koreksi ya,,
    ‘…karena hanya teman satu kelasnya itu saja yang selalu keluar…’
    kalo udah pake ‘hanya’, ‘saja’ nggak usah dipake, krn ntr jadi pemborosan kata. mungkin ini salah satu dr maksud komenku di chap sebelumnya. untuk koreksi yg lain aq ga smpet nulis krn udh terlarut sama ceritanya yang apik dan ngalir gitu aja. baca ini berasa ngeliat drama. complicated nya khas anak sekolahan,
    penasaran ada apa sama jae, dia kayaknya ada sesuatu sama psikologisnya krn suka kagetan itu.
    trus uri ten,, aing ga nyangka kmu dulu dibully nak,, *pukpuk ten*
    ten nggumamin hyung nya itu kenapa ya?? ada sesuatu jg kayaknya. kakaknya udh mninggalkah??

    keep writing,,

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s